
AU, Gender-bender—Kehidupan sekolah cowok berambut coklat itu berwarna seketika dua gadis memasuki kelas dan membawa memori-memori lama. Bagaimana kisah kesehariannya? ‹4/?›
Rated: Fiction T - Indonesian - Friendship/Humor - Hungary - Chapters: 4 - Words: 8,602 - Reviews: 18 - Favs: 7 - Follows: 6 - Updated: 09-23-11 - Published: 04-21-11 - id: 6926893
|
|
A+ A- |
Forewords: Maaf udah lama ga lanjut~ hehe, saya kan (sok) sibuk lalalalala.
Saya bingung mau lanjutin yang mana dulu jadi saya lanjutin satu-satu dikit-dikit. Di chapter ini bakal banyak AusHung...ya, mengingat adegan terakhir chapter lalu sih. Eniwei, saya ga banyak cingcong, langsung aja deh.
Fandom/Disclaimer: Axis Power Hetalia © Himaruya Hidekaz-sensei; Plot © saya
Warning(s): AU, OOC, Gender-bender, country names used.
Reverse Exponent
/
Part IV
Low Tunes - Prelude
Kedua teman masa kecil itu berdiam diri di tengah taman. Sore yang hangat menemani mereka, pemandangan kota itu terlihat damai. Mereka berdua tidak berkata apa-apa, pada awalnya. Tiap-tiap mereka menanti salah satu memulai pembicaraan atau bahkan mengakhirinya sebelum berkata apa-apa. Sebenarnya apa yang mereka pikirkan? Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang.
"Hungary, apa yang kau pikirkan soal Obaka-chan?"
"Prussia? Ia cewek yang galak dan manis...kurasa,"
"Begitu?" Entah kenapa, Austria mencengkeram bagian bawah dress-nya. "Kau menganggapnya sebagai apa?"
"Hmm...rival?" Hungary setengah tertawa. "Dan, teman yang berharga?"
"Oh, a-aku mengerti,"
"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan, Austria-chan?"
"Eh? Ah... aku?"
"Ya, kau. Rasanya kau ingin mengatakan sesuatu sejak kita bertemu lagi."
/
Sementara itu, Prussia.
Setelah menikmati tidur siang yang nyenyak, ia memutuskan untuk berjalan-jalan di kota. Ia bersinggah di Cafe General Winter melihat bahwa tidak ada satupun anggota goukon yang tersisa disana. Kebetulan, Belgium yang masih mengurus soal tagihan ada di kasir, di sebelahnya ada Netherlands—tengah bersikap sebagai kakak yang baik menunggu adiknya menyelesaikan tagihan.
"Oh, yo, Prussia-chan!" sapa Belgium semangat. "Goukon-nya sudah selesai, sayang kau tidak datang,"
"Pasti acaranya ga awesome tanpa aku," Prussia berbangga diri, senyum (sok) terpampang di wajahnya.
"Yaaah, lumayanlah, setidaknya aku tahu kalau Sis punya saingan baru,"
"Sudahlah, Belgie-kun. Canada-chan bukanlah apa-apa bagi cintaku dan Nesia." Nether mendengus. "Ayo, Luxie menunggu kita di restoran, kan?"
"Baik, Sis, baik~" Belgium hendak mengambil struk dan pergi.
Prussia ingat akan sesuatu, para peserta goukon, "Oh ya, kau lihat...Hunga dan cewek aristokrat?"
Setelah ditunjuki jalan oleh Belgium, gadis Prussia itu pun berpisah jalan dengan para saudara Mediteranian dan pergi ke tempat yang pemuda itu maksud, sebuah taman indah dengan air mancur di tengahnya, lengkap dengan banyak semak-semak dan bangku taman.
Iris kelabunya langsung saja menangkap keberadaan dua insan yang ia cari tengah bercakap-cakap. Membuatnya agak cemburu dalam hati, tetapi entah kenapa ada juga perasaan dimana ia ingin membiarkan mereka berdua bercengkerama layaknya reuni teman lama. Termakan penasarannya sendiri, gadis albino itu pun bersembunyi pada siluet hijau dekat dengan bangku mereka.
"Kau ingin bilang sesuatu padaku, kan?
Austria mengangguk pelan, kacamatanya ia lepas. "Aku..."
"Ya, Austria-chan?"
"Aku...nggak enak bilangnya, nggak apa-apa?"
"Ya, Austria-chan, nggak masalah kok. Apa?"
"Aku...aduh, aku benar-benar nggak siap bilangnya..."
"Ya, Austria-chan, tenang saja...aku mendengarkanmu."
Rasanya Prussia ingin melempar benda terdekatnya untuk menyelesaikan pembicaraan tanpa ujung tersebut.
"...aku boleh minta teflon kamu yang nggak kepakai?"
Krik. Alis gadis albino yang menguping spontan naik tak percaya, rasanya bukan itu deh yang dia minta, apa ini cuma humor garing?
"Eh? I-Itu aja?"
"Iya, dari kemarin Obaka-chan ngambek terus mulai melampiaskannya pada benda-benda di dapur jadi..."
"Aku mengerti, ini." Hungary mengeluarkan teflon dari tas yang ia bawa. "Itu saja yang kau minta?"
Kini Austria berdiri dari duduknya, ia meluruskan dress terusan yang ia pakai dan berdiri sedikit menjauhi Hungary. Prussia masih memperhatikan mereka berdua dengan lamat-lamat, seakan sedetik terbuang saja sangat berharga. Gadis beriris kelabu itu menyibakkan rambut hitam ikalnya dengan elegan, seumpama mengisyaratkan sesuatu.
"Terima kasih untuk hari ini, sudah lama aku tidak berbicara denganmu—" ucapannya ia jeda sedikit. "Setelah mereka semua memisahkan kita."
Surai cokelat memperhatikan sebuah...kesenjangan di gaya bicara gadis tersebut sekarang. Pemuda itu tidak banyak berkomentar, hanya mendengarkan. Gadis albino yang menjadi penonton hanya bisa menelan ludah.
"Aku mendahuluimu, maju setelah kejadian itu, dan kita tidak pernah bertemu lagi." Gadis itu menutup matanya, "—Sampai sekarang."
"Maaf, aku tidak pernah melihatmu. Saat itu aku repot juga." Hungary tersenyum membalas. "Tapi sekarang kita bisa bertemu lagi kan?"
Prussia jelas melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa ia melihat gadis aristokrat itu menitikkan air mata.
"...Kau benar." Austria mengangguk, gadis itu lalu membalikkan badan. "Terima kasih teflonnya, sampai jumpa besok, Hungary-kun."
—Dan gadis itu pergi begitu saja, lebih tepatnya, lari dari pemuda itu.
Spontan, Prussia muncul dari belakang semak-semak dan memukul kepala Hungary keras.
"AWW—HEI, KAU NGAPAIN DISANA?" pekik Hungary pada sang gadis albino.
"Cih, kamu nggak peka ya?" dengus Prussia dengan nada tinggi. "Ya sudahlah, biar aku saja yang menemaninya, kau urus urusanmu sendiri!"
Prussia berlari, Hungary tertinggal sendiri.
"Hmm..." Hungary tampak memikirkan kalimat tersebut, ia menatap langit diatasnya dengan tatapan semu, pemuda dengan ikat rambutnya itu mendecak pelan. "Aku...masih nggak peka, ya?"
/
Bersambung.
Endwords: Oke, maaf pendek! Saya janji chapter berikutnya saya usahain agak panjang tentang curhatnya Hungary pada seseorang #plak
Yak, saya disini ngasih referensi, jadi dialog akhir-akhir antara Austria dan Hungary itu diambil dari sejarah Austro-Hungarian Empire, cari saja di Wiki atau buku Sejarah dunia. Terimakasih banyak atas review dan dukungannya selama ini~ sekian dari saya, apa ada review/kritik/saran?
|
||||||