Help
Home Just In Communities Forums Beta Readers Search
B s . A A A   full 3/4 1/2   E E   Light Dark
Anime/Manga » Naruto » His and Her Circumstances
blackpapillon
Author of 30 Stories
Rated: K+ - Indonesian - Drama - Sasuke U. & Sakura H. - Reviews: 60 - Updated: 08-29-09 - Published: 04-28-09 - Complete - id:5024900
Share

Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto


His & Her Circumstances

Five Shades of White

Dia selalu menjadi yang pertama.

Hari masih gelap saat ia keluar dari pintu rumahnya. Angin yang berhembus masih terasa seperti angin malam, terasa dingin dan kaku. Matahari belum lagi terbit dan masih bersembunyi malu-malu. Desir angin menggoyangkan pepohonan, membuat bunyi-bunyian khas fajar. Sayup-sayup ia dapat mendengar suara burung malam—yang mungkin telah selesai bertualang dan siap kembali ke dalam sarang mereka.

Jembatan tempat mereka biasa bertemu masih kosong saat ia tiba. Ya, memang selalu begitu, karena itu ia sama sekali tak terkejut. Sudah menjadi kebiasaannya untuk menjadi yang paling pertama datang dan menunggu. Ia akan berdiri di sana, bersandar di pegangannya, sambil menghirup udara fajar yang masih segar. Air sungai kecil di bawah jembatan itu beriak menyambut pagi. Pemandangan yang hanya bisa dilihat dan dirasakan dari sini.

Anak lelaki itu menoleh ke arah timur. Dari kejauhan, berkas-berkas sinar putih matahari mulai muncul dari persembunyiannya. Perlahan, perlahan, naik; sinarnya putih, hangat, dan lembut. Menandakan mulainya pagi. Ah, mungkin ini yang membuatnya tak pernah bosan bangun pagi meskipun ia tahu rekan-rekannya selalu datang terlambat.

Dan selalu, setiap hari, di waktu yang sama, di antara berkas sinar itu, ia dapat melihat seorang anak perempuan kecil berambut panjang yang berlari-lari ke arahnya. Rambutnya yang terkena sinar matahari pagi membuat sosok anak perempuan itu makin terlihat jelas—warna rambutnya yang merah jambu tampak kontras dengan keadaan di sekitarnya. Selalu, dengan senyuman lebar dan hangat, menanyakan hal yang sama.

Dia selalu menjadi yang pertama.

Tapi ia tak pernah bosan datang lebih awal dan menunggu, karena ia selalu dapat menjadi yang pertama melihat berkas sinar matahari dan juga senyumannya.

"Sasuke-kun, kau sudah lama menunggu?"

Anak lelaki itu memalingkan wajah.

"Aa."


Author's Notes Kangen sama suasana tim 7 dulu, bikin ini, deh :p Yang ini akan menjadi kumpulan drabble ga penting. Gara-gara UN sialan itu, mood saya untuk bikin penpik menguap entah kemana, dan sekarang yang tinggal hanya rasa stres yang makin lama makin bertumpuk. :( Anggap ini pemanasan sebelum saya melanjutkan banyak karya yang tertunda. Suer, susah banget bikin penpik panjang. Sial.

ps. Untuk yang mereview fic saya yang Maret dan Dunia di Balik Kaca...maaf balesnya telat. Reply saya ada di inbox e-mail anda... (gomen, ne? Saya memang ndablek)

Terima kasih sudah membaca.

blackpapillon™

Review this Chapter


Return to Top