
Cerita dari seorang Treasure Hunter ceroboh, dan petualangannya yang aneh-aneh. Dipindah dari Gate00
Rated: Fiction T - Indonesian - Humor/Adventure - Chapters: 4 - Words: 5,169 - Updated: 02-09-12 - Published: 02-06-12 - id: 7810797
|
|
A+ A- |
Chapter Three: Ruins in the Morning
Extra Large Rucksack kosong melompong, siap mengangkut harta dalam jumlah besar. Tiny Suitcase, koper biru yang sudah terisi penuh dengan perbekalan itu tergeletak di dekat untuk foto-foto, siap. Untuk berjaga-jaga, aku bawa Tiny Golem untuk storage tambahan. Starry Star Dagger sudah terselip di balik jaketku. Jika keadaan darurat, Space Time Key siap digunakan, atau pakai booster yang-masih-belum-laku itu untuk melarikan diri.
Ketika matahari belum muncul, Miel mengangkut tas-tas miliknya dan membuka pintu dengan perlahan. Amat perlahan hingga tidak terdengar suara sama sekali. Gadis itu mengendap-endap menuju Steering Gearnya untuk turun dari Airship. Namun sayang, sungguh sayang karena seekor Nekomata berambut kuning terbangun mendengar suara mesin Airship yang digunakan untuk turun dari Airship.
"Ehem!"
Segera saja Miel melonjak kaget, keringat dingin mengucur deras dari dahinya. Dengan sedikit menarik otot wajahnya, ia berusaha membentuk sebuah senyuman. "Selamat pagi, Yamabuki." ujarnya semanis mungkin meski wajahnya kurang pas untuk dikategorikan manis.
Roh kucing itu langsung berkacak pinggang. "Mau kemana? Kerja?" Ia memelototi Miel dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu kembali lagi ke ujung rambut, melewati senyum kaku Miel. Sedetik kemudian Yamabuki kembali ke dalam rumah. Sebelum menutup pintu, ia berkata, "Minimal kau harus membawa pulang satu juta."
'Siapa yang tuan, siapa yang peliharaan sih?' Tangis Miel dalam hati karena membayangkan apa yang akan terjadi jika ia tidak pulang membawa harta sebanyak itu. Terakhir kali Miel pulang tanpa membawa harta, ia dihukum tidur di luar rumah oleh Nekomata pecinta uang itu.
Di depan pintu masuk Ruins, tampak Artheron yang baru keluar dari Ruin sedang menebarkan pesona seorang gentlemen kepada para perempuan yang sedang duduk di Ruin Square. Di sisi lain, Masha sedang menyiapkan sebuah kipas kertas untuk memukul Artheron yang menebar pesona tanpa memperhatikan pengarahannya untuk menginvestigasi ruin. Tetapi ketika kipas kertas itu nyaris mendarat di kepala Artheron, Masha melempar Paper Fan itu ke arah Miel yang baru datang dari bagian selatan Ruin Square.
"TER-LAM-BAT!" Teriak Masha sekeras mungkin, dengan memberikan penekanan di setiap suku katanya. Sehingga suaranya bergaung di Ruin Square yang tergolong sempit itu.
Sambil mengusap kepalanya yang terkena lemparan Paper Fan. Miel berusaha membela diri. "Tapi ini masih subuh! Chocko pun belum berkokok! Seharusnya aku masih tidur dengan nyenyak dibalik selimut tahu!"
Namun sayang, sebuah pukulan kembali mendarat di kepala Miel ketika ia berusaha membela diri. Setelah menarik napas untuk menenangkan diri, Masha mengeluarkan secarik kertas yang penuh dengan coretan di setiap permukaannya.
"Yang lain sudah ada di dalam Ruin, tinggal Artheron yang tinggal di sini karena sibuk tebar pesona."
Tanpa basa basi lagi, Miel berlari memasuki pintu Ruin bersama Artheron. Diikuti beberapa perempuan yang masih terkena rayuan Trader itu, untung saja Artheron sadar diri dan meminta agar gadis-gadis itu kembali. Setelah mereka berada di dalam Ruin yang dikelilingi batu-batu pualam berwarna hitam, mereka bertemu dengan beberapa orang yang 'beraneka ragam'.
Misalnya seorang Blade Master yang membawa kapak. Cukup langka karena sebagian besar populasi Blade Master di benua Acronia menggunakan pedang daripada kapak. Ditambah dengan penampilannya yang agak (sangat) nyentrik dengan kostum jamur berwarna ungu dan sebuah kertas bergambar wajah orang tersenyum tertempel menutupi wajahnya sendiri. Disebelahnya tampak Anju yang lagi-lagi sedang berbicara dengan para penghuni Ruin yang sudah 'berbeda alamnya'. Sementara Abyss, Carina, dan Houri sedang tidur sambil bersandar di dinding.
Setelah memotret wajah para anggota tim yang masih tertidur, Miel mengeluarkan sebuah pengeras suara yang berwarna merah putih. Tanpa ragu-ragu, ia berteriak hingga mengguncangkan telinga para penduduk Acronia yang sedang tertidur lelap di dalam Ruin.
"BANGUUUN!" teriaknya.
"Apaan sih? Ngantuk tau! Ini masih jam empat! Kalau mau bangunin orang, gak perlu pake Ultimate Megaphone, kan?" protes Blade Master jamur itu. Tidak lupa ia kembali tidur di pojok.
Ketika Miel menyiapkan Megaphone untuk teriakan kedua, sebuah benda tajam dan dingin menyentuh lehernya. Tidak lain dan tidak bukan itu adalah Ruby Claw milik Carina yang terbangun dengan suasana hati yang sudah pasti jelek. Segera saja teriakan itu ditelan oleh Miel sebelum terjadi pertumpahan darah karena masalah sepele.
Setelah bangun dan mengumpulkan nyawa yang masih tertinggal di alam mimpi, Miel dan yang lainnya berangkat menelusuri Ruin. Setelah satu jam menelusuri Ruin yang sangat mirip lorong sesat, diselingi adu mulut antara Miel dan Carina, akhirnya mereka menemukan sebuah ruangan yang cukup megah. Di tengah ruangan itu mereka melihat sebuah pintu yang terletak di lantai, dengan ornamen-ornamen yang tampaknya terbuat dari emas. Tanpa dikomando lagi, Miel dan Blade Master Jamur yang diketahui bernama Crovax itu segera meluncur ke arah pintu dengan tas yang terbuka lebar. Namun sayangnya, niat para pecinta harta itu harus ditahan karena sesosok monster yang muncul entah dari mana menghalangi mereka yang hanya berjarak beberapa langkah lagi dari pintu emas itu.
Seekor ayam raksasa dengan bulu berwarna ungu memelototi mereka dengan matanya yang sebiru kulit para Insmouse. Dibelakangnya, tampak segerombolan Cockatrice yang setia mengikuti ayam raksasa itu. Tanpa menunggu aba-aba dari sang ayam raksasa, para Cockatrice segera mematuki Miel dan Crovax tanpa ampun.
Tetapi sebelum Miel sempat mengeluarkan whipnya, seluruh ruangan itu bergetar hingga mereka jatuh karena kehilangan keseimbangan. Dari belakang mereka, tampak sebuah Briking raksasa yang terkadang muncul di daerah selatan beserta dengan koloni robot yang berukuran lebih kecil dari robot uap raksasa itu.
"Kombinasi iniā¦." gumam Miel sambil menatap kedua monster itu, "Kenapa dari sekian banyak monster yang muncul, kenapa harus kombinasi pelit ini sih yang menjaga tempat ini? Paling bagus juga mata Cockatrice atau lempengan besi."
"Sudahlah, yang penting ada yang bisa dijual." ujar Artheron bijak sambil tersenyum. Kemudian ia mengeluarkan satu pak kartu yang sering digunakan para Gambler Enigma untuk berjudi.
Lembar demi lembar kartu melayang dari genggaman tangan Artheron, menancap di tubuh koloni Cockatrice yang berlompatan di sekitar Giant Chocko. Setengah dari pasukan ayam itu tumbang tanpa sepengetahuan sang induk, sedangkan Abyss menembak beberapa Briking berukuran kecil. Namun ketika robot itu mendekatinya, Crovax segera mengayunkan kapak ungunya dan menghabisi robot itu dalam satu kali tebasan.
"Bagus Crovax! Ah, Houri, boleh tambah tehnya?"
"Aah, ini-myan."
"Mmm.. Kue buatan Houri memang enak."
Benar-benar kompak. Kalau dulu ada yang mengatakan, para gentlemen tidak membiarkan perempuan bertarung. Disini kata kata itu harus diubah, para gentlemen harus bertarung di garis depan karena para perempuan sedang sibuk minum teh dan makan kue. Jika tadi Miel yang marah-marah, kini Crovax yang siap melemparkan kapaknya ke arah ketiga perempuan itu. Untung saja Artheron sang gentlemen playboy segera menghentikannya. Setelah koloni ayam dan robot uap itu berhasil disingkirkan, kini mereka mulai membagi tugas.
"Hmm.. Jadi sekarang tinggal duo pelit itu. Abyss, Artheron, dan Crovax akan melawan Briking MkII. Aku, Carina, dan Houri menghabisi ayam gila itu." ujar Miel sambil membersihkan remah-remah kue yang menempel di bajunya. Ketiga perempuan itu merapikan sisa makanan mereka dan memasukkannya kembali ke ransel biru milik Houri.
DUAGH!
Pukulan dari tas milik Artheron berhasil meremukkan kaki robot itu. Sedangkan Abyss berhasil menghancurkan seluruh persendian dari robot itu. Dengan santai, Crovax menyalakan sebuah petasan yang ia bawa. Setelah ia menyulut petasan itu dan melemparnya ke arah tangki bahan bakar Briking MkII, ia segera mundur sambil melindungi telinganya yang sudah tertutup kostum jamur itu.
Sedangkan Miel dan Carina hanya bisa melongo karena di seberang mereka ada kembang api bermunculan dari arah dimana mereka terakhir kali melihat Abyss dan lainnya memukuli sebuah robot raksasa. Namun Houri, sibuk mengurusi Giant Chocko yang sedari tadi berusaha mematuki kepalanya yang berambut ungu itu. Untung saja Carina segera membantunya dengan menghancurkan mata kiri ayam itu. Namun sayangnya, mendadak muncul seekor ayam raksasa lagi di belakang Houri.
|
||||||