|
Author of 20 Stories |
Rumah Sakit St. Konomeus...
“Ini mustahil.”, kata Sai menggelengkan kepalanya, “Aku nggak percaya.”
“Aku juga enggak. Tapi kadang-kadang memang ada sesuatu yang melebihi nalar dan logika kita.”, kata Neji. Diiringi anggukan Shikamaru. Mereka bertiga berpandangan dengan wajah pucat, lalu menoleh ke arah gadis berambut pirang yang sedari tadi diam.
“Naru.. Menurutmu?”, tanya Shikamaru.
Naru menggeleng, “Aku.. Nggak berani berpendapat..”
Shikamaru menghela nafas, “Aku sudah merasa aneh sejak Gaara bangun. Dia tiba-tiba menangis, tiba-tiba emosianal.. Bukan seperti Gaara yang biasanya tenang.”
“Dan dia langsung bertanya soal kapan Sasuke dimakamkan.”, tambah Neji.
“Kayaknya dia tahu.. Kalo Sasuke memang sudah mati.”, Sai mengiyakan.
“Dia manggil Temari dengan awalan nee-san.”, kata Shikamaru.
“Dia juga salah ngambil tas Sasuke.”, kata Sai mengingat-ingat.
“Dia membeli ponsel yang nggak touchscreen.”, tambah Neji.
“Yang paling parah..”, kata Shikamaru sambil pasang pose Conan, “Dia lupa nomor PIN ATM-nya sendiri. Seorang Gaara yang ingatannya kuat itu.”
“Ada yang lebih parah.”, kata Neji. Sai mengangguk.
“Gaara makan tomat.”
Mereka bertiga diam dan berpandangan tegang. Jauh dalam lubuk hati mereka, mereka menyadari hal itu. Naru masih diam.
“Dia bukan Gaara..”, desis Shikamaru, “Dia.. Sasuke.”
Naruto memejamkan matanya saat mendengar perkataan Shikamaru itu. Kedua tangannya menggenggam erat selimut yang dikenakannya. Ia sangat ingin menyangkal hal itu.
“Kenapa..”, desis Naruto, “Kenapa ia harus berpura-pura jadi Gaara..?”
Shikamaru menghela nafas, “Mungkin.. Karena ia sangat menyayangi sahabatnya. Dan nggak mampu untuk mengkhianati Gaara.. Juga karena cinta dia sama kamu..”
Naruto menahan tangisnya, “Dia memang Sasuke.. Dia Sasuke..”, bisiknya, “Aku nggak bisa mengatakan alasan logisnya, tapi aku tahu..”
Neji, Sai dan Shikamaru terdiam lagi. Kembali mereka berpandangan bingung.
“Perlu nggak kita buat dia ngaku?”, tanya Sai.
Shikamaru menggeleng, “Dia sangat berusaha untuk terlihat seperti Gaara.”
“Jadi? Sampai kapan kita bakal biarin hal ini?”, tanya Neji, “Ini beneran nggak masuk akal..”, katanya sambil duduk di sofa. Mereka terdiam lagi.
Naruto menunduk dan mengenang semuanya. Sebelumnya ia juga merasa heran dengan perubahan sikap Gaara. Wajah yang biasanya tenang itu entah kenapa sering memperlihatkan emosi dan gejolak. Sorot mata dingin itu kini sering memandangnya dengan pandangan memilukan. Pandangan menginginkan untuk memiliki. Pandangan yang seolah berkata ‘selamat tinggal’. Itu bukan reaksi seorang Gaara.
Belum lagi dengan semua informasi yang dikumpulkan Sai dan yang lain. Kalau dirangkai, maka semuanya akan cocok. Perubahan drastis itu terjadi sejak Gaara bangun dari komanya. Naruto kembali meraba bibirnya, merasakan kehangatan di sana. Kehangatan yang tak asing baginya. Itulah satu-satunya bukti yang hanya bisa ia rasakan sendiri. Di dalam tubuh Gaara, ada jiwa yang sangat dicintainya. Sasuke.
“Jadi..?”, tanya Shikamaru memecah kesunyian, “Gimana?”
“Katanya dia mau kesini sekitar setengah jam lagi.”, kata Sai sambil membaca sms yang mampir ke ponselnya.
Neji angkat bahu, “Aku nggak punya ide..”
Naruto menarik nafas panjang, “Kalian.. Bisa tolong aku?”
Kediaman Gaara...
Sasuke masih termangu diam di depan cermin. Entah untuk kesekian kalinya ia berhadapan dengan wajah yang sama. Namun kali itu ada sesuatu yang berbeda. Sasuke dapat melihat dengan jelas tubuh itu makin memucat dan berat. Ia tertawa miris.
“Sudah waktunya, ya.. Gaara..”, bisiknya lirih.
Dipandanginya kembali pantulan itu. Sasuke merasakan perasaan yang sangat aneh setelah ia terbangun. Rasanya ia tak akan menjejakkan kakinya di dunia ini lagi. Perasaannya sangat damai dan tenang. Ia sama sekali tak bermimpi semalam, semuanya hanya gelap. Namun gelap itu seakan melindunginya, Sasuke dapat merasakan hal itu. Perlahan, dirabanya cermin dingin itu.
“Sebentar lagi..”, bisiknya sambil tersenyum pada bayangan sahabatnya itu. Senyuman yang terlalu damai untuk ukuran seorang yang hidup. Sasuke melihat mata itu kembali meneteskan air yang hangat. Ia membiarkannya.
“Sebentar lagi, Gaara.. Aku akan menyusulmu..”
Starbucks Coffee, Rumah Sakit St. Konomeus...
“Datang juga kau.”, sapa Shikamaru sambil menyeruput teh hangatnya. Sasuke mengangguk dan mengambil kursi yang kosong. Mereka berempat duduk melingkari sebuah meja bundar. Di atasnya sudah tersedia empat cangkir teh.
“Tumben kalian mengajak minum teh di sini.”, kata Sasuke.
Sai, Neji dan Shikamaru berpandangan. Bingung harus berkata apa. Sasuke memilih diam dan menyeruput tehnya, “Naru.. Dimana?”
“Sedang jalan-jalan sama Kiba.”, jawab Shikamaru, “Tadi dia kesini juga. Tapi sekarang sih sudah kembali ke kamarnya.”
“Hmm..”, jawab Sasuke seadanya. Ia terus menyeruput tehnya. Neji dan Sai berpandangan heran. Shikamaru menghela nafas.
“Sejak kapan kau mau minum Earl Grey, Gaara?..”, tanya Shikamaru sambil mendelik pada pemilik rambut merah itu, “Atau lebih tepatnya.. Sasuke?”
Mata Sasuke membelalak terkejut. Ia memandang cangkir teh yang sedang ia pegang. Sama sekali tak disadarinya bahwa rasa pahit itu berasal dari aroma kesukaannya. Sekaligus juga, cita rasa teh yang paling dibenci sahabatnya itu. Pantas saja mereka lebih dulu mesan meja dengan empat cangkir teh. Sial, aku dijebak... Perlahan Sasuke meletakkan cangkir itu di meja dan berdiri dari kursinya.
“Sasuke.”, panggil Sai dan Neji bersamaan. Sasuke spontan menghentikan langkahnya. Habis sudah semuanya. Mereka sudah tahu. Kusudahi saja drama ini. Aku terlalu lelah, aku capek berpura-pura menjadi kamu, Gaara... Sasuke menghela nafas dan berbalik. Menatap ketiga orang yang sangat dikenalnya.
“Ya..”
“Duduk.”
“Tidak mau.”
Neji mengarik nafas panjang sebelum mengatakannya, “Dimana Gaara?”
Sasuke merasa dadanya tertohok mendengar pertanyaan itu. Wajahnya ditundukkan. Perlahan, sebuah gelengan diperlihatkannya, “Dia sudah nggak ada.”
Spontan mereka bertiga memejamkan matanya dan ikut menunduk. Jawaban itu sudah bisa mereka duga. Tidak mungkin ada dua jiwa berdesakan dalam satu tubuh.
“Aku salah berdoa..”, bisik Sai penuh penyesalan, “Gaara..”
Sasuke memalingkan wajahnya, “Maaf..”
“Sudah lama sekali aku nggak dengar kata maaf dari mulutmu, Sasuke.”, kata Neji sambil tersenyum tulus, “Selamat datang kembali.”
Sasuke mengerenyitkan dahi, “Maksudmu?”
“Kau kembali hidup.. Walau dalam tubuh Gaara.”, kata Shikamaru, “Aku nggak tau ini berita bagus atau jelek, tapi..”
“Nggak.”, potong Sasuke, “Aku harus cepat menyelesaikan apa yang harus aku selesaikan.. Aku nggak bisa lama-lama di dunia ini..”
Kontak ketiga sahabatnya memandang sosok Gaara dengan pandangan tak rela dan kaget, “Apa.. Maksud kata-kata kamu?”
“Aku sudah berjanji pada Gaara..”, Sasuke memandang ketiga orang itu bergantian, “Untuk mengembailkan tubuh ini ke tanah setelah urusanku selesai. Karena sebenernya, aku ini sudah mati. Aku sudah mati bersamaan dengan saat Gaara meninggal..”
“Apa..?”
Sasuke mengangguk, “Aku sudah mati.”
Hening. Shikamaru beranjak dari kursinya, langsung memeluk tubuh itu. Ia hampir menangis saat merasakan tubuh itu sangat dingin. Hawa yang sangat mati. Rasa dingin yang sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Sasuke membalas pelukan itu.
“Aku harus pergi..”
“Sasuke.. Setelah Gaara.. Kami harus kehilangan satu sahabat lagi?”, tanya Shikamaru. Neji dan Sai ikut berdiri dan merangkul sahabat mereka itu. Sasuke mengangguk.
“Sejak bangun dari koma.. Aku sudah tahu..”, bisiknya, “Bahwa aku juga..”
Kembali pelukan itu terjadi. Satu pelukan terakhir. Pengantar bagi sahabat mereka yang akan segera pergi. Sai diam-diam mengusap air matanya. Neji terus merangkul tubuh Gaara yang dingin. Shikamaru juga melakukan hal yang sama. Sasuke merasa hatinya perih.
“Maafkan aku..”
Shikamaru menggeleng, “Titipkan salamku.. Buat Gaara.”
Sasuke mengangguk mantap, “Pasti.”, lalu ia melepaskan diri dari pelukan ketiga sahabatnya, “Dari sini.. Biarkan aku pergi sendiri. Dan satu lagi. Kalau aku sudah nggak ada.. Titip Naruto ya.. Jaga dia baik-baik..”
Shikamaru mengangguk dengan tatapan sedih. Neji sibuk mengusap bahu Sai yang masih menghapus air matanya. Sasuke menghela nafas, “Aku mau ke kamar Naru du..”
Kata-kata Sasuke terputus oleh bunyi SMS yang nyaring dari ponselnya. Langsung diraihnya ponsel besar itu dan dilihat siapa pengirimnya. Sasuke menahan nafas saat melihat nama pengirim dan isi pesan singkat itu.
Gaara. Ada yang ingin kubicarakan. Aku tunggu kamu di atap rumah sakit. Naru.
“Apa?”, Sasuke berteriak tertahan.
“Ada apa?”, tanya Shikamaru.
“Naru.. Menyuruh aku dateng ke atas atap rumah sakit.”, kata Sasuke cemas, “Apa-apaan dia di sana? Rumah sakit ini kan lima belas lantai!”
Sai dan Neji berpandangan kaget, “Kok.. Beda dari rencana?”
“Apa kata kalian?”, tanya Sasuke kaget.
Neji memandang Sasuke, “Naru yang merencanakan semua ini.. Supaya kau mengaku sama kami tentang siapa kamu sebenernya, Sasuke. Dia sudah curiga padamu.”
“Di atas ATAP?”, tekan Sasuke. Ia mendengus keras dan berlari menuju lift terdekat yang membawanya ke atas atap. Ketiga temannya yang masih kaget ditinggalkannya begitu saja. Shikamaru langsung berlari ke lift terdekat untuk mengejar Sasuke.
“Kok..”, kata Neji, “Jadi ada ketemuan di atap? Bukannya ketemuannya cuma di kamar rawat saja?”, tanyanya panik.
“Ini gawat..”, kata Shikamaru sambil memandang kesal ke lift yang belum juga terbuka, “Aku tahu sedari tadi, kalo Naru ada di sekitar kita dan ngedenger semua omongan Sasuke.. Kalo kalian jadi Naru.. Yang make jantung Sasuke.. Terus menemukan kenyataan kalo Sasuke ada di badan Gaara.. Pura-pura jadi Gaara.. Apa yang kepikir? Lalu sebenarnya Sasuke hanya meminjam sementara badan Gaara, cuma untuk bilang, ‘aku cinta kamu’ saja. Lalu Sasuke akan..”, Shikamaru menggeleng, “Kembali ke alamnya..?”
“Jangan-jangan Naruto berniat..”, Sai dan Neji berpandangan ngeri.
Shikamaru mengangguk, “Naru.. Berniat bunuh diri..”
“Gawat!”
Sasuke bertahan untuk dapat berdiri di lift. Tiga belas.. Dua lantai lagi.. Sasuke mengomel-omel dalam hati dan berusaha untuk mengalahkan rasa kantuk yang mengerikan. Kepalanya terasa sangat berat, tubuhnya bagaikan melayang dan pandangannya sangat kabur. Kayak gini ya, reaksi jiwa kalo mau meninggalkan tubuh? Perasaan yang sama saat aku terjepit waktu itu. Sasuke tertawa miris. Ia melihat pintu lift yang terbuka. Lantai lima belas. Sambil menyeret tubuhnya paksa, Sasuke melangkah menuju satu-satunya pintu yang ada.
Pintu itu sudah terbuka. Plang bertuliskan ‘dilarang masuk’ sudah tergeletak di sana. Sasuke berjuang untuk dapat mencapai pintu itu. Sial, aku mengantuk. Sangat, sangat mengantuk. Kumohon, Gaara... Pinjamkan kekuatanmu untuk terakhir kalinya. Sasuke akhirnya tiba di balik pintu itu. Benar saja. Sudah ada sesosok gadis yang sangat dikenalnya. Rambut pirangnya tergerai indah. Tertiup angin yang kencang di ketinggian itu.
“Naru..”, panggil Sasuke dengan suara parau karena lelah, “Ngapain kamu disini..?”
Wajah itu tak tertoleh. Sasuke dapat mendengar tawa perih dari sosok itu, “Gaara.. Sasuke sedang apa ya, di atas sana?”
Sasuke terdiam. Sampai kapan permainan kucing-kucingan melawan takdir ini akan berakhir? Namun tak satupun kata-kata terucap dari bibir Sasuke.
“Jantung ini..”, kata Naruto, “Tak berguna banyak..”
Sasuke tersentak, “Apa maksud kamu..”
“Karena aku..”, Naruto melangkah pelan menuju ujung atap, “Akan menyusul pemilik jantung ini.. Sekarang..”
“TIDAK BOLEH!”, teriak Sasuke dengan sisa kekuatannya, “Sasuke nggak pernah mengharapkan itu.. Dia memberikan jantungnya buat kamu bukan untuk dibawa mati!”, Sasuke terengah-engah saat mengatakannya, “Dia ngasih itu agar kamu bahagia..”
Naruto menggeleng, “Nggak ada kebahagiaan itu, Gaara..”, lirih Naruto sambil melangkah makin mendekati gerbang kematiannya. Sasuke berusaha menggapai tubuh itu, namun kekuatannya sama sekali tak memungkinkan. Ia terlalu mengantuk.
“Kau akan menyesal..”, bisik Sasuke, “Kau akan menyesal! Apa kau dengar itu, USURATONKACHI?”, teriaknya dengan sisa kekuatannya.
Mendengar kata-kata itu, Naruto menghentikan langkahnya. Tak terasa matanya membelalak dan mengeluarkan air mata lagi. Ia sangat mengenal nada bicara itu, intonasi kasar itu, dan satu kata itu. Satu kata yang sama sekali tak mungkin diucapkan oleh Gaara. Naruto menunduk dan menangis lagi.
“Kamu..”, desisnya, “Kamu Sasuke, kan?”
Desir pasir di padang tandus
Segersang pemikiran hati
Sasuke agak tersentak mendengar kalimat itu terlontar dari bibir Naruto. Ia mengangguk dalam usahanya menahan tangis dan kantuk yang amat sangat. Sasuke menyunggingkan satu senyum damainya. Sedetik, Naruto tersentak bukan main. Ia merasa sepasang mata Sasuke sedang menatapnya.
Terkisah ku di antara,
Cinta yang rumit...
“Sasuke!”, teriak Naruto sambil berbalik. Namun bukan sosok berambut ayam itu yang ia lihat. Bukan wajah menyebalkan yang ia temukan. Yang berdiri di sana adalah Gaara, dengan kedua matanya yang meneteskan bulir-bulir air yang seakan mengiris pipi itu.
Bila keyakinanku datang
Kasih bukan sekedar cinta
Bibir itu terus tersenyum. Senyuman paling damai yang pernah disunggingkan otot pipi seorang Gaara. Namun Sasukelah yang menggerakkan bibir itu. Naruto berteriak tertahan saat tubuh itu melemah dan tersungkur perlahan.
Pengorbanan cinta yang agung
Kupertaruhkan...
“Sasuke!”, teriak Naruto sambil berlari ke arah tubuh Gaara, “Sasuke! Bertahanlah..”, isaknya sambil mengguncang tubuh lemah itu, “Akan aku panggilkan dokter..”
Namun tangan Naruto keburu ditahan oleh tangan yang pucat itu, “Tak perlu.. Aku sudah tak butuh itu..”, bisik Sasuke sambil tersenyum, “Kau disini saja.. Temani aku..”
“Nggak..”, kata Naru sambil menangis dan memeluk badan Gaara, “Sasuke.. Sasuke-teme.. Kenapa.. Kenapa semua mesti kayak gini...”
Sasuke menghela nafas.
Maafkan bila ku tak sempurna
Cinta ini tak dapat kujaga
“Gaara sudah menunggu aku..”, bisik Sasuke.
Naruto menggelengkan kepalanya keras-keras dan terus menangis.
Ayat-ayat cinta bercerita
Cintaku padamu...
“Kenapa kamu lagi-lagi harus ninggalin aku, dasar bodoh..”, lirih Naruto, “Aku nggak butuh jantung kamu.. Aku nggak butuh..”, isaknya lirih, “Aku butuh kamu..”
Sasuke membelai wajah penuh air mata itu pelan.
Bila bahagia mulai menyentuh
Seakan ku bisa hidup lebih lama
“Gaara..”, bisik Sasuke sambil melihat sosok sahabatnya itu melayang rendah dan mengulurkan tangan padanya, “Lepaskan aku, Naru.. Gaara sudah menjemputku..”
“Nggak akan!”
Namun harus kutinggalkan cinta
Ketika ku bersujud...
Naruto memandang langit dengan mata birunya yang terlihat pasrah. Bola mata bening itu terus-terusan mengalirkan air hangat. Naruto berteriak tak tentu arah pada langit, “Gaara! Gaara, kau dengar aku? Kumohon Gaara.. Jangan bawa Sasuke pergi lagi.. Jangan bawa dia, Gaara.. Jangannn...”, teriak Naruto. Tangisannya berubah menjadi raungan dan erangan keputusasaan, “Gaara.. Jangan bawa Sasuke, aku mohon...”, lirihnya sambil memeluk tubuh Gaara yang makin dingin dan kaku.
Bila keyakinanku datang
Kasih bukan sekedar cinta
Sasuke mengerahkan tenaga terakhirnya untuk menghapus air mata Naruto, “Jangan menangis lagi, dobe..”
Pengorbanan cinta yang agung
Kupertaruhkan...
Naruto terus menatap wajah itu sambil menangis. Hatinya bagaikan diiris-iris, “Kenapa aku mesti ngeliat kamu dalam keadaan kayak gini.. Kenapa harus aku yang bertahan hidup.. Setelah kamu dan Gaara nggak ada.. Aku mesti gimana, Sasuke? Aku harus apa..?”
Sasuke menghembuskan nafasnya berat, “Hiduplah..”, bisiknya, “Karena untuk itu aku memberikan jantungku.. Untukmu..”
“Sasuke..”, Naruto kembali memeluk erat tubuh dingin itu. Seakan semua yang ia lakukan mampu mengembalikan jiwa yang pernah hilang itu. Shikamaru, Sai dan Neji yang baru saja tiba setelah berlari-lari lima belas lantai menggunakan tangga, terkejut sekali melihat pemandangan itu. Naruto yang terus menangis sambil memeluk tubuh Gaara.
“Na..”
Langkah Sai langsung dihalangi oleh tangan Shikamaru, “Percuma..”, katanya sambil menggeleng, “Biarkan mereka berdua.. Untuk terakhir kalinya..”
Sai hanya bisa berdiri diam sambil memandang kedua sosok rapuh itu. Ia memalingkan wajahnya dan membiarkan air matanya jatuh. Neji juga tak tahan melihatnya. Shikamaru memandang kedua sahabatnya dengan pandangan sedih.
Maafkan bila ku tak sempurna
Cinta ini tak dapat kujaga...
“Dobe..”, panggil Sasuke sambil melontarkan senyuman terdamainya, “Aishiteru..”
Naruto mengangguk sambil menggenggam tangan dingin itu, “Aishiteru.. Teme..”
Ayat-ayat cinta bercerita
Cintaku padamu...
“Tetaplah hidup.. Gantikan aku dan Gaara..”, bisik Sasuke.
Naruto mengangguk lemah, “Aku akan berusaha..”
Bila bahagia mulai menyentuh
Seakan ku bisa hidup lebih lama
“Aku mengantuk..”, kata Sasuke sambil menutup matanya, “Aku ngantuk sekali..”
“Sasuke..”, bisik Naruto sambil mengguncang tubuh Gaara pelan, “Sasuke!”, panggilan itu berubah menjadi teriakan yang miris.
Namun harus kutinggalkan cinta
Ketika ku bersujud...
“Nggak.. Sasuke!!”, tangisan dan teriakan Naru seakan menjadi suara termiris yang pernah didengar Shikamaru, Sai dan Neji. Naru terus dan terus mengguncang tubuh Gaara sambil menangis, “Sasukee... Kenapa...”, isaknya sambil memeluk tubuh yang barusan saja menghembuskan nafas terakhirnya. Tubuh yang makin mendingin dan kaku. Tubuh yang semestinya sudah kembali ke bumi seminggu yang lalu. Namun entah kenapa tubuh itu terlihat seperti sedang tidur.
Kenapa kau menangis? Kenapa kau harus bersedih? Aku disini merasa sangat ringan. Rasa sakit itu sudah tak ada. Sasuke menyusul sosok sahabatnya yang terbang menjauh. Tinggi, tinggi, menuju sebuah cahaya yang terasa hangat dan agung. Sasuke melihat Gaara menoleh kepadanya dan tersenyum. Ia membalas senyuman itu dan memejamkan mata saat sinar itu makin membesar dan menyilaukan. Dengan ini, resmilah ia dan Gaara meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Meninggalkan semuanya, termasuk satu gadis yang sama-sama mereka cintai. Dia, yang masih memeluk tubuh mati itu sambil terus menangis.
“Sasuke..”, bisik Naruto, “Gaara.. Oyasumi...”
Ketika kubersujud...
Konoha Cemetery Park...
“Ini sangat tragis..”
“Tragis? Misterius maksudmu?”
“Masa’ sih.. Tiba-tiba meninggal tanpa gejala apapun?”
Naruto memandang sinis pada tiga cewek yang sedang bisik-bisik di sebelahnya. Sampai-sampai ketiga cewek entah siapa itu terdiam dan menunduk. Naruto menghela nafas dan kembali mendengarkan ocehan pastur tentang mendiang yang kali ini tubuhnya berpulang. Gaara. Sabaku no Gaara, telah kembali ke asalnya. Sore itu acara pemakaman berjalan sangat khidmat. Penghormatan terakhir bagi sesosok sahabat yang rela melakukan apa saja demi peryantaan cinta sahabatnya.
“Gaara..”, isak seorang wanita di hadapan kuburan Gaara, “Maafkan Mama, nak.. Maafkan Mama.. Maafkan.. Gaara..”
“Mama,.. Mama, sabar..”, kali ini Temari dan Kankuro yang merangkul ibu mereka. Sementara ayah Gaara langsung masuk rumah sakit karena syok mendengar putra bungsunya dinyatakan meninggal mendadak. Shikamaru juga ada di sebelah Temari. Naruto menunduk lagi. Terlalu tak sanggup untuk melihat pemandangan sesedih itu.
Gaara. Banyak orang yang mencintai kamu. Banyak orang yang berdoa dan mengharapkan kebahagiaan kamu di sana. Maaf kalau kami terlambat memberikan rangkaian bunga buat kamu. Maaf kalau sampai kapanpun.. Naruto merasa air matanya menetes lagi. Kita adalah sahabat terbaik, Gaara. Aku, kau dan Sasuke. Pandangan Naruto beralih pada salib di sebelah salib Gaara. Di mana tubuh Sasuke terbaring selamanya. Biarlah sampai kapan pun, mereka berdua bersandingan sebagai sahabat yang tak terpisahkan.
Naruto memperhatikan satu per satu orang yang beranjak pergi dari makam itu. Yang tertinggal hanyalah ia, Sai dan Neji. Shikamaru mohon diri duluan untuk mengantar Temari dan keluarganya pulang. Naruto berlutut di hadapan makam Sasuke dan Gaara.
“Gaara..”, bisiknya, “Sahabatku yang paling baik.”, Naruto tersenyum pahit saat mengucapkannya, “Semoga kamu mimpi indah di sepanjang tidur kamu.. Aku sayang Gaara, sampai kapan pun..”, Naruto mengalihkan pandangannya ke makam di sebelahnya. Kali itu, air matanya jatuh lagi.
“Sasuke..”, lirihnya di tengah isakan, “Aku janji.. Aku akan terus hidup buat kamu.. Buat melanjutkan impian kamu.. Aku nggak akan menyia-nyiakan jantung kamu..”
Naruto kembali terisak sampai dadanya terasa sangat sesak. Baru saja ia kehilangan sahabat bernama Gaara, ia harus rela ditinggalkan cintanya. Berat, terlalu berat untuk ditanggungnya seorang diri. Karena itu ia terus menangis. Neji dan Sai langsung ikut berlutut dan merangkul sahabatnya itu.
“Naruto..”, ucap mereka bersamaan, “Tak apa-apa.. Menangislah sekali kau bisa..”
“Sai.. Neji..”, isak Naruto, “Aku nggak kuat.. Aku nggak bisa..”
“Kamu nggak sendirian menghadapi ini, Naru..”, bisik Sai, “Ada aku, ada Neji.. Shikamaru, Sakura.. Semuanya juga sama.”
“Bener, Naru.. Kita semua sama-sama merasa kehilangan.”, kata Neji.
“Kamu harus kuat..”, bisik Sai.
Neji mengangguk, “Jantung Sasuke.. Harapan Sasuke hanya satu, yaitu untuk melihat kamu tetap hidup.”, kata Neji, “Karena itu, berdirilah lagi..”
“Kami akan selalu ada di samping Naru.”, kata Sai, “Karena kami bertiga sudah janji sama Sasuke untuk ngejaga kamu..”
Naruto mengangguk lemah.
“Mereka pasti ngejaga kamu dari jauh.”, bisik Neji, “Aku yakin..”
Lagi, Naruto hanya menganguk dan membiarkan air matanya jatuh. Aku tahu. Aku merasakan kehadiran mereka berdua di setiap langkahku. Mereka ada dalam tetes embun di pagi hari. Mereka ada dalam rangkaian warna pelangi. Mereka ada, dan akan selalu ada. Karena aku nggak akan pernah bisa melupakan.. Semuanya. Naruto tersenyum. Ia berdiri dari makam itu dan berjalan menuju mobil.
“Aku mau ke gereja..”, bisiknya, “Aku mau berdoa..”
Sai dan Neji mengangguk dan mengikuti Naru berjalan ke arah parkiran makam itu. Setelah semua berakhir, ia merasa sesak itu masih bersemayam. Namun ia akan berdiri, ia akan melangkah dan terus berlari. Semua itu bisa ia lakukan dengan jantung Sasuke dalam tubuhnya. Lalu Naruto mendengar suara yang sangat halus. Terlalu halus bahkan.
Hiduplah.. Dan kami akan selalu di sampingmu, menjaga dan mendampingimu...
Naruto agak tersentak dan melihat ke arah kedua makam itu.
“Naru? Kenapa?”, tanya Sai. Naruto menggeleng pelan.
“Nggak. Rasanya..”, Naruto tersenyum bahagia, “Sasuke dan Gaara akan selalu melindungi aku dari jauh..”, katanya sambil memalingkan wajahnya. Neji tersenyum.
“Apa aku bilang.”
Neji dan Sai tertawa dan mengusek rambut pirang itu. Naru merasa lega, setidaknya ia masih punya sahabat yang setia mendampinginya.
Oyasumi Gaara. Oyasumi Sasuke. Have a nice dream, forever...
TBC...
Eeehh!!
Ntar dulu, enak aja main nangis2. Ceritanya belon kelar. Emangnya kalian nggak peduli sama nasib Naruto setelah ditinggal mati dua orang kesayangannya? Enak aja, main ninggalin ni cerita bersambung setelah duo cowok gantengnya tewas.. Masih ada lanjutannya nih, walaupun sedikit! Makanya jangan lewatkan chapter depan ya..
The last piece of memory, Sasuke is Gaara...
Ciao!