Help
Home Just In Communities Forums Beta Readers Search
B s . A A A   full 3/4 1/2   E E   Light Dark
Books » Harry Potter » The Blind Revenge
Psychochiatrist
Author of 47 Stories
Rated: T - Indonesian - Angst/Fantasy - Albus S. P. & Harry P. - Reviews: 18 - Updated: 12-01-08 - Published: 10-20-08 - Complete - id:4606606

CHAPTER I

Albus Severus Potter berdiri menggigil di bawah naungan bangunan tua berlumut itu. Umurnya tepat lima belas tahun, dan sekarang sedang liburan musim panas. Meski begitu, Albus sama sekali tidak menikmati liburannya, justru sebaliknya. Dan itu disebabkan oleh hal-hal yang terjadi setelah ini.

Merapatkan jaket Muggle-nya, Albus menyipitkan matanya ke seberang jalan berbatu itu. Daerah ini sama sekali tak dikenalnya, jaraknya setengah hari perjalanan kereta api dari Godric's Hollow. Dia sudah bersusah payah menempuh semua ini sepanjang hari, jadi berbasah-basah sedikit lagi pun tidak akan apa-apa.

Pria yang diikutinya sejak pagi berjalan cepat, memayungi dirinya dengan Mantra Impervius yang sangat canggih, dan Albus membuntutinya sambil mengumpat dalam hati kenapa Rose Weasley tidak pernah mau mengajarinya sihir-sihir praktis seperti ini. Di ujung jalan gelap itu Albus menengok ke kiri dan ke kanan, namun si pria tidak kelihatan.

"Arahkan aku!" dia berbisik kepada tongkat cemaranya.

Tongkat itu bergetar dan memilih jalan ke kanan. Dengan cepat dia berlari menyusuri jalan itu, dan ketika dia mencapai lampu jalan pertama, dia bisa melihat dengan jelas sosok yang dibuntutinya tadi. Pria itu sedang berdiri di depan pagar sebuah rumah kecil yang apik.

Ini saatnya, pikir Albus. Dia berdeham, melangkah cepat menuju si pria, lalu memanggil, "Dad!"

Namun Harry Potter tidak menoleh. Seorang wanita telah muncul dari rumah kecil itu dan membukakan pintu pagar baginya. Albus menghentikan langkahnya seketika.

Siapa wanita itu? Albus bertanya-tanya dalam hati. Dia tidak pernah melihat teman ayahnya yang berwajah seperti ini. Si wanita kelihatannya sebaya dengan ayahnya, sekitar empat puluh tahun, namun dia sendiri terlihat begitu asing. Matanya sipit dan kulitnya kuning, rambutnya hitam lurus dan masih terlihat cantik meskipun dia telah tampak tua.

Harry sama sekali tak menyadari keberadaan putranya saat itu, dan dia bersama wanita itu pun memasuki rumah, sementara Albus, tak berani memanggil ayahnya lagi, mengendap-endap ke sisi rumah dan menunggu di jendela ruang depan.

Betapa beruntungnya Albus, kedua orang itu duduk di ruang depan. Mereka bercakap-cakap, namun tak bisa didengar Albus. Hujan makin memberatkan pakaiannya dan membanjiri sepatunya, sehingga agak lama kemudian Albus merasa bosan dan memutuskan untuk mengetuk pintu saja dan bicara dengan ayahnya itu.

Baru saja ia mulai bergerak, pasangan di sofa bergerak saling mendekat.

Bunyi kecipak sepatunya tak dipedulikan, Albus membelalak: ayahnya dan wanita entah siapa itu sedang berciuman.

Tak mampu bergerak selama beberapa saat, Albus menggigit buku-buku jarinya untuk mencegahnya mengeluarkan suara ngeri. Ketika mereka akhirnya menjauhkan wajah lagi, Albus merogoh-rogoh sakunya dan menarik keluar Telinga Terjulur milik Hugo, lalu mulai mendengarkan percakapan di ruang depan itu dengan jantung berdebar keras.

"Maafkan aku, Cho, maafkan aku…" bisik Harry, menunduk.

Cho Chang tampak terisak-isak. "Akulah yang salah, Harry, ini semua salahku…"

Albus bisa melihat wajah ayahnya dengan jelas, yang sedang menatap wanita keturunan Cina itu lekat-lekat.

"Semuanya sudah terjadi kan, Cho? Tak ada yang bisa kita lakukan. Kita jalani saja semuanya, dan jika waktunya tepat…"

Cho tersenyum miris. "Aku tidak keberatan menunggu seumur hidup, Harry."

Harry membalas senyuman itu. Albus sampai-sampai tak sanggup menelan ludah, seluruh isi perutnya tampaknya sudah bercokol di tenggorokannya.

Cho mengenggam tangan Harry, bekas luka yang terbaca seperti "Saya tak boleh berbohong" terlihat berkilau sekilas di punggung tangannya. Mereka diam beberapa saat, lalu Cho berkata, "Aku mencintaimu, Harry…"

Mata Harry menampilkan tekanan batin yang dalam. "Aku… aku mencintai…"

Namun Albus tidak pernah mendengar kelanjutannya, karena detik berikutnya dia menarik lepas Telinga Terjulur dan berlari secepat angin, meninggalkan bunyi-bunyi keras sepatu menghantam air dan teriakan nyaring Harry Potter, "Albus! Albus! Kembali!"

Malam itu Godric's Hollow sepi sekali. Meskipun ini musim panas, kabut telah melanda sebagian besar Inggris selama beberapa minggu. Para ahli meteorologi Muggle menyimpulkan bahwa ada semacam perubahan iklim di belahan utara Bumi, dan para penyihir setuju dengan mereka kali ini, karena memang tidak pernah ada lagi Dementor yang berkeliling ke desa-desa, mencari mangsa.

Albus ingat betul kejadian semalam, pada jam yang sama seperti sekarang, ketika adiknya Lily memohon-mohon padanya sambil menangis dan menyeret diri di lantai.

"Albus… tolonglah, kumohon… Aku tidak akan bisa hidup tanpa Hogsmeade, demi Tuhan! Katakan pada Mum dan Dad bahwa aku tidak akan macam-macam, toh dia sudah tahu kalau aku tak pernah mengulangi perbuatanku!"

"Bicaralah sendiri pada Dad, Lily," tukas Albus waktu itu. "Aku tak punya wewenang untuk membuatmu diizinkan ke Hogsmeade. Dan James juga tidak. Kau harus bicara sendiri, mencoba sendiri."

Lily menarik tangan Albus sekuat tenaga.

"Aku sudah melakukannya, Albus! Dan kejadian itu bahkan terjadi bertahun-tahun yang lalu, ketika aku belum masuk Hogwarts! Dan para Muggle goblok itu bahkan tidak tergores sedikitpun!"

"Aku tahu, Lily!" seru Albus lelah. "Aku juga tidak mengerti, tapi yang jelas tidak mungkin aku memohonkan izinmu pada Dad. Dia tidak akan mendengar, dan Mum juga tidak. Kau kan tahu mereka begitu mencintai Muggle sampai-sampai mereka lebih mementingkan nasib mereka daripada anak-anak mereka sendiri!"

Namun Lily masih tetap bersikeras, sehingga Albus menyerah dan di sinilah dia sekarang, di kota Muggle yang tua ini, membuntuti ayahnya yang naik kereta api dan berusaha mencari cara untuk bisa bicara berdua saja dengannya. Semua ini demi Lily, supaya dia bisa mendapat izin untuk pergi ke Hogsmeade. Hanya itu. Dan siapa sangka Albus akan menemukan fakta mengerikan ini?

Fakta mengerikan yang membantingnya ke tanah, dan mengubah hidupnya untuk selamanya.

Ketika Albus tiba di rumahnya akhirnya, setelah menempuh perjalanan melelahkan menyeberangi separo negeri, dia sama sekali tidak menyapa siapapun. Ibunya menatapnya heran, James menepuk punggungnya namun dia tidak bergeming, Lily melompat-lompat penasaran apakah dia berhasil atau tidak. Tapi Albus berjalan pasti menuju kamarnya dan membanting pintu, lalu tertidur tanpa diperintah.

"Mum?" tanya Albus keesokan harinya, saat sarapan.

Ginny menatapnya. "Ya, Nak? Maukah kau memberitahuku sekarang apa yang kaulakukan kemarin?"

Albus menyeringai. "Aku hanya berjalan-jalan dengan Hugo."

Ibunya mengangkat alis. Menatap Albus yang sedang berbohong, yang ekspresinya persis sama dengan Harry setiap kali dia mencoba berbohong, terasa agak menekan batinnya. Albus mirip sekali dengan Harry… matanya hijau, rambutnya hitam, tidak seperti James dan Lily yang berambut merah. Tak heran Albus sering menerima perlakukan berbeda, dan wataknya sendiri juga lebih berbeda. Dia lebih… kalem, tidak suka ribut-ribut seperti kedua saudaranya. Mirip sekali dengan ayahnya.

Ginny sama sekali tak menyangka, topik paling sensitif di dunialah yang akan diangkat Albus pagi ini.

"Mum… bolehkah aku bertanya?"

"Ya?"

"Apakah… Mum suka menikah?"

Pertanyaan macam apa itu?

"Kenapa kau bertanya begitu?"

"Bukan apa-apa. Hanya… penasaran. Bagaimana mungkin seseorang bisa bertahan terikat bersama orang yang sama seumur hidupnya."

Albus menatap ibunya lekat-lekat, dan dia menyadari, ekspresi Ginny berubah mendengar kalimat itu.

"Tentu saja," jawab Ginny, menyibukkan diri pada serombongan piring yang sedang mencuci sendiri, "pernikahan dilakukan atas dasar cinta sehidup semati. Mereka tentu akan bertahan selamanya."

"Benarkah?" desis Albus. "Tapi banyak orang di luar sana yang bercerai. Dan banyak pula pasangan yang diam-diam tak lagi saling mencintai. Bukankah begitu, Mum?"

Ginny mendesah, tidak menjawab.

"Mum?" kata Albus lagi.

"Memang," sahut Ginny kemudian, memaksa diri tersenyum pada anaknya. "Di luar sana."

Albus kini terang-terangan menanyai Ginny.

"Apakah hal itu pernah terjadi di keluarga kita?"

"Apa?"

"Apakah keluarga kita—hubungan Mum dan Dad—pernah rusak gara-gara tidak adanya cinta sehidup semati yang Mum katakan?"

Ginny mengerutkan keningnya. "Albus, apa sih yang kaubicarakan? Tentu saja tidak. Keluarga ini baik-baik saja. Sekarang hentikan pertanyaan-pertanyaan bodoh itu dan lanjutkan makanmu."

Tepat pada saat itu pintu dapur menjeblak terbuka dan James menghambur masuk.

Albus diam sesudahnya, namun dia sudah tahu apa yang harus ia lakukan.

Dia menatap ibunya dalam diam.

Maafkan aku, Mum, Albus membatin dalam hati.

Review this Chapter
Share


Return to Top