| B s . A A A | full 3/4 1/2 | E E | Light Dark |
|
Author of 1 Story |
Disclaimer: I don't own Naruto. It'll never be MINE!
Warning: AU. OOC
A/N: My first Naruto fic. Don't blame me. Dan jangan marah kalau character-characternya terlalu OOC dan ada grammar yang error. Gomen. Yasudlah. On with the fic..
When The Worst Event is Going to Happen
Pada hari jumat siang, Ibu guru Kurenai, Guru Kimia di sekolahnya menyuruh salah seorang muridnya untuk mengambilkan bukunya yang tertinggal di Laboratorium Kimia, Murid itu bernama Hinata. Dia segera berlari ke Lab kimia dengan tergesa-gesa. Nah, waktu udah mau nyampe, ternyata tuh lab kimia dikunci.
"Ah sial, penjaga Lab-nya dimana ya?", Hinata bergumam sendiri dia udah mulai pusing gara-gara itu.
Lalu dia berlari ke arah pojokan dimana biasanya penjaga lab nongkrong. Akhirnya dia ketemu sama tuh penjaga lab. Dan penjaga Lab itu akhirnya bukain pintu Lab kimia dan Hinata cepet-cepet masuk ke dalam Lab. Tapi ternyata buku Bu Kurenai udah nggak ada lagi.
"Ihh.. dimana sih bukunya?", Pikir Hinata.
Terus dia akhirnya balik ke ruangnya Bu Kurenai. "Bu Kurenai, saya nggak nemuin bukunya bu. Kayaknya udah hilang deh bu", Dia berkata.
"Ohh.. yaudah deh. Kamu masih punya buku ini gak? Bukunya kayak gini cuma lebih tebel", Bu Kurenai berkata sambil memperlihatin buku tersebut.
"Hmm.. ma.. masih ada kok bu, besok saya bawa", Hinata menjawab dengan gugup.
"Besok bawa ya jangan lupa"
"Iya bu, saya balik ke kelas ya bu", Hinata mengangguk-ngangguk dan pergi ke kelas. Tapi nasib berkata lain, ternyata dia ngeliat 'Nona Tsunade-sama' kepala sekolah mereka, bawa-bawa gunting yang extra besar, spidol tinta permanen warna pink nyala yang norak setengah mampus sama masker. Kontan Hinata langsung kaget, Dia berpikir ngapain lah Tsunade bawa-bawa gituan. Terus waktu dia sadar, Dia berpikir, anak-anak kelas bakal dilanda bencana! Ternyata sang kepala sekolah itu mau ngerazia satu SEKOLAH! Inilah saat-saat terburuk dalam hidup mereka semua. Buat anak cowok yang rambutnya udah mulai gondrong bakal digunting rambutnya, buat anak cewek yang bawa-bawa kosmetik ke sekolah bakal disita, dan buat anak cewek plus cowok yang gak ada nama mereka di seragamnya bakal ditulis namanya pake tinta pink norak itu (permanen lagi!) dan yang bakal ditulis nanti nama-nama kayak 'tukiem, parjo, tini, badu, dan lain lain' (gomen kalo ada nama kalian yang kayak kusebutin tadi). Hinata langsung shock, tapi untung bagi dia, soalnya dia nggak pernah bawa-bawa kosmetik ke sekolah, dan baju seragamnya selalu memenuhi standar. Tapi, kiamatlah bagi Sakura dan Ino, anak-anak cewek yang selalu berantem satu sama lain dan selalu berlagak centil. Hinata langsung buru-buru ke kelas. Sewaktu dia sampai di kelas, dia langsung memberi tahu informasi itu ke temen-temennya. Tapi, Sia-sia aja semua pada gak percaya. Sungguh malang nasibmu, nak. Mari kita mengenang jasa-jasa Hinata. Hening Cipta dimulai.. (hah?)
Kemudian 1 jam pelajaran berlalu, Di siang hari yang terik itu , Para murid-murid yang baik hati, tidak sombong serta rajin menabung itu lagi semangat-semangatnya belajar Bahasa Inggris. Cuaca yang panas dan terik nggak menciutkan semangat mereka buat belajar. Nah, waktu lagi asyik-asyiknya belajar, Naruto, seorang anak yang mempunyai keahlian mencontek tingkat pre-junior lagi pusing memikirkan jawaban dari soal-soal tersebut. Saking pusingnya kepalanya mulai pecah sedikit demi sedikit. Bisa kita lihat, ada sedikit retakan di bagian belakang kepalanya. Itu menandakan bahwa dia mulai mengidap penyakit stresanus dibagianus kepalamampus. Dia mulai menanyakan jawaban soal-soal yang super susah itu ke teman seperjuangannya dan sama bodohnya, Kiba.
"Woi Kiba my darling, liat jawabanmu dong", Naruto nanya ke Kiba dan pasang tampang genit.
"Ih Najong! Kau pikir aku udah ngisi satu soal pun, hah?", Kiba mulai menggerutu.
"Ah payah! Bodoh amat sih!", Naruto mulai jengkel dan pasang tampang remeh.
"Sebodoh-bodohnya aku lebih bodoh lagi dirimu Naruto!", Kiba berkata sambil nunjuk-nunjuk Naruto gak jelas.
"Yeahh, Whatever lah", Naruto pasang logat sok inggris (mentang-mentang pelajaran bahasa inggris) plus sok kerennya di depan temannya itu.
"ihh.. cuma tau kata-kata 'whatever' doang bangga" Shikamaru nyeletuk.
"Iya-iya aku kan gak sepintar dirimu. Oi.. Oi.. Liat nih, temen kita Shikamaru si pintar dari gua hantu. Wuahahahahaaa", Naruto nyerocos sambil bikin lawakan yang jayus itu.
Murid-murid di kelas dogol ini mulai menatap Naruto dengan pandangan 'ha-ha-ha-lucu-amat-ya'
"AH APAAN SIH KALIAN SEMUA! Pada gak tau lelucon yang terbaru dimasa kini!", wajah si Naruto mulai memerah gara-gara malu.
Lalu, ketika Naru lagi asyik-asyiknya protes sama temen-temennya, Bapak Guru yang dikenal ter-killer disekolah, Pak Kakashi, yang selalu pake masker gak jelas datang ke mejanya. Dia mulai pasang tampang tersadis dan mata tertajam di tahun ini. Saking tajamnya, orang-orang aja berdarah-darah gara-gara tuh mata.
"Ehemm.. Ehem..", Pak Kakashi mulai berdehem-dehem
"Ehhhhh.. Bapak. Apa kabar pak?", Naruto dengan gaya sok asiknya mulai ngajak pak guru killer tersebut bercanda.
"HMPH!", Tampang pak guru tersebut mulai mirip kayak setan.
"AMPUNNN DJ! Eh salah, AMPUNNN BAPAK!", Naru mulai teriak minta tolong.
"Speak english please, Uzumaki. And you are so noisy, you know? And because of that, i'm going to punish you, NARUTO UZUMAKI! Stand up at the front of the class, lift your legs, touch your ears, close your eyes, close your nose, and close your mouth." (Ampun gimana tuh?)
"Hah? Maap pak, saya gak ngerti apa yang bapak bilang!", Naruto dengan polosnya berkata.
"How poor me, God for teaching a student like this, and Uzumaki the meaning of what i said just now is, 'Silahkan berdiri di depan kelas, Angkat kaki, sentuh telingamu, tutup mata, tutup hidung, TUTUP MULUT!' and I told you to speak english, but you didn't, You must call me 'Sir Hatake'. Now, What are you waiting for? GO FOR IT!", Pak Kakashi memerintah Naru layaknya seorang pembantu dan majikan.
"Oh mi Got! Gimana I do kayak that pak?", Naruto protes dengan pronounciation yang total error dan sedikit bahasa inggris yang diketahuinya.
"JUST DO IT NOW!", Pak Kakashi, eh Sir Hatake ngebentak Naru.
"YESYESYES!", Naruto ngejawab dengan cepat karena hanya itu kata-kata yang dikuasainya.
KRIETT.. JGLEK! Bunyi seseorang membuka pintu kelas dengan kerasnya. Sampe-sampe tuh pintu yang soak, murahan dan reyot udah mau ambruk dibuatnya. Langkah demi langkah orang itu masuk ke kelas itu. Dan akhirnya berhenti tepat di depan meja guru. Dia memegang gunting rumput yang extra besar eh bukan gunting rumput tapi gunting rambut yang besarnya naujubilah gak tanggung-tanggung. 'ckrik.. ckrik', Suara gunting berbunyi di tangannya.
"Perhatian kelas tercinta ini, Hari ini ada razia disini", yak ternyata orang itu adalah kepala sekolah kita, Nona Tsunade. Sebenarnya di umurnya yang tuanya melebihi nenek-nenek itu dia nggak pernah mau dipanggil nenek. Dia ingin semua murid memanggil dia dengan sebutan 'Nona'. Sadar bu, umur udah keriputan gitu.
'nah apa aku bilang', pikir hinata dalam hati.
"APAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA?", Serentak anak cowok satu kelas kaget semua kecuali yang rambutnya udah botak duluan. Anak-anak satu kelas langsung ngeliat Hinata, mereka semua pasang tampang kecewa dan pengen nangis gara-gara nggak dengerin kata-kata si anak polos tersebut. Kemudian mereka langsung mengabaikan Hinata mulai nyari cara buat bebas dari Razia NERAKA itu.
"Ya ampun EmJi. Lebay amat sih kalian semua. Secara akyu yang mutusin gini", Nenek Tsunade eh Nona Tsunade berbicara dengan tampang males extra centilnya itu.
"TIDAKKKK! Bencana dunia!", Naruto mulai nangis-nangis di depan kelas dengan posisinya yang kayak disuruh sama Pak guru tercintanya itu.
"OH NOOO! Rambut yang udah susah payah aku panjangin, di creambath di salon termahal di kota tiap hari, di shampoin pake rejoice ini yang biasanya kubanggain kalo ada orang nanya rambutku bagus gara-gara apa aku jawab 'Cuma pake shampo kok' ini mau dipotong?", Neji yang ngomong gak berhenti-henti itu kalang kabut cari cara supaya rambutnya yang nan indah semerbak harum mewangi itu nggak dipotong.
"Ya ampun Mak erot, Biasa aja kalee", Kiba nyeletuk.
"Pardon, daritadi kalian ngapain sih?", Sai dengan polosnya bertanya.
"Dasar dodol! Daritadi ini kita lagi ngeributin kenapa aku itu ganteng abis dah", Naru dengan bangga berkata, hidungnya mulai panjang kayak pinokio.
"HUUUUUUUU! ganteng.. ganteng.. Nenekmu bertato!", Kiba menyoraki si pirang itu.
"Mending! daripada nenekmu main sumo lagi!", Naruto membalas sambil ngebayangin nenek-nenek main sumo. Dia mulai ketawa-ketawa nggak jelas.
"Dasar orang-orang bodoh. Gila kali ya?", Sasuke akhirnya ngomong.
"Daritadi kita ngapain sih sebenenarnya?", Si seniman kartun alias Sai mulai nanya lagi.
"Daritadi ini kita lagi ngomongin tentang razia rambut panjang buat anak cowok!", Akhirnya si rambut merah alias Gaara ngejawab.
"BERHENTI KERIBUTANNYA!", Tsunade mulai esmoni, maksudnya emosi.
"IYAAAAAAAA NEK, eh IYAAA NONA!", Satu kelas ngejawab.
"Tsunade-sama, anak ceweknya ikutan di razia nggak?", Si cewek centil berambut pink yakni Sakura itu nanya ke Tsunade-sama sambil ngelintir-lintir rambutnya.
"Anak cewek bebas dari razia rambut, tenang aja. Lagian anak cewek gak perlu ada razia rambut", Sang kepala sekolah ganjen itu berkata.
"HOREEEEEEEE! BANZAI!", Kontan anak cewek satu kelas bersorak-sorai.
"AHH! Nona Tsunade-sama gak adil!", Chouji yang daritadi gak kedapetan kesempatan buat ngomong akhirnya bisa ngomong juga.
"IYAIYA!", Lee nimbrung
"HUUUUUUUUU..", anak cowok satu kelas ber- Huuu-Huuu ria.
"Saya memang bilang anak cewek bebas dari razia rambut, tapi saya nggak bilang kalo anak cewek bebas dari razia HP, alat kosmetik, dan lain lain kan?", Sang kepala sekolah terhormat itu berkata.
"WHAAAAAAAAAAATTT THEE?", Temari teriak sambil melotot.
"mendingan uangnya dipake buat shopping, iya nggak temen-temen?", Ino yang gak kalah centilnya sama Sakura berkata dengan pedenya.
"Setuju!", Anak cewek satu kelas berkata.
"UDAH AH! Back to the Topic! Ayo anak-anak cowok, Come to me please! Saya akan gunting rambut kalian yang udah panjang. Kalo pendek gak saya gunting. So, keep calm.. Dan buat anak-anak cewek. Kemarikan Kosmetik kalian. Buat dijual dan uangnya dipake buat ngebetulin atap sekolah yang pada bocor. HOHOHOHOHO", Tsunade mulai ketawa-ketawa kayak orang gila.
"Huuuuuuuuu!", satu kelas menyorakinya.
"DIAMMMMM! terutama anak cowok! Sini rambut kalian!", Tsunade teriak-teriak.
"Glek!", satu kelas nelen ludah.
TBC..
What will happen next? Apakah rambut mereka yang udah panjang-panjang itu bakal dipotong? Atau, Mereka punya rencana lain buat ngehindar dari razia?
Siapa yang tau? Hanya Author yang tau. Muahahaha. Jawabannya ada di chapter selanjutnya!
Readers yang baik-baik, R & R Please! ARIGATOU WO KANADE.. KANADE.. xDD