Plays/Musicals » Screenplays »

Broken
Author:
Black Key PM
Kekasih tercinta menikah dengan Hyung Sendiri karena alasan hamil di luar nikah. bisakah Kibum tetap tegar menerima semua keadaannya? menerima pernihakan Siwon dan Heechul padahal dirinya sendiri kini tengah mengandungg anak Siwon sama dengan Heechul.
Rated: Fiction M - Indonesian - Angst/Hurt/Comfort - Chapters: 14 - Words: 36,364 - Reviews: 406 - Favs: 58 - Follows: 45 - Updated: 11-30-12 - Published: 12-05-11 - Status: Complete - id: 7613302
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

Title: Broken

Author: Bluedevil9293.

Part: 6 / ?

Main Cast:

Kim Kibum

Choi Siwon

Kim Heechul

Tan Hangeng

Other Cast:

Choi Seung Hyun

Kang In

Rated: M-.

Genre: Angst, M-Preg.

Warning: Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, BoyXBoy, Typo, Gaje, Don't Like Don't Read.

Summary: No Summary, Happy Reading.!

*** Chapter 6 ***

Hangeng Pov...

Lima belas tahun berlalu sejak kejadian mengerikan itu terjadi, kejadian yang tak akan pernah ku lupakan seumur hidupku. Karena pada saat itu kedua orang tuaku di bantai dan di bunuh secara keji di depan mataku sendiri. Mereka dengan tega membunuh orang-orang yang ku sayang padahal selama hidupnya, kedua orang tuaku tak pernah menyakiti orang lain.

Kini Hangeng yang lemah tak berdaya telah berubah menjadi makhluk yang mengerikan. Sejak kejadian itu aku bersumpah pada diriku sendiri, aku akan membalas dendam atas kematian kedua orang tuaku dengan segala cara walaupun dengan cara licik sekali pun, ku pastikan mereka yang menjadi dalang pembantaian kedua orang tuaku pasti akan merasakan akibatnya. Dan ku jamin, mereka akan merasakan rasa sakit yang lebih dari pada yang ku rasakan selama ini. Kim Kang In dan Choi Seung Hyun, pembalasanku tak akan bisa kalian hindari. Kalian juga harus merasakan rasa sakit itu, begitu pula dengan anggota keluarga kalian.

Dengan mengunakan Kibum pembalasan dendamku pun dimulai. Semua berjalan sesuai dengan rencanaku. Kibum berhasil ku buat bertekuk lutut di bawah kendaliku bahkan ia juga berhasil ku rayu untuk membunuh bayinya sendiri yang jelas-jelas itu keturunan keluarga Kim dan Choi karena dengan begitu kalian pasti merasakan sakit itu dengan perlahan bukan? Kini Kibum pun telah sah menjadi istriku yang berarti dia sepenuhnya milikku dan kalian tak akan bisa mengambilnya dariku lagi. Kita lihat saja apa yang bisa kalian lakukan untuk melawanku setelah ini.

Jahat, keji, brengsek, entah kata-kata apa lagi yang bisa melukiskan diriku ini. Ya, memang inilah aku. Sesosok setan dalam jasad manusia, kalian yang sudah membuatku jadi begini, tanpa hati dan perasaan lagi. Aku sudah tak mengenal lagi apa itu rasa sakit, karena di setiap kehidupanku hanya rasa sakit itu yang selalu ku rasakan.

Sejak awal aku memang sudah membenci kalian dan berniat membalas dendamku ini sampai akhirnya kau datang di hidupku Chullie. Kau ajarkan aku kebahagiaan tapi kau juga yang menghancurkan kembali kebahagiaanku itu. Kau kembali menorehkan rasa sakit itu setelah sebelumnya kau lambungkan hatiku begitu tinggi. Rasanya sakit sekali Chullie saat kau berikan rasa itu lagi. Padahal sejak kedatanganmu ke dalam hatiku, rasa dendam itu perlahan memudar karena semua perhatian dan cinta yang kau berikan padaku. Tapi kau dengan teganya pergi meninghalkanku dan lebih memilih namja bernama Choi Siwon itu yang notabenenya adalah kekasih dari adikmu sendiri. Kau benar-benar bajingan Chullie, apa kau tahu itu? Aku bersumpah, kau juga harus merasakan rasa sakit yang aku dan Kibum rasakan. Tak hanya kau, tapi kalian semua, camkan itu.

"Hannie, kau kenapa?" Tanya sebuah suara lemah lembut padaku, suara yang terdengar begitu rapuh itu tentu saja milik Kibum, istriku, "Hannie, kenapa diam saja? Kau sakit hum?" Tanya Kibum lagi padaku, raut wajahnya jelas menunjukan kekhawatiran. Kibum pun menempelkan punggung telapak tangan kanannya di dahiku dan tangan kirinya di dahinya sendiri mencoba membandingkan suhu tubuh kami, "Tidak panas kok." Guman Kibum lagi pelan. Langsung saja ku tarik ia kearahku hingga ia terjatuh diatas pangkuanku, tanpa aba-aba langsung ku lumat bibirnya kasar hingga membuat ia sedikit mengerang dalam ciumanku itu, Kibum tampak pasrah dan membalas lumatanku walau pun sedikit pasif. Beberapa menit kemudian ku sudahi ciuman panas tadi, tampak Kibum terengah-engah mencoba mengumpulkan oksigen ke dalam paru-parunya.

"Kau kenapa Hannie?" Tanya Kibum sambil membingkai wajahku dengan kedua telapak tangan kecilnya itu. Aku tersenyum manis padanya, ku usap wajahnya dengan jari-jari tangan kanakku sedangkan tangan kiriku berada di pinggangnya yang ramping.

"Aniya, aku tak apa-apa." Jawabku singkat.

"Bohong, ayo katakan yang sejujurnya padaku." Desak Kibum, aku tersenyum, dia memang sedikit pemaksa.

"Aku memang tak apa-apa Honey, kau tak perlu mencemaskanku." Balasku pada Kibum, ku tarik tubuhnya semakin merapat kearahku hingga dada kami kini saling bersentuhan, bisaku rasakan detak jantungnya itu.

"Kalau kau tak apa-apa kenapa wajahmu di tekuk begitu? Kau jelek tahu kalau seperti itu." Ucap Kibum dengan nada manjanya yang sangatku suka.

"Moodku sedang buruk, bagaimana kalau kita keluar dan membeli sesuatu. Kau mau bukan?" Tanyaku pada Kibum.

"Hn, aku mau. Lagian sebenarnya aku juga bosan berada di rumah terus dan tak melakukan apa pun." Ucap Kibum.

"Ne, kalau begitu kau mandilah lalu bersiap-siap. Gunakan pakaian yang kemarin ku berikan padamu, oke. Kau pasti akan tampak sangat cantik nanti." Suruhku pada Kibum sambil mencubit hidungnya gemas. Kibum pun tampak memasang wajah berpikirnya yang menurutku sangat lucu. "Waeyo?" Tanyaku pada Kibum.

"Um, maksudmu kau menyuruhku mengunakan pakaian berwarna merah itu?" Tanyanya ragu sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir. Benar-benar imut istriku ini, mereka seharusnya menyesal sudah menyianyiakan namja secantik dan sebaik Kibum serta membiarkannya bersama setan kejam sepertiku ini.

"Iya yang itu. Yang sengaja ku beli untukmu saat kita berlibur ke Jerman kemarin. Memangnya kenapa?" Tanyaku pada Kibum.

"Hannie, Bummie ini kan namja masak di suruh pakai short dress begitu. Kan nggak cocok." Keluh Kibum.

"Siapa bilang Bummie tak cocok menggunakannya, kalau Bummie tak cocok mengunakannya buat apa Hannie membelikannya untuk Bummie." Ucap Ku pada Kibum sambil membelai wajah putihnya.

"Tapi Bummie malu mengunakannya." Keluh Kibum lagi.

"Kau pasti terlihat cantik mengunakannya, percaya padaku." Ucapku mencoba menyakinkan Kibum.

"Tapi nanti pasti bahu dan paha Bummie kelihatan, apa Hannie tak akan marah bila orang lain melihat yang seharusnya hanya Hannie yang boleh melihatnya?" Tanya Kibum dengan nada manja padaku. Aku pun terkekah pelan mendengar ucapannya tadi.

"Hannie akan memberi mereka pelajaran kalau mereka melihat Bummie dengan tatapan berlebihan. Tapi Hannie yakin pasti mereka semua akan terpesona dengan kecantikan istri Hannie ini." Ucapku sambil mencubit hidung Kibum gemas.

"Bummie ini namja Hannie." Ucap Kibum lagi sambil mengerucutkan bibirnya lucu. Entah perasaanku saja atau tidak, aku merasa Kibum semakin manja padaku selama seminggu terakhir ini.

"Hannie tahu Bummie namja, tapi walaupun Bummie namja, Bummie tetap jauh lebih cantik dari seorang yeoja sekali pun. Jadi Bummie mau kan menggunakannya? Bajunya jadi sayang bukan kalau tidak dipakai." Ucapku lagi merayu Kibum.

"Ne baiklah, Bummie akan menggunakannya. Lagian Hannie ini aneh, kenapa sih suka sekali membelikan Bummie baju-baju yeoja?" Keluh Kibum lagi.

"Itu Hannie lakukan agar istriku ini selalu terlihat cantik." Ucapku sambil mengecup pipi Kibum. "Sudah lebih baik sekarang Bummie bersiap-siap saja." Suruhku pada Kibum yang langsung menganggukan kepalanya dan beranjak dari atas pangkuanku.

"Tunggu Bummie ne." Ucapnya lalu mengecup bibirku kilat.

"Ne, cepatlah." Suruhku, Kibum menganggukan kepalanya lagi sebelum beranjak masuk ke dalam kamar mandi yang memang ada di dalam kamar kami ini.

Sepeninggalan Kibum aku pun langsung beranjak pergi keluar dari kamar kami. Ku jelajahi mansion besar milik keluargaku ini, beberapa maid yang ku lewati menghentikan pekerjaan mereka sesaat lalu menundukkan kepala mereka padaku. Langkah kakiku terhenti saat mendengar suara ribut-ribut dari ruang utama di lantai satu. Aku yang penasaran dengan suara gaduh itu pun langsung beranjak menuju sumber suara yang membuatku penasaran. Suara teriakan penuh amarah semakin terdengar jelas olehku, teriakan-teriakan itu sepertinya sangat ku kenal. Ku sungingkan sebuah seringai di bibirku sambil berjalan semakin mendekati orang-orang yang membuat gaduh di mansionku tadi.

"Wah... Wah... Wah... Ada apa ini ribut-ribut?" Ucapku sambil menatap beberapa orang yang cukup ku kenal berada di lantai bawah sana sedangkan aku berada di lantai dua. "Suatu kehormatan bagiku karena keluarga Kim dan Choi mau singah di mansion kecilku ini." Ucapku berbasa-basi sambil menatap sinis pada Siwon, Heechul, Kang In dan Seung Hyun.

"Berhenti berbasa-basi Hangeng. Katakan dimana Kibum berada." Ucap Siwon sambil menatapku tajam.

"Aigo... Jangan emosi begitu Siwon-ssi, bukankah semua bisa di bicarakan baik-baik." Ucapku santai, dapat ku pastikan saat ini mereka semua pasti tengah geram padaku dan tentu saja itu semakin membuatku senang karena kemarahan dan rasa sakit mereka adalah kebahagiaan untukku.

"Dimana kau sembunyikan anakku Hangeng? Cepat kembalikan anakku." Ucap Kang In geram padaku. Aku tersenyum sinis pada namja tua yang statusnya kini adalah mertuaku itu, sedikit tak ingin mengakuinya memang, tapi mau bagaimana lagi namja tua itu tetap appa dari isteriku kini.

"Aigo... Kang In appa jangan marah-marah begitu, kau sudah tua. Apa kau tak memikirkan kesehatanmu itu." Ucapku sinis.

"Jangan panggil aku appa, kau bukan anakku. Cepat katakan dimana Kibum kau sembunyikan." Desak Kang In padaku.

"Hannie, ku mohon kembalikan adikku. Dia tak ada hubungannya dengan semua ini. Bukankah kita bisa membicarakan semuanya dengan baik-baik seperti apa yang kau katakan tadi pada Siwon." Ucap Heechul padaku. Dia, namja cantik yang pernah berada dan mengisi hatiku dan dia pula yang sudah menghancurkan hatiku kembali. Dan bodohnya sampai detik ini aku masih tetap mencintainya walau pun ia sudah menyakiti hatiku. Tapi aku harus sadar dia bukan lagi milikku, dia sudah jadi milik si brengsek Siwon. Andai saja kau tetap menjadi milikku Chullie, pasti rasa dendam ini tak akan pernah kembali lagi.

"Hubungan tentang apa maksudmu Heechul? Aku benar-benar tak mengerti dengan ucapanmu itu." Balasku sambil menatap Heechul penuh kerinduan. Andai saja ia masih kekasihku pasti sudah sejak tadi kurengkuh tubuhnya ke dalam dekapanku. Chullie aku benar-benar mencintaimu apa kau tahu itu?

"Berhenti berbasa basi Hangeng, cepat kembalikan Kibum pada keluaganya. Manusia sepertimu tak berhak bersama Kibum." Ucap Seung Hyun, appa dari namja yang merupakan rivalku dan juga salah satu penyebab kematian appa dan ummaku.

"Kalau manusia sepertiku tak berhak atas Kibum, lalu manusia seperti apa yang berhak bersamanya? Apa manusia seperti kalian? Dasar pembunuh." Ucapku geram, berani-beraninya merek menghinaku secara tak langsung.

"Berhenti membuatku kesal Hangeng, cepat kembalikan Kibum." Desak Siwon yang tampak berusaha meredam amarahnya.

"Kalian tak berhak lagi atas Kibum karena kini aku lah yang lebih berhak atas dirinya. Asal kalian tahu saja, Kibum kini sudah sah menjadi istriku dan menyandang marga Tan karena itu kalian tak bisa lagi membawanya pergi dariku. Dia hanya mikikku, boneka hidupku." Ucapku pada keempat orang tadi yang tampak semakin murka terutama Siwon yang sudah mengepalkan kedua tangannya hingga membuat buku-buku jarinya memutih. Detik berikutnya Siwon beranjak mendekatiku, di pukulnya semua bodyguardku yang berniat menghadangnya hingga mereka semua tumbang. Siwon menaiki tangga menghamiriku yang tampak tenang-tenang saja dan tanpa peringatan Siwon melayangkan sebuah pukulan padaku hingga membuatku jatuh kebelakang. Ku raba sudut bibirku yang terasa sedikit nyeri, ternyata bibirku berdarah akibat ulahnya tadi. Para bodyguardku pun tak tinggal diam melihat majikannya ini di pukul oleh musuh, mereka semua langsung menahan Siwon, menyeretnya kembali ke bawah lalu memukulinya bertubi-tubi. Aku tertawa senang melihat pemandangan indah saat Siwon di pukuli hingga babak belur.

"HENTIKAN!" Teriak Heechul saat melihat Bodyguardku memukuli suaminya itu. Heechul berusaha menolong Siwon dengan bantuan Kang In dan Seung Hyun, dia pun memeluk tubuh tak berdaya Siwon yang sudah penuh dengan luka itu membuat amarahku naik. Kau menyakitiku lagi Chullie, sebegitu cintanya kah kau pada namja brengsek itu sampai-sampai dengan mudahnya kau berpaling dariku?

"Ada apa ini Hannie?" Terdengar suara lemah lembut yang keluar dari bibir istriku, Kibum. Kibum berjalan mendekatiku, dia benar-benar terlihat cantik dengan short dress yang menampakkan kedua kaki mulusnya serta bahu putihnya itu.

"Kemari Honey, ada yang ingin bertemu denganmu." Ucapku sambil mengulurkan tangan kananku padanya yang langsung di sambut oleh Kibum. Dengan sengaja ku peluk tubuh Kibum dengan mesra agar mereka semua yang saat ini tengah menatap kami jadi semakin kesal. Benar saja, dapat ku lihat mereka menatapku dengan pandangan tak suka. "Appa, Hyung serta kakak iparmu datang berkunjung Honey." Ucapku sambil dengan sengaja mengecup leher Kibum dan sesekali mengigitnya hingga meninggalkan jejak kemerahan.

"Kibum." Ucap Siwon penuh amarah saat aku mulai nakal. Ku raba tubuh Kibum yang ada di dalam dekapanku. Tangan kananku sibuk mengelus pahanya yang putih mulus, tangan kiriku ku gunakan untuk mengelus perutnya yang rata, bibirku mengeksporasi setiap jengkal bahunya. Ku liat mereka berempat semakin geram padaku. Kibum hanya diam dan menatap datar pada keluarganya.

"Hannie..." Ucap Heechul lirih.

"BRENGSEK KAU HAN, JAUHKAN TUBUH KOTORMU ITU DARI KIBUM." Marah Siwon yang kembali memberontak tapi segera di hadang oleh bodyguardku. Terjadi baku hantam di antara mereka hingga membuat Heechul terdorong tapi dengan cepat Siwon menahan tubuhnya sebelum menghantam lantai. Entah kenapa hatiku terasa sangat sakit saat melihat Heechul dan Siwon. Aku tahu Kibum pun merasakan hal yang sama seperti apa yang ku rasakan, itu terbukti dari cengkraman tangannya yang menguat di lengan kiriku.

"Bawa mereka keluar dari sini." Perintahku pada para bodyguardku tadi yang langsung menyeret mereka berempat keluar dari mansionku. Terdengar teriakan amarah dan caci maki serta sumpah serapah yang mereka keluarkan untukku tapi aku tak berduli. Ku tarik Kibum dengan penuh amarah menuju kamar kami, sesampainya di dalam kamar langsung ku lempar tubuh kecilnya itu keatas ranjang lalu menindihnya di bawah tubuhku. Dengan kasar ku lumat bibir kecilnya itu hingga membengkak.

"Hannie..." Ucap Kibum bergetar, aku tahu ia ketakutan tapi tak kuhiraukan.

SRRAAAKKKK...

Ku robek gaun yang ia gunakan. Tak semua, hanya sebatas dada saja hingga kini aku bisa melihat tubuh bagian atasnya yang mulus itu dengan leluasa. Kembali ku lumat bibir Kibum dengan kasar. Kibum ketakutan, ia mulai menangis dan memukuli dadaku pelan. Seolah-olah tuli, tak ku hiraukan tangisannya tadi, kemarahan tengah menguasaiku.

Aku yang mulai risih dengan tindakan penolakan Kibum segera meraih kedua lengan kecilnya itu. Ku gengam kedua tangannya erat, ku buka ikat pingangku yang ku gunakan untuk mengikat kedua tangan Kibum diatas kepala pada bagian sandaran ranjang.

"Hannie…" Ucap Kibum lagi lirih di tengah isakan ketakutannya. Lagi-lagi tak ku perdulikan dia.

Ku singkap keatas bawahan dress yang Kibum gunakan hingga kini aku dapat melihat miliknya yang masih tertutupi oleh dalamannya yang berwarna senada dengan dressnya tadi. Ku tarik dengan kasar dalamannya itu lalu ku buang ke sembarang arah. Ku buka pengait celanaku dan menurunkannya sebatas paha lalu mulai membuat milikku bangun dengan cara mengocoknya dengan cepat, tak perlu waktu lama membuat milikku mengeras dengan sempurna.

Setelahnya langsung ku buka kedua belah paha Kibum lebar hingga memperlihatkan lubangnya padaku, aku pun mulai mengesek-gesekan milikku di pintu masuk Kibum. Kibum mengelengkan kepalanya memintaku untuk berhenti, tapi dasar setan amarah sudah menguasaiku aku pun tak berniat sedikit pun untuk berhenti. Aku malah berbuat semakin gila, tanpa pemanasan terlebih dahulu langsung ku satukan tubuh kami dalam sekali hentakan.

"ARRGGGHHHH…" Pekik Kibum kesakitan, air mata semakin membasahi wajahnya yang memerah. "Sakit Hannie… Hiks… Hiks… Kumohon berhenti… Hiks… Hiks…" Pinta Kibum tapi lagi-lagi tak ku hiraukan, aku malah mengenjot holenya dengan kasar hingga membuat Kibum semakin kesakitan. Amarah yang menguasaiku membuatku buta bahkan tuli dengan penderitaan Kibum. Kau benar-benar bajingan Hangeng, tega-teganya kau memperkosa istrimu sendiri dengan kasar. Kau tak punya hati Hangeng, kau bahkan tuli hingga membuatmu enggan untuk mendengarkan jeritan kesakitan Kibum.

Aku tak berduli bila aku ini bajingan, bangsat, keji. Tak ku perdulikan juga tangisan dan rintihan Kibum, bukankah sejak awal dia hanya boneka penghiburku saja? Jadi aku berhak memperlakukannya sesuka hatiku. Kalian pikir aku benar-benar mencintainya? Bullshit dengan kata-kata cinta itu, aku sudah tak tahu bagaimana indahnya cinta lagi. Aku memanjakan Kibum, menikahinya dan memberinya kahabagiaan yang aku tak pernah ia dapatkan dari keluarganya itu semata-mata hanya untuk menghancurkan mereka saja. Kibum tak lebih dari bonekaku saja.

Dengan kasar ku perkosa Kibum tanpa belas kasihan. Kibum yang tadinya berteriak kesakitan tampak lemah dan tak bersuara lagi. Ku tatap wajahnya yang pucat, matanya tertutup rapat membuatku sedikit khawatir. Apa aku bermain terlalu kasar hingga membuatnya tak sadarkan diri?

"Bummie… Bummie…" Ku tepuk wajahnya, ia tak bereaksi membuatku panik. Ku tatap tubuhnya, mataku membulat sempurna saat ku lihat holenya yang ku bobol dengan kasar mengeluarkan banyak darah yang mengotori sampai ke spray ranjang kami. "Bummie… Jangan membuatku takut… Bummie… Buka matamu ku mohon… Bummie… Bummie…" Ucapku panik sambil memukul-mukul pipinya pelan, tak ada reaksi. Ku goyang-goyangkan tubuhnya pun masih tak ada reaksi juga. Kibum pingsan, ia pendarahan dan itu membuatku kalut. Ku keluarkan milikku yang berlumuran darah dari dalam hole Kibum yang terluka. Ku rapikan lagi pakaianku, setelahnya langsung ku bungkus tubuh Kibum dengan selimut tipis dan mengendongnya. Aku harus membawanya ke rumah sakit sebelum terjadi sesuatu pada istriku ini. 'Kibum, ku mohon bertahanlah.' Ucapku dalam hati terus menerus. Aku menyesal sudah mengasarimu tadi hanya karena amarahku saja.

*** TBC ***

#Gantung diri di pohon cemara.

#Nyempulung ke minyak goreng mendidih.

#Loncat dari atas menara effel.

#Nelen racun tikus..

Huwa… Sibum maafkan cerita di atas nde. Itu yang ngetik scene terakhir bukan dean tapi Dylan oppa. Dean kaga sanggup jadi yg ngetik Dylan oppa saja dan itu juga murni ide dia #Nyekik Dylan oppa, di goreng Dylan oppa.

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .