|
Author of 16 Stories |
Fake Reality
By: Saint-Chimaira
part 07
Sudah seminggu handphone anjing sialan itu tidak aktif. Dan dia juga tidak masuk sekolah. Aku berkali-kali mencoba datang ke rumahnya dan selalu pulang tanpa hasil. Ayahnya selalu bilang kalau Jou tidak ada di rumah. Tapi aku yakin anjingku berada disana. Terkurung di rumahnya sendiri! Pertanyaannya adalah kenapa?
Aku tidak akan menyerah, kalau hari ini aku tidak mendapatkan kabar apa-apa dari Jou, aku dan orang-orang kepercayaanku akan mencari tahu masalahnya walau harus memakai cara kasar.
Kulihat waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lebih. Sebaiknya aku berangkat sekolah sekarang.
Sesampai di depan pintu kelas, aku mendengar tawa seseorang yang sangat kukenal. Jou???
Kumasuki kelas dan melihat sumber suara itu dengan mata kepalaku sendiri.
Diruang kelas Jou berdiri dikelilingi teman-temannya. Dia memegang perutnya berusaha menahan tawa. Aku sedikit lega. Ternyata anjing emasku baik-baik saja. Hampir saja aku tidak bisa menahan senyum saking senangnya.
Seperti biasa aku mencoba menarik perhatian dengan menyenggol bahunya.
“Owch…Brengsek! Pasang mata dong kalo jalan!” Hardiknya. Aku terkejut, dia yang memarahiku duluan? Menarik. Aku sudah lama tidak bertengkar dengannya, sekali-kali boleh juga.
“Apa kamu tidak salah? Yang nabrak duluan kan kamu!” ujarku datar.
“Jelas-jelas kamu yang nabrak kok!” Jou ngotot pada pendiriannya.
“Terserah…Dasar anjing payah” aku tersenyum puas dan duduk di bangkuku. Kulihat dia berteriak teriak pada teman-temannya yang sedang berusaha menenangkan dirinya. Ada apa dengannya hari ini? Apa dia dapat masalah sampai marah-marah seperti itu? Tapi memang dia sering marah-marah kan? Aku tidak heran. Kulihat dia mulai tenang ketika bel masuk berbunyi.
Ketika pelajaran mulai membosankan, aku melemparkan sebuah kertas ke mejanya yang berada tepat di depanku. Setelah membaca isinya dan menatap dingin padaku dia kembali mencoba berkonsentasi pada pelajaran. Hari ini anjingku aneh sekali. Apa dia marah karena sudah seminggu kita tidak bertemu? Hei! Harusnya aku yang marah….Dia bahkan tidak mencoba menghubungiku. Aku bertahan dalam diam. Beharap bel istirahat cepat berbunyi.
Saat istirahat tiba aku berjalan ke ruang kecil di ujung toilet. Ruang janitor dimana aku dan Jou diam-diam selalu menghabiskan waktu istirahat disana.
Kulihat pintu terbuka dan Jou sudah berdiri di dalam. Aku tersenyum dan mendekatinya.
“Lama tidak bertemu, puppy. Kau tidak rindu padaku?” Aku meraih dagunya dan hendak menciumnya. Tiba-tiba sebuah pukulan keras mendarat di wajahku.
“Bbb…Brengsek! Apa-apan kamu!!!??”
“Kamu kenapa?” tanyaku bingung. Aku merasa dari pagi Jou tampak aneh.
“Kamu yang kenapa!!!??? Kamu yang nyuruh aku datang kesini pas jam istirahat dan kamu yang tiba-tiba bersikap seperti mau…menciumku? Ya ampun!!! Kamu perlu ke dokter Kaiba!!!” Jeritnya histeris. Namun ketika dia hendak keluar dari ruang sempit itu aku menarik tangannya dan membanting punggungnya ke dinding yang dingin.
“Sialan…!!! Lepas atau…”
“Ssshh…” ujarku sambil menutup mulutnya dengan salah satu tanganku. “Kamu mau suaramu terdengar semua orang?”
Kulihat mata emasnya menatapku dengan marah tapi setelah itu dia menggeleng pelan.
“Bagus, kalau kamu janji tidak akan berteriak lagi, aku akan melepaskanmu”
Setelah melihatnya mengangguk aku melepaskan tangan yang membekap mulutnya.
“Sebetulnya kamu kenapa sih?” Tanyanya pelan
“Harusnya aku yang bertanya! Kenapa kamu memukulku?”
“Ya jelas dong! Tadi kamu mau ngapain coba?” suaranya mulai kembali mengeras tapi aku langsung menatapnya tajam hingga dia langsung terdiam.
“Menciummu” jawabku. “Kau tidak mengangkat handphonemu dan aku tidak bisa menyentuhmu selama seminggu jadi aku ingin melakukannya sekarang.”
Kulihat Jou terbelalak dan mulai gemetar “Kau aneh Kaiba. Lepas deh…Aku mulai takut. Lagian sejak kapan aku punya handphone?”
Aku makin bingung mendengar ucapannya. Melihat kelakuannya tadi pagi. Ucapan yang dia lontarkan padaku. Tidak mungkin! Jangan-jangan…
“Katsuya, apa yang terjadi selama seminggu?” tanyaku memaksa. Berharap apa yang kupikir tidak menjadi kenyataan. Saat ini aku mencengkeram kedua bahunya. Tidak akan membiarkannya lolos sebelum aku mendapat jawaban.
“Katsuya? Sejak kapan….? Kaiba sakit…lepasin!”
“JAWAB!!!” Teriakku.
“AKU DI RUMAAAAAAAAH!!! AKU SAKIIIIIIT!!! PUAAAASSS???” Ujarnya lebih ganas dariku.
“Sakit apa?” Tanyaku lagi.
“Dengar! Yugi dan yang lain pasti mencariku, jadi lepasin aku sebelum mereka semua menyerangmu dan membuatmu babak belur!!!”
“Apa kamu ingat kamu kemana waktu natal tahun lalu?”
“Kamu dengerin kalau orang lagi ngomong ngga sih? jangan sampai aku membuat luka-luka di wajahmu, kaiba!!!” Jou mulai protes.
“Apa kau ingat apa yang kau lakukan pada saat ulang tahunmu kemarin?” aku tidak peduli ancamannya, aku melanjutkan pertanyaanku. Belum melepaskan kedua tanganku dari bahunya.
Kulihat dia menatapku dengan pandangan heran, namun setelah mendesah pelan dia menjawab. “Eh…hmm…Tidak sih. Aku juga bingung. Kok sekarang sudah akhir Maret lagi. Jangan-jangan pas nyebrang waktu itu aku ketabrak dan tidur terus sampai Beberapa hari kemarin.”
Beberapa hari kemarin?
“Kaiba, kamu tahu sesuatu ya?” Tanya Jou sambil melihat tajam padaku.
“Selama ini aku tidak hanya tidur ya? selama ini aku ngapain? Aku belum sempat bertanya pada Yugi dan yang lain. Kamu tahu sesuatu??”
Aku terdiam. Anjing kecilku, ‘kekasih’ku selama hampir 4 bulan ini sudah mendapati semua ingatan sesungguhnya dan akhirnya melupakan aku. Semua ketakutanku menjadi kenyataan. Kurasakan sedih dan marah dalam waktu bersamaan. Aku menundukkan kepala, menyandarkan dahiku pada pundaknya.
“Kaiba”
“Tolong bilang kamu hanya bercanda, Katsuya…”
“Kaiba…aku bingung…maksudku…Aku tidak bercanda. Aku benar-benar tidak ingat.”
“…”
“Kaiba…” ujar jou lembut.
“Aku rasa kita sudah selesai, Jou. Kamu menang.”
Ya…dia menang. Dia sudah merebut hatiku dan membuangnya di saat aku sudah memutuskan untuk bersamanya. Kurasakan setetes air mata mengalir di pipiku.
Aku melepaskan cengkeramanku dari bahunya tanpa menaikkan kepala. Tidak ingin dia melihat air mataku.
“Cepat pergi” ujarku ketus.
Aku merasa dia agak ragu untuk meninggalkanku, tapi kemudian dia melewatiku dan berlari keluar dari toilet.
Yang bisa kudengar sekarang hanyalah langkah kakinya yang makin lama makin menghilang meninggalkanku. Aku tetap tunduk dalam diam. Merasakan kembali bulir-bulir air mata di pipiku. Aku yang memulai permainan ini dan aku tahu suatu saat harus berakhir. Tapi kenapa rasanya sakit sekali? Apa Harus kutepati janjiku untuk membuatnya ingat kembali?
Aku akan mengatur ulang semuanya saat aku sudah kembali tenang. Tapi saat ini aku hanya bisa terdiam tanpa bisa berfikir apa-apa.
Permainan sudah selesai. Semuanya akan kembali seperti semula. Ini bukan akhir yang kuinginkan. Aku menyesal namun juga merasa sangat lega. Kutinggalkan toilet dan berjalan perlahan menuju kelas.
Selamat tinggal Jou…
Aku menghapus air mataku dan nomor selularnya dari handphoneku.
Fake Reality-Kaiba Seto POV
Fin