Anime/Manga » Di Gi Charat »

breaking wishes
Author:
teacupz PM
Coo lari dari kehidupannya yang terbilang cukup menyedihkan sampai akhirnya takdir mengantarkannya pada seorang gadis, Piyoko. Jalan hidup baru menanti Coo. AU. HIATUS.
Rated: Fiction K+ - Indonesian - Family/Friendship - Chapters: 2 - Words: 1,412 - Reviews: 11 - Favs: 3 - Updated: 05-01-09 - Published: 04-26-09 - id: 5020317
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

Chapter 2

Secret Princess gift

Note: Coo POV…

Dan mpe akhir chapter tetap POV'na sama… ^_^'

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kabut malam itu begitu tebal dan dingin.

Tubuhku menggigil diterpa angin malam.

"Dingin sekali… Apa kucari tempat berteduh yang lain saja, ya?"

Aku bergegas beranjak dari teras rumah yang bobrok itu dan mencari tempat pemberhentianku berikutnya.

Dan kakiku mengantarkanku ke sebuah persimpangan rel kereta api.

Apakah ini takdir? Aku…

Aku bertemu dengan gadis itu lagi.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Gadis itu mendekatiku dan memandangku polos.

"Kamu lagi, piyo! Kamu sedang apa, piyo?" ucapnya.

"Ah, tidak! Kamu sendiri sedang apa?" tanyaku.

Gadis itu raut mukanya berubah gelisah.

"Tadi… Aru hilang… piyo…"

Aku cukup kaget mendengar ucapannya itu.

"Hi… Hilang? Bagaimana bisa?" ucapku kemudian.

Gadis itu mulai menitikkan air mata.

Ia memasukkan jempolnya ke mulut dan berkata, "Aku… Aku tidak tahu… piyo…"

Aku menggaruk-garuk kepalaku bingung.

Tak tahan melihatnya menangis, aku berkata, "Baiklah, akan kubantu cari!"

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Beberapa menit telah berlalu sejak itu, mungkin setengah jam tapi anjing kecil itu belum dapat ditemukan juga.

Aku menggaruk-garuk kepalaku dan berkata pada gadis itu.

"Hei, sudah malam. Kita cari Aru besok saja ya."

Tapi gadis itu menolak.

"Tidak, piyo! Aru pasti ketemu, piyo! Kita cari sebentar lagi, piyo," ucap gadis itu.

Aku membatin, "Apa boleh buat?"

Kami pun kembali melanjutkan pencarian.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kabut langit menaungi bintang.

Berlian murni tertutup terang.

Melepas hasrat nyala yang tergelincir.

Menunjuk jalan hening mengukir.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Berjam-jam telah lewat sejak pencarian itu.

Tubuh dan batinku lelah mencari anjing kecil milik gadis kecil itu.

"Hei, kita sudah berputar-putar… Bagaimana kalau kita cari besok saja?" ucapku kelelahan.

Gadis itu kembali menolak.

"Bantu cari sebentar lagi ya, piyo," ucapnya.

Kami terus mencari sampai salju pun turun menghiasi malam sepi itu.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

"Hei, salju sudah turun. Apakah kau akan terus mencarinya?" ucapku tak tahan lagi mencari anjing itu.

Gadis itu kembali menolak.

Di penolakannya yang ketiga ini, dia berkata, "Aku harus menemukan Aru, piyo. Dia hal yang paling berarti bagiku, piyo."

Hatiku tertegun karena mendengar ucapan yang menakjubkan yang lagi-lagi diutarakan anak gadis itu.

Walau sedih, aku segera menggenggam tangannya dan menariknya.

"Ayo pulang ke rumahmu! Aku antar!"

Gadis itu tetap menolak.

Aku tak tahan melihat raut muka gadis itu yang semakin pucat karena kedinginan.

Dia memaksakan diri untuk orang yang disayanginya.

Raut wajah gadis itu seperti akan menangis.

Aku tahu kehilangan sesuatu yang berharga itu pedih…

Ya… Sama seperti saat aku kehilangan ayah.

Setelah membatin dalam-dalam, aku melepaskan tangannya.

Dan terdiam sejenak…

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sehari sebelum ayah meninggal…

"Coo! Kenapa kamu masih memelihara anjing ini? Kamu tahu berapa piring yang sudah dia pecahkan?" ucap ibu kembali memarahiku seperti biasa.

Hari ini pun anjingku tak sengaja memecahkan piring lagi.

Aku hanya bisa menatap terus ke bawah karena tak sanggup menghadapi tatapan ibu.

Anjing kecil yang bahkan tak ibu izinkan aku beri nama ini pun sudah nampak begitu sedih setiap ia dihukum ibu.

Entah berapa luka yang telah ibu ukir di tubuh anjing itu.

Aku mengelus anjing itu perlahan.

Tak tahan melihatku yang tak memberi respon yang memuaskan, ibu menamparku.

-PLAK-

Aku tersungkur ke lantai dan ayah segera mendatangi kami.

Dan ia mencoba membelaku sekuat tenaga.

Dan aku sempat mendengar satu kalimat indah dari ayah yang takkan pernah kulupa.

Ya, ucapan ayah saat itu mirip dengan ucapan gadis ini.

"Aku akan melindungi Coo! Sebab ia adalah hal yang paling berharga dalam hidupku!"

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Aku terus terdiam merenungi hari-hari terakhirku bersama ayah yang menyedihkan.

Jika dipikir, aku juga menganggap ayah adalah hal paling berharga dalam hidupku.

Suasana menjadi hening sejenak.

Kemudian, aku kembali menggenggam tangan gadis itu.

Kuelus kening gadis itu dan berbisik di kupingnya.

"Tenanglah. Kamu pulang saja… Biar aku yang mencari Aru."

Gadis itu dengan berat hati mengangguk dan bergegas pulang dengan berlinang air mata sekaligus harapan.

Ya, aku harus menemukan anjing itu…

Agar tak ada lagi orang yang merasakan kesedihan saat ditinggal hal yang berharga dalam hidupnya seperti aku.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Thx ud mau bc fic gw nhe…

Sorry yo klu chptr 2 nhe krg memuaskan dibanding chptr 1 nya… .

N' sorry klu lw" pda ngerasa dejavu bc crta nhe… Heh…

Ok, plz review…

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .