|
Author of 38 Stories |
Pernahkah kau mendengar keberadaan tujuh dosa besar yang akan mengantarmu ke dasar neraka?
...Lust.
x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x
The Supernova, in challenge
.Prologue.
The Perfect Sin
x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x
Jemari lentik itu gemetar saat memandang sebuah benda mungil berwarna putih. Siapa bilang putih selalu perlambang kebaikan? Terkadang, benda kecil seperti ini bisa menjadi alasanmu untuk mengakhiri hidup. Gadis muda itu menyingkirkan rambut biru gelap yang menghalangi pandangan matanya, masih menatap tak percaya pada benda di genggamannya.
"Ti..", kepala gadis itu menggeleng keras, "Tidak mungkin..", desisnya.
Gadis muda itu menutup mulutnya, mengakibatkan benda itu meluncur bebas dan tergeletak di lantai. Ia berusaha untuk tidak berteriak atau merintih, namun dibiarkannya air mata mengalir di kedua pipinya. Matanya masih membelalak dalam keterkejutan, terlalu tidak siap menghadapi kenyataan sepahit itu. Disandarkan punggungnya ke dinding dan terus menangis sendirian di sana.
Menyesali keberadaan test pack bergaris dua di lantai kamar mandi pribadinya.
.
.
Hiashi dan Hizashi mengangkat tinggi gelas sampanye mereka, "Untuk keluarga Uchiha."
"Untuk keluarga Hyuuga.", sambut Fugaku sambil tersenyum senang.
"Bersulang!"
.
.
"Kau belum mendapatkan pekerjaan juga, Naruto?", tanya Sakura setengah tak percaya. Pria muda itu mengangguk lemah.
"Ini yang keempat..", bisik Naruto, "Aku bosan melamar sana-sini, Sakura.."
Wanita berambut merah muda itu merangkul pundak sahabatnya, "Sabarlah.. Kita semua tahu kalau Tuhan tak pernah tidur."
.
.
"Sampai kapan calon pewaris Hyuuga dan Uchiha ini akan menjomblo?", canda Kiba sambil memainkan kunci mobilnya, "Kalian berdua, tampan tapi payah."
Sasuke dan Neji berpandangan lalu tertawa kecil.
"Aku sudah punya tunangan.", ucap Neji hambar.
Sasuke tertawa pahit, "Aku tak akan menikah. Seumur hidupku."
.
.
Hizashi memandang kakak kembarnya dengan tatapan penuh amarah, "Aku sudah tidak tahu lagi harus bagaimana.."
"Secepatnya, salah satu dari mereka harus keluar dari rumah ini.", ujar Hiashi sambil berpikir keras, "Tak ada jalan lain."
"Tapi.. Pewaris perusahaan kita—"
"Jangan khawatir.", potong Hiashi, "Jangan khawatir."
.
.
"Sudah kukatakan, berhenti menjodohkan aku dengan pelacur murahan itu!", teriak Sasuke marah, "Aku tidak sudi menikah dengan dia!"
Itachi menghela nafas berat, "Jangan terlalu menjelek-jelekkan Karin, baka ototou..", ucapnya dengan nada sedikit kesal.
"Argh!", Sasuke membanting tas kerjanya dan melangkah gusar ke arah kamarnya. Meninggalkan Itachi yang frustasi karena adik semata wayangnya menolak untuk dijodohkan untuk entah keberapa kalinya.
"Stupid bother."
.
.
"Tapi kenapa harus Naruto?", teriak Neji putus asa. Dilihatnya, adik sepupunya masih menangis di pelukan ibunya. Menghadapi kembar Hyuuga senior yang sedang murka memang lebih sulit dibanding perkiraan.
"Kau tak berhak membantah, Neji.", ujar Hizashi, "Lebih baik kau tutup mulutmu.", desisnya dingin. Diiringi dengan anggukan angkuh Hiashi.
Neji berlutut di depan ayahnya, "Tapi.. Kumohon, Ayah! Jangan berikan Hinata pada pria seperti dia! Aku akan melakukan apapun.. APAPUN!"
Hiashi menggeleng, "Tak akan pernah cukup untuk menebus dosamu pada klan Hyuuga, kau tahu itu."
.
.
"Aku tahu kalau kau tidak mencintaiku, Hinata.", ucap Naruto dengan senyuman terkembang. Tangan Hinata tersentak. Ditatapnya wajah ramah itu dengan mata yang siap menjatuhkan air hangat.
"Walau aku..", Naruto menggaruk belakang kepalanya, "Sayang padamu."
Hinata membiarkan air matanya jatuh, "Tapi kau juga tidak mencintaku, kan?"
Naruto terdiam.
"Karena persamaan itulah, kita menikah."
.
.
Sasuke menatap pemandangan itu tak percaya, "Karyawan baru katamu?"
"Iya..", ujar Sakura sambil membereskan dokumen di mejanya, "Dia satu jurusan denganku waktu kuliah. Baru hari ini dia diterima bekerja di sini."
"Mustahil..", desis Sasuke sambil menatap wajah dengan tiga goresan di pipi itu. Rambut pirang itu. Mata biru langit itu. Kulit kecoklatan itu. Seluruh elemen yang membentuk seorang Naruto Uzumaki.
Sakura beranjak dari mejanya, "Apa kau sedang teringat akan dosa di masa lalu..", bisik Sakura, "Uchiha Sasuke?"
.
.
Hinata tersentak saat pintu kamar mandinya dibuka dari luar, "Hinata?"
"Neji nii-san!", teriak Hinata ketakutan. Neji tekejut menemukan Hinata terduduk di sudut kamar mandi dan segera mendekati tubuh itu.
"Kenapa menangis, Hinata?", tanya Neji dengan suara lembut. Dengan cepat dieluknya tubuh mungil Hinata, membiarkan adik sepupunya itu menangis di bahunya. Neji mengerenyitkan dahi, dan menemukan sebuah benda di sudut lain kamar mandi itu. Matanya membulat saat menyadari satu hal yang mengerikan.
"Hinata..", bisik Neji, "Kau hamil?"
.
.
Sakura menatap dakam-dalam mata Naruto, "Kau serius?"
"Aku tak mengerti..", pria berambut pirang itu menggeleng keras, "Kenapa Uchiha-san menatapku seolah-olah aku ini monster. Dan kenapa kau terus menerus mengulang pertanyaan itu, Sakura?"
Sakura menggigit bibir bawahnya, "Mendengar nama Sasuke Uchiha, kau benar-benar tidak merasakan apa-apa?"
"Tidak.", jawab Naruto dengan raut polos, "Bertemu saja baru kemarin-kemarin, kenapa aku harus merasakan sesuatu?"
Sakura menahan nafas.
.
.
"Hyuuga Hinata, pakah kau bersedia menerima Uzumaki Naruto sebagai suamimu dalam keadaan sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, susah maupun senang?", tanya sang pastor.
Hinata menatap mata biru calon suaminya dan tersenyum pahit. Perlahan dianggukkan kepalanya, "Ya, aku bersedia."
"Sekarang, kau boleh mencium pengantimu."
.
.
"Terkadang aku berharap..", desis Neji, "Hinata bukanlah seorang Hyuuga."
Sasuke tertawa sinis, "Seorang Hyuuga sepertimu tak pantas bicara picisan seperti itu. Seperti bukan kau saja."
Neji memejamkan matanya, "Aku.. Sejujurnya, sama sekali tidak bisa merestui pernikahan Hinata dengan pegawai rendahan seperti dia."
"Aku juga.", bisik Sasuke, "Aku juga tak merestui pernikahan itu."
.
.
.
"Ibu, apakah aku adalah sumber ketidakbahagiaan Ibu?"
.
Coming Soon
The Perfect Sin
The Seven Deadly Sins
.
.
.
Saya kembali untuk menjawab tantangan tujuh dosa besar. Saya tidak tahu akankah cerita ini selesai, tapi saya mencoba membuat satu 'sinetron' baru di sini. Tentu saja setting-nya AU, soalnya saya kesulitan membuatnya kalo di real world. Ada yang sudah bisa menebak jalan cerita atau pun pairing ke depannya? Ya, saya berbaik hati membuat staight biar semua bisa membaca. Tapi dilihat dari judulnya, siap-siap saja dengan penyimpangan-penyimpangan ke depannya –evil smirk-
Terima kasih sudah berkunjung.
.the supernova.
|
Review this Chapter |