
"Aku benci benda ini. Tapi aku ingin memilikinya. Sangat!". Kuremas kertas terkutuk ini, kuluapkan semua kebencian di sana, meremasnya kuat hingga tanganku terasa nyeri. "Gadis bodoh, itu namanya cinta. Dasar munafik." tanggapnya.
Rated: Fiction T - Indonesian - Hurt/Comfort/Supernatural - Hinata H. & Kurama/Kyuubi - Words: 2,103 - Reviews: 4 - Favs: 2 - Updated: 05-18-10 - Published: 05-14-10 - Status: Complete - id: 5969709
|
|
A+ A- |
Disclaimer: Naruto bukan milik Neng, dan anggap saja "Aku" adalah Hinata Hyuuga dan "Dia" itu Kyuubi.
..:_.=._:..
Naruto Oleh Masashi Kishimoto
AKU BENCI UANG Oleh Neng
..:_.=._:..
AKU BENCI UANG
Aku seorang diri di pojok sini, di sebelah pojok belakang kelas yang terlihat ramai di mata, namun terasa sunyi di dalam sini. Aku memang egois, 'tak ada suatu rasa ingin bergabung di tengah mereka. Sebenarnya aku tahu persis mereka ingin sekali aku bergabung, karena 'tak elit rasanya membiarkan seorang teman di pojok sendiri sementara mereka berkumpul bersama, tapi aku lebih memilih di sini. Aku juga 'tak tahu apa bagusnya di sini sendiri, jangan salahkan aku karena aku merasa nyaman saat sendiri. Sesekali kupandang mereka yang berceloteh ria, senyum mereka, mata mereka yang bersinar, mereka sungguh indah, aku suka mereka. Tapi saat mata itu terarah padaku semua itu hilang, yang ada hanya pandangan-pandangan yang sangat mengusik dan membuat marah dalam sini. Tahukah mereka, teramat aku membencinya. Mata-mata yang menyiratkan rasa kasihan, mata yang berkata "Kasihan sekali kau," padaku. Aku 'tak suka dikasihani, aku ini tidak lemah, aku gadis kuat.
"Benarkah?"
"Iya, aku kuat." itu yang batinku katakan padanya. Entah makhluk macam apa dia, tapi dia bilang dia itu jiwa lain di hatiku. Entah benar atau salah, faktanya hanya aku yang melihat, mendengar dan menyentuhnya. Mungkin ini sebuah anugerah yang biasa disebut "Indra Keenan" atau ini sebuah penyakit psikologi yang bisa dijelaskan oleh seorang pakar. Menurutku hanya 30% kebenaran untuk kemungkinan pertama, pasalnya hanya dia yang kutahu, mana makhluk halus lainya? Kenapa 'tak dapat kurasa? Harusnya aku dapat melihat semua dengan "Indra Keenam" itu. Lalu 70% untuk kemungkinan kedua, karena ini realita yang harus bisa dijelaskan. Itu mengarah ke kejiwaanku yang mungkin ada yang salah di kepalaku, entahlah. Dia selalu muncul tiba-tiba saat aku sendiri, dan aku memang selalu sendiri. Kesimpulannya, dia selalu ada di sampingku seperti saat ini. Kami sering berdebat tentang berbagai hal, yang pada ujungnya aku marah karena kekalahanku.
"Gadis bodoh, kausangat munafik."
"Sudah berapa kali kukatakan? Jangan panggil aku 'Gadis bodoh', dan apa maksudmu dengan 'Munafik'?" kutatap tajam mata beriris merah itu, dia memang selalu membuatku marah.
"Sadarlah, kauitu lemah. Kau gadis bodoh yang cengeng. Kau'tak berpikir aku 'tak merasakan apa yang ada di sini kan?" dia mengejek sambil mengulurkan tangan putih pucatnya ke arahku, matanya mengikuti ke mana jari itu bergerak ke dadaku kemudian beralih ke mataku saat telunjuknya sampai di tujuan. Aku gerah dan marah atas ejekannya, aku 'tak suka diremehkan, langsung saja kutepis tangan porselennya.
"Aku tahu, kaubahkan lebih mengerti dariku." dia memang tahu segala tentangku lebih dari siapapun , termasuk aku. "Aku bimbang, kautahu kan? Dari dulu aku sangat ingin kuat. Aku ingin semua datang dengan pandangan kagum, bukan kasihan seperti sekarang. Kurasa aku ingin uang."
"Uang?" dia naikan satu alisnya, tersirat ekspresi heran di mukanya yang putih pucat bagai orang sakit atau 'tak makan seminggu itu.
"Iya, aku lemah karena ada benda terkutuk bernama uang."
Ku rogoh saku seragam OSIS SMA yang kukenakan, ada dua lembar uang seribuan di sana, kukeluarkan satu.
"Aku benci benda ini." pikirku sambil memandangi uang seribuan di tanganku. "Tapi aku ingin memilikinya. Sangat!."
Kuremas kertas terkutuk ini di tangan kananku, kuluapkan semua kebencian di sana dengan meremasnya makin kuat hingga tanganku terasa nyeri.
"Gadis bodoh, itu namanya cinta. Dasar munafik." katanya sambil mengacak-acak rambutku.
"Benarkah? Apa aku- hei! Sudah ku bilang, jangan panggil aku gadis bodoh. Dasar jiwa 'tak berperasaan."
"Ha..ha.. Aku ini jiwa. 'tak berperasaan katamu? Bukannya aku ini perasaan itu sendiri? Dasar gadis bodoh." tangan pucatnya menggaruk kasar kepalanya yang 'tak gatal, hingga rambut merah pekatnya sedikit berantakan.
"Iya, iya," tanggapku pasrah, kata-katanya memang selalu benar dan membuatku mati kutu. Ku gembungkan pipiku tanda marah padanya. Wajahku juga kupalingkan ke sembarang arah menghindari mukanya yang menyebalkan itu. Sampailah pandangku ke arah pintu masuk kelas. Aduh, ada yang terlihat heran menatapku di sana, semoga dia 'tak mengira kugila.
"Kauini memang gila."
"Apa!" aku langsung menatapnya tajam setelah mendengar kalimat laknatnya, terlihat seringai menyebalkan di bibirnya yang pucat. Dasar menjengkelkan.
"Mana ada orang yang berbicara dengan jiwanya sendiri?"
"Diam kau! Kausendiri yang datang padaku." dia selalu membuatku kesal. Huh… Yah, sudah lah, aku memang 'tak akan pernah menang darinya.
"Lanjutkan kalimatmu tadi," katanya datar, apa dia sebegitu cepatnya merubah exspresi wajah? Apa secepat itu dia lupa sudah mengejek seseorang? Memang sangat tidak berperikemanusiaan. Sudah lah, sudah biasa. Tapi jarang sekali dia mau mendengar curahan hatiku. Biasanya dia hanya mengejek, mengejek dan mengejek saja. Tapi ko belakangan ini lain ya? Terserah lah.
"Apa aku seorang munafik?"
"Iya." jawabnya tetap datar. Dasar 'tak berperasaan. Aku sedang curhat padamu tahu?
"Aku tertekan, benda di tanganku ini, aku sangat ingin mengikatnya, menjeratnya dengan kedua tangan ini. Ingin sekali meremasnya dengan tanganku sendiri, seperti ini." kuremas lagi uang itu, makin kencang.
"Aku merasa lega jika melakukannnya. Begitu nyaman di jantung ini." nyaman sekali rasanya. "Kautahu? Benda ini 'tak pernah ada saat kubutuhkan, itu yang membuatku sangat membencinya." kuhembuskan nafas dengan memejapkan mata menahan emosi, lalu kubuka lagi. "Kertas lusuh ini membuatku berjalan kaki dari rumah ke sekolah, lihat saja berapa jaraknya, harus berangkat sebelum matahari muncul yang ujung-ujungnya kalau dijalan ada apa-apa bisa menambah poin pelanggaran terlambat. Belum lagi pulangnya, saat matahari sedang narsis-narsisnya pamer sinar UV. Untuk menghemat pun, aku harus jalan kaki dari sekolah ke tukang foto kopi. Juga nunggak 6 bulan terus dipanggil TU. Telat bayar iuran, ditagih bendahara, juga waktu aku harus meminjam untuk melunasi itu semua. Yah, itu semua sih masih wajar, masih bisa kutangani."
Kutarik nafas dalam-dalam, lalu menggembusnya kasar. "Tapi yang paling aku benci, soal Mama, Ayah, Dede, dan tatapan kasihan itu, aku 'tak suka dikasihani. AKU BENCI BENDA TERKUTUK INIIII!" kuremas lagi, kali ini amarahku memuncak.
BRAK!
Semua tekejut memandangku, aku juga 'tak menyangka dengan apa yang ku lakukan tadi. Tanpa komando, tanganku menggebrak meja kayu coklat pekat di depanku. Apa aku ini benar-benar gila? Apa yang ku lakukan? Aku hanya tersenyum kecut pada mereka.
"A-ada nyamuk. He..he.." bagus, nyamuk disiang bolong. Akhirnya kukeluarkan suara yang terkenal mahal ini pada mereka. Wajahku terasa panas, kurasa sekarang wajah ini semerah malu. Segera saja ku tenggelamkan mukaku di kedua tangan yang kusilangkan di atas meja. Terserah lah, mereka mau menganggapku apa.
"Ha..ha..ha.. kurasa kauharus ke dokter jiwa. Ha..ha.." aku 'tak melihat wajahnya karena aku masih menutup mukaku, kurasa dia sangat senang melihatku menderita.
..:_.=._:..
Akhirnya tanda berakhir acara belaja-mengajar di sekolah bedering. Seperti biasa, aku sengaja memperlambat gerakan memasukan semua buku dan alat tulisku. Karena aku 'tak begitu suka berdesakan berebut pintu keluar, aku baru keluar saat sudah sepi. Tunggu saja sebentar lagi.
Sepertinya sudah sepi, aku berjalan keluar dari kelas. Ya, memang benar ini sudah sangat sepi, 'tak ada seorang pun di sekitar sini. Mereka semua memang gesit, tadi aku hanya sebentar mengulur waktu tapi sekolah sudah sesunyi ini. Kurasa jika ada lomba adu cepat pulang kerumah, mereka pasti juaranya. Ha..ha..
Kulewati lorong-lorong sepi bercat putih dengan aksen abu-abu sekolahku, terasa menyeramkan memang bila berjalan sendiri di gedung yang umurnya hampir 156 tahun ini. Mungkin ini salah satu faktor siswa-siswa di sini tidak terlalu betah berlama-lama di sekolah. Sangat suram memang, tapi toh hidupku sudah suram sejak awal, 'tak masalah untukku. Aku kan pemberani.
"Benarkah?" datang lagi.
"Tentu." jawabku ketus.
"Kau'tak takut padaku?" tanyanya dengan suara diseram-serakam. Aku tahu dia hanya menggodaku, aku sudah kebal.
"Untuk apa? Kau'tak terlihat menyeramkan, kauitu terlihat bodoh." biar tahu rasa dia. memang dia pikir dia itu siapa?
"Oh ya? Kalau aku bodoh, berarti kauitu idiot." jawabnya dengan seringia andalannya yang begitu memuakkan untukku.
"APA KAUBILANG?" kuberikan tatapan tertajamku padanya, tapi dia malah memperlebar seringainya.
"I-di-yot." tambah menyebalkan saja dia, mengeja kata itu dengan tampang 'tak bersalah, juga senyum simpul di bibirnya. Menyebalkan! Akan kubalas dia.
"Hey, apa kaubenar-benar membencinya?" belum juga kubalas, sudah mengalihkan pembicaraan. Tapi lebih baik seperti ini saja, aku 'tak suka kata itu, terlalu kasar. Membencinya? Uang?
"Iya, aku benci, benci sekali." aku menghela nafas lalu kulanjutkan. "Tapi, katamu aku mencintainya. Aku juga bingung, aku benci uang tapi ingin sekali memilikinya. Semakin aku benci uang, semakin besar keinginanku untuk memilikinya." Kami berbincang dengan terus berjalan menelusuri lorong dan melewali kelas-kelas lain, kemudian menuruni tangga sekolah karena kelasku ada di lantai tiga.
"Benci dan cinta itu tipis bedanya." sok tahu dia. Apa benar ya?
"Oh ya? Benarkah? Aku pernah dengar juga sih. Tapi ini kan uang, bukan orang?" sanggahku sambil mengerutkan dahi.
"Apa kaubenar-benar ingin uang?" mengalihkan penbicaraan lagi.
"Tentu saja. Kaubisa liat nanti, aku akan punya banyak uang. Banyaaak sekali." ungkapku meregangkan kedua tanganku membentuk setengah lingkaran sebesar mungkin yang dapat kucapai.
"Gadis bodoh."
"Apa?" apa sih maksudnya?
"Bodoh."
"Diam kau!" ingin kuhajar dia.
"Bodoh."
"DIAM!"
"Bodoh."
"AAAGGHHRRR…"
..:_.=._:..
Akhirnya sampai depan gerbang juga. Kusebrangi jalan raya depan sekolah, untuk menunggu bus jurusan terminal.
"Mau kemana kau? Bukannya rumahmu kearah sana?" dia datang lagi, wajahnya terlihat heran tapi aku tahu dia hanya pura-pura, dia kan tahu semua yang aku pikirkan. Diamkan saja lah, aku juga masih jengkel padanya. Kulirik sebentar, lalu kupalingkan wajah kearah lain.
"Hei, sudahlah. Jangan marah padaku. Lalu apa yang akan kaulakukan?" aku 'tak akan menjawabmu! Pergi saja sana!
"Gadis bodoh."
"Diam!" bentakku melotot padanya. Menyebalkan sekali dia!
"Ke mana?"
"Tentu saja mendapatkan yang ku inginkan." aku 'tak bisa mengacuhkannya. Kualihkan lagi mukaku darinya. "Akan kuremas-remas semua uang di dunia ini. Aku akan mencari pekerjaan, kerja apa pun aku mau asal halal."
"..."
"Aku akan pergi beberapa hari, lalu pulang membawa banyak uang di koper. Akan aku lunasi tunggakan 6 bulan itu. Juga uang bangunan dan iuran-iuran yang lain. Dan yang terpenting, akan ku belikan susu kesehatan untuk darah rendah Mama, susu kedelai untuk darah tinggi Ayah, juga operasi ginjal Dede. Akan kuboyong mereka ke dokter paling sakti di dunia. Semuanya." kataku bertekad.
"…"
"Aku sudah bosan mendengar jerit sakit Dede karena ginjal bocornya itu, aku bosan melihat kepala Mama yang terbentur lantai saat jatuh pingsan, aku juga sangat bosan melihat Ayahku sesak napas hanya karena hal sepele. Semua itu menyiksaku."
"Jantungmu?"
"Iya, juga jantung brengsek ini."
Hening.
Ada yang aneh darinya, memang belakangan dia agak lain seperti sekarang ini, biasanya dia selalu mengejek semua impianku, mengatai aku bodoh, atau semacamnya atas impian-impianku. Kenapa diam? Terasa aneh, lalu kuarahkan pandang padanya, kutatap lekat matanya membuat mata kami bertemu. Oh Tuhan, kenapa mata merahnya menatapku begitu? Dia yang paling tahu aku benci tatapan kasihan seperti itu. Jangan, aku 'tak suka! Aku lebih suka tatapan mengejek atau menghinanya padaku, dia memang selalu menjengkelkan, tapi dia 'tak pernah menatapku seperti ini sebelumnya, itu yang membuatku menyukainya. Tapi bukan tatapan ini yang ku mau.
"K-kau kenapa?" tanyaku padanya, dia kenapa sih?
"…." dia hanya diam, kemudian melangkah mendekat, perlahan memperkecil jarak diantara kami. Dia ulurkan kedua tangan pucatnya dan meraih badanku yang lebih pendek darinya, menenggelamkan kepalaku di dadanya, memelukku begitu arat. Seakan dia 'tak pernah ingin kehilanganku. Terkejut memang, namun hangat di jantung ini. Badanku terasa lemas, batin dan mulutku terkunci, 'tak ada pikiran atau kata yang terngiang di kepalaku. Lalu ia bisikan sesuatu.
"Tak perlu."
"….." 'tak ada yang terucap di benakku.
"…Aku punya banyak untukmu."
"…..."
"…Ikutlah denganku," perlahan dia lepas pelukannya, menatapku lama dengan sendu. Lalu tangan kirinya meraih tangan kananku, kemudian ia melangkah menariku mengikutinya.
"Kaupunya apa untuku? Apa itu uang? Sebanyak apa? Kita mau ke mana? Hei, jawab aku."
….
TIIIINNNN….
Suara itu,
CIIIIT…DUAK…
..:_.=._:..
Dimana aku? Sa-sakit sekali.
Aku seperti tidur di landasan yang kasar. Raga ini terasa remuk, dari ujung kaki sampai ubun-ubun, ngilu sekali seperti ada yang menarik-narik tiap sel-sel tubuh ini, dan tiap mili tarikannya begitu perih, PERIH sekali. Bahkan jeritku tertahan saking perihnya. Aku ingin melihatnya lagi, katanya dia punya sesuatu untukku. Apa itu uang? Uang yang sangat banyak? Apa cukup untuk ke dokter sakti? Apa aku bisa meremas sisahnya? Aku ingin tahu. Susah payah kubuka mata ini, pandangku terlihat buram Waktu terasa berjalan sangat lambat, tiap detiknya terasa semakin sakit, semakin perih, semakin ingin menjerit. Ke mana dia? Kucari sosoknya diantara orang-orang yang berlari ke arahku, Kucari terus, walau tiap geseran mata ini sunguh bagai disengat petir, perih sekali. 'Tak lama kutemukan wajah pucat itu disela pandangku yang makin buram. Apa itu? Oh Tuhan, mata beriris merah itu banjir. Aku 'tak suka.
AAAWW, s-sakit. Gelap…
"Gadia bodoh."
..:_.SELESAI._:..
A.N: Terimakasih sudah membaca fic. Neng. Sebenarnya Neng ingin mengirim Cerpen ini ke koran, pantas tidak ya? Mohon kritik dan sarannya ya. Dalam cerpen ini Neng tidak menyebutkan gender si "Dia", jadi ya karena matanya merah, rambut merah, lebih tinggi, seringai, nakal dll, kayanya paling cocok Kyuubi deh.
Reviews?
|
||||||