Anime/Manga » Tsubasa Chronicle »

Yume Sakura
Author:
Nacchan Sakura PM
Seorang pemuda yang memainkan Biola di bawah Pohon Sakura, dan seorang Gadis yang dipaksa untuk menikahi Lelaki yang tidak ia cintai. Kisah cinta mereka pun dimulai, walau hanya untuk 16 malam. Syaosaku Pairing, R&R?
Rated: Fiction K+ - Indonesian - Romance/Drama - Sakura & Syaoran - Chapters: 4 - Words: 8,924 - Reviews: 22 - Favs: 10 - Follows: 5 - Updated: 11-16-10 - Published: 09-14-10 - Status: Complete - id: 6325798
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

Yume Sakura

Chapter 4: 16 Night Love Story

Author: Nacchan Sakura

Disclaimer: Tsubasa Chronicle © CLAMP, Yume Sakura © Kagamine LenRin

.

.

.

-Sakura and Syaoran POV-

~Day 1~

Hari dimana pertama kalinya aku bertemu dengannya. Pemuda yang menggunakan nada indah yang ia kendalikan untuk memikat hatiku. Pemuda yang begitu terlihat indah di bawah guyuran kelopak bunga Sakura.

XxXxX

Hari dimana aku bertemu seorang gadis, yang membawaku dari bayangan ilusi menuju kenyataan. Gadis tulus yang memikatku dengan senyuman dan keramahannya. Gadis yang begitu terlihat bersinar di bawah guyuran kelopak bunga Sakura.

~Day 2~

Hari dimana aku bertemu lagi dengannya, hari dimana pernikahanku akan semakin dekat. Juga hari dimana aku mengatakan perasaanku yang sebenarnya kepadanya. Hari dimana ia mengatakan kalau ia menyukaiku juga. Hari dimana kita saling bercerita akan suatu kisah sedih yang kita perankan.

XxXxX

Hari dimana aku bertemu lagi dengannya, dan hari dimana rasa sakit dan botol obatku terus bertambah. Juga hari dimana dia mengatakan perasaannya yang sesungguhnya kepadaku. Hari dimana aku mengatakan perasaanku yang sesungguhnya kepadanya. Hari dimana kita saling bercerita akan suatu kisah sedih yang kita perankan.

~Day 3~

Kami bertemu lagi di bawah Pohon Sakura atas bukit di sore hari. Ia memainkan biolanya, dan kali ini entah kenapa Aku merasa ingin ikut bernyanyi. Kedua melodi dan nada yang berpadu dan bersatu, seakan kami berdua memakai sebuah sihir yang dapat membuat anak kecil tertidur nyenyak. Dia tersenyum. Aku tersenyum. Kami tertawa. Kami bahagia. Apa benar begitu?

XxXxX

Kami bertemu lagi, di sore hari, di bawah pohon Sakura atas bukit. Aku memainkan biolaku dan kali ini ia ikut bernyanyi bersamaku. Suaranya indah, seperti malaikat yang sedang memberikan kebahagiaan kepada orang yang disayanginya. Melodi dan nada yang bersatu ini sungguh indah, seperti sihir yang memberikan tidur nyenyak bagi seseorang yang kesakitan. Aku tersenyum. Dia tersenyum. Kami bahagia. Ya, aku yakin, kami bahagia.

~Day 4~

Aku tak dapat bertemu dengannya. Ibuku menginginkan aku untuk mencoba baju pengantin bersamanya. Aku hanya bisa menurut tanpa bisa menolak. Aku terus memikirkannya sepanjang hari. Setiap detik ku, setiap nafasku, hanya ada tentang dia. Di telingaku hanya terdengar suaranya dan nada indah yang ia mainkan. Aku merindukanmu..

XxXxX

Aku tak bertemu dengannya. Kondisiku tiba-tiba kritis, aku dibawa ke ruang gawat darurat. Aku hanya bisa menahan rasa sakit ini, berharap semuanya akan segera berakhir. Namun, di setiap nafas dan rasa sakitku, aku selalu mengingatnya. Di pikiranku hanya ada bayangan senyumannya dan suaranya yang indah. Aku merindukanmu..

~Day 5~

Aku mendapatkan kabar bahwa Syaoran kritis dari seorang suster yang tiba-tiba datang ke atas bukit dimana aku dan Syaoran biasa bertemu. Kenapa Suster itu bisa mengetahui tentang kami, entahlah. Namun aku langsung terjatuh lemas dan menahan air mataku. Lalu aku pun segera berlari, melangkah pergi, untuk menemui Syaoran di rumah sakit. Dan aku pun akhirnya dapat bertemu dengannya. Ini pertama kalinya aku melihatnya dalam kondisi seperti ini. Ia terlihat lemah, pucat, dan banyak selang infus di tubuhnya. "Syaoran.. bisakah kau mendengarku?" Aku terus menggumam di dekatnya. Namun ia tak menjawab.

~Day 6~

Syaoran akhirnya sadar dan aku menangis bahagia saat ia membuka matanya. Ia terlihat kebingungan namun ia tersenyum kembali kepadaku. Aku memeluknya dengan erat. Lalu aku mendengar ia mengatakan satu kalimat secara berulang-ulang. "Ssh, Daijoubu yo, Sakura. Ore wa koko ni iru.."

XxXxX

Aku membuka mataku, dan saat aku membuka mataku, hal yang pertama kulihat adalah sosok Sakura yang menangis. Kenapa ia menangis? Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku ada disini dan kenapa Sakura ada disini? Namun semua pertanyaan itu terjawab saat Sakura memelukku sambil bergumam "Syukurlah, kau sudah sadar.. syukurlah kau masih hidup..". Apa aku kehilangan kesadaranku? Kapan? Tapi aku tidak peduli. Aku bersyukur tuhan masih memberiku kesempatan untuk melihat senyumannya. "Ssh, Daijoubu yo, Sakura. Ore wa koko ni iru.."

~Day 7~

Aku menjenguk Syaoran yang masih belum bisa bangun dari tempat tidurnya. Aku membawakan beberapa buah-buahan dan dia terlihat senang. Kulihat botol obat yang harus Syaoran makan bertambah banyak. Aku tahu ia membencinya. Namun jika hal yang ia benci dapat membuatnya hidup lebih lama dan bisa membuat ia memainkan nada indah itu untukku lebih lama, aku tak akan membencinya.

XxXxX

Sakura menjengukku sambil membawa beberapa buah-buahan. Aku tersenyum, senang bisa melihat ia sekali lagi. Namun senyumanku memudar saat Sakura melihat botol obat yang harus aku minum bertambah. Botol obat yang paling kubenci. Namun Sakura tersenyum dan dia berkata, "Minumlah Obat-obat ini, Syaoran. Setidaknya, lakukanlah untukku. Agar kau bisa hidup lebih lama untukku."

~Day 8~

Keadaan Syaoran sudah membaik dan ia sekarang sudah bisa beranjak dari kasurnya. Namun tetap saja, ia belum boleh pergi kemanapun. Aku menemuinya dan kali ini aku bertemu sahabatnya yang bernama Ryuuoh yang juga datang untuk menjenguk. Ryuuoh beberapa kali menggodaku dan Syaoran sehingga wajah kami berdua merona. Ryuuoh, dia anak yang menyenangkan.

XxXxX

Sakura kembali datang menjenguk, dan sekarang ia bertemu dengan Ryuuoh. Ryuuoh menggodaku dan Sakura sehingga wajah kami memerah. Namun saat ini, aku senang dengan suasana hangat dan menyenangkan ini. Aku berharap aku selalu seperti ini. Bisa bersama Sakura dan Ryuuoh untuk selamanya.

~Day 9~

Akhirnya Syaoran sudah bisa menghirup udara segar. Kami kembali bertemu di bukit pohon Sakura dan tentu saja dia memainkan biola nya. Hari itu berlalu begitu cepat. Aku berharap hari ini malam tidak cepat datang. Namun saat aku akan beranjak pergi, Syaoran tiba-tiba mengecup lembut bibir kecil ku. Dan di saat itulah waktu terasa begitu lambat dan lama. Lalu setelah itu, aku tersenyum. Aku tahu wajahku merona, namun aku tidak peduli. Aku menyukainya.

~Day 10~

Aku bertemu Sakura saat hari masih begitu siang. Aku ingin bersama dengannya sedikit lebih lama lagi, dan aku ingin mendengar suaranya lebih lama lagi. Aku memang sedikit salah tingkah karena kejadian kemarin, namun Sakura justru terlihat semakin bersinar saja. Namun kami berdua hari ini tak bisa merasakan kebahagiaan itu dengan waktu yang lama. Kebahagiaan itu pudar dengan cepatnya saat kami menyadari satu hal; pernikahan Sakura yang akan diadakan 6 hari lagi.

~Day 11~

Ibuku mengajakku dan Kurogane-san ke gedung dimana pesta pernikahan kami akan diselenggarakan. Ibuku terlihat begitu senang dan dia terus membicarakan seperti apa pesta kami akan jadi nantinya. Aku ingin hari ini cepat berakhir. Aku malas untuk tersenyum. Aku ingin mendengar nada indah itu.

~Day 12~

Aku menatap mata Emeraldnya.

Sudut bibirnya melingkar. Ia tersenyum.

Aku tersenyum. Aku merasa bahagia walau sesaat.

Namun senyumannya menghilang saat aku mengatakan satu kalimat yang sepertinya adalah sebuah pisau tajam untuknya.

"Sakura, Dokter bilang, aku tidak bisa disembuhkan."

Aku menatap mata Emeraldnya.

Ia meneteskan butiran air bak mutiara dari bola matanya.

Ia menangis.

~Day 13~

Aku mengurung diriku di kamar. Entah sudah berapa kali Tomoyo-chan mengetuk pintu kamarku, namun aku mengabaikannya. Aku menutupi wajahku dengan sebuah bantal berbentuk buah jeruk dengan erat. Aku tak peduli jika aku kehabisan nafas.

Jika aku mati, aku mungkin akan bisa ikut bersama Syaoran suatu hari nanti, bukan?

'Kau pikir, Syaoran akan senang dan mau ia ikut denganmu?'

"Pasti begitu. Ia akan kesepian jika sendirian. Aku.. akan ikut dengannya.."

'Kurasa, Syaoran lebih ingin jika kau tetap hidup..

Agar kau menemukan sebuah Happy Ending dalam ceritamu.'

~Day 14~

Aku menemui Sakura lagi di tempat biasa. Saat aku datang, ia tidak tersenyum. Ia hanya menatapku dengan tajam dan aku hanya meresponnya dengan senyuman kecil tanpa arti.

"Sudah menunggu lama?" Tanyaku

"Tidak, aku.. baru datang." Jawab Sakura

"Pernikahanmu.. dua hari lagi bukan?"

"Iya."

"..Semoga kau berbahagia ya, Sakura." Ucapku sambil tersenyum. Namun Sakura menamparku tepat di pipi kanan. Ia menangis namun juga terlihat marah.

"KENAPA BISA KAU BERKATA BEGITU? Aku—aku menikah dengan orang yang bahkan tidak kucintai! Aku mencintai orang yang lain! Namun orang yang kucintai malah berkata agar aku berbahagia seolah ia ingin melepaskanku! Kenapa.. kenapa.."

Aku memeluk Sakura yang menangis. Ia tidak melawan, namun ia menangis lebih kencang di baju seragamku yang berwarna hitam.

"Aku melepaskanmu karena ingin kau memiliki Akhir yang Bahagia, Sakura."

~Day 15~

Aku berjanji bertemu dengan Syaoran lagi, dan kali ini di malam hari. Aku datang dengan yukata terbaik yang aku punya, dan aku pun datang dengan senyum terbaik yang akan aku tunjukkan. Aku dan Syaoran berbincang hingga tengah malam, lalu ia memainkan Biola nya untukku. Dan kali ini, lagu yang aku dengar adalah lagu yang paling indah.. yang seperti dikendalikan oleh pemuda yang merupakan pecahan Fantasi.

"Nee, Syaoran. Aku… boleh tidak, ikut denganmu?" Tanya Sakura

"Maksudmu.. ke tempat 'itu'? ke tempat yang jauh di langit.."

Aku mengangguk. Syaoran menoleh ke arahku, lalu memegang wajahku dengan dua tangan lembutnya. Ia mengecup lembut bibirku, dan waktu terasa begitu lambat saat itu.

"Tidak boleh, Sakura. Hiduplah dan buatlah ceritamu berakhir bahagia bersama Kurogane-san"

"SAKURA!"

Aku dan Syaoran terkejut dengan suara wanita yang tiba-tiba datang dan berteriak memanggil namaku. Lalu aku menoleh perlahan, berharap ini bukan sesuatu yang buruk.

"..O-Okaa-san..?"

~Day 16~

-Normal POV-

.

.

Akhirnya, datang. Hari pernikahan Sakura dan Kurogane – yang akan diadakan nanti malam. Sakura tidak tahu sudah berapa kali ia menghela nafas lalu meraba-raba pipi kanan nya yang baru saja ditampar oleh Ibu nya tadi malam.

Ibunya mengetahui hubungan Syaoran dan Sakura. Ibunya mengikuti Sakura keluar rumah dan ia melihat Syaoran sedang memeluk Sakura. Ibunya marah lalu melarang Sakura untuk bertemu dengannya lagi.

"Kalau tanpamu, bagaimana bisa aku menemukan akhir yang bahagia dalam kisahku?"

Sakura menoleh melihat ke seluruh ruangan yang dipenuhi banyak orang ini. Ibunya, Tomoyo, bahkan Kurogane sibuk mempersiapkan pesta pernikahan.

"Kalau aku pergi.. tak ada yang memperhatikan bukan?"

Sakura mengendap-ngendap keluar dari rumahnya – dan tak ada seorangpun menyadarinya. Sakura berusaha berlari dengan cepat tanpa merusak kimono gaun pengantinnya. Ia berlari, ke tempat dimana ia menemukan orang yang ia cintai.

Sakura mempercepat langkah kakinya saat mendengar suara gesekan biola yang mengendalikan nada-nada indah terdengar. Lalu saat ia mencapai puncak dari bukit yang sedang diguyur oleh hujan kelopak bunga Sakura itu, Ia melihat sosoknya.

Sang pemegang kunci dari akhir kisah hidupnya.

"..Sakura?" Syaoran terlihat sedikit – tidak, sangat terkejut saat melihat Sakura dalam gaun pengantinnya tersenyum tipis tepat ke arahnya. Lalu Sakura berlari dan memeluk Syaoran. Syaoran membalas pelukannya.

Dreamy cherry blossoms, please do not fall.
Our love story lasts for only 16 nights..
Even though this dream will eventually vanish,
Just for now... just for now... let me think of you.

Walau guyuran kelopak Sakura ini hanyalah mimpi,

Aku memohon agar ia tak akan pernah hilang.

Walau mimpi ini pasti akan menghilang suatu saat nanti..

Saat ini saja. Untuk saat ini saja.

Aku ingin berpikir bahwa kisahku akan berakhir bahagia.

"Semoga berbahagia, Sakura."

"Selamat tinggal, Syaoran.."

Sakura kembali pulang ke rumahnya saat hari menjelang sore, setelah menyelesaikan nyanyian terakhirnya yang diiringi oleh nada indah yang Syaoran mainkan.

Untuk terakhir kalinya, ia tak menangis.

Untuk terakhir kalinya, ia merobek lembaran cerita dari kisah hidupnya.

Dan sekarang, ia membuka lembaran baru untuk kisahnya.

"DOKTER! Keadaan Syaoran kritis! Keadaannya menurun sejak tadi sore dan sekarang ia kehilangan kesadaran!"

Suster Arashi yang panik - dengan suara cukup kencang mendatangi ruangan dokter Kamui. Dokter Kamui yang biasanya berparas tenang pun kali ini menunjukkan wajah yang menandakan bahwa ia panik.

"Bawa dia ke ruang UGD!"

.

.

.

"Sakura, kau sudah membuatku bangga hari ini. Ibu senang kau bersedia menikah dengan Kurogane-san."

"Iya bu. Terima kasih."

Sakura duduk di samping Kurogane. Lalu acara pernikahan yang Sakura paling tidak inginkan untuk terjadi kini sudah dimulai. Sakura ingin lari dari semua ini, namun demi janjinya dengan Syaoran, ia tak akan mundur. Ia akan membuat kisah yang baru.

"Kau bersumpah akan hidup bersama lelaki ini, sampai akhir hidupmu dan nafasmu?"

"Aku bersumpah."

.

.

.

"SYAORAN! BERTAHANLAH!" Suster Arashi terus mengatakan kalimat itu kepada Syaoran yang sedang dalam keadaan tidak sadar. Sesekali denyut jantungnya melemah. Dokter Kamui berusaha membuat denyut jantungnya normal kembali dengan memberinya alat kejut jantung.

"Sa..ku..ra.." Syaoran menggumam pelan, sangat pelan. Ia ingin bertemu dengan Sakura. Namun..

"Aku ingin kau berbahagia, Sakura. Terima kasih.."

.

.

.

"Kira-kira, sekarang Syaoran sedang apa ya?" Sakura yang masih memakai gaun pengantinnya melihat ke arah luar jendela di kamarnya, lalu ia melihat pohon Sakura di atas bukit yang masih mekar dengannya.

"Miiip-" Kini, alat pendeteksi denyut jantung milik Syaoran telah menunjukkan garis yang datar. Suster Arashi menangis, Dokter Kamui terlihat kecewa akan dirinya yang tak bisa menyelamatkan nyawa Syaoran. Wajah Syaoran nampak begitu tenang, bahkan di saat nafas terakhirnya berhembus, ia masih tetap tersenyum.

"Aitai Yo.. Syaoran"

"Selamat Tinggal, Sakura."

I want to think that I can live with you forever.
But this love story that won't come true..
I have to end it here, right now.
Please let me dream of an endless dream world.

~The End~

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .