
LAST CHAPTER! Kuroro, seorang yang sulit untuk di dekati oleh siapapun juga. Namun sikap Kurapika yang mirip dengan seseorang di masa lalu Kuroro mulai mengubahnya sedikit demi sedikit. KilluaXFemKurapikaXKuroro
Rated: Fiction T - Indonesian - Romance/Hurt/Comfort - Killua Z. & Kurapika K. - Chapters: 9 - Words: 16,120 - Reviews: 30 - Favs: 2 - Follows: 2 - Updated: 03-08-12 - Published: 02-24-12 - Status: Complete - id: 7866435
|
|
A+ A- |
Disclimer: Yoshihiro Togashi
Title: Piece of Memories
Story by: Sends
Genre: Romance
Rated: T
Warning: Gaje, Abal
Ruangan itu benar-benar gelap. Tanpa penerangan sedikitpun. Yang ada hanya cahaya bulan yang menerobos celah-celah pada jendela. Samar-samar terlihat seorang gadis manis berambut pirang sedang terlelap. Sesekali gadis itu bergerak kecil namun tidurnya tetap tidak terganggu sama sekali. Dari luar terdengar suara langkah yang sepertinya mengarah ke kamar gadis itu. Beberapa saat kemudian pintu terbuka kecil. Membiarkan cahaya luar menerangi sebagian kecil dari kamar sang gadis.
"Selamat tidur, Kurapika" Kata seorang pemuda dengan pelan dan segera menutup pintu kamar. Ia mengucapkannya pelan, bahkan sangat pelan. Agar gadis pirang bernama Kurapika itu tidak terbangun. Apalagi pemuda ini tahu betul bahwa Kurapika mengalami insomnia yang akut. Pemuda itu berjalan pelan menuju dapur. Menyeduh secangkir kopi dan membawanya ke ruang tengah.
Kertas-kertas bertumpuk di atas meja, laptop masih menyala dan peralatan tulis masih berserakan di atas meja. Pemuda tadi hanya menggelengkan kepalanya. Ia baru menyadari bahwa pekerjaannya betul-betul membuat ruangan ini menjadi seperti kapal pecah. Ia kemudian meletakkan cangkir kopinya di meja dan mulai merapikan peralatan kerjanya. Setelah semuanya rapi, ia meminum sedikit kopinya, kemudian kembali berkerja dengan laptop yang ada di hadapannya.
Kantuk mulai menyerang si pemuda. Ia kemudian memalingkan wajahnya menatap jam dinding. 'Sudah jam 11 malam rupanya' batin pemuda tersebut. Ia baru menyadari bahwa kopinya telah habis sejak 2 jam yang lalu. Namun kantuknya tetap tidak terelakkan. Ia kemudian segera menyelesaikan pekerjaannya setelah itu ia beranjak tidur.
Pemuda itu menatap jam kamarnya yang telah menunjukkan pukul 1 dini hari. Ia merenggangkan badannya di atas ranjang king sizenya. Ia lalu mengulurkan tangannya untuk mematikan lampu meja yang berada tepat di sampingnya. Namun ia menatap foto yang ada di bawah lampu sebelum menutup lampu tersebut. Terlihat foto pemuda berambut perak dengan gadis pirang yang sedang tersenyum gembira. Pemuda itu tersenyum singkat lalu mematikan lampu. Setelah itu langsung tertidur.
-OoO-
"Selamat pagi, Kurapika. Bagaimana tidurmu semalam?" Tanya pemuda berambut perak kepada Kurapika yang saat ini telah mengenakan seragam sekolahnya dengan rapi. Sang gadis menatap sang pemuda lalu tersenyum.
"Sangat baik. Terimakasih Killua,untuk semuanya," Kata Kurapika kepada Killua. Kurapika sadar bahwa ia dapat bersekolah dengan baik sampai saat ini karena bantuan dari Killua. Killualah yang bekerja membanting tulang demi dirinya. Mengingat dirinya hanyalah teman Killua membuat Kurapika sangat bersyukur di anugerahi teman seperti Killua.
Killua tersenyum tipis mendengar ucapan Kurapika. Ia kemudian menyodorkan sarapan kepada Kurapika dam langsung mengambil tempat di depan Kurapika. "Kau tidak perlu berterimakasih, Kurapika. Aku sudah berjanji bahwa aku akan selalu melindungimu. Kau tidak perlu mengulangi kata itu setiap hari."
Kurapika tertawa mendengar gurauan pemuda yang berusia lebih tua darinya 4 tahun itu. "Aku tidak mengulanginya tiap hari, Killua. Hanya saja aku selalu melakukannya. Setiap kali melihatmu aku selalu ingin mengucapkan terimakasih."
"Ya, kau mengulang kata itu hampir setiap hari selama 6 tahun ini," Kata Killua tidak mau kalah. Kurapika malas berdebat bersama Killua kali ini sehingga lebih memilih untuk menghabiskan sarapannya dengan cepat. Setelah selesai ia lalu berpamitan kepada Killua dan melambaikan tangannya.
-OoO-
"Kyaaaa! Kuroro senpai datang!" Jerit para segerombolan siswi menyambut kedatangan seorang pemuda tampan bernama Kuroro. Kuroro memang murid baru di SMA ini. Namun ketampanan dan kepintarannya membuat ia terkenal hanya dalam waktu singkat. Namun ia bukan tipe yang suka tebar pesona. Ia lebih memilih untuk mengacuhkan para fansnya dan tidak jarang ia berkata kasar pada para fansnya. Entah mengapa pintu hatinya seakan tertutup rapat dan tidak ada seorangpun yang dapat menghancurkan dinding itu. Ya, tidak seorangpun. Buktinya, seterkenal apapun dia, Kuroro tetaplah seorang murid penyendiri yang sama sekali belum memiliki teman dekat.
Kuroro memasuki gerbang sekolah sambil memasukkan tangannya ke saku celananya. Ia berjalan dengan santai tanpa menghiraukan teriakan para gadis yang mengitarinya saat ini. Kuroro berhenti melangkahkan kakinya dan mengamati sekelilingnya. 'Dapat,' batin Kuroro. Ia kemudian berlari dengan sangat cepat. Menjauh dari kerumunan gadis itu melalui satu celah kecil yang baru saja ia lihat tadi. Ia benar-benar benci di perlakukan seperti ini. Ia kemudian membalikkan badannya menatap para gadis lalu mengusir mereka. Kekecewaan yang teramat sangat seketika terlukis di wajah mereka. Namun Kuroro tidak peduli.
Kuroro melangkahkan kakinya menuju ke kelas. Tidak peduli penilaian orang yang menatapnya sinis atas tindakannya tadi. Ia memasuki kelasnya dan langsung menduduki bangku paling belakang. Pelajaran dimulai. Ia memperhatikan pelajarannnya dengan baik tanpa terusik dengan kegaduhan yang di perbuat oleh teman-temannya yang sengaja mengambil bangku deretan belakang. Ia menatap jam tangannya beberapa kali. Memastikan jam istirahat sudah dekat. Dan benar saja, beberapa saat kemudian bel berbunyi. Murid-murid berhamburan ke luar. Kuroro lalu berjalan santai menuju ke atap sekolah. Tempat yang sangat di sukainya.
Sesampainya ia di atap sekolah, Kuroro mengeluarkan roti melon dari sakunya. Dan mulai memakan roti tersebut. Ia memakan roti tersebut sambil memandang lurus. Ia menatap langit biru yang terbentang luas di depannya. "Seandainya aku masih dapat melihatmu lagi. Seandainya kau ada di sini. Kau pasti akan sangat menyukai pemandangan ini. Seandainya kau ada di sini, aku pasti akan..." Kata kata Kuroro terhenti ketika mendengar jeritan tertahan dari balik dinding tempatnya bersandar sekarang.
'Dari gedung olahraga.' Pikirnya. Ia sebenarnya sangat malas untuk mencampuri urusan orang lain. Namun hati nuraninya masih dapat menggerakkannya. Ia segera menghabiskan rotinya dan berjalan menuju ke gedung olahraga. Ia melangkahkan kakinya sedikit lebih cepat. Berharap seseorang yang akan ia selamatkan masih dalam kondisi baik-baik saja.
-OoO-
"Kyaaaa!" Kurapika menjerit tertahan ketika menyadari bahwa dirinya sekarang telah mersungkur ke lantai. Keseimbangannya tiba-tiba saja hilang. Mungkin itu adalah pengaruh insomnia akutnya. Walaupun ia dapat tidur nyenyak semalam, namun waktu tidurnya yang kurang sehat selama ini tetap saja mempengaruhinya. Sepertinya anemianya kumat lagi. Kurapika lalu mencoba untuk berdiri namun beberapa saat kemudian ia terjatuh lagi. Kepalanya terasa pusing dan pandangannya menjadi berkunang-kunang. Namun perhatiannya beralih pada suara pintu yang terbuka.
"Kau sedang apa? Kenapa kau berbaring di sana?" Kurapika melihat pemuda berambut hitam dari jauh mendatangi dirinya. Ia kemudian berusaha berdiri, belum menjawab pertaayaan dari sang Lucifer. Setelah dapat duduk dengan baik, Kurapika menjelaskan alasan kenapa ia dapat terbaring di lantai kepada Kuroro. Kuroro seakan tidak peduli tapi ia tetap menggendong Kurapika dan membawanya ke UKS. Kurapika sedikit meronta namun ia tidak dapat berbuat banyak karena kepalanya masih terasa pusing.
"Siapa namamu?" Tanya Kurapika ketika Kuroro menurunkan Kurapika di UKS dari gendongannya.
"Panggil saja aku Kuroro. Aku selalu ada di atap sekolah, jadi pastikan kau membawa sesuatu sebagai tanda balas budimu," Kata Kuroro lalu segera meninggalkan Kurapika di UKS. Kurapika hanya dapat mengangkat bahunya bingung dan sefera mencari obat anemia yang ada di UKS. Setelah meminum obat anemianya, ia membaringkan diri ke ranjang yang tersedia di UKS dan kemudian tertidur.
Dari luar, diam-diam Kuroro mengamati tingkah laku Kurapika. Ia memasang ekspresi datar seperti biasanya. Namun tetap memperhatikan gadis berambut pirang yang sekarang telah tertidur itu. Kuroro tampak sedikit berpikir. Namun tidak lama setelah itu ia sedikit mengumpat kecil lalu meninggalkan tempatnya berada sekarang dan kembali ke kelasnya. Waktu istirahatnya hampir selesai karena menolong gadis pirang tadi.
Kuroro berjalan sambil melamun. Berbagai pemikiran berlalu-lalang di benaknya. Ia menemukan hal ganjil yang ada pada diri gadis pirang tadi. Namun ia belum bisa menemukan jawabannya. Ia tidak tahu keganjilan apa itu. Ia tidak tahu mengapa ia bisa merasakan keganjilan itu. Dan ia juga tidak tahu mengapa gadis itu bisa menjadi sangat menyebalkan di matanya. Ia tidak mengerti mengapa gadis yang ia tolong itu bisa membuatnya merasa sebal. Padahal gadis itu tidak melakukan apapun yang salah. Kuroro lalu menepis semua pemikira yang di anggapnya tidak penting itu lalu segera masuk ke kelas. Melanjutkan pelajarannya.
-OoO-
"Kuroro, ini aku bawakan bekal," Kata suara lembut yang berasal dari sebelah kiri Kuroro. Ia terkejut melihat gadis yang kemarin ia tolong benar-benar membalas tindakan kecilnya. Namun Kuroro tidak berniat untuk menolak pemberian gadis itu. Ia lalu mempersilahkan gadis itu duduk di sampingnya.
"Wah pemandangan di sini bagus sekali. Kuroro, kau pasti selalu memandangi langit dari sini iya kan?" Tanya Kurapika pada Kuroro. Kuroro hanya terdiam melihat tingkah Kurapika. Kenapa rasanya ia pernah merasakan kehadiran Kurapika sebelumnya? De Javu.
"Ya. Pemandangan di sini memang sangat indah. Aku suka tempat ini. Sepi dan tenang," Jawab Kuroro singkat sambil memakan bekal yang di bawa oleh Kurapika untuknya. Sementara Kurapika sudah berlari meninggalkan Kuroro.
"Hey! Kau harus kembali lagi besok!" Teriak Kuroro pada Kurapika dari jauh. Kurapika hanya tersenyum lalu meninggalkan Kuroro dalam kesendirian.
"Tampaknya aku sudah gila menyamakan gadis itu denganmu, Pika-chan," Kata Kuroro pada dirinya sendiri sambil melanjutkan makannya.
To Be Continued
.
.
.
.
Fic abal-abalan chapter 1 ini akhirnya selesai. Tiba-tiba Sends kepikiran nulis fic ini. #Ditabok Akhir kata, Sends cuma minta review. Thanks buat yang sdh bersedia nge-review.
|
||||||