Help
Home Just In Communities Forums Beta Readers Dictionary Search
: B s . A A A    : full 3/4 1/2   : E E   : Light Dark Anime/Manga » Saint Seiya » Antara Benci dan Rindu

Saint-Chimaira
Author of 16 Stories

Rated: K+ - Indonesian - Humor/Friendship - Shura & Milo - Reviews: 5 - Published: 10-27-09 - Complete - id:5471391

A/N : Diliat dari judulnya juga, pasti udah pada tau kalo ini Song fic. Salahkan CeleronM yang udah bikin lagu ini begitu berjaya di Fanfic Chain Letternya Saint Holic, dan salahkan Yukitarina yang udah ngasih source rapidshare buat donlot lagu ini!! Mana donlotnya pas pelajaran kampus, ngakak-ngakak sendiri sampe diiatin dosen. Habis itu, lagu ini wajib menemani tiap hari ^^

Ketik REG (spasi) LAWAS!!! Antara Benci dan Rindu by Ratih Purwasih

---

Antara Benci dan Rindu
by St. Chimaira

---

Hari itu malam remang-remang. Cahaya bulan pun serasa pudar ditelan oleh awan mendung yang merangkul seluruh area Sanctuary. Hujan turun dengan deras, membuat para Gold Saint meringkuk dengan nyaman di kediamannya masing-masing. Disaat seperti itu, masih saja ada orang yang merenungi hujan di teras istananya.

Milo dengan ditemani Aiolia di Istana Scorpio, menghabiskan sisa malam di teras luar sambil bergosip. Suara dan gelagak tawa mereka kadang kala terdengar sangat heboh, namun mereka cuek-cuek saja karena suara mereka disapu oleh derasnya suara hujan.

Di tengah-tengah percakapan mereka yang kian asik, mereka melihat Shura sedang berjalan menaiki tangga Sanctuary dengan muka sendu, sambil berlindung di bawah payung hitam.

”Ngapain tuh, si Shura??” tanya Milo pada Aiolia sambil melongo dari balik teras istananya, mengamati gerak-gerik Shura yang berasa tanpa nyawa.

“Tauk, malem-malem gini.. Ujan deres lagi.. Jangan-jangan...” Aiolia tidak meneruskan kalimatnya, berharap Milo tau apa maksud dari kata-kata tersebut.

Milo hanya menengok pada Aiolia dan melemparkan senyumnya yang paling mesum.

Shura hanya berjalan lunglai, pandangannya menerawang. Langkahnya kemudian terhenti, hanya diam memandangi hujan yang makin lama makin deras.

”Oooooooiiiii!!!! Shuuuuuurrrr!!!! Ngapain loe disitu ujan-ujanan???” teriak Milo.

”Dia ga ujan-ujanan, bego! Masa lu ga liat dia pake payung??” sergah Aiolia

“Sama lah kira-kira kaya gitu..”

Shura hanya mendongak, memandang mereka sekilas tapi tidak menjawab apapun, lalu kembali bengong menatap hujan.

”Kayanya ada yang salah deh, Lia. Kita satronin aja si Shura”

“Iya, deh.. Wajahnya udah sendu gitu takutnya jangan-jangan dia mau bunuh diri lagi..”

Milo dan Aiolia yang merasa ada keanehan pada Shura segera mengambil payung yang ada di belakang pintu istana Milo. Payung yang ada di situ semuanya berwarna-warni dan bermotif. Ada yang bunga-bunga, ada yang motif permen, sampai ada yang bergambar telletubies.

”Milo, kamu ga punya yang ga ada motif bunga-bunganya, apa???” tanya Aiolia yang sibuk nyari payung dengan warna polos.

”Itu hadiah dari bank. Udah pake aja, daripada keujanan” kata Milo seraya membuka pintu depan istananya.

Setelah sibuk memilih payung akhirnya mereka keluar istana dan menuju ke tempat Shura berdiri. Shura yang tadi berdiam diri akhirnya angkat bicara setelah mereka berdua datang.

”Lama banget sih loe berdua. Huacchih!!! Gua kedinginan nih, nunggu disini ujan-ujanan!! Huacchih!!!!” Shura ngomong sambil bersih-bersin karena keujanan.

”Lah, kenapa juga kita yang harus kesini?? Harusnya kan kamu sendiri bisa dateng ikut ngegosip di atas. Udah tau dari tadi kita panggil-panggil dari teras” Milo yang tadinya udah khawatir berat langsung ilfeel dan marah-marah ke Shura.

”Soalnya aku mau curhat....” suara Shura semakin pelan dan ia menundukkan kepalanya.

”Emangnya kalo curhat harus di tengah ujan???” kata Milo masih marah-marah.

”Mungkin dia mau ngikutin film india, ngobrol-ngobrol di tengah ujan. Mumpung istana kita banyak tiang yang bisa dipake nari-nari” kata Aiolia menimpali.

”Ngaco loe..” Milo menatap Aiolia dengan dahi mengernyit.

“Soalnya kalo di jalan ini, gue inget dia...” Shura kembali menerawang menatap hujan

“Inget sapa?” tanya Aiolia bingung.

“Inget dia.. Dulu gua berdua jalan-jalan disini sama dia” katanya lagi.

“Ni orang sarab ya?? Masa kencan ga ada tempat lain?? Lapangan luas kek, ato cafe remang-remang.. Kencannya malah olahraga naik turun tangga Sanctuary??” bisik Milo ke Aiolia, berhati-hati agar Shura tidak mendengar apa yang ia katakan.

”Makin takut ni, gue.. Dia sebenarnya kenapa sih?? Jarang-jarang kaya gini.. ” balas Aiolia berbisik pada Milo.

”Apapun itu yang mau kamu curhatin, mending kita cari tempat nyaman, biar kamu bisa keluarin semuanya, biar POL!! Sekarang hayu, masuk istana aku aja” ajak Milo sambil menarik paksa tangan Shura.

Setelah diam sejenak dan berpikir, akhirnya ia memutuskan untuk ikut juga menuju istana Scorpio.

”Eh, Shur.. Tunggu dulu!” kaki Shura baru mau melangkah kalau Aiolia tidak memanggil untuk menghentikannya.

”Apa?” tanya Shura datar.

”Err... itu...” Aiolia merasa tidak menemukan kata-kata yang tepat. Ia hanya memutar bola matanya dan garuk-garuk kepalanya. ”Gantian payungnya donk.. Aku malu pake payung bunga-bunga gini. Soalnya Milo ga punya payung motif lain.. Getek nih..”

Shura dan Milo hanya terdiam memandang saint Leo tersebut, sebelum akhirnya bertukar payung dengan Milo yang motif bunga-bunganya lebih norak daripada yang dipilih Aiolia.

----------------------------------------------

Milo menyeduh teh ke dalam 3 buah cangkir dan menaruhnya dalam nampan. Uap panas yang muncul dari teh terasa menjadi penghangat di tengah udara yang begitu dingin. Aiolia menemani Shura duduk di teras depan, dan Milo menyusul bergabung dengan mereka berdua sambil membawa teh beserta satu toples penuh biskuit coklat.

”Coba, Shur, ceritain deh uneg-uneg kamu biar lega. Soalnya keliatannya kamu lagi depresi berat” Aiolia berusaha menghibur Saint Capricorn yang emang mukanya berlipat-lipat dan manyun mulu.

”Enggak...”

”Apanya?” sergah Milo tiba-tiba. Tangannya mengambil satu buah biskuit dari toples

“Aku cuma tiba-tiba inget dia pas lewatin jalan Sanctuary tadi..”

“Kalo beribu-ribu tangga tadi sih tiap hari juga kita lewatin. Kenapa baru sekarang ingetnya??” tanyanya lagi.

“Soalnya ujan.. terus pas aku bawa payung item..”

“Hah???” Milo bingung sampai berhenti mengunyah biskuitnya.

“Makin ga jelas nih.. coba jelasin dari awal deh, Shur” Aiolia menengahi dan memberhentikan cecaran Milo terhadap Shura.

“Ok, ok.. Pertama, apa yang kamu inget?” tanya Milo lagi.

”Ini jadinya kaya sesi intrograsi..” kata Shura mulai merasa jengah.

”Kan kamu sendiri yang mau curhat. Tapi dari tadi diem mulu, jadi kita ganti tipe curhatnya. Ntar masalahmu ga selesai loh, Shur. Kamu masih banyak kerjaan, masih harus jagain Athena, masih harus latian buat memperkuat excaliburmu, bantuin Aphrodite motong rumput, masih banyak macem-macem. Jangan membuang waktumu bengong buat hal yang harusnya bisa kamu curhatin” kata Milo mulai ceramah.

”Pertama....” Shura diam dulu sejenak. ”Aku inget dulu pas ujan turun, aku berlindung di bawah payung hitam itu, dan berjalan berdua dengannya di tangga itu.”

“Kalo boleh tau, siapa orangnya?? Biar kita bisa tau lebih jelas” tanya Aiolia hati-hati.

Shura kembali terdiam dan menunduk. Ia merasa enggan untuk memberitahukan orang kedua yang ia ceritakan. Aiolia sadar ia salah bertanya, Ia kembali menggaruk-garuk kepalanya dan melirik Milo untuk minta bantuan.

“Oke, kita ga akan nanya orangnya siapa. Kita bantuin aja lewat dialog” kata Milo memberi keputusan dan meneguk teh panas yang ada di atas meja.

”Dialog?” tanya Shura.

”Anggaplah aku itu orang yang kamu maksud, jadi ceritanya kamu bisa langsung ngomong ke orang yang bersangkutan. Ntar Aiolia yang jadi pengamatnya, dan bakal ngasih kamu saran buat hasil curhat kamu nanti”

”Bisa juga sih.. Aku setuju-setuju aja” Aiolia mengiyakan. Shura cuma diam sambil berpikir.

”Gimana Shur? Mau ga?” tanya Milo dengan melemparkan senyum nakalnya.

Shura hanya mengangguk kecil.

”Untuk ganti nama orangnya, coba cari panggilan lain yang bisa kita pake buat alat peraga. Kamu biasanya manggil dia apa?” tanya Milo lagi.

”Gua manggil dia ’sayang’” jawabnya dengan enggan.

Aiolia kaget sampai menjatuhkan biskuit dari batas bibirnya.

”Edan!! Ada angin apa loe manggil orang pake ’sayang-sayang’?? Sejak kapan loe jadi romantis gitu???” tanya Aiolia takut-takut.

”Tuh kan, gua salah ngomong mulu. Loe pada mikir donk, gua udah malu banget cerita ginian ke kalian, sekarang kaliannya malah ngejek!! Gua pulang aja ah!!” Shura bangkit dari duduknya. Mukanya merah padam karena malu.

”Eh.. Sori.. Sori... Iya, maap.. Duduk dulu lagi deh....” cegah Aiolia sambil nunduk-nunduk minta maaf.

”Iya, sini, yang. Duduk dulu. Kita cerita-cerita lagi” kata Milo pada Shura sambil senyum yang dibuat-buat. ”Lia, loe diem aja deh. Anggap aja sekarang loe lagi nonton opera sabun. Mungkin agak getek dikit, tapi tahan aja yah..” bisiknya kepada Aiolia yang duduk di sebelahnya.

“Kayanya bakal banyak geteknya.. tapi berhubung demi keutuhan para Gold Saint, dan kita butuh Shura yang dalam keadaan fit buat jaga Sanctuary kita, jadinya aku tahanin aja deh..” jawab Aiolia ragu-ragu.

Shura kembali duduk di tempatnya semula. Milo bergeser mengambil tempat duduk di sebelah Shura biar makin akrab. Setelah dapet posisi wuenak dan Shura udah mulai bisa mengendalikan dirinya, Milo menarik nafas dan melirik pada Aiolia di depannya.

“Yo’i!! Ayo kita mulai. Lia, coba beri aba-aba”

“Hah?? Curhat perlu aba-aba??”

“Biar kaya sinetron. Udah, cepetan!!” desak Milo.

“Eh... Err... Kamera siap, mikrophone siap, speaker siap, tukang akting siap, tukang aba-aba siap, tukang baso, tukang teh botol juga siap! Take dua puluh tujuh, akting mulai!!” teriak Aiolia. Dia udah ga mikir kata-kata yang keluar dari mulutnya. ”Duh, gua udah kaya orang goblok, mau-mau aja ikutan kaya ginian...”

“Apa yang kamu inget dari aku, yang?” tanya Milo memulai, berpura-pura jadi orang yang dimaksudkan oleh Shura.

”Saat hujan di jalan itu.. Payung aja ga cukup. Tubuh dan rambutmu tetep basah”

”Kamu membiarkan aku kebasahan?” tanyanya tenang.

”Ya enggak lah.. Aku hapus dengan sapu tanganku, biar ga ada satupun bulir hujan yang bisa bikin kamu sakit”

’Mamiiiiiiiii!!!!!! Jijik pisaaan~~~~’ teriak Aiolia dalam hati. Ternyata dalam hati Milo, ia juga berteriak hal yang sama.

”Kita udah lama banget ga bicara berdua. Biasanya kamu duduk di sampingku, yang. Kita cari tempat sepi, terus nemu tukang es krim yang lewat. Aku pasti beli es krim coklat, kamu beli es krim vanila. Terus kita duduk dan bercerita. Kamu paling suka kalo kita ngebicarain laut biru. Disana banyak banget tumpuan harapan dan impian. Kelak kamu bilang kita akan mengarungi laut biru berdua..” Shura kembali terdiam.

”Lalu??” tanya Milo menunggu jawaban Shura.

”Kamu sakitin hatiku, yang..”

”Apa salahku, sayang?? Tanya Milo yang udah mulai gerah dengan pemakaian kata-kata yang terlalu lebay dalam percakapan yang ga guna ini.

”Harusnya kamu nyadar, kamu udah mengingkari janji kita berdua. Kamu udah ga mau lagi kita bersama-sama. Kamu khianatin cinta aku, yang!!” katanya dengan nada frustasi.

”Aku benci banget sama kamu, tapi aku rindu!! Aku pengen ketemu kamu lagi!! Antara benci dan rindu disini bikin aku pusing, sampai mau nangis rasanya. Sediiihh!!!!” kata Shura dengan suara terbata-bata. Milo yang tidak bisa berkata-kata hanya mengelus punggung Shura untuk menenangkannya, sementara Aiolia yang ga ada kerjaan sibuk menghabiskan biskuit dalam toples. Dia bahkan sempat pergi ke dapur 2 kali untuk nambah teh.

”Yang, pernah ga, kamu bermimpi, kalo-kalo kita bersatu bagai dulu lagi?? Kalo bisa kan kejadian kaya gini ga bakalan ada..” Shura berhenti sebentar dan menghapus setitik air mata yang jatuh ke pipinya. Kita ga akan pernah bersedih, ga akan menangis kaya gini, gara-gara aku rindu sama kamu.” Shura kembali menyapu air matanya.

”CUT!! CUUUT!!!!!” teriak Aiolia mantap.

Milo yang bahkan belum ngomong apapun untuk menenangkan Shura hanya bisa terbelalak kaget mendengar putusan Aiolia yang tiba-tiba menghentikan akting mereka berdua.

”Dasar masalahnya udah jelas, sekarang yang penting solusinya” kata Aiolia sambil berdiri dan berkacak pinggang.

”Yeah.. Tanya aja sama Galileo...” timpal Milo dengan nada malas.

“Milo, oke-oke aja kalo kamu mau nerusin opera sabun ini, tapi tolong pikirin perasaan penonton donk! Kenapa aku harus ngeliatin kalian berdua duduk bermesraan deket-deketan begitu??” katanya juga tak kalah malasnya.

”OMG, kita temen gitu loh.. Loe mikirnya kejauhan” kata Milo berusaha menyudahi pembicaraannya dengan Aiolia.

”Jadi, sebenarnya, dia mengkhianati kamu itu dengan cara apa?” tanya Milo pelan.

“Tadi kan udah dibilang, kita sering banget ngobrol tentang laut biru, untuk menjadi tumpuan impian dan harapan kita.” jawabnya.

“Iya.. lalu..?” tanyanya hati-hati.

”Kamu inget tukang es krim yang selalu ada di pinggir pantai tempat kita kencan itu kan?? Yang ada di sebelah laut biru tempat kita selalu ngobrol berdua itu loh”

”Iya, tau. Yang kamu beli es krim coklat terus aku beli es krim vanila itu kan?” jawab Milo sambil ketawa-ketawa.

”Sekarang aku tau kenapa kalo beli es krim kamu terus yang bayarin!! Kamu biarin dirimu beliin buat aku, aku disuruh duduk nunggu di bangku sementara kamu nyamperin tukang es krim buat beli barang empat sampai lima batang es krim. Udah gitu lama lagi belinya. Aku bisa nunggu sejam sampai dua jam, begitu kamu balik es krimnya udah cair, kamu cuma minta maaf sambil senyum-senyum manis”

Aiolia yang udah mulai males balik duduk di sofa, mengambil toples dari atas meja dan mengeruk sisa-sisa biskuit dari toples, sampai akhirnya Milo sadar dan melempar Aiolia dengan bantal.

“Kamu selingkuh sama tukang es kriiiim!!!!!” teriak Shura sambil sesenggukan.

”Bujubuneng buset!! Ga ada selingkuhan yang lebih baik gitu????” kata Aiolia yang hampir menjatuhkan toples biskuit dari pangkuannya.

”Sekarang kamu malah mengarungi laut biru bersama dengan tukang es krim itu, bukannya sama aku, yang!! Aku sedih pisan....Huuu~~~~”

”Edan, lebay pisan Shur.. Nyadar donk kamu tuh Saint-nya Athena loh. Apa kata dunia kalo saint-saint lain ngeliatin kamu kaya gini. Untung cuma kita berdua yang denger, jadi bisa jaga rahasia.” bisik Milo menenangkan Shura. Badannya udah pegel dan tidak menemukan lagi posisi wuenaknya.

’Kecuali pembaca’ pikir Aiolia

Milo menawarkan segumpal tissue yang langsung habis dipakai oleh Shura. Aiolia yang sudah membersihkan seluruh isi toples dan cangkir teh akhirnya memulai pembicaraan selama sekian lama mereka bertiga diam dalam kegalauan.

“Jadi benci??” tanya Aiolia

“Rindu sih..”

“Yakin rindu??” timpal Milo

“Agak benci juga sih..” jawabnya ragu-ragu.

“Jadi benci ato rindu nih??” tanya Aiolia lagi.

“BENCI LAH!! Dia udah sakitin gue gitu??? Gimana ga benci..” kata Shura agak marah.

”Kalo dia senyum kaya gini.. Kamu marah ga, yang???” tanya Milo seraya melemparkan senyumnya yang paling manis.

”GUE CINTA!!! GUE RINDU!!!! Rindu banget lagi.. Apalagi kalo nginget wajah dan senyum dia.. Wajahmu mengalihkan duniaku.... Oooooh~~~~ Serasa dunia runtuh.. Pengen marah, tapi ga bisa..” Shura mencengkram kedua pelipisnya, bingung menatap lantai.

”Benar kumencintaimu~~~ tapi tak beginiiiii~~~~~~~~ kau khianati hati ini, kau curangi akuuuu~~~~~~~”

”Heh, jangan malah nyanyi lagunya Anang, dodol!!! Sekarang lagunya lagi Antara Benci dan Rindu!!!” kata Milo sambil mukul kepala Shura.

”Sulit banget sih, cerita cinta loe, sayang” kata Aiolia sambil menghela nafas.

Milo hanya tersenyum hangat dan menatap Shura di hadapannya ”Kamu mau tau ga jawabannya??”

Shura mendongak menatap mata Saint Scorpio. Hujan deras masih mengguyur Sanctuary, masih membawa kenangan buruk yang sebenarnya ingin dilupakan oleh prajurit loyal Athena itu, tapi Milo dan Aiolia hadir sebagai teman baik yang ingin menghapus ekspresi sedih dan bingung dari wajah pemilik jurus Excalibur itu.

“Yang, seperti yang kamu ingat saat itu, hujan turun lagi, seperti malam ini. Dan ketika aku lewati jalan itu, aku juga ingat engkau, yang.”

”Njiss... beneran, getek...” kata Aiolia pada diri sendiri. Bulu kuduknya merinding mendengar percakapan mereka berdua.

”Aku juga ingat, pas kita basah-basahan ala film India itu, rambut dan tubuhku basah. Persis kaya klipnya Backstreet boys yang ‘Quit Playing Game with My Heart’. Cuman bedanya mereka tetep kebasahan dan masuk angin, sedangkan aku? Kamu menghapus air hujan itu dengan sapu tanganmu, yang” kata Milo berusaha agar suaranya tidak terdengar bergetar saking geteknya.

”Kecuali kalo sapu tangannya ikut basah juga, ya kalian berdua masuk angin” ujar Aiolia tenang.

Shura hanya mendengarkan kata-kata Milo dalam diam. Milo merapatkan duduknya menempel pada bahu Shura yang hangat, menggenggam tangan dan menenangkannya.

”Aku pun rindu padamu. Aku juga ingin duduk disampingmu, bersamamu.” katanya menepuk-nepuk punggung tangan Shura.

”Kita banyak cerita tentang laut biru, tentang langit biru. Karena disana tumpuan impian dan harapan” katanya lagi.

Milo melepaskan genggaman tangannya dan berdiri mengadap Shura. Milo mengambil nafas dalam sebelum meneruskan bicaranya.

“Tapi sayang, impian itu bukan bersama kamu, yang” katanya mantap

Aiolia terbelalak kaget dan tersedak teh yang dia tambah untuk ketiga kalinya. Shura juga akhirnya mendongak heran menatap Milo di hadapannya.

”Kok kamu malah menjatuhkan sih, Milo?? Bukannya bantuin dia buat tegar?” tanya Aiolia heran

”Udah, diem aja. Ini klimaksnya nih. Gua bertaruh banyak supaya ga dihajar pas bagian ini. Lu doain gua aja supaya ga terjadi apa-apa” katanya pada Aiolia dengan suara kecil dan bibir yang hampir tidak bergerak. Ia kemudian menghadap ke arah Shura lagi dan menatap matanya.

”Mungkin ternyata kamu ga sesuai dengan harapanku. Aku punya kekurangan, kamu juga punya kekurangan, dan ternyata hal itu ga bisa bikin kita bersatu, walaupun cintaku padamu begitu besar” katanya lagi.

Shura menatap Milo dalam diam

”Sementara aku ingin meneruskan impian dan harapanku bersama kamu, tapi ternyata kamunya sibuk jadi Saint Athena. Diem terus terkurung dalam istana, hanya melakukan apa yang diperintahkan dewimu padamu, yang”

”Dengan kata lain, kamu lebih mencintai dewimu dibandingkan aku. Apa aku juga ga bisa jadi Dewimu yang bisa kamu puja-puja??”

”Milo, lu udah kelewatan ngomongnya..” kata Aiolia berusaha menghentikan perjakapan yang makin ga jelas. ”Lu kalo dihajar Shura bisa-bisa gepeng loh..”

”Ternyata, tukang es krim itu lebih bebas. Dia bisa pergi kemana kapanpun, tidak terikat tugasnya yang berat. Saat mengarungi laut, aku bisa sambil makan es krim, gratis lagi, ga perlu bayar”

Milo mendekati Shura dan berlutut di hadapannya serta kembali menggenggam tangan Saint Capricorn tersebut.

”Dan dia membalas perasaanku.. Waktu itu, pas aku dapat dua tiket menang lotre buat naik kapal pesiar, di saat kamu lagi mengemban tugasmu”

Shura mulai menyadari sesuatu.

”Waktu itu emang dia pernah nelpon gua sih..” kata Shura pelan

”Terus dia bilang apa??” tanya Milo

”Dia mo ngajakin gua kemanaaa gitu, tapi karena guanya lagi latihan memperdalam excalibur, jadi gua tolak”

”Itu dia yang bikin dia sakit hati” kata Milo.

”Ya itukan kerjaan!! Kalo ga mau ga usah sama gua!!” sergahnya lagi.

”Yap!! Itu dia yang ditunggu-tunggu!!” Aiolia berdiri dan menepuk keras kedua tangannya.

Shura menoleh menatap bingung Aiolia, Milo juga hanya menolehkan kepalanya pelan, serta tersenyum nakal ke arah Aiolia, tanda dia juga mengerti apa yang mau diucapkan Saint Leo itu.

”Kamu mau rindu setengah mati, kamu mau benci setengah mati juga.. Udah.. Lupain aja” kata Aiolia sambil berkacak pinggang.

”Heh, ko beda sama skenario??” tanya Milo pelan, melotot pada Aiolia. Merasa bersalah karena sudah percaya akan kata-katanya.

”Emang ada skenarionya??” balas Aiolia

”Bodo ah, terusin aja, paling gantian kamu yang dihajar” kata Milo hati-hati.

”Ya apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Gue yakin lu lebih cinta sama kita-kita dan sama Athena sendiri. Iya kan??” kata Aiolia meneruskan pembicaraan.

”Iya sih...” jawabnya ragu-ragu.

”Gue juga rindu sama loe, tapi loe-nya sibuk sama pasangan loe itu”

”Iya gitu??” bantah Shura.

”Udah, iyain aja biar cepet” potong Milo.

”Dia juga ga mau ngerti kerjaan kita yang sulit kaya gini, ngapain juga dipertahanin” kata Aiolia sambil bolak balik sekitar sofa.

”Tapi gue rindu ma dia, Lia”

“Lu rindu bukan berarti cinta!!” kata Lia mantap. ”Gue yakin sekarang loe lagi sedih, loe lagi nangis seperti saat rindu begini, tapi apa mau dikata, semua urusan udah selesai”

”Mending kamu sama aku, yang” potong Milo lagi dengan nada merayu yang super jail.

”Sinting lu! Mending gua sama kambing” kata Shura tiba-tiba.

”Bener!! Mending kamu sama kambing!!” teriak Lia

”Orang kaya gitu sih tinggalin aja!!!” balas Shura lagi

”Betul banget!!” Milo menimpali

”Lagian tukang es krim bisa apa sih!! Idupnya juga ga terjamin!!

”Sama sebenernya kaya Gold Saint, semuanya dapet pinjeman dari Athena!!” teriak Lia lagi.

”Gajinya kecil lagi!!!”

”Kita sih bisa jual sepotong kecil Gold Cloth kalo kurang duit!! Itupun udah bisa beli sebuah pulau!!”

”Kita bisa pinjem kapal pesiarnya Athena kalo mau, dan bisa liburan ke laut biru kapanpun kalo mau!!”

”Anda pintar!!!” kata Milo mengacungkan kedua ibu jarinya.

”Jadi mendingan aku tinggalin dia!!!!”

”SIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIPPP!!!!!!!!!” Kata Aiolia dan Milo berbarengan, diikuti gelak tawa ketiga Gold Saint tersebut memecah suara derasnya hujan.

Wajah Shura yang tadi sendu dan bingung kini dapat tertawa terbahak-bahak gara-gara kelakuan kedua Goldies juniornya. Ia merasa membicarakan ini dengan mereka berdua adalah keputusan yang tepat. Setelah mereka bertiga tertawa tiada henti setelah beberapa lama, Shura terdiam sejenak dan meneguk teh yang kini sudah menjadi dingin. Milo dan Aiolia ikut diam sambil tetap senyum-senyum.

”Tengkyu ya, bro, udah bantuin gue” ucap Shura pelan.

”Pastinya, kawan” Aiolia melemparkan senyumnya yang paling manis dan tidak dibuat-buat. ”Yang penting kan kita ada disini sama-sama kamu. Semua Gold Saint pasti berpikir demikian. Kamu kalo mau curhat-curhat dateng aja kesini lagi”

”Jadi sekarang kamu bisa pilih, mau pulang, hapuskan semua rindu-rindumu padanya, lalu mulai babak baru kehidupan, atau kalo kamu masih mau disini seneng-seneng juga kita temenin. Aku baru beli mainan baru tuh, kalo kamu mau main. Hahahaha”

”Yang pastinya mainan Milo semuanya ga ada yang beres. Bwahahahaha” kata Aiolia sambil ngacak-ngacak rambut Milo yang masih terduduk di samping kaki Shura. Milo hanya kembali tertawa kecil, pasrah rambutnya diacak-acak.

Mereka bertiga akhirnya kembali tertawa dan ngobrol sampai lupa waktu. Suara hujan perlahan mereda dan matahari muncul ke permukaan. Bayang-bayang sinar memasuki ruang tempat mereka bercengkrama, menyadarkan mereka bahwa hari-hari yang kelam dan sendu sudah berlalu.

”Ah, kayanya aku mau pulang. Sori jadinya ganggu waktu ngobrol kalian berdua” kata Shura sambil bangkit dari duduknya.

”Santai, yang” rayu Milo lagi sambil mengedipkan matanya. Shura cuma tertawa mengejek melihat kelakuan juniornya itu.

Shura berjalan menuju pintu depan diikuti dua Goldies di belakangnya. Sesaat sebelum ia meninggalkan pintu, Aiolia kembali memanggilnya.

”Eh, Shur.. Tunggu dulu..” cegahnya.

”Apa?” tanya Shura datar.

”Emm... ini payung itemnya ga dibawa??” tanyanya polos

Shura cuma tersenyum simpul sambil berlalu pergi.

”Buat kamu aja, Lia. Daripada kamu pake payung bunga-bunganya Milo. Anggap aja itu hadiah dari aku” Shura melengos pergi sambil melambaikan tangannya. Tapi dari dalam hatinya, Milo dan Aiolia tau kini Shura sudah kembali seperti semula, kembali menjadi salah satu Gold Saint dari semua Gold Saint yang mereka sayangi.

Milo dan Aiolia hanya bersandar pada pintu, memperhatikan Shura yang makin lama makin menghilang di pagi hari yang masih berkabut.

”Gila, ya.. Baru tau gua, si Shura bisa sampe dimabuk cinta kaya gitu” kata Milo sambil cengar-cengir.

“Awas, jangan kasih tau sama yang lain, ntar kita bisa-bisa dipenggal sama dia” balas Aiolia santai.

”Tapi gua penasaran nih, sapa orang yang dimaksud ya??” tanya Milo sambil menatap Aiolia yang masih megang payung item milik Shura.

”Yang pasti dia dipanggil ’sayang’, Wahahahaha!!!”

”Yuk, atuh, yang. Masuk lagi. Dingin nih, masih pagi” rayu Milo pada Aiolia. Ia menepuk punggung Aiolia dan mendorong masuk Saint Leo itu masuk kembali ke dalam istana Scorpio.

“Hayu atuh, sayang” jawab Aiolia tidak kalah isengnya.

Keduanya hanya tertawa jahil, dan kembali memasuki istana Scorpio dan menutup rapat pintu depan istana.

----------------------------------------------

A/N : tengkyu banget buat yang udah baca.. Getek sendiri nulisnya, jijay bajay.. Sial.. hahahaha... sekalian kasih teks gratis, inti cerita fanfic ini :

yang, hujan turun lagi dibawah payung hitam kuberlindung

yang, ingatkah kau padaku di jalan ini dulu kita berdua

basah tubuh ini basah rambut ini kau hapus dengan sapu tanganmu

yang, rindukah kau padaku tak inginkah kau duduk di sampingku

kita bercerita tentang laut biru disana harapan dan impian

benci 3x tapi rindu jua memandang wajah dan senyummu sayang

rindu 3x tapi benci jua bila ingat kau sakiti hatiku

antara benci dan rindu disini membuat mataku menangis

yang, pernahkah kau bermimpi kita bersatu bagai dulu lagi

tak pernah bersedih tak pernah menangis seperti saat rindu begini

(diucapin sama si cowo – anggep aja si Shura)

"yang, hujan turun lagi. Ketika kulewati jalan ini aku ingat engkau, yang

basah tubuhmu basah rambutmu kuhapus dengan sapu tanganku

yang, akupun rindu padamu, akupun ingin duduk disampingmu

kita bercerita tentang laut biru, tentang langit biru

disana tumpuan dan harapan"

benci 3x tapi rindu jua memandang wajah dan senyummu sayang

rindu 3x tapi benci jua bila ingat kau sakiti hati hatiku

antara benci dan rindu disini membuat mataku menangis

yang, pernahkah kau bermimpi kita bersatu bagai dulu lagi

tak pernah bersedih tak pernah menangis seperti saat rindu begini

tak pernah bersedih tak pernah menangis seperti saat rindu begini

BWAHAHAHAHAHAHAHA!!! Selanjutnya aku mungkin mau bikin REG (spasi) LAWAS yang kedua, ato REG (spasi) SUNDA ato mungkin REG (spasi) DENDANG!!! XDDDDD

St. Chimaira no Kari, Log out!!!



Return to Top