Anime/Manga » Kuroshitsuji »

Rain
Author:
Azalea 'Rocchi' Maurish PM
"Kau kemana saja, Ciel? Aku mencarimu..." ia tersenyum seperti halnya 2 tahun yang lalu. Dengan matanya yang masih setia dengan orb merahnya. Rambutnya yang masih hitam, dan agak acak-acakan yang sering Ciel ejek. Chapter terakhir!
Rated: Fiction T - Indonesian - Hurt/Comfort/Tragedy - Sebastian M. & Ciel P. - Chapters: 9 - Words: 23,603 - Reviews: 91 - Favs: 27 - Follows: 8 - Updated: 12-11-10 - Published: 08-22-10 - Status: Complete - id: 6261140
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

Rain

Chapter I

Prolog

Disclaimer © Yana Toboso-sensei


Suatu tempat di luar London City, 01.58 a.m, dinihari...

Tetes demi tetes air bening, menyapu daerah ini. Hujan turun begitu derasnya, hingga tak ada satupun yang luput dari basah. Angin menderu kencang, memaksa orang untuk tetap tinggal dirumah mereka, tidur dalam hangatnya selimut tebal. Bersama orang-orang yang mereka sayangi tentunya. Bahkan sebagian orang tak menyadari hujan deras yang membasahi kota.

Sebuah mobil hitam berkecepatan tinggi melintas, membelah jalan raya yang lenggang dan basah karena hujan. Ia begitu pandai, hingga ia bisa mengendalikan gerak mobilnya dalam kecepatan seperti itu. Satu demi satu, mobil pengendara lain ia salip, ia lalui tanpa cacat. Dengan mulus dan halus, ia lewati truk pengangkut. Bahkan ada pula anak-anak muda yang sama sepertinya, tengah berpacu demi uang taruhan, berhasil ia lalui. Anak-anak remaja itu bersyukur, bukan dia yang mereka lawan.

Perlahan, pengemudi kesetanan itu melambatkan laju mobilnya, ketika ia memasuki zona London City. Kerlip lampu ibukota Inggris ini menyapanya. Namun, tak begitu ia hiraukan. Toh ia sudah menaklukan kota ini dengan karirnya. Siapa yang tidak kenal dia? Semuanya pasti tahu, dan ketika gadis-gadis mana saja akan menjerit histeris ketika namanya di sebutkan.

Ia memperlambat mobilnya, karena tahu ini sudah zona hukum. Ia takkan mau ditangkap polisi! Selain itu, ia bermaksud menyamar, membeli beberapa kebutuhannya di toko 24 jam, disini.

Ia memakirkan mobil hitam berkilatnya. Setelah yakin tak terlalu banyak orang yang lalu lalang, ia keluar dengan hati-hati bak maling yang takut ketahuan. Kemudian, bergegas memasuki toko tersebut, cepat-cepat memilih barang dan membayarnya. Setelah selesai, ia langsung keluar dari sana, dan berlari kecil menuju mobilnya karena takut basah kuyup. Ia melintasi jalanan, dan tertegun sejenak.

Dia lagi!

Lelaki bermata merah itu memalingkan wajahnya, menatap anak kecil di seberang jalan. Dia lagi. Anak itu selalu berada disana, ketika hujan turun. Ketika seharusnya anak sekecil dia ada dalam lindungan pelukan ibunya, ia malah termenung dan terpaku. Entah apa yang membuatnya menjadi seperti itu, yang jelas lelaki bermata semerah senja itu selalu melihatnya ketika hujan turun, dengan membawa payung transparan. Bibirnya pucat, kedinginan. Matanya yang dalam, seperti lautan seolah menelan segala kepahitan...dan di balik punggung kecilnya dapat dilihat segala sakitnya.

Lelaki bermata merah itu...Sebastian Michaelis. Seorang aktor berwajah sangat rupawan yang sedang berada pada tangga popularitas tertinggi. Karenanya dia bisa meraih semua kemewahan ini dengan sekejap, tanpa perlu mencari lagi. Kalian tahu? Aktor dan aktris adalah pekerja yang rendahan, membohongi semua orang dengan wajah dan dibayar untuk itu. Kebohongan yang dibayar...huh adakah yang lebih konyol daripada itu? Semua orang juga tahu, kaumnya ini adalah yang paling pintar menipu.

Selain seorang aktor, lelaki itu pun seorang penyanyi yang dikatakan bertalenta. Atau apalah itu, dia tak peduli. Dia melakukannya karena hanya itu yang bisa dia lakukan. Tak ada yang mendukungnya menjadi dokter, dan sialnya, dia dipungut oleh seorang manajer yang bekerja pada agensi musik yang cukup besar.

Dan pada malam ini, ketika dia baru saja pulang, ingin beristirahat dengan tenang di rumahnya, akhirnya lelaki itu kembali bertemu anak itu, diseberang jalan. Selalu ketika hujan turun. Awalnya Sebastian mengira, anak itu hanya kebetulan berdiri disana, lama kelamaan Sebastian tak berpikir seperti itu lagi karena tingkah anak itu yang agak aneh. Diam disana, sambil membawa payung yang melindungi kepalanya.

Anak itu tetap berdiri, memandangi lelaki ini yang tengah bimbang di samping mobil. Antara menyapa anak itu, atau tidak. Mereka sering bertemu pandang pada malam-malam sebelumnya, namun Sebastian hanya bisa tersenyum, meski anak itu tak membalas senyumnya. Wajah anak polos yang terlihat sedih dan seakan ia tak bisa tersenyum lagi, entah apa yang sudah ia alami.

Akhirnya Sebastian putuskan untuk menemuinya, dan batal istirahat dirumah dengan hangat. Dia tak tahan melihat tatapan matanya tersebut. Ia berlari kecil agar hujan tak semakin ganas membasahi tubuhnya.

"Hai..." sapa Sebastian padanya. Anak itu hanya diam.

"Apa yang kau kerjakan disini? Kau bisa sakit kalau terus menerus kedinginan..." lanjut Sebastian lagi. Anak itu menoleh, menengadah. Wajahnya dapat terlihat dari dekat. Benar-benar manis, dan cantik. Bulu matanya lentik, memayungi bola matanya yang biru tua, pekat. Pipinya sehalus pualam, dan putih seperti susu. Rambutnya tampak lembut, dan berkilau di bawah lampu kota. Kedua kaki dan tangannya yang mungil dibalut busana yang serba biru dan hitam. Ia angkuh, dan menantang dunia.

"Namamu siapa?" tanya Sebastian. Namun, orb biru tua itu hanya menatap Sebastian lekat-lekat. Ia tak menjawab, ia hanya menggerak-gerakkan tangannya membentuk bahasa isyarat, membuat Sebastian sedikit bingung.

Sepertinya, anak itu mengerti kalau Sebastian tidak menangkap isyaratnya. Akhirnya, ia menuliskan sesuatu di notes kecil, dan ia menunjukkannya pada Sebastian, memintanya untuk membacanya.

Aku bisu, tak bisa berbicara. Percuma Anda berbicara padaku, aku takkan bisa mendengarnya.

Sebastian terenyuh. Seketika itu, dia mengalihkan pandangannya, menatap wajah anak itu. Anak itu hanya tersenyum, tanpa suara. Dan ia tertawa tanpa suara. Untuk kali ini, lelaki bermata merah itu ingin sekali menghiburnya dengan petikan gitarnya, dan suara merdunya. Selama ini, ia tak pernah menyanyi untuk penghibur sedihnya sendiri. Karena memang tak ada yang bisa mengobatinya lagi. Namun, untuk kali ini dia ingin sekali memperdengarkan lagunya, untuknya.

Namun, tak bisa. Nadanya takkan tersampaikan untuk anak ini. Separuh dari keindahan dunia tak lagi bisa ia nikmati.

Tiba-tiba, ia memecahkan lamunan Sebastian dengan sodoran notes kecilnya. Ia tersenyum manis seraya meminta Sebastian untuk melihat apa yang ia tulis disana. Dengan patuh, ia membacanya.

Namaku Ciel. Senang berkenalan dengan kakak!

Sebastian tersenyum simpul membacanya. Rupanya, ia bisa membaca gerak bibir Sebastian, hingga ia tahu apa yang ia katakan. Sebastian berlutut untuk menyamai tinggi anak itu, dan menyalami tangan kecilnya tersebut.

"Aku Sebastian. Aku juga senang berkenalan denganmu, Ciel" balas Sebastian sambil tersenyum. Entah mengapa, dalam dasar hati lelaki itu, ia ingin sekali membahagiakan anak ini, sebagai pengganti apa yang sudah Tuhan ambil darinya. Dia ingin sekali melindunginya, dan membuatnya selalu tertawa semanis ini.

Ciel kembali menulis di notesnya, dan tak lama kemudian, ia menyodorkannya pada Sebastian.

Aku suka semua lagu kakak! Indah sekali!

Sebastian tertegun sesaat. Hatinya sakit sekali. Perih. Bagaimana ia bisa mendengar lagunya, sementara ia takkan mampu mendengar apapun? Dan juga, mengapa Tuhan begitu keras menimpakan cobaannya pada anak ini? Suatu saat nanti, Sebastian ingin sekali ia mendengar petikan gitarnya. Dentingan pianonya, gesekan biolanya, dan alunan suaranya. Sebastian akan melakukannya dengan senang hati.

"Baiklah, Ciel. Terimakasih sudah menyukainya. Mengapa kau ada disini? Orangtuamu akan marah sekali..." kata Sebastian, sambil tersenyum. Ciel menggelengkan kepalanya, lalu ia menulis di notes kecilnya lagi.

Aku tak memilikinya

"Maaf..." Sebastian merasa serba salah. Namun, berbeda dengan Ciel, ia hanya tersenyum manis. Awalnya Sebastian mengira ia akan selalu berwajah sedih ternyata tidak. Ia anak yang tabah dan manis. Sebastian menerka-nerka bagaimana ia bisa hidup di kota yang keras ini?

"Rumahmu dimana, Ciel?" tanya Sebastian. Ia sudah tak peduli lagi dengan penyamaran, lebih tepatnya, tidak ingat. Ia terlalu asyik berbicara dengan anak kecil itu.

Ciel menunjuk ke arah belakangnya, sebuah gang sempit tempat berbagai kejahatan dan kekotoran sikap berlabuh disana. Pengedar narkoba, pelacur, gigolo, preman dan sebagainya. Sebastian sangat terkejut. Ia tak bisa membayangkan, anak sekecil ini harus tinggal ditempat seperti itu! Kepolosannya akan segera hilang, berganti dengan kebringasan dan nafsu. Matanya yang lembut akan berubah menjadi belati. Tangan kecilnya akan ia pergunakan menyakiti orang lain.

Dan hatinya...ya, hatinya akan sehitam dan sekelam malam. Ada yang lebih buruk daripada itu?

"Kau yakin disana, Ciel?" tanya Sebastian lagi. Ciel hanya mengangguk sambil tertawa tanpa suara. Rambut kelabunya tertiup angin malam, dan uap nafasnya berhamburan, menerpa bajunya yang agak lusuh.

"Bagaimana kalau kau ikut bersamaku?" tanya Sebastian, sekonyong-konyongnya. Ia sendiri agak terkejut, kata-kata itu terlontar begitu saja karena refleks merasa begitu miris melihat kehidupan Ciel. Namun, Sebastian takkan menyesali akan merawat Ciel, karena ia tak penah punya keluarga. Menurutnya, pasti akan sedikit berwarna hidupnya jika ia punya seseorang yang bisa ia jadikan tepat berbagi.

Ciel hanya menatap Sebastian, tanpa ekspresi. Ia masih tak mempercayai apa yang Sebastian katakan. Rasanya terlalu muluk, seorang bintang sepertinya memungut anak tak terurus itu. Sebastian yang mengerti ketidakpahaman Ciel, langsung mengulang lagi apa yang barusan ia katakan.

"Aku ingin kau ikut bersamaku, Ciel. Kau akan tinggal di apartemenku, lalu kau harus sekolah. Bagaimana?"

Ciel membelalakkan matanya. Bibirnya terkatup rapat, alisnya terangkat. Dengan gemetar, ia menuliskan kata di notesnya.

Terimakasih banyak, kakak...

"Sama-sama. Anggap saja aku ini kakakmu, dan kau akan aku angkat adikku. Kita akan menjadi saudara yang paling hebat di Inggris!" sambung Sebastian lagi. Ciel memeluk Sebastian sambil menangis tanpa suara. Sebastian hanya tertawa sambil mengacak-acak rambut Ciel dan balas memeluk Ciel. Mereka melengkapi satu sama lainnya, yang masing-masing sendiri. Dan mereka bahagia punya tempat berbagi.

"Nah, Ciel kita harus segera menghangatkan diri. Kau tidak ingin masuk angin bukan?" tanya Sebastian. Ia mengambil alih payung yang ada dalam gengaman Ciel, dan memakaikan tubuh kecil itu jaketnya. Lalu, ia menggandeng tangannya, membimbing Ciel menyebrangi jalan menuju mobilnya.

Tak ada satupun orang di dunia ini yang bisa mengukur tingkat kebahagiaan Ciel sekarang. Ia bisa bebas dari tangan-tangan jahat yang ingin mencelakakannya, dan berlari menuju lindungannya.

Sebastian mengerti, kekonyolan dirinya yang saat pertemuan pertama langsung memungut anak yang tidak ia kenal, namun bukankah ini kekonyolan yang baik? Sebenarnya, ia tidak sekonyol itu, karena ia hanya ingin menyelamatkan anak yang ada dalam gandengan tangannya. Dan ia ingin sekali bisa memelihara senyum seindah itu, selamanya.

Dan bukankah ini awal yang baik?

To Be Continued


Reviewnya ya? -kedipin mata- +muntah berjamaah+

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .