
Chapter 15: Trap / Satu per satu kenyataan mulai terkuak. Sedikit demi sedikit, benang-benang kusut mulai terurai. Tanpa mereka sadari, mereka masuk ke dalam sesuatu yang sama sekali tidak mereka duga / Read and Review please... ON HOLD.
Rated: Fiction T - Indonesian - Romance/Hurt/Comfort - Sasuke U. & Naruto U. - Chapters: 15 - Words: 60,264 - Reviews: 228 - Favs: 54 - Follows: 31 - Updated: 06-14-11 - Published: 09-08-10 - id: 6309752
|
|
A+ A- |
Author's note: saya bukan ahli igo atau pun shogi dan juga saya tidak punya bakat dalam hacking atau cracking sehingga kalau ada kesalahan dalam chapter ini, tolong diberitahu sehingga saya bisa memperbaikinya. At least, thanks a lot for reviews and enjoy this chapter.
Disclaimer: Naruto and all characters in this fanfiction belong to Masashi Kishimoto-sensei. He own everything!
Pairing: Uchiha Sasuke / Uzumaki Naruto
Warning: AU, Boy x Boy, a bit violence, OOC, typo, unbeta-ed, minor chara death again. If you Don't Like, please Don't Read it!
Your Frozen Heart
Chapter 15: Trap
"Aish~ aku sama sekali tidak mengerti mengapa aku selalu kalah darimu, Shikamaru-kun."
Shikamaru menyipitkan matanya sejenak ke arah pria yang duduk tepat di hadapannya dan kemudian mendecak pelan. "Merepotkan," katanya sambil memijat bagian belakang lehernya. Jangan salahkan ia bersikap demikian mengingat sudah satu jam lebih ia duduk bersila sambil terus menerus menatap papan igo di hadapannya.
"Anda seharusnya belajar lebih banyak sebelum menantangku, Azuma-san," kata pemuda dengan model rambut mirip nanas tersebut sambil menatap bosan ke arah seorang Azuma Sarutobi yang saat ini terlihat sedang sibuk dengan rokok di mulutnya.
"Hmm... asal kau tahu, Shikamaru-kun," kata Azuma, "aku sudah cukup belajar bermain igo sebelum ini. Lagi pula, mana mungkin aku akan menantangmu bermain kalau aku sama sekali tidak tahu menahu tentang hal ini? Sama saja artinya aku masuk ke dalam mulut harimau dengan kehendakku sendiri."
"Merepotkan."
Azuma hanya bisa menghela nafas panjang melihat pemuda di depannya. Siapa yang pernah menyangka, di balik sosok pemalas yang selalu diperlihatkan pemuda bermarga Nara tersebut, tersimpan kecerdasan di atas rata-rata? Bahkan menurut dirinya sendiri, seorang Nara Shikamaru adalah sosok pemuda yang boleh dikatakan masuk ke dalam kategori jenius.
"Well, aku akui aku kalah darimu," kata Azuma lagi yang kini menghisap dalam-dalam sebatang rokok di mulutnya dan kemudian menghembuskan asap dari mulut dan hidungnya. "Sesuai kesepakatan, apa yang ingin kau ketahui?"
Shikamaru menyeringai kecil sambil menegakkan tubuhnya. Sepasang manik hitam pemuda itu beralih ke arah biji-biji igo yang tertata di atas papan permainan tersebut. Dengan perlahan, ia mengambil sebuah biji igo dan memain-mainkannya di tangannya.
"...Apa yang saat ini Tou-san selidiki?" kata pemuda itu.
"Kau benar-benar sengaja menjebakku. Bukan begitu?" Shikamaru hanya mengedikkan bahunya. "Baiklah, aku tepati janjiku. Ayahmu sedang menyelidiki beberapa kasus pembunuhan yang akhir-akhir ini terjadi di luar kota. Beliau sedang sibuk untuk mencari siapa pelakunya. Apa kau pernah mendengar nama Uzumaki Mito? Ayahmu sedang menyelidiki kematian wanita itu. Walau pihak keluarga korban sama sekali tidak terlalu mengambil pusing kematian Mito dan meminta Kepolisian menutup kasus ini, Ayahmu bersikeras untuk menyelidikinya."
"Dan bagaimana hasilnya?"
"Kami masih menyelidiki hal itu," kata Azuma lagi. "Polisi sudah mulai bergerak dan menyadari ada sesuatu yang terjadi dengan dunia bawah."
Shikamaru terdiam cukup lama. Dalam diam, ia mulai memunguti satu per satu biji igo berwarna putih dan memasukkannya ke dalam sebuah mangkuk di samping papan tersebut. Ia juga tidak berkomentar apa-apa ketika mendapati pria di hadapannya juga melakukan hal yang sama.
"Seberapa banyak yang sudah polisi ketahui?" tanya pemuda Nara tersebut. Diletakkannya sebuah biji igo tepat di sisi kanan papan permainan. Kedua matanya kemudian terfokus ke arah sebuah biji igo berwarna hitam yang diletakkan tepat di samping kiri biji yang baru saja ia letakkan.
"Dari beberapa informasi yang kami peroleh, ada hal yang tidak beres terjadi di dunia bawah. Harusnya hal ini bukan menjadi tanggungjawab kami mengingat polisi hanya mengurusi hal-hal di dunia atas. Tapi..." Azuma terdiam sejenak sambil kembali menghisap rokoknya, "...belakangan ini ada pergerakan kecil dari dunia bawah yang sepertinya mulai keluar dari batas sehingga mau tidak mau kami harus bergerak. Apa kau tahu sesuatu tentang hal ini, Shikamaru-kun?"
Shikamaru mendengus pelan. "Anda mau melanggar kesepakatan, Azuma-san?" katanya. "Saat ini Anda kalah dariku sehingga Anda sama sekali tidak punya hak untuk bertanya kepadaku. Kalau mau mengorek informasi dariku, kalahkan dulu aku dalam ronde kali ini."
Azuma mendecak. Ia sudah menduga kalau pemuda di hadapannya itu akan menjawab seperti barusan. Kalau saja atasannya tidak menyuruhnya untuk mengumpulkan informasi mengenai apa yang sedang terjadi, ia sama sekali tidak akan mau datang ke tempat tinggal pemuda Nara tersebut. Padahal sebelumnya ia sudah mempersiapkan diri untuk menantang pemuda itu bermain igo dan bukannya shogi seperti yang biasa mereka lakukan. Ia sudah yakin kalau kali ini ia akan menang dan kalau mujur, ia bisa mendapatkan informasi yang ia butuhkan.
Sayang, sepertinya keberuntungan tidak sedang berpihak padanya. Walau sudah menantang Shikamaru bermain igo, ia tetap saja kalah. Dan seperti kesepakatan mereka yang biasanya, ia harus mau memberikan informasi apa yang dibutuhkan pemuda itu.
"...Jadi polisi sudah bergerak untuk menyelidiki apa yang terjadi," gumam Shikamaru. Ia menghiraukan begitu saja tatapan penuh tanya dari Azuma. "Apa Anda tahu sesuatu tentang kecelakaan yang terjadi terhadap sepasang suami-istri bermarga Uchiha yang terjadi sebelas tahun yang lalu?"
"Sebelas tahun yang lalu?" Shikamaru mengangguk. "Sayangnya aku sama sekali tidak tahu apa pun tentang hal itu. Saat itu pun aku masih menjalani pelatihan sebagai seorang polisi. Memangnya apa yang terjadi?"
Shikamaru memilih untuk tidak menjawab pertanyaan tersebut. Ia lebih memilih untuk kembali ke arah papan igo di hadapannya. Diamatinya sebentar biji-biji igo di hadapannya kemudian meletakkan sebuah biji berwarna putih tepat di samping biji milik Azuma. "Anda kalah lagi, Azuma-san."
Azuma mengerang pelan sembari mematikan puntung rokoknya. "Sial! Sampai kapan aku harus kalah darimu? Kalau terus seperti ini, bisa-bisa aku sama sekali tidak akan pernah mendapat informasi yang kubutuhkan."
"Merepotkan," kata Shikamaru sambil menguap lebar. "Anda harusnya belajar lebih baik lagi, Azuma-san."
"Kau benar-benar berani berkata seperti itu?" tanya Azuma dengan kedua mata menyipit. "Kau pikir dari siapa kau bisa ahli bermain shogi kalau bukan dariku?"
"Yah, harus kuakui kalau aku berhutang dalam hal ini dan akan kubayar. Katakan padaku, apa yang ingin Anda ketahui?"
Selama beberapa saat, Azuma menatap tidak percaya ke arah Shikamaru. Ia masih tidak percaya dengan ucapan pemuda itu. Tapi saat melihat wajah bosan Shikamaru, ia tahu kalau ia tidak punya banyak waktu sebelum pemuda itu berubah pikiran.
"Katakan padaku," kata Azuma, "apa yang sebenarnya tengah terjadi? Kami sama sekali tidak mendapatkan informasi apa pun. Entah mengapa, tindak kriminal meningkat dari sebelumnya. Obat-obatan terlarang begitu mudah ditemukan di dunia atas seolah-olah sama sekali tidak ada yang mengawasi semua itu."
"Aku sama sekali tidak bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi sekarang, Azuma-san," kata Shikamaru sambil mengambil sebatang rokok dari saku celananya. Kalau saja saat ini ibunya sedang tidak berada di rumah, tentu saja ia sama sekali tidak akan berani merokok di rumah walau saat ini ia berada di beranda. Ibunya akan dengan cepat mencium aroma tembakau tersebut dan ia sama sekali tidak mau repot-repot untuk mendengarkan ceramah sepanjang satu jam lebih dari Ibunya. Tidak, terimakasih.
"Jadi apa yang bisa kau jelaskan?"
"Tidak ada."
Azuma mengerutkan dahi. "Kau tidak akan menjelaskan apa pun padaku?"
Pemuda bermarga Nara itu mengangguk. "Belum saatnya. Lagi pula ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kalian para penegak hukum. Bukankah lebih baik kalian mengurusi urusan kalian sendiri?"
"Lalu bagaimana denganmu sendiri? Apa kau pernah berpikir, kau itu adalah anak seorang Kepala Kepolisian. Orang yang punya kedudukan di kota ini. Apa kau pernah berpikir bagaimana Ayahmu kalau tahu anak laki-lakinya ternyata—kalau boleh kukatakan—ada hubungannya dengan dunia bawah?"
"Entahlah. Terkena serangan jantung?"
Lagi-lagi Azuma mendecak. "Selama aku mengenalmu, kau sama sekali tidak pernah memberitahukan mengapa kau mau terlibat dalam semua ini, Shikamaru."
Pemuda bermarga Nara tersebut terdiam cukup lama. "Karena orang yang berarti untukku memilih untuk masuk ke dalam dunia itu," ujarnya dengan nada pelan sambil mengalihkan perhatiannya ke arah langit yang terlihat mendung.
Sasuke menghela nafas panjang sambil menatap layar komputer di depannya. Ia mendecak pelan ketika lagi-lagi icon berwarna merah terpampang di layar tersebut. Dengan sedikit kasar, ia meraih keyboard komputernya dan kemudian kembali berkutat dengan layar di depannya. Ia kembali mendecak ketika lagi-lagi usaha yang sejak satu setengah jam terakhir ia lakukan sama sekali tidak membuahkan hasil padahal saat ini ia tidak mempunyai banyak waktu lagi.
Pemuda berambut raven itu akhirnya memilih untuk menyandarkan diri sejenak. Ia tahu kalau terus seperti ini, ia hanya akan menghancurkan komputer di depannya karena tidak juga berhasil menyusup ke dalam database yang ia inginkan.
Ia memerlukan cara yang lain agar usahanya berhasil.
"Kalian salah kalau mencoba menghentikanku," ujarnya dengan nada datar. Sekilas, seringai muncul di wajahnya ketika ia kembali berkutat dengan keyboard di hadapannya. Dengan cepat, ia kembali mengetik rangkaian angka-angka dengan matanya yang tidak henti-hentinya terpaku pada layar komputer. Dalam diam, ia mulai mengerjakan apa yang seharusnya ia lakukan sejak beberapa hari yang lalu.
Menyusup ke dalam tempat penyimpanan data milik Kepolisian Konoha.
Well, ini bukan kali pertamanya ia melakukan hacking atau cracking tanpa seorang pun yang bisa melacak keberadaannya. Ia sudah pernah melakukan hal seperti ini sewaktu masih tinggal di Otō. Hanya saja, ia melakukan tindakan yang masuk ke dalam cyber crime itu dalam jangkauan yang kecil dan tidak sampai menimbulkan kekacauan yang besar. Ia hanya pernah mencoba masuk ke dalam sistem data sekolahnya yang dulu untuk melihat-lihat data para siswa di sana. Ia juga sempat menyusup ke dalam sistem keamanan sebuah universitas dan membuat server universitas tersebut tidak bisa bekerja dengan baik karena kelebihan muatan, serta beberapa kenakalan lainnya.
Alasannya? Ia hanya merasa bosan. Hanya itu.
Itachi sendiri sama sekali tidak tahu tentang kegiatan kecil yang ia lakukan sebelum akhirnya pria itu tahu ketika Minato menyuruhnya untuk menyusup dan mengacaukan sistem keamanan milik Uzushio. Sejak saat itu, kakak laki-lakinya memperingatkannya untuk tidak melakukan hal itu lagi.
Sasuke mengerang memikirkan kata-kata Itachi. Walau ia sudah berjanji tidak akan berbuat seperti itu lagi, saat ini ia harus melanggar janjinya. Salahkanlah Itaci sendiri yang tidak pernah mau memberitahu apa yang harusnya ia ketahui sehingga sekarang, ia mencoba mencari tahu sendiri dengan resiko dirinya harus membobol pusat data milik Kepolisian Konoha dan bila perlu ia akan mencari ke seluruh bank data yang ada.
Gerakan lincah jemari tangan Sasuke terhenti ketika dirinya melihat deretan angka-angka dalam bentuk algoritma di depannya. Ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya menekan tombol 'enter'. Detik berikutnya, ia menyeringai ketika perlahan-lahan layar tersebut menampilkan logo milik Kepolisian Konoha. Dengan cepat ia memasukkan password dan...
Access Granted
...bingo!
Data-data seluruh penyelidikan polisi, daftar-daftar para kriminal serta informasi milik Kepolisian sudah berada di tangannya.
Sasuke kemudian meneliti satu per satu folder-folder yang terpampang dalam komputernya. Tanpa menunggu waktu dan membuat dirinya ketahuan, ia segera mengkopi seluruh data tersebut dan kemudian meninggalkan database milik Kepolisian itu setelah sebelumnya menghapus seluruh jejak yang bisa membuat orang-orang itu mengetahui keberadaannya. Mereka bahkan tidak akan tahu kalau ada seseorang yang baru saja mengintip data penting yang mereka miliki.
Dalam diam, ia mulai membuka satu per satu folder yang ia miliki. Ia memijat pelan bagian belakang lehernya ketika tidak menemukan apa yang ia cari. Semua data yang baru saja ia baca hanya berisi penyelidikan polisi yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan apa yang ia cari. Ia juga sempat menemukan beberapa daftar buronan polisi serta hal-hal yang menurutnya sama sekali tidak penting. Ia hampir saja menduga kalau apa yang baru saja ia lakukan hanya sia-sia saja ketika matanya tidak sengaja tertuju ke arah sebuah folder yang sama sekali berbeda.
Jika folder-folder yang sejak tadi ia baca selalu diberi nama sesuai dengan bulan dan tahun untuk data-data berupa penyelidikan, folder yang satu ini diberi nama yang berbeda.
'Underworld—dunia bawah.'
Tidak membuang-buang waktu, Sasuke pun membukanya.
.
.
Itachi menumpukan kedua tangannya di atas meja. Sepasang iris sekelam malamnya terpaku ke arah layar laptop di depannya. Ia menghela nafas panjang ketika melihat apa yang baru saja sebuah tampilan di layar benda itu.
"Apa yang sudah kau lakukan, Otouto?" tanyanya pada diri sendiri ketika melihat apa yang baru saja dilakukan adik laki-lakinya. Dalam diam, ia memejamkan matanya; mencoba mengatur amarah yang sedang ia rasakan. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Sasuke akan nekat berbuat seperti ini.
Membahayakan diri menyusup ke dalam tempat yang seharusnya tidak Sasuke masuki.
Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Sasuke? Itachi tidak henti-hentinya mempertanyakan dirinya sendiri. Ia sama sekali tidak habis pikir mengapa Sasuke memilih untuk melibatkan diri pada sesuatu yang tidak seharusnya ia campuri.
Sejak konfrontasi dengan Uzushio untuk membawa Naruto pulang, ia yang baru tahu kalau adik laki-lakinya ternyata adalah seorang hacker, Itachi pun tidak tinggal diam. Tanpa sepegetahuan Sasuke, ia menanamkan sebuah chip di komputer milik adiknya tersebut yang memungkinkan ia untuk tahu apa yang sedang dikerjakan Sasuke. Chip yang ia dapatkan dari Konan tersebut berfungsi untuk mencatat berbagai macam data yang keluar masuk ke dalam komputer di mana chip itu ditanamkan dan kemudian melaporkannya melalui e-mail. Ia melakukan semua itu hanya ingin agar Sasuke tidak melakukan tindakan bodoh walau tentu saja apa yang ia lakukan melanggar privasi adiknya.
Dan sekarang apa yang ia cemaskan terjadi. Sasuke telah bertindak bodoh dengan mencuri data dari pihak Kepolisian.
Walaupun demikian, harus ia akui apa yang Sasuke lakukan merupakan suatu hal yang hebat. Menyusup dan kemudian mencuri informasi tanpa meninggalkan jejak sedikit pun merupakan hal yang mengagumkan untuk ukuran anti sosial semacam Sasuke. Sampai sekarang pun Itachi tidak tahu dari mana Sasuke belajar tentang semua itu.
"Kalau seperti ini, apa yang harus aku lakukan?" tanya Itachi pada dirinya sendiri. Ditatapnya sebuah foto yang berada di atas meja di dekatnya. Foto yang berisi sosok keluarganya yang diambil beberapa bulan sebelum kematian kedua orangtuanya. Ia pun meraih foto tersebut dan kemudian menggengamnya erat.
Senyum samar terpatri di wajah pria itu ketika mengingat hari-hari yang ia dan keluarganya lalui. Begitu tenang dan sama sekali berbeda dari hari-harinya yang sekarang. Ia tidak pernah menyangka sebelumnya kalau di balik hari-hari penuh senyum yang keluarganya lalui, ayahnya menyimpan sebuah rahasia yang kelam.
Terlibat dalam sebuah organisasi gelap sampai akhirnya membuat maut menyemputnya karena apa yang ayahnya lakukan.
Itachi meletakkan figura yang berisi foto keluarganya dalam keadaan terbalik. Tangan kanannya kemudian bergerak ke arah sebuah laci di meja kerja tersebut dan membukanya. Diambilnya sebuah buku bersampul hitam yang dulu adalah milik ayahnya. Buku yang membuatnya tahu apa yang menjadi rahasia seorang Uchiha Fugaku.
...
'12 September 1998
Aku sama sekali tidak menyangka kalau Hashirama berbuat seperti itu. Bagaimana mungkin ia diam saja ketika organisasi bersikap melenceng seperti ini?'
'15 September 1998
Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran 'orang itu'. ia bersikap seolah-olah ia adalah pimpinan Uzushio. Bukankah seharusnya ia menerima apa yang diputuskan?'
'29 September 1998
Hashirama menyuruhku untuk menghentikan proyek yang sedang kutangani. Aku menyetujuinya.'
'5 Oktober 1998
Wanita itu mendatangiku dan mengatakan kalau aku harus meneruskan proyek yang sempat tertunda. Ia mengatakan padaku kalau Hashirama merubah keputusannya. Aku sama sekali tidak mengerti. Sudah jelas-jelas rencana itu sangat mustahil tapi mengapa mereka masih berkeras?'
...
Itachi menyusuri satu per satu tulisan-tulisan yang sangat ia kenali sebagai tulisan ayahnya. Sejak tidak sengaja menemukan jurnal ayahnya di antara tumpukan barang-barang yang tidak terpakai di gudang, ia tidak henti-hentinya membaca tulisan ayahnya. Ia masih belum sepenuhnya mengerti apa yang dimaksudkan ayahnya. Kembali, Itachi memfokuskan dirinya pada halaman-halaman kertas yang menguning tersebut.
...
'1 Desember 1998
Aku merasa ada sesuatu yang terjadi dengan organisasi ini tapi aku tidak tahu apa itu. Satu hal yang pasti, aku merasakan firasat yang buruk.'
'19 Desember 1998
Aku tidak sengaja mendengar Hashirama dan Mito berdebat mengenai proyek itu. Aku baru tahu kalau ternyata diam-diam tanpa sepengetahuan Hashirama, wanita itu melakukan penyelundupan senjata ke organisasi lain. Aku juga menemukan beberapa hal yang mencurigakan dari beberapa transaksi yang dilakukan organisasi belakangan ini.'
'2 Januari 1999
Proyek gagal. Seberapa kali pun aku mencoba, hasilnya sama saja namun wanita itu tetap berkeras untuk melanjutkannya.'
'31 Januari 1999
Akhirnya proyek itu benar-benar dihentikan. Dana untuk proyek itu sudah dibekukan. Tidak ada lagi yang tersisa.'
'25 April 1999
Aku memutuskan untuk keluar dari organisasi. Sudah cukup lama aku memikirkan hal ini. Aku tidak ingin lagi terlibat dalam sesuatu yang berbahaya seperti apa yang terjadi satu minggu yang lalu. Bagaimana dengan nasib keluargaku kalau aku terus menerus terlibat dalam hal seperti ini?'
...
Suara kertas yang dibalik menjadi satu-satunya suara di ruangan tersebut. Setelah cukup lama berkutat dengan buku di tangannya, Itachi pun memutuskan untuk kembali meletakkan buku tersebut pada tempatnya dan kemudian mengunci laci meja kerja yang dulunya adalah milik ayahnya.
Setelah ia membaca seluruh isi jurnal ayahnya, Itachi mulai menyelidiki kematian kedua orangtuanya. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Berulang kali ia mencari ke sana-sini tentang petunjuk itu namun tidak ada satu pun yang ia dapat sampai pada akhirnya, entah mengapa, Minato mendatanginya dan mengatakan kalau pria itu akan membantu menyelidiki asalkan ia mau bergabung dengan Akatsuki.
Ia tahu, ini adalah satu-satunya kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Naruto tahu, orang pasti akan menganggapnya benar-benar ingin mati ketika ia memutuskan untuk menerima undangan dari penelepon yang menghubunginya kemarin sore. Bagaimanapun juga, ia sama sekali tidak tahu siapa yang telah menghubunginya kemarin. Ia juga tidak tahu apa yang sebenarnya orang itu inginkan dengan menyuruhnya datang ke tempat seperti ini.
Datang ke sebuah gudang yang sudah tidak terpakai di pinggiran kota seperti ini. Sendirian dan tanpa menghubungi siapa pun sebelumnya.
Ia memang benar-benar sudah gila.
"...Aku sudah berada di sini. Sudah terlambat untuk kembali pulang," katanya pada diri sendiri sambil menatap ke arah bangunan di depannya. Dirabanya bagian belakang tubuhnya untuk memastikan apakah Barreta yang ia curi dari ruang kerja ayahnya masih berada di sana. Tanpa menunggu apa pun lagi, pemuda berambut pirang itu berjalan mendekati gudang tersebut.
Saat ini bukan saatnya ia untuk mundur. Ia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi karena jujur saja, semua yang terjadi belakangan ini membuatnya muak.
Ia muak dengan semua yang terjadi. Uzushio, kematian Mito, kematian kedua orangtua Sasuke serta ayahnya yang mulai terlibat ke dalam Uzushio. Ia muak dengan semuanya.
Langit-langit yang tinggi dengan beberapa bagiannya yang sudah berlubang karena dimakan rayap adalah hal pertama yang ia lihat ketika memasuki gudang tersebut. Naruto pun segera mengedarkan pandangannya ke sekitarnya ketika mendengar suara gemerisik pelan. Ia mendengus ketika menyadari kalau suara yang ia dengar barusan berasal dari gesekan daun-daun akibat angin di luar sana.
"...Anda datang lebih cepat dari yang kami duga, Naruto-sama."
Naruto tersentak ketika mendengar namanya dipanggil. Dengan cepat ia mengalihkan diri ke arah asal suara. Kedua irisnya sedikit melebar ketika seorang gadis muncul di balik bayang-bayang tembok gudang tersebut. Ia sama sekali tidak tahu sudah sejak kapan gadis itu berada di sana. Ia hanya tahu kalau siapa pun gadis itu, ia harus menjauhinya.
"Siapa kau?" tanyanya pada gadis itu. Ia mengamati gadis dengan tampilan a la gadis Cina tersebut berjalan ke sebuah kontaider kecil dan kemudian mendudukkan dirinya di sana. Naruto tetap tidak mengalihkan pandangan sedetik pun walau gadis itu tidak terlihat membawa senjata api atau semacamnya.
"Siapa aku bukanlah hal penting untuk Anda, Naruto-sama," gadis bercepol dua itu berkata sambil menyilangkan kedua kakinya. Sepasang iris mata gelapnya menatap lekat ke arah Naruto; mengamati pemuda yang berada tidak jauh darinya. "Yang penting adalah untuk apa aku di sini."
"Bukankah kau yang sudah menghubungiku kemarin?" Naruto bertanya dan gadis itu menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Lalu apa lagi yang kau tunggu? Bukankah kau menghubungiku untuk memberiku informasi?"
"Well, rencananya memang seperti itu, Naruto. Tapi tidak kusangka kalau Anda benar-benar datang sehingga sekarang rencananya berubah. Sejujurnya, harus kukatakan kalau rencana awalnya adalah memancingmu ke tempat ini."
Naruto menatap tidak mengerti ke arah gadis di hadapannya. "Apa maksudmu?" tanyanya tidak mengerti.
Gadis itu tidak menjawab. Ia terkejut ketika melihat senyum lebar di wajah gadis itu. Kedua bola matanya melebar ketika melihat tangan gadis berambut gelap tersebut bergerak dan menyingkap sedikit gaun khas Cina yang dipakainya sehingga memperlihatkan sebuah tempat pistol yang melilit paha gadis itu. Tubuh Naruto menegang ketika sebuah moncong senjata api mengarah tepat ke arahnya.
"Sayangnya, tujuanku sebenarnya menyuruh Anda datang ke tempat ini adalah untuk melenyapkan Anda. Anda merupakan batu sandungan dalam rencana kami dan sudah tugasku untuk melenyapkan batu sandungan itu, Naruto-sama."
Naruto menatap tidak percaya ke arah gadis itu. Ia mengumpat dalam hati ketika menyadari di mana posisinya saat ini. Ia memang benar-benar sudah gila karena mau-maunya datang ke tempat ini tanpa memikirkan apa yang mungkin terjadi sehingga akhirnya ia harus menerima konsekuensi dari tindakan gegabahnya. Masuk ke dalam jebakan yang mungkin saja akan membuat nyawanya melayang. Kalau sudah seperti ini, ia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri untuk keluar dari tempat sialan ini dalam keadaan hidup tentunya.
"Aku sedikit kecewa," kata gadis itu yang membuat Naruto menatap kembali ke arah gadis di hadapannya, "sebagai seorang yang disebut-sebut sebagai pewaris Uzushio, Anda termasuk gegabah, Naruto-sama. Tidak kusangka hanya dengan kata-kata kalau aku tahu sesuatu tentang kematian Ibu Anda, Anda mau datang ke tempat ini sendirian. Kuakui kalau Anda sangat berani."
"Jadi kau sama sekali tidak tahu apa-apa tentang hal itu?"
Gadis berambut gelap tersebut mengedikkan bahu. "Tidak juga. Secara garis besar aku tahu tentang kecelakaan yang menimpa Ibu Anda karena... akulah yang yang melakukannya."
Naruto benar-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa ketika mendengar kata-kata dari sosok gadis tersebut. Di saat seharusnya ia mengarahnya pistolnya ke arah orang yang sudah merenggut nyawa ibunya, ia diam tidak bergerak sedikit pun. Kedua iris matanya terpaku ke arah gadis yang baru saja mengatakan kalau dirinyalah yang telah membunuh ibunya.
"Anda pasti bertanya-tanya mengapa aku melakukan hal itu, bukan?" tanya gadis itu namun Naruto tidak menjawabnya. "Berhubung Anda akan segera berakhir di tempat ini, tidak ada salahnya aku mengatakannya.
"Awalnya, aku diperintahkan untuk menghabisi nyawa Anda sendiri. Anda merupakan bom yang kapan saja bisa mengacaukan rencana yang sudah kami susun sedemikan rupa oleh sebab itu, kami harus segera melenyapkan Anda. Rencananya sederhana saja, aku hanya harus menabrak Anda dan membuat seolah-olah Anda mengalami tabrak lari. Kami tidak mungkin membunuh Anda dengan senjata api atau hal semacam itu. Kami tahu kalau hal tersebut sama saja akan mengundang kecurigaan."
Gadis itu berhenti sejenak sambil memainkan revolver berwarna hitam di tangannya. "Sayang, rencana yang sudah kusiapkan gagal begitu saja saat ibu Anda memilih untuk mengggantikan nyawa Anda dengan nyawanya sendiri. Kushina sepertinya sangat menyayangi Anda, Naruto-sama."
Tanpa sadar Naruto menggeretakkan giginya ketika mendengar penuturan gadis di hadapannya. Ternyata apa yang dipikirkannya belakangan ini memang benar. Ibunya meninggal karena menolongnya.
"Siapa yang sudah memerintahkanmu untuk membunuhku?" Naruto mendesis pelan sambil menatap tajam ke arah gadis berambut gelap tersebut. Sambil mengamati sosok di hadapannya, tangan Naruto bergerak ke arah punggungnya; berniat untuk mengambil senjatanya. Sayang, sebelum ia bisa meraih benda di belakang tubuhnya, gadis itu sudah terlebih dahulu menodongkan senjata ke arahnya.
"Jangan berani bergerak sedikit pun atau aku akan menembak kepalamu."
Naruto langsung mengurungkan niatnya. Kedua tangannya seketika terjuntai di kedua sisinya. Tidak pernah ia merasa semarah ini kepada seseorang. Ia bertekad kalau akan memberi pelajaran kepada sosok yang telah merenggut Kushina dari sisinya. Apa pun harus ia lakukan setelah tahu apa yang terjadi.
"Kau mengatakan kalau kau diperintahkan untuk membunuhku. Siapa dia?" Naruto bertanya dengan nada dingin. Ia mengepalkan kedua telapak tangannya di kedua sisi tubuhnya.
"Ma~ jangan harap aku akan memberitahu Anda, Naruto-sama," kata gadis itu sambil menggerakkan telunjuk tangan kirinya ke kanan dan kiri. Naruto mendecak ketika mendengar tawa terkikik gadis itu. "Toh kalaupun aku memberitahu Anda, sama sekali tidak akan ada artinya. Anda akan segera berakhir di tempat ini."
Naruto hanya menatap datar ketika melihat gadis itu mulai menarik pelatuk revolver-nya dan menyebabkan suara letusan senjata api tersebut menggema di seluruh penjuru gudang.
.
.
TRAKK!
Minato mengerutkan dahi ketika mendengar suara yang asing baginya. Pria berambt pirang cerah tersebut mendongakkan kepala dari dokumen perusahaan yang sejak tadi dibacanya. Ia mendesah panjang ketika menyadari figura yang selalu berdiri di meja kerjanya kini tergeletak begitu saja di atas lantai berlapis merah di dekat ujung kaki meja. Minato pun segera meraih benda tersebut dan melihat apakah figura yang berisi foto dirinya serta Kushina dan Naruto rusak atau tidak.
Ia terpaku ketika melihat sebuah retakan kecil di ujung figura kaca tersebut.
Tenten membelalakkan kedua matanya ketika melihat sosok pemuda berambut pirang di hadapannya masih berdiri tegak. Ia bisa melihat sebuah lubang yang baru saja terbentuk tepat di sebuah tiang di belakang sosok itu. Sejak dirinya bekerja di dunia hitam, tidak pernah ada seorang pun yang berhasil menghindar dari tembakannya. Ya, kecuali saat ini tentunya.
"...Kau tahu," gadis berambut gelap bercepol tersebut mengedipkan matanya sekali ketika mendengar pemuda itu berbicara, "kecepatan peluru dari sebuah senapan adalah 1000 meter per detik. Sedangkan sebuah pistol atau revolver adalah sepertiganya. Asal kau tahu, aku sudah pernah belajar bagaimana menghindari peluru dari senapan. Bukan hal sulit bagiku untuk menghindari peluru dari senjata api milikmu."
"Tidak mung—"
Ucapan gadis itu terpotong ketika ia merasakan nyeri di bahu kanannya. Ia bukanlah orang dengan ingatan pendek sehingga bisa melupakan bagaimana perihnya ketika sebuah timah panas menembus kulitnya. Seketika itu juga ia langsung meringis pelan saat merasakan rasa sakit pada bahunya. Berusaha menghiraukan rasa sakit tersebut, gadis keturunan Cina itu segera melompat dari kontainer yang sejak tadi didudukinya dari bersembunyi di balik kotak besi tersebut.
"Kenapa kau bersembunyi? Bukankah kau mengatakan kalau kau akan membunuhku?"
Tenten mengumpat pelan sambil memegangi bahu kanannya yang saat ini sudah mengeluarkan banyak darah yang merembes di serat kain sutra yang ia pakai. Ia mengintip sedikit ke arah tempat di mana pemuda pirang tersebut berdiri namun segera menyembunyikan kembali tubuhnya tepat pada waktunya ketika sebuah peluru mengarah ke tempat persembunyiannya.
Ia tidak pernah menduga kalau pemuda pirang yang disebut-sebut sebagai penerus Uzushio tersebut bisa menghindar darinya untuk yang kedua kali.
Dua kali seorang Uzumaki Naruto lolos dari tangannya. Entah Dewi Keberuntungan sedang berpihak pada pemuda pirang itu ataukah Dewa Kematian yang sama sekali tidak mengharapkan kematiannya, ia sama sekali tidak tahu. Ia hanya tahu kalau kali ini ia gagal menghabisi nyawa pemuda itu, ia akan mendapat 'hadiah' yang setimpal.
Ia tidak ingin hal itu terjadi.
Tenten mengeratkan pegangan pada revolver kesayangannya. Ia menghela nafas panjang sebelum pada akhirnya ia meloncat ke arah samping dan menarik pelatuk senjatanya sebanyak tiga kali; mengarahkan tepat ke arah di mana pemuda pirang itu berdiri. Ia hampir mengira kalau salah satu peluru miliknya berhasil mengenai paling tidak satu bagian tubuh Naruto dan menyebabkan pergerakan pemuda itu terhenti.
Tapi, untuk yang kedua kalinya kedua matanya membelalak ketika melihat kondisi sekelilingnya dan tidak menemukan pemuda itu berdiri di sana. Ia hanya menemukan ruang kosong di tempat tersebut. Dengan cepat, Tenten mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.
"Jangan bersembunyi dariku, Bocah!" seru gadis itu sambil menodongkan senjatanya ke seluruh penjuru gudang tersebut. "Keluarlah! Kita akhiri petak umpet tidak berguna ini!"
Lagi-lagi, Tenten mendengar suara letusan menggema di gudang tersebut. Ia tahu kalau letusan itu bukan berasal dari revolver miliknya ketika ia merasakan kembali perih di tubuhnya. Tapi kali ini bukan berasal dari bahunya. Dengan perlahan ia menggerakkan tangannya ke arah di mana rasa perih itu berasal. Ia langsung berlutut di atas lantai yang penuh debu setelah melihat noda merah pekat di tangannya dengan revolver-nya yang sudah terjatuh lebih dulu di dekat kakinya.
Sebuah peluru baru saja menembus perut gadis itu.
"...Aku sudah bertekat akan memberi pelajaran kepada siapa pun yang sudah merenggut Kaa-san dari keluargaku," Tenten mendongakkan kepalanya ke arah asal suara. Dilihatnya sosok pemuda berambut pirang tersebut muncul dari balik kotak kayu tidak jauh darinya. "Tapi kalau kau mau mengatakan siapa yang sudah memerintahkanmu untuk membunuhku, aku akan berbaik hati untuk melepaskanmu. Cukup kau katakan saja sebuah nama, maka kau akan kulepaskan."
Untuk pertama kalinya, Tenten terpaku. Selama ini, tidak pernah ada orang yang selamat dari genggamannya. Siapa pun orang itu, nyawanya akan melayang kalau sudah masuk ke dalam daftar korbannya. Ia tidak pernah menduga kalau suatu saat nyawanya sendirilah yang berada di dalam genggaman orang lain apalagi orang itu bahkan masih berumur belasan tahun.
Ironis sekali.
"Kau hanya akan semakin mendekati kematian kalau tidak mau menjawab pertanyaanku, Nona," kata pemuda itu.
Tenten menggeleng pelan. "Jangan harap aku mau mengatakan apa pun kepadamu," desisnya. Ia berniat untuk meraih senjata miliknya sebelum sebuah letusan kembali terdengar. Ia berteriak ketika merasakan sebuah peluru bersarang di tangan kanannya. Ia pun menatap murka ke arah Naruto yang entah sejak kapan sudah berdiri di hadapannya.
"Katakan padaku siapa yang memerintahkanmu sebelum kau mati di tempat ini."
Naruto menatap tajam ke arah gadis di hadapannya. Sepasang iris mata safirnya terlihat sangat berbeda dibandingkan dengan yang biasanya. Ia sendiri sadar apa yang telah ia lakukan. Ia tahu kalau saat ini dirinya bukanlah Naruto yang biasanya. Saat ini dirinya adalah seseorang yang berusaha mempertahankan hidupnya sendiri dari orang-orang yang menginginkan nyawanya.
"...Aku sama sekali tidak... tidak peduli kalau aku mati di tempat ini. Aku... aku tidak akan pernah mengatakan apa pun kepadamu."
Naruto mendecak pelan atas kekeraskepalaan gadis di hadapannya. Ia tahu kalau peluru dari pistol miliknya tadi sudah mengenai gadis di hadapannya. Paling tidak peluru itu sudah bersarang di ginjal atau lambung gadis itu. Kalau tidak cepat ditangani, gadis itu bisa mati.
Namun, ia sama sekali tidak peduli. Ia sudah mengajukan tawaran yang ditolak tegas oleh gadis itu.
"Kalau begitu terserah padamu," bisik Naruto sambil memungut revolver hitam di dekat kakinya. Tanpa mempedulikan lagi bagaimana nasib orang yang berniat membunuhnya, ia pun berlalu; meninggalkan gadis itu sendirian.
Tenten meringis pelan sambil membaringkan tubuhnya di atas lantai yang dingin setelah kepergian Naruto. Ia hanya menatap hampa ke arah pintu keluar di mana sosok pemuda berambut pirang itu menghilang. Harus ia akui kalau ia cukup beruntung pemuda itu tidak menghabisinya di tempat ini.
Siapa yang pernah menyangka kalau pemuda yang baru berumur enam belas tahun itu bisa memojokkannya seperti ini dan membuat tiga buah peluru bersarang di tubuhnya.
Dalam diam, gadis itu mengakui kehebatan Naruto.
"Well, aku tidak mungkin kembali ke tempat itu lagi setelah ini," desahnya pelan sambil menekan permukaan kulit di mana peluru bersaran di perutnya. "Aku juga tidak mungkin selamat dari sini."
"Bagus kalau kau sadar dengan hal itu, Tenten."
Gadis itu membulatkan kedua bola matanya. Dengan susah payah ia mengalihkan pandangannya ke arah asal suara barusan. Raut horor terlihat jelas di wajah gadis itu ketika menyadari siapa yang saat ini muncul dari balik sebuah lubang besar di salah satu tembok bangunan tersebut. Ia tahu kalau ada seseorang yang ditugaskan untuk mengawasinya kali ini mengingat dua tahun lalu ia gagal melakukan tugasnya. Ia hanya tidak tahu kalau yang mengawasinya adalah orang itu.
Tenten tahu kalau hidupnya sudah tidak akan lama lagi.
"Kau tahu apa konsekuensi kegagalanmu kali ini?"
Tenten terdiam cukup lama sampai akhirnya ia menghela nafas panjang. "Aku tahu hal itu... Sai," katanya kepada sosok pria yang berdiri menjulang di depannya. Hal terakhir yang ia lihat sebelum ia menutup kedua matanya adalah sebuah senyum mengerikan di wajah pria itu.
To be continued
Masih bersediakah untuk meninggalkan review atau concrit untuk fanfic ini? #puppyeyes
|
||||||