|
Author of 16 Stories |
Blood & Sacrifice
By Saint-Chimaira
--
PART I
Hari itu seperti biasa aku pulang ke rumahku setelah latihan tennis di sekolah St. Rudolph. Kakiku lemas sekali, dan Mizuki-san bersedia untuk menemani aku pulang. Itu sudah ketiga kalinya dia menawarkan dirinya untukku.
"Kau bisa jalan, Yuuta-kun? Apa kakimu masih terasa sakit?" Mizuki-san bertanya sambil melihat ke arahku.
"Ah..um, ya.. Aku baik-baik saja. Tidak ada yang salah. Paling tidak aku harus istirahat sebentar. Besok pasti aku sudah dapat latihan lagi," kataku sambil melihat ke arah kakiku, memalingkan mukaku darinya yang terus memandangku.
"Emm begitukah?"
"Ya.."
Akhirnya kami sampai di depan rumahku, saat aku mau menuju ke arah pintu, Mizuki-san memanggilku.
"A... Yuuta-kun.." Dia berhenti bicara sejenak dan memandangku. Aku agak heran melihat tingkahnya.
"Ada apa Mizuki-san?" Aku kembali mendekatinya untuk bertanya apa yang akan ia katakan, tapi kepalanya menunduk ke bawah sejenak, dan kemudian melihat padaku lagi.
"Tidak ada apa-apa. Sampai jumpa besok, Yuuta-kun." Ia tersenyum ke arahku. Aku menarik nafas lega. Paling tidak senyumnya sudah melegakanku. Ia membalikkan badan dan melangkahkan kakinya untuk pulang.
"Mizuki-san, hati-hati di jalan!"
"Tentu saja!" katanya, tapi ia tidak menengok ke arahku, hanya melambaikan tangannya dan berlalu pergi.
Aku membalikkan badanku, menuju pintu. Sekilas aku melihat aniki di jendela atas, tapi ia segera menutup gordennya. Apa yang aniki lakukan? Apa tadi dia melihatku bersama Mizuki-san?
"Tadaima.." aku menutup pintu, membungkuk dan membuka tali sepatuku.
"Okaeri, Yuuta." Aniki menyambutku dan berdiri di sebelahku, namun aku tidak melihat wajahnya karena sibuk membuka sepatuku.
"Bagaimana latihanmu di sekolah, Yuuta?
"Ah, biasa-biasa saja. Hanya saja kakiku agak terkilir, jadi aku diantarkan temanku kesini."
"Mizuki.."
"Hah??" aku terkejut seraya mendongak ke atas melihat ke arah aniki. Wajahnya tidak biasa. Ia menatapku dengan pandangan sinis dan tajam. Kami berdua diam sejenak, tidak mengatakan apapun.
"Yang penting kamu selamat. Ayo kita makan siang, kalau tidak perutmu akan sakit," katanya. Senyumnya kembali mengembang di bibirnya. Ia tidak menyinggung kembali masalah itu. Yumiko-Neesan juga sudah menungguku. Kami makan siang
bersama. Pikiran tadi juga sudah terabaikan, aku tidak memikirkannya lagi.
--
PART II
Aku masuk ke kamarku, membuka bajuku dan merebahkan badanku ke atas ranjang seraya melihat ke arah langit-langit.
Apa yang aniki katakan tadi membuatku gelisah. Ia tidak pernah menyinggung Mizuki-san sama sekali, mengenalnya pun tidak.
Tapi kenapa tadi...
"Yuuta.." aniki mengetuk pintuku. Aku terbangun kaget dan menuju arah pintu untuk membuka kuncinya.
"Ada apa, aniki?"
"Apa aku tidak boleh bertemu denganmu? Kau sudah lama tidak pulang, rasanya aku jadi rindu padamu. Nmhmhmh..." kata aniki sambil melemparkan senyum khasnya padaku. Ia berbalik dan duduk di atas tempat tidurku.
"Aniki.. Mungkin besok aku tidak pulang."
Aniki berhenti tersenyum, memandangku kembali. Aku hanya bisa melihat sorot matanya yang tajam melihat padaku.
Kemudian ia berdiri dan hendak keluar dari kamarku.
"Kau besok akan pulang, Yuuta. Aku yang akan menjemputmu." Aniki keluar dan menutup pintu. Aku hanya bisa tertegun dan tidak dapat mengatakan apa-apa. Bagiku kata-katanya itu bagaikan paksaan yang selama ini tidak pernah keluar dari mulutnya, tapi aku tidak dapat berbuat apa-apa.
Aku melewati hari esok tanpa halangan. Semuanya terlihat biasa-biasa saja. Aku terus berlatih bersama Akazawa-bucho dan teman-teman lainnya. Saat aku mengambil tasku dan akan segera pulang, Mizuki-san ternyata ada di belakangku.
"Mizuki-san, kau mengagetkanku. Kenapa kau berdiri di belakangku seperti itu? Kukira kau ini hantu." Aku mengelus dada dan menyandangkan tasku di pundak.
"Nfufufu.. kenapa kamu jadi takut seperti itu kepadaku, Yuuta-kun?" katanya sambil memelintir rambut depannya, sesuai dengan kebiasaannya.
"Apa kau mau kuantar pulang lagi, Yuuta-kun?"
"Hee...??" Ini tidak biasa.. Apa maksudnya? Ini sudah keempat kalinya, hanya saja aku menyanggupi permintaannya itu baru kemarin, tapi kalau sekarang...
"Yuuta, kau sudah siap-siap mau pulang?" Akazawa-bucho memotong pembicaraanku. "Fuji Syuusuke ada di depan, sebentar lagi ia mau kesini, katanya mau menjemputmu pulang."
"Aniki?" Aku tidak percaya ia betul-betul menjemputku. Kukira ia hanya main-main waktu itu. Kulihat ia datang menuju ke arahku.
"Yuuta-kun, kau tidak bilang akan dijemput oleh Fuji." Mizuki-san bertanya sambil menoleh padaku, dengan tangan masih bermain-main dengan rambut depannya.
"Eh, itu.. Aku tidak tahu.."
Aniki sampai tepat didepanku, dan Mizuki-san masih berada disebelahku.
"Aku tepat waktu 'kan, Yuuta, juga menepati janji. Aku datang menjemputmu. Ayo kita pulang." kata aniki sambil tersenyum.
"Neesan juga sudah menyiapkan makan siang di rumah."
"Apa Seigaku tidak ada latihan untuk hari ini? Kenapa repot-repot segala untuk menjemputku, lagipula aku bukan anak kecil lagi. Aku sudah bilang hari ini tidak akan pulang." Aku mengernyitkan keningku, meminta jawaban aniki terhadap apa yang
aku tanyakan kepadanya.
"Tidak apa-apa, waktuku banyak, jadi memang kedatanganku kali ini sengaja untuk menjemputmu" Ia menjawab dengan senyum khasnya. Aku jadi tidak ingin bertanya lagi padanya.
"Yuuta-kun.." Mizuki-san memanggilku. Aku menengok ke arahnya, tapi dengan cepat aniki menangkap dan memegang tanganku, mendekatkan mukanya ke arah mukaku. Aku betul-betul terkejut.
"Ayo kita pulang." aniki memandangku kembali dengan tajam. Ia membalikkan badan dan menarik tanganku, secara refleks aku menebaskan tangannya, hingga ia berhenti berjalan dan menoleh ke arahku.
"Aniki... Apa maksudmu? Kenapa kau tidak seperti biasanya? Aku tidak pernah melihat aniki seperti ini. Kau sudah seperti orang lain..." aku betul-betul marah saat itu dan apa yang kukatakan keluar dengan sendirinya, tanpa mempedulikan apa anggapan aniki terhadapku.
"Tidak ada maksud, ayo kita pulang."
Sebenci-bencinya aku, ia tetap anikiku. Akhirnya aku mengikutinya berjalan dan pulang ke rumah, menyeberangi jalan raya.
"Yuuta-kun.." Mizuki memanggilku, aku mendengar tapi tidak menghiraukannya. Aku terus berjalan mengikuti aniki.
Tiba-tiba aku mendengar suara keras yang berasal dari belakangku. Aku melihat sekilas mobil melintas ke arah belakangku, tapi aku tidak menoleh. Aku terlalu takut untuk melihat ke belakang, takut untuk melihat apa yang terjadi.
"Mizuki!! Hei! Apa yang terjadi?"
Aku mendengar teriakan Akazawa-bucho, nada suaranya terdengar panik, akhirnya aku mencoba memberanikan diri untuk menoleh, melihat apa yang terjadi..
"Mizuki-san...??" aku melihat tubuhnya terkapar di aspal. Tubuhnya bersimbah darah. Spontan aku berlari ke arahnya.
Aku mengangkat tubuhnya, menaruhnya dipangkuanku. "Mizuki-san, hei.. buka matamu.. MIZUKI-SAAAAAAN!!" aku berteriak, panik..
Aku mengguncangkan tubuhnya, berusaha membangunkannya, tapi ia tidak merespon apapun. Aku menyentuh dan meraba pipinya. Dingin... Aku betul-betul panik. Akazawa-bucho segera menelepon ambulan, Aku menggendong tubuhnya untuk segera dibawa ke Rumah Sakit, dan teman-teman lainnya menelepon polisi untuk menangkap pelaku tersebut.
Aku berlari melewati aniki. Ia hanya diam saja, tapi aku bisa melihat senyum tipis tersungging di bibirnya. Kenapa? Ia benar-benar beda. Aniki benar-benar beda. Pikiran jelek selalu menghantui diriku. Apa yang aniki lakukan? Aku merasa ia penyebab terjadinya semua ini, tapi aku tidak mau menyalahkannya. Yang penting aku harus menyelamatkan Mizuki-san dahulu.
--
PART III
saat itu jam menunjukkan pukul dua pagi. Ia sedang berada di ruang operasi.. Akazawa-bucho telah menghubungi keluarganya, tinggal menunggu mereka datang.
Ia juga mengatakan bahwa pelaku penabrakan tadi sudah tertangkap. Aku terus
menungguinya, sampai-sampai aku mengantuk karena mataku sudah sangat terasa berat. Dari kejauhan aku melihat aniki. Ia berjalan menuju ke arahku.
"Hee Aniki?? Kenapa kau datang?" aku duduk di bangku sebelah ruangan operasi, mendongakkan kepalaku ke arahnya yang sedang berdiri.
"Nmhmh... tidak ada apa-apa. Aku hanya mengkhawatirkanmu. Kenapa tadi kau menolak untuk pulang?"
"Apa aniki tidak mengkhawatirkan Mizuki-san?"
"Maaf, siapa dia..? Aku tidak mengenalnya." Raut mukanya berubah, memandangku dengan tajam.
Aku memberanikan diri untuk bertanya..
"Apa.. yang aniki lakukan...? Kau bukan aniki yang kukenal.."
Ia tidak menjawab, matanya terus tajam menatapku.
"Baik, aniki tidak mau menjawab. Aniki tidak mau menggubrisku, maka aku juga tidak akan menggubris aniki. Aku juga tidak akan pulang, aku akan kembali ke asrama." aku berdiri dari dudukku dan berjalan melewatinya, tapi aniki memegang tanganku hingga aku tidak bisa bergerak karena cengkraman tangannya sangat kuat. Aku hanya diam dan menatapnya, menunggu jawabannya. Aniki menunduk dan menaikkan tangannya ke arahku..
"Untuk melepaskan dirimu darinya, aku tidak segan-segan untuk menjual jiwaku pada iblis."
"Hah??" Aku bingung bukan main. Kami berdua diam sejenak. Aku tidak mengerti apa yang aniki bicarakan. "Bohong..aniki, kau bercanda.. Hal seperti itu sudah di luar ambang batas kewajaran, sudah di luar nalar pikiran. Aniki pasti bercanda."
Aku tertawa sejenak, tapi aniki tidak tersenyum sama aku tersentak, dan melepaskan tanganku darinya.
"Aniki.. masa.., kau kejam sekali! Padahal kau sendiri tahu bahwa ia adalah orang yang sangat penting bagiku!!"
"Penting?"
"Ee... itu.."
"Mana yang lebih penting, Yuuta? Dia atau aku?" ia memasukkan kedua tangannya ke saku celananya, tersenyum ke arahku.
Ditanya seperti itu tentu saja aku tidak bisa menjawab. Aku bingung..
"Aku tahu.. Aniki sangat baik kepadaku. Aku menyayangi aniki, tapi Mizuki-san.." aku berhenti sejenak. "Saat aku keluar dari Seigaku, hanya Mizuki-san satu-satunya orang yang mau mengulurkan tangannya kepadaku, hingga aku ada seperti sekarang. Karena itu bagiku dia sangat penting sekali bagiku, sangat penting sekali, mengerti?" Aku sudah siap dengan apapun yang akan aniki lakukan setelah itu. Aku melihat ke arahnya, tapi ia menunduk, memalingkan mukanya dariku.
"Nmhmhmh..." ia tertawa tanpa memandangku. "Kau sekarang sudah tambah dewasa, Yuuta. Kau sudah bisa menentukan pilihanmu sendiri. Kau betul-betul mencintainya, ya, Yuuta?"
"Ee?? Apa maksudnya!! Baka aniki!!"
"Nhm.. mukamu merah, Yuuta.."
"Ee.. itu..um.. bukan.. Aniki bodoh.."
Aku tertunduk malu. Aniki betul-betul tahu cara menusuk perasaan orang.
"Jadi, ya?"
"Nng..."
"Heeh? Ya 'kan??"
"Uum..." aku tidak bisa menjawab apapun lagi.. Memang begitu kenyataannya.
"Jujur saja, aku belum bisa menerimanya. Kau ini masih terlalu polos." katanya sambil menepuk-nepuk kepalaku.
"Jangan memperlakukanku seperti anak kecil!!" teriakku.
Aniki berjalan menjauhiku, pulang kembali ke rumah.
"Aku memberikan waktu sampai dia sadar! Kalau dia sudah sadar, kau harus pulang ke rumah." katanya sambil
melambaikan tangan, tapi tidak menengok ke arahku.
"Kau tidak pakai ilmu hitam 'kan aniki??" teriakku.
"Nhm.. Bagaimana ya..."
Setidaknya sekarang aku tinggal bernafas lega. Aniki hanya mengkhawatirkanku. Ia benar-benar sayang padaku.
"Aku mencintaimu anikii!!" teriakku.
Aniki berhenti berjalan, menoleh dan tersenyum ke arahku.
"Apa kau tidak malu berbicara keras-keras di tempat seperti ini. Nanti akan mengganggu orang yang sedang operasi."
"Tidak! karena aku memang menyayangi aniki."
"Aku juga mencintaimu, Yuuta. Sampai jumpa di rumah." katanya.
"Sialan.. aku kalah." Fuji bergumam kepada dirinya sendiri.
Ia kembali membalikkan badan, berjalan sampai hilang dari pandanganku.
Hari itu akhirnya terlewati. Seluruh perasaanku sudah kembali tenang. Aku mendongak ke arah ruang operasi. Aku melihat lampu merahnya mati, tanda operasi sudah selesai, dan aku menungguinya sampai ia sadar...
--
Fin
Saint-Chimaira, 2004
wew...look at the year!! 4 years ago? But I still Love this story and the triangle-soft-love-drama between them.
hope u all like it 3 3 3