|
Author of 16 Stories |
Fake Reality
By: Saint-Chimaira
part 14
Aku dan ayah berada di restoran yang lumayan…Tidak! Menurutku ini sangat mewah. Begini, ayah bilang baru dapat kerjaan. Berarti belum bekerja kan? Darimana dia mendapat uang untuk membayar restoran seperti ini? Tapi lebih baik tidak bertanya. Aku tidak mau menghancurkan semuanya.
Kutatap ayahku yang sekarang sedang berbicara dengan pelayan restoran yang akan menunjukkan tempat duduk kami. Aku senang sekali. Setelah semua yang kami lalui, akhirnya kami berdua bisa seperti ini. Saat ini aku tidak ingin lepas dari ayah. Aku ingin seperti ini dulu. Menikmati kasih sayang dari ayahku sepuas-puasnya. Aku tidak bisa memungkiri kalau semua hal ini juga berkat Kaiba dan siapapun itu yang menabrakku. Nanti kalau ingat aku akan berterima kasih pada mereka.
Setelah kami berdua duduk, Pelayan itu mulai mencatat semua pesanan kami dan melaksanakan tugasnya. Sambil menunggu makanan datang, aku meraih tasku dan mengambil sesuatu yang seharusnya sudah lama kuserahkan.
“Ayah…aku tahu ini sangat terlambat tapi ini untukmu.” Aku memberikan bungusan kecil berwarna kuning pada ayahku.
“Apa ini Katsuya?” Katanya sambil mengambil bungkusan itu dari tanganku.
“Hadiahmu untuk ulang tahunmu desember lalu. Aku…itu alasanku kenapa aku pulang terlambat saat kecelakaan itu.” Aku menunduk dan memainkan jariku.
“Kau saat itu membeli kado untukku?” Dia tampak terkejut. Aku mengangguk.
“Hadiah ini tertinggal di rumah yugi. Aku melupakannya karena terlalu asik bermain. Waktu aku sadar, hari itu sudah malam dan hujan. Aku nggak mungkin balik ke rumah Yugi lagi, jadi kuputuskan untuk meneruskan perjalanan pulang dan mengambil kadomu besok di sekolah untuk kuserahkan malamnya. Tapi…”
Ayah berdiri dari kursinya untuk mendekatiku dan memelukku, “Terima kasih Katsuya! Kau anakku yang terbaik.”
“Terima Kasih ayah, Shizuka juga?” Dia mengangguk. “Ya, Shizuka juga anak kebanggaanku. Besok akan kuminta ibumu untuk memberi ijin Shizuka menginap di rumah beberapa hari. Aku tahu dia tidak diperbolehkan menjengukmu ketika kau sakit. Sekarang dia pasti senang melihatmu sudah sembuh. Aku juga akan mengundang Yoshi.”
“Thank’s ayah! Thank’s! Thank’s! Thank’s!!!” Aku balas memeluknya. Kurasakan dia membelai rambutku.
“Kita lanjutkan nanti,ya. Sekarang kita makan dulu” Ujar ayah sambil kembali ke tempat duduknya. Kulihat pelayan tadi datang sambil membawakan makanan serta minuman.
Sambil makan, aku sempatkan mengobrol sedikit tentang masa lalu dengan ayah untuk meluruskan banyak kesalahpahaman selama ini diantara kami. Selain itu kami juga banyak bertukar cerita. Tanpa terasa, kami sudah berbicara satu jam penuh dan ayah melihat jam tangannya.
“Katsuya, aku mau pergi dulu. Kau tunggu disini ya…” Katanya sambil menghabiskan sisa minumannya.
“Iya, mau ke WC ya? Aku tunggu disini.” Ujarku. Ayah hanya tersenyum, mengelus kembali rambutku dan menghilang dari hadapanku.
Selama menunggu, aku hanya memandang ke arah jendela. Memainkan jariku di bibir gelas dan membuat suara merdu. Ayah lama…pikirku. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh seseorang yang duduk tanpa permisi di hadapanku.
“Pelayan, tolong bereskan semua ini. Dan tolong Wine-nya satu” Ucapnya sembari mengangkat tangannya. Pelayan yang dari tadi melayani mejaku dalam sekejap langsung membereskan semua piring-piring kotor, membersihkannya dan memberikan wine pesanannya tersebut.
“Kaiba??? Apa-apaan kamu! Itu tempat ayahku!” Kataku kesal karena gelas kosong yang dari tadi kupakai main juga ikut dibersihkan.
“Ayahmu sudah pulang. Tadi supirku yang mengantarnya, jangan khawatir.” Ucap Kaiba cuek sambil meneguk minumannya.
“Hah? Kok gitu?” Aku langsung berdiri, bermaksud mengejar ayahku
“Puppy, tolong tunggu sebentar.” Kaiba bangkit dari tempat duduknya, meraih bahuku melewati meja dan berhasil membuatku duduk kembali.
“Lepas Kaiba, apa maksudmu???” Aku tidak berani berteriak karena akan menarik perhatian tamu-tamu lain.
“Seto!” Hardiknya.
“Aku nggak main-main, Kaiba.”
“Aku juga tidak, panggil aku Seto.”
“Iya, Seto-sama! Lepas! Aku mau pulanggg” Aku masih berusaha melepaskan tangannya dari bahuku kiriku tapi usahaku hanya membuatnya mencengkeramku semakin keras. Padahal dia hanya memakai satu tangan. Dari mana dia dapat tenaga seperti ini? Kulihat kami berdua mulai mengundang perhatian tamu-tamu lain.
“Tidak akan sebelum kamu mendengar penjelasanku.”
“Dulu kan udah!”
“Yang sekarang kan belum”
“…”
Akhirnya aku menyerah. Aku membanting punggungku di kursi restoran yang nyaman itu sambil menggerutu. Kaiba melepaskan bahuku dan kembali duduk dengan santai. Kulihat dia memakai jas putih yang elegan. Sangat serasi dengan warna kulitnya yang putih dan mata birunya yang indah. Jam tangan perak berkilauan menggantung di pergelangan tangannya yang kurus.*
Setelah kami terdiam beberapa saat, akhirnya aku mulai angkat bicara.
“Ini semua ide-mu ya?” Tanyaku tanpa melihatnya.
“Kalau tidak, kamu tidak akan mau bicara denganku.” Jawabnya. Dia benar. Selama ini aku tidak pernah memberi dia kesempatan bicara di sekolah. Handphone pun lebih sering kumatikan.
“Kenapa bisa? Kapan?” Tanyaku lagi.
“Kemarin aku ke rumahmu dan bertemu ayahmu. Beliau bersedia membantuku dan kami merencanakan hal ini.” Aku hanya terdiam mendengar penjelasan Kaiba. Aku tidak menyangka ayah betul-betul merestui kami. Kupikir itu semua akal-akalan untuk menghiburku saja.
“Dia kerja di perusahaanmu?” Tanyaku curiga. Kaiba menggeleng.
“Aku sudah menawarkan, tapi Ayahmu bilang dia akan bekerja di perusahaan temannya.” Aku tersenyum kecil mendengar kata-kata cowo tinggi di hadapanku. Itu artinya Ayah tidak bohong. Lagipula aku juga tidak mau ayah kerja di Kaiba Corporation dengan keadaan hubunganku dan Kaiba yang seperti ini.
“Lalu, kamu mau bicara apa?” Tanyaku cuek.
“Menurutmu aku gimana?”
“Pertanyaan apa itu???”
“Jawab aja.” Perintahnya sambil menyeringai ke arahku.
“Susah-susah aku mau diam disini cuma untuk pertanyaan kayak gitu??? Aku pulang…” Tapi sekali lagi tangannya meraih bahuku. Tatapan matanya yang menusuk membuatku kembali tidak berkutik.
“Tolong dijawab, karena menurutku ini penting.” Dia kembali memperbaiki posisi duduknya.
“Hmm…Brengsek! Dingin! Rese! Nyebelin! Belagu! Kacaw! Tukang maki! Sok keren! Banyak ngatur! Emosian!!” Tanpa basa-basi aku langsung menyebutkan semua kalimat tadi. Kaiba tampak terkejut mendengar jawabanku yang spontan. Tapi setelah itu dia tertawa.
“Ada lagi?” Tanyanya.
“…Patung es! Sombong! Belagu!”
“Itu tadi kan udah.” Katanya sambil tersenyum lebar. Meneguk kembali minumannya.
“AAAA!!! Pokoknya yang minus-minus tuh kamu deh! Puas???” Semprotku sambil mencengkeram taplak meja di depanku.
“Terus menurut kamu aku gimana?”
“Apaan? Tadi kan udah dijawab!”
“Ini bakal beda, puppy. Coba jawab lagi…” Ujar Kaiba sambil menatap mataku dengan lembut. Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Kurasakan wajahku memerah.
“Kamu…tinggi…menyebalkan, keren…menyebalkan juga, tajir…makin menyebalkan…”
“Aku sebegitu menyebalkan?” Tanyanya kembali tidak percaya sambil mengerutkan alis.
“Karena ternyata di diri kamu yang minus itu banyak positifnya, kamu terlihat makin menyebalkannn” Kataku setengah menjerit. Kulihat orang-orang di sekitar mulai memandang ke arahku yang ribut sendiri.
“Dan apa kamu mau bersama orang yang menyebalkan ini?”
“Apa?”
“Kita dulu mulai tanpa saling tahu Katsuya, sekarang aku ingin memintamu lagi. Apa orang yang menyebalkan ini boleh memilikimu?” Aku merendahkan kepalaku dan menutup sebagian wajahku dengan taplak meja. Apa aku tidak salah dengar??? Kaiba baru saja memintaku!?? Oh Gawd. Rasanya aku ingin keluar secepatnya dari tempat ini ketika makin banyak orang melihat ke arah kami sambil berbisik-bisik...
“Shhhh…kecilin suaramu sedikit…Ini tempat umum tauk! Apa kamu nggak malu???”
“Aku tidak peduli. Aku tidak mau ambil resiko kehilangan kamu lagi. Aku akan terus bertanya sampai jawabanmu ‘iya’.”
“Itu pemaksaan kaiba!” Desisku.
“Seto!”
“Seto…aku…” Tanganku mencengkeram semakin keras. Rasanya jantungku mau meledak. Ini terlalu mendadak. Aku belum siap untuk semua ini.
Kaiba meraih tangan kiriku dan memasukkan sesuatu pada jari manisku. Sebuah cincin putih berbentuk naga dan bermata biru. Blue Eyes White Dragon! Naga milik Seto! Dan dia memberikan cincin lain ke telapak tanganku. Kali ini naga hitam dengan matanya yang merah menyala. Naga milikku, Red Eyes Black Dragon!
“Andai jawabanmu ‘ya’, Aku ingin kamu yang memasukkannya ke jariku. Tapi kalau ‘tidak’, masukkan cincin itu ke dalam gelas wine ini. Supaya aku tetap tidak kehilangannya dan masih bisa terus mencoba memintamu sampai kau menjawab ‘ya’.” Aku memandang gelas yang masih setengahnya berisi Wine itu lalu kembali menatap Kaiba dengan bingung. Aku menggeleng pelan.
“Dengar Seto, kamu nggak akan bahagia bersamaku! Kalau media tahu…”
“Persetan dengan media”
“Lalu Kaiba Corporation?”
“Aku punya otak, Katsuya! apa menurut mereka aku tidak bisa menjalankan perusahaan hanya karena punya kekasih bergender sama?”
“Tapi aku…Kita…terlalu berbeda…” Aku mengecilkan suaraku.
“Dengar! Aku tidak peduli kelas, ekonomi dan semua itu. Kamu salah besar kalau aku akan meremehkanmu karena status sosial kita yang jauh berbeda.”
Aku hanya bisa terdiam sambil menatap lazulinya dengan tatapan kosong. Oh Tuhan…aku benar-benar tidak percaya Kaiba sampai seserius ini. Andai ini mimpi jangan sampai aku terbangun.. Andai ini mimpi…Tidak! Ini bukan mimpi!!! Aku menggeleng pelan mencoba meyakinkan diri.
Ayah…Yugi…kalian benar…Aku tidak bisa membohongi diriku lebih lama. Aku memandang cincin Red Eyes itu sekali lagi. Tanpa ragu aku meraih tangan kiri Kaiba dan memasukkan cincin itu ke jari manisnya. Menatap mata biru indahnya yang dalam.
“Jawabanku ‘ya’, Seto”
“Katsu…”
Kaiba langsung berdiri, menarik tanganku dan menciumku. Perlahan aku pun ikut berdiri dan membalas ciumannya. Tidak menghiraukan gelas wine yang jatuh dari meja karena gerakan pemiliknya yang mendadak. Bahkan suaranya ketika pecah terdengar sangat merdu. Saat ini aku sedang bahagia. Aku tidak peduli semua tatapan dan kamera yang tertuju padaku juga pada Kaiba…
Persetan dengan media.
“Pagi semua!”
“Pagi Jou, tumben ngga telat?” Sapa Anzu.
“Mulai hari ini aku nggak bisa telat. Setiap pagi aku harus bikin sarapan untuk ayahku juga. Terpaksa bangun pagi deh.” Ujarku sambil membawa satu tas lebih dari biasanya. Sebuah kotak makan besar yang harus kubuat setiap hari sebelum ke sekolah. Aku jarang makan pagi, jadi masih sedikit canggung dan kurang terasa enak di perut.
Mulai saat ini ayah lebih memperhatikan kondisi kesehatanku terutama asupan makanku. Apalagi ketika akhirnya dia tahu aku selama ini mengalami eating disorders anorexia nervosa. (Haduh… Aku baru tahu ternyata nama penyakitku panjang sekali). Aku harus bisa lepas dari anoreksik sialan ini dan benar-benar memulai hidup baru.
“Ayahmu?” Tanya Honda tidak percaya.
“Iya, dia mengundang kalian semua makan siang hari ini. Kalian bisa?” Kulihat mereka semua memandangku dengan heran, namun Yugi angkat bicara duluan.
“Dengan senang hati, Jou. Aku pasti datang”
“Thank’s Yug, Shizuka nanti juga datang. Dan kalian akan kukenalkan pada kakakku.”
“Kakakmu?” Tanya Otogi heran tapi langsung dipotong oleh Honda.
“Ada Shizuka juga??? Aku pasti datang Jou” Serunya riang.
“Kami semua pasti datang” Tambah Anzu lagi. Aku yakin mereka sebetulnya ingin banyak bertanya, tapi menungguku menceritakannya sendiri. Aku bersyukur dikelilingi teman-teman baik seperti mereka. Rasanya seperti sudah lama sekali aku tidak pernah sebahagia ini.
“Jou, kamu sekarang pake cincin?” Tanya Bakura sambil melihat ke arah jariku manisku lebih dekat.
“Eh ini? Iya…ini sangat berharga. Jangan suruh aku melepasnya ya…”
“Dari orang spesial?” Honda tersenyum lebar dan menyikutku pelan.
“Hmm…Begitulah…Dia juga diundang ayah siang ini…” Aku mencuri pandang ke arah yugi yang sekarang mengalihkan pandangannya dariku karena sibuk menahan tawa. Aku harap teman-temanku yang lain akan menerima keputusanku seperti Yugi. Aku sangat percaya pada mereka. Dan saat itulah seseorang yang dimaksud membuka pintu kelas dan masuk dengan arogan.
“Owch…Brengsek! Pasang mata dong kalo jalan!” Hardikku saat sosok itu menabrak bahuku. Kulihat Seto membalas tatapanku dan tersenyum. Bukan senyum dingin seperti yang sering kuterima. Tapi senyum puas seperti baru saja berhasil memenangkan olimpiade. Menurutku sih begitu…
“Apa kamu tidak salah? Yang nabrak duluan kan kamu!” Ujarnya datar seperti biasa
“Jelas-jelas kamu yang nabrak kok!” Kataku sambil tertawa kecil. Teman-teman yang hendak melerai kami tiba-tiba diam dan saling berpandangan. Yugi yang berada di sebelahku hanya menggeleng dan tersenyum.
“Terserah…puppy” Katanya sambil menuju tempat duduknya yang tepat di belakangku.
“Kasihan kalau anjing kampung sepertimu harus selalu dihukum di ruang janitor pada waktu istirahat.” Ucapnya sambil membuka laptop tapi mata birunya masih memandangku.
“Walau aku ingin sekali” Tambahnya sambil berbisik.
Aku menyeringai “Rencanamu akan gagal lagi, Kaiba” Teriakku sambil kembali berbaur dengan teman-temanku.
Aku yakin kami tidak sabar menunggu bel istirahat berbunyi.
Fake Reality-Jounouchi Katsuya POV
Fin
Dan Fake reality ini benar-benar tamat-mat-mat...
Makasih banget untuk semua yang udah baca m(_ _)m apalagi yang susah2 repiew. Danke!
Aku bukan fanfic-ka yang baik dari segi penulisan dan jadwal aplod, mohon dimaafkan…
En jangan bosen bwat maksa aku bikin fanfic ya, aku bakal terus belajar sampe nemu gaya nge-Fic yang tepat.
* Pakaian Kaiba a.k.a Urara-san waktu di acara KC next. (Juga halaman depan websitenya) ganteng mautsss! Daisuki!
Koko made, zenbu ippai arigatou. Soredewa, mata! \(^0^)/