Anime/Manga » Bleach »

The Love Between Us
Author:
Snowy Strawberry PM
Ichigo, Rukia, dan Orihime adalah sahabat sejak kecil. Mereka pikir hubungan mereka tidak akan berubah. Tapi seiring berjalannya waktu, perasaan ketiga orang ini mulai berubah. AU. Mind to RnR?
Rated: Fiction T - Indonesian - Romance/Friendship - Rukia K. & Ichigo K. - Chapters: 2 - Words: 3,476 - Reviews: 18 - Favs: 7 - Follows: 3 - Updated: 02-10-12 - Published: 01-07-12 - id: 7721196
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

Disclaimer: Bleach © Tite Kubo
WARNING: AU, typo(s), OOC, newbie, dll.
A/N: Fic pertama ^o^ I hope you like it


Cahaya matahari yang cerah menyeruak masuk ke dalam kamar seorang gadis berambut hitam. Walaupun cahaya matahari pagi ini berkilau dengan terangnya, gadis itu masih tertidur pulas dalam selimut putihnya. Dengkuran kecil terdengar dari mulutnya.

Tiba-tiba terdengar bunyi alarm. Gadis itu perlahan-lahan membuka matanya. Ia segera turun dari kasurnya dan mulai bersiap-siap. Setelah ia merasa segalanya siap, ia membuka pintu rumahnya. Terlihat 2 orang yang sedang menunggunya.

"Selamat pagi, Rukia," kata seorang gadis berambut panjang sambil tersenyum.

"Selamat pagi," sahut gadis berambut hitam yang bernama Rukia itu.

"Kau ini lama sekali seperti biasa," ujar seorang lelaki berambut oranye yang mencolok. "Ayo cepat! Kita bisa telat."

Orihime dan Rukia menganggukan kepalanya. Ketiga sahabat itu pun mulai berjalan menuju sekolah mereka.


"Kyaa! Lihat Kurosaki datang!"

"Selamat pagi, Kurosaki, kau sangat keren hari ini."

"Kyaa! Kurosaki terlihat sangat tampan hari ini!"

Para siswi SMA Karakura langsung histeris ketika melihat seorang laki-laki berambut oranye dan bermata hazel yang bernama Ichigo Kurosaki datang. Selain tampan, ia juga jago olahraga dan ia adalah kapten tim basket SMA Karakura. Itulah yang membuatnya terkenal di kalangan para wanita.

"Kurosaki-kun populer ya," ujar Orihime saat mereka sudah sampai di kelas.

"Kau juga populer, Orihime. Kau hanya tidak menyadarinya saja. Lagipula para siswi disini sedikit aneh. Mereka menyukai orang yang berkepala jeruk seperti dia," kata Rukia sambil melirik Ichigo.

Merasa sedang dibicarakan, Ichigo menoleh ke arah Rukia. "Apa katamu? Dasar pendek!"

"Aku tidak pendek! Aku hanya belum terlalu tinggi!"

"Midget!"

"Jeruk!"

"Cebol!"

"Stroberi!"

"Kalian, jangan bertengkar…"

Ichigo dan Rukia langsung menutup mulut mereka. Satu kalimat dari Orihime dapat membuat mereka bungkam. Walaupun Orihime mengatakan kalimat itu dengan pelan dan lembut. Rukia mendengus kesal lalu berjalan menuju bangkunya.

"Kau mempunyai 2 sahabat yang populer. Enak ya," kata gadis berambut ungu yang duduk di belakang bangku Rukia yang bernama Senna.

"Ya, begitulah," jawab Rukia singkat. Ia duduk di bangkunya dan mulai membaca buku sambil menunggu bel masuk. Rukia menghela napas. Itulah kata-kata yang sering dikatakan orang-orang padanya.

"Apakah diantara kalian ada yang saling jatuh cinta?" tanya Senna.

Rukia langsung menoleh. "Apa? Itu tidak mungkin!"

"Tapi Kurosaki kan tampan dan keren. Kau tidak tertarik padanya?"

"Menurutku biasa saja tuh."

"Benarkah? Jadi tidak ada cinta yang tumbuh karena selalu bersama-sama?"

"Tidak. Tentu saja tidak," ujar Rukia sambil kembali membaca bukunya lagi. Menurut Rukia, mereka hanyalah sahabat sejak kecil. Hubungan itu tidak akan pernah berubah.


"Kurosaki, bagaimana kalau kau makan siang bersama kami?"

"Maaf. Aku akan makan siang bersama Rukia dan Orihime."

Terdengar suara para siswi yang kecewa. Kemudian mereka pergi dengan wajah cemberut. Pemuda yang diajak makan siang bersama para siswi tadi melihat ke samping. Ia melihat Rukia yang sedang membaca buku. Ia melihat ke sekelilingnya tetapi ia tidak dapat menemukan sahabatnya yang satunya lagi. Ichigo berjalan menuju bangku Rukia.

"Dimana Orihime?"

Rukia mengangkat bahu. "Entahlah." Ia menutup bukunya lalu berdiri. "Mungkin sudah duluan. Bagaimana kalau kita susul saja?"

Ichigo mengangguk. Rukia pun mulai berjalan menuju kantin. Ichigo mengikutinya dari belakang. Belum sampai di tempat yang dituju, langkah Rukia terhenti di dekat sebuah taman.

"Itu dia." Rukia menunjuk seorang gadis yang sedang bersama seorang lelaki di taman. "Dia pasti sedang menyatakan perasaannya pada Orihime. Sahabatku memang populer."

"Orihime memang populer tapi dia tidak pernah punya pacar sampai saat ini. Aneh," ujar Ichigo. Sepertinya ia tidak menyadari sesuatu.

"Kau sendiri seperti itu kan, Ichigo?" Rukia menyipitkan matanya. "Jangan-jangan kau menyukai sesama jenis?"

Ichigo langsung menoleh dan menjitak kepala gadis itu. "Enak saja! Kau sendiri juga tidak pernah pacaran kan? Jangan-jangan kau juga menyukai sesama jenis? Kau bahkan tidak pernah menyukai seorang pun."

Rukia mengelus-elus kepalanya. Wajahnya terlihat kesal. "Aku ini normal, bodoh!" bantahnya. "Aku memang belum pernah menyukai seseorang tapi suatu saat aku pasti akan menemukan cinta pertamaku. Kau ini berkata seolah-olah kau pernah menyukai seorang gadis saja."

"Jangan samakan aku denganmu! Ada gadis yang kusukai."

"Eh?"

"Ada gadis yang kusukai," ulang Ichigo.

Rukia menatap Ichigo yang wajahnya sudah memerah. Sebuah pemandangan yang tidak pernah ia lihat. "Siapa?"

"Kurosaki-kun! Rukia!" panggil Orihime. Rukia dan Ichigo tersentak kaget. "Kalian mau makan siang? Aku ikut."

"I-iya. Ayo!" ajak Rukia. Ia masih kaget karena kehadiran Orihime secara tiba-tiba di saat yang tidak tepat. Dalam hatinya, ia masih penasaran tentang gadis yang disukai oleh Ichigo. Jika Orihime tidak datang, mungkin saja ia dapat mengetahui siapa gadis itu.

Siapa gadis yang disukai oleh Ichigo? Mengapa Ichigo tidak pernah memberitahunya tentang orang yang disukainya? Seingat Rukia, tidak ada gadis yang dekat dengan Ichigo selain Orihime dan dirinya? Apa mungkin salah satu dari fansnya? Sepertinya tidak.

Tiba-tiba ia teringat kata-kata Senna tadi pagi. Apa mungkin Ichigo menyukai Orihime atau dirinya? Rukia memukul kepalanya sendiri. Tidak mungkin. Tidak mungkin Ichigo menyukainya. Tapi mungkin saja Ichigo menyukai Orihime. Ya, pasti Orihime. Bukan Rukia.


"Kau mau pulang?" tanya Senna.

"Ya," jawab Rukia pendek.

"Bersama Kurosaki dan Inoue?" tanya Senna lagi.

"Tidak. Ichigo ada latihan basket dan Orihime ada rapat OSIS."

"Bagaimana kalau kita melihat yang latihan basket saja?" tawar Senna.

Rukia menggeleng. "Tidak. Aku…"

"Sekali ini saja."

Rukia menghembuskan napas panjang. Ia bingung kenapa Senna mengajaknya. "Baiklah."

Senna tersenyum lebar. "Baiklah kalau begitu. Lebih baik kita segera ke lapangan sekarang." Senna menarik tangan Rukia. Ia sangat bersemangat. Rukia berjalan dengan malas.

Di lapangan, terlihat para anggota tim basket yang sedang latihan. Ada Ichigo juga disana. Ichigo melihat ke pinggir lapangan. Terlihat seorang gadis mungil bersama dengan temannya yang berambut ungu disana. Seulas senyum tersungging di bibirnya. Ia tidak menyangka gadis itu ada disini.

Latihan dimulai. Ichigo berlatih dengan semangat. Gaya bermainnya membuat semua orang yang melihatnya terpukau, termasuk Rukia. Rukia memerhatikan Ichigo sejak latihan dimulai. Ia merasa Ichigo sangat keren. Eh? Keren? Rukia berkata bahwa Ichigo keren? Dan kenapa ia menjadi berdebar-debar seperti ini?

"Rukia, awas!"

Rukia menoleh. "Eh?"

Terlambat. Bola basket itu sudah melayang kearahnya dan mengenai kepalanya. Rukia pun terjatuh. Kepalanya terasa sangat sakit.

"Rukia!" seru Senna. "Kau tidak apa-apa?"

"Aku baik-baik saja." Rukia pun mencoba berdiri. Namun belum sempat ia berdiri, sepasang tangan kekar mengangkat tubuh gadis bermata violet itu.

"Kyaaa!" teriak para siswi yang berada di lapangan. Rukia menatap orang yang mengangkat tubuhnya sekarang. Pandangannya samar-samar tapi ia tahu siapa orang yang mengangkatnya. Wajahnya pun memerah.

"Kau bilang kau baik-baik saja? Kau bahkan sepertinya tidak dapat berdiri." Ichigo pun mulai berjalan menuju UKS tanpa menghiraukan teriakan histeris para siswi. Rukia hanya diam.


Ichigo membalut memar di dahi Rukia. "Sudah agak baikan?"

Rukia mengangguk. "Lumayan. Tapi masih sedikit sakit." Rukia tersenyum pada Ichigo. "Terima kasih."

"Sama-sama."

"Lebih baik kau kembali ke lapangan sekarang."

"Tidak. Aku akan menemanimu disini. Kau tidak baik-baik saja seperti yang kau katakan," ujar Ichigo.

Rukia menggeleng pelan. "Aku tidak apa-apa. Sungguh. Lebih baik kau latihan untuk pertandingan besok. Besok final kan?"

"Dibanding itu, kau lebih penting," kata Ichigo. "Aku sudah cukup latihan. Tenanglah, aku pasti menang. Lebih baik kita pulang sekarang. Aku akan mengantarmu pulang. Tunggu disini. Aku akan bilang dulu pada pelatih."

Wajah Rukia memanas. Ia menundukkan kepalanya agar Ichigo tidak melihat wajahnya yang memerah.

"Tidak usah repot-repot. Aku bisa pulang sendiri." Rukia mendongak. Ichigo sudah tidak ada di depannya sekarang. Ia pasti sudah pergi sebelum Rukia menyelesaikan kata-katanya.

Rukia menghela napas panjang. Ia mencoba untuk berdiri. Kepalanya masih sakit. Kemudian ia berjalan dengan pelan. Lalu ia menuruni tangga dengan hati-hati. Ia tidak mau jika ia sampai terjatuh.

"Kau mau kemana?"

Suara itu membuat Rukia tersentak kaget dan kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terhuyung ke depan. Ia merasa tubuhnya menubruk sesuatu. Rukia membuka matanya untuk melihat apa yang ditubruknya itu. Matanya terbelalak lebar. Ia telah mendarat dalam pelukan Ichigo. Jantungnya berdebar kencang. Ia berharap Ichigo tidak tahu bahwa jantungnya berdebar-debar sekarang. Tapi sepertinya itu tidak mungkin karena jarak mereka yang terlalu dekat.

Rukia langsung melepaskan diri dari pelukan Ichigo. "Terima kasih." Ia berhenti sejenak, lalu berkata, "dan maaf."

"Tidak apa-apa." Ichigo tersenyum. "Ayo pulang."


"Sudah lama aku tidak makan di luar bersama Orihime," kata Rukia setelah selesai menghabiskan makanannya.

"Maaf. Aku sibuk akhir-akhir ini." Orihime tersenyum tipis. Akhir-akhir ini, ia banyak kegiatan karena OSIS. Dan itu membuatnya kehilangan waktunya bersama Ichigo dan Rukia.

"Tidak apa-apa. Aku tahu kau pasti sibuk."

Orihime hanya tersenyum.

"Oh ya, tadi ada yang menitipkan ini untukmu." Rukia mengambil sebuah surat dari tasnya dan memberikannya pada Orihime. "Sepertinya itu surat cinta."

Orihime mengambil surat itu dari Rukia. "Terima kasih."

"Ngomong-ngomong, ada orang yang kau sukai?" tanya Rukia tiba-tiba.

Orihime terdiam sejenak. Ia membuka mulutnya lalu menutupnya lagi.

"Tidak usah malu begitu. Kita ini kan sahabat. Tidak ada salahnya kan kau mengatakan hal ini padaku?"

"Tapi janji ya kau tidak akan mengatakannya pada orang lain," kata Orihime dengan wajah memerah.

"Ya, tentu saja," kata Rukia. Rukia mulai merasa dikhianati oleh kedua sahabatnya. Mereka sudah mulai menyukai seseorang tapi tidak menceritakannya padanya. Bukankah biasanya seseorang akan menceritakan orang yang disukainya pada sahabatnya?

"Sejak dulu aku menyukai Kurosaki-kun."

Tiba-tiba Rukia merasa napasnya tercekat. Dadanya terasa sakit. Ada apa dengannya?

Orihime menatap Rukia sejenak dan tersenyum. "Kau mau membantuku tidak?"

Rukia menghela napas. Apa yang harus dikatakannya? Ia sebenarnya tidak ingin tapi jika Orihime bertanya alasannya ia harus berkata apa? Tapi kenapa ia tidak ingin? Apa mungkin karena ia juga…

"Rukia?"

"Tentu saja. Aku akan membantumu." Akhirnya kata-kata itu yang keluar dari mulutnya.

"Benarkah?" Orihime tersenyum senang. "Aku senang kau mau membantuku."

Rukia hanya tersenyum tipis. Lalu ia memandang kosong ke luar jendela. Ia merasa dirinya aneh akhir-akhir ini. Ia merasa berdebar-debar saat bersama dengan Ichigo. Ia juga tidak dapat berhenti memikirkannya. Dadanya terasa sakit saat mengetahui Orihime menyukai Ichigo. Dan saat itulah ia menyadari sesuatu yang sebenarnya sejak dulu tersembunyi di dalam hatinya.

Sepertinya ia jatuh cinta pada Ichigo Kurosaki.


TBC


A/N: Akhirnya selesai juga. Mending lanjut atau gak? Maaf kalau masih banyak kesalahan. Author baru sih m(_ _)m Review please

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .