|
Author of 16 Stories |
Fake Reality
By: Saint-Chimaira
part 08
Oke, dimana aku sekarang? Aku mendengar suara-suara tapi kenapa semua begitu gelap? Perlahan aku membuka mataku, membiarkan sedikit demi sedikit cahaya mengganti kegelapan yang tadi membungkusku. Kurasakan aku sedang terbaring. Setelah cahaya di mataku cukup, di sekelilingku mulai terlihat pemandangan yang tidak asing. Poster-poster duel monster yang tertempel di langit-langit dan dinding. Apa artinya aku berada di kamarku!?
Aduh…Kepalaku sakit, badanku juga sulit digerakkan. Kenapa ya? Aku meraba dahiku dan merasakan lilitan perban membalut kepalaku dengan rapi. Ya ampun, aku terluka? Jangan-jangan kemarin aku berkelahi lagi? Tapi masa sih? Aku tidak ingat apa yang terjadi kemarin…juga sebelumnya…dan sebelum-sebelumnya!!! Kenapa ini? Aku tidak bisa mengingat apapun!! Kecuali…kalau tidak salah, terakhir yang kuingat aku berlari ke rumah setelah main dari rumah Yugi. Lalu hujan. Lalu…
AAAAAAH! SIALAN! AKU TIDAK INGAT!!!
“Sudah sadar? Jangan Banyak bergerak dulu Jou, lukamu belum sembuh benar” Aku kaget, ternyata ada seorang laki-laki yang sedang duduk di sebelahku. Aku ingin memaksakan duduk, tapi tidak bisa. Kepalaku pusing.
“Kau pingsan selama 4 hari. Pendarahanmu sudah berhenti dari kemarin, tapi sebaiknya kau tetap istirahat. Jadi besok atau lusa kau sudah bisa sehat.”
“Suara itu… Yoshi ya?” Laki-laki berambut coklat itu sekarang tersenyum sambil menatapku dengan tajam.
“Dokter Yoshi, Jounouchi Katsuya!”
“Kau sering merawatku dari kecil, lagipula umur kita tidak begitu jauh kok. Cuma 10 tahun.”
Yoshi itu dulunya tetanggaku sampai akhirnya dia bekerja sebagai dokter di rumah sakit kecil dan pindah dari daerah kumuh ini. Walau begitu, dia masih sering menjengukku dan merupakan dokter pribadiku kalau aku terlibat adu fisik dengan ayahku. Bagiku dia sudah seperti kakak laki-lakiku sendiri. Aku sangat menyayanginya.
“Berarti aku dan ayahmu juga umurnya ‘tidak begitu jauh’?” Dia membelai rambutku. Aku tersenyum.
“Oh oke, btw kenapa aku bisa terluka? Apa ulah ayahku lagi?” Yoshi cuma mengangguk.
“Kali ini berapa jahitan?”
“Parah. Karena tertimpa lemari di dekat dapur, kau mengalami gegar otak dan puluhan jahitan. Tapi sebulan lagi semua bekasnya akan hilang kok.”
“Bagus deh…” Kataku datar sambil kembali menatap langit-langit.
“Padahal kalau kamu minta tolong aku bisa menolongmu. Tapi kamu tidak pernah melakukannya.” Sorot mata Yoshi semakin sedih. “Aku juga menyayangimu seperti anakku sendiri.”
“Kalau begitu cepat menikah, punya anak dan lupakan aku. Tenang saja, aku bisa menjaga diri sendiri.” Kataku cepat sambil tersenyum lebar. Tidak ingin membuatnya cemas.
“Aku tahu. Tapi ketahuilah, Jou. Ayahmu sangat menyayangimu. Dia hanya…kurang bisa menyampaikan perasaannya secara tepat.” Pernyataannya membuatku bingung. Aku hanya menaikkan bahu, tidak mau ambil pusing dengan merespon kalimat itu sekarang. Kepalaku saat ini saja sudah cukup sakit. Kudengar ayah mengetuk pintu kamarku dan memanggil Yoshi. Cowo berambut coklat itu segera berdiri.
“Aku akan kemari lagi besok” Ujarnya. Wajahku memerah dan mengangguk. Aku harap dia tidak meninggalkanku. Kalau ada dia biasanya ayah tidak akan memarahi atau memukulku. Kudengar Ayah dan Yoshi berbicara di depan pintu. Aku hanya mendesah dan mencoba kembali tidur.
Beberapa hari ini ayah hanya merawatku dalam diam. Aku bahkan tidak berani bertanya apa-apa. Menyebalkan. Selama ini aku hanya bisa terbaring dan bertanya dalam hati tanpa bisa mencari jawaban. Kurasakan cahaya matahari mulai masuk melewati jendela.
Apa yang dilakukan Yugi sekarang? Dia pasti mengkhawatirkan aku, juga Honda? Anzu? Yang lain? Tidak! hari ini aku sudah sekolah. Aku sudah cukup istirahat, aku tidak mau bolos lebih lama.
“Ayah…” Aku mencoba menyapanya tapi dia tidak menjawab. Dia bahkan tidak melihatku.
“Aku pikir aku sudah sembuh, jadi hari ini aku mau sekolah” Kataku sambil mengikat tali sepatu dan menggigit roti sarapanku.
“Jangan bikin masalah” Ujarnya dingin.
Aku mengangguk, tidak peduli walau dia tidak melihatku dan aku bergegas keluar dari apartemen.
---
“Jou! Kau sudah sembuh??? Aku cemas sekali, telepon rumahmu nggak ada yang ngangkat. Begitu kami coba ke rumahmu, ada laki-laki tinggi berambut coklat yang bilang kamu lagi sakit. Tapi kami nggak boleh menjengukmu.”
Pasti Yoshi, pikirku. Dan dia tidak mau teman-temanku melihat keadaan rumahku jadi dia meminta Yugi untuk tidak menjenguknya. Yoshi memang baik.
"Ayahku tidak suka mengangkat telepon, Yug… Sorry” Kataku.
“Nggak apa-apa, aku senang kamu sudah sehat seperti biasa…”
“Emm…ngomong-ngomong ‘seperti biasa’,Yug. Aku mau tanya…”
“Eh, Jou! kamu udah nggak masuk seminggu ketinggalan banyak gossip lo!” kata Honda yang muncul tiba-tiba. Melingkarkan tangannya di bahuku.
“Oh ya??? Apa tuh?” Tanyaku bersemangat.
“Si Karita kakinya keseleo waktu ngajarin kelas kita senam matras. Harusnya kamu liat deh, ekspresinya. Gokil abis!”
“Terus…Terus…Dia nyuruh semua anak yang ngetawain dia lari keliling lapangan 50 kali, tapi karena dia ngga bisa jalan, kita semua pada kabur ke kantin.” Tambah Bakura sambil tertawa.
“Ah! Sial! Harusnya aku ada disana, hahahahaha!!! Sebal! Sebal!” Aku memegang perutku yang sakit karena terus tertawa. Kudengar pintu kelas bergeser dan seseorang yang kubenci masuk dengan gayanya yang arogan. Siapa lagi kalau bukan Kaiba. Belum sempat aku berbicara jelek soal dia di dalam hati, tiba-tiba dia menyenggol keras bahuku. Anjriiiit! dia pasti sengaja!
“Owch…Brengsek! Pasang mata dong kalo jalan!” Hardikku sinis. Dia tampak terkejut namun senyum culasnya yang kubenci kembali menghiasi wajahnya.
“Apa kamu tidak salah? Yang nabrak duluan kan kamu!”
“Jelas-jelas kamu yang nabrak kok!”
“Terserah…Dasar anjing payah”
“Apa katamu bruuuuuuuengseeeeek!!!” Teriakku. Yugi dan Honda langsung memegang Bahu dan pinggangku.
“Woi! Woi! Udah! Udah! Kelas belum mulai masa udah mau nyari masalah sih?”
“Kan dia yang duluan cari masalah???” Aku masih mencoba melepaskan diri..
“Shhh… Jou! Sudah dong! Jangan kaya anak kecil. Biarin aja dia, oke?” Mana bisa aku menolak permintaan Yugi. Akhirnya aku mulai sedikit tenang.
Saat pelajaran baru dimulai aku sudah mengantuk. Kepalaku sakit. Tentu saja bukan karena lukaku, aku yakin lukaku sudah sembuh, pelajaran ini lebih membuatku sakit kepala.
Tiba-tiba ada kertas kecil jatuh dimejaku. Aku melihat Yugi dan Honda tapi tidak ada yang melihat ke arahku. Kuambil kertas itu dan Kubaca isinya.
Istirahat ke Ruang janitor seperti biasa. –KS-
Aku tahu tulisan ini. Kaiba? Tapi apa maksudnya seperti biasa? Jangan-jangan dia salah kirim. Aku berbalik pelan dan melihat dia menatapku sambil tersenyum. Secepatnya kupalingkan wajahku dan tanpa sepengetahuannya kurobek kertas itu kecil-kecil. Apa maunya mengirim surat seperti itu? Membuatku tambah sakit kepala saja. Kalau dia mau berkelahi akan kulayani dengan senang hati. Aku jadi tidak sabar menunggu waktu istirahat tiba.
---
“Jou, nggak ikut makan bareng kita?” Tanya Anzu dan Yugi bersamaan. Aku hanya tertawa kecil melihat mereka yang kini berpandangan dengan muka merah.
“Makan duluan aja, nanti aku nyusul. Aku ada urusan dulu oke?” Aku menuju toilet laki-laki di ujung dan masuk ke ruang janitor yang sempit tapi Kaiba belum datang.
Ahhhh..Kaiba juga boleh deh…Nanti aku mau tanya-tanya dia. mungkin saja dia tahu apa yang terjadi padaku. Kenapa aku bisa melupakan banyak hal. Tapi yang akan kuhadapi ini seorang Kaiba!! Hmm…mungkin agak sedikit sulit.
“Lama tidak bertemu, puppy. Kau tidak rindu padaku?” Aku terkejut karena musuh bebuyutanku itu sudah berdiri di hadapanku. Dalam sekejap dia memojokkanku dan meraih daguku. Wajahnya perlahan mendekat. Gawd! Mau apa dia? Tanganku refleks menghajar wajahnya dan cowo yang lebih tinggi dariku itu mundur karena kaget pada seranganku yang mendadak.
“Bbb…Brengsek! Apa-apan kamu!!!” Teriakku. Kurasa wajahku memerah karena aksi Kaiba tadi.
“Kamu kenapa?”
“Kamu yang kenapa!!!??? Kamu yang nyuruh aku datang kesini pas jam istirahat dan kamu yang tiba-tiba bersikap seperti mau…menciumku? Ya ampun!!! Kamu perlu ke dokter Kaiba!!!” Teriakku lagi. Dalam sekejap aku terhempas ke dinding. Ketika aku kembali berteriak kurasakan tangan kanannya membungkam mulutku dengan kasar. Aku mencoba melepaskan diri namun dia lebih kuat dari dugaanku. Sial! Aku hanya bisa mengangguk pada setiap perintahnya. Setelah aku mencoba tenang dan memberi sinyal bahwa dia bisa mempercayaiku, dia baru mengendurkan kunciannya, walau belum melepaskan pegangannya dari kedua bahuku.
“Sebetulnya kamu kenapa sih?” Tanyaku pelan sambil mencoba mengambil oksigen sebanyak mungkin.
“Harusnya aku yang bertanya! Kenapa kamu memukulku?” Astaga! Dia terlalu idiot untuk jadi seorang jenius. Jelas-jelas tadi aku merasa dia mau menciumku, wajar kan kalau aku mempertahankan diri? Tapi bagaimana jika ternyata aku salah paham? Mungkin saja dia memang mau membuatku marah atau semacamnya?
“Ya jelas dong! Tadi kamu mau ngapain coba?” Aku mencoba membalikkan pertanyaan.
“Menciummu” Jawabannya yang cepat dan tegas membuatku menatapnya tidak percaya. Aku hanya bisa memandangnya dengan mulut terbuka tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun. Apa aku tidak salah dengar? Tadi dia bilang mau… MENCIUMKU? Sepertinya efek terbentur kemarin bukan hanya mengganggu otakku, tapi pendengaranku juga..
“Kau tidak mengangkat handphonemu dan aku tidak bisa menyentuhmu selama seminggu jadi aku ingin melakukannya sekarang.” Lanjut Kaiba tanpa memperdulikanku yang masih shock. Aku mulai gemetar dan melangkah mundur hingga punggungku kembali menyentuh dinding. Namun kedua tangannya tetap mengunci pundakku. Aku yakin orang yang ada di hadapanku bukan Kaiba. Dia pasti alien yang menyamar atau semacamnya. Dan aku sedang terjebak!
“Kau aneh Kaiba. Lepas deh…Aku mulai takut. Lagian sejak kapan aku punya handphone?” Kulihat mata Kaiba mulai terbelalak dan menatapku heran. Seakan-akan aku yang aneh.
“Katsuya, apa yang terjadi selama seminggu?” Hah? apa aku tidak salah dengar? Siapa yang memberi dia ijin memanggilku begitu? Yugi saja tidak memanggil nama kecilku!
“Katsuya? Sejak kapan….? Kaiba sakit…lepasin!” Geramku saat kedua tangannya lebih kencang mencengkeramku.
“Jawab!!!” Dia mulai berteriak di depan wajahku. Aku jadi mulai kesal. Dan bahkan setelah kujawab dia masih bertanya yang aneh-aneh. Apa-apaan sih? Tapi dia benar. Kemana aku waktu natal tahun kemarin? Kemana aku waktu ulang tahun kemarin? Aku benar-benar tidak ingat apapun. Yang aku tahu, selama ini aku terbaring di rumah. Atau… sebenarnya tidak begitu?
“Kaiba, kamu tahu sesuatu ya? Selama ini aku tidak hanya tidur ya? selama ini aku ngapain? Aku belum sempat bertanya pada Yugi dan yang lain. Kamu tahu sesuatu??” Aku mendesaknya. Berharap dia memberi sedikit jawaban saja. Aku bahkan tidak peduli kalau sekarang aku sedang memohon pada musuh beratku. “Kaiba…”
Perlahan dia menundukkan wajahnya dan menyandarkan dahi pada pundakku. Aku jadi salah tingkah. Ada apa dengan Kaiba? Sikapnya dari tadi aneh.
“Tolong bilang kamu hanya bercanda, Katsuya…” Walau dia mencoba menutupinya, tapi aku yakin dia sedang mencoba menahan tangis. Tapi kenapa? Aku ingin terus bertanya. Rasanya aku bisa jadi gila! Tapi daripada membuat suasana semakin runyam, aku mencoba untuk menenangkannya terlebih dahulu.
“Kaiba…aku bingung…maksudku…Aku tidak bercanda. Aku benar-benar tidak ingat.” Aku tidak tahu harus bicara apa lagi. Kenyataannya aku memang tidak ingat.
“Aku rasa kita sudah selesai, Jou. Kamu menang”
Setelah itu, dia mengusirku dengan kasar. Aku meninggalkannya dan berlari menuju kelas dimana teman-teman sudah menungguku. Tapi yang aku heran. Air mataku tiba-tiba mengalir. Ada apa denganku??
---
“Jou, kamu kenapa? Nangis?” Yugi bertanya dengan cemas ketika aku kembali bergabung dengan teman-temanku untuk makan di kelas.
“Bukan, tadi aku kena debu. Toilet kan sedang dibersihkan.” Kataku sambil memaksakan senyum. Kuambil roti coklat dari tasku dan membuka bungkusnya.
“Yug, hari ini aku boleh ke rumahmu? Atau besok juga boleh deh! Aku pengen ngobrol…” Ujarku memelas.
“Besok aja ya Jou, hari ini aku diajak kakek survey game baru untuk masalah promosi toko.”
“Sip! Nggak pa pa…Besok ya!” Seruku sambil mengunyah roti.
“Oh, ngomong-mgomong kalau diarymu sudah habis bilang aja ya Jou, aku masih punya satu lagi. Sorry, diarynya emang tipis. Otogi ngga produksi yang tebel.”
Aku menaikkan alis. Tadi handphone sekarang Diary?
To be Continued
Balik lagi dengan Fake Reality! Aku bikin yang versi Jou ini Cuma 1 hari tapi bakal ku pos satu-satu tiap minggunya seperti biasa. Berhubung ini dari sisi Jou, kubuat mereka lebih santai. Bukan kaku seperti versi Kaiba. Kalau dibandingin pasti keliatan deh.
Thx banget bwat smua Mail-review dan SMS-review. Bwat Kezi-chama, berhenti SMS-review tengah malaaaaam!!! HPku tu ga pernah mati tau! (Kcuali Batre ko’it) Jadi aku selalu kebangun kalau kamu SMS =___=