
Oran, jangan tinggalkan aku...
Rated: Fiction K - Indonesian - Poetry/Angst - Words: 285 - Reviews: 3 - Favs: 1 - Published: 01-22-10 - Status: Complete - id: 5688191
|
|
A+ A- |
Untitled
By : Argentum Silver-chan
Malam menyuarakn denting angkernya, suasana mencekam yang nyata. Secercah cahaya dalam aura yang menyesakkan terpancar lembut dari tubuh berbalut kecantikan khayangan. Wajahnya kaku, wanita itu memandang langit dengan mata sendu. Segalanya terasa beku saat itu, hanya dua orang bocah berdarah campuran yang terduduk dalam gelap malam yang bisu.
Sampai ada suara yang membinasakan sunyi. Lengkingan yang meliuk sampai langit kelam. Derap kaki seekor rusa berpacu, mengejar waktu yang bergulir, siap-siap membawa wanita enyah dari alam nyata manusia, kembali menjalani takdir yang seharusnya.
"ORAAAAAANNN !!!!! "
Langit mendengarnya.
parau suaraku, yang bergema dalam bisu
"Oran, kumohon, jangan pergi !, "
Alam masih menyuarakan denting angkernya. Pria diatas rusa tadi melesat turun. Tanganya terulur, mencoba meraih kembali tangan sang wanita. Berharap Ia mau berpaling kembali, meneruskan takdir yang tak seharusnya.
Menghablur habis dalam degup ritmis
Jantung yang menguraikan segenap ketakutan
"Oran, kumohon, aku dan juga kamu... "
"Keras kepala !, " sentak sang wanita.
Akan kehilangan
Sebilah pisau tercabut dari pinggang sang wanita. Wanita yang segala miliknya telah sirna dicerna takdir terburuk.
"Kau akan kemari purnama depan bukan ? adikmu yang menjadi penyebab semua ini, enyahkan dia dengan pisau ini, Apakah takdir kita berlanjut atau tidak, semua ada di tanganmu, " kaki mulus terbalut gaun sutera itu melangkah. khayangan diatas langit telah menunggunya pulang.
Tambatan hatiku jauh pergi
Jejak langkahnya siarkan sejuta misteri
"ORAAAANNN !!!! "
Tak bisa sedetik kucegah
Serak suaraku memanggilnya sisakan gundah
Hilang. Rengekan dua bocah manusia bagai angin lalu. Karena mereka bertiga kini telah pergi, menyelaraskan benang takdir kembali.
Harapku sirna tanpa sisa
Anganku tersangkar realita
Tinggallah dalam rengkuh nestapa
Berlutut ditumpu untaian doa palsu belaka
Aku berbisik lirih dalam pedih
Biar kenyataan yang sampaikan
Dalam lelapnya di keheningan.
FIN
A/N : Lagi2 singkat padat dan (gak) jelas
|
||||||