|
Author of 31 Stories |
What if
Chapter II
What if, when Soji hugged Yosuke, some certain people were watching?
“B..bodoh…itu untuk perempuan…h…hiks…”
Yosuke pun mulai menangis di pelukan Soji. Dan Soji hanya bisa diam sementara Yosuke menumpahkan semua kekesalannya yang telah disimpannya semenjak kematian Saki Konishi.
Tiba-tiba…
“S…senpai? Kalian…sedang apa?” Terdengar suara yang familiar. Yosuke dan Soji menoleh ke arah suara itu.
Najong. Naoto, Chie, dan Teddie. Ketiganya menonton adegan mengharukan antara mereka berdua dengan mulut menganga dan mata membelalak. Soji dan Yosuke pun segera kelabakan. “A-ah, ini—Kami bisa jelaskan ini—maksudku, err…” Namun belum keduanya tenang, Naoto mendiamkan dua orang senpainya. “Tak apa senpai, kami sih…tidak masalah dengan hubungan aneh antara kalian berdua…tapi Kujikawa-san…”
Soji dan Yosuke melotot. Iya juga! Rise kan naksir Soji! Gimana nih!?
“Mou, Naoto-kun, aku tidak apa-apa kok!” Terdengar suara Rise dari arah lain. Saat Yosuke dan Soji menoleh, mereka melihat Rise dan Yukiko, senyum-senyum sendiri sambil memegang kamera.
Ternyata mereka berdua fujoshi.
What if, when Naoto finally met her grandfather’s secretary at the temple, we had the option to catch the secretary?
“Yah, sepertinya aku tahu apa yang disembunyikan—!!”
Kata-kata Naoto berhenti tiba-tiba saat mereka berdua melihat seseorang yang mencurigakan di kuil. Orang itu tampak terkejut saat Naoto dan Soji mendekatinya, lalu dia mengeluarkan sebilah pisau.
Muncul option.
Protect Naoto
Run with Naoto
Fight Back
Catch the suspicious man
(memilih opsi keempat)
“Naoto, kau tangkap orang itu dari kanan, aku tangkap dia dari belakang!” perintah Soji, field-leader-mode on. Naoto pun hanya menuruti dan keduanya menjegal orang misterius itu. Naoto tampak terkejut saat melihat siapa orang itu sebenarnya.
Dan setelah penjelasan singkat tentang kenapa orang itu melakukan hal seperti itu…
“Oh. Jadi semuanya cuma permainan…?” Tanya Soji, jelas bete. Naoto dan orang itu hanya mengiyakan saja. Soji pun menghela napas. “Kau.” Panggilnya ke sekretaris kakek Naoto itu. “Sini sebentar.”
Naoto pun menunggu di kuil, sementara Soji dan sekretaris itu berbicara di depan gerbang kuil.
“…sebenarnya…ada apa?” Tanya orang itu. Soji hanya menoleh ke kiri kanan sebelum dengan suara pelan bertanya ke sekretaris keluarga Shirogane itu.
“……sebenarnya keluarga Shirogane itu sekaya apa sih…?”
Oh tentu sekretaris itu heran mendengar pertanyaan dari Soji.
Dan hari itu berakhir dengan Soji meng-interview sekretaris yang malang itu dengan berbagai pertanyaan seputar keluarga Shirogane, Naoto, dan detektif. Dan Social Link Naoto pun macet di rank 8.
What if Soji can't cook?
-Home Ec Class-
“Hei, Sou, kau masak apa?” Yosuke bertanya, seraya melirik bahan-bahan yang dibawa Soji. Soji, sementara itu, hanya menghela napas.
“Memang hari ini apa? Biskuit kan? Ya sudah.”
Kembali Yosuke melirik bahan-bahan Soji. Tepung, gula, telur, susu, udang...?
“Err...udang itu buat apa?” tanyanya, sweat drop.
“Diblender, terus dicampur dengan adonan kue.” balas Soji, ringan. Yosuke menelan ludah. “H-hah? Memangnya biskuit perlu udang?”
“Kalau bukan dari udang, lalu dari mana rasa manis-manis asinnya?”
Umm...Sou, rasa manis-manis asin biskuit itu dari mentega...batin Yosuke dalam hati sementara dia kembali ke pekerjaannya.
Tampaknya, hari itu, Yosuke mendapat satu lagi rahasia Soji: kalau Soji memasak, dia sama berbahayanya dengan Chie. Kenapa? Inilah sulitnya punya Leader yang suka bereksperimen. Hohoho...
Untuk ide terakhir, saya harus memberi credits kepada salah satu teman saya, haha. Bagaimana dia mencampur blenderan udang ke dalam adonan coklat valentine...ufufu.....