Anime/Manga » Bakusou Kyoudai Let's & Go/爆走兄弟レッツ&ゴー!! »

Waiting For
Author:
pichi dichi PM
Sebuah Penantian Panjang... Akankah ia berhenti dari penantian itu dan berpaling padaku? atau justru aku yang berhenti menantikannya dan berpaling pada yang lain? Enjoy.. R n R
Rated: Fiction T - Indonesian - Romance/Drama - Josephina G. & Brett A. - Chapters: 4 - Words: 4,106 - Reviews: 6 - Favs: 2 - Follows: 1 - Updated: 06-15-12 - Published: 12-21-10 - id: 6577578
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

a/n: HALOO! Udah lama banget ga publish fic.. maap kalau lama! Banyak kerjaan numpuk puk puk.. last chapter from my story hope you like it, guys! Enjoy!

Waiting For

Chapter 3

When I know somethin'

"Apa?" hardikku saat Ryo menatapku yang berdiri di pintu pagar rumahku. Motornya yang berwarna merah membuatnya tampak jadi sedikit lebih gagah, ha? Apa? Oke, harus akui, ia sangat gagah dengan motor , aku ngomong apa sih!

"Kamu enggak mempersilahkan aku masuk?" Tanyanya polos.

"Ngapain masuk-masuk?"

"Kan bertamu…"

"Orang gak jelas!"

'Ga jelas karena?" Ryo turun dari motornya, menghampiri hingga wajahnya hanya beberapa sentimeter dari wajahku.

"Ya freak aja, dateng ke rumah orang gak ada tujuannya." Ucapku santai namun dengna nada kesal.

"tujuannya? Memang tujuan itu penting ya?" Tanyanya lagi sambil terkekeh, "Ayolah Jo, ijinkan aku masuk!" pintanya.

Aku akhir-akhir ini memang kesal pada Ryo, pikirkan saja jika setiap hari ada seseorang yang selalu memaksa bertamu, aku kan juga punya pekerjaan lain. Aku ingat pada pertanyaan teman-temanku, apa aku sudah 'jadian' dengan Ryo. Tetapi buat apa aku jadian dengannya?

Aku ngaku deh, iya aku ngaku, Ryo itu memang berbeda. Aku bisa merasakan perbedaannya. Tetapi tetap saja, cinta pertamaku Brett, dia cinta sejatiku, selamanya.. ingat SELAMANYA, S-E-L-A-M-A-N-Y-A dan SELAMANYA! Sampai kapanpun aku tidak bisa berpaling. Aku mencintai Brett.. Sangat-sangat-sangat.

"Kok bengong!" Tanya Ryo menyadarkan lamunanku.

Aku tersentak, "Sudahlah!" Ucapku, "aku mau mengerjakan Pekerjaan Rumahku, kamu tau kan Mr. Reyn memberikan kita PR Fisika setumpuk!"

"Mau aku bantu?"

Ups! Aku salah. Atau aku melupakan sesuatu, lelaki di depanku ini si Jenius fisika. Aku menutup wajahku perlahan, sudah tak memiliki alasan untuk menolak permintaannya, aku pun membuka pintu pagar berwarna putih yang adalah satu-satunya pagar di rumahku.

Ryo memasuki rumahku yang lenggang dan kosong, maklum, orang tuaku jarang ada di rumah. Mereka sibuk bekerja setiap harinya.

"Emmhh… Sepi sekali?" Ucap Ryo dengan santainya membuka pintu kamarku.

"Hei! Kamu itu cowok jangan sembarangan masuk ke kamar cewek dong!" Hardikku gusar.

"Hei.. apa ini!" Ryo menatap sebuah album foto, "My..Love..?" Ucap Ryo mengeja tulisan pada album foto berwarna pink tersebut.

"Ini album foto buatan tangan kan?" Tanya Ryo sambil mengacungkan album itu.

"Berisik! Balikin!" Ucapku berusaha merebutnya, namun Ryo jauh lebih cekatan dariku.

Ia dengan cepat membuka album foto itu dan.."Brett astaire!" Ryo terngaga kaget. "Kamu itu diam-diam penggemar beratnya Brett ya?" Wajah Ryo memerah menahan tawa.

Sementara wajahku juga ikut memerah karena malu. "Kembalikan!"

"Iya deh!" Kata Ryo

Aku mendengus kesal. Air mataku serasa tumpah mengalir ke kedua pipiku ynag kemerahan karena menahan malu. "Aku benci kamu!" Pekikku.

"ya sudahlah aku pulang saja!" Kata Ryo beranjak pergi. "Maaf membuat kegaduhan."

Ia beranjak pergi. Entah mengapa ada hasrat ingin menahannya, namun aku tak sanggup menahan kepergiannya.

Setelah kejadian itu, aku bahkan tak pernah menegurnya, ada rasa ingin namun tertahan. Aku merasa ada yang kurang. Brett mungkin membuat aku merasa nyaman, tapi Ryo selalu menyegarkanku. Apa-apaan ini!

Aku menepis pikiran aneh yang hinggap pada seluruh permukaan otakku. Tetapi seberapapun kuat aku menarik pikiran itu, mencabutnya perlahan, aku tetap tak bisa untuk tidak memikirkan hal ini.

Aku kemudian berjalan menelusuri koridor sepi. Langit sudah kemerahan ,seluruh siswa sudah pulang. Tetapi aku masih di sekolah, aku benar-benar malas pulang ke rumah. Biasanya brett mengantarku tetapi seperti ynag kalian ketahui, Brett sedang proyek kerja lapangan.

Aku menatap jarum pada jam tanganku, jam 5 sore, biasanya Ryo selalu datang ke rumahku setiap jam 5 sore, walaupun sudah satu minggu ini dia tidak datang lagi.

"Apa yang kamu mau?" sebuah suara terdengar samar-samar.

"Aku ingin kamu benar-benar mencintai Jo.." ucap orang itu.

"Aku mencintai Jo?" Tanya orang yang satu lagi dengan nada melecehkan. "Aku masih mencintai Cathy…"

Cathy? Suara itu, Brett! Dan yang satu lagi, Ryo!

"Apa?"

"Kamu tau kan kalau aku hanya menganggap Jo sebagai adik, tidak lebih dan tidak kurang!"

Aku berjalan mendekati keduanya, aku dapat melihat pertengkaran itu dari jauh, ku rapatkan tubuhku pada dinding sekoalh berwarna putih.

"aku tidak mau membuang waktu untuk sebuah perkelahian tak berarti seperti ini" Ucap Brett berjalan pergi tapi.. BRUUKK

Aku menutup mulutku. Satu hantaman keras megenai pipi Brett, dibaliknya Ryo masih mengepalkan tangannya. Brett terjatuh ke sisi sebelah kiri, pipi kanannya terlihat memar. Darah segar mengucur dari sudut bibirnya.

"Kau!" Brett menyiapkan ancang-ancang tetapi Ryo berhasil menahan tangannya. Namun Brett kemudian menendang perut Ryo. Ryo terpelanting ke lantai. Tubuhnya membentur keras keramik-keramik putih yang bersinar terkena pantulan matahari berwarna kemerahan dari sudut jendela.

"Ryo, Brett! Hentikan!" Suaraku membuah mereka tersentak. Setetes air mata meluncur diikuti tetesan-tetesan lainnya menetes dari kedua pelupuk mataku.

"Aku tau selamanya kamu hanya mencintai Cathy, aku tau! Sudah hentikan semua ini!"

"Kita hanya kakak-adik, perasaanmu juga begitu kan, Jo?" Ucap Brett tersenyum padaku sambil melirik Ryo.

Aku mendekat. "salah, Brett.. aku.. aku menyukaimu.. aku sangat menyukaimu, tetapi aku tau kamu tidak akan pernah mencintaiku."

Brett ternganga, Ryo menatapku dengan pandangan sedikit mengiba melihat aku harus mengakui perasaanku.

"Kamu bohong kan, Jo?"

Aku menggeleng, "enggak brett, enggak!"

Aku menatap sekali lagi mata Brett yang lembut kemudian berlari pergi. Air mataku jelas tak tertahankan. Aku terisak dan terisak.

"Jo! Tunggu!" sebuah tangan memegang pergelanganku.

Aku berbalik, "Ryo?"

"larimu cepat juga ya!" Ucap Ryo sambil mengatur nafas.

"Brett kemana?"

"kamu berharap yang mengejarmu adalah Brett ya?"Tanya Ryo, "Maaf ya, aku… aku habis menghajarnya tadi."

"Oh.." Ucapku sekenanya.

"Kamu marah?"

Aku tertawa, "Enggak sih."

Ryo menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya. Aku menyibakan rambutku dan berjalan lambat, sementara Ryo mengikuti di belakangku.

"Apa?" Tanyaku menoleh.

"Err… apa ya.." Kata Ryo seraya menghentikan langkahnya.

Aku menengok ke belakang.

"ada saat dimana aku tersadar bahwa aku sedang mencintai seseorang.." Ucap Ryo sambil mendekatkan badannya denganku. "Tetapi orang ini mau enggak ya sama aku?"

Aku tercekat, ia terus melanjutkan kata-katanya, "Namanya josephina dan ia mencintai Brett astaire, seseorang yang lain yang juga tak mencintainya. Aku merasa dikelubungi cinta segi empat.. atau segilima, karena orang yang dicintai Brett juga sudah tidak mencintai Brett lagi. Aneh!"

"Dasar bodoh!" Ucapku mengucapkan 2 kata itu dengan wajah kesal. Wajahku memerah semerah tomat. Aku berkata demikian karena aku mencintai brett dan Ryo di saat bersamaan.

Ryo mengangkat satu alisnya tanda bingung.

"Kamu mau tau jawabanku?" Tanyaku padanya.

"ya.. apa?"

"Aku menyukaimu, mungkin. Hanya saja aku minta waktu.. kamu enggak mau kan aku mencintai kamu dengan sisa-sisa cintaku kepada Brett di dalamnya?"

Ryo tercekat. Ia kehabisan kata-kata. Kami sama-sama tersenyum, tersenyum penuh arti.

BONUS a.k.a behind the scene konyol

Aku dalam kali ini adalah author sendiri ya!

Aku tercekat. Tak sanggup kan kakakku. Ugh! Tapi aku yang menulis naskahnya sih. Menulisnya berdasarkan kisahku sendiri. J masih merangkulku dengan lembut sementara prosesi syuting adegan terakhir itu berlangsung. Sepertinya ia tau pergulatn batinku sendiri.

"What the…" Tiba-tiba Brett berteriak, syuting sudah selesai sepertinya. Maria tersenyum puas, begitupun Elvira.

"Apa?" Tanya Ryo dengan nada sinis.

"Wajahku kenapa jadi lebam-lebam begini!" Kata Brett kesal.

"Kekerasan ya? Maaf ya!" Kata Ryo cekikikan, begitupula aku yng memperhatikan pertengkaran konyol mereka. Selalu saja begitu.

"Ada rencana membuat film lagi?" Tanya Maria, sang produser.

Aku menggeleng, 'Entah.. jawabku. Mungkin iya.. tetapi tidak dalam waktu dekat."

Maria mengangguk. Dan setelah itu, para pemain dan kru pun dibubarkan.

a/n: myowahahaha kelar juga! Btw, kalian kalau baca cerita awalku yang ada J lagi ikut ICAS, aku akan ikut ICAS bulan september ini, wish me luck ya! Dan karena aku sudah kelas 12 jadi mungkin bakal gak keurus banget ini account. Mohon maaf.. dan emang lagi fokus ke blog juga, check it out . tysm yang udah baca dan ngedukung fic ini! Gue bakal terus berkarya kok dan pasti bakal bikin lagi.. mungkin enggak yang multi chap! Enjoy this.. R n R..!

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .