Anime/Manga » Hetalia - Axis Powers »

Lollipop Days
Author:
Ryuna Ohime PM
Pesta dansa berlangsung sebagai perayaan Valentine Days. Kiku pun ingin bisa berdansa dengan Arthur. AsaKiku. Slight AmeIta. Chap 02.
Rated: Fiction T - Indonesian - Romance - England/Britain & Japan - Chapters: 2 - Words: 3,912 - Reviews: 8 - Favs: 3 - Follows: 3 - Updated: 03-06-11 - Published: 02-10-11 - id: 6732007
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

Disclaimer : Hetalia Axis Powers © Hidekaz Himaruya

Warning : Boy's Love. OOC. AsaKiku. AU. Typo. Slight AmeIta.

Writer's note : Ruangan acaranya kurang lebih sama dengan Aula Besar Hogwarts yang dipakai sebagai pesta dansa di HP 4 (movie). Italic = flashback. Diucapkan terima kasih kepada Naoto4Shirogane yang telah memilih warna untuk chapter ini =)

Chapter 02

Maraschino - Timeless

Matahari telah baru saja tenggelam.

Seluruh murid sekarang berada di dalam aula besar sekolah. Acara spesial untuk merayakan Valentine Days telah memasuki acara pembukaan yaitu kata sambutan. Kepala Sekolah telah memberikan kata sambutan dan sekarang giliran ketua OSIS. Arthur Kirkland menaiki panggung dalam aula yang biasanya mereka gunakan sebagai tempat untuk mempentaskan drama. Ia mengenakan setelan jas berwarna hijau pekat nyaris hitam dengan dasi hijau muda model klasik dan kemeja salem pucat. Ruangan aula itu telah didekorasi sehingga mirip ballroom hotel yang biasa digunakan untuk acara seperti glamour. Tidak tampak seperti aula. Tentu saja, anak OSIS telah bekerja mati-matian untuk mensukseskan cara ini. Tidak mungkin hasilnya tidak luar biasa. Semua mata terarah padanya saat ia memulai kata sambutannya. Tak terkecuali Kiku.

Tubuh rampingnya dilapisi jas berwarna abu-abu dengan kemeja dan dasi berwarna hitam sewarna rambut pendeknya yang jatuh lurus. Ia janjian dengan sahabatnya, Feliciano, untuk memakai dasi dan kemeja sewarna untuk acara ini. Feliciano yang duduk di sampingnya memakai pakaian yang sama dengan Kiku. Hanya saja dasi yang dikenakan Feliciano adalah berbentuk kupu-kupu meski sama-sama dari bahan satin. Jas biru langit yang dipakai Feliciano ditujukan untuk kekasihnya yang mempunyai warna mata seperti jas itu. Mereka berdua duduk di kursi meja bundar yang terdapat beberapa di tiap sisi ruangan, sampai beberapa meja di luar aula. Satu meja bundar terdapat 8 orang murid.

Kiku dengan wajah senang mendengarkan sambutan yang diberikan Arthur meski dia tidak mendengarkan dengan jelas. Pikirannya melayang ketika mereka tidur bareng setelah kelelahan karena mengerjakan tugas-tugas mereka sebagai OSIS seminggu yang lalu. Mereka tidur pulas sampai pagi di malam itu dan sangat terkejut ketika bangun. Orang yang membangunkan Kiku adalah kakak sepupunya yang tinggal serumah, Wang Yao. Kiku yang dibangunkan Yao dari luar kamar kaget ketika menyadari Arthur masih tertidur di sampingnya. Ia belum memberitahukan siapapun tentang hubungannya dengan Arthur, begitu juga Arthur hingga jika Yao masuk ke kamar dan melihat mereka berdua, tentu akan rumit menjelaskannya. Mereka kali ini beruntung, karena Yao memang selalu membangunkan Kiku dari luar kamar dan juga Arthur murni berada dalam selimut. Jadi, walaupun tadi malam Yao ada masuk ke kamar Kiku untuk memeriksa, pastilah ia tidak melihat Arthur di sana.

"Arthur-san, Arthur-san," panggil Kiku sambil menggerakkan pundak Arthur yang masih tidur. "Bangun, Arthur-san!"

Arthur membuka matanya namun tidak sepenuhnya sadar dan hanya bergumam,"Oh…Kiku…". Kiku melihat wajah manja Arthur yang kembali terpejam jadi merasa malu sendiri. Ia terdiam sesaat karena terkejut melihat ekspresi milik Arthur yang tidak pernah dilihat sebelumnya. Arthur yang diam lalu tiba-tiba sadar dari tidurnya. Ia terduduk melihat Kiku yang diampingnya dengan tatapan heran. "Kiku?" tanyanya menyentuh pipi Kiku untuk merasa yakin ini bukan mimpi. Kiku diam saja membiarkan kekasihnya itu akhirnya sadar apa yang mereka lakukan semalam.

"Kiku, cepat sarapan. Nanti telat!" terdengar suara Yao dari dapur menyiapkan makanan memperingatkan Kiku. Keduanya mendengar itu menjadi cemas bagaimana cara agar tidak ketahuan kalau Arthur ada di situ. Kiku berpikir sebentar lalu mengajak Arthur keluar kamar dengan diam-diam. Mereka menuju ruang tamu tempat tas dan jaket Arthur berada. Yao yang berada di dapur belakang nampaknya tidak menyadari adik sepupunya ke ruang depan. Cepat-cepat tapi tanpa suara, Arthur mengambil tas dan jaketnya lalu diantar Kiku sampai ke pintu depan. Pintu telah dibuka perlahan tanpa banyak suara ketika Arthur teringat akan sesuatu. Ia menoleh pada Kiku dan merogoh kantung celananya kemudian mengeluarkan kado untuk Kiku. Karena tidak ada waktu untuk berkata-kata, Arthur menyerahkannya, tersenyum dan mencium singkat pipi Kiku lalu pergi.

Kiku yang masih terbayang Arthur tadi terdiam menggenggam kado dari Arthur. Hatinya terasa sangat hangat mendekatkan hadiah dari Arthur ke dekat dadanya. Namun, tak lama adik sepupunya, Mei Mei, memanggil untuk sarapan dan ia pun menyimpan kado itu sebelum ke ruang makan.

"Ve~ nanti kita dansa ya Kiku," ajak Feli menoleh ke arah sahabat Jepangnya setelah Arthur Sang Ketua OSIS selesai memberikan sambutan. Kiku menjawab tersenyum lembut pada sahabat baiknya itu, "Ya."

Belum lagi Feliciano mau melanjutkan percakapan, ada seseorang dari belakang yang menepuk pundak Feliciano membuat Kiku maupun Feliciano mengarah kepadanya. Yang menepuk Feliciano tadi adalah seorang remaja berambut pirang bermata sebiru langit dan mengenakan kacamata. Ia mengenakan jas sewarna mata Feliciano dengan dasi coklat muda. Wajah cerianya tersenyum memanggil Feliciano, "Hi Honey!"

Feliciano menoleh dengan wajah sumringah dan menjawab dengan sama cerianya," Hi Darl!"

Kiku akan menyapa kekasih Feliciano namun detik berikutnya ia mengedipkan mata, pemandangan yang terlihat sangatlah berbeda. Sahabatnya dan remaja pirang berkacamata itu kini tengah berciuman. Feliciano masih duduk sementara kekasihnya sedikit membungkuk untuk menciumnya serta merangkul pundaknya. Awalnya Kiku agak kaget, karena meskipun ciuman digunakan sebagai salam adalah budaya dari barat, ia masih belum terbiasa. Adat timurnya masih sangat kuat sehingga ia hanya bisa menunggu mereka selesai untuk menyapa kekasih Feliciano. Kiku menunggu 5 detik. Mereka masih berciuman. 10 detik. Mereka belum selesai. 15 detik. Mereka masih tidak memiliki tanda-tanda untuk melepaskan diri.

Didera rasa malu sekaligus enggan, Kiku hanya bisa terdiam menyaksikan. Ia menghela nafas dan akan beranjak pergi ketika didengarnya tangan kanan Feliciano menepuk-nepuk punggung kekasihnya sebagai penanda untuk mengakhiri ciuman karena ia tahu sahabat Asianya itu merasa tidak enak hati. Mereka melepas ciuman itu tersenyum dan menghadap Kiku. Feliciano berkata, "Maaf ve~~"

"Tidak. Tidak apa-apa," ucap Kiku bohong. Kekasih Feliciano yang kini merangkul dari belakang dan meletakkan dagunya diatas rambut coklat Kiku berkata pada Kiku dengan wajah kesal polos, "Jangan salahkan aku, Kiku. Salahkan Arthur! Sambutannya kelamaan! Padahal aku sudah minta jangan lama-lama!"

Kiku tersenyum hambar. Kekasihnya diprotes oleh kekasih sahabatnya, "Itu sudah tugasnya, Alfred-san."

"Iyaaaa….." suara ngambek Alfred keluar. Dia memeluk erat Feliciano, "Tapi aku kan kangen Feli! Dia tidak mikir apa tentang sahabatnya ini?"

"Ve~~ aku juga kangen Alfred," ucap Feliciano mencium pipi kiri Alfred. Kejadian selanjutnya, tak sukar ditebak. Alfred dan Feliciano bertatapan lalu kembali berciuman. Kiku tertawa hambar melihat pasangan didepannya ini yang tidak habis-habisnya bermesraan.

Tak lama kemudian, Francis sebagai pembawa acara kali ini memulai acara dansa dengan memberi instruksi pada Roderich, remaja Austria berwajah tampan tanpa ekspresi untuk mulai memainkan pianonya sebagai lagu pengiring dansa untuk murid lainnya. Satu-persatu pasangan mulai meninggalkan meja menuju tengah aula yang memang dikosongkan sebagai area untuk berdansa. Diantara pasangan-pasangan itu, tidak ada satupun dari anggota OSIS yang berdansa karena memang jika ada acara apapun yang diselenggrakan OSIS, anggota hanya akan jadi pengawas sementara murid lain menikmati acara. Yah, itu konsekuensi menjadi pengurus OSIS.

"Dance, Hon?" ajak Alfred mengulurkan tangan pada Feliciano yang menjawabnya dengan anggukan, "Ve~~"

Keduanya menuju tengah aula dan saling berhadapan. Alfred adalah satu-satunya anggota OSIS yang berdansa dengan pasangan di acara itu karena memang Francis merencanakan demikian. Seluruh sekolah telah mengetahui bahwa hubungan mesra yang terjalin antara Alfred dan Feliciano merupakan salah satu keajaiban di sekolah mereka. Kejadian apapun yang terjadi dalam hubungan mereka selalu muda diketahui yang lain meski mereka tidak cerita. Sekali waktu, Feliciano nangis seharian di kelas karena Alfred mengambil pastanya. Sekali waktu, Alfred berteriak-teriak tanpa sebab karena Feliciano siesta tanpa dirinya. Murid-murid yang lain hanya bisa terbengong jika melihat 'atraksi' dari mereka. Bukanlah hal yang aneh kehebohan di sekolah terjadi karena mereka.

Dan kini, mereka berdua berdansa di tengah aula. Alfred meletakkan tangan kanannya di pinggang Feliciano sementara tangan kirinya bergenggaman dengan tangan kanan kekasih Italiannya. Tangan lain Feliciano diletakkan di pundak Alfred. Mereka bergerak sesuai lagu yang mengiringi. Kadang keduanya berbisik lalu teratwa kecil dengan wajah bahagia. Tak lupa juga ciuman-ciuman kecil yang mereka lakukan meski dalam berdansa di tempat umum seperti itu Mereka tampak sangat menikmati seolah dunia milik berdua. Kiku memandang sahabatnya dan sahabat Arthur itu dengan iri. Dia berharap, dialah yang berdansa di sana dengan Arthur.

Dia terus memandang pasangan itu hingga ia menyadari di seberang ruangan dari tempatnya berdiri, ada seseorang yang juga terdiam melihat ke arah Alfred dan Feliciano. Kiku mendapati Arthur dengan pandangan yang sama sepertinya memandang iri pada sahabatnya itu. Kiku tersenyum kecil menyadari betapa transparannya Arthur menyiratkan keinginannya hanya dari pandangan saja. Lalu, dia memfokuskan tatapannya ke arah Arthur hingga Arthur menyadari Kiku memandanginya. Kiku tersenyum. Bertukar pandang dengan Arthur yang tersenyum sayang padanya. Kiku menikmati tatapan Arthur yang selalu dengan jujur mengatakan maksud hati Arthur walaupun tidak diutarakan dengan kata-kata. Namun, tiba-tiba airmuka Arthur berubah serius dan memberikan gerakan tangan yang menunjukkan ke luar ruangan. Mengajak Kiku keluar aula.

Karena acara begitu terpusat ke tengah ruangan, tak ada yang memperhatikan Kiku dan Arthur yang berjalan keluar aula. Kiku mengikuti Arthur yang berjalan ke bagian belakang aula yang tidak diterangi cahaya kecuali cahaya bulan. Lagu yang dimainkan dalam aula masih bisa didengar jelas dari posisi mereka berdua sekarang. Mereka berdua berdiri berhadapan sampai Arthur tiba-tiba berjalan mundur dua langkah, menyilangkan kaki kanannya ke belakang lalu memutar tangan kirinya untuk diletakkan depan dada seraya membungkuk ketika tangan kanannya terulur ke arah Kiku. Ia berkata, "Bersediakah menemaniku berdansa?"

"Dengan senang hati," ucap Kiku tersenyum dan menyambut tangan Arthur.

Mereka saling mendekatkan diri sampai keduanya saling bisa merasakan hembusan nafas masing-masing. Kiku merasa jantungnya akan meledak ketika tangan Arthur merengkuh lembut pinggangnya dan mendorong tubuhnya agar mendekat ke tubuh Arthur. Dia sempat gemetar sesaat sebelum menaruh tangan kirinya di pundak Arthur. Tetapi, saat Arthur mengenggam lembut tangan kanannya dan tersenyum padanya, tangan Kiku tak lagi bergetar. Mereka bertatapan penuh sayang seraya berdansa.

Arthur memindahkan tangan kanannya dari pinggang Kiku untuk membelai pipi Kiku. Ia berkata dengan sedih, "Maaf ya, kita tidak bisa berdansa dalam aula…"

Remaja Asia itu terkejut mendengar kata-kata kekasih Inggrisnya. Ia tidak menyangka kalau Arthur memikirkan hal-hal sepele seperti itu begitu keras sampai ke titik meminta maaf karena tidak bisa melakukannya. Sebenarnya, Kiku tak pernah mementingkan hal-hal semacam itu. Ia memandang iri pada Alfred dan Feliciano pun karena ia juga ingin berdansa dengan Arthur. Tidak harus di dalam aula. Tidak harus di tempat umum. Tidak harus dilihat banyak orang. Seperti sekarang saja sudah lebih dari cukup baginya.

Kiku menampilkan senyum termanisnya yang sanggup membuat jantung Arthur berdetak sangat cepat ketika berkata, "Tidak apa-apa. Aku hanya ingin berdansa denganmu. Itu saja."

Melihat Kiku yang begitu manis tersenyum mendorong keinginan Arthur untuk menciumnya. Mereka berhenti berdansa. Wajah Arthur memerah ketika ia menempelkan dahinya dan Kiku. Kedua tangannya membelai pipi mulus Kiku yang kini mengikuti warna muka Arthur. Kiku tersenyum memegang tangan Arthur di pipinya. Arthur pun ikut tersenyum. Keduanya berharap andai saja waktu bisa seperti ini terus tanpa ada yang berubah. Tak lekang oleh waktu. Arthur mencium kening Kiku, "Aku juga."

"Aku juga ingin berdansa denganmu, Kiku sayang*…" bisik Arthur sebelum merapatkan bibirnya dengan Kiku.

.

.

.

.

.

Thank you so much for reading!^^

Please review if you don't mind!

*terinspirasi dari fic AsaKiku milik Silan Haye.

Aku tahu aku memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan menyempilkan AmeIta di sini. Maaf sekali kalau agak lebih banyak ke AmeIta-nya dari AsaKiku-nya =.='

Jangan lupa untuk chapter selanjutnya, silahkan me-request warna Lollipop lainnya. Aku akan membuat cerita selanjutnya berdasarkan warna itu. Akan sangat membantu jika anda tidak memilih pilihan "terserah". Terima kasih untuk pengertiannya U_U

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .