Anime/Manga » Naruto »

Meitantei Naruto
Author:
Aoyama Return PM
Terjadi pembunuhan berantai di Mizu Iwa, polisi tak bisa mengungkap misteri dibalik peristiwa ini. Naruto diminta mengungkap kasus yang sedang terjadi, akankah semua terungkap? Warn: not yaoi, oc, ooc, death chara, many typo s etc. RnR? LAST CHAPTER
Rated: Fiction T - Indonesian - Crime/Suspense - Naruto U. & Sasuke U. - Chapters: 5 - Words: 14,299 - Reviews: 30 - Favs: 11 - Follows: 1 - Updated: 12-08-11 - Published: 11-25-11 - Status: Complete - id: 7580790
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

Hay hay hay, saya kembali dengan melanjutkan fict ancur super geje ini.

Saya sangat berterima kasih kepada para reviewers yang sudah sudi memberikan tanggapan di chapter empat kemarin...

Dan dengan bangga saya mempersembahkan!

-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-

Naruto:
Masashi Khisimoto

Meitantei Naruto (story):
Aoyama Eiichi

Warning:
ou, ooc, death chara, typos, etc.

Pair:
?

GENRE:
Crime/Suspense

-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-

Meitantei Naruto:
Serlock Holmes vs Jack The Ripper

chapter V

Sebuah peluru sukses mendarat di dada sebelah kanan Naruto dan mengeluarkan cairan merah darah.

"NARUTOOO," teriaku menghapiri Naruto dan mengguncangkan tubuhnya berharap dia bisa tersadar. Namun usahaku sia-sia Naruto tidak bergeming sedikit pun, aku menyentuh urat nadinya dan mendapati dirinya masih berdetak.

Aku berusaha menghubungi Shikamaru dan ingin memberi tahu masalah ini. Namun sebelum aku menghubungi Shikamaru, aku mendengar tawa seseorang yang tidak asing bagiku, yang bahkan orang yang tengah bersamaku, yaitu Hidan yang tertawa terbahak puas.

"Kenapa anda merasa seperti melihat hantu, Sasuke," ujar Hidan kepadaku sembari mengeluarkan sebilah pisau.

"Kupikir orang yang bernama Naruto itu orang hebat, ternyata jauh dari perkiraanku selama ini," timpal seorang yang tiba-tiba muncul dari tangga menuruni menuju aku yang terperangah sembari menenteng sebuah senapan.

"Kalian?" kataku geram sekaligus merasa takut.

"Lihat, Kabuto! Orang itu ketakutan," ujar Hidan kepada Kabuto yang kuyakini telah menembak Naruto berkata dengan nada mengejek.

Bangsat-bangsat penjahat ini telah membuatku terpojok. Hidan mendekatiku dengan mengayun-ngayunkan sebilah pisau yang berlumuran darah yang ia jabut dari jasad Ny. Kin. Apakah ia mempunyai hati? Aku rasa benar kata Shikamaru bahwa dia akan lebih senang bila disejajarkan dengan iblis. Bagaimana tidak, dia telah membunuh lima nyawa termasuk ibu kandungnya sendiri, ini gila.

"Apa yang kalian inginkan?" kataku mundur beberapa langkah.

"Hidan, jangan berlama-lama. Habisi saja orang itu," seru Kabuto.

"Ayolah, aku hanya ingin bersenang-senang sejenak," balas Hidan.

Aku semakin terpojok menempel ke dinding ruangan.

Hidan semakin mempercepat langkahnya dan menghunuskan pisau yang ia bawa kearahku. Aku memejamkan mataku dan aku sempat berfikir bahwa ini adalah waktu terakhirku hidup didunia ini. Namun semakin lama aku memejamkan mata, bukan tusukan yang aku dapatkan. Tapi suara sebuah senapan yang tengah aku dengar. Akhirnya aku memberanikan diriku membuka kelopak mataku supaya aku dapat melihat apa yang terjadi. Aku mendapati Naruto tengah meringkus Hidan dari belakang dan Kabuto yang tergeletak di depan Shikamaru.

"Apa yang terjadi? Dobe?" kataku tidak paham akan situasi.

"Lihat, Shikamaru. Sobat kita kebingungan," ujar Naruto sarkastik.

"Dobe, itu gaya iblis ini," tunjukku kepada Hidan yang sudah teringkus dari belakang.

"Sayang, Kabuto, kau tidak bisa mengelak lagi sekarang. Kau pantas jadi bintang film terkenal," tutur Shikamaru sembari memborgol Kabuto yang tergeletak karena terkena tembakan di bagian pahanya.

"Kalian licik," umpat Hidan.

"Kalian bisa, kenapa tidak dengan kami?" kelakar Naruto.

Kami mengikat kuat para penjahat ini dengan mendudukan mereka di tiang yang menyangga bangun ini. Naruto berjongkok dihadapan mereka dengan menatap mereka bergantian dengan tajam.

"Kabuto, kau dan Mr. Hidan memang pintar. Tentu aku sangat bangga bisa menangkap iblis seperti kalian." tukas Naruto, "Sesempurna apapun rencana kalian, pasti ada kekurangannya,"

"Dewa Jashin akan membalas kalian!" umpat Hidan tidak karuan.

"Siapa itu dewa Jashin? Aku baru mendengarnya," ujar Shikamaru.

"Dia adalah tuhan dari segala tuhan, dia yang akan memberikan keabadian kepadaku," jawab Hidan berang.

"Ya, sepertinya sisa hidupmu itu harus berakhir di balik terali besi, tentunya kau juga, Kabuto," tukas Naruto, "Apapun alasannya, upah dosa akan segera terbalas,"

"Seandainya saja kau tidak bertindak bodoh, Kabuto. Kau pasti sudah menjadi polisi nomer satu di Jepang dengan kepintaranmu itu." timpal Shikamaru.

"Cih, persetan dengan popularitas," decak Kabuto, "Yang aku inginkan adalah pengertian!" lanjutnya dengan wajah merah padam.

"Justru itu, kau akan mendapat perhatian'nya' bila kau tidak bertindak bodoh semacam ini," ujar Naruto, "Sebaiknya kau ceritakan sekarang tentang motif kau membiarkan pembunuhan ini, Kabuto!"

"Sampai mati pun aku tidak akan mengatakannya!"

"Terserah." ujar Naruto seraya bangkit berdiri.

Tak berapa lama, beberapa orang berpakaian hitam berhamburan menuju penginapan ini. Nampaknya mereka kawanan Shikamaru atau bisa dikenal 'DRAGON POLICE' yang sangat disegani itu.

"Sebaiknya kita bawa mereka ke pengadilan," usul Naruto.

"Itulah gunanya kita, Naruto," balas Shikamaru.

Mereka pun digiring menuju pengadilan Iwa. Ternyata bukan hanya mereka berdua saja yang menjadi tersangka, namun ada juga petugas Forensik yang terlibat dalam kasus ini, dia yang diketahui namanya adalah Nagato. Mereka dijatuhi hukuman mati dengan prosedur pemerintahan Iwa tentunya.

x

-

x

-

x

Aku dan Naruto telah berada dibandara dengan diantar oleh Dosu. Aku dapat melihat wajah Dosu begitu kecewa.

"Terimakasih, Tuan," ucap Dosu tulus.

Naruto memegang pundak Dosu dan berkata, "Hari ini kepolisian Iwa telah terjatuh, tapi aku ingin melihat kelak kau dan kawananmu melompat lebih tinggi dengan membawa harum Mizu Iwa,"

"Saya sangat bangga bila anda percaya akan hal itu, Sir," kata Dosu haru.

"Well, Teme, tugas kita telah selesai. Kita pulang dan beristirahat. Oh iya, Dosu, Kami pulang dulu, bangunlah kembali kepolisian Iwa."

Kami telah berada didalam pesawat yang menuju Konoha.

"Jadi, kau ingin mendengar cerita yang sebenarnya, Teme?"

"Tentu saja,"

"Dirumah saja aku ceritakan," ujar Naruto.

"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu terlelap dalam perjalanan ini sebelum kau menceritakannya!" balasku sengit.

"Apa boleh buat. Saat kemarin malam aku tidak tidur, aku melepas micro cam itu dari lemari kita, nah saat itu aku memindahkan M.C tersebut ke tempat lain, coba kau tebak dimana aku menyimpannya?"

"Mungkin di gudang,"

"Tepatnya melalui gudang,"

"Melalui gudang?" kataku tidak paham.

"Benar, aku tetap memasang M.C di dalam lemari. Kau ingat saat aku menceritakan kepada Shikamaru tentang lift yang menuju kamar kita dari gudang bawah itu? Nah dari sanalah aku masuk dan naik ke atas kamar kita. Setelah di atas, ternyata bagian belakang lemari itu ada sebuah pintu yang dapat diputar, dari sanalah aku memasuki kamar kita."

"Tunggu dulu! Tapi kenapa Camera itu menunjukan pintu yang terbuka sendiri itu?" sergahku.

"Jangan potong dulu makannya," ujar Naruto kesal, "Tak lama setelah itu, kira-kira pukul dua pagi, Shikamaru menghubungiku, dia bilang Hidan terlihat dalam rekaman tersebut. Aku langsung mengajaknya bertemu pagi ini, Namun bukan untuk membicarakan hasil rekaman tersebut,"

"..."

"Tapi, untuk menjalankan rencana kita. Aku berpura-pura tidak mengerti apa yang terjadi, karena aku yakin kita sedang dibuntuti oleh seseorang, dan dugaanku tepat sekali, Teme. Saat kita bertemu Shikamaru di restoran itu, aku melihat orang yang mencurigakan, pasti kau tahu salah satu orang forensik Iwa itu? Ya, dia adalah Yahiko,"

"Aku tidak melihat Yakiko disana?"

"Kau melihatnya, Teme, Yahiko jelas-jelas berada didepan kita dan dibelakang Shikamaru dan Choji. Yang aku tahu, Yahiko adalah mantan SPY di Amerika. Penyamaran Yahiko patut diacungi jempol, namun dia takan bisa membohongi mataku, Teme,"

"Aku ingat," seruku, "Apa lelaki tua yang berada dibelakang Shikamaru?"

"Pintar! Dia dikenal sangat ahli memanipulasi diri, dari awal aku sudah menduganya oleh karena itu aku ikuti rencana mereka dengan cara kita sendiri,"

"Kau bilang kau tahu tentang trik itu?"

"Trik lemari dan kamera blang? Itu mudah, Teme. Hidan ternyata memasang sebuah kamera cctv di kamar kita, kau ingat lukisan raja Liu pe? Nah di bagian mata lukisan itu terdapat kamera, dia tahu dimana aku menyimpan kamera itu. Pertama kamera blang dulu saja, dia memakai kain hitan untu menutup kamera tersebut,"

"Caranya?"

"Mudah saja. Rumah yang sangat unik itu ternyata banyak sekali celah untuk melakukan trik seperti itu. Kabuto naik ke atap lalu ada sedikit lobang yang terdapat di tempat aku memakai kamera mini itu, dia memasang sebuah kain untuk menutupinya," jelas Naruto.

"Kau bilang Kabuto? Berarti saat makan malam itu, Kabuto ada di rumah penginapan?" tanyaku.

"Begitulah. Nah lalu lemari, Kukira Hidan masuk lewat pintu rahasia yang terdapat dilemari, tapi salah teme! Sayangnya pintu rahasia itu tidak hanya satu, pertama ada di lemari dan yang kedua ada di bawah tempat tidur kita. Terus dia masuk lewat pintu bawah tempat tidur, lalu dia naik keatas lemari dan membukanya dari atas sehingga lemari itu bisa terlihat membuka sendiri,"

"Jejak sepatu?"

"Itu dia, dia tak sengaja menginjak bedak yang aku taburkan di situ, tapi dia langsung menyadarinya dan melangkah menuju pojok supaya berkesan yang memberi kita surat itu adalah setan, hm lalu dia membuka sepatunya dan kembali turun lewat pintu bawah tempat tidur kita,"

"Aku paham sekarang, tapi yang membuat aku bingung adalah bekas jempolmu itu, Dobe?" tanyaku lagi.

"Itu mudah saja. Pertama, Kabuto memang mempunyai sidik jariku yang tak sengaja ia dapatkan saat aku berada di lab Forensik. Kedua, sialnya aku sidik jarku tertempel di atas sebuah plastik, ketiga, Kabuto mengambil plastik itu dengan menempelkannya ditiang kayu itu,"

"Tapi aku tidak menemukan plastik?"

"Dengar dulu! Plastik yang ada sidik jariku itu dia tempel di tiang kayu yang menyangga jembatan, kemudian agar dapat terlihat bekas sidik jariku, Kabuto menggunakan jarinya sendiri dengan cara menekan plastik itu dengan memasukan jempolnya ke plastik tadi, lalu dia melepas plastik dan membuangnya,"

"Aku masih tidak paham,"

"Oh tuhan, Teme! Kau ambil plastik ini, nah begitu. masukan tanganmu kedalamnya, bagus. kemudian acungkan jempolmu dan adukan dengan jempolku. Lalu kau tempelkan bekas jempolmu itu kesini, tidak terlihat? Itu karena kau tidak memakai sprai! Jika bekas ini kau semprotkan dengan sprai maka akan nampak sidik jariku yang terbalik,"

"Benar juga," seruku, "Tapi rumit sekali ya?"

"Sesuatu yang sempurna harus selalu melewati hal yang rumit, Teme," ujar Naruto, "Nah, waktu itu kau ingat aku diberikan micro cam oleh Shikamaru itu berapa?"

"Tiga, tapi kau hanya memasang dua,"

"Coba tebak, dimana aku menyimpan yang satunya lagi?"

"Aku tidak tahu," kataku jujur.

"Di kantornya Kabuto. Kau ingat tidak saat kita ke kantornya? Nah, saat aku disana aku mencuri waktu untuk memasang micro cam itu di meja Kabuto. Dan rekaman itu memunculkan tiga iblis jahanam itu, Kabuto, Hidan, dan Yahiko," terang Naruto.

"Tapi aku sangat heran dengan motif pembantaian ini, apa mereka mempunyai motif yang sama?"

"Mereka mempunyai masing-masing motif. Pertama Hidan, aku pernah melihat dia membaca buku 'JASHIN' dan aku mengambilnya, ini dia," Naruto menunjukan kitab aneh kepadaku.

"Itu seperti sebuah kitab, Dobe?" aku berpendapat.

"Entahlah, tapi aku bisa merangkumnya untukmu," Naruto menyerahkan secarik kertas yang bertuliskan:

'JASHIN'

Dewa keabadian dari ajaran JASHIN, Jashin dikenal sebagai dewa keabadian yang bisa memberikan berkat kepada orang yang menyembahnya dan membuat orang itu abadi,

Abadi.
Orang yang menginginkan hidup abadi ialah harus melakukan ritual yang mempersembahkan ginjal 'wanita budak' Dewa Jashin sangat menyukai 'ginjal'. Ginjal tersebut haruslah dimakan mentah oleh si orang yang melakukan ritual.

Ajaran Jashin sangat kental hubungannya dengan ANKH simbol 'RA' dewa mata hari, Jashin adalah putra sang dewa matahari.

"Dobe, apa kau tidak salah?"

"Salah?"

"Iya, bukankah yang hilang itu bagian dada, ginjal, dan Vagina. Lalu yang dua lagi?" aku berpendapat.

"Kalau yang dua itu, itu bagian Yahiko dan Kabuto," terang Naruto, "Yahiko itu orangnya susah ditebak, dia itu terkesan pengolesi payudara. Saat aku menggeledah tempat tinggalnya, aku menemukan banyak sekali payudara wanita di dinding kamarnya, mungkin dia sedikit agak gila."

"Kabuto?"

"Ternyata Kabuto lebih mengerikan dari yang aku bayangkan, Teme. Dia itu seorang kanibal, dia memasak alat kelamin itu lalu dimakannya, sebenarnya kabuto pernah sakit hati oleh seorang pelacu. Dia pernah mengancam wanita itu akan memakan kelaminnya, dia pernah memergoki Hidan membantai cintanya itu, tapi diluar dugaan dia tidak menangkapnya, malah dia meminta vaginanya. Mungkin untuk ia makan, dan ternyata itu benar. Aku tahu semua itu dari cerita pembantunya yang pernah menyaksikannya memakan daging aneh. Dan parahnya lagi dia ketagihan," ujar Naruto jijik.

Begitulah akhir kisah perjalan kami di Mizu Iwa, jika pembaca bertanya 'kenapa kasus ini terkesan aneh?' Memang kasus ini ialah sebagian dari kasus Naruto yang membuatnya prustasi sehingga dia harus meminta bantuan Shikamaru.

Sebenarnya Naruto telah memperingatkan aku akan kisah ini agar tidak diedarkan, tapi aku tetap bersih keras agar kasus kali ini diangkat ke publik. Soal Naruto tidak mati, ternyata ia telah memperhitungkan hal itu, sehingga dia telah memakai baju anti peluru. Saat kabuto menembakan pistolnya, dengan cepat Naruto menekan sebuah bungkusan plastik yang berisikan saus tomat...

[ F I N ]

-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-

A/N:#mewek di pojokan karena gak bisa bikin klimaks yang reader harapkan :'(

Maafkanlah atas ketidak puasan ini

REVIEW PLEASE #PuppyEyes

Sebulan setelah itu, aku sering bertemu dengan Sakura. Hingga tanpa sadar aku telah menyatakan rasa cinta yang selama ini aku pendam. Aku berencana untuk melamarnya dalam waktu dekat ini.

Aku ingin meminta saran Naruto, oleh karena itu aku datang ke kantornya. Saat aku membuka pintu dan melihat kedalam ruangan itu, aku melihat Naruto nampak bosang dengan ketiadaan kasus yang sering melibatkannya dalam pemikiran seorang penyidik.

"Kau, Teme," tegurnya saat melihatku di ambang pintu.

"Aku datang ingin meminta saranmu, Dobe,"

"Tentang Sakura? Ayolah, aku tidak pahan masalah seperti ini, Teme,"

"Kumohon, Dobe, sekali ini saja," pintaku kepada sobat karibku.

"Apa yang kau inginkan?" tanya sobatku Naruto.

"Aku akan melamarnya,"

"So?"

"Untuk itu aku datang kemari,"

"Sebaiknya kau berlatih dulu! Anggaplah aku sebagai ayah Sakura," Naruto duduk dihadapanku dan memposisikannya sebagai ayah Sakura, dan Naruto berkata, "Hendak ada kepentingan apa anda kemari, anak muda?"

"Kedatangan saya kemari ingin melamar Sakura, Mr. Haruno," jawabku.

"Anda siapa berani melamar anak saya?"

"Saya Sasuke Uciha, saya seorang penulis, sir,"

"Terus?"

"Walaupun saya seorang penulis biasa, saya berjanji akan bisa membaha..."

"Stop! Kau payah, Teme!" sergah Naruto.

"Coba kau menjadi aku, dan aku menjadi calon mertuamu!" aku menantang Naruto sedikit jengkel.

"Baik," serunya mantap.

"Hendak ada kepentingan apakah anda datang kemari?" tanyaku.

"Saya ingin melamar anak anda, Sir,"

"Anda siapa?"

"Saya Naruto, dan saya adalah seorang Hacker, Sir," jawab Naruto asal, aku agak bingun dengan jawabnnya barusan.

"Terus, Anda bisa apa?"

"Saya bisa membobol canggihnya pertahanan hati anak anda, Sir," Jawab Naruto pada akhirnya dan kamipun tertawa bersama.

x

x

x

ONCE AGAIN, REVIEW PLIS!

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .