
Aku mencintainya, selamanya. Sai, seseorang yang begitu aku cintai. Tapi bagaimana bisa perasaanku berubah seperti ini. Kenapa kau dengan mudah merebut hatiku darinya, Sasuke teme? Ini semua salahmu! Kau membuatku menghianatinya. Please RnR!FemNaru!
Rated: Fiction T - Indonesian - Romance/Drama - Sasuke U. & Naruto U. - Chapters: 5 - Words: 8,547 - Reviews: 68 - Favs: 16 - Follows: 6 - Updated: 07-30-10 - Published: 07-17-10 - id: 6152541
|
|
A+ A- |
Disclamer : Naruto © Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Drama
Pairing : SasuxFemNaruxSei
Rated : T
Naruto POV
Siang ini hujan lebat turun di Konoha. Entah kenapa pagi tadi aku lupa membawa payung ke sekolah. Aku pun berniat nekat pulang saat hujan deras seperti ini. Namun sesaat sebelum aku melangkahkan kaki, tiba-tiba Sasuke sudah berada di sampingku dengan payung di atas kepalaku.
"Tidak baik kalau kau pulang tanpa menggunakan payung. Kau bisa sakit." kata Sasuke memulai pembicaraan.
"Hmm~ Tidak biasanya kau perhatian seperti ini. Kau tahu, cewek-cewek di belakangmu mulai geram melihatku." kataku sambil mulai tersenyum.
"Hnn." sungutnya.
Akhirnya Sasuke memayungiku sambil berjalan pulang. Saat kami berjalan menuju gerbang sekolah, tidak sengaja aku mendengar bisik-bisik para cewek mulai bergosib.
"Hei, lihat! Ada cowok bule di depan gerbang. Ngomong-ngomong dia sedang menunggu siapa ya? wah, ganteng sekali. Keren!"
Aku mulai menengok ke arah gerbang sekolah yang mulai dekat itu. Terlihat sebuah sosok yang kukenal yaitu Sei. Kenapa dia ada di sini? Aku pun berjalan mendekatinya tanpa ingat bahwa Sasuke sedang berada di dekatku. Aku melupakan bahwa kini hujan mulai membasahi rambutku.
"Sei! Kenapa kau ada di sini?" tanyaku kaget.
"Oh, Naru-chan." panggilnya sambil memayungiku. "Aku tadi ke rumahku, katanya kau belum pulang. Lalu ibumu menyuruhku mengantarkan payung untukmu karena tadi pagi kau lupa membawanya saat berangkat ke sekolah."
"Ah, terima kasih."
"Yuk, pulang. Tapi sebelum itu kita mampir ke café seberang jalan, ya. Hujan-hujan begini memang paling enak minum coklat hangat." ajak Sei.
"Baiklah. Oya, Sei kenalkan. Dia Sasuke, temanku di kelas." kataku memperkenalkan Sasuke pada Sei.
"Oh, yo. Namaku Sei. Nice to meet you."
"Hnn."
"Yuk Naru-chan?" ajak Sei kembali.
"Ah, Sasuke kau ikut juga." ajakku.
"Naruto-chan!" panggil Sakura yang tiba-tiba datang menghampiriku.
"Sakura? Oya, kau mau ikut bersama kami ke café di seberang jalan sana?" ajakku.
"Heh, bolehkah? Wah, mau-mau." jawabnya senang.
Lalu kami pun akhirnya berjalan menuju café itu. Seperjalanannya kami ke sana, aku berjalan bersama Sei. Dia memayungiku, sedangkan di belakang terlihat Sasuke dan Sakura berjalan bersama walau tak satu payung. Sepertinya Sakura menyukai Sasuke, dia berusaha keras mengajaknya mengobrol dengan santai. Tapi dengan sikap Sasuke itu, dia hanya ketus menanggapi obrolan Sakura.
Sasuke POV
Siang ini hujan mulai deras, aku melihat Naruto yang lupa membawa payung ke sekolah. Akhirnya aku pun berinisiatif akan mengantarkannya pulang. Sebenarnya aku juga tak ingin dia sakit karena hujan gara-gara lupa membawa payung. Dia pun tersenyum padaku dan akhirnya aku mengantarkannya pulang. Namun aku terkejut saat melihatnya mulai berlari menjauh dariku dan mendekati seorang laki-laki yang sama sekali tidak kukenal. Sepertinya dia adalah orang yang begitu dekat dengannya. Orang yang amat sangat berarti untuknya. Bagaimana ini? Hubungan kami saja belum dipastikan lancar dan belum ada kepastian darinya. Masak aku harus bersaing dengan laki-laki bule itu? Menyebalkan sekali.
"Oh, yo. Namaku Sei. Nice to meet you."
"Hnn."
Dan akhirnya Naruto memperkenalkan laki-laki itu padaku. Sei? Ternyata laki-laki ini yang bernama Sei, saudara kembar Sai. Lalu Naruto pun mengajakku mampir ke sebuah café untuk minum coklat hangat. Namun jumlah kami pun bertambah dengan kedatangan Sakura. Cewek berisik yang mulai menggangguku.
"Ne~Sasuke-kun, kau suka minum coklat?" tanya Sakura. Mendengar pertanyaannya saja sudah membuatku muak, hanya orang bodoh yang bertanya seperti itu. Kalau aku tidak suka, mana mungkin aku akan pergi untuk minum coklat! Ah, benar juga. Alasanku ikut pergi ke café itu untuk minum coklatpun bukan hanya sekedar ingin minum, namun aku tidak ingin Naruto berjalan berdua dengan laki-laki yang bernama Sei itu. "Hei, kelihatannya Naruto akrab sekali dengan laki-laki bule itu. Mereka sangat cocok. Hahaha.." timpal Sakura yang mulai membuatku kesal.
Memang terlihat Naruto lebih terbuka bersama Sei, dia lebih sering tertawa lepas jika bersamanya. Omongan mereka pun sepertinya sangat menyenangkan. Apakah begitu sulit masuk diantara hubungan mereka?
Normal POV
Akhirnya mereka sampai di restoran itu. Mereka pun segera menaruh payung dan mulai duduk di kursi. Akhirnya Sasuke duduk di pojokkan dekat jendela yang transparan jika dilihat dari dalam dan di sebelahnya ada Naruto. Lalu di depan Sasuke ada Sakura di sana dan di sebelah Sakura ada Sei, tepat di depan Naruto. Naruto terlihat begitu cerewet jika bersama Sei, sedangkan Sakura dia mulai mengajak bicara Sasuke kembali walau Sasuke mulai acuh dengan pembicaraan yang mulai menyebalkan itu. Dia hanya menyangga kepalanya dengan tangan kiri sambil menatap ke arah keluar jendela. Sakura tahu bahwa Sasuke mengacuhkannya, namun dia tak gentar mengajaknya ngobrol walau dia begitu terlihat bawel dan manja di depan Sasuke.
"Selamat siang, anda mau memesan apa?" tanya seorang pelayan itu kepada kami.
"Kami pesan 4 coklat hangat." timpal Sei memesan 4 cangkir coklat hangat.
"Baiklah. Mohon tunggu sebentar." Ucap pelayan itu dan kemudian pergi meninggalkan meja mereka.
"Ne, Sakura… Kau teman sekelas Naru-chan?" tanya Sei dengan senyum yang begitu lembut dan menggoda.
"Tentu saja. Kami teman baik semenjak masuk SMA. Iyakan Naruto-chan?"
"Ah, iya."
Sepertinya pembicaraan Sei dan Sakura semakin menarik dan mulai panjang lebar. Naruto pun mulai canggung saat melihat Sasuke hanya diam menatap keluar jendela. Dia tidak ingin melihat Sasuke hanya diam melamun seperti itu, sepertinya pertemuannya dengan Sei memang tidak cocok. Naruto berinisiatif menggenggam tangan Sasuke walau hanya di bawah meja. Namun hal itu membuat Sasuke kaget dan melihat ke arah Naruto. Sedangkan Naruto hanya tersipu malu sambil menatap Sasuke. Dan tiba-tiba Sei pun memanggilnya.
"Naru-chan…?" panggil Sei.
"Ah, iya."
"Karena hari ini hujan, bagaimana kalau besok saja kau mengajakku jalan-jalan?"
"Ah, baiklah. Aku janji akan mengajakmu berjalan-jalan."
"Wah, kalian mau jalan-jalan? Bolehkah aku ikut? Aku punya referensi tempat yang paling bagus, lho." sahut Sakura sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Eh, iya." jawab Naruto sedikit heran.
"Ah, bagaimana kalau besok Sasuke juga ikut?" ajak Sakura.
Sasuke bingung mau menjawab apa dengan ajakkan Sakura itu, padahal ini adalah acara Naruto dan Sei. Tapi dilain sisi Sasuke sebenarnya tidak ingin membiarkan Naruto berjalan berdua bersama laki-laki lain.
"Kau ikut saja." ajak Naruto sambil tersenyum lembut padanya.
"Hnn.." gumam Sasuke mengiyakan ajakkan Naruto.
"Aku ke toilet dulu." pamit Sakura. Lalu dia pergi sendirian ke toilet.
Setelah Sakura kembali dari toilet, dia tidak sengaja melihat Sasuke dan Naruto saling bergandengan tangan di bawah meja. Kini hatinya semakin kesal dibuatnya, padahal dia benar-benar mencintai Sasuke. Tapi kenapa harus Naruto yang dicintai oleh laki-laki yang begitu ia cintai. Lalu pesanan mereka pun datang, coklat hangat yang dipesan barusan. Saat pelayan itu akan menaruh coklat hangat itu ke tempat Naruto, Sakura dengan sengaja menyenggol tangan pelayan itu hingga coklat hangat itu menumpahi baju Naruto.
"Aah!" Naruto kaget saat coklat hangat itu mulai mengotori seragamnya.
"Kau tidak apa-apa, Naru?" tanya Sei.
"Ini, bersihkan dengan ini." Sasuke memberikan tisu untuk Naruto.
"Maaf-maafkan saya, saya tidak sengaja. Maaf." ucap pelayan itu penuh rasa bersalah sambil membungkukkan badannya.
"Ah, tidak apa-apa. Cuma kecelakaan." kata Naruto sambil membersihkan bajunya dengan tisu.
"Naruto, kau tidak apa-apakan? Aduh, kau ini! Kalau melayani yang benar sedikit, dong!" bentak Sakura pada pelayan itu.
"Maaf. Maafkan saya."
"Sudah tidak apa-apa. Tolong ambilkan coklat hangat satu lagi saja." suruh Naruto.
"Baik. Sekali lagi saya minta maaf." ucap pelayan itu lalu pergi meninggalkan meja mereka.
"Bajumu kotor, pakailah jaketku." kata Sei sambil memberikan jaket yang ia pakai untuk Naruto.
"Terima kasih." jawab Naruto.
Dilain sisi Sasuke sedikit cemburu melihatnya, sedangkan Sakura dia mulai kesal melihat Naruto yang selalu diperhatikan oleh laki-laki yang ia sukai. Beberapa menit kemudian, coklat hangat Naruto pun datang.
-S-e-t-e-l-a-h- -i-t-u-
Hujanpun mulai reda, dan akhirnya mereka memutuskan untuk kembali pulang. Karena arah rumah Sasuke dan Sakura searah, akhirnya mereka berjalan bersama.
"Kami pulang dulu, ya Naruto-chan." sahut Sakura sambil melambaikan tangan padanya.
"Ya, hati-hati di jalan." Naruto pun melambaikan tangan pada mereka berdua dan lalu pulang bersama Sei.
-oooOOOooo-
Sasuke POV
Kenapa aku harus pulang bersama cewek bawel ini? Seharusnya aku yang bersama Naruto saat ini, tapi kenapa aku malah bersama nenek sihir ini? Menyebalkan sekali! Tapi, kepalaku masih serasa melayang saat Naruto tiba-tiba menggenggam tanganku tadi. Dan aku masih tak rela dia harus bersama laki-laki lain, walaupun dia saudara kembar Sai sekalipun. Aku ingin melihatnya, aku masih ingin bertemu dan memandang wajahnya. Bagaimana ini? Dadaku benar-benar sakit.
"Ne Sasuke-kun, aku bahagia sekali bisa berjalan berdua bersama denganmu." cerocos Sakura. Namun aku tidak menghiraukan ocehan Sakura padaku dan akhirnya aku putuskan untuk pergi ke rumah Naruto. Tapi seperjalananku ke rumah Naruto, aku melihat hal yang tak semestinya aku lihat. Kejadian yang benar-benar membuatku kesal dan emosi.
Normal POV
Diperjalanan pulang. Sei mulai bertanya tentang Sasuke pada Naruto.
"Sepertinya kau akrab sekali dengan laki-laki yang bernama Sasuke itu." sahut Sei memulai pembicaraan. "Kulihat kalian dekat sekali dan lagi sepertinya dia menyukaimu."
"Kami hanya berteman baik. Tidak lebih dari itu." ucap Naruto. "Sei, kaulah orang yang paling mengerti keadaanku saat ini. Aku masih tidak bisa melupakan Sai dari diriku, dan mungkin tidak untuk selamanya."
"Kau yakin hanya Sai yang akan ada di dalam hatimu?"
"Apa maksudmu, Sei?" tanya Naruto kaget mendengar perkataan Sei.
"Naruto, kita ini masih 17 tahun. Cepat atau lambat kau pasti membutuhkan seseorang untuk mendampingi hidupmu. Kau tidak bisa hanya bergantung pada satu jiwa yang sudah tiada. Aku mengerti perasaanmu, Naruto. Aku tahu bagaimana rasanya kakak meninggalkan kita."
"Sei, aku.."
"Hei, Naruto. Aku tahu seberapa besar kau mencintai kakakku dan seberapa besar kesedihan yang kau alami saat kematian kakak. Tapi bisakah kau melupakan kakakku untuk kebaikanmu?"
"Apa maksudmu? Kenapa kau mengatakan hal itu?" Kenangan pahitpun mulai muncul kembali saat kecelakaan itu terjadi. Bagaimana bisa semudah itu Naruto harus melupakan Sai. Sai adalah orang yang paling berharga baginya, dan orang yang paling ia cintai. Mengapa Sei malah menyuruhnya untuk melupakan kakaknya sendiri? Air mata mulai mengalir kembali saat kenangan pahit itu terkuak lagi. Dadanya begitu sakit saat harus mengingat kejadian itu.
"Naruto, aku hanya…" Melihat Naruto yang mulai mengalirkan air matanya, Sei pun merasa bersalah dan ingin sekali mengobati rasa pedih yang dirasakan Naruto.
"Kenapa? Kenapa semua orang menyuruhku melupakan Sai? Kenapa? Hiik~" bentak Naruto sambil menangis, namun kedua tangannya mulai mengusap-usap kedua matanya. "Hiik~ Padahal Sai adalah orang yang paling berharga bagiku. Aku mencintainya! Huuaaaa~"
"Naruto…" panggilnya lalu memeluk Naruto dengan lembut. "Maaf-maafkan aku. Aku tidak bermaksud ingin membuatmu seperti ini. Maaf." timpal Sei.
Dan Naruto pun mulai menangis di pelukkan Sei. Namun tanpa sengaja, ternyata Sasuke melihat kejadian itu. Dia mulai salah paham melihat Naruto berpelukkan dengan Sei. Niatnya Sasuke ingin ke rumah Naruto yang sudah meninggalkan Sakura sendirian di jalan. Tapi tanpa sengaja Sasuke malah melihat kejadian yang seharusnya tidak ia lihat. Kejadian yang membuatnya harus emosi dan kesal. Ia begitu kesal melihat Naruto berada di pelukkan laki-laki lain.
-To Be Continued-
Thanks minna buat reviewnya sampai saat ini..
Dan juga aku sangat berterima kasih karena kalian masih menunggu fanficku ini.
Sekali lagi Hontou ni Arigatou!
Sampai bertemu di chapter selanjutnya. n_n
|
||||||