Anime/Manga » Naruto »

Rameniac VS Yellow Flash
Author:
Viero D. Eclipse PM
Naruto dikenal sebagai Rameniac, game master dengan skor tertinggi di game center Konoha. Namun, apa jadinya jika rekor juara satunya itu tergeser oleh seorang gamer anon bernamakan Yellow Flash? AU Twoshot Sho-Ai MinaNaru. Special for Namikazecest day!
Rated: Fiction T - Indonesian - Romance/Humor - Naruto U. & Minato N. - Chapters: 2 - Words: 8,576 - Reviews: 22 - Favs: 28 - Follows: 5 - Updated: 01-11-11 - Published: 01-10-11 - Status: Complete - id: 6641268
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

Dan tibalah hari pertempuran itu.

Naruto tampak bersandar di dinding game center seraya melipat kedua tangannya, menunggu. Kaki kanannya ia hentakkan dengan tak sabaran. Beberapa kali sudah ia melirik ke arah jam tangannya. Benar-benar terlambat. Dan sesosok figur pun mulai berjalan menghampirinya.

"Akhirnya kau datang juga, Orang aneh. Aku sudah menunggumu dari tadi. Lama sekali..."

Minato tampak menghela napasnya. Nada ketus masih saja terasa dalam perkataan Naruto. Kenapa anak itu tampak begitu sinis padanya?

"Aku memiliki nama. Namikaze Minato. Panggil saja aku Minato. Dan namamu?" Minato menyodorkan tangannya untuk bersalaman. Naruto terdiam untuk sesaat. Rasa skeptis semakin mendominasi benaknya. Ia hendak menepis sodoran tangan pria itu. Tapi melihat raut serius yang ada di paras Minato, Naruto pun mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk sedikit melunak. Dijabatlah tangan kompetitornya itu.

"Uzumaki Naruto. Panggil saja Naruto."

"Ah, senang bisa mengenalmu... Naruto." Minato mengembangkan senyuman yang begitu lembut. Rona merah mendadak terpancar di paras Naruto. Pemuda itu pun lekas menarik tangannya dari jabatan Minato dan mengalihkan pandangannya ke samping.

Brengsek! Kenapa jantung mendadak berdebar-debar begini, hah!

Pria dihadapannya itu cukup tampan juga kalau dilihat-lihat.

Plak!

"Ouch!" Naruto tampak menampar pipinya sendiri. Fokus, Naruto! Fokus! Kau dan dia akan bertanding sebentar lagi. Kehilangan kosentrasi sama saja dengan bunuh diri.

Dan Minato mulai bertampang aneh saat melihat tingkah konyol itu.

"Ah, se-sebaiknya kita segera selesaikan urusan ini." menepis rasa gugup, Naruto segera melangkahkan kakinya menuju ke mesin permainan balap mobil. Minato tampak mengikutinya dari belakang.

"Baiklah, untuk awalan, kutantang kau dalam permainan balap mobil! Ada tiga babak pertempuran. Aku tantang kau dalam tiga buah game. Balap mobil ini, fighting machine dan terakhir adalah DDR. Siapa yang meraih kemenangan lebih banyak, ia lah pemenangnya." Naruto tampak begitu serius. Kedua cobalt itu semakin berlumur serpihan determinasi tinggi. Sang game master tampak begitu optimis. Lagi-lagi, Minato berusaha menahan diri agar tak tersenyum.

Optimisme pemuda ini sungguh membuatnya kagum.

Ia suka dengan orang yang memiliki semangat tinggi.

"Baiklah. Aku terima tantanganmu, Naruto."

Dan dimulailah pertempuran itu.


"Hahahahaha! Yeah! Dengarkan aku, wahai dunia! Aku, Uzumaki Naruto! Sudah dua kali ini..."

...

...

...

...

"Mengalami... kekalahan."

Pemuda berambut pirang itu tampak tertawa dengan raut miris nan sarkas. Tak terasa, masa begitu cepat bertransisi. Mereka tiba di babak akhir. Distopia menghantam dengan hasil...

Dia telah dikalahkan...

Dua kali berturut-turut.

"A-Apakah... semua ini mimpi?" Sang game master seakan tak percaya. Semua seakan berlalu dengan begitu cepat. Sekejap, ia dan seniornya itu bertanding balap mobil. Dalam hitungan menit, pria tampan itu berhasil mengalahkannya dengan cukup telak. Menyembunyikan kemampuan aslinya di balik topeng amatir. Naruto terjebak dalam sandiwara itu.

Pada awalnya, sang kompetitor berpura-pura tak tahu, tombol mana yang harus ditekan, bagaimana cara memainkan gamenya. Bersikap linglung untuk sesaat. Kebingungan seakan melandanya.

Sungguh cerminan seorang amatir, bukan?

Dan gambaran itu berubah 180 derajat saat pertempuran dimulai. Tampang polos mendadak serius. Aura linglung berevolusi menjadi hawa pembunuh. Kedua cobalt itu menatap tajam ke arah layar mesin game dan pada akhirnya...

Sang Rameniac kalah dalam sekejap.

Hal itu berlangsung serupa pada babak kedua. Di saat mereka bertanding di fighting machine. Minato dengan lihainya memainkan kombinasi jurus. Tak sedikitpun memberi kesempatan pada Naruto untuk menyelamatkan pemainnya. Dan semua berlangsung cepat. Pemuda fanatik ramen itu harus menerima kekalahannya yang kedua.

Ini sulit dipercaya.

Lagi-lagi ia dikalahkan dua kali berturut-turut. Pertama adalah gamer anon bernama Yellow Flash yang ternyata sukses dalam melampaui semua skornya, dan kedua adalah Namikaze Minato. Mahasiswa jurusan sosial politik angkatan senior.

Dan Naruto, sang Rameniac, tak akan semudah itu bisa dikalahkan, kecuali oleh orang yang benar-benar begitu ahli memainkan game.

Bagi Naruto, sudah cukup si bedebah Yellow Flash saja yang mampu mengalahkan skornya. Tak perlu ada orang kedua segala.

Tapi pria ini. Pria yang saat ini ada di sampingnya. Pria yang saat ini akan melawannya dalam game DDR.

Siapa sebenarnya dia?

Mungkinkah...

"Tolong, jangan terlalu keras dan mengeluarkan segenap kemampuanmu dalam permainan ini, Naruto. Baru pertama kali aku bermain dalam mesin DDR seperti ini. Fungsi tanda panah di bawah ini... untuk diinjak, ya?" Minato terlihat menggaruk belakang kepalanya. Memasang kembali topeng bingungnya. Naruto menggertakkan deretan giginya, menahan jengkel.

Di saat orang ini sudah berhasil mengalahkannya dua kali berturut-turut...

Bisa-bisanya dia masih saja berakting menjadi orang yang sok polos seperti ini?

Chikuso!

Jangan kau pikir Rameniac itu tolol!

"Berhentilah berakting, Minato. Aku tahu bahwa dari caramu mengalahkanku, kau... sudah sering bermain di game center ini. Benar 'kan?" Naruto menatap tajam ke arah musuhnya. Minato terdiam mendengar itu, sebelum pada akhirnya, ia arahkan kedua cobaltnya ke layar mesin DDR.

Sepertinya, main-mainnya sudah cukup sampai di sini saja.

"Haha... tak heran kau dijuluki sebagai Rameniac, sang game master. Kau pintar sekali dalam memprediksi sesuatu."

"Kau..." Naruto terbelalak seketika, syok. Minato menyimpulkan seringai menantang.

"Melawanmu dalam game, adalah impianku, Naruto. Aku selalu kagum dengan semua skor tinggi yang kau torehkan di setiap mesin game yang ada di tempat ini. Dan aku sungguh tak menyangka bahwa pada akhirnya... aku berhasil melampau semua skormu waktu itu. Sekarang, kita buktikan siapa game master yang sesungguhnya."

Tercekat.

Naruto seakan tercekat kehabisan kata. Mesin DDR yang mereka mainkan kali ini akan dimulai dalam hitungan detik. Sang game master menunduk, sungguh tak menyangka bahwa ia bisa terlambat menyadari hal ini.

"Tak kusangka bahwa kau adalah... gamer anon Yellow Flash itu."

Ready! Let's dance!

Rentetan panah mulai bergerak cepat secara horizontal pada layar. Kedua gamer itu tampak bergerak secara selaras. Begitu intens. Hawa persaingan semakin sengit. Beberapa penonton mulai berkumpul untuk menjadi saksi akan pertandingan itu. Naruto melirik tajam ke arah Minato.

"Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku adalah Rameniac?"

Great! Perfect! Excellent!

Simpulan senyum mengembang di paras Minato. Ia berusaha mengimbangi nilai rivalnya.

"Dari caramu memainkan game dengan sangat pro seperti itu, sudah dapat kupastikan bahwa kau adalah sang game master itu. Meski aku berhasil mengalahkanmu berturut-turut, jangan kau kira aku tidak mengalami kesulitan tadi. Kau adalah musuh yang sangat tangguh."

Perfect! Perfect! Excellent!

"Hah! Aku tak dijuluki sebagai game master jika tak memiliki kemampuan tinggi."

Excellent! Excellent! Good!

"Dan aku juga tak disebut sebagai Yellow Flash tanpa apapun."

Excellent! Excellent! Excellent!

"Whoaah... mereka berdua hebat!"

"Mereka belum melewatkan satu bar pun! Luar biasa!" semua penonton terkesima. Suara tepuk tangan menggema dengan cukup keras. Pertaruhan dua kubu pun dimulai. Rameniac dan Yellow Flash telah memiliki masing-masing suporter.

Pertempuran semakin panas.

"Aku tak akan kalah darimu!" Seringai sinis mulai tampak. Naruto semakin bergerak cepat. Ia hentakkan kakinya, melompat, berusaha agar tak melewatkan satu panah pun. Sungguh sebuah gerakan yang sangat cekatan. Beberapa penonton sampai tak berkedip sama sekali melihat gerakan sang Rameniac. Minato terkesima. Dari tadi, mahasiswa senior itu juga belum tampak melewatkan panah-panahnya. Keduanya sungguh bersaing secara ketat.

"Kau tahu, Naruto? Aku suka dengan teknik dancemu itu. Dan banyak yang bilang... bahwa aku bisa mengcopy teknik orang hanya dengan sekali pandang saja."

"A-Apa?" Minato tersenyum dingin. Belum sempat rivalnya itu merespon, ia pun langsung menghentakkan kakinya dengan cepat. Melompat dengan begitu lincah. Rambut emasnya tergerai hempasan angin. Raut pria tampan itu tampak semakin serius. Ia bahkan berhasil melakukan teknik dance yang sama persis dengan apa yang baru saja dilakukan Naruto. Seluruh penonton semakin tercengang dan terpukau. Ia sungguh tampak bagaikan seorang dancer profesional.

Excellent! Excellent! 200 Hit-Combos! Excellent!

"NA-NANI!" kedua cobalt Naruto terbelalak lebar. Siapa yang menyangka bahwa mahasiswa senior di sampingnya itu adalah seorang pro dalam game DDR seperti ini? Mulut Naruto lekas terkatup-katup dengan begitu cepatnya karena efek panik. Skornya semakin tertinggal jauh. Dan Minato tetap bergerak dengan tempo cepat seperti itu.

'Gi-Gila! Apa ia tak merasakan lelah sedikit pun, hah? A-Aku bisa kalah lagi jika begini caranya! Chikuso!' batin Naruto menjerit nanar. Kepanikan melandanya secara total. Ia pun mulai pucat. Dengan sekuat tenaga, ia berusaha untuk mengejar.

Tapi sialnya, suasana semakin bertambah buruk.

Great! Perfect! Miss! Miss! Combo-cancelled!

"Aaarrgghh! SIAAL! PANAHNYA TERLEWAT!" usai sudah. Kesempatan untuk membalik keadaan sudah hancur. Sungguh terlambat. Sudah dapat dipastikan bahwa Rameniac harus kembali menelan kekalahan. Naruto tampak frustasi. Panah di bar terakhir telah terlewatkan. Dan ditengah-tengah kinerja napasnya yang tersengal kelelahan, ia pun melakukan kesalahan akhir yang semakin fatal dan memalukan.

Kedua kakinya hilang keseimbangan.

"W-Whoaahh! A-Aku hendak jatuuh!"

"Naruto!"

"Aaakkhh!" Naruto terpeleset. Hanya tinggal menunggu punggungnya mendarat keras ke bawah. Semua penonton terbelalak melihat kesalahan itu. Kedua cobalt Naruto tertutup rapat. Rasa penyesalan mulai muncul di hatinya.

Kami-sama...

Apa mungkin ini adalah balasan atas sikap arogannya selama ini?

Ya, mungkin saja begitu...

Kesombongan dan arogansi selalu membuahkan hasil yang jelek pada akhirnya.

Ini adalah sebuah pembelajaran hidup yang tak bisa Naruto lupakan.

'Saatnya bertobat...'

"Tertangkap!"

"E-Eh?" kedua mata Naruto membelalak lebar. Tubuhnya tertahan? Bagaimana bisa? Harusnya, ia sudah jatuh ke bawah 'kan? Apa Kami-sama mendatangkan mukjizat? Ah, tidak. Ternyata ada seseorang yang menariknya. Tangan kanannya kini telah ditarik ke depan dengan cukup kuat. Tubuhnya tak jadi jatuh. Dan kini...

Ia didekap dengan cukup erat?

Naruto tercengang.

Rivalnya kini tengah menghimpitkan kedua tubuh mereka dengan cukup dekat.

Dan dalam posisi seperti itu...

Mahasiswa senior itu masih berusaha menghentakkan kakinya untuk panah DDR terakhir. Ia pun mulai tersenyum tanda kemenangan.

"Ku-Kupersembahkan skor tertinggiku ini untukmu, Rameniac!"

"Minato..."

Tap!

EXCELLENT!

PLAYER TWO WIN! PERFECT SCORE!

"Whoah! Luar biasa! Kalian hebat!"

"WOW!"

Plok! Plok! Plok!

Suara tepuk tangan semakin menggema dengan nyaringnya dalam penjuru ruangan. Seluruh penonton terpanah dengan aksi itu. Minato tampak terengah-engah, kelelahan. Naruto lekas menatapnya dengan pandangan takjub.

Pria itu masih mendekap tubuhnya dan tak mau melepaskannya.

"Kau hebat, Yellow Flash."

"Eh?" Minato terperanjat saat Naruto mulai menepuk tangannya secara perlahan. Pemuda itu pun mengalihkan pandangannya ke samping. Ia sungguh ikhlas dengan kekalahannya itu.

"Mulai sekarang, sepertinya kau akan menjadi... idola baruku."

"Naruto..." Minato seakan tercengang mendengar itu. Sungguh tak dapat dipercaya. Game master itu terang-terangan menyatakan bahwa ia adalah idola barunya?

Idola baru bagi Rameniac?

Kami-sama...

Mimpi apa dia semalam?

"Ekhh!" Naruto terbelalak syok. Sungguh tak terduga. Minato mulai memeluknya dengan cukup erat dan menyandarkan kepalanya di samping leher Naruto. Napas pria itu masihlah tersengal karena lelah. Naruto berusaha menyangga tubuh mahasiswa senior itu sebisa mungkin agar mereka berdua tak terjatuh di lantai. Sebuah senyum mengembang di paras Minato dengan instan. Ia tampak begitu bahagia.

"A-Arigato, Naruto..."

Sungguh tak ada yang lebih menyenangkan selain hanya mendengar pengakuan seorang game master akan kemampuannya. Sudah lama ia mengagumi sosok Rameniac. Sungguh bagai sebuah rantai takdir di saat Rameniac itu ternyata adalah Naruto. Seorang pemuda yang sudah membuatnya tertarik di saat pandangan pertama.

Dan pemuda itu mengidolakannya.

Idolanya telah menjadikan dirinya sebagai idola?

Sungguh bagai sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.

Sebuah senyum lapang tersimpul di bibir Naruto. Semua ini memang pantas terjadi. Dari awal ia melihat permainan Minato, Ia sudah sadar bahwa ia...

Sungguh mengagumi pria itu.

Hanya Minato yang sanggup menaklukkannya. Hanya Yellow Flash yang sanggup membuat Rameniac bertekuk lutut.

Kini, Naruto seakan ikhlas jika tahtanya sudah mutlak jatuh di tangan Minato.

Lagipula, pria itu sudah menjadi idola barunya 'kan?


"Kau sudah berhasil mengalahkanku secara mutlak. Kini, kau bisa mengambil buku sosial itu."

Sore terancam berakhir. Hari tampak semakin gelap. Kedua gamer kini sudah berada di luar Game Center Konoha. Naruto tampak menyodorkan buku referensinya itu kepada Minato. Mahasiswa senior itu hanya menghela napasnya. Ia memalingkan pandangannya ke samping.

"Ambil saja buku itu. Kau lebih membutuhkannya daripada aku."

"Eh?" dahi Naruto lekas berkerut. Sedikit kaget mendengar itu. "Lalu kau?"

"Tenang saja. Aku bisa meminjam buku seperti itu lagi dari temanku."

Keheningan terjadi sejenak. Naruto pun menaikkan bahunya tanda sepakat. "Baiklah kalau begitu. Terima kasih." pemuda itu pun lekas menundukkan tubuhnya. Dan ia pun langsung teringat akan perjanjian mereka. "Ah, I-iya soal reward. Kau ingin meminta apa dariku? Mu-Mungkin aku bisa menyanggupinya jika hal yang kau minta itu cukup realistis bagiku."

Minato tampak terdiam dan menunduk mendengar itu. Keheningan kembali mendominasi. Naruto menunggunya. Sang Yellow Flash sungguh tenggelam dalam kebimbangan. Dari awal, ini 'kan tujuannya? Ia mengejar reward ini. Sebuah reward dimana ia bisa meminta apapun pada Naruto asalkan hal itu realistis. Dan ia tak akan meminta hal yang macam-macam.

Yang ia inginkan... hanyalah...

"Naruto... Bisakah aku... memelukmu sekali lagi?"

"Eh?" mengejutkan. Kedua cobalt milik Naruto terbelalak lebar mendengar itu. Rona merah terpancar jelas di paras manisnya. Mulutnya menganga syok. Memeluk? Buat apa Minato meminta hal seperti itu? Mengapa pria itu ingin memeluknya?

Kenapa harus memeluk?

Dan Naruto semakin gentar saat mahasiswa senior itu berjalan mendekatinya.

"Kumohon, bisakah aku memelukmu sekali lagi, Naruto?"

"I-Itu..." Naruto seakan tercekat. Kedua cobalt Minato menatap tulus ke arahnya. Tubuhnya mulai gemetar. Rasa gugup tak dapat terhindarkan lagi. Permintaan itu cukup realistis, bukan?

Tapi motif dibalik itu...

"Ba-Baiklah, kau bisa memeluk- akkhh!" Naruto hampir saja oleng saat pria yang sudah mengalahkan rekornya itu langsung memeluk tubuhnya dengan sangat cepat. Minato tak ingin membuang waktu lagi. Ia dekap tubuh pemuda juniornya itu dan memejamkan kedua matanya. Mereka terdiam tanpa mengucapkan apapun dalam posisi seperti itu. Naruto bahkan tak sadar bahwa parasnya semakin memerah.

"Mi-Minato..."

"Ada beberapa hal yang ingin kuungkapkan padamu, Rameniac."

"Eh?" Naruto sedikit terbelalak. Minato tampak begitu serius dengan perkataannya. "Ha-Hal apa itu?"

Naruto tak dapat memungkirinya. Jantungnya berdebar semakin kencang.

Dan Yellow Flash itu masih saja memeluk tubuhnya dengan sangat erat.

Minato menyimpulkan senyum lembut meski Naruto tak bisa melihatnya. Ditariknya napas secara dalam. Ia harus mengatakan isi hatinya pada pemuda unik itu.

Hanya dalam satu hari saja. Dan ia tak peduli.

Diungkapkan atau tidak sama sekali.

"Aku ingin minta maaf jika saat itu, sikapku sedikit menyebalkan saat di perpustakaan. Tingkahmu sangat lucu saat aku menahan buku itu dari tanganmu. Aku tak bisa berhenti memikirkanmu semenjak itu."

"Na-Nani?" Naruto terperanjat seraya menganga. Minato terkekeh secara pelan. Disandarkanlah kepalanya sebentar di bahu Naruto. Ia bisa merasakan bahwa mahasiswa junior itu tampak semakin gugup dan gemetar.

"Pada awalnya, aku tak menyangka sama sekali bahwa Rameniac, game master idolaku itu adalah dirimu. Dan kau tahu? Betapa senangnya aku saat pada akhirnya kebenaran terungkap? Aku sungguh senang saat tahu bahwa kau adalah Rameniac itu. Setiap hari, kusematkan dalam nalarku untuk memikirkan siapa gerangan Rameniac itu. Sungguh wajar jika dalam labirin nalar seorang fans, selalu saja tersemat ingatan akan idolanya..." Naruto tak mampu menguntai kata. Ia sudah cukup tercengang mendengar pengakuan Minato. Dan idola barunya itu tampak berbisik di telinganya. Hembusan napas yang menyentuh permukaan daun telinganya itu membuat Naruto sedikit mengerang.

"Mi-Minato-"

"Dan aku semakin mengagumimu saat tahu bahwa kau adalah Rameniac itu, Naruto... Aku selalu percaya bahwa Rameniac adalah orang yang sangat menarik. Dan dugaanku benar. Kau sangat menarik sekali..."

"Nnhh..." sungguh gawat. Naruto tak dapat menahan suara erangannya lagi. Tubuhnya serasa panas saat Minato tanpa sengaja mendaratkan bibirnya tepat di permukaan lehernya. Paras Naruto merona merah semakin pekat. Tubuhnya semakin gemetar. Mahasiswa senior itu menatapnya dengan lembut. Suara bisikannya terdengar semakin berat.

"Naruto..."

"Ah, I-Iya..." Naruto tampak gentar dan agak takut. Ia kembali mengerang saat tubuhnya semakin dihimpit dengan begitu lekat. Dan figur yang menghimpitnya itu sungguh membuat pengakuan yang mengejutkan. Dadanya seakan meledak mendengar itu.

"Jujur kuakui, Aku... menyukaimu, Naruto."

"A-Apa? Ngghhk!" Naruto mendesis. Cobaltnya terbelalak. Sejak kapan tubuhnya sudah terperangkap di dinding seperti ini? Ia seakan tak sadar saat Minato menghimpit tubuhnya ke dinding dengan begitu cepat. Ia kembali menempelkan bibirnya di telinga Naruto.

Kembali berbisik...

"Aku menyukaimu. Kau juga menyukaiku 'kan? Jawab pertanyaanku dengan jujur." rona merah di paras penggemar mi ramen itu semakin gelap. Tenggorokannya seakan tercekat. Nalarnya seakan pening. Ia tak menyangka bahwa semua hal ini akan terjadi.

Minato telah mengungkapkan perasaannya.

Dan tak bisa Naruto pungkiri bahwa ia juga...

Merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan mahasiswa senior itu padanya.

Chikuso! Apakah ini adalah bentuk karma karena ia pernah mengutuk Yellow Flash?

Kini, ia harus menerima realitas ironis bahwa ia telah jatuh cinta pada musuh, rival, saingan terberat sekaligus idola barunya itu.

"Naruto..." kedua cobalt itu telah menatapnya dengan begitu lekat. Minato menunggu sebuah jawaban. Ia juga telah siap jika memang Naruto tak menyimpan perasaan apa-apa terhadapnya. Ia sudah siap untuk menerima kenyataan pahit itu.

Setelah berusaha keras menepis rasa malu yang berbaur dengan kegugupannya itu, Rameniac menghela napasnya. Ia sudah membuat keputusan. Kedua cobaltnya lekas menatap serius ke arah Yellow Flash. Jujur saja, Naruto tak pandai merangkai kata.

"Kau butuh jawaban eh, Yellow Flash?"

"Umm!" Minato mengangguk serius. Ia sedikit tegang. Dan ia mulai terbelalak saat Naruto mulai menyentuh kedua pipinya. Ramen maniak itu mulai menyeringai dengan begitu sinis.

"Jawabanku adalah... ini!"

"Mmmphh!"

Mengejutkan. Kedua cobalt Minato terbelalak semakin lebar. Tanpa ia sadari, Naruto membenturkan bibirnya pada mulutnya. Sang Yellow Flash mengerang dengan aksi agresif itu. Ia mulai merespon dan mencoba memperdalam kontak mulut itu dengan menekankan paras Naruto pada parasnya. Keduanya tak ingin mengalah. Mereka bahkan saling tak memberi kesempatan untuk bernapas. Suara desahan mengeras. Tak peduli dengan keadaan di sekeliling mereka.

"Nnhh... Na-Naruto... Hhah... Hhh..." keterbatasan udara membuat Minato memutus kontak mereka terlebih dahulu. Keduanya sudah hampir kehabisan napas. Rona merah menjalar di paras mereka. Keheningan mendominasi. Hanya ada suara napas tersengal dalam momen itu. Tak lama kemudian, Naruto mendaratkan kepala tepat di dada kekasih barunya itu. Ia bersandar di sana. Napasnya masih tersengal berat. Ia lingkarkan kedua tangannya di pinggang Minato, memeluknya.

"Jangan sampai ada yang tahu mengenai hubungan kita ini, Yellow Flash. Aku tak ingin teman-temanku sampai tahu..." Naruto tampak menegaskan. Minato mengangguk paham dan kembali mendekap tubuh Rameniacnya itu.

"Aku mengerti."

Braakk!

Sekeranjang sayuran tampak tercecer di tepi jalan. Dari kejahuan, sudah tampak Sai dengan mulut menganga lebar, syok. Ia tak menyangka bahwa Naruto ternyata sudah memiliki seorang kekasih. Sungguh gaya berpacaran yang cukup frontal dan blak-blakan. Bertukar ciuman di sudut jalan seperti itu. Sai pun juga sudah mendengar semua pembicaraan mereka.

Yellow Flash?

Naruto menjalin cinta dengan Yellow Flash?

Sungguh mengejutkan!

Kabar menggemparkan ini sudah tak bisa dilewatkan begitu saja.


"CIEE! NARUTO~ TEGANYA TAK BILANG-BILANG KAMI JIKA SUDAH MEMILIKI KEKASIH!"

"APA?"

Kiamat.

Dunia seakan kiamat bagi Naruto. Di saat kemarin ia sudah berbahagia akan hubungan barunya dengan Minato, esoknya ia harus menerima realitas bahwa mimpi buruknya menjadi kenyataan. Seluruh temannya bersorak padanya saat ia mulai masuk ke dalam kelas. Bahkan Sasuke tampak melipat kedua tangannya seraya menyeringai begitu sinis.

"Hahaha! Tak kusangka, Dobe. Kupikir kau begitu membenci figur Yellow Flash ini. Ternyata diam-diam kau malah menjalin hubungan asmara dengannya. Sungguh so sweet. Benci berubah ke cinta, eh?"

"A-Apa?" Naruto mulai pucat. Parasnya memerah dalam sekejap. "I-Itu tidak benar! Tahu darimana kau gosip ini, hah! I-Ini semua tidak benar! Ini gosip!"

Sasuke hanya melontarkan tatapan skeptis. Kepanikan dan kegugupan yang melanda pada diri kawan pirangnya itu tak akan mampu untuk membuatnya tertipu. "Sudahlah, Naruto. Kau tak perlu berkilah segala. Sudah ada saksi matanya. Sai melihatmu di pinggir jalan sedang berciuman dengan mahasiswa senior! Dan mahasiswa senior itu ternyata adalah si gamer anon Yellow Flash yang mengalahkan skormu di game center Konoha 'kan? Akui saja."

Jedaaar!

Naruto seakan terombang-ambing di tengah-tengah gempa. Sudah terombang-ambing, ia pun juga seakan mendarat keras ke atas tanah setelah jatuh dari dalam jurang. Seluruh kawannya kini sudah menatap ke arahnya. Ia menjadi pusat sorotan utama. Beberapa mahasiswi tampak berbinar-binar karena menganggap hal ini sangat manis. Dan Naruto pun mulai melotot ke arah biang kerok yang saat ini tampak duduk di bangku seraya menandakan simbol peace melalui jemarinya.

Sai bertampang seperti malaikat berparas datar yang seakan tak punya dosa.

Naruto menggertakkan deretan giginya melihat itu.

Dajjal itu!

"Ciiee~ Selamat ya, Naruto! Kami ikut senang akan kabar ini!" Lee mulai menyikut-nyikut lengan Naruto seraya bersorak dengan kerasnya. Kiba dan yang lainnya kini mulai menghampiri game master itu dan ikut menyikut-nyikut kawannya berulang kali. Dan sorakan pun semakin nyaring. Wajah Naruto mulai memerah karena semakin malu dan marah. Kedua tangan terkepal penuh dendam.

"KEMARI KAU, SAII!"


"Kenapa kau menyuruhku ikut segala, Minato? Aku sedang membaca Icha-icha paradise!" Kakashi tampak mengeluh. Ia hanya bisa berjalan dengan pasrah di belakang Minato. Sang Yellow Flash tampak begitu antusias. Terbukti saat masuk kelas pagi tadi, pria berambut emas itu sudah tersenyum sendiri berulang kali. Untung saja tak ada yang menyadari hal itu selain Kakashi. Bisa-bisa kawannya itu sudah dianggap gila oleh yang lain.

"Ayolah, Kakashi. Aku hanya ingin kau mendampingiku untuk menengok kelas Naruto. Aku hanya ingin melihatnya saja." ah, ternyata ini sebabnya. Minato sedang berbunga-bunga. Kakashi hanya dapat memutar bola matanya. Inilah derita dahaga rindu karena cinta. Sungguh merepotkan.

"Tapi tolong kau jangan bermesraan di depanku, Minato. Aku tak berminat untuk melihatnya."

"Siapa pula yang ingin bermesraan? Aku tak akan melakukan hal ekstrim seperti itu. Pikiranmu sudah terkontaminasi terlalu jauh dengan novel mesum itu, Kakashi!" Minato tersinggung dan sedikit kesal. Parasnya sedikit merona merah karena efek malu. Ia bukanlah orang yang semesum itu. Sungguh kelewatan sekali tuduhan Kakashi padanya.

Dan sampailah mereka di depan kelas jurusan sosial politik angkatan junior. Belum sempat Minato memahami apa yang telah terjadi, suara ribut sudah menghantam gendang telingannya dengan cukup keras. Ia dan kakashi mematung mendengar itu. Sebulir keringat mengalir di samping kening mereka.

"JANGAN KABUR KAU, SAI! AKU INGIN MENGHAJAR MULUTMU!"

"Whoaaah! Ampun!"

"Suara Naruto?" Minato mengangkat sebelah alisnya. Ia pun bertukar pandangan dengan Kakashi. Kawan berambut kelabunya itu menaikkan bahunya. Sama-sama tak paham dengan apa yang terjadi. Dan tak lama kemudian, sudah tampak dua orang pemuda yang saling berkejaran keluar kelas.

"Su-Sudahlah, Naruto! Kau tak perlu semarah itu padaku! Whoaaah!"

"Khusus untukmu, kau harus menerima ganjaran karena menyebarkan aib orang seenaknya!"

"Naru-ouch!"

Bruaak!

"Auch!"

Minato sungguh kaget saat seseorang mulai menabrak tubuhnya hingga jatuh. Tubuhnya dan pelaku kini sudah berada dalam posisi bertumpuk di atas tanah dengan sangat tidak elit. Dan ia pun mulai terbelalak saat tahu siapa pelaku yang sudah menabraknya itu. Pemuda berambut pirang kini sudah tepat berada di atasnya, menindihnya, dengan raut sakit di parasnya.

"Akhh... kepalaku..."

"Naruto?"

"Eh? Mi-Minato?" kini giliran Naruto yang terbelalak karena syok. Ia tak sadar bahwa ia sudah menindih tubuh kekasihnya itu. Pria tampan itu menyimpulkan senyum tipis seraya melingkarkan kedua tangannya di tubuh Naruto. Paras Naruto memerah dengan aksi itu.

"Mi-Minato, apa yang kau lakukan!"

"Hanya ungkapan rindu. Tak ada niat yang lain."

"Heh? Tu-Tunggu dulu!" Naruto sudah tak dapat berkutik saat Yellow Flash itu sudah menjerat tubuhnya dengan erat. Ia tak bisa bangkit. Kedua tangan Minato melingkar di pinggangnya bagai gurita. Wajahnya semakin memerah bagai kepiting rebus saat ia dipaksa bersandar di dada kekasihnya itu.

Baka! Tidakkah ia tahu bahwa saat ini mereka sedang berada di...

"Cieee! Itu Naruto dan kekasih barunya!"

"SO SWEET!"

"Oh tidak... tamatlah riwayatku..." Naruto hanya dapat menyembunyikan parasnya di dada Minato. Ia semakin malu saat kawan-kawan sekelasnya yang lain mulai bersorak padanya dan bersiul-siul heboh di luar kelas. Minato mulai terbelalak dan baru saja sadar dengan situasi mereka saat ini. Sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur.

"Naruto, maafkan aku." Minato mulai membisikkan permintaan maafnya dengan begitu pelan. Kekasihnya itu hanya menggeleng dan masih tak bergeming dari posisi mereka saat ini.

"Sudahlah. Tak apa-apa. Lagipula, semuanya juga sudah terbongkar karena mulut ember Sai." Naruto mengeluh dengan cukup pasrah. Minato mulai bangkit dan mencoba untuk berdiri. Ia masih menyembunyikan paras Naruto di dadanya. Ia paham betul bahwa kekasihnya itu sungguh sangat malu. Mahasiswa senior itu hanya dapat menghela napasnya. Bingung sendiri harus bertindak lanjut seperti apa.

"Eh, i-itu kan Namikaze Minato-senpai! Mahasiswa senior paling tampan di kelas jurusan sospol angkatan senior!" Ino tiba-tiba menjerit histeris, tak percaya.

"Apa? I-Itu berarti... Kekasih Naruto adalah... Namikaze Minato?" Sakura tampak bertampang horor. Beberapa mahasiswi lainnya juga tampak memasang raut tak percaya. Seketika itu mereka mengarungi sebuah masa penuh dilema bernamakan patah hati. Beberapa mahasiswa lainnya hanya dapat bersweatdrop ria menatap itu.

"Ja-Jadi... mahasiswa senior yang dimaksud itu adalah Minato? Kenapa Sai tak mengatakan hal ini sebelumnya, hah! Dasar pusat informasi payah! Memberi info setengah-setengah!" Temari tampak panas. Ia pun lekas memimpin barisan para mahasiswi yang hendak menuntut balas pada Sai karena telah menebarkan kabar yang ujung-ujungnya membuat mereka patah hati akut.

"SAII! KEMBALILAH KESINI! PERTANGGUNGJAWABKAN PERBUATANMU PADA KAMI!"

Dan gerombolan mahasiswi patah hati itupun lekas berhamburan ke lapangan kampus hanya untuk memburu Sai. Pemandangan konyol itu membuat Minato tertawa.

"Haha... Sepertinya kawanmu itu tak akan pernah selamat dari nasib buruk."

"Eh?" Naruto menautkan kedua alisnya dan mulai mengarahkan kedua cobaltnya ke arah lapangan. Sudah tampak Sai yang mencoba kabur dari kejaran mahasiswi lainnya. Game master itu pun lekas menggemakan tawa yang begitu keras. Tak disangka bahwa kawannya akan mendapat ganjaran seperti itu.

"Hahaha! Itulah akibatnya jika kau seenaknya membeberkan privasi orang, Sai!" Naruto menyeringai puas. Minato mulai menepuk bahu mahasiswa junior itu dan melayangkan tatapan lembut padanya.

"Hari ini, tak ada dosen?"

"Eh? Sepertinya begitu. Memangnya kenapa?" tanda tanya tersemat di dalam pandangan Naruto. Mahasiswa senior itu tersenyum dan mulai menggandeng tangannya. Naruto terbelalak melihat itu.

"Saatnya kita ke game center Konoha, Rameniac." Naruto tertawa mendengar ajakan itu. Ia pun menyematkan jemarinya pada jemari Minato dan mulai menatap lurus ke depan dengan penuh percaya diri.

"Kali ini, aku tak akan kalah darimu lagi."

Keduanya tampak berjalan meninggalkan kampus diikuti Kakashi dari belakang. Sasuke, Gaara, Shikamaru dan Lee tampak bersandar dari luar kelas.

"Akhirnya si maniak ramen itu sudah memiliki kekasih. Dengan begitu, kita tak perlu susah-susah lagi dipaksa untuk melihat skornya. Aku bisa tidur lagi di kelas sekarang," jelas Shikamaru lega. Sasuke menggelengkan kepalanya.

"Belum. Kita masih memiliki misi lagi. Sebaiknya kita cepat-cepat menyelesaikan misi ini. Aniki sudah menungguku. Aku tak ingin membuatnya lama menunggu," Sasuke tampak mengikatkan kain slayers pada keningnya layaknya seorang pejuang yang hendak berperang. Dan Lee pun mengerutkan dahinya.

"Misi apa itu?"

Dan yang lain pun segera membawa sapu ijuk dan berjalan menuju lapangan. Dengan determinasi tinggi, Sasuke menggemakan pernyataannya.

"Saatnya kita melaksanakan misi... penyelamatan Sai. Target kita adalah; Sai kembali dengan selamat tanpa kurang satu apapun juga."

"Dan tumben-tumbennya kau ingin menyelamatkan, Sai? Bisakah aku tahu apa alasanmu, Sasuke?" Shikamaru skeptis. Dan jawaban mahasiswa berambut raven itu sungguh sangat sederhana.

"Aku tak ingin ia mati sebelum ia... membayar semua hutang uang jajannya selama tiga bulan padaku."

"Oh..."

Dan dengan semangat persahabatan, mereka pun mulai menjalankan misi itu dengan sukses.

Mungkin...

FIN


A/N: Hahaha... fic gaje dengan ending yang gaje pula. Poor, Sai~ TTwTT #CrocodileTears

Anyway, bagi yang masih belum tahu, kapan hari namikazecest itu, maka saya beritahukan bahwa hari minanaru adalah tanggal 10 Januari. Yup, semoga info ini bisa membantu.

Terima kasih untuk semua yang sudah mereview! Sampai jumpa di fic saya yang lain! xD

Akhir kata, Arigato and mind to review again? :3

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .