Misc » Misc. Tv Shows »

Beyond the Sea
Author:
asaiasai PM
Di tempat ini lah kita jatuh cinta. Di samudra yang luas ini, kita saling bertemu. Entah apa yang menyatukan dan memisahkan kita berdua / Story Based on Titanic, Setting before World War 2. ARASHI Fanfic. Sakumiya. Matsumiya. CHAP 4 UPDATE
Rated: Fiction T - Indonesian - Romance/Angst - Chapters: 5 - Words: 11,981 - Reviews: 2 - Updated: 09-09-10 - Published: 08-08-10 - id: 6220734
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

Asiknya ngerjain di malam takbiran XD

Sebenarnya saya ingin ikut SHO PARTY di twitter bareng istri2 sho lainnya, tapi sayang skali.. batere bb saya habis dan mendadak mood nulis saya boost up dan sepertinya saya harus segera menamatkan fanfic ini, kalo ngga ntar ide2 fanfic lain berseliweran di otak LOL

Judul : Beyond the Sea

Rate/Warn : T, Set before World War 2

Pairing : Sakumiya, Matsumiya

Disclaimer : JE

BakanchiDouble do not own Arashi

This is just a FICTION

Chapter 05 Declaration, Resistance and Believers

Jun membolak-balik lembaran kertas yang diterimanya. Matanya tampak serius dan tidak kenal ampun. Ia membetulkan kacamatanya sesekali. Benda yang hanya digunakannya ketika ia harus meneliti atau memeriksa suatu dokumen. Ya, khususnya dokumen kali ini. Terlalu penting baginya hingga ia harus memeriksanya beberapa kali. Setelah puas menghafal dan memahami isi dokumen itu, ia melipatnya kembali seperti kondisi semula.

"Ini. Aku sudah selesai membacanya." Ujar Jun pada Yamada, pelayan yang disewanya khusus. "Terima kasih atas infonya."

"Apa saya sudah boleh kembali bekerja, tuan?" Tanya Yamada.

"Belum, temani aku ke dek bawah." Pinta Jun dengan wajah yang seakan mengatakan kalau ia tidak ingin ada penolakan.

"Baik." Yamada mengangguk dan mengambilkan mantel Jun kemudian memakaikannya ke tubuh pria perlente itu. Jun sama sekali tidak menatap Yamada dari mata ke mata, ia selalu mendongak sedikit seakan mengingatkannya bahwa mereka ada di strata yang berbeda. "Sebelah sini Tuan." Tunjuk Yamada dengan wajah yang seakan tertekan dengan aura Jun.

Jun tidak membalas. Ia hanya berjalan sombong seakan ia yang paling berkuasa disana, ya.. dia memang penguasa di kapal ini. Ia punya uang, jabatan dan reputasi. Sekali saja kau mendengar nama Matsumoto disebut, jika kau adalah seorang rakyat kecil yang sangat menderita, kau akan langsung lari dan bersembunyi. Jangan pernah meminta belasungkawa atau sedekah darinya, kau hanya makin merendahkan martabatmu yang sudah rendah.

Isi kepala Jun saat ini sangat-sangat tidak bisa ditebak. Bahkan keputusannya untuk mendatangi dek bawah juga sangat tidak bisa masuk di akal. Ia bahkan tidak mengotori sepatunya dengan Lumpur, untuk apa sekarang ia menginjakkan kaki di tempat itu. Tempat yang baginya terlalu hina dan tidak pantas untuk orang sepertinya. Itu semua karena ia sangat mencintai seseorang. Ya, seseorang bisa berubah ketika ia mencintai seseorang. Segalanya akan ia lakukan, meskipun itu menggoyahkan harga dirinya.

Jun menyuruh Yamada untuk mencari data soal seseorang yang membuatnya geram. Seorang kaum bawah yang mendekati sahabatnya. Ups, mungkin kali ini Jun tidak menginginkan konteks sahabat.. ia menginginkan sesuatu yang berbeda. Suatu hubungan yang lebih dalam.

Sakurai Sho. Orang yang sangat dibencinya sekarang ini. Seorang lulusan universitas Keio yang mengaku akan melanjutkan studinya di Amerika. Tapi tidak ada kepastian di Universitas mana kah ia akan belajar. Yang membuat Jun tertarik bukan rekaman akademisnya, tapi dimana Sho berasal. Desa Amanogawa.

Jun menaikkan alisnya saat membaca dokumen yang diberikan oleh Yamada. Itu adalah desa tempat perusahaannya melakukan aktivitas pertambangan. Para penduduk pun banyak yang menjadi pekerja tambang. Walau tidak pernah turun ke desa tersebut, tapi Jun sering melihatnya dari kejauhan.. dari lokasi pertambangan. Entah kenapa firasatnya mengatakan, bahwa ada sesuatu yang menghubungkan semua ini. Suatu benag merah yang masih abu-abu, kabur dan tak bisa diprediksi.

Yamada akhirnya membukakkan pintu menuju dek bawah dengan setengah takut, entah kenapa tangannya gemetaran seperti diincar binatang buas. Ia khawatir kedatangan Jun kesini akan menjadi suatu pemicu yang tidak baik. "Silahkan Tuan." Silah Yamada sopan.

Ketika Jun melangkahkan kakinya di tempat yang sangat terlarang baginya itu, semua mata kaum bawah tertuju padanya. Hanya dalam hitungan detik mereka langsung saling berbisik dan menggosip tidak keruan. Mata mereka sangat mengganggu dan membuat sang tuan muda merasa risih. Ini sebabnya ia benci orang kampung. Tapi Jun tidak membuang waktu, matanya segara berkeliling mencari seseorang yang diketahuinya sebagai Sakurai Sho,

"Kau mencariku?" Tiba-tiba orang yang sangat dicarinya menampilkan dirinya sendiri dengan penuh percaya diri. Ia berdiri tegap dan menghadap persis di depan Jun. Tinggi mereka hampir sama, dan Jun akan salah kira kalau ia bisa sedikit mengintimidasi Sho dengan tingginya. Ia benci sekali ketika ia harus bertatapan dengan seseorang yang lebih rendah darinya, mau tak mau.. karena mata mereka sejajar.

"Syukurlah aku tidak perlu memanggilmu." Balas Jun sambil terus memerhatikkan sekelilingnya. Ia seperti tentara musuh yang masuk ke sarang lawan dan mengincar rajanya. Semua orang disana menatapnya dengan tatapan bermusuhan.

"Ada perlu apa?" Tanya Sho langsung ke intinya.

Jun mengambil nafas sedikit, kemudian ia menjawab pertanyaannya. "Aku hanya minta kau berjanji." Ujarnya.

"Janji?"

"Jangan bawa dia ke mana-mana." Ucapan Jun sedikit mengejutkan Sho.

"Apa maksudmu? Ia tidak kemana-mana, ia pasti ada di kamarnya sekarang." Jawab Sho pura-pura tidak mengerti.

"Tapi hatinya dibawa olehmu." Lanjut Jun dengan nada yang makin berat.

"Kau sepertinya takut kehilangan mainanmu, Matsumoto-san." Sho membalas Jun dengan yakin. Mereka berdua bertatapan seperti seorang musuh lama yang tak pernah bisa berdamai. Walau pun ini kali pertama mereka bertatap muka langsung, tapi entah kenapa dendam rasanya sudah sangat dalam hingga mereka tidak bisa mengalihkan pandangan satu sama lain.

"Aku tidak tahu apa yang kau lakukan dengan antek-antekmu. Tapi biar kutegaskan, kalian bisa saja kulenyapkan dari sini sekarang juga." Ujar Jun percaya diri. Ia tidak peduli dengan orang-orang bawah yang marah dan uring-uringan mendengar kalimat sombongnya. Tapi sayang, Sho tidak terpengaruh dengan kalimat itu. Seperti catatan kehidupannya, Sho berjiwa terpelajar dan tidak gampang terpancing emosi. "Ini Kapalku, dan tidak akan ada yang bisa mengatur disini selain aku."

"Akan kuingat kata-katamu, Matsumoto." Balas Sho yakin.

Keduanya masih saling memandang dengan jutaan arti negatif. Dendam, iri dan perasaan ingin saling membunuh. Antara harga diri dan dendam saling bercampur aduk. Tapi, keduanya masih bisa menahan emosi mereka, karena yang terpancing itu berarti dia yang kalah. Mereka berdua sama-sama tahu itu.

Jun tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berbalik badan dan menuju ke pintu dek. Tapi suara Sho menghentikkan langkahnya. "Aku akan mengambil semua yang kau cintai." Jun menengok kembali. "Aku juga akan menghancurkan semua yang kau miliki." Kali ini Jun menunjukkan ekspresi kesal. "Dan aku akan membiarkanmu menderita seumur hidup." Jun kini melempar tatapan marah ke arah Sho, menyuruhnya diam. "Aku bercanda." Sambung Sho santai, membuat emosi Jun tidak beraturan.. namun untungnya ia masih bisa mengontrolnya.

"Ini terkahir kalinya aku kesini." Gumam Jun sambil menghilang ke dek atas.

"Ya, aku pastikan itu." Gumam Sho membalas kalimat Jun. Ia meneguk kopinya dengan nafsu, kemudian menaruhnya dengan keras seakan itu adalah minuman terenak yang pernah diminumnya. Tatapannya masih serius dan sepertinya kini terbakar semangat.

"Kau masih mau melanjutkannya, Sho-chan?" Tanya Aiba yang sedari tadi berdiri di sebelahnya.

"Apa maksudmu?"

"Yang tadi bukan bercanda kan?" Sho terdiam mendengarnya. Ia tidak menjawab pertanyaan Aiba. "Aku akan ke dek atas."

"Apa lagi ulahmu?"

"Tenang saja. Itu tidak akan menggagalkan rencana kita." Tanpa mendengar ocehan Aiba lebih lanjut. Sho sudah pergi menghilang ke dek atas.

"Aku rasa kau terlanjur menikmatinya, Sho-chan." Gumam Aiba kecil.

Tok Tok Tok

Aku terbangun mendengar sebuah suara yang berulang kali mengusikku. Aku mengucek kedua mataku dengan agak kasar. Setelah insiden tadi, aku terlelap di tempat tidurku. Mataku merah karena menangis, kepalaku pusing dan berat rasanya. Sebenarnya aku malas untuk membangunkan tubuhku, tapi aku terganggu dengan suara ketukan itu.

Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, mencoba mencari sumber suara tersebut. Mataku membelakak ketika aku melihat sosok yang kukenal berdiri di dekat jendelaku. Itu Sho! Aku segera melompat dari tempat tidurku dan menempel pada kaca Jendela. Aku tidak bisa mendengar suaranya, tapi aku bisa melihatnya tersenyum seakan mengatakan kalau semua akan baik-baik saja.

Ia mengutak-atik kunci Jendela kemudian dengan sedikit sentuhan kasar, ia berhasil membukanya. Aku tersenyum girang ketika ia berhasil melakukannya. Tak sabaran aku menggeser jendela tersebut. "Terima Kasih." Ucapku.

"Ayo." Tanpa membalas kata-kataku. Ia menarik tanganku kasar dan membawaku kabur dari penjara sesaat itu. Biasanya aku akan kesal jika diperlakukan seperti itu, tapi kali ini aku iya-iya saja. Rasanya tidak apa-apa bersama dengan orang ini, semuanya pasti akan berjalan dengan lancar.

"Kita mau kemana?" Teriakku.

"Ikut saja!" Tanpa memberitahuku kemana kita pergi, ia terus menggenggam tanganku erat. Entah kenapa aku tidak ingin kami segera sampai di tempat itu, aku ingin merasakan hangatnya genggaman itu.. lebih lama. "Sudah sampai!" Sayangnya, waktu terlalu cepat berlalu. Ia segera melepas tanganku ketika sampai di tempat yang ditujunya. Aku kelelahan dan membungkuk sambil memegang lututku, mencoba mengurangi kecapekan yang kuderita.

"Tempat apa sih." Aku perlahan menengadah dan melihat apa yang sebenarnya ditujukkan oleh Sho. Angin sore menerpa cukup kencang, tapi sinar matahari sudah menipis dan mengindahkan langit oranye yang menemani terbenamnya sang surya. Aku bisa melihatnya, sejauh mataku memandang. Sebuah panorama yang menajubkan dan kau pasti sedang mabuk kalau hatimu tidak tergugah melihatnya.

Awan seperti berjalan dan berputar. Langit seperti terus mengembang dan tiada batas. Lautan bergejolak dan menimbulkan bunyi yang asri. Aku tidak bisa menutup mataku. Sho membawaku ke bagian ujung kapal, bagian tertinggi dan tempat terindah untuk merasakan lautan.

"Indahnya.." Gumamku jujur.

"Ya kan?"

Aku tersenyum lembut. Ini adalah senyum paling jujur yang pernah aku perlihatkan. Rasanya hatiku ikut menyatu dengan alam dan kini tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan pemandangan saat itu.

"Terima kasih." Aku mengulurkan tanganku ke arah Sho, mengajaknya bersahabat. Aku tersenyum sekali lagi ke arahnya, memberikan segala ketulusan yang masih kupunya.

Sho mengangguk dan memegang tanganku. Kukira ia akan menjabatku, rupanya Ia mengecupnya lembut. Aku terkejut, tidak kusangka ia akan melakukannya. "Maksudku jabat tangan!"

"Yah, orang mengartikannya beda-beda.." Balasnya nakal.

"Dasar aneh!" Aku tertawa riang. Tapi, entah kenapa aku tidak merasakan hal yang sama dari wajah Sho. Ia seperti tersenyum kecut, tanpa ketulusan. Aku menduga-duga apa yang sedang dipikirkannya. Ia menatapku kasihan dan sepertinya pikirannya penuh dengan hal-hal rumit. "Kau kenapa?" Tanyaku.

"Tidak. Tidak apa-apa."

Saat itu aku belum tahu arti dari pandangan dan kalimatnya yang ambigu itu.

Jika aku mengetahuinya, mungkin aku masih bisa menghindari apa yang terjadi sekarang.

Atau mungkin tidak.

Aku tidak bisa merubah apa pun.

Tbc

Next Chapter 06 Playful, Joy and Reason

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .