|
Author of 16 Stories |
Christmas Alone
By: Saint-Chimaira
---
Awalnya mereka kesal, mengutuk dan menghindar.
Kenapa bisa?
Kalau sudah kenal mereka, kalian akan bilang ”Ah, kalian nggak mirip...”
Tapi kalau belum kenal pasti bilang ”Yang baju merah pasti Kari ya?”
Siapa bilang?
Gimana kalau mereka bertukar baju?
Bahkan ketika salah satu dari mereka mencoba meloncat sebanyak mungkin untuk mengungguli tinggi badan saudarinya, tinggi mereka tetap sama. Atau mungkin makan lebih banyak, berat mereka tetap sama.
Dan sampai suatu saat mereka lelah kesal, mengutuk dan menghindar.
Akhirnya mereka menerima satu sama lain.
Padahal dari awal mereka tidak bersama. Atau bersama?
Sungguh membingungkan.
Kuo sangat menyukai warna orange. Kuo? Dulu dia bukan dipanggil begitu, tapi sudahlah. Kata ortu-nya, dari sejak bayi dia hanya mau mengambil barang-barang berwarna orange. Aneh Banget! Di hadapan orang lain terutama keluarga besarnya dia sangat pendiam. Maklum, adat jawa. Tapi terlalu banyak kekecewaan yang ditanggungnya. Dia jarang bertemu kedua orang tuanya. Bahkan dia harus menjadi ninja di rumahnya sendiri agar tidak bertemu dengan anggota keluarga besar yang lain. Kekosongan itu dia isi dengan berkelahi. Tidak ada yang tahu kelakuan aslinya bahkan ketika dia bersekolah di sekolah milik kakeknya. Tawuran selalu dilakukan hampir sebulan sekali selama dua tahun sekolahnya.
Semua takut mendekatinya.
Tidak ada yang tahu,
Dia sendirian.
Kari tidak pernah melakukan prinsip ‘lebih baik dimarahi daripada bersikap baik.’ Seperti Kuo. Dia lebih memilih ’lebih baik Bersikap baik daripada dimarahi’. Pengecut? Bukan juga. Dia merasa jalan damai lebih baik dari kekerasan. Memang dia tidak suka aturan-aturan sinting yang diterapkan oleh keluarga besarnya. Makan sudah disiapkan, pergi selalu diantar, Apapun pasti tersedia. Tapi apa enaknya? Dia bahkan tidak bisa jalan-jalan sepulang sekolah seperti teman-temannya yang normal. Dari awal Kari perasa dan lembut. Dia juga berusaha menjadi yang terbaik dalam bidang pelajaran apapun dan dia berhasil. Menurutnya hal ini akan menarik perhatian kedua ortunya, dan berharap mereka akan lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya.
Semua kagum dengannya.
Tidak ada yang tahu,
Dia sendirian.
Bahkan di tiap Natal mereka, mereka merasa sendirian.
”Kamu suka kartun juga?” Kuo bertanya.
”Kamu juga?” Gadis yang mirip dengannya itu balik bertanya.
”Aku Kuo”
”Aku Kari”
Mereka tersenyum.
Mereka bersalaman.
Kejadian itu mungkin sudah hampir 10 tahun yang lalu. Tapi mereka sudah tidak mempermasalahkan hal itu kini. Mereka sudah mengerti ketika ortu mereka sudah lebih banyak bersama mereka. Dan meminta maaf.
Awalnya mereka saling membenci dan berlomba-lomba menarik perhatian ortu mereka. Apalagi sekarang bokap mereka sangat sering di rumah karena dipaksa meneruskan sekolah milik kakek.
Berkelahi hampir setiap hari.
Membuat kedua ortu mereka kecewa.
Tapi tentu saja Kuo akan selalu disalahkan. Karena dialah sang ’kakak’ dan senjatanya adalah kepalan tangannya, bukan air mata seperti Kari.
Mengerikan sekali saat mendengar Kuo pernah mematahkan tangan adiknya dua kali.
Dan dia menyesal.
Sekarang mereka bersyukur ternyata mereka saudara. Mereka tidak sendirian.
Natal ini mereka tidak sendirian.
”Apa yang ngebedain kita, Kar?
”Matamu coklat muda, nggak kaya aku yang coklat tua”
”Tepatnya mataku minus, nggak kaya kamu yang normal.”
”Itu juga bener”
”Sialan...”
Kadang Kuo cemburu melihat tipe orang seperti Kari. Baru kali ini ada anak sekolah yang tidak pernah ikut try-out dan ujian apa-apa tapi masuk ke Universitas Favorite. Tanpa memakai CV atau portofolio, dia langsung mendapat rekomendasi kerja. Nikmatnya dunia. Kuo tahu dia tidak sepintar Kari, tapi kadang iri juga.
Tanpa tahu Kari kadang cemburu melihat kemampuan Kuo bersosialisasi. Dia bisa lolos dari suatu masalah karena dia selalu tersenyum dan jago bicara. Bahkan Saudarinya itu jarang menangis. Dia tidak bisa setegar itu.
“Kayaknya tadi kamu kena marah? Kok ketawa?”
“Aku harus ngapain lagi?”
“Kalau aku pasti nangis”
“Aku bukan kamu…”
Skill terbalik? Apa itu? Apa mungkin? Tapi itulah mereka. Dimana Kari hanya bisa 50% dari sesuatu, 50% lagi pasti dimiliki Kuo. Jika Kari jago dalam menyusun suatu bahan, yang bisa presentasi itu Kuo. Kari jago memainkan semua alat musik kecuali gitar. Kuo lebih jago main gitar dan menyanyi. Contohnya saja Kari senang sekali ngemil. Tapi kalau berhadapan dengan dapur, dia langsung ciut. Dia bisa memotong bawang dengan keakuratan sempurna ataupun memotong timun setipis mungkin. Tapi dia tidak bisa masak!!!
“Kuo, Mau makan…”
“Masak sendiri!!!”
“Aku kan ga bisa masak…”
”heuuuuuuh...yawdah, sini!”
Saat seperti ini yang paling menyenangkan. Ketika tahu saudarinya jago masak seperti ayahnya. Walau kadang hanya percobaan, tapi hasilnya tidak begitu buruk.
”.....Kar”
”Naon?”
”Aku nggak bisa motong.”
”.............”
Keputusan untuk pindah rumah meninggalkan rumah utama dari keluarga bokap memang suatu lompatan besar bagi mereka. Dari sejak saat itu mereka tidak pernah terpisahkan. Makan bersama, tidur bersama, semua bersama tanpa mengganggu privasi yang lain. Privasi? Rasanya mereka tidak punya. Mereka berdua saling tahu satu sama lain, untuk apa privasi?
”Kuo kok udah pulang?”
”Tadi telat UAS, tonk bilang bonyok ya...”
”Goblok!”
Setiap malam mereka pasti perang kaki sebelum tidur. Membuat nyokap mereka marah dan menyatroni kamar mereka karena ributnya sampai ke ruang tamu. Mereka akan pura-pura sudah memasuk alam mimpi. Setiap bertemu mereka selalu heboh dan bertukar cerita.
”Kar...Met Natal.”
”Met Natal juga”
”Njis, pohon Natalnya jelek ya? Ngageol gitu”
”WOOOI SIAPA YANG BILANG ’JELEK’ TADI??? AKU LEMPAR TELOR BUSUK!!!”
”Bego! Kabuuur!”
”Ampun Ka’san!!!”
Bokap mereka hanya tertawa melihat kelakuan istri dan anak-anaknya. Setelah sekian lama, akhirnya tercipta ’keluarga’ seperti yang mereka inginkan.
Ini yang mereka cari.
Dan tidak akan mereka lepas.
Semoga setiap orang yang memliki saudara bisa mengerti cerita ini.
Bahwa ternyata mempunyai saudara itu sangat menyenangkan.
Bagaimanpun kamu disia-siakan, masih akan ada saudara yang akan menolongmu.
Dan Natal kali ini menjadi Natal yang indah bagi mereka berdua.
”Met Natal semua!”
(Kuo berbisik ke Kari: Aku tetap ngerasa pohonnya Natalnya butut *Ditabok Kari*)
~FIN~
Maaf cerita ini dikirim sekarang, karena tanggal sekitar natal kita mungkin nggak bisa OL karena banyak saudara dateng.
Dan mudah2an cerita ini bisa menambah sedikit semarak Natal tahun 2008 ini.
1) Based on true story, tapi yang penting masa sekarang kan?
2) Di rumah kami memang memanggil ortu kami Ka’san dan To’san.
3) Kalau mau dateng ke rumah, dateng ya! Banyak Kue Natal ^^