Help
Home Just In Communities Forums Beta Readers Dictionary Search
: B s . A A A    : full 3/4 1/2   : E E   : Light Dark Anime/Manga » Yu-Gi-Oh » Fake Reality side A

Saint-Chimaira
Author of 16 Stories

Rated: K+ - Indonesian - Romance/Angst - Seto K. & K. Jounouchi - Reviews: 10 - Updated: 11-05-08 - Published: 09-02-08 - Complete - id:4516285

Fake Reality

By: Saint-Chimaira

part 01

“Buset! Aku terlambat!! Ya ampun!! Ayah pasti sudah siap menyiksaku di rumah…” Omel Jou sambil melihat jam tangannya.

Malam itu, tepatnya pukul sembilan, kota Domino diguyur hujan yang cukup deras. Namun hal itu tidak menghentikan Jou berlari menuju apartemennya.

“Waduh…lewat jalan mana yang lebih cepat ya?” dia memperlambat larinya dan mencoba melihat jalan di sekeliling.

“Ah, lewat sini aja…”

Cowo pirang itu menyisir poninya dengan punggung tangan, menghalau helaian-helaian rambut yang basah dari air hujan yang makin deras dan mulai membuat pandangan matanya tidak fokus.

Tepat ketika Jou mulai menyeberangi Zebra Cross di jalan yang dilaluinya, dia terkejut akan cahaya silau yang menghampirinya dengan cepat.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!”


Aku terkejut akan bayangan di hadapanku, secepatnya aku menginjak rem dan membanting setir. Limousinku berhenti dalam keadaan tidak normal.

“Ya Tuhan! Ada apa ini?” kulihat orang-orang mulai berkerumun di depan mobilku.

Tanpa peduli akan hujan, aku keluar dari mobil dan menyeruak ke dalam kerumunan orang-orang yang berteriak-teriak.

“Dia tertabrak!”

“Kasihan sekali”

“Seseorang tolong panggil ambulans!!”

Aku berhasil melewati orang-orang yang panik di sekelilingku dan melihat sesosok tubuh tak berdaya terbaring di dalam lautan air hujan dan darahnya sendiri. Rambut emas yang sangat kukenal membuatku secepatnya tersadar dan meneriakkan namanya

“JOUNOUCHI!!” Aku langsung berlutut dan meraih belakang lehernya dengan hati-hati.

“Jou!? Oh My God!! JOU! BANGUN!”

Tapi dia tetap terdiam, kurasakan tubuhnya semakin dingin. Entah karena darah yang terus mengalir keluar dari tubuhnya atau karena hujan yang sedang turun.

Tanpa menghiraukan pertanyaan orang-orang disekitarku, aku mengangkatnya dan berlari menuju mobilku. Kurebahkan dia dia di sebelahku. tidak peduli darahnya yang mengalir mengotori mobilku. Aku menyalakan mesin dan mulai menjalankan Limousinku dengan kecepatan luar biasa menuju rumah sakit Domino.


Aku membawa tubuh Jou itu dan berjalan cepat menuju meja informasi.

Beberapa suster yang menyadari adanya tetesan darah langsung berlari menghampiriku.

“Suster, tolong! Dia tertabrak…”

Tanpa banyak bicara, para suster mengambil tempat tidur dorong dan membantuku merebahkan tubuh Jou diatasnya.

“Maaf, tolong tunggu di Lobby, saya akan mendatangi anda untuk proses selanjutnya, sebelumnya, tolong isi berkas-berkas ini demi kepentingan pasien…”

Aku mengangguk dan berjalan menuju lobby.

Sesampai di Lobby, aku menjatuhkan diri di kursi terdekat dan menatap langit-langit.

Kejadiannya cepat sekali’ pikirku ‘Aku lelah dan masih belum bisa berpikir

Setelah terdiam beberapa saat dan merasa diriku mulai tenang, aku mulai membaca kertas-kertas di hadapanku. Beberapa bagian agak basah karena air hujan yang masih mengalir di tanganku.

“Biodata pasien eh?” Tanyaku sambil membolak-balikkan kertas di hadapanku..

Aku tidak banyak tahu tentang anjing kampung itu, dan aku sedang tidak bawa laptop, jadi tidak bisa mengeceknya di Internet. Sebaiknya kuisi yang kutahu saja.

Nama, Jounouchi Katsuya. Mudah-mudahan ejaannya tidak salah. Namanya aneh sekali. Laki-laki. 16 tahun.
Hmm….tanggal lahir…25 januari. Tentu saja aku terpaksa ingat karena walau ulang tahunnya masih lebih dari sebulan lagi, Yugi gencar mengajakku patungan untuk membeli kadonya.

Yugi?

Ah…iya, aku harus memberi tahu Yugi supaya dia bisa memberi tahu keluarga Jou tentang keadaannya sekarang. Tapi bagaimana jika aku ditanya macam-macam?

KRIIIING…

Aku terkejut namun dengan cepat meraih handpone dari saku celanaku.

“Ya Mokuba?”

“Kakak!!” sahut suara dari seberang sana “Ini sudah hampir jam 10 dan kantor bilang semua orang sudah pulang dari tadi! Kenapa nggak ngasih kabar? Kakak lagi dimana?”

Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari adikku yang manis itu.

“Sorry Mokuba, aku lagi di rumah sakit Domino. Jounouchi tertabrak.”

“HAAAAH? JOU? Apa aku perlu kesana?” Tanya adikku cemas.

“Jangan! Besok kamu harus sekolah, lebih baik kamu makan, mandi lalu tidur! Besok kau harus bangun sebelum pukul 7.”

“Tapi kak…” protesnya.

“Mokuba!”

“…Baik…tapi…bukan kakak yang menabraknya kan?”

“Cepat tidur Mokuba, I love you” tanpa menunggu jawabannya aku memutuskan sambungan dan mengembalikan Handphoneku ke saku celana.

Kukerjakan berkas-berkas itu sebisaku hingga tidak menyadari seorang suster berdiri di belakangku dan menepuk pundakku.

“Permisi tuan…”

“Kaiba” kataku tajam

Dia tampak agak kaget mendengar namaku, tentu saja, rumah sakit ini termasuk salah satu dari tempat yang disponsori oleh perusahaanku.

“Tuan… Kaiba…Pasien sudah bisa dikunjungi. Boleh saya mengambil kembali berkas-berkasnya?”

“Dia di ruangan mana?” tanyaku dingin sambil menaruh kertas-kertas tadi ke tangannya.

“Ruang 312, lantai tiga. Dia dirawat oleh dokter Dawson. Tuan, apa anda perlu handuk? Badan anda basah sekali” Tanyanya sambil tersenyum.

“Tidak usah, urus saja berkas-berkas ini. Jangan lupa untuk untuk menyiapkan berkas biaya rumah sakitnya.”

“Ba…Baik tuan” Dia menundukkan kepalanya dan dengan cepat menghilang ke balik meja informasi.

Aku menaiki tangga dan berjalan hingga menemukan ruangan yang dimaksud oleh suster tersebut. Aku terdiam dengan tatapan kosong ke arah pintu yang menjadi pembatas antara aku dan Jou.

“Anda, tuan Kaiba?” Tanya seseorang yang berada di sampingku.

“Siapa?”

“Saya dokter Dawson yang menangani pasien ruang 312. Apa anda yang membawa pasien kemari?”

“ Namanya Jounouchi Katsuya. Boleh aku masuk?”

“Tentu saja, tapi setelah itu, ada beberapa yang ingin saya tanyakan pada anda.”

Aku menggigit bibir dan terdiam. “Bagaimana keadaannya?

“Silahkan masuk dulu untuk melihatnya” Dia membuka pintu dan mempersilahkanku masuk dengan sopan. Aku melihat tubuh kurus jou dengan alat infus, alat Bantu pernafasan dan balutan perban di sekitar tangan dan kepalanya. Wajahnya pucat sekali.

“Apa saja luka-lukanya dok? Bagaimana jelasnya?” Tanyaku berusaha tidak terdengar panik.

“Dia mengalami gegar otak yang cukup parah dan beberapa patah tulang. Karena nutrisi di tubuhnya sangat kurang, maka metabolisme pemulihannya saya yakin akan berjalan sangat lambat, karena itu tuan Jounouchi kami beri infus nutrisi terlebih dahulu untuk meningkatkan kekebalan tubuhnya.

‘Kurang nutrisi?’ pikirku heran. Aku selalu melihat dia makan seperti anjing kelaparan di sekolah. Mana mungkin dia kurang nutrisi.

“Kira-kira kapan dia sadar dok?” tanyaku lagi.

“Jika treatmen ini berhasil, dia akan bangun dalam dua atau tiga hari.”

“Ooh…” kataku lega.

“Bisa anda ke ruangan saya sebentar? Saya kira, banyak hal yang perlu saya ketahui tentang teman anda.”

“Dia bukan temanku!” Jawabku ketus.

“Ah…maaf, dia saudara anda?” Tanya Dokter Dawson bingung.

Aku mengerutkan dahi “Apalagi itu…”

“Jadi…? Masa…?”

“Sebaiknya kita bicara di ruangan anda saja” potongku sambil menghela nafas.

Dia mengangguk dan mulai memimpin jalan. Aku melihat Jounouchi untuk terakhir kali untuk hari itu sebelum mengikuti dokter Dawson ke ruangannya.


Sudah tiga hari berlalu, namun Jounouchi masih terbaring lemah tak berdaya seperti ini. Dan aku selalu datang setiap jam 11 malam. Aku tidak mau terlihat oleh teman-temannya seolah aku peduli. Aku tidak peduli pada Jou. Tentu saja aku tidak peduli.

Dua hari yang lalu Yugi dan teman-temannya datang menjenguknya. Yugi terus menangis dan menyalahkan dirinya sendiri, kenapa dia tidak mengantar Jounouchi setelah main dari rumahnya malam itu.

Aku tahu mereka akan selalu datang menjenguk Jou setiap pulang sekolah, maka datang pada malam hari adalah saat yang terbaik. Lagipula aku malas ditanya macam-macam oleh mereka. Karena hal itu juga, aku minta dokter Dawson untuk merahasiakan keterlibatanku dalam kecelakan yang menimpa Jou.

Hal yang menurutku tidak masuk akal adalah permintaan salah satu temannya yang berambut rancung…hmm…Honda kalau tidak salah… untuk tidak memberitahukan keadaan Jou pada keluarganya kecuali adik perempuannya.

Memang ada apa di keluarganya? Apa ada hubungannya dengan keadaan nutrisi Jou yang dibicarakan oleh doctor Dawson? Tapi aku rasa itu bukan urusanku. Seperti yang kukatakan tadi, aku tidak peduli.

Apa benar aku tidak peduli?’ tanyaku pada diri sendiri.

Kita bukan teman baik. Di sekolah, di jalan atau kapanpun bertemu, kita selalu bertengkar. Membuat dia marah adalah hal yang paling menyenangkan. Setiap habis bertengkar dengannya, pikiranku menjadi segar dan bisa berfikir jernih di kantor. Mungkin karena tanpa sadar, seluruh energiku sudah kuhabiskan untuk menghadapi Jou. Pegawai-pegawai sialanku itu harus berterima kasih pada anjing emasku ini, karena berkat dia mereka tidak kumarahi atau kupecat.

Aku tersenyum simpul dan menarik kursi kayu di belakangku agar bisa duduk di dekat Jou. Aku mengamati hal-hal di sekitarnya. Alat Bantu pernafasan sudah dicabut dan hanya terdapat alat infus di lengannya. Perlahan aku membelai rambutnya yang berkilau keemasan.

Halus sekali’ pikirku.

Kuraih tangan kanannya yang hangat dengan kedua tanganku.

Kalau diam dia manis juga…’ Aku tidak pernah melihatnya setenang ini. Jika berada sekitarku, dia pasti marah-marah dan tidak bisa diam.

“Cepat bangun, anjing kampung! Jangan ge-er tapi aku rindu teriakan bodohmu yang bisa menghancurkan semua kaca mobilku…” Kataku berbisik di telinganya.

Mendadak aku dikejutkan oleh suara desahan dan gerakan tubuh Jou, perlahan dia membuka matanya.

“Jou??” Aku langsung berdiri dan melihatnya dengan tidak percaya. Hampir saja kursi yang kududuki terjatuh karena gerakanku yang tiba-tiba. Tanpa sadar aku tersenyum.

Dia menatapku dengan matanya yang berwarna coklat madu. tatapannya terlihat kosong dan bingung.

“Jangan banyak bergerak! Sebentar, kupanggilkan dokter…”

“Kamu…” Seru Jou lirih.

“Kamu siapa?”

To be continued...

Aku sendiri bingung kelanjutannya gimana, terlalu banyak influence yang masuk.

Tapi berharap aja aku kasih ending terbaik untuk kalian semua!!

YAY for puppyshipping! XDDD



Return to Top