
AU/Aku tidak pernah mengharapkan kelebihan ini. Tetapi semua akan berbeda jika kelebihan ini kudapatkan dari dirimu./A request by Lenalee Shihouin and yuminozomi/GgioSoi/Little OOC/Mind to RnR?
Rated: Fiction T - Indonesian - Friendship/Horror - Suì-Fēng & Ggio V. - Words: 1,675 - Reviews: 6 - Favs: 2 - Published: 11-27-10 - Status: Complete - id: 6511267
|
|
A+ A- |
Tik
Satu detik.
Tik
Dua detik.
Tik
Tiga detik.
CUKUP! AKU SUDAH TIDAK TAHAN!
"Siapa di sana!" tegasku sangar walau sebenarnya aku ketakutan. Hening, sunyi. Tak ada siapapun. Tuhan, kalau memang sudah ajalku, cabut nyawaku. Err, jangan deh, masih sayang nyawa.
.
.
.
Disclaimer : Tite Kubo
Rate : T
Genre : Horror/Friendship/Romance/Supernatural
Main Chara : Soifon, Ggio Vega, ext
Warning : AU, OOC maybe, Soifon's POV (other; miskin deskripsi, Horror gak kerasa karena tidak ditekankan dan author miskin ide, diksi abal, tidak berplot, alur kecepatan, judul gak nyambung, dll)
Don't Like Don't Read
A request by Lenalee Shihouin & yuminozomi
.
.
Because of You
Aku tidak pernah mengharapkan kelebihan ini. Tetapi semua akan berbeda jika kelebihan ini kudapatkan dari dirimu.
.
© Shiori Yoshimitsu
Aku menatap iris mata emasnya dalam. Dan ia balik menatap iris mataku dalam. Kupicingkan mataku, dan ia lagi-lagi mengikuti hal yang kutujukan padanya. Mulai kesal, kujitak kepalanya. Ia meringis. Bagus, untung saja ia tidak menjitakku balik.
BLETAK
Oke, dia menjitakku balik. Menjatuhkan harga diriku di depan semua murid yang tengah menertawakanku dan lelaki manis di hadapanku—Ggio Vega.
"Jadi, mana lembar jawabmu, Ggio?" tanyaku sambil menyodorkan tanganku. Ggio membuang mukanya, lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, seolah-olah menentangku. "baiklah, akan ku ambil lembar jawab yang ada di kolongmu itu." tegasku dan langsung berusaha meraih kertas yang terdapat di kolongnya.
Dapat.
"O-oi, Soifon! Kembalikan!" kudengar Ggio mulai mengoceh, berharap aku mengembalikan lembar jawabnya. "Soifon, tadi aku ketiduran. Aku belum menjawab satu soal pun." oh, Ggio, malang sekali dirimu. Tetapi kau tahu, aku tidak perduli.
Kelas mulai sepi, yah, setelah mengumpulkan lembar jawaban, mereka sudah boleh pulang. Aku merapikan buku dan alat-alat tulisku, setelah selesai, aku menyelempangkan tasku. Kulirik Ggio yang sedari tadi menatapku. Cih, kau kira aku tak tahu kalau kau sedari tadi menatapku, Ggio Vega?
"Ada apa, Ggio?" tanyaku sambil berlalu. Dan aku pun tahu, ia mengikutiku. Ia menghampiri dan ikut berjalan di sisiku. Kulirik wajahnya yang beberapa senti lebih tinggi dariku, menyadari kalau aku sedang memperhatikannya, ia hanya menggeleng. Hhh, dasar aneh.
WUUSSHHH
Angin yang berhembus membuat rambutku ikut terayun. Koridor sudah sepi, hanya ada aku dan Ggio. Tetapi aku merasa… sepertinya ada orang lain di sini.
Selalu saja. Belakangan ini, aku sering melihat bayangan-bayangan yang tak seharusnya ada, dapat merasakan hawa makhluk lebih peka, layaknya seseorang yang mempunyai indra ke-enam. Tetapi, aku tidak mempunyai indra ke-enam, dan aku tahu itu.
"Merasa diikuti lagi, Soifon? Di belakangmu ada Sadako, loh," goda Ggio disambut dengan seringai kecilnya. Apa dia mengira aku akan memeluknya dan menangis seperti yang kulakukan ketika masih berumur tujuh tahun? Oh, jangan bercanda dan jangan berharap.
"Konyol," ujarku terkesan tak perduli. Walau sesungguhnya, aku perduli. Sangat perduli. Maksudku, aku takut. "mana ada hantu tengah hari seperti ini." celetukku asal. Aku tahu, pasti ada. Hanya saja, aku tidak ingin terlihat penakut di hadapan bocah beriris mata kuning emas di sampingku ini.
Perasaanku mulai tidak enak. Gawat. Aku membalikkan tubuhku, tidak ada siapa-siapa. Di lain sisi, aku tak mendengar langkah Ggio, itu artinya, ia juga berhenti berjalan. Aku merinding, kulirik kaca yang ada di sebelahku, dan…
"UWAAA!" teriakku spontan dan langsung memeluk Ggio tanpa sadar, lalu menutup mataku. "Ggio! Aku mau pulang! Sekarang!" seruku tidak jelas. Aku semakin takut karena Ggio tidak meresponku. Kembali kuteriakkan namanya. "GGIO!" dan ia bergeming.
"Eh? Oi! Kalau kau memelukku seperti ini bagaimana kita bisa pulang!" aku cukup terkejut. Tidak, aku terkejut. Aku melepas pelukanku, lalu menatap Ggio takut-takut. Semenjak umur dua belas tahun, ia selalu marah jika aku memeluknya sengaja ataupun tidak.
Ggio menarik tanganku dan langsung berlari meninggalkan sekolah. Cukup penasaran, aku menolehkan kepalaku untuk mengecek kaca yang membuatku panik tadi. Tidak ada apapun. Penglihatanku tidak mungkin salah, tadi…
"Oi!" sahut Ggio dan langsung membuatku 'sadar' walaupun sedaritadi aku memang sudah sadar. "kau membuatku panik, bodoh! Tiba-tiba teriak dan langsung memelukku, lalu merengek minta pulang seperti anak ke— hmmph!" aku menutup mulutnya menggunakan tanganku. Berisik, dan aku tidak suka berisik.
"Memangnya apa yang kau lihat?" tanya Ggio setelah aku melepaskan tanganku.
"Sesuatu yang seharusnya tak bisa dilihat manusia," jawabku apa adanya. Ggio menatapku curiga. "jangan menatapku seperti itu, bocah!" Ggio terlihat kesal karena kupanggil bocah, tetapi apa perduliku.
"Jangan panggil aku bocah, pendek!" balas Ggio dan berhasil membuatku emosi.
.
.
"Ggio,"
"Hm?"
"Untuk apa aku ke sini?"
Aku tak percaya, sekarang aku benar-benar berada di sini. Di rumah Ggio. Bukan, lebih tepatnya, di dalam kamar Ggio. Si bodoh satu ini, tidak tahu apa walau sedingin ini, aku itu perempuan.
"Tadi kau menelponku dengan hebohnya sambil berkata bahwa orang tuamu tidak pulang hari ini, dan kau ketakutan sendiri di rumahmu, 'kan?" jelas Ggio, aku mengangguk. "nah, ini cara paling sederhana yang ada di otakku. Karena kebetulan hari ini orang tuaku juga tidak pulang, kau menginap saja di rumahku."
Bodoh. Otakmu sempit sekali, Ggio. Kenapa harus aku yang menginap di rumahmu? Kenapa kau tidak menungguku sampai tertidur lalu meninggalkanku? Otakmu itu pasti kecil sekali, Ggio.
"Ggio, aku perempuan. Apa yang orang katakan kalau melihatku menginap di rumahmu?" ucapku kesal. Sedangkan Ggio malah sibuk dengan komik yang sedang dibaca olehnya. Benar-benar memancing emosi.
"Oh, aku baru tahu. Kukira kau laki-laki," celetuk Ggio tanpa dosa dan tanpa beban. Damn. "bercanda. Kau 'kan teman kecilku, Soi. Santai saja. Lagipula siapa yang mau melihatmu."
Yah, ada benarnya juga. Siapa yang perduli padaku? Tetapi sungguh, keadaan ini membuatku tak nyaman. Uuh, sudah lima tahun aku tidak masuk ke kamarnya. Kenapa rasanya… lupakan.
"Ggio, di rumahmu 'aman' 'kan?" tanyaku sambil membetulkan posisi dudukku menjadi di atas tempat tidur Ggio dan bersender pada tembok. Ggio hanya mengangguk malas. "yakin?" aku meyakinkannya, lagi-lagi Ggio mengangguk.
"Penakut," sepatah kata itu keluar dari mulut Ggio, dan no offense. Yah, mungkin aku penakut sekarang. Setelah itu, hening. Dan hal yang paling tidak aku inginkan, terjadi. Mati lampu. Tunggu, mati lampu?
"G-Ggi-Ggii-Ggio?" sahutku terbata. Jujur, aku takut. Bagaimana kalau aku kembali melihat 'sesuatu'? Aku mulai meraba kasur Ggio, di mana bocah sialan itu?
GREP
Aku merasa kalau kakiku dipegang oleh seseorang. Apakah itu Ggio? Perlahan, aku memberanikan diriku untuk bertanya. "Ggio? Kau 'kah itu?" tetapi tak ada jawaban. Tuhan, tolong aku!
Aku meraba tangan yang memegang kakiku, tangan itu dingin. Yang aku tahu, itu pasti bukan tangan Ggio. Aku menarik kakiku, dan langsung memojokkan diriku di sudut tempat tidur. Ggio, kau di mana?
Lampu menyala. Sekarang aku dapat melihat dengan jelas. Tidak ada Ggio, hanya ada aku dan sosok yang dapat kulihat sangat jelas di hadapanku. Lalu, aku pingsan.
.
.
"…Fon,"
"Soi… Fon?"
"Soifon?"
Aku membuka mataku perlahan, dan aku langsung mendapati Ggio yang memandangku khawatir. Dan kau tahu? Begitu menyadari kalau aku sudah sadar, ia langsung memelukku! Garis bawahi itu. Memelukku!
Seperti yang kukatakan, Ggio selalu marah kalau aku memeluknya. Tetapi mengapa ia memelukku?
"Syukurlah, kalau kau mati di rumahku, nanti aku pasti jadi tersangkanya!" ujar Ggio sambil mengacak rambutku—masih dalam pelukannya. Sweatdrop. Jadi karena itu, ia khawatir? Bukan karena aku pingsan? Hhh, dasar sialan.
"Selain itu… aku khawatir," jantungku berdetak lebih cepat setelah ia mengatakan kalimat singkat tersebut. Kurasakan pipiku memanas. A— apa-apaan ini! Sadarlah, Soifon, wajar saja ia mengkhawatirkanmu! Keterlaluan sekali jika ia tidak khawatir.
Ggio melepaskan pelukannya. Bagus, aku tidak jadi sesak napas. Sial, padahal tadi sudah hangat. "Tadi aku mengecek ke bawah, kenapa mati lampu. Ketika aku kembali ke sini, aku menemukanmu pingsan." jelas Ggio padaku. Aku hanya memutar bola mataku bosan.
"Apa yang kau lihat sampai kau pingsan?" tanya Ggio padaku. Aku merinding mengingatnya. Jangan buat aku mengingatnya!
"A- aku tidak mau mengingatnya," jawabku. Kedua tanganku mulai memeluk tubuhku sendiri, "sosok wanita berkulit pucat dan berambut oranye panjang, matanya mengeluarkan darah. Dan ia tepat berada di depan mataku." mau tak mau aku menjelaskan setelah Ggio melayangkan deathglarenya padaku.
"Soifon, maaf," aku terkejut. Untuk apa Ggio meminta maaf? Karena meninggalkanku sendiri dan mengakibatkan aku pingsan? Dia tidak perlu meminta maaf. "semua salahku." lanjutnya lagi. Aku mengernyitkan dahiku bingung.
"Aku memiliki indra ke-enam dan tak pernah memberitahumu, lalu seseorang mengatakan bahwa seseorang yang dekat denganku pasti sedikit banyak akan menerima kelebihanku itu," ujar Ggio sambil menunduk. Aku kesal, kenapa dia tidak memberitahuku tentang hal itu sejak awal?
Tetapi aku tidak bisa marah.
"Yasudahlah, tidak apa-apa, Ggio," ucapku—mencoba menghiburnya. Walau aku tahu, kalimat itu tak mungkin menghiburnya. Ggio mengangkat kepalanya. Aku mencoba tersenyum, walau sebenarnya aku sangat malas tersenyum, seperti orang bodoh saja.
Ggio membalas senyumanku, harus aku akui, ia manis sekali. "Karena itu, aku akan menemanimu sebagai pertanggung jawabanku karena kau menerima sedikit banyak kelebihanku ini." serunya tiba-tiba. Aku hanya menghela napas layaknya berbicara, 'terserahmu saja.'
"Ggio, berarti yang di sekolah tadi, kau juga bisa melihatnya?"
"Hantu korban kecelakaan berlumuran darah di belakangmu? Uh, aku hampir muntah melihatnya,"
"Bukan, sebenarnya ketika aku melihat kaca, aku melihat seseorang yang sangat mirip dengan diriku, ia menyeringai sambil membawa pisau di tangannya."
"Eh?"
.
.
.
OWARI
Dua request selesai.
Oke,
Q1 : Kenapa akhirnya gantung?
A : Karena fic ini, niatnya multi-chap. Tapi karena sayasibukcoretsoksibuk, takutnya kalau dibikin multi-chap, update-nya lama. Yah, anggap saja ini prolog.
Q2 : Ini beneran Genre Horror? Kenapa gak ada feel aka tidak ada seramnya sedikit pun?
A : *ngelempar yang ngasih pertanyaan pakai galon* bikin fic Horror itu susah, saya aja gak tau kenapa fic Haunted House banyak yang bilang sukses. Asal tau aja ya, saya itu bikin fic ini lagi sendirian di rumah, malam-malam. Selain itu, dengan bodohnya saya ngebayangin hantu yang ada di fic ini di otak saya. Hasilnya? Saya gak bisa tidur semalaman, gak berani ke kamar mandi, gak berani ngelihat kaca, dan lainnya. *buka aib*
Q3 : Lebih takut ketika membuat fic ini atau Haunted House?
A : INI! Ya ampun, saya gak takut sama sekali bikin fic Haunted House, merinding pun tidak. Tapi waktu bikin fic ini… *nutup muka*
Tanya-jawab, selesai.
Maaf untuk Lenalee dan Yumi, udah lama publish, jelek pula, orz. Hanya ini yang bisa saya kasih(halah) untuk Lenalee, makasih udah publish request saya. Untuk Yumi, request GgioApa-nya, saya gak pede publish, jadi mau diulang dari awal. Dan requestku masih ditunggu loh~
Mind to review, minna?
|
||||||