Share/Save/Bookmark
Home Just In Communities Forums Beta Readers Dictionary Search Login Register Extras
Anime/Manga » Naruto » Katharsis font: B s : A A A . width: full 3/4 1/2
Author: Monochromatic Pylon
Fiction Rated: T - Indonesian - General/Spiritual - Jiraiya - Reviews: 9 - Published: 01-20-08 - Updated: 01-20-08 - Complete - id:4022683

Author notes: Sebuah fanfic yang (lagi-lagi) berurusan dengan kematian dan sedikit AU. Mungkin drabble ini akan mengalami perbaikan lagi, suatu hari nanti.

Notice: Mungkin anda akan lebih bisa mengerti drabble ini bila mengikuti perkembangan cerita terbaru Naruto (scanlation tentunya).

Judul: Katharsis

Rating: T

Genre: General/Angst/Spirtual

Words Count: 702

Disclaimer: Naruto dan segala karakter yang bersangkutan lahir dari fantasi brilian Masashi Kisimoto. Saya hanya meminjam karakter-karakter dan menggerakkan mereka dengan seutas benang tak kasat mata.


Menarik napas, menghembus napas

Depan, belakang

Hidup, mati:

Panah berhamburan satu per satu

Bersua di tengah

Memecah kehampaan terbangnya yang tak bertujuan

Dan aku kembali ke segala sumber

Gesshu Soko (1617-1969)

Disadur dari “Samurai: Kastel Awan Burung Gereja” – Takashi Matsuoka

- - - - - - - - - - -

Di ambang kematiannya, Hokage ke-empat ditemani oleh sang Sennin Katak.

Sennin Katak menanyakan apa hal yang paling disesali Hokage ke-empat sepanjang hidupnya.

Hokage ke-empat tersenyum.

Gigih, seperti layaknya seorang ayah yang belum mampu melepaskan anaknya, Sennin Katak bertanya apakah ada hal yang pernah dia lakukan atau yang belum ia lakukan yang disesali Hokage ke-empat.

Hokage ke-empat berkata, penyesalan hanyalah obat seorang penyair. Dia menghantar nyawa kepada dewa kematian demi masa depan orang yang dicintainya. Dia hidup sebagai seorang prajurit dan mati sebagai seorang pencinta. Jawaban yang diberikan karena ia begitu mengenal sang Sennin Katak.

Sennin Katak, melihat senyum di wajah muridnya, bertanya apakah Hokage ke-empat menyesal telah hidup menjadi petarung dan bukannya penyair.

Hokage ke-empat terus tersenyum dan tidak menjawab.

Karena saat Sennin Katak bertanya, sang pencabut nyawa telah datang menjemput Hokage ke-empat.

- - - - - - - - - - -

Dalam bayangannya, Jiraiya bisa melihat suatu saat nanti ia akan mati selayaknya seorang pahlawan. Tanpa rasa takut dan keraguan, bermandikan darah jantungnya sendiri. Lalu, seorang wanita cantik akan memeluk dan menangis untuknya.

Bagi seorang Jiraiya, ini adalah akhir cerita yang cocok bagi seorang tokoh utama, seorang pahlawan yang mengorbankan diri demi seribu nama yang tidak dikenalinya. Bukan karena usia tua atau penyakit, tetapi dengan sebuah pengabdian. Karena seorang pahlawan tidak seharusnya mati karena usia tua dan penyakit, ia akan abadi, hidup dalam cerita dan tinggal dalam hati masyarakat. Helai rambutnya tidak akan memutih. Tulang-tulangnya tidak akan ringkih.

Tetapi, apalah artinya sebuah kemenangan di atas pengorbanan? Ini adalah reperkusi dari altruisme seorang shinobi.

Dalam sebuah perang, manusia tidak lebih dari sesosok hewan buas yang memiliki akal. Seorang petarung membunuh dan membarikade musuhnya dengan pengorbanan darah. Para strategis memandang nyawa tidak lebih dari deretan angka-angka. Tidak ada negara yang akan berdiri tegak dari sebuah perang yang dimenangkan dengan lautan darah banyak nyawa, mereka tidak cukup tegar. Seorang shinobi seperti Minato, mengukir sejarah dengan darahnya. Dan ia bukan yang pertama (atau pun yang terakhir).

Jiraiya menghabiskan sebagian hidupnya dalam lautan kata-kata, tapi dia bukanlah seorang penyair. Para penyair mengasumsi semesta, menjelajah ke dalam hati, dan tenggelam dalam pencarian tiada akhir. Jiraiya adalah seorang shinobi sebelum dia adalah seorang penyair. Dia lebih pintar menumpahkan darah daripada menyentuh hati pembacanya.

Begitu banyak nyawa yang telah dicabutnya. Begitu banyak hal yang salah di sepanjang hidupnya.

Jiraiya tidak pernah memaafkan dirinya akan kematian Minato, juga kepergian Orochimaru, dan gadis kecil berwajah ceria yang makin menghilang dalam Tsunade.

Ia masih belajar tentang cinta, bukan hanya cinta seorang ayah kepada anaknya. Melainkan sebuah cinta kepada sahabat, kepada orang tua, kepada kekasihnya, juga kepada negaranya. Jiraiya ingin menjadi pemenang, bukan melalui pengorbanan darah, tetapi melalui sebuah keberhasilan dalam mempertahankan cintanya.

Kegagalan akan cinta membuat Jiraiya semakin terperosok ke dalam lubang pelarian.

Dalam mimpinya, sering kali ia melihat tiga sosok hewan dan seorang yang tidak dikenalinya. Ketiga hewan itu adalah seekor katak buruk rupa, siput yang berjalan dengan lambat, dan seekor ular bermata kuning. Tetapi, sosok raja emas akan mengalahkan ketiga bayangan itu, cahayanya begitu terang dan kehadirannya sangat nyata.

Saat terbangun, Jiraiya menemukan wajahnya dingin oleh air mata yang belum mengering. Dia telah terbangun dan mimpinya telah menguap, tetapi sensasi keberadaan sang raja emas dan cahayanya yang membutakan masih membuat bulu kuduknya berdiri tegak.

Seringkali ia bertanya-tanya, akankah raja emas itu menjalani altruisme seorang pahlawan? Apakah ia adalah masa depan atau tidak lebih dari proyeksi sebuah masa yang telah lalu?

Jiraiya berharap ia bisa menemukan sebuah jawaban sebelum dewa kematian mengetuk pintunya.

Dia tahu, cahaya sang raja emas adalah cahaya yang akan menuntunnya menuju penebusan. Dan kegagalan cinta akan ditebusnya.

Minato mati karena cintanya terhadap keluarga, terhadap sahabat, terhadap negara, dan terhadap mereka yang menaruh harapan padanya. Tapi di atas semua itu, dia berkorban demi esok hari.

- - - - - - - - - - -

Tuhan dan dewa, nenek moyang dan hantu, iblis maupun malaikat, mereka tidak menjalani kehidupanmu dan mengalami kematianmu. Mungkin mereka bisa mengerti dan membantumu, tetapi pada akhirnya engkaulah yang akan melewati jalanmu.

Aku telah mendosa tiada terhitung dan penyesalan tidaklah terhindarkan. Tapi setidaknya dengan begini hidupku akan sedikit berarti, karena seorang tidak menciptakan pahlawan, tetapi sejarah dan memori kolektif yang menjadikan seseorang pahlawan.

Sejauh ini aku telah mengerti.

Naruto...

Hiduplah demi masa depan.


Note: Beberapa filosofi saya curi dari syair Suzume no Kumo (Cloud of Sparrow) Takashi Matsuoka. Maaf kalau drabble ini terasa memusingkan dan janggal.



Return to Top