Help
Home Just In Communities Forums Beta Readers Dictionary Search
: B s . A A A    : full 3/4 1/2   : E E   : Light Dark Books » Harry Potter » Another Conclusion

z-hard
Author of 10 Stories

Rated: T - Indonesian - General/Friendship - James P. & Sirius B. - Reviews: 14 - Updated: 08-09-08 - Published: 12-14-07 - id:3946757

Setelah memakan waktu yang sangat lama untuk update, akhirnya selesai juga. Saya berpikir paling tidak harus update minimal satu chapter sebelum kepindahan saya ke Bandung.

Sejujurnya saya tidak begitu puas dengan chapter yang satu ini. Mungkin kaena penyelesaiannya agak terburu-buru. Tetapi saya tetap berharap kawan-kawan menikmatinya :) Terima kasih!

- - - - -

Disclaimer : Harry Potter dan segala karakter di dalamnya adalah milik J.K. Rowling. Beberapa karakter yang dirasa tidak ada dalam novelnya berarti milik saya.

- - - - -

Another Conclusion

By : z-hard

- - - - -

Chapter 5 : Perhiasan Dunia

Semua wanita adalah perhiasan dunia. Bagiku, ungkapan tersebut memang benar adanya. Wanita, dengan segala kelembutan hati dan kasih sayangnya, dengan visualisasi keanggunan yang sempurna, tidak berlebihan jika gelar ’perhiasan dunia’ mereka sandang. Jika di dunia ini tidak ada wanita, maka sembilan puluh persen keindahan di dunia akan lenyap.

Asramaku, Gryffindor, banyak menyimpan perhiasan-perhiasan itu, meskipun dengan bumbu aksesori unik yang berbeda-beda, tergantung bagaimana pribadinya. Dulu pernah kukatakan bahwa aku memiliki enam orang teman yang satu angkatan denganku di asrama ini, tiga laki-laki dan tiga perempuan. Tiga dara itu adalah Ashley Canerva, Mary Macdonald, dan tentu saja, murid pentolan di bidang kedisiplinan dan kerajinan, Lily Evans.

Ketika masih dalam masa adaptasiku di tahun pertama, aku belum terlalu kenal dekat dengan Ashley. Yang kutahu hanya tampilan fisiknya, karena memang hanya itu yang bisa dilihat umum. Posturnya tergolong jangkung dibandingkan dua sahabatnya, sehingga jika dia berada dalam kerumunan, kepalanya nongol sendiri memamerkan cokelat pekat rambutnya. Parasnya pasti akan sangat cantik jika dia mau tersenyum sedikit saja, sayangnya dia selalu pasang tampang datar seakan-akan bumi berbentuk kubus dan jika bicara benar-benar seperlunya. Tadinya kupikir itu hanya karena akunya saja yang belum akrab dengannya, tetapi aku keliru, karena ketika kutanya Mary bagaimana sikapnya pada sahabat-sahabatnya sendiri, dia menjawab sama saja—tetap dingin, datar, dan cuek. Rupanya Ashley ini tipe gadis yang tidak suka terlibat masalah, sehingga jika di sekitarnya ada konflik, maka dia akan berlalu begitu saja seakan tidak ada yang terjadi.

Berkebalikan dari Ashley, adalah Mary Macdonald. Mary memiliki bentuk wajah bulat dan rambut pirang yang membingkainya dipotong pendek, sehingga memberikan kesan chubby bagi yang pertama kali melihat sosoknya. Seperti nama depannya yang kodian, sifatnya juga stereotip, tipikal anak perempuan kebanyakan. Kegemarannya tentu saja adalah bergosip dengan semua teman wanitanya—seasrama maupun lain asrama—dan terus berusaha mempercantik diri agar setidaknya dia diajak kencan oleh anak laki-laki. Karena gaya hidupnya modern dan jangkauan pergaulannya luas, maka jika kau memiliki piutang terhadapnya, kau tidak perlu repot-repot mencarinya karena mudah sekali untuk menemukannya, tinggal tanya pada gadis yang lewat, dan dia pasti akan tahu siapa yang kau maksud, karena sama halnya dengan Bertha Jorkins, Mary adalah anak yang terkenal karena kegemarannya membicarakan masalah orang. Meskipun demikian, aku paham bahwa Mary adalah tempat berekeluh kesah yang baik, karena untungnya, keahliannya bicara panjang lebar diimbangi dengan kesabarannya dalam menjadi pendengar yang baik. Banyaknya pengalaman hidup yang ia miliki juga membuatnya bisa memberikan solusi permasalahan yang cukup realistis, meskipun sebagian besar pasti tentang cinta.

Kedua gadis tadi agaknya berada di bawah kepemimpinan Lily Evans. Posisinya sama saja sepertiku yang memimpin ketiga sahabatku, dengan beberapa penyempurnaan yang kelihatannya hanya sanggup dilakukan olehnya. Jika menyinggung soal fisik, maka dia bisa menjadi versi wanitanya Sirius dalam hal kesempurnaan. Ideal, rambutnya yang panjang sebahu menjuntai indah dengan warna kemerahan yang dimilikinya. Wajahnya cantik, ditambah dia senang tersenyum, membuat kecantikannya menjadi dua kali lipat. Kalau soal inner beauty, maka kukatakan dia versi wanitanya Remus. Kendatipun dia sudah amat pintar, kerajinannya tiada tara. Baginya mencari ilmu tidak ada garis finishnya, benar-benar penganut sejati paham ’carilah ilmu hingga ke negeri Cina’. Sikapnya ramah dan menghormati orang lain, selama orang lain itu juga menghormati dirinya. Agak keras kepala, tetapi itulah yang membuatnya tetap berpegang teguh pada ideologinya. Singkatnya, Lily adalah gadis idaman semua lelaki normal.

Maka, dengan bangga kukatakan bahwa aku adalah lelaki normal, karena sepertinya aku tertarik pada gadis keturunan Muggle ini. Ketika dia berada di sekitarku, aku sama sekali tidak ingin melepaskan pandangan ini darinya. Segalanya seakan-akan menjadi indah saat kulihat senyum yang tersungging di bibir merah mudanya: Sirius yang misuh-misuh karena malas mengerjakan PR terdengar seperti penyanyi pop idol, Peter yang kelebihan berat badan tampak atletis, dan Remus yang lesu-siap-mati terlihat seperti seorang survivor yang menjunjung tinggi asas-asas hidup sehat.

Tetapi entah kenapa dia kelihatan tidak suka padaku. Kalau kusapa, dia membalas dengan dingin, balasannya pun terkesan seperti untuk menjaga sopan santun saja. Kalau menurut Mary, Lily bersikap demikian karena dia tidak suka tingkahku yang suka mengganggu anak-anak lain dengan lelucon yang (katanya) tidak lucu.

”Kau tahu, karena alasan itulah aku tidak suka perempuan,” ujar Sirius suatu hari, ketika kuceritakan situasi antara aku dan Lily. ”Tidak punya selera humor, tidak tahu cara bersenang-senang, cerewet, munafik pula. Senang sekali mengikik, kalau kemana-mana bergerombol, selalu mempertahankan imej anak baik di depan guru padahal gemar membicarakan orang di belakang.. Aku tidak mengerti jalan pikiran mereka.”

Aku mengangkat sebelah alis. Tidak heran sebenarnya mendengar Sirius berkata demikian, karena dia memang punya alasan dan menurutku cukup masuk akal. Tapi tetap saja.. ”Sirius, sobat, tidak semua perempuan itu seperti ibu dan sepupu-sepupumu,” kataku realistis.

”Oh, kurasa tidak juga, James,” Sirius membela diri, kelihatannya dia sudah lama menyiapkan argumen yang satu ini dan tidak sabar untuk mempresentasekannya padaku. ”Tidak punya selera humor, tidak tahu cara bersenang-senang.. coba lihat dia,” dengan telunjuknya, Sirius menunjuk Ashley yang duduk di meja elips di sudut. Kemudian perlahan menggerakkan empat puluh lima derajat ke samping, tempat Mary duduk, ”yang itu cerewet, senang mengikik, dan hobi bergosip. Nah, sementara yang satu itu,”—Sirius menunjuk Lily—”contoh konkrit binatang peliharaan guru. Kalau soal senang bergerombol, semua perempuan pastilah begitu kurasa.”

”Hm.. tapi dia jarang bergerombol tuh,” aku menunjuk Zet Claybel yang baru turun dari kamar anak perempuan.

Sirius mengibaskan tangannya tak sabar, ”dia di luar hitungan, soalnya bukan perempuan.”

- - - - -

Lilium longiflorum.”

Aku mendongak heran dari majalah yang tengah kubaca di ruang rekreasi. Zet Claybel menatapku serius, tanpa menunggu kupersilakan dia telah duduk di sofa seberangku sambil melipat tangannya di depan dada. Kernyitannya menandakan agaknya dia sibuk berpikir, tetapi ada desakan seakan dia mengharapkan aku menanyainya soal nama-ilmiah-entah-apa yang baru saja dia sebutkan. ”Apa?” kuturuti keinginannya akhirnya.

Dia kelihatan puas sekali ditanyai, persis anak kecil yang berharap ditanyai perkalian yang sudah dia hafal agar dipuji orang tuanya. ”Lily Evans. Namanya benar-benar mencerminkan orangnya. Aku jadi penasaran dengan orang tua yang telah memberikan nama seindah itu padanya..”

Aku mengabaikan kalimat terakhir yang sudah mulai melantur, tetapi tertarik pada pernyataan sebelumnya. ”Maksudmu? Evans mempunyai arti nama yang bagus?”

”Persis seperti yang kuucapkan tadi,” Zet manggut-manggut serius. ”Lily adalah Lilium longiflorum, bunga lily yang indah. Tingginya yang sekitar satu meter menunjukkan bahwa ia tidak mau direndahkan, sementara warnanya yang putih bersih memanifestasikan keramahan dan persahabatan yang abadi.”

”Wow. Seperti yang kuharapkan dari gadis semanis dia!” aku membalas bersemangat, melemparkan majalah yang tadi kubaca dengan sangat tidak peduli.

”Tetapi, James,” mendadak mata Zet berkilat-kilat serius. ”Bunga lily itu sebenarnya bunga karnivora yang siap melahap serangga yang berniat menghisap madunya! Jadi hati-hatilah, kalau kau terlalu gegabah mendekati Lily, mungkin dia akan menghabisimu juga!”

Mataku membelalak tidak percaya, tetapi tololnya aku percaya. ”Masa!? Kau pasti bohong!”

Zet menghela napas, semangat menggebu-gebunya telah sirna sepenuhnya, ”tentu saja aku bohong, bodoh! Mana ada yang seperti itu.”

Aku memutar bola mata.

”Tetapi yang awal-awal benar kok,” dia nyengir (cengiran aneh mengesalkan yang membuatmu ingin melayangkan satu atau dua pukulan ke arahnya). ”Lily Evans itu memang tipe gadis yang banyak disukai pria ya. Temanku Dirk Cresswell juga tertarik padanya.”

Oh ya, tentu saja aku tahu bahwa banyak laki-laki yang naksir Lily. Seperti yang telah kukatakan sebelumnya, semua lelaki normal pasti menyukai dia. Meskipun aku berharap semua selain aku tidak normal, tetapi kenyataannya hanya segelintir orang saja. ”Tidak masalah,” aku menyeringai percaya diri agar tampak keren, ”boleh jadi banyak laki-laki yang menginginkannya, tetapi akulah yang akan menjadi suami Lily di masa depan!” Oke, ketika itu aku masih anak-anak sehingga kalimat seperti ’aku akan menjadi suaminya’ adalah suatu yang sangat lancar untuk diucapkan tanpa pikir panjang soal tanggung jawabnya.

Zet Claybel di hadapanku tidak mengubah ekspresinya, ”yah, kita lihat saja.” Dan dia bangkit dari duduknya, bersiap pergi. Intinya dia kemari hanya ingin pamer pengetahuannya padaku ya.. hm.. perempuan memang sulit dimengerti. Ah, salah, maksudku laki-laki.

Nyaris bersamaan dengan bangkitnya Zet, lukisan Nyonya Gemuk terbuka dan tiga sahabatku: Sirius, Remus, serta Peter, masuk dari sana. Mereka berpapasan dengan Zet dan tentu saja Sirius menatapnya mencela—tidak ada pandangan lain yang dapat diberikannya pada gadis itu kecuali tatapan yang buruk-buruk.

”Apa yang kau bicarakan dengannya?” tanya Sirius segera setelah Zet menghilang dari pandangan. Dia kelihatan sangat tidak suka.

Aku tidak ingin menambah-nambahi rasa kesalnya dengan mengatakan bahwa aku membicarakan Lily, maka kujawab, ”bukan hal penting, sobat, hanya percakapan kecil biasa sesama Gryffindor! Dan omong-omong, dari mana saja kalian?” tambahku, mengalihkan pembicaraan.

Ekspresi Sirius berubah dengan sangat cepat, seperti hewan yang membaui buruannya, seringai badung khas Sirius terlukis di wajahnya yang tampan. Ini pertanda buruk bagi umum, tetapi bagiku pribadi ini berita baik. ”Aku tadi melakukan survei, James,” ujar Sirius bangga, dagunya naik, ”dan akhirnya aku menemukan sasaran yang cocok untuk proyek lelucon kita berikutnya.”

Oh, ini baru ligaku! ”Wow, hebat, Sobat! Aku bahkan belum sempat memikirkan ide apa-apa,” kataku sambil membetulkan posisi kacamata, menegakkan diri.

Sirius hanya terkekeh dan dia duduk di sebelahku, mendiskusikan idenya dengan nada rendah sehingga yang bisa mendengarnya hanya aku, Remus, dan Peter. Idenya cukup menarik, menurutku, dan sangat menguji kemampuan kami dalam merapalkan mantra Transfigurasi. ”Memangnya kau mau melaksanakannya di mana?” tanyaku di akhir diskusi.

Mata Sirius berkilat mengerikan, ”toilet anak perempuan.”

”Toilet Myrtle Merana?” tanya Peter dengan ekspresi ambigu, antara penasaran dan bingung. Tetpi melihat Peter sih, sepertinya lebih ke bingung.

”Ah, hantu yang satu itu sudah tidak menarik lagi untuk dikerjai,” Sirius melambaikan tangannya tak sabar, benar-benar menganggap Myrtle Merana bukanlah sesuatu yang signifikan. Sadis. ”Maksudku benar-benar toilet perempuan, yang sering dipakai di lantai empat.”

”Sebenarnya aku ingin komentar bahwa itu sangat tidak masuk akal, Sirius,” Remus menanggapi dengan sangat kalem, ”tetapi berhubung aku berbicara dengan Sirius Black, aku tidak jadi bicara deh.”

”Kau memang sahabat yang baik, Rem,” Sirius menepuk-nepuk bahu Remus singkat, sementara anak berambut cokelat muda itu memutar bola mata—bodoh jika mengira sindiran akan mempan pada Sirius. ”Ini ide yang bagus kan? Bayangkan wajah perempuan-perempuan itu, pasti sangat tak ternilai!”

”Ya ampun, kebencianmu terhadap perempuan sudah sampai stadium separah itu, ya?” aku bertanya, sedikit berharap Sirius akan mengubah sasaran tembaknya.

Sirius menyipit, kelihatannya agak tersinggung, ”ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan sudut pandangku terhadap perempuan, James. Lagipula aku tidak sebenci itu pada perempuan—hanya tidak suka,” akhirnya mengangkat bahu. Kawan, itu sama saja. ”Aku hanya berpikir jika sasaran kita kali ini laki-laki, tidak akan seseru kalau sasarannya perempuan. Ayolah, James, kita harus membangun reputasi kita!”

Yah, kalau sudah masalah reputasi, sulit bagiku untuk menolak. Itu harga yang pantas bagiku, reputasi. Wow, kedengarannya keren sekali kan?

”Baiklah, kapan akan kita jalankan?”

”Besok,” Sirius menjawab mantap, yakin bahwa cetak biru leluconnya sudah tergambar dengan sangat manis di otaknya yang terlampau cerdas.

Remus menghela napas, ”ya ampun.”

- - - - -

Menerapkan lelucon yang sukses, harus sama telitinya seperti menyusun strategi perang. Maka seusai makan siang di Aula Besar, aku mengupulkan ketiga sahabatku di kelas kosong yang tak jauh dari situ. Aku, yang berlagak seperti pemimpin sebuah kelompok pemberontak anti pemerintahan tiran, memberikan instruksi.

”Sirius, kau yang jalan pertama, pastikan toilet kosong, kemudian tunggu aku di sana. Setelah aku menyusul, Remus, kau dan Peter bertugas mengawasi sepanjang koridor. Berikan kode jika ada siapa saja yang mendekat. Nah, kembali pada Sirius, meskipun aku lebih jago Transfigurasi daripadamu, kan kamu yang usulkan ini, jadi kamu yang lakukan intinya!”

Mereka mengangguk antusias (kecuali Remus, sebetulnya), dan tepat setelah pelajaran Transfigurasi siang itu selesai, kami segera melaksanakan rencana.

Babak kali ini, tidak dapat disangkal lagi, sangat mudah. Keberuntungan ada di pihak kami ketika kami menemukan toilet anak perempuan di lantai empat kosong melompong ketika kami tiba. Kesempatan itu dimainkan dengan sangat efisien oleh sobatku Sirius karena dia merapalkan mantra dengan sangat cepat dan tepat. Dan ketika kami berdua keluar dari toilet, Remus mengatakan baru tiga menit waktu berlalu.

”Nah, tinggal tunggu korbannya,” Sirius berbisik licik, mengintip dari balik belokan di dekat toilet. ”Beruntung kalau Narcissa, sudah lama aku ingin membuat perhitungan dengannya.”

Tetapi tentu saja itu tidak terjadi. Nasib terlalu angkuh untuk tunduk pada kemauan Sirius. Segerombolan anak perempuan Gryffindor datang dari arah sebaliknya, dan satu dari mereka sangat kukenal—oh, tidak. Evans.

Meskipun aku menginginkan untuk membatalkan lelucon itu, semua sudah terlambat. Lily, Mary, dan Ashley, beserta beberapa anak gadis lain yang kelihatannya lebih tua, tiba-tiba saja sudah mencapai pintu toilet. Mereka bercakap-cakap sambil sesekali mengikik ketika memasuki pintunya.

Remus, sebagai anak yang paling memperhitungkan waktu, melaporkan pada kami nanti bahwa baru sekitar dua puluh detik sampai terdengar teriakan dari dalam toilet. Teriakan itu bukan sekedar satu teriakan panjang, tetapi berulang-ulang, dan pasti yang berteriak akan sakit tenggorokan sesudahnya. Pintu toilet menjeblak terbuka dan salah seorang gadis yang tak kukenal menjerit.

”Ca-ca-cacing, ADA CACING DI WAJAHKU!!”

Salah satu temannya, yang tidak kalah histerisnya, menimpali, ”d-d-di wajahku juga ada!”

”Kenapa banyak keluar cacing dari keran?!” sembur yang lain.

Sirius yang mengintip paling depan tertawa terbahak-bahak, meski dia berusaha agar tawanya tak seterdengar mungkin. Sesungguhnya itu betul-betul sesuatu yang patut ditertawakan: wajah gadis-gadis itu banyak ditempeli oleh cacing Flobber—menggeliat menjijikkan di lekukan hidung, pipi, rambut, bahkan ada yang sampai nyaris masuk ke telinga. Yeah, lelucon kami adalah mentransfigurasi air menjadi cacing Flobber. Kagum? Kalau kalian kagum, jangan disembunyikan!

Sirius dan Peter masih tertawa, aku juga bisa saja ikut tertawa bersama mereka, kalau Lily Evans tidak keluar dari toilet sesudahnya. Wajahnya sama parahnya seperti yang lain, dikerubuti banyak cacing Flobber. Tetapi kelihatannya dia telah berusaha merapalkan manra kontra sehingga cacing di wajahnya tidak sebanyak kawan-kawannya.

”Evans!” kataku khawatir, keluar dari persembunyian. Sirius menahan napas dalam kaget sesaat, terdengar berbisik seperti ’apa-apaan, kau bodoh!’ tetapi aku tidak peduli. Dan apa yang kulakukan barusan ini, adalah hal yang paling kusesali seumur hidup.

Lily menoleh dengan cepat ke arahku. Tatapan matanya tajam, kelihatan sangat tidak senang melihatku ada di situ. ”Potter! Seharusnya aku tahu!” Lily berkata setengah teriak, kalaupun tidak berteriak, nadanya tinggi.

”Evans, aku—”

”Ini ulahmu, Potter!” Lily mengambil beberapa langkah cepat mendekatiku, ekspresi marahnya tergambar makin jelas. ”Ya, tentu saja ulahmu! Tidak ada anak bodoh lain yang punya ide menjijikan seperti ini!”

Sebenarnya ada: Sirius. Tetapi dalam keadaan seperti ini tentu saja aku tidak mengatakannya. Mengatakan itu sama buruknya seperti menyiram bensin ke dalam api.

”Ternyata penilaianku tidak salah, Potter,” lanjutnya. ”Kupikir kau tidak bisa lebih buruk daripada memantrai lilin jatuh tahun lalu, ternyata aku salah! Kau adalah anak paling menyebalkan yang pernah kukenal!”

Dan dengan satu teriakan terakhir itu, Lily membalikkan badannya dengan kasar, menuju teman-temannya (Mary dan Ashley juga sudah keluar dari toilet. Mary kelihatan jijik dengan dirinya sendiri sementara Ashley memencet-mencet cacing di wajahnya dengan penuh rasa ingin tahu). Dan setelah para gadis yang lain ikut-ikutan menatapku mencela, mereka berjalan pergi.

Sirius, Remus, dan Peter menunjukkan diri mereka dari balik belokkan. Senyum puas tidak lagi tergambar di wajah Sirius, sementara Remus dan Peter menatapku prihatin. Rencana yang seharusnya brilian, berubah menjadi mimpi buruk bagiku hanya dalam waktu sekitar dua puluh detik.

”Maaf, James. Aku tidak tahu akan begini jadinya. Lagipula, seharusnya kau tidak menunjukkan diri tadi!” kata Sirius, merasa bersalah tetapi tetap membela diri.

Remus menepuk bahuku, ”Lily hanya panik, itu saja James. Semua akan baik-baik saja.”

Tetapi aku tahu bahwa semua tidak akan baik-baik saja. Karena setelah itu Lily sama sekali tidak pernah berbicara lagi padaku—tidak membalas sapaanku lagi meski hanya untuk menjaga sopan santun. Meskipun lama setelah ini semua akan berangsur-angsur membaik, apa yang telah terjadi tidak akan pernah lenyap sepenuhnya. Dan dari sini lah segala perjuanganku yang berkaitan dengan Lily Evans dimulai.

- - - - -

TBC



Return to Top