Help
Home Just In Communities Forums Beta Readers Dictionary Search
: B s . A A A    : full 3/4 1/2   : E E   : Light Dark Games » Dynasty Warriors » Gentle Flame, Unconditional Love, Faithful Phoenix

PyroMystic
Author of 10 Stories

Rated: T - Indonesian - Romance/Drama - Lu Xun & Cao Pi - Reviews: 35 - Updated: 01-05-10 - Published: 10-11-09 - id:5434887

Yayayaya... aku minta maaf yang SEBESAR-BESAR-BESAR-BESAR-BESAR-BESARNYA! (Nah lo... kurang apa? Sudah huruf kapital, di-bold, underline, italic lagi... halah... nggak penting...) Itu semua bermula gara-gara keterima di Arsitektur (sampe sekarang senengnya masih ada). Sejak itu, entah kenapa jadi sibuuuuuuukkkkk.... banget! Mana lagi sudah menjelas UNAS... moga2 pemerintah, khususnya mentri pendidikan Indonesia (kalo nggak salah namanya Bambang Sudibyo) membatalkan UNAS...

Jadi, daripada aku ngereply review, mending langsung silahkan dibaca aja. Kalau ada pertanyaan yang BUTUH DIJAWAB (misalnya kayak nanya 'Emang Lu Xun sama Yangmei itu hubungannya apa sama Feng dan Huang?'), bakal aku jawab via PM ato Facebook. Kalo pertanyaan yang mengundang spoiler (contoh: 'Ntar endingnya Lu Xun ato Yangmei mati ato nggak?') nggak akan aku jawab, ato paling-paling cuma aku kasih hint.

BTW, khusus pertanyaan spoiler yang tadi bakal aku jawab, deh, biar nggak penasaran. DUA ORANG ITU BAKAL HIDUP SAMPAI AKHIR CERITA.

Nah, silahkan membaca!


Pagi-pagi sekali Yangmei sudah menunggu di gerbang pintu keluar kota Lu Jiang. Kejadian kemarin sungguh membuatnya heran, tetapi juga sekaligus senang. Setelah semua kejadian itu, sadarlah Yangmei bahwa ia dan Lu Yi memang sudah ditakdirkan untuk bertemu, meskipun dengan usia yang masih sebelia itu ia masih belum bisa mengerti semuanya. Sekembalinya mereka dari hutan, ia dibawa kedua orangtuanya ke tempat penginapan tempat mereka bermalam, dan mereka berusaha berbicara padanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Sementara Lu Yi sendiri langsung dibawa kembali ke rumahnya, atau lebih tepatnya, rumah pamannya.

Sebelum berpisah, mereka sempat berjanji untuk bertemu dulu. Kemungkinan besar Yangmei akan pulang hari ini, jadi tak mungkin mereka bisa bertemu lagi. Pertemuan terakhir ini akan ia pergunakan sebaik-baiknya. Ia sudah bangun pagi-pagi benar supaya kedua orangtuanya tidak tahu kalau lagi-lagi ia menyelinap keluar. Selain itu, Lu Yi sendiri juga biasanya akan sampai di hutan itu pagi-pagi benar. Anehnya, sampai matahari sudah terbit benar, barulah yang ia tunggu-tunggu datang juga.

Lu Yi berlari-lari kecil menghampirinya. “Maaf, Meimei! Aku terlambat, ya?” Katanya sambil mengatur nafasnya.

Yangmei melipat tangannya. “Iya! Kamu ini bagaimana, sih! Kukira kamu lupa janji kita!” Kemudian ia menggengam kedua tangan Lu Yi. “Kenapa kamu bisa telat? Padahal waktu kita kan tidak banyak?”

“Kemarin aku tidak bisa tidur...” Jawabnya pendek. “Karena itu aku...” Saat Yangmei meremas kedua tangannya itulah kata-kata Lu Yi terhenti. Ia memekik kesakitan sebelum melanjutkannya. “...aku bangun telat.”

“Tunggu sebentar.” Ekspresinya berubah serius. Yangmei mengangkat kepalanya untuk melihat kedua lengan Lu Yi. Alangkah terkejutnya ia saat menemukan kedua tangannya itu penuh bekas pukulan rotan. Cepat-cepat dilepaskan genggaman tangannya. “Siapa yang berbuat begini?” Tanyanya khawatir. “Siapa yang memukulimu, Lu Yi?”

Lu Yi segera menarik tangannya. “Tidak apa-apa...” Barulah Yangmei sadar bahwa sedari tadi Lu Yi terus-menerus menundukkan kepalanya. Dengan sedikit memaksa, gadis kecil itu merentangkan kedua tangannya untuk memegang kepala Lu Yi, kemudian mendekatkannya ke wajahnya.

“Oh, Tian!” Serunya kaget. “Lu Yi! Kenapa mukamu bisa luka-luka begini?!” Ia menatap wajah Lu Yi yang terdapat banyak garis-garis merah akibat dipukuli rotan. Saat diamati, ternyata tidak hanya wajah dan tangannya, tetapi juga kakinya luka-luka akibat pukulan rotan. “Bagaimana bisa begini? Siapa yang kejam begini memukulmu?”

“Sudahlah! Ini tidak sakit, kok.” Katanya mencoba menghibur. “Selain itu, memang aku pantas mendapatkannya. Ini hukuman untukku.”

“Kenapa kamu dihukum? Kamu kan orang baik?” Tanya putri kecil itu lagi. “Papa selalu bilang padaku kalau orang jahat itu yang dihukum, bukan orang baik! Kalau orang sebaik kamu dihukum, orang yang betul-betul jahat akan dihukum bagaimana?” Kata-katanya itu diselingi isakan pelan.

Lu Yi menggelengkan kepalanya. “Aku salah karena sudah membiarkanmu dalam bahaya. Seharusnya kejadian seperti itu tidak boleh menimpamu. Memang pantas aku mendapatkannya. Tidak apa-apa.”

“Pasti pamanmu yang memukulimu, kan?” Yangmei menebak. Barulah ia tahu mengapa Lu Yi bisa telat. Mungkin kemarin malam ia dipukuli oleh pamannya sehingga saat ia akan tidur, badannya sakit semua. Karena itulah akhirnya ia kesulitan tidur dan pagi ini dia telat bangun. Dalam hati Yangmei mulai memaki dirinya sendiri. Lagi-lagi karena kesalahannya, Lu Yi harus menerima hukuman. “Karena aku sudah punya kekuatan Huang, sini, biar kusembuhkan luka-lukamu.”

Lu Yi tidak menolak. Yangmei merentangkan tangannya, kemudian memeluk Lu Yi. Sentuhan gadis kecil itu lembut sekali hingga ia tidak merasakan kesakitan. Tiba-tiba saja tubuh kedua anak kecil itu mengeluarkan cahaya putih redup, sebelum mereka melepas pelukan mereka. Saat Lu Yi melihat kembali tubuhnya, rupanya luka-luka bekas pukulan rotan itu sudah tidak ada.

“Terima kasih, Yangmei.” Katanya sambil mengelus rambut Yangmei.

Kemudian keduanya keluar dari gerbang kota menuju ke hutan yang sama tempat mereka bermain kemarin. Kali ini mereka tidak lagi main sembunyi-sembunyian. Hari ini mereka memetik bunga-bunga liar yang tumbuh di hutan itu. Meskipun bunga-bunga itu liar dan dibuang-buang orang, nyatanya mereka lebih indah daripada bunga yang dirawat di kota. Mereka duduk dibawah pohon sambil melihat bunga-bunga yang sudah mereka petik. Yangmei dengan keahliannya merangkainya menjadi mahkota dan kalung.

Seekor burung kecil terbang merendah ke arah keduanya. Saat melihatnya, Yangmei segera meninggalkan pekerjaannya dan berlari mengejar burung itu dengan riang. “Hei, burung bagus! Kemari! Kutangkap kamu!” Tetapi, semakin dikejar, burung itu semakin jauh karena burung itu semakin terbang tinggi. Yangmei yang kesal menyentakkan kakinya dan berhenti mengejar, sementara burung itu melayang tepat diatasnya. Gadis kecil itu menuding-nuding. “Awas kau! Kalau aku sudah bisa terbang, nanti pasti kamu akan kutangkap! Lihat saja!”

Lu Yi hanya tertawa melihat kelakuan Yangmei. Ia pun berdiri menghampiri Yangmei dan burung kecil itu. “Bukan begitu caranya bersahabat dengan hewan.” Katanya pada Yangmei. Lu Yi mengangkat tangannya, kemudian ia bersiul pelan. Burung kecil itu pun hanya terdiam beberapa saat, namun kemudian akhirnya hinggap di jari Lu Yi. Melihat ini, Yangmei hanya bisa memandang kagum.

“Wah... hebat! Bagaimana bisa?” Tanyanya.

“Kalau kamu berteriak begitu, mana ada binatang yang tidak takut?” Lu Yi balik bertanya. Tiba-tiba burung itu bersiul, mengalunkan nada yang indah. “Burung-burung itu tidak suka ditakuti.” Yangmei memandang ke burung itu, kemudian ke Lu Yi. Saat melihat wajah Lu Yi, perasaannya mulai kacau. Belum pernah sekalipun ia melihat laki-laki yang begitu lembut. Buktinya, burung saja mau dekat dengannya, bahkan hinggap diatas tangannya. Saat Yangmei melihat tatapan matanya begitu menenangkan, ia menjadi kesal sekali. Mengapa bukan ia yang diberi tatapan begitu melainkan burung kecil itu?

Secepat kilat Yangmei menangkap burung kecil itu dalam genggamannya, seperti harimau yang siap menerkam mangsanya, sangat berbeda sekali dari Lu Yi. Untung bagi burung itu, ia sudah terbang terlebih dahulu. Melihat tingkah Yangmei yang kelewat kejam, Lu Yi hanya bisa melihat Yangmei dengan tatapan jengkel. “Kamu ini kenapa, sih?!” Tanyanya ketus. “Kan sudah aku bilang, burung itu tidak suka dikasari. Kalau kamu begitu, mana ada binatang yang mau mendekatimu?”

Yangmei menjatuhkan dirinya, duduk di bawah sebuah pohon. Dengan wajah cemberut ia menjawab. “Karena aku iri. Puas?”

Jawaban yang begitu terus terang membuat Lu Yi sadar bahwa Yangmei sebenarnya tidak bermaksud jahat pada binatang itu. Mungkin ia hanya kesal karena burung itu tidak mau mendekatinya. Lu Yi duduk di sebelah Yangmei, tetapi putri kecil itu malah berbalik arah, enggan melihatnya. “Kamu iri karena burung itu tidak mau mendekat padamu, tapi ke aku, kan?” Tebaknya.

Anehnya, Yangmei menggeleng kuat. “Justru sebaliknya.” Jawab Yangmei, masih tetap nada marah. “Aku iri pada burung itu! Kenapa setiap hari Lu Yi bisa ketemu burung itu, tetapi aku hanya bisa hari ini saja?” Ia mendengus kesal. “Apalagi, hari ini kan hari terakhir aku sama-samu Lu Yi, tapi kenapa Lu Yi malah menghabiskan waktu untuk main sama-sama burung itu? Sementara aku sama sekali tidak diperhatikan.”

Lu Yi tidak bisa berkata apa-apa lagi. Yangmei menjawab dengan begitu jujur, tanpa memperhatikan perasaan orang yang mendengarnya. Tetapi justru kepolosan itulah yang sangat Lu Yi sukai dari Yangmei. Ia tidak berusaha menutup-nutupi perasaannya, melainkan langsung mengungkapkannya. Lu Yi meletakkan tangannya di atas kepala Yangmei, kemudian bermain-main dengan rambut panjangnya yang diikat dua. “Kamu ini... kupikir kenapa. Ternyata kamu cemburu...”

“Iya! Aku cemburu, tahu!” Yangmei memutar tubuhnya, kemudian menatap Lu Yi dengan pandangan marah. “Hari ini kan Lu Yi sudah janji mau main terus sama aku! Mana boleh hal-hal lain diperhatikan? Lu Yi kan bisa ketemu burung itu kapan saja, tetapi aku kan hanya bisa hari ini!” Setelah mengatakan hal demikian, Yangmei tiba-tiba merasa malu sendiri. Bagaimana bisa ia cemburu pada seekor burung? Memangnya apa kelebihan burung itu dibanding dengannya? Karena penasaran dengan pertanyaannya sendiri, gadis polos itu pun langsung menanyakannya. “Menurut Lu Yi, mana yang lebih berharga, burung itu atau aku?”

Tak dapat menahan tawa lagi, akhirnya tertawa Lu Yi lepas. “Tentu saja Yangmei yang paling berharga buatku!” Jawabnya. Jawaban itu bukan dimaksudkan untuk menyenangkan hati Yangmei saja, melainkan jawaban itu benar-benar jujur. Dari apa yang hanya ia miliki sekarang, Yangmeilah yang paling berharga. Teman-teman, keluarga, dan kota tempatnya tinggal sudah hilang. Di Lu Jiang ini, ia tidak punya siapa-siapa. Yangmeilah satu-satunya yang mau bersamanya. “Kalau bisa, aku akan menukar seribu burung... bukan, seluruh burung di dunia ini hanya untuk bersama Yangmei!”

“Benar?” Matanya mulai berbinar-binar. Kemudian dengan semangat baru ia berdiri, memandang ke atas dan berseru sekuat-kuatnya. “Kalian dengar itu kan, burung-burung?” Tentu saja tidak ada satupun yang menjawab. “Hari ini aku mau pinjam Lu Yi satu hari saja, setelah itu akan aku kembalikan! Besok kalian bebas kalau mau main sama Lu Yi! Jadi, hari ini jangan ganggu kami, ya?” Tindakannya yang aneh ini membuat Lu Yi terhibur. Tanpa disadari ia pun tertawa lepas. Sudah berapa lama ia tidak tertawa seperti itu, ia tidak tahu. Yang pasti, hari ini hanyalah untuknya dan Yangmei saja. Ia ngin menghabiskan waktu yang berharga ini bersama sepuasnya.

Saat Yangmei berbalik memandangnya, keduanya melanjutkan saat-saat gembira mereka. Keduanya seolah lupa pada segalanya. Mereka bermain, tertawa, berbincang-bincang bersama. Sayangnya, waktu berlalu begitu cepat bagi kedua orang itu. Matahari sudah tepat di atas langit, membuat udara semakin panas. Saat siang terik itulah keduanya pulang kembali ke kota. Sebentar lagi Yangmei akan pulang, dan Lu Yi sangat ingin mengantar kepergiannya. Jadi, tanpa memperhatikan lagi perintah pamannya untuk tetap tinggal di hutan sampai tengah malam, Lu Yi berjalan masuk ke kota. Sepenjang perjalanan Yangmei terus merangkul tangan Lu Yi, sepertinya keduanya tidak mungkin bisa dipisahkan.

Dari sudut matanya, Lu Yi sekilas melihat sesuatu dari gang buntu di sebelahnya, sementara Yangmei tetap saja asyik bercerita sendiri. Ia menoleh ke belakang, kemudian menghentikan langkahnya. Yangmei yang tidak tahu apa-apa sampai hampir terjatuh karena ia berhenti begitu mendadak.

“Lu Yi kenapa, sih? Kok tiba-tiba berhenti?” Tanyanya bingung.

“Aku...” Lu Yi sendiri bingung harus menjawab apa. “Aku ada sedikit keperluan.” Jawabnya. “Kamu pergi dulu saja, Meimei. Nanti kita ketemu di gerbang kota.”

Ekspresi gadis kecil itu langsung berubah saat itu juga. “Keperluan apa lagi, sih?” Wajahnya cemberut. “Keperluan dengan burung-burung lagi, ya?! Lu Yi kan sudah janji hari ini mau terus sama-sama aku?”

“Mei...” Lu Yi berusaha menjelaskan dengan sabar. “Cuma sebentar saja, kok. Nanti aku pasti ketemu kamu lagi.”

Akhirnya, setelah dibujuk sedemikian rupa, Yangmei baru mengizinkannya pergi. Saat melihat Lu Yi yang berlari menjauhinya ke arah sebuah gang buntu yang gelap, Yangmei menjadi khawatir sendiri. Sampai Lu Yi benar-benar hilang dari pandangannya pun, ia tetap hanya berdiri mematung disitu. Hatinya memaksanya untuk mengikutinya, tetapi entah kenapa ia merasa sedikit takut.

Lu Yi berlari tanpa menoleh ke belakang lagi. Ia sebenarnya tidak tergesa-gesa, hanya saja ia sudah berjanji pada Yangmei untuk kembali secepatnya. Saat akan mendekati gang buntu itu, ia menghela nafas panjang sebelum berbelok. Gang buntu itu sempit, tetapi panjang. Yang membuntu gang itu adalah tembok sebuah rumah tua. Tetapi, bukan itu yang membuatnya harus menuju ke tempat itu.

“Aku...” Ia menunduk dalam-dalam. “...minta maaf.”

Di depannya berdiri beberapa bocah-bocah sebayanya yang menatapnya dengan tatapan sinis. Salah satu dari antara mereka maju, kemudian membentaknya. “Buat apa kamu masuk?! Ini kan masih siang! Kamu mau membawa bencana lagi, ya?”

Seorang lagi ikut-ikutan mencelanya. “Kamu itu mentang-mentang punya mata emas, lalu mengaku-ngaku kamu punya kekuatan Feng! Memangnya kamu itu siapa, sih?! Kalau menyelamatkan kota tempat tinggalmu saja tidak bisa, mana mungkin kamu punya kekuatannya Feng?!”

“Sekarang kamu berani masuk lagi ke kota ini!” Bocah lain mendorongnya. “Kamu kira kamu bisa seenaknya masuk keluar?! Kemarin juga kamu masuk gua yang ada Gerbang Mautnya! Akan kulaporkan kamu ke pamanmu! Biar diusir sekalian!”

Lu Yi mencoba membela dirinya. “Tunggu sebentar... Aku hanya di sini sebentar saja, kok. Aku cuma mau mengantar Meimei. Itu saja. Setelah itu aku akan kembali ke hutan.” Jelasnya.

Lagi-lagi ia didorong, kali ini sampai jatuh. “Meimei?! Kamu berani menyebut Putri kecil ‘Meimei’?! Kamu pikir kamu siapa?!” Bentaknya sambil menuding Lu Yi.

“Kamu ini sudah anak setan, berani berlaku tidak sopan pula!”

“Dia ini bisanya kan cuma membawa sial saja! Pasti nanti Putri kecil akan tertimpa celaka!”

“Iya! Memang kamu mau mebuat Putri celaka, kan?! Mengaku saja!”

Lu Yi tidak berani berdiri, apalagi membela diri. Sementara teman-temannya mengambil ranting-ranting untuk memukulinya, ia meringkukan tubuhnya sampai punggungnya menyentuh dinding tua itu. Karena tidak bisa lari lagi, ia hanya bisa berusaha melindungi tubuhnya dengan kedua tangannya sementara bocah-bocah itu memukulinya.

“Putri sangat baik! Kalau dia sampai bertemu orang sepertimu, pasti dia akan celaka!”

“Kamu mana boleh main dengannya?!”

“Dasar anak setan!”

Tiba-tiba terdengar langkah derap kaki seseorang. Dari jalan masuk gang, putri kecil itu muncul dengan wajah penuh amarah. Ia mendorong semua anak laki-laki itu, kemudian ia berdiri membelakangi Lu Yi dengan kedua tangannya direntangkan, seperti ingin melindunginya. Saat itu juga semua anak-anak itu menghentikan pukulannya.

“Kalian ini sudah gila, ya?” Teriak Yangmei lantang. “Mana boleh kalian bilang Lu Yi ini anak setan lah, anak pembawa sial lah?! Berani sekali kalian bilang begitu! Kalian kira kalian Tian, jadi bisa menghakimi orang seenaknya?!”

Ia mendengar suara Lu Yi dari belakang. “Meimei...”

“Lu Yi ini orang baik, kok kalian malah jahat padanya?!” Ia tetap memarahi mereka. “Orang yang baik kalian bilang jahat, orang yang jahat kalian bilang baik! Itu namanya kalian buta! Asal tahu saja, kalau tidak ada Lu Yi, pasti kemarin aku sudah mati!” Putri pemberani itu menuding mereka satu demi satu. “Lagipula, kalian beraninya cuma main keroyok sama! Mana berani kalau harus berkelahi sendirian? Pengecut! Justru kalau kalian menjahati orang baik seperti Lu Yi, aku yang akan jadi pembawa sial bagi kalian semua! Akan kulaporkan kalian! Biar ditangkap sekalian, lalu dimasukkan dalam kuali dan digoreng di minyak panas! Mampus kalian!”

Mendengar ancaman yang keras begitu, mereka malah melarikan diri. Dengan emosi yang masih meluap-luap, Yangmei mengambil beberapa bongkah batu, kemudian melempari bocah-bocah yang lari itu. “Pergi sana! Pergi jauh-jauh!”

Setelah puas menumpahkan amarahnya, Yangmei berbalik untuk melihat keadaan Lu Yi. Saat kedua pasang mata emas dan mata perak itu bertaut, mereka hanya bisa membisu sesaat. Tiba-tiba saja Lu Yi melihat ekspresi wajah Yangmei yang tadinya begitu merah padam karena marah berubah perlahan-lahan. Matanya mulai berair. Giginya menggigit bibir atas. Ia jatuh diatas kedua lututnya, kemudian memeluk Lu Yi erat-erat.

Dengan suara serak sehabis berteriak, Yangmei pun memarahi Lu Yi. “Kamu juga gila! Kukira kamu ada urusan apa, ternyata cuma urusan dengan bocah-bocah yang juga gila itu! Memangnya mereka lebih baik daripada aku, ya?!”

Tanpa menjawab pertanyaan itu, Lu Yi malah mengalihkan pembicaraan itu. “Meimei... kenapa kamu menangis? Kan kamu tidak apa-apa?” Ia merangkul Yangmei juga.

“Tidak apa-apa bagaimana?!” Balasnya kesal. “Kalau Lu Yi disakiti orang lain, aku juga bisa merasakan kesakitan Lu Yi! Makanya aku menangis! Apa kamu begitu butanya sampai tidak bisa melihat?” Ajaibnya, dari airmatanya yang mengalir, dan pelukannya yang erat itu, sakit di tubuh Lu Yi berangsur-angsur hilang. “Aku begitu sakit hati, sampai sesak rasanya! Tapi, Lu Yi tetap saja begitu bodoh tidak bisa melihatnya! Bodoh! Bodoh!”

“Iya...iya... aku minta maaf.” Lu Yi membelai rambut Yangmei dengan lembut. Kemudian, keduanya melepaskan pelukannya dan berdiri. Saat Yangmei mendongkak, Lu Yi bisa dengan jelas melihat matanya yang bengkak karena terus-terusan menangis dua hari ini.

“Lu Yi...” Dengan suara pelan, Yangmei berkata lagi. “Papa dan mama selalu bilang hao ren hao bao, hao ren yi sheng ping an, orang baik pasti dapat balasan yang baik, orang baik pasti selalu tentram. Tapi, kenapa sih Lu Yi punya banyak musuh? Padahal Lu Yi kan orang baik?” Sebelum Lu Yi bisa mebalas, Yangmei sudah meneruskan kata-katanya. “Lu Yi kan punya banyak sekali musuh? Jadi, jangan dihadapi sendirian. Lu Yi kan masih punya aku?” Nada suaranya semakin melembut. “Dulu, waktu papa masih berjuang untuk memeperluas kerajaan Wu, dia juga punya banyak musuh. Tapi, dia juga punya banyak teman, makanya sekarang Wu bisa begini jaya. Bukan cuma papa, dulu kakek pun juga begitu! Jadi, sebenarnya teman itu penting. Bagi Lu Yi, aku juga teman Lu Yi, kan?”

Semakin melihat wajah Yangmei yang begitu polos dan manis, perasaan aneh semakin kuat dalam dari Lu Yi. Ia tersenyum lembut sebelum menjawabnya. “Tentu saja. Meimei kan temaku yang paling baik.”

Senyum gadis kecil itu mengembang. “Aku senang sekali Lu Yi bilang begitu! Tapi...” Ia berhenti sejenak. “...berarti kalau aku pergi, Lu Yi pasti tidak punya teman lain. Sudah, begini saja! Bagaimana kalau Lu Yi ikut aku saja ke istana? Di sana banyak orang baik yang juga pasti bisa jadi teman baik Lu Yi! Nanti setiap hari kita bisa bermain, dan tidak ada orang-orang yang akan mengganggu Lu Yi. aku juga bisa bersama Lu Yi setiap saat!” Ia berkata penuh harap.

Ajakan itu sungguh sangat ingin ia setujui. Sayang sekali hal itu tidak akan terjadi. “Mana bisa begitu?” Ia menghela nafas menyesal.

“Lho? Kenapa?” Senyum Yangmei mulai pudar. “Jangan-jangan Lu Yi masih lebih sayang burung itu daripada aku, ya?”

“Tentu saja bukan!” Ia menggeleng keras. “Tapi, Meimei kan seorang putri? Aku kan cuma rakyat biasa? Mana bisa aku tinggal di istana? Bisa-bisa papamu marah padaku.”

Tiba-tiba, dari belakang kedua anak kecil itu, suara dari sang penguasa Wu terdengar.

“Tentu saja tidak.”

Keduanya menoleh, menemukan Sun Ce dan Da Qiao berdiri memperhatikan mereka dari jalan masuk gang itu. Keduanya berjalan mendekati mereka. Segera saja Yangmei berlari menyambut mereka, kemudian memeluk kedua orangtuanya. Lu Yi yang begitu terkejut hanya bisa berkowtow, yaitu cara memberi hormat dengan cara menjatuhkan dirinya, berlutut kemudian membungkuk dalam-dalam sampai kepalanya menyentuh tanah.

“Yang mulia Kaisar! Hamba mohon ampun...”

Sun Ce tertawa. “Untuk apa harus mohon ampun? Kamu sudah begitu baik pada Yangmei, apalagi melindunginya kemarin. Justru kamilah yang harus berterima kasih padamu!” Ia mendekati bocah yang berlutut itu, kemudian mengangkatnya. “Kami sudah dengar semuanya dari Meimei. Mulai sekarang kamu tinggal bersama kami di istana.”

“Jangan khawatir...” Da Qiao berjalan mendekatinya. Wajah Yangmei yang manis itu pasti merupakan warisan ibunya yang cantik seperti bidadari itu. “Kami sudah berbicara pada pamanmu. Sekarang kembalilah, kemasi barangmu. Kita akan meninggalkan tempat ini menjelang sore.”

Sekarang, Lu Yi benar-benar tidak tahu harus membalas apa. Ia hanya menunduk. Sudah lama ia menantikan saat ia bisa keluar dari kota Lu Jiang ini. Bahkan seandainya pun ia harus keluar sebagai pengembara, ia bersedia. Tak tahunya, sekarang ia malah diajak tinggal di istana. Sungguh ini merupakan suatu kebahagian yang melebihi akalnya. Matanya kemudian bertautan dengan Yangmei, dan ia pun semakin bersyukur. Mulai sekarang ia bisa bersama Yangmei setiap hari. Tanpa disadari, air mata mengalir membasahi pipinya, tetapi cepat cepat ia menghapusnya. Ia berbisara suara pelan, setengah berbisik. “Terima kasih, Yang Mulia. Kemurahan hati Yang Mulia Kaisar sungguh melampaui pikiran.”

--

Beberapa jam kemudian, rombongan dari Jian Ye sudah bersiap untuk meninggalkan kota Lu Jiang. Kereta kuda sudah disiapkan. Kuda-kuda bersiap untuk berangkat. Lu Yi masih merasa sangat canggung bersama dengan orang-orang dari kerajaan, namun kehadiran Yangmei yang ceria serta Kaisar dan Permaisuri yang hangat membuatnya mudah menyesuaikan diri. Persiapannya tidak begitu lama, sebab sebenarnya ia tidak pernah memiliki barang apapun untuk dibawa olehnya. Yangmei menarik tangan Lu Yi masuk ke dalam kereta kuda. Da Qiao sudah duduk di dalamnya sedari tadi sambil menunggu kedua anak kecil itu. Lu Yi duduk berhadapan di depan sang permaisuri.

Biasanya Yangmei akan duduk di sebelah ibunya, tetapi dengan adanya Lu Yi, putri kecil itu sekarang duduk di sebelah Lu Yi. “Mama! Kali ini duduk dengan Lu Yi saja, ya?” Pintanya. Ibunya pun mengizinkan.

Dari jendela, mereka menyaksikan orang-orang kota Lu Jiang melambai-lambaikan tangannya. Ketika Lu Yi saling berpandangan dengan bocah-bocah yang menjahatinya tadi, mereka menatapnya dengan perasaan iri. Yangmei yang peka dengan ini segera menghibur Lu Yi. “Sudahlah, kamu jangan memperhatikan mereka. Mereka itu cuma orang-orang yang iri saja.”

Rombongan itu akhirnya memulai perjalanannya. Lu Yi masih terus saja menatap kota tempat ia menghabiskan empat tahun masa kecilnya dalam kesusahan. Ia begitu tak percaya dengan apa yang terjadi. Mengharapkan untuk bisa melihat ibukota saja tidak pernah, kini di usianya yang masih delapan tahun ia boleh tinggal di istana bersama Kaisar, Permaisuri, dan terutama Putri kecil. Saat kota itu mulai menghilang dari pandangannya, ia mulai merasakan bagimana rasanya kebebasan itu. Sekarang, tak ada seorangpun yang akan mengejeknya atau menjahatinya lagi. Selamat tinggal, Lu Jiang. Selamat tinggal, kota yang tidak bersahabat.

Di tengah lamunannya itu, Da Qiao tiba-tiba memanggilnya. “Lu Yi?” Ia segera memalingkan kepalanya untuk memandang permaisuri itu. “Kau tidak sedih kan harus meninggalkan Lu Jiang?” Tanyanya prihatin.

“T-tentu tidak, Pemaisuri.” Ia menjawab dengan sedikit terbata-bata.

“Kau tahu kenapa kami memutuskan untuk membawamu?” Lu Yi menggelengkan kepalanya. “Kami memembawamu karena tempat satu-satunya yang aman untuk menyembunyikanmu dari kerajaan lain adalah istana di Jian Ye. Dengan begitu, baik kerajaan Wei maupun Shu tidak bisa dengan begitu mudah menangkapmu, seperti kejadian di Wu Jun itu.”

Mendengar nama kota itu disebut, Lu Yi hanya bisa mengangguk sedih. Bayangan kota kelahirannya itu kembali memenuhi memorinya, membuatnya teringat kejadian mengerikan yang menimpanya dan seluruh penduduk. Yangmei menyadari perubahan pada ekspresi Lu Yi, kemudian ia mengomel. “Mama ini bagaimana, sih? Lu Yi kan bisa sedih kalau mengingat Wu Jun? Kenapa malah mama bawa-bawa lagi topik itu?” Karena hal ini, Lu Yi langsung menoleh ke arah Yangmei, menggelengkan kepala sambil memberikan seulas tipis senyum.

Permaisuri tertawa kecil melihatnya. Ia melanjutkan. “Ada alasan penting lainnya,” Da Qiao melanjutkan dengan suara dan wajah yang lebih serius, membuat kedua anak itu menoleh ke arahnya. “Kemarin, setelah kami perhatikan, ternyata kamu memang mewarisi kekuatan Feng. Karena itulah kamu tidak mati saat melindungi Meimei. Sementara Meimei mewarisi kekuatan Huang. Sungguh ini kebetulan yang luar biasa!” Ia berseru mantap. “Dari legenda yang kami dengar, Feng dan Huang itu adalah Phoenix yang begitu setia satu dengan yang lain. Jika yang satu mati, maka yang satu pun akan mati. Keduanya selalu bersama. Akhirnya, daripada membuat kalian terpisah, kami kira lebih baik jika kalian bersama, seperti Feng dan Huang.” Jelasnya panjang lebar.

“Bagus itu!” Yangmei berseru kegirangan. “Lu Yi dan aku sama-sama punya kekuatan Phoenix! Bukankah itu bagus sekali?”

Da Qiao mengangguk. “Karena itulah, mungkin kabar ini terlalu tiba-tiba dan mengejutkan bagi kalian.” Ia berhenti saat menyaksikan wajah kedua anak yang penasaran itu. “Nanti, jika kalian berdua sudah memasuki usia pernikahan, kalian berdua akan menikah dan menjadi sepasang suami-istri.”


DOEEEEENGGGG!! Aku ngerti deh pasti semuanya kaget, kan? Nah, di China dulu itu emang orang dijodohkan itu dari kecil, bahkan sebelum lahir pun kadang sudah dijodohkan! Jadi, kalo Lu Xun sama Yangmei sudah dijodohkan mah nggak heran...

sekali lagi, kalo ada yang belum jelas dan mau nanya, langsung aja via review... nggak perlu sungkan-sungkan...



Return to Top