Games » Kingdom Hearts »

Seven Days
Author:
Sha-Ra-kun PM
Sora meminta Roxas mengajarinya basket selama tujuh hari, padahal Roxas juga akan pergi tujuh hari lagi. *nggak bisa bikin summary* DX
Rated: Fiction T - Indonesian - Friendship/Romance - Sora & Roxas - Words: 2,580 - Reviews: 7 - Published: 05-03-11 - Status: Complete - id: 6960875
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

Kingdom Hearts jelas bukan milik saya.

Fic sho-ai pertama saya! Yang nggak suka, silahkan tidak usah membacanya.

Judulnya Seven Days, tapi nggak menceritakan satu hari satu hari, ada hari yang dilewat. DX

Enjoy~

-x-x-x-x-x-

Seorang anak cowok berambut coklat spike yang berantakan berlari di lorong SMA Destiny Island, dia terlihat sedang mencari seseorang. Keadaan hati cowok itu benar-benar sedang kacau, dia sangat mengharapkan pahlawan yang sedang dia cari ini benar-benar berada di sana. Dia melewati kelas demi kelas, ruang guru, lapangan futsal, hingga akhirnya dia sampai di gor basket khusus klub basket SMA Destiny Island. Dia melihat seorang cowok berambut blonde sedang latihan basket sendirian, dia senang ternyata orang yang dia cari benar-benar ada di tempat itu.

"Roxaaas!" teriak cowok brunette itu seraya menghampiri si cowok blonde.

"Sora?" ujar Roxas, dia menoleh ke arah cowok bernama Sora sambil menyeka keringat yang ada di keningnya.

"Syu.. syukurlah kamu ada di sini" ucap Sora dengan nafas yang terengah-engah, dia membungkukkan tubuhnya karena kelelahan.

"Ada apa, Sora?" tanya Roxas bingung.

"Aku mau minta tolong! Tidak ada orang lain yang bisa aku harapkan selain kamu!" ucap Sora, masih dengan nafas yang terengah-engah.

"A.. apa?" ujar Roxas bingung.

Sora menegakkan tubuhnya, menatap mata Roxas dengan penuh harap, "Roxas! Ajarin aku basket!" teriak Sora, Roxas bengong dengan mulut berbentuk 'O'.

"Ha.. hah?" kata Roxas yang akhirnya sadar dari lamunannya.

"Aku ditantang Vanitas tanding basket 1 on 1! Gak mungkin kan aku bilang kalau aku gak bisa basket! Itu memalukan bagiku yang sudah ban hitam dan pintar! Makanya tanpa sadar aku menerima tantangannya!" jelas Sora kilat.

"Tu.. tunggu, kenapa harus aku? Kan kamu punya Riku yang lebih jago dariku?" tanya Roxas gugup.

"Dia gak setia kawan! Dia lebih memilih Olette dibandingkan aku! Dia pergi ke Twilight Town untuk menemui Olette! Dia izin gak sekolah selama empat hari!" ucap Sora dengan bibir manyun karena kesal.

Roxas terlihat kebingungan, "Tujuh hari saja! Hari tandingnya juga tujuh hari lagi! Aku pasti cepat bisa kalau kamu yang ngajarin aku!" pinta Sora penuh harap, Roxas menggaruk kepalanya, dia jadi semakin dibuat bingung oleh Sora.

"Eeerr.. baiklah?" jawab Roxas setengah yakin, mata Sora membulat karena senang. Sora melompat ke tubuh Roxas.

"Waaaa.. makasih Roxaaas!" Sora memeluk erat Roxas. Roxas kehilangan keseimbangan tubuhnya karena Sora memeluknya secara tiba-tiba, akhirnya Roxas dan Sora jatuh ke lantai.

"Aduuuh.." kata Roxas sambil memegang kepalanya yang terbentur.

"Hehe.. sori Roxas" ucap Sora sambil berdiri dari tubuh Roxas, Sora mengulurkan tangannya pada Roxas, Roxas meraih tangan Sora.

"Jadi? Kita mulai latihannya sekarang?" tanya Sora dengan semangat.

"Jangan terlalu berharap, kita mulai latihan besok, aku udah capek latihan sendiri tadi" jawab Roxas datar. Sora kecewa berat, Roxas tertawa kecil melihat reaksi Sora.

"Okay, besok ya? Janji! Aku tunggu di sini jam... empat sore! Setelah pulang sekolah!"

"Iya, janji.. sekarang mau pulang bareng?" tanya Roxas memunggungi Sora untuk mengambil tas yang dia simpan di kursi pemain.

"Tentu! Ayo!" jawab Sora dengan senyum lebar. Roxas langsung mengambil tasnya tanpa ganti pakaian dulu, lalu mereka segera pulang.

-x-x-x-x-x-

"Daaah, Roxas! Sampai besok!" ucap Sora saat mereka berpisah di tikungan jalan.

"Iya.. dah" ujar Roxas dengan senyum kecil. Roxas berjalan ke rumahnya dengan langkah yang lemas, bukan karena kecapekan, alasannya karena dia sedang memikirkan sesuatu.

Sebenarnya Roxas mempunyai dua rahasia yang tidak diketahui Sora, dan Roxas tidak mau Sora mengetahui kedua rahasia itu.

Roxas sampai di depan rumahnya, dia membuka pintu rumahnya pelan, Ibunya langsung menyambut Roxas lembut.

Yang pertama, Roxas sudah sangat lama menyukai Sora, mungkin saat mereka berdua masih kelas 3 SD.

"Roxas, kamu sudah menyiapkan semuanya kan?" tanya Ibunya dengan senyum ramah.

"Hmmm..." ujar Roxas dengan raut wajah datar, Roxas meninggalkan Ibunya dan langsung menuju kamarnya yang ada di lantai 3 rumahnya. Roxas melangkah dengan langkah yang malas, lalu Roxas sampai di kamarnya.

"Tujuh hari lagi, ya? Benar-benar kebetulan" kata Roxas pada diri sendiri sambil melihat kamarnya yang sudah kosong, hanya ada beberapa kardus besar berisi baju yang sudah dilipat dengan rapi yang ditaruh di pojok kamar.

Yang kedua, tujuh hari lagi Roxas akan pindah ke Twilight Town, meninggalkan Destiny Island dan meninggalkan.. Sora.

Roxas tersenyum miris, sudah tujuh tahun menyukai seseorang, ternyata akan berpisah tujuh hari lagi.

Roxas mengatakan tentang kepindahannya pada semua teman-temannya, kecuali Sora. Dia tidak mau Sora mengatakan 'selamat tinggal' padanya. Dia berpikir lebih baik Sora tidak perlu tahu tentang kepindahannya nanti.

-x-x-x-x-x-

Selasa, 10 Mei

"Sora! Kakimu jangan kayak gitu! Yang benar, dong!" teriak Roxas kesal.

"Jelas aja! Kita kan baru latihan tiga menit! Mana mungkin secepat itu aku langsung bisa?" ujar Sora marah, Sora memantulkan bola basket ke lantai, bolanya terpantul ke atas sejauh lima meter sangking kesalnya (dasar karateka, badan kurus kayak begitu tapi tenaganya gajah).

"Huh" dengus Roxas, "Oke.. perhatikan aku baik-baik, aku akan kasih lihat lagi contohnya padamu" Roxas mengambil bola basket yang berada dua meter di depannya.

Roxas segera memberikan contoh pada Sora, semua gerakan Roxas sangat bagus, sama sekali tidak ada gerakan yang sia-sia. Sora terkagum-kagum saat Roxas melakukan slam dunk.

"Gila! Kamu keren banget!" puji Sora blak-blakan, Roxas tersipu-sipu.

"Makasih, cepat lakukan apa yang aku kasih lihat padamu tadi" perintah Roxas sembari melempar bola basket itu pada Sora.

"Okay pelatih!" sahut Sora semangat.

-x-x-x-x-x-

Rabu, 11 Mei

"97.. 98.. 99.. 100..!" ucap Sora dengan nafas yang memburu.

"Sit up sudah, sekarang push up 100 kali"

"100 kali juga?" kaget Sora dengan mata terbelalak.

"Iya, harus!" ujar Roxas dingin.

"Istirahat dulu lima menit!" Sora langsung tepar di lantai gor.

"Sekarang atau aku bakal pulang" ancam Roxas santai.

Sora bangun dan memasang raut wajah kecewa, "Jangan! Kita kan belum latihan! Masa' sekarang aku cuma sit up?" protes Sora.

"Makanya.. push up sekarang juga"

"Kenapa latihannya jadi ekstrim gini sih?" ucap Sora sambil memulai push up.

"Protes? Ya sudah, besok nggak usah latihan lagi" ketus Roxas.

"Iya.. aku berhenti protes deh, pak pelatih Roxas" ujar Sora dengan bibir manyun, Roxas tertawa lepas.

-x-x-x-x-x-

Jumat, 13 Mei

"Ayo.. kamu coba lewati aku" ejek Roxas dengan senyum sinis. Sekarang mereka latihan basket 1 on 1. Roxas ingin lihat sejauh mana kemampuan Sora setelah latihan ekstrim selama tiga hari. Roxas dengan pintarnya menghalangi Sora, sama sekali tidak ada celah bagi Sora untuk melewati pertahanan Roxas. Setelah 30 detik tidak membuahkan hasil yang berbeda, akhirnya Sora menyerah.

"Kh.. susah banget mau melewatimu.. menyebalkan!" keluh Sora sambil duduk di kursi pemain.

"Kalau kamu masih belum bisa melewatiku, mustahil kamu bisa melawan Vanitas yang kuakui lebih jago dariku" ujar Roxas yang duduk di samping Sora.

"Oh, begitu... tapi masih ada waktu dua hari untuk latihan, aku harus berusaha!" Sora bangkit dari kursi, "Ayo, kita latihan lagi Roxas!" ajak Sora semangat.

"Masih punya tenaga? Oke, ayo" Roxas dengan senang hati menerima ajakan Sora.

-x-x-x-x-x-

Minggu, 15 Mei

Roxas berlari ke gor basket SMA karena terlambat, mereka janjian untuk latihan jam 10, sedangkan sekarang sudah jam 10.30. Setelah sampai di gor SMA, Roxas melihat Sora yang sedang latihan sendiri. Gerakan Sora sudah sangat bagus, tidak ada gerakan yang percuma, Roxas dikejutkan oleh Sora saat Sora melakukan slam dunk dengan sangat baik.

"Sora! Gerakanmu tadi bagus sekali, mungkin kamu sudah bisa melawan Vanitas sekarang juga" puji Roxas seraya memberikan Sora tepuk tangan, Sora melihat Roxas dengan senyuman, kelihatannya dia tidak marah Roxas terlambat.

"Benarkah, Roxas? Padahal tandingnya besok, bisa santai deh" ujar Sora.

Besok...

"Ah.. i.. iya, ya.. kamu sudah bisa.. santai" ucap Roxas.

"Roxas? Hey, kenapa wajahmu terlihat sedih begitu?" Sora memiringkan kepalanya, bingung.

"Eh?"

"Hah, aku tahu.. kamu pasti tidak suka karena sekarang aku lebih jago darimu, kan? Ngaku saja deh" ejek Sora dengan raut wajah yang menyebalkan.

"Apa sih? Ayo kita latihan!" Roxas lari meninggalkan Sora yang masih cengar-cengir.

"Hahahaha... okay pelatih~" Sora mengekor Roxas ke kursi pemain, karena Roxas ingin ganti baju dulu.

'Hari ini hari terakhir aku bertemu Sora, 'besok' adalah hari kepindahanku, aku tidak mau pindah! Aku tidak mau meninggalkan Sora! Tapi... aku juga tidak mau jauh dari orang tuaku.. Sora, maafkan aku.. aku tidak memberi tahumu tentang hal ini' batin Roxas. Rasa bersalah, sedih, kesal, bercampur aduk di hati Roxas. Ingin rasanya Roxas mengatakan 'aku suka kamu, Sora' sekarang. Tapi di lain hati dia juga tidak mau Sora membencinya.

"Hah hah.. a.. aku mau istirahat dulu, ya" kata Sora dengan nafas terengah-engah, mereka sudah latihan berdua kira-kira 1 jam.

"Eh? O.. oke" sahut Roxas, Sora pergi ke luar gor.

-x-x-x-x-x-

"Sudah sepuluh menit lewat, kemana dia?" tanya Roxas pada diri sendiri, dia bangkit dari kursi untuk mencari Sora. Saat dia berada di pintu gor, dia melihat Sora dan Xion sedang ngobrol, wajah Sora memerah. Tunggu, Sora menyukai Xion? Roxas mau menghampiri mereka dan mengajak Sora latihan lagi, tapi dia nanti akan bertemu muka dengan orang yang tidak ingin dia temui dulu sekarang, Xion. Kemarin Xion menembak Roxas, namun ditolak Roxas dengan halus, dia mengatakan terus terang pada Xion bahwa dia menyukai Sora, dan hanya akan menyukai Sora. Tapi Roxas juga tidak ingin Sora berlama-lama dengan Xion, melihat wajah Sora yang memerah saat bersama Xion, itu pertanda buruk untuknya.

"Hoi, Sora.. aku tungguin ternyata kamu malah lagi asik ngobrol sama Xion" ucap Roxas seraya menghampiri mereka berdua, Sora kaget bukan main, dia jadi salah tingkah.

"Hehe, sori.. okay, sampai nanti ya Xion!" pamit Sora pada Xion, Sora segera 'kabur' ke gor dan meninggalkan mereka berdua.

"Eng.. aku.. pulang dulu ya Roxas" pamit Xion.

"Xion.. kamu ngapain ke sini? Sekarang kan hari Minggu" tanya Roxas selidik.

"Ti.. tidak ada apa-apa kok! Daah" Xion segera meninggalkan Roxas sendirian.

-x-x-x-x-x-

"Hey.. Roxas" ucap Sora saat perjalanan pulang.

"Hmm..?" sahut Roxas.

"Besok kamu datang ya, jam lima sore di lapangan basket DI"

DEG

"Ma.. maaf, besok aku nggak bisa" ujar Roxas gugup.

"Nggak bisa? Kenapa?" heran Sora, dia memandang lekat wajah Roxas yang ada di samping kirinya.

"Tidak ada apa-apa, aku hanya ada urusan" keringat dingin tiba-tiba mengucur di dahi Roxas.

"Tidak biasanya kamu merahasiakan sesuatu dariku, urusan apa?" tanya Sora.

"Kamu tidak perlu tahu" jawab Roxas, dia tidak berani memandang wajah Sora.

"Ayolah Roxas, di sana semua pasti mendukung Vanitas, tidak akan ada yang mendukungku, mungkin saja hanya Kairi dan Riku" paksa Sora dengan suara yang minta dikasihani.

Roxas bingung ingin menjawab apa, refleks dia menjawab, "Uh.. oke" ujar Roxas takut-takut.

"Makasih" ucap Sora senang.

'Maafkan aku Sora'

-x-x-x-x-x-

Senin, 16 Mei

"Hey.. kenapa Roxas nggak masuk sekolah? Apa dia sakit?" tanya Sora pada Tidus saat istirahat, kebetulan Tidus adalah ketua kelas di kelas itu, Tidus duduk di kursi yang ada di depan Sora, biasanya Sora dan Roxas duduk bersebelahan.

"A.. aku nggak tahu" jawab Tidus kaku. Tidus sudah janji pada Roxas tidak akan memberitahu Sora soal kepindahannya hari ini.

"Hmmm..." desah Sora, dia khawatir pada Roxas. Sora memutuskan untuk menanyakan tentang Roxas pada orang lain. Dia bangkit dari kursinya dan melangkah keluar kelas, tiba-tiba Xion melewati kelas Sora, langsung saja Sora menangkap tangan Xion.

"Xion! Apa kamu tahu kenapa Roxas tidak masuk?" tanya Sora dengan suara yang lumayan keras.

"Sora.. a.. aku tidak tahu.." jawab Xion takut-takut, Xion juga sudah janji hal yang sama pada Roxas.

"Xion.. kumohon.. bicara yang jujur" pinta Sora.

Xion menutup matanya, dia mendesah pelan, lalu Xion membuka mulutnya sedikit, "Roxas..."

-x-x-x-x-x-

"Apa..?" ucap Sora tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya, dia langsung lari meninggalkan Xion.

"Sora! Kamu mau ke mana?" teriak Xion kaget.

"Ke rumah Roxas! Ada yang ingin kutanyakan pada Roxas!" jawab Sora.

"Ta.. tapi ini masih jam istirahat!" Sora mengacuhkan Xion, dia terus berlari, tidak mempedulikan orang yang protes karena ditabrak secara tidak sengaja olehnya, yang ada di pikirannya sekarang hanya alasan kenapa Roxas tidak memberitahu kepindahan Roxas padanya.

-x-x-x-x-x-

"Roxas.. semua barang sudah dimasukkan ke mobil, kan?" tanya Ibunya.

"Iya" jawab Roxas datar.

"Ya sudah, keluarlah duluan" Roxas menuruti perkataan Ibunya, setelah dia ada diluar pintu rumahnya, dia mendongakkan wajahnya ke langit, hatinya terasa perih.

"Sayonara Sora"

"Roxas..." Roxas terkejut, dia mengenal suara itu, dia menoleh ke arah asal suara. Roxas terkejut bukan main saat melihat Sora dengan wajah yang marah, Sora mendekati Roxas, Roxas melangkah mundur.

"Kenapa kamu tidak memberitahu aku tentang ini?"

"Sora.. aku.." suara Roxas bergetar.

"Roxas.. jawab aku!" teriak Sora dengan suara lantang.

Roxas lari ke dalam rumahnya, Sora mengejar Roxas sambil meneriaki nama Roxas. Roxas berlari menaiki tangga sampai lantai 3, dia masuk ke kamarnya yang sudah kosong dan menguncinya. Sora menggedor pintu, meminta Roxas untuk membiarkannya masuk.

"Roxas! Buka pintunya! Roxas!" teriak Sora, dia masih memukul pintu kamar Roxas, Roxas duduk memunggungi pintu kamarnya di pojok kamar.

"Sora.. maaf, aku tidak memberitahumu tentang kepindahanku.. aku.." Sora berhenti menggedor pintu.

"Roxas..." ucap Sora dengan nada yang kecil, "Kamu.. menyukaiku?" sambung Sora, Roxas terkejut.

"Kemarin aku mendengarnya dari Xion, dia menembakmu, tapi kamu tolak dan bilang bahwa kamu menyukaiku, apa itu benar?" tanya Sora, Sora menyandarkan keningnya di pintu.

"Sora.. maaf.. aku.. aku akan berhenti menyukaimu kalau kamu tidak suka.." ujar Roxas dengan nada yang bergetar, Sora diam.

BRAK!, Sora mendobrak pintu kamar dengan cara menendangnya dengan kaki, pintunya terlempar tepat tiga senti di samping Roxas, keringat dingin mengucur di wajah Roxas.

"Jangan bicara yang tidak tidak!" ucap Sora dengan nada yang marah.

'Di.. dia marah!' batin Roxas, Roxas masih tidak berani untuk melihat Sora yang ada di belakangnya. Sora menghampiri Roxas.

"Ma.. maaf! Aku.. aku..." ucapan Roxas terhenti saat Sora tiba-tiba memeluknya dari belakang, Sora memutar tubuh Roxas agar Roxas bisa menatap wajahnya. Sora memegang pipi Roxas, lalu dengan cepat Sora menghimpit bibir Roxas dengan bibirnya sendiri. Roxas kaget dengan aksi Sora, belum lagi saat ada sesuatu yang basah menyentuh bibirnya, Sora menjilat bibir Roxas, meminta izin Roxas untuk memasukkan lidahnya ke mulut Roxas, tapi Roxas masih takut untuk membuka mulutnya. Sora menyudahi ciumannya. Roxas bengong, Sora memeluk Roxas.

"Dasar bodoh, aku senang tahu kamu menyukaiku!" ucap Sora jengkel.

"Eh?" sahut Roxas dengan tampang bodoh.

"Aku sudah suka kamu dari dulu" Sora mempererat pelukannya.

"Se.. sejak kapan?" tanya Roxas.

"Entahlah.. mungkin saat kelas 5 SD?" jawabnya.

5 SD, meskipun tidak selama Roxas yang sudah menyukai Sora sejak kelas 3 SD, tapi hei, Sora sudah menyukai Roxas selama lima tahun, angka yang lumayan besar. Mungkin ini alasan kenapa wajah Sora memerah saat ngobrol dengan Xion kemarin, karena Xion bilang pada Sora bahwa Roxas menyukai Sora.

"Sungguh?" ucap Roxas tidak percaya.

"Iya..." Sora melepas pelukannya, lalu menatap mata Roxas, "Kenapa kamu tidak memberitahuku tentang kepindahanmu?" tanya Sora, dia memegang erat bahu Roxas.

"Aku.. tidak mau kamu mengatakan selamat tinggal padaku, karena itu aku.."

"Bodoh.." ucap Sora memotong perkataan Roxas

"Hah?"

"Tenang saja, aku akan mengunjungi rumah barumu setiap bulan, yaaa.. aku harus menabung dulu sih" ujar Sora dengan tawa garing.

"Kamu yakin?" Roxas menatap mata Sora, Sora melihat Roxas dengan wajah jail.

"Iya.. mungkin aku akan sekalian menginap, jadi siap-siap saja kalau aku melakukan sesuatu padamu saat kamu tidur" kata Sora dengan senyum sinis yang menghiasi bibirnya, wajah Roxas memerah.

Sora memeluk Roxas, kali ini lebih erat dari yang sebelumnya, "Aku suka kamu Roxas" bisik Sora di telinga Roxas.

"Aku juga sangat menyukaimu Sora", 'Menyukaimu lebih besar dari yang kau ketahui'

-x-The End-x-

Akhirnya tamaaat! *nangis gaje*

Pertama kali bikin fic sho-ai, bingung juga mikir ceritanya kayak gimana.

Tapi semoga fic saya ini tidak terlalu mengecewakan para readers! *nunduk nunduk*

Review?

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .