
Curse At The Sand's Sequel. Kemunculan seorang warrior baru membuat Gaara bimbang. Haruskah Ia meninggalkan Sakura yang dicintainya untuk menyelamatkannya? GaaSaku. Chapter 3 is up. RnR please?
Rated: Fiction T - Indonesian - Supernatural/Romance - Gaara & Sakura H. - Chapters: 3 - Words: 5,433 - Reviews: 27 - Favs: 11 - Follows: 4 - Updated: 11-16-10 - Published: 07-06-10 - id: 6115576
|
|
A+ A- |
Blood and Cherryblossom.
Sequel from: Curse At The Sand.
Hope you like it!
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Warning: OOC, AU, Gaje, abal, aneh.
This fict, dedicated for all GaaSaku lovers.
And, someone who special named, .
Have a nice read!
CAMERA... ROLLING.. AND.. READ AND REVIEW PLEASE?
Sabaku No Gaara. Cowok berambut merah berusia 16 tahun. Bermata hijau redup dan memliki tato 'AI' di dahinya. Makanan kesukaan, Puding karamel. Mantan pemilik Shukaku. Memliki kekuatan crowd langka, pasir. Warrior yang sudah mengalahkan Sasori dan Deidara. Tinggi 182, 7 Cm dan berat badan 57 Kg.
Merah.
Haruno Sakura. Gadis berambut pink dan bermata hijau emerald. Usia 16 tahun dan tinggi 178, 3 cm dengan berat 50 kg. Warrior yang memliki Crowd penghancur luar biasa dan kemampuan medical. Makanan kesukaan, wafel stroberi. Gadis yang menghapuskan kutukan pada diri Gaara.
Pink.
Cocok bukan?
Karena itu, kami mengincar keduanya...
"Rumah hantu?" Seorang pemuda berambut merah darah mendelik ke arah sahabat dekatnya. Gaara—nama pemuda itu. Naruto—sohib Gaara—mengangguk semangat. "Kau tahu kan? Di perumahan mewah yang seminggu lalu terbakar habis! Katanya ada rumah hantu disana!" Cowok berambut duren berwarna kuning itu memakai jaket oranye-nya.
Konoha High School, sekarang menuju liburan tengah semester. Seminggu lamanya, banyak orang yang memilih untuk ke luar kota atau sekedar pergi ke Mall untuk mencuci mata. Sementara pemuda berambut merah ini heran begitu mendengar ide liburan yang muncul dari temannya itu. Naruto dengan santainya mengajak Gaara pergi ke rumah hantu yang terletak di komplek perumahan mewah yang minggu lalu habis terbakar, hanya menyisakan satu rumah yang disebut-sebut sebagai rumah hantu.
"Mau apa disana?" Tanya Gaara heran. Sangsi temannya ini tahu apa yang akan dilakukan di rumah hantu tersebut. Naruto mengangkat alis, "Banyak. Misalnya memburu hantu, atau membuat video menyeramkan, berpura-pura menjadi hantu... banyak!" Ujarnya menghitung satu persatu jemarinya dengan mata menerawang. "Kau ngajak siapa aja?" tanya Gaara.
"Cuma berdua." Jawab Naruto. Hal itu membuat Gaara makin heran dengan ajakan sobatnya ini. Ke rumah hantu berdua? "Bisa saja kita mengajak Sakura-chan serta Hinata-chan." Ralat Naruto tepat saat Gaara ingin memprotes. "Aku beritahu Hinata dulu! Gaara, kau beritahu Sakura-chan deh! Jaa~" Dengan santainya, cowok berambut duren kuning itu melambai. Memberi tugas Gaara memberitahu Sakura. Gaara mendesah kesal.
Sakura, lengkapnya Haruno Sakura adalah sahabat dekat Gaara, Naruto dan Hinata yang baru saja disebut-sebut Naruto tadi. Paling karab dengan Gaara walaupun tidak tahu juga status apa yang pantas disandangnya ketika bersama Gaara. Tidak bisa dibiliang sahaba atau hanya teman. Mereka yakin, mereka lebih dari itu. Tapi tak ada pengakuan khusus yang meresmikan status mereka.
Matanya menatap Naruto yang sedang berbicara dengan Hinata. Bosan, cowok ini memilih pulang ke Apartemennya. Sakura gampang, nanti bisa dia telpon.
Tak butuh waktu lama, Gaara sampai di depan kamar Apartemennya. Nomor 134. 13 dan 4, keduanya angka sial. Ia memasukkan kunci dan membuka pintu apartemennya. Matanya langsung disapa dengan pemandangan super berantakan dari kamar apartemennya. Yah, kali ini tidak berantakan dengan baju atau bungkus makanan instan berserakan. Untungnya bernatakan dengan buku.
Tangannya melempar asal tas hitam dari pundaknya. Membuka bungkus mie gelas dan menyeduhnya dengan air panas. Menunggu mie gelas itu matang, cowok itu meraih ponsel dari sakunya dan menekan serentetan angka. Ditekannya tombol dial berwarna hijau di sudut ponsel hitam itu.
Tuut.. tuut...
"Halo?"
Suara jernih terdengar di seberang. Suara seorang wanita yang bergaung indah di telinga Gaara. Haruno Sakura.
"Sakura?" Gaara balas bertanya.
"Iya. Ada apa, Gaara?" Sakura menyahut. Suda hafal dengan suara Gaara, gadis ini langsung yakin menyebut nama Gaara.
"Naruto mengajak kita ke rumah hantu di komplek yang kebakaran seminggu lalu. Kau ikut?" Tanpa basa-basi, Gaara langsung bertanya. Dijepitnya ponsel hitam tersebut dengan pundak dan lehernya. Sementara tangannya meraih mie gelas itu dan menyeruput kuahnya.
"Hah?"
"Aku juga bingung kenapa diajak kesana. Kau mau ikut atau tidak?"
"Jam berapa?"
"Delapan malam. Yang sudah pasti, aku dan Naruto. Bagaimana?"
"Oke. Aku ikut."
Pukul delapan malam tepat.
Gaara melirik jam tangan digital yang melingkar di pergelengan tangan kirinya. Angka delapan diikuti dua angka 0 berbentuk kotak mengikuti dibelakangnya. Malam kian dingin. dua jam lalu, hujan deras mengguyur Konoha. Sampai dua jam setelahnya, masih menyisakan rintik hujan disertai hembusan angin cukup kuat yang membuat hawa menjadi tambah dingin.
Tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran Naruto yang tetap kukuh ingin pergi ke rumah hantu, Gaara terpaksa menyeret langkahnya ke komplek tempat rumah hantu itu berada. Gerbang perumahan mewah yang menghangus hitam beridri rapuh di jalan masuk perumahan. Seolah menjadi pertanda buruk bagi siapapun yang mengunjunginya. Tak memperdulikan rintikan tangis langit yang menjatuhi rambutnya, Gaara mendorong gerbang itu—tanpa takut memasukinya.
Perumahan ini sudah rata dengan tanah. Bekas-bekas rumah serta rongosokan berseliweran tak beraturan disana. Gaara berigidik melihat bingkai foto besar jatuh begitu saja dari sisa dinding yang masih beridiri disana. Tapi tak lama kemudian, dinding itu jatuh dan bergabung dengan puing rumah lainnya. Satu-satunya rumah yang masih beridri tegak di sini adalah rumah hantu yang disebut Naruto.
Awalnya, memang tak ada kesan seram yang menghantuinya. Tapi begitu langkahnya mulai jauh memasuki area perumahan, keringat dingin mulai mengalir dari pelipisnya. Tangannya merogoh-rogoh saku jaketnya—mencari ponsel hitam yang setia ada disana. Tak menemukan barang yang Ia cari, Gaara baru teringat ponsel Ia tinggalkan di rumah lantaran tidak ada pulsa yang terisisa.
Pertama kalinya Ia mengutuki diri sendiri. Menyesal tidak secepatnya membeli pulsa untuk ponselnya. Juga menyesal tidak membawa ponselnya padahal ada senter yang bisa menerangi perumahan yang gelap gulita itu.
Srak
Gaara bukanlah orang penakut yang langsung berteriak bila mendengar suara mencurigakan. Tapi kali ini beda. Keringat kembali mengucur deras dari pelipisnya. Bodohnya dia, dan ternyata, suara itu hanyalah tikus sebesar kucing rumah yang bergelut di semak-semak!
Mengsuir rasa takut yang mulai merambat di tubuhnya, cowok ini memasukkan jemari-nya ke kantung celana jeans biru tua yang dikenakannya. Menemukan permen mint, tak menunggu lama Gaara segera memasukkannya ke dalam rongga mulutnya.
"Gaara!"
Langkah Gaara terhenti. Ia menolehkan kepalanya ke asal suara. Ia sudah menduganya, suara siapa lagi kalau bukan Sakura? Gadis itu datang juga rupanya.
"Kukira kau tidak akan datang," gumam Gaara, setelah Sakura berjalan beriringan dengannya. Melangkah masuk menuju pusat area perumahan, pusat dimana kebakaran pertama terjadi hingga merambat ke seluruh perumahan.
"Enak saja. Aku malas di rumah, tidak ada siapa-siapa. Semua pergi entah kemana, aku ditinggal di rumah." Sungut Sakura. Ia memakai rok yang hanya menutup hingga sepertiga paha mulusnya—seperti biasa—, stocking hitam panjang yang mencapai pahanya. Hampir menutupi seluruh bagian pahanya. Memakai kaus putih polos. Rambutnya diikat satu dan masih menyisakan helaian rambut yang dengan manis membingkai wajahnya. Tidak sadar bahwa hawa dingin menusuk-nusuk kulitnya.
"Mana Naruto?" Ucap Gaara memecah keheningan. Menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru perumahan.
"Ah, dia tidak jadi ke sini. Sementara Hinata sudah dipastikan tidak boleh ke sini." Jawab Sakura. Entah sadar atau tidak, Ia mulai menggesekkan kedua tangannya mengusir dingin yang baru Ia rasakan. Ujung hidungnya memerah, rintikan hujan lama kelamaan berubah menjadi hujan deras yang tanpa minta ijin mengguyur mereka berdua.
"Gyaa! Hujan!" Teriak Sakura panik. Tanpa pikir panjang meneduhkan diri di sebuah rumah hangus, satu-satunya yang ada disana. Otomatis, Gaara mengikutinya dan ikut berteduh di rumah besar itu. Kejadian ini jadi mengingatkan Gaara pada saat Ia dan Sakura terjebak di jurang dan terpkasa berteduh di gubuk reyot milik Orochimaru. Yang malah menggeret mereka berdua ke pertarungan melawan Sasori dan Deidara yang saat itu mengincar Shukaku milik Gaara. Mengingat semua itu, senyum tipis terukir di wajah Gaara.
"Kenapa kau malah tersenyum?" tanya Sakura.
Gaara menoleh sedikit. Menyadari baju Sakura yang sangat amat basah menjiplak bentuk tubuhnya. "Tidak Penting Sakura. Pakai jaketku cepat!" Gaara menoleh ke arah lain menyembunyikan rona merah nakal yang muncul tak diundang di wajahnya. Canggung, Sakura menerima jaket itu canggung dan memakainya. Walaupun panjang jaket itu membuatnya seperti mengenakan daster ber-resleting. Ternyata, walaupun hanya berbeda 7 kg, bedanya sejauh ini ya...
"Di luar dingin." Gumam Sakura. Nafasnya mengeluarkan uap saat Ia berbicara. Gaara mengangguk setuju. Memasukkan tangannya ke saku celana jeans-nya demi mengusir hawa dingin yang mulai merambati tangannya. "Tunggu, satu-satunya rumah yang masih ada di perumahan ini hanya satu kan?" Ujar Sakura meminta kepastian. Gaara mengangguk, mengucapkan 'ya' tanpa suara. "Berarti, ini kan rumah hantu-nya?" Tanya Sakura lagi.
"Iya," jawab Gaara. Baru saja menyadari tempat apa yang digunakan olehnya dan Sakura untuk berteduh. "Bagaimana?" Sakura melirik Gaara, cowok berambut merah itu balas meliriknya. "Kita masuk saja?" Tegas Sakura. Gaara mengangkat bahu. "Tidak ada pilihan lain." Sambil berkata begitu, Gaara mendorong pintu ganda yang menjadi satu-satunya akses masuk ke rumah hantu ini. Sakura dengan sigap merogoh tas kecil yang disandangnya dan mengeluarkan ponselnya. Cahaya dari layar ponsel itu menjadi satu-satunya sumber cahaya.
"Tida ada senternya?" Tanya Gaara, menoleh ke arah Sakura yang berada jauh di belakang. "Tidak." Jawab Sakura singkat. Gadis itu berlari kecil menyamai langkahnya dengan Gaara. Layar ponsel menyala terang. Suasana sunyi senyap, membuat langkah mereka berderap kencang. Padahal hanya langkah biasa saja yang mereka lakukan sekarang,
Sol sepatu kets yang dikenakan keduanya membekas di lantai kayu yang rapuh. Entah sadar atau tidak, Sakura mencengkram erat tangan Gaara ketakutan. Gaara menelan ludah, entah kenapa, karena gadis berambut pink satu ini ketakutan, Gaara juga ikut ketakutan. Hujan masih mengguyur Konoha. Bukannya reda, malah semakin deras saja.
"Sial, kalau begini, kita nggak bisa pulang." Umpat Gaara kesal. Cahaya dari layar ponsel Sakura meredup, lalu mati dengan sempurna. Membuat suasana gelap dan menakutkan. Langkah mereka jadi tak menentu. Tidak tahu bagaimana kejadiannya, lengan Gaara lecet tergores benda tajam. Gaara mendecih pelan. "Sial.."
"Ada apa Gaara?" tanya Sakura. Melepaskan cengkraman kuat tangannya dari tangan Gaara. Walaupun gelap gulita, Sakura masih bisa bisa melihat darah mengalir dari lengan Gaara. "Nggak apa-apa." Sanggah Gaara menggeleng. Ragu-ragu, Sakura meletakkan tangannya di atas luka Gaara.
Sakura menghela nafas, "Aku nggak tahu apa ini masih bisa bekerja atau tidak, tapi.."
Bwuuung...
Cahaya hijau redup keluar dari tangan Sakura. Perlahan luka Gaara menutup dan hilang.
"Hebat, masih bisa medis rupanya," Puji Gaara. Mengusap lengannya yang baru saja sembuh.
Pipi Sakura memerah mendengar pujian tulus dari Gaara. Ia menatap ke arah celah dinding kayu yang rapuh berlubang. Hujan deras masih mengguyur. Tidak memberikan tanda akan berhenti. "Kalau hujan deras begini mana bisa pulang," Gumam Sakura. Merapatkan diri ke arah Gaara yang kelihatan sedikit kedinginan.
"Bagaimana? Kita nggak bisa pulang. Alternatif satu-satunya cuma menginap disini. Kau setuju Gaara?" Sakura melirik mata hijau Gaara.
"Kalau hanya itu satu-satunya cara, baik. Aku setuju." Gaara mengangguk.
Mangsa sudah sampai di tempat.
Hanya tinggal menangkapnya, dengan gadis pink itu sebagai umpannya.
To Be Continued
Bah! usai menyelesaikan hutang dengan Chiho-senpai, AnnZie-senpai, Chryst-Senpai, Neisa-chan, Winter-san, fatiin-hime, Melody-chan, Intan SasuSaku, LuthMelody, Nakamura Kumio-senpai serta readers yang laaaain! Banyaknya yang tak terhingga membuat Yuka-chan tidak membawa semuanya! Tapi, inilah sequel dari Curse At The Sand!
Soal fic GaaSaku yang bergenre, fantasy, aslinya Yuka-chan udah bikin original version-nya. Tapi tiba-tiba dapet ide dan akhirnya dirombak ulang! Hehehehe, jadi sorry kalo publish-nya bulan juli akhir-akhirnya.
*pundung di pojokan* Jelek bangeeeet! Alurnya kecepetan banget ya? Duuh~! Maaf-maaf! *sujud2 gaje* Pokoknya, buat Chiho-chan, serta pecinta GaaSaku lainnya, semoga suka yaaa! Maaf kalo gajee!
Mind To Review this FanFic?
Thanks For Reading,
Kaede Yuka-chan.
|
||||||