|
Author of 11 Stories |
Disclaimer: Dynasty Warriors dan segala isinya bukan punyaku!!! Kalau punyaku, Lu Xun bakal aku kasih Kingdom Key dan Zhao Yun bakal aku kasih Way To Dawn! (Senjatanya Sora dan Riku, 2 character kesukaanku dari Kingdom Hearts!)
Hahaha!!! Akhirnya selesai juga chapter ini! Yes! SENENG BANGET!! WAHAHAHA... Apalagi, karena 'What's With the Fairy Clothes?' sebentar lagi selesai, semua perhatianku bisa terpusat di cerita 'Xanthic Flower' ini! Yes! Yes! Yes!
Ehm... sebenarnya nggak cuma 'Xanthic Flower', karena ceritaku yang terbaru ini juga harus ditulis, bahkan judulnya aja belum ketemu! *langsung dihajar orang satu kampung gara-gara jadi penulis payah*. Kalo ada yang mau saran, silahkan saja... cerita yang baru pairingnya bakal Lu Xun x Sun Ce's daughter dan Zhao Yun x Zhou Yu's daughter! Habis, aku suka banget Lu Xun n Zhao Yun!!! (Apalagi kalo dipairingkan sama putri-putrinya Sun Ce dan Zhou Yu. WUAAAAHHHH!!!). Yahhh... belum2 sudah spoiler banget... Sorry... sorry...
Yah... silahkan membaca, deh! Jangan lupa Read & Review, ya???
Keterangan:
Zi Gong : Tuan
Shifu: Guru
Festival tahun baru di desa nelayan Pi Ling berjalan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Sebaliknya, terjadi kekacauan yang sangat mengerikan. Saat tengah mengadakan festival musim semi itu, segerombolan bajak laut menyerbu tempat itu. Barang-barang dijarah dan beberapa orang menjadi korbannya.
“Ambil semua! Jangan sisakan apapun!” Teriak pemimpin bajak laut itu sambil mengacungkan parang bajak lautnya tinggi-tinggi. Mendengar teriakkannya itu, anak buahnya segera bersorak dengan semangat sambil kembali melanjutkan kerusuhan itu. Pemimpin bajak laut itu sendiri malang-melintang menyusuri dari satu rumah ke rumah lainnya sambil mengambil apapun yang terlihat di depan mata.
Gan Ning nama pemimpin bajak laut tersebut. Seperti bajak laut pada umunya, ia selalu menyandang sebuah parang melengkung yang diberinya nama ‘Sea Master’. Dengan pedangnya itulah, banyak nyawa telah melayang. Sebagai bajak laut, apapun yang ia inginkan akan selalu didapatnya, entah itu dengan cara baik-baik atau dengan kekerasan. Ia begitu ditakuti orang dan hampir semua orang tahu jika Gan Ning dan anak buahnya datang, maka pastilah mereka tidak akan lepas hidup-hidup.
Sebuah ciri khas yang cukup unik dari Gan Ning adalah untaian lonceng yang selalu dikenakannya dipinggangnya, sehingga setiap kali ia berjalan, orang yang mendengar belnya itu dapat mengetahui kehadirannya.
Di depannya ada seorang kakek tua yang membawa sekotak peti kecil. Kelihatan sekali bahwa kakek itu sudah ketakutan setengah mati dan kelelahan karena terus berlari. Gan Ning segera mempercepat laju kudanya sehingga kakek itupun dapat terkejar. Hanya dengan satu pukulan keras di punggung kakek itu, Gan Ning dapat menjatuhkannya. Pedangnya diacungkan ke leher orang tua itu.
“Kemarikan barangmu!” Serunya dengan suara yang garang.
Kakek tersebut mengangkat tangannya, kemudian berusaha berlutut sambil memeluk peti kecil itu erat-erat. “Kumohon jangan... ini satu-satunya hartaku...” katanya dengan suara yang bergetar mohon diberi belas kasihan.
Namun, Gan Ning si bajak laut terkenal tidak berbelas kasihan pada korbannya. Baginya, membunuh seorang kakek atau anak kecil sama saja dengan membunuh orang dewasa lainnya. Ia mengangkat parangnya untuk segera mengakhiri hidup kakek tua itu. Kemudian, dengan gerakan secepat kilat ia mengayunkan pedangnya.
Tapi serangan itu tak pernah datang.
Sebuah anak panah melesat dengan begitu cepat mengenai parangnya sehingga parang itu terjatuh ke tanah, mengeluarkan suara bergemerincing di tanah. Melihat kesempatan ini, si kakek langsung lari secepatnya.
Gan Ning memutar tubuhnya sambil mengepalkan tinjunya. “Siapa itu?! Berani benar melawanku!”
Dengan satu sentakan itu, para bajak laut lainnya sudah langsung menyudahi tugasnya, kemudian berkumpul dibelakang pemimpin mereka setelah melihat pasukan lain yang datang. Gan Ning mengambil pedangnya yang terjatuh sebelum melayangkan pandang ke musuhnya. Dihadapannya berdiri beberapa puluh pasukan, semuanya berbaju merah. Jelaslah bahwa pasukan baru itu kalah jumlah dibandingkan pasukan bajak laut yang dimilikinya. Di depan pasukan itu terdapat empat orang jendral yang masing-masing siap dengan posisi bertarungnya. Gan Ning mengamati satu-persatu jendral itu dengan seksama.
Salah seorang dari mereka adalah jendral muda yang terlihat berani dan gagah. Ia mempererat pegangannya pada tali kekang kudanya sambil tetap memegang senjatanya yang berupa nunchaku, dua tongkat yang disatukan dengan rantai.
Seorang lagi terlihat sebagai jendral yang tertua, sepertinya merupakan senior dibanding jendral yang lain. Wajahnya keras dan tegas, tapi ia memiliki wibawa yang luar biasa. Di tangannya terdapat sebuah tombak besar yang selalu siap digunakan.
Salah seorang lagi... sejujurnya ia tidak begitu terlihat sebagai seorang jendral. Ia masih begitu muda, lebih terlihat seperti remaja daripada laki-laki dewasa. Namun di kedua tangannya tergenggam dua bilah pisau yang membuat Gan Ning yakin bahwa bocah ini juga adalah seorang petarung.
Namun, mata bajak laut itu terhenti saat ia melihat pemimpin dari pasukan itu. Wajahnya ditutupi kain merah sehingga hanya terlihat matanya saja. Tatapan dari mata berwarna zamrud itu sangat tajam, hingga dapat menembus sampai ke dalam hatinya. Ia terlihat begitu misterius. Di tangannya terdapat sebuah busur yang telah dilepaskan anak panahnya. Tak hanya itu, dipinggangnya pun tergantung dua buah chakram emas yang jelas adalah senjatnya. Tahulah Gan Ning bahwa orang inilah yang telah memanahnya.
Gan Ning mengacungkan parangnya ke arah jendral misterius itu. “Ha! Kau bisanya cuma menyerang dari belakang saja! Apa kau berani jika bertarung berhadapan muka langsung?!” Ejeknya, kemudian segera dilanjutkan oleh sorak-sorai riuh dari bawahannya
Jendral misterius itu tetap diam, sampai akhirnya salah satu jendral yang membawa nunchaku itu maju kedepan. Dengan marah ia mengacungkan jarinya pada Gan Ning. “Sungguh besar sekali nyalimu sehingga kamu berani bilang begitu pada jendral!” Kemudian, ia segera berpaling pada pemimpinnya itu. “Zi Gong, izinkan aku menghabisi bajak laut busuk ini!”
Setelah diberi balasan berupa anggukan kepala, ia segera mengangkat senjatanya tinggi-tinggi sebelum berteriak sekeras-kerasnya. “Maju!”
Pertempuranpun tak terelakkan lagi. Jendral tersebut segera maju diikuti pasukannya. Gerombolan bajak laut pun tak kalah semangat. Mereka segera balas menerjang.
Gan Ning tetap saja diam pada posisinya. Melihat keahlian anak buahnya dan jumlah mereka yang lebih banyak dibanding pasukan lawan, ia yakin bahwa mereka pasti akan menang. Dari seberang tempat pertarungan, ia melihat jendral yang bersenjatakan tombak maju menghadap pemimpinnya. “Zi Gong, jika Ling Tong diizinkan maju, maka aku mohon diizinkan juga untuk bertarung bersama.”
Pemimpin tersebut menjawab dengan suara rendah. “Pergilah.”
Sebelum jendral senior itu maju, jendral terakhir pun meminta izin pada pemimpinnya. “Jika Lü Meng shifu diizinkan pergi, maka aku mohon Zi Gong juga memberi aku izin untuk pergi.”
Pada kedua jendral itu, sang pemimpin memberikan izin. Kedua orang itupun segera terjun dalam pertempuran sementara ia pergi ke kejauhan sambil mengamati jalannya pertarungan.
Saat itulah sebuah pedang diayunkan dibelakangnya. Dengan gesit jendral misterius itu segera menggunakan chakramnya untuk menangkis serangannya. Menyadari serangan mendadaknya yang gagal, Gan Ning memundurkan kudanya beberapa langkah.
“Kau pengecut!” Serunya. “Seorang laki-laki tidak akan lari pada saat anak buahnya bertarung! Apa gunanya kau diam saja seperti ini?! Melihat bawahnmu dibantai habis?!”
Jendral misterius itu tetap diam saja. Namun, ia mengangkat senjatanya seolah siap bertahan dari serangan mendadak lain yang akan diberikan. Ini semakin membuat Gan Ning kesal.
“Jika kau memang laki-laki sejati, maju dan lawan aku!” Tantangnya. Tanpa menunggu jawaban lagi, pemimpin bajak laut itu segera menggeprak kudanya secepat kilat untuk memberikan serangan mendadak pada lawannya yang hanya diam saja itu.
Dua pertarungan terjadi pada waktu yang bersamaan. Satu adalah pertarungan besar pasukan lawan pasukan sementara yang satunya adalah pertarungan satu lawan satu. Penduduk yang melihatnya ada yang lari ketakuatan, ada pula yang memberi semangat pada pasukan penolong, namun ada juga yang masih menangisi barang yang dirampas atau orang yang mereka cintai yang terbunuh.
Serangan berikutnya dari Gan Ning sekali lagi ditahan oleh jendral berpakaian merah itu. Serangannya terkunci sehingga mau tidak mau ia harus menekan lawannya. Pada saat itulah jaraknya dengan lawannya begitu dekat. Saat tengah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk memenangkan adu kekuatan itu, matanya bertemu sekali lagi dengan mata zamrud itu. Untuk sesaat ia melihat sepasang mata itu seolah menyerang jauh kedalam dirinya. Konsentrasinya terpecah dan adu senjataitu berakhir dengan kekalahannya. Gan Ning mundur beberapa langkah. Saat melihat lawannya yang tetap tidak bereaksi apapun, kemarahnnya segera meluap. Ia semakin merasa seperti diejek oleh lawannya itu atas kekalahannya. Ia sekali lagi maju.
Di tengah bisingnya keadaan desa Pi Ling, sebuah suara lantang terdengar dari belakang duel satu lawan satu itu. Suara itu begitu mengejutkan Gan Ning. “Menyerahlah, bajak laut! Anak buahmu sudah kami tawan seluruhnya!”
Gan Ning memutar badannya. Di depannya sudah menghadang jendral pemberani yang membawa nunchaku itu. Dibelakangnya terdapat pasukan berbaju merah itu, masing-masing pasukan setidaknya menyeret dua orang pasukan bajak laut. Saat Gan Ning menoleh ke kanan, jendral bersenjatakan tombak itu yang menunggu dan di sebelah kiri jendral yang bersenjatakan sepasang pisau. Ia telah terkepung.
Baru kali inilah Gan Ning mengalami kekalahan telak dalam penyerangannya. Ini semua terjadi karena ia begitu meremehkan musuhnya. Akhirnya, setelah tangannya diikat, ia beserta seluruh pasukan bajak lautnya digirng masuk ke hutan Nan Xu.
Yes! Itu dia! Bagi yang sudah menunggu-nunggu kemunculan Gan Ning, silahkan menikmati sepuasnya! Bagaimana kisas selanjutnya? Apa yang akan dilakukan oleh Gan Ning yang tertangkap? Akankah ia dilepaskan dari pasukan penyelamat itu? Dan, siapakah jendral misterius itu? Saksikan di chapter berikutnya! (Cieeehhh... kayak promosi di film-film aja...)
Yah, sebentar lagi Epilog dari 'What's With the Fairy Clothes?' jadi! Tapi belum sekarang. Hehehe... sabar dikit, okay???
(Busyet! Gara2 keasyikan nulis FanFic, nilai ulangan harian Fisika pertama jadi hancur mumur! Hixxx... T_T)