Games » Inazuma Eleven »

Relinquish
Author:
Kuroka PM
[HIATUS] —Gouenji, Nathan, Endou, dan Gran— "Jika diharuskan untuk memilih satu dari dua pilihan sulit, akankah kalian rela untuk melepaskan salah satunya?"
Rated: Fiction T - Indonesian - Friendship/Hurt/Comfort - Goenji S. & Kazemaru I. - Chapters: 6 - Words: 19,924 - Reviews: 40 - Favs: 12 - Follows: 6 - Updated: 11-16-12 - Published: 05-22-11 - id: 7012656
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

Disclaimer:

Inazuma Eleven © Level-5

Warning:

Rating mulai bergeser jadi M. Adegan violence yang lumayan kentara. OOC, typo, kesamaan ide dan sebagainya harap dimaklumi.


[PRELUDE]


.

.

"—ru!"

(Suara… siapa itu?)

"—zemaru!"

(…Apa ia memanggilku?)

"—maru…"

(Suaranya terdengar semakin parau… apa ia baik-baik saja…?)

"—zemaru…!"

(…Mengapa ia tetap berteriak?)

"Ka—"

(Hentikan…! Jika terus berteriak seperti ini, bisa-bisa pita suaramu—)

"Kaz—"

"CUKUP…!"


RELINQUISH—


[CHAPTER SIX]

The Passing of Twilight

The passage of time, betrayed by the age in my eyes;

Imbued wisdom now replaces the follies of youth.

The storms on the sea of life have taken their toll;

And in their wake, a resemblance of truth;

The taste of innocence, long forgotten on my tongue;

Replaced now with the flavor of knowledge.

Vanity crept in somewhere along the way;

A validity I was unwilling to acknowledge.

Night is in order. But twilight is a reluctant malcontent.

It wishes to linger, and tarry in the fray.

Alas, nothing has an alliance with time;

And soon, it will relinquish the light it holds so dearly;

And night will have its way.

(Graydon Archer)


.

.

.

Senyap.

Tak ada suara lain selain bunyi helaan napas dan denyut jantung yang berdetak secara perlahan.

Sepasang iris menyerupai emerald bersinar kontras di antara kelam yang mendominasi.

Pemilik warna menyala tersebut hanya menatap kosong langit-langit kamar miliknya. Pikirannya melambung dalam tatapannya yang sayu. Jauh, jauh membawanya pada kenangan di masa lalu yang telah lama berlalu.


[INTERLUDE]


.

.

"Reize!"

Seorang pemuda berambut merah terlihat putus asa mencari sebuah sosok di antara puing-puing bangunan yang telah hancur. Sesekali Ia juga mengais-ngais puingan tersebut dengan tangan kosong, berharap menemukan tanda-tanda keberadaan—kehidupan dari orang yang dicarinya. Pemuda itu bahkan sudah tidak lagi memedulikan rambut, debu dan pasir melekat pada wajahnya (akibat bekas air mata yang basah di pipinya).

"Reize.. di mana kau…?" bisiknya lirih dengan suaranya yang tercekat. Masih mengais-ngais di antara puing-puing bangunan. Pemuda itu bahkan harus menggigit keras bibir bawahnya ketika dirinya menemukan sebuah mayat yang tewas dalam penyerbuan tersebut. Seketika, rasa takut (kembali) menyergap seluruh tubuhnya.

(…Takut, jika sosok yang terbaring kaku tersebut adalah sosok yang dicari-carinya.

Takut jika Ia harus kembali ditinggalkan oleh orang-orang terkasih—

meski kata "kasih" dan "sayang" adalah sesuatu yang sebetulnya janggal bagi alat pemenuh ambisi sang ayah seperti dirinya.)

Pemuda itu lalu membersihkan bongkahan yang menimpa mayat tersebut.

Teromabng-ambing di antara harap, pasrah dan putus asa, kedua tangannya tak berhenti mengeruk batu dan pasir yang ada.

.

.

.

Bukan.

Mayat itu bukan Reize.

Pemuda itu berhenti sebentar.

Sekedar untuk sedikit bernapas lega—meskipun hanya sesaat.

Selesai memastikan mayat tersebut, pemuda itu bangkit dan berjalan—dengan lunglai—ke arah yang lain.

Bermaksud untuk mencari, mencari, mencari, mencari, mencari, mencari, mencari dan terus mencari hingga dapat—

"…To..long…"

Baru saja berjalan beberapa meter, tiba-tiba saja terdengar sebuah rintihan pelan. Sumbernya tak jauh dari tumpukan puing di daerah tersebut.

"Mido…ri..kawa…?!"

Bagai menemukan setitik air di tengah padang gurun, pemuda itu segera menghampiri sumber suara. Agak sulit menemukannya, sebab suara rintihan tersebut terdengar begitu pelan dan lemah.

"Midorikawa…? Midorikawa? Kau di mana? Ini aku! Bertahanlah, aku akan segera menyelamatkanmu…!" ucap pemuda tersebut dengan napasnya yang berat sambil menyingkirkan bongkahan-bongkahan yang menghalanginya.

"…H-hi..ro…"

"Bertahanlah, bertahanlah, bertahanlah, bertahanlah," tutur pemuda itu terus menerus tanpa henti sambil terus mengeruki puingan yang ada, "bertahanlah, bertahanlah, bertahanlah, bertahanlah,"

Usaha keras pemuda itu akhirnya membuahkan hasil.

"..Ro.. to…"

"Midorikawa…!"

"…Hi..ro…" terlihat pemuda berambut hijau teh terbaring sekarat di antara reruntuhan yang menimpa tubuhnya. Cahaya pada kedua bola matanya sudah nyaris lenyap dari sana.

"..Mido…" lirih sang pemuda berambut merah, berusaha sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak kembali tumpah. Ia mengulurkan tangannya gemetar. Perlahan, dibelainya pipi pemuda yang terbaring di sana dengan lembut, meski kulit pada ujung-ujung jarinya sudah mengelupas akibat terlalu sering mengais puing di banyak tempat.

Pemuda berambut hijau teh tersenyum tipis, hingga akhirnya secara perlahan cahaya pada kedua bola matanya menghilang seutuhnya.

Sang pemuda berambut merah tertunduk lemas.

Terisak.

.

.

.

"…!"

(Jeritan hati pemuda itu—akhirnya—pecah di udara.)


Jubah merah milik seorang prajurit bergoogle biru berkibar di udara. Sepasang bola mata ruby yang tersembunyi di balik google tersebut waspada memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Siaga terhadap kemungkinan terdapatnya musuh yang akan menyerang dirinya. Kedua kakinya menapak permukaan tanah secara perlahan, berjalan dengan hati-hati di antara puing-puing bekas markas Gemini Storm yang telah luluh lantah akibat serbuan yang dipimpin langsung oleh sang panglima yang merupakan atasan sekaligus sahabatnya sejak kecil.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Empat la—

(Hingga langkah statisnya terhenti kala kedua daun telinganya menangkap sebuah suara.)

.

.

'Suara… tangisan?' gumam prajurit tersebut dalam hati, sulit untuk memercayai indera pendengarannya sendiri.

Diliputi rasa penasaran, Ia melangkah secara perlahan, menyusuri arah di mana suara tangisan itu berasal. Semakin Ia melangkah, semakin jelas suara itu terdengar. Hingga akhirnya prajurit tersebut sampai di suatu areal di mana sebagian dari bekas dinding sebuah bangunan terlihat masih berdiri tegap.

Prajurit itu mengambil napasnya sejenak agar kesiagaannya dapat tetap terjaga. Bagaimana pun juga, lengah bukanlah sebuah tindakan yang dapat ditoleransi.

Perang adalah perang.

Sama sekali tidak ada ampun dalam medan pertempuran.

Setelah cukup mengumpulkan sejumlah keberanian, akhirnya prajurit tadi memberanikan diri untuk melangkah semakin dekat. Ia memutuskan untuk bersembunyi di balik sisa dinding yang masih berdiri dan mengintip keadaan dari sana—

"…Do…"

Samar-samar, prajurit tadi dapat mendengar suara isakan tersebut semakin jelas. Ia pun mengencangkan genggamannya pada sebilah pedang yang sejak awal sudah tersemat di tangannya. Bersiap untuk melakukan serangan dadakan, karena dalam hal ini, Ia sama sekali tak boleh lengah.

(Ia sama sekali tak boleh goyah.)

"..Mi…do…"

Selang beberapa detik kemudian, prajurit tadi keluar dari tempat persembunyiannya dan menghunuskan pedang tajam miliknya, tepat pada sebuah sosok yang sedang menunduk di antara tumpukan puing dan mayat-mayat baru.

(…Telak.)

'Zrash!'

Sejumlah darah segar menyembur dari bagian perut sosok asing tersebut. Cairan merah terlihat ikut mengalir dari sudut bibirnya, sebelum pemuda berambut merah itu akhirnya tumbang di atas sosok mayat yang sedang Ia tangisi barusan.

Napas milik prajurit bergoogle biru tersebut tertahan selama beberapa detik, hingga akhirnya Ia merasa yakin bahwa sosok di hadapannya itu sudah meregang nyawa. Menghela napas sejenak, prajurit tadi pun mencabut pedangnya secara perlahan dari tubuh seseorang yang baru saja Ia habisi. Meninggalkan jejak berupa tetesan-tetesan berwarna merah di atas tanah.

Prajurit tadi tidak menatap lama pada sosok yang sudah teronggok itu. Pemuda itu mengibaskan jubah merah miliknya sebelum Ia membalikkan tubuhnya dan meninggalkan tempat itu segera, sebab jika belama-lama di tempat itu, kondisi kejiawaannya bisa-bisa jadi terusik.

Bagaimana pun juga, Ia harus segera melupakan orang-orang yang sudah Ia bunuh dan tidak menaruh rasa prihatin pada mereka—bagaimana pun juga, orang-orang ini adalah musuh, dan musuh harus dihabisi.

Membunuh atau dibunuh.

Selama ini Ia membunuh hanya untuk bertahan hidup supaya tidak terbunuh; sesederhana itu saj—

.

.

(Hal terakhir yang mampu prajurit itu ingat adalah saat sepasang emerald cemerlang menatap intens ke arahnya di antara merah yang melumuri seringai miliknya; mendekatinya dari arah belakang secara tiba-tiba sebelum semuanya berubah menjadi hitam.)


.

.

"…Jude?! Apa yang kau—"

Ucapan milik seorang pria berambut putih terpotong ketika Ia berusaha menghindar dari serangan sebuah pedang yang siap memotong tubuhnya. Di samping itu, tampaknya Ia sudah tidak lagi memiliki kesempatan untuk berbicara, karena serangan demi serangan yang dilancarkan oleh sang anak buah sekaligus sahabat sejak kecilnya itu terus tertuju padanya tanpa ampun.

Terlihat adegan pertarungan yang terkesan berat sebelah, di mana pihak yang satu terus menyerang secara agresif, sementara pihak yang satunya lagi mati-matian berusaha untuk menangkis serangan-serangan tersebut.

Tidak jauh dari mereka, bergelimpangan mayar-mayat dari para prajurit yang nyawanya telah diantar oleh sang prajurit bergoogle biru.

(Tanpa sisa.)

Terdesak, akhirnya sang panglima muda memutuskan untuk bertindak tegas. Ia mengayunkan pedangnya pada 'lawan' di hadapannya, bermaksud untuk melumpuhkannya dengan tidak menyerang di bagian tubuh yang vital.

'Maafkan aku, Jude…' gumam Gouenji—sang panglima—seraya menggigit bagian bawah bibirnya dengan keras.

Dilayangkannya pedang itu ke arah tangan kanan sang prajurit berjubah merah, bermaksud untuk melucuti pedang yang digenggam olehnya. Namun—

(Gouenji tidak menyadari sebuah seringai yang tersungging tipis di wajah sang prajurit yang sebenarnya sedang dikendalikan ini.)

pedang miliknya ikut menebas pergelangan tangan sang prajurit berjubah merah.

Bunyi besi dan potongan tubuh yang membentur tanah bergaung di telinga sang panglima, diikuti oleh irama percikan cairan merah serta senandung raungan kesakitan yang mengoyak-ngoyak lubuk hatinya.

(...Meninggalkan jejak trauma yang tidak bisa dihapus dari sana.)

"YUUTO!" pekik Gouenji dengan suara terguncang, sementara itu matanya terbelalak ngeri. 'Kecelakaan' yang baru saja terjadi merupakan sebuah pukulan dahsyat (lain) baginya.

Ketika Gouenji menghampiri Jude dan bermaksud untuk memeriksa kondisi sahabat sejak kecilnya itu, tiba-tiba saja sebuah belati menancap di bagian pahanya. Seketika, tubuh sang panglima oleng sebelum akhirnya merosot dan tersungkur menyentuh permukaan tanah.

Rupanya hal tersebut adalah perbuatan Jude yang menggunakan tangan kirinya sebagai ganti dari tangan kanannya yang telah tiada. Ia terkekeh renyah sebelum mencabut kasar belati tersebut dan bermaksud untuk kembali melancarkan serangan demi serangan lain pada tubuh Gouenji.

Sebuah tusukan kembali bersarang di tubuh sang pemuda berambut putih. Kali ini ini telapak tangan kiri Gouenji yang menjadi sasaran.

"UWAGH..!" Gouenji menjerit kesakitan dengan keras, membuat kekehan milik Jude ikut terdengar semakin keras.

Prajurit berambut dread cokelat itu mengoyak-ngoyak belati tersebut, menghasilkan jeritan yang makin keras lolos dari pita suara milik Gouenji. Merasa cukup puas, prajurit itu kembali mencabut kasar belati barusan. Ia pun bermaksud untuk melanjutkan kembali aktivitas penyiksaannya tanpa mempedulikan kondisi tangan kanannya sendiri, hingga tiba-tiba saja gerakannya tertahan ketika tangan kirinya sudah terangkat tinggi, bersiap untuk menusuk bagian tubuh Gouenji yang lainnya—

"..S..Sh…Shu…hya…"

Sebuah bisikan yang teramat pelan dan susah payah untuk diucapkan mengalir dari bibir sang prajurit berpergelangan tangan tunggal.

"…T…o..long…"

Tes.

Tes.

Cairan tanpa warna merembes keluar dari sisi-sisi google berwarna biru yang menjadi trademark sang prajurit berambut dread.

"..To…lo…. b…nu… a.. ku…" gumamnya dengan susah payah secara terbata-bata. "…Ce…pa….tu….s… u… a… kh!" Pemuda itu mengerang kesakitan, seolah-olah sedang menahan sesuatu. "…Sh….u…yah…. t…o…lo…!"

Kedua mata Gouenji masih terbelalak lebar. Iris mata miliknya terlihat bergerak ke sana ke mari secara tidak stabil, menatap wajah sang sahabat yang merupakan salah satu sosok penting dalam hidupnya itu.

Dan kini, Ia terlihat begitu menderita karena kondisi yang sedang dialaminya.

Gouenji tidak tahan melihat hal itu.

Ia benar-benar tidak tahan.

Tak menyadari air mata yang mulai meleleh dari pelupuk matanya, Gouenji segera meringkuk semampu yang Ia bisa dan menerjang tubuh Jude, kemudian Ia—

memeluknya.

"…Yuuto. Maafkan aku." Bisik Gouenji pelan, tepat di bagian telinga.

Sementara tangan kirinya yang masih terluka parah mendekap tubuh Jude, tangan kanan Gouenji sibuk menautkan jari jemarinya di antara jari-jari milik Jude yang masih menggenggam sebilah belati tadi.

Belati yang masih berlumuran darah milik Gounji.

Dengan susah payah, Jude tersenyum tipis.

Sangat tipis.

"…T…e..ri….ma… ka… si… Su…yah—"

(Kalimat itu terputus, bersamaan dengan Gouenji yang mengarahkan belati dalam genggaman Jude ke bagian dadanya dan menikamnya dengan sebilah besi yang berlumuran darah tersebut.)

.:.:.:.


Tok-tok.

Sebuah ketukan di tengah malam menyadarkan pikiran seorang pemuda bersurai merah yang tengah mengawang-awang dalam kegalauan.

"…Kunjungan selarut ini? Tidak biasanya," pikir Gran; masih membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.

Gran terdiam sebentar.

"…Siapa?"

Hening sesaat.

"Ini aku, Gran. Ulvida." Sahut sebuah suara dari balik daun pintu kamar milik Gran.

Gran mengatur napasnya sebentar.

"…Masuklah. Tidak kukunci."

Cklek—

"…Maaf karena sudah mengganggu istirahatmu selarut ini," kata Ulvida yang berdiri tak jauh dari ambang pintu, membuat sosoknya tertimpa oleh bayangan ruangan yang gelap karena tak ada satu pun sumber cahaya yang menerangi ruangan tersebut selain temaram kekuningan yang dipancarkan oleh rembulan.

"Tidak apa-apa," jawab Gran sambil tersenyum tipis lalu mendudukkan tubuhnya di bagian pinggir tempat tidur. "Ngomong-ngomong, apa ada sesuatu yang sangat penting sampai kau mendatangiku selarut ini..?"

Ulvida mengangguk perlahan.

"Aku punya info penting yang harus segera disampaikan padamu…" tutur gadis berambut biru muda tersebut.

Gran menaikkan sebelah alisnya.

"Tentang apa?"

Ulvida terdiam sebentar.

"Tentang Project G."

Kali ini kedua alis milik Gran mengerut.

"Memangnya ada apa dengan Project G?" tanya Gran heran.

Ulvida kembali diam selama beberapa saat, hingga sebuah senyum tipis mengembang di wajahnya—

—yang secara lambat laun semakin mengembang hingga akhirnya berubah menjadi sebuah seringai.

Seringai yang terlihat kontras jika dibandingkan dengan bayangan ruangan yang menimpa sebagian besar dari tubuh milik gadis cantik tersebut.

"…Ayah bilang, Ia berterima kasih atas semua jasamu selama ini, dan sudah tidak memerlukanmu lagi sekarang."

Dalam waktu sepersekian detik, Ulvida sudah menghilang dari tempatnya.

Kini, Ia sudah berada di hadapan Gran—yang sedang terbelalak lebar—dengan tangan berbekal belati yang kini sudah menancap dalam di bagian perut pemuda tersebut.

Ulvida mendekatkan wajahnya ke telinga Gran.

"..Aku sangat tahu, Gran, bahwa berkat percobaan yang mereka lakukan padamu, kau jadi memiliki kelebihan yang tidak kami semua miliki, seperti misalnya—" Ulvida memperdalam tusukan pada perut Gran, membuat volume darah yang mengucur dari luka dan mulut Gran semakin deras. "Mati dua kali, eh…?" tutur Ulvida, masih dengan seringainya yang belum memudar dari paras jelitanya. "Untung saja kau pernah mati sebelumnya, jadi aku tidak perlu repot membunuhmu dua kali, Gran."

Gran berusaha membuka mulutnya dengan sisa tenaga yang Ia miliki.

"…A..pa…maksud…mu… Ul..vi….da?" ucap Gran terpatah-patah.

"…Heh,"

Ulvida mendengus licik sebelum akhirnya mulai membeberkan seluruh kartu yang masih tertutup.

"Baiklah, akan kuberi tahu semua hal yang sengaja dirahasiakan darimu selama ini, sebab… yah; sebentar lagi kau juga akan mati," Ulvida akhirnya mencabut pisau pendek tersebut dari tubuh Gran, kemudian menendang punggung pemuda itu dari samping supaya tubuhnya jatuh tergeletak ke atas lantai.

"Ketika kau sedang asyik dengan mainanmu itu, ayah kita yang dulu—si pendek gempal itu—sebetulnya sudah tamat," kata Ulvida sambil bersandar pada dinding kamar tersebut dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada.

"…Ta..mat..?" Gran bergumam dengan mulut penuh dengan darah. "Jangan… ja—"

"—Ya, ya, tentu kau sudah mengerti maksudku, bukan…?" Ulvida terkekeh kecil sebelum melanjutkan kembali perkataannya, "…Ketika kau tak ada, ayah baru kita—kami—membunuh ayah kita yang lama," Ulvida memberi jeda pada perkataannya untuk membiarkan Gran mencerna setiap kata yang baru saja Ia lontarkan. Gadis itu terlihat begitu menikmati ekspresi wajah yang Gran perlihatkan ketika pemuda yang sedang sekarat itu mengetahui hal tersebut.

"Oh ya, kau belum tahu siapa ayah baru kami…? Baiklah, akan kuberitahu sebagai bonus. Kau sudah mengenalnya sejak lama, kok, Gran." Ulvida tersenyum dengan dagu terangkat. "Project Gyang barusan akan kuberitahukan padamu pun, adalah ayah yang membuatnya… Ah; maksudku, bukan ayah kita yang dulu, tetapi ayah kami, ayah kami yang baru…"

Wajah Gran mengeras tatkala identitas sang 'ayah baru' yang sejak tadi terus disinggung oleh Ulvida akhirnya terbongkar.

"…Ayah kami yang baru… Kenzaki."


[POSTLUDE]


"…Ayah kami yang baru… Kenzaki."

Kata-kata yang Ulvida ucapkan masih terngiang-ngiang dalam kepala Gran.

Ia sama sekali tak menyangka bahwa kejadian yang tak terduga seperti ini bisa sampai terjadi.

Ia sama sekali tak menyangka bahwa semuanya akan berubah seperti ini.

Gran berharap bahwa semua ini hanya mimpi buruk semata.

Akan tetapi, rasa sakit yang berakar dari bagian perutnya yang terluka dalam menjadi bukti bahwa Gran tidak sedang bermimpi buruk.

Inilah kenyataan pahit (lainnya) yang harus Gran telan bulat-bulat.

"Ah, aku sampai nyaris lupa untuk memberi tahumu apa sebetulnya Project G yang sekarang ini…" kali ini Ulvida tersenyum tipis sebagai ganti seringai yang sebelumnya, "Project G yang sekarang bukanlah 'Project Genesis' seperti yang sebelumnya, melainkan kepanjangan dari 'Project Genocide'."

Lagi-lagi Ulvida menikmati raut wajah terkejut yang Gran timbulkan pada parasnya yang terlihat semakin memucat.

"…Setelah ini, kami akan menyerang dan melakukan pembantaian secara besar-besaran ke markas musuh kita, Gran…" ucap Ulvida dengan intonasi suara yang (entah kenapa) terdengar begitu tenang. "Semua pengorbanan ini perlu dilakukan untuk mempercepat jalannya peperangan ini. Jika perang cepat usai, maka korban yang berjatuhan akan berkurang banyak, kan..?"

Gran sudah tidak bisa mengikuti pembicaraan Ulvida lagi, sebab daya pendengarannya semakin mengabur, seiring dengan kesadarannya yang kian memudar…

"…Terima kasih karena telah menjadi bagian dari mereka yang rela berkorban demi keselamatan banyak nyawa, Gran. Sungguh; pengorbananmu ini tak akan sia-sia…" Itulah kalimat terakhir yang Ulvida ucapkan sebelum Ia pergi meninggalkan ruangan itu, membiarkan Gran yang tergeletak semakin lemah di atas genangan darah miliknya sendiri di sana.

Gran menatap nanar ke arah pintu yang Ulvida biarkan tetap terbuka.

Ayah-ibunya mati.

Sanak saudaranya mati.

Midorikawa mati.

Sang ayah angkat yang begitu Ia hormati dan agungkan itu pun mati. Mati karena dibunuh oleh tangan kanan kepercayaannya sendiri.

Dan kini, Ia sendiri pun akan mati. Mati karena dibunuh oleh orang yang paling Ia percaya sendiri.

Gran tidak mampu berbuat apa-apa lagi selain mulai menangis sambil tersenyum lemah.

Pada akhirnya, Ia akan kehilangan segala-galanya.

Segala yang Ia miliki, akan segera pergi darinya.

Sama sekali tidak ada yang tersisa.

.

.

.

(…Rindu, rindu, rindu.

Rindu dan ingin bertemu—)

.

.

.

"…Kazemaru.

Maafkan…

a…"


TBC


AAAAAAAA...!:

ASDFGHJKL MAAF SAYA UPDATE INI LAMA BANGET SOALNYA IDENYA BELUM JALAN ASDFGHJKL JADI TUH YAH ENDINGNYA UDAH DISIAPIN TAPI CARA MEMBAWA KE SANANYA ITU YANG BIKIN SAYA GAMANG ASDFGHJKL.

Terusnya, terusnya, padahal saya mau namatin fic ini di chapter keenam ini, cuma ternyata...masih belum muat. "OTL

Kalo gitu doakan supaya chapter depan bisa betul-betul tamat, ya..! ;w;

Kemudian mohon maaf dengan sangat atas segala keabsurdan yang ada di fanfic ini. Bagaimana pun juga, saya cuma manusia biasa, bukan manusia setengah dewa, apalagi dewa.

Baiklah sebelum dilemparin pake kaleng bekas, saya mohon permisi dulu.

Parmios~!

#kabur terus kepeleset kulit pisang lalu menggelinding dan nyemplung selokan kemudian hanyut ke laut

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .