
"...berilah kesempatan pada dirimu sendiri untuk mencintai wanita lain yang bisa memberikanmu cinta seutuhnya."/"Aku pasti akan menyesal seumur hidupku bahkan bisa saja menjadi gila jika kau benar-benar pergi meninggalkanku,"/CHAPTER 6 UPDATE-END/RnR?
Rated: Fiction T - Indonesian - Hurt/Comfort/Romance - Hinata H. & Sasuke U. - Chapters: 6 - Words: 15,050 - Reviews: 62 - Favs: 16 - Follows: 4 - Updated: 05-24-12 - Published: 03-11-12 - Status: Complete - id: 7914153
|
|
A+ A- |
YOU AND I
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pair : SasuHina
Genre : Drama, Romance, Family
Rating : T
Warning : Seperti biasa…OOc, AU, dan hal aneh lainnya yang kurang menyenangkan.
Hyuuga Hinata : 24 tahun
Uchiha Sasuke : 26 tahun
.
.
Happy Reading
.
.
Chapter 1 : Jangan panggil aku 'gadis bodoh'
Samar-samar warna jingga mulai menguar kepermukaan seraya ingin mendominasi melebihi warna biru nya langit. Disebuah komplek yang memiliki beberapa gedung berlantai lima masih memperlihatkan kegiatan dari sang penghuni gedung. Namun, pada gedung yang berada disebelah selatan terlihat agak sepi dari yang lainnya. Terlihat seorang gadis manis berjalan keluar dengan kepala menunduk dari sebuah ruangan. Plang kecil di atas pintu menunjukkan bahwa ruang tersebut bernama 'Perpustakaan'. Langkahnya mulai menjauh dari ruang tersebut, kepalanya masih tertunduk. Ada yang berbeda dari sana. Sebuah senyum kecil dan warna merona di pipinya yang membuat gadis itu terlihat semakin manis.
PUK
"Hai…Hinata-chan." Sapa seorang gadis cantik berambut pirang dari arah belakang gadis itu sambil menepuk bahunya.
"A-A-Ah! Ya ampun…Ino-chan. Kau membuatku kaget."
"Benarkah? Gomen, Gomen. Habis jika aku tidak menepuk bahumu, kau tidak akan menoleh. Padahal dari tadi aku memanggilmu tapi kau tidak mengindahkannya."
"Eh? Hontou ni? Gomenasai…"
"Sudah, lupakan saja." Ino ingin bertanya sesuatu yang membuatnya penasaran dengan perubahan sikap Hinata yang akhir-akhirnya cukup berubah. Terlihat lebih banyak merenung. Perlahan gadis pirang itu menghela napas seraya mengumpulkan keberaniannya. "Hinata-chan, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Nani?"
"Eto…Aku hanya penasaran denganmu akhir-akhir ini. Ada apa denganmu? Kau terlihat berbeda bahkan lebih sering terlihat merenung. Dan tadi, aku lihat ketika kau keluar dari perpustakaan wajahmu terlihat memerah. Apa kau sedang sakit?" Tutur Ino penasaran sambil menerawang mengingat keanehan yang ia temui pada teman dekatnya itu.
'Bagaimana ini? Aku tidak mungkin menceritakannya,kan? Bisa-bisa dia akan marah padaku. Apa yang harus aku lakukan?' Gumam Hinata dalam hati.
"Hei, Hinata-chan. Kau mendengarkanku? Kau ini ada apa? Apa kau punya masalah? Ceritakanlah padaku."
"A-ah…bukan apa-apa, Ino-chan. Mungkin hanya perasaanmu saja. Aku baik-baik saja seperti biasanya."
"Mungkin juga hanya perasaanku saja ya."
'Gomen ne, Ino-chan. Aku tidak bisa mengatakannya padamu.'
Hinata keluar dari gedung itu dengan perasaan tidak menentu. Hatinya sedang senang bahkan cenderung sering bahagia tetapi ia merasa tidak enak terhadap Ino. Teman dekatnya. Dikarenakan ada sesuatu yang tidak bisa ia katakan atau ceritakan dan jika terbocor dengan mudah akan membuat situasinya menjadi memburuk, kacau, rumit bagi Hinata dan orang-orang sekelilingnya.
Kepala gadis itu masih menunduk selama perjalanannya di tengah lapang rerumputan hijau halaman komplek Universitas Konoha. Pikirannya masih disibukkan dengan hal-hal lain hingga membuat gadis pemilik bola mata unik itu tidak sadar dengan keberadaan orang yang ada dihadapannya seraya melipat kedua tangannya didepan dada sambil menatap penuh tanya pada gadis itu.
"Hei. Gadis bodoh, perhatikan jalanmu." Ucapnya ketus terdengar penuh penekanan.
Hinata masih tidak bergeming, ia hanya menghentikan langkahnya.
"Kau tuli ya? Kau benar-benar gadis bodoh rupanya." Ucapan pria itu kali ini begitu menusuk hingga membuat Hinata menengadahkan kepalanya dengan wajah innocent-nya.
1
2
3
Raut wajah ayu nan jelita itu seketika berubah memerah ketika melihat siapa yang ada dihadapannya dan memanggilnya dengan 'gadis bodoh'. Wajahnya semakin memerah saat melihat kedua bola mata yang menusuk dan seolah-olah menarik siapapun yang melihatnya dan tidak bisa lepas lagi. Ya, mungkin Hyuuga Hinata tidak bisa lepas darinya.
"K-K-Kau…"
"Apa? Kau apa?"
"S-sedang a-apa k-kau d-disini?" Wajah memerah. Bicaranya mulai tergagap. Lengkap sudah.
"Ck. Kau ini. Ayo." Tanpa berkata apapun lagi, lelaki itu langsung meraih tangan kanan Hinata dan menariknya pergi. Hinata hanya pasrah tangannya ditarik sepert itu. Dan sejujurnya ia cukup senang dengan perilaku lelaki itu hingga membuatnya mengingat kembali sebuah pesan singkat yang ia terima ketika saat menjaga perpustakaan.
Aku akan menjemputmu.
Tunggu aku dan jangan pergi kemana-mana.
Sebuah pesan singkat yang membuat wajah gadis itu memerah. Bagaimana tidak. Seorang lelaki dingin dan cuek sepertinya bisa mengirim pesan singkat itu. Memang biasa. Tetapi bagi Hinata itu suatu keajaiban yang tak datang sia-sia. Terlebih lagi dengan jadwal sang lelaki yang ia tahu sangatlah padat.
"Apa yang membuatmu tersenyum sendiri?"
"B-bukan apa-apa…a-aku hanya senang k-kau bersedia menjemputku." Lirih Hinata dengan menundukkan kepalanya seraya menggenggam erat sabuk pengaman di dadanya.
"Bodoh. Itu wajar, kan." Secara kasat mata lelaki itu menghiasi bibir tipisnya dengan senyuman kecil yang tak disadari oleh Hinata.
.
.
.
"K-kenapa senpai mau m-menjemputku? Bukankah kau sangat sibuk?" Tanya Hinata pelan dan dengan hati-hati. Takut kalau menyinggung perasaan pemuda yang ada di sampingnya.
"…"
"G-gomen…" Hinata mengalihkan pandangannya kesamping, melihat pemandangan dari jendela mobil. "…aku pasti sangat konyol." Gumam Hinata dengan suara yang sangat pelan tetapi bisa tertangkap oleh lelaki itu.
Cukup lama keduanya saling terdiam. Keheningan menyelimutinya. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing yang nyatanya memiliki pikiran yang sama. Bagaimana membuka pembicaraan dan menghilangkan kecanggungan ini.
"…Canggung." Bisik Hinata dan pemuda itu bersamaan dan terdengar oleh kedua belah pihak hingga membuat keduanya terhenyak dan saling berpandangan. Sangat kompak. Tiba-tiba sebuah senyum manis mengembang di bibir Hinata dan disusul dengan kikikan kecilnya dengan sebelah tangan mungilnya menutupi mulutnya. Begitu pula dengan pemuda di sampingnya, ia hanya tersenyum simpul tapi di balik hatinya ia ikut tertawa kecil.
"Bagaimana harimu?" Akhirnya sebuah pertanyaan keluar dari bibir pemuda itu.
"C-cukup menyenangkan. Lalu, senpai sendiri bagaimana?" Balas Hinata.
"Senpai? Kau masih saja memanggilku dengan 'senpai '? Apa aku masih menjadi orang asing bagimu?" kata-kata yang membuat Hinata merasa bersalah. Sebenarnya pemuda itu tidak bermaksud demikian. Hanya saja ia ingin menggerutu. Kenyataannya memang ketika masih duduk di bangku SMA, pemuda itu adalah senior Hinata.
"M-mungkin…"
"APA? Mungkin? Kau…" Sebelah alis pemuda itu terangkat seraya memincingkan matanya.
"E-Entahlah…"
"Kau… menyebalkan."
"K-kau yang lebih menyebalkan s-selalu memanggilku 'gadis bodoh', aku tidak bodoh."
"Kau memang pantas dipanggil seperti itu, gadis bodoh."
"K-KAU… "
"Jangan banyak bicara lagi. Kita sudah sampai."
Mobil mewah berwarna Biru tua itu membawa mereka berhenti di depan sebuah gedung apartemen yang terkenal dengan harganya yang tinggi dan kemewahannya hingga membuat pertengkaran kecil itu berakhir. Tanpa menoleh pada pemuda itu, Hinata keluar dari mobil itu dengan kesal. Langkahnya semakin cepat begitu mendengar pemuda itu memanggil namanya bahkan langkahnya cenderung berlari. Tak lama Hinata sampai di depan lift yang sudah terbuka. Ia memasuki lift dan langsung menutupnya tanpa memberi kesempatan lelaki yang bersamanya tadi ikut masuk kedalam lift.
TING
Lift itu membawa Hinata ke lantai 8. Dengan langkah cepat dan sesekali menghela napas panjang, Hinata berjalan menuju apartement nomor 81290.
"Sungguh menyebalkan." Gerutunya begitu memasuki apartement itu. Kemudian Hinata menghempaskan tubuhnya duduk di sofa berwarna krem coklat.
CKLEK
Pintu yang ditutup dengan keras tadi terbuka dengan menampakkan seorang pemuda tampan berwajah dingin.
"Kau ini kenapa?" Tanyanya datar seraya melangkahkan kakinya dan duduk di sebelah Hinata.
"Aku lelah. Aku mau istirahat." Ujar Hinata tanpa terbata seperti biasanya dan pergi meninggalkan pemuda itu sendiri dengan penuh tanya. Hinata pergi menuju kamarnya yang tak jauh dari ruang tamu itu tanpa tahu raut wajah seperti apa dari pemuda itu.
Hahh…
Pemuda itu menghela napas panjang seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa sambil mengambil sebuah bingkai foto terletak di sebuah meja kecil disamping sofa. Ia menatap tampilan bingkai itu dengan lembut yang menampakkan sepasang pengantin.
"Gadis bodoh…" Gumamnya pelan seraya menyentuh pelan tampilan bingkai itu dan sesekali ia mengembangkan senyum tipis di bibirnya. "…Tapi aku suka. Sangat suka."
"A-apa yang sedang kau lihat?" Tukas Hinata menyipitkan matanya curiga pemuda itu hingga membuyarkan lamunan singkat pemuda itu. Dan sontak saja membuat pemuda itu mendongakkan kepalanya tuk melihat seseorang yang mengganggu lamunannya.
GLEK
Mau tidak mau pemuda itu harus menelan ludah. Matanya terbelalak lebar. DAG DID DUG. Jantungnya terpacu cepat. Perlahan samar-samar sebuah rona merah mulai merambati wajah tampannya. Matanya bergerak perlahan dari bawah ke atas, dari atas ke bawah. Bagaimana tidak. Apa yang ada dihadapannya itu? Seorang Hinata sedang berdiri dihadapannya dengan yukata mandi berbahan handuk halus dan butir-butir air masih menetes dari rambutnya yang basah.
"A-apa yang s-sedang k-kau lihat?" Tukas Hinata seraya mengeratkan yukatanya dan menatap tajam pada pemuda itu.
"A-apa? Tidak ada yang aku lihat. Tidak ada yang bagus untuk di lihat, lagi pula aku ini suamimu. Kenapa harus malu begitu." Elak pemuda itu yang mengaku sebagai suaminya dengan suara yang ikut terbata. Pemuda itu langsung beranjak dari sfa dan berjalan cepat menuju kamarnya. Ia menutup pintu dengan suara yang cukup keras hingga menimbulkan suara keras pula.
Sementara Hinata hanya berdiam diri terpaku dengan mata melebar dan kedua tangan yang semakin mengeratkan pegangannya pada bagian kerah yukatanya. Raut wajahnya sulit sekali terdefinisi.
.
.
.
Semejak kejadian petang tadi Hinata terus diam duduk disofa dengan dress piyama bermotif kotak-kotak ungu sambil mengganti channel TV. Moodnya sedang tidak baik. Bukan hanya dikarenakan perkataan pemuda yang mengaku suaminya tetapi juga karena pertengkaran kecilnya di mobil. Awalnya ia sangat senang karena mendapat pesan singkat dari pemuda itu tetapi entah mengapa harus berakhir seperti ini. Pemuda itu selalu memanggilnya 'gadis bodoh' membuat Hinata semakin kesal. Bukan masalah cara pemuda itu memanggilnya tetapi Hinata ingin pemuda itu bisa bersikap manis, sedikit saja.
Padahal cukup lama mereka menikah tapi hubungannya tidak ada kemajuan. Tak ada sikap ataupun kata-kata manis yang terucap dari pemuda yang dinikahinya. Mau bagaimana lagi, Hinata harus bisa menerima konsekuensi menikah dengan pemuda dingin dan cuek itu bahkan kata-katanya selalu terdengar menusuk. Namun, Hinata tetap mencintainya.
Cinta?
Bisakah ini disebut cinta?
Lalu apakah pemuda itu mencintainya juga? Pikir Hinata seraya menghela napas panjang dan menjatuhkan kepalanya tenggelam di sofa. Ia menggeram kesal. Kesal pada dirinya yang tidak bisa apa-apa. Hubungan yang tidak ada kemajuan, pernikahan yang terbilang sembunyi dari public yang tentunya dari teman-teman mereka, lalu terkadang saat sedang menjaga perpustakaan ada saja mahasiswa yang menggodanya, dan terlebih terkadang pula melhat suaminya itu di 'gerumuti' oleh para mahasiswi yang cantik-cantik. Kenapa pemuda itu harus juga bekerja disana dan menjadi asisten dosen padahal ia sudah memiliki jabatan yang memuaskan di sebuah penerbitan. Mengingat hal itu, membuat Hinata ingin sekali berteriak pada dunia bahwa ia sudah menikah dan pemuda itu adalah suaminya. Pernikahan mereka memang hanyalah perjodohan belaka. Setidaknya bolehlah Hinata mengharapkan lebih dari pernikahan ini.
"Sasuke-kun." Bisik Hinata dengan suara yang amat kecil. Hanya ia seorang yang bisa mendengarnya.
.
.
.
Lain Hinata maka lain pula dengan Sasuke. Nama suami Hinata. Ia mengurung dirinya di kamar dan duduk di pinggir ranjang dengan kepala tertunduk. Sesekali keluar kata-kata menrutuk dirinya sendiri. Ia merutuki dirinya sendiri perihal melihat Hinata yang mengenakan yukata mandi hingga membuatnya berimajinasi yang tidak-tidak dan pula telah membuat gadis manis yang menjadi tambatan hatinya, cintanya kesal karena ulahnya yang tidak bisa mengeluarkan kata-kata manis. Sebenarnya niat hati tidak bermaksud jahat tetapi malah jadi seperti itu.
Memiliki harga diri tinggi seorang Uchiha terkadang membuatnya harus menelan ludah dan kesal sendiri. Gengsi yang besa membuatnya tak bisa mengeluarkan isi hatinya yang sebenarnya saat mengetahui cukup banyak mahasiswa Universitas Konoha yang menggoda istrinya yang manis itu. Ia sungguh ingin member mereka pelajaran karena berani-berani menggoda istri tercintanya.
Ia tak bisa seperti ini terus. Sasuke harus melakukan sesuatu jika ingin membuat hubungannya dengan Hinata lebih maju.
.
.
.
Akhirnya Sasuke memberanikan diri keluar dari kamarnya. Sebenarnya karena kebutuhan darurat yang sulit untuk di tunda. Ia haus. Langkahnya menuju dapur terhenti ketika mendengar suara. Ia melihat ke arah ruang tengah dengan TV yang masih menyala dan sosok Hinata yang tertidur di sofa. Sasuke berusaha untuk tidak peduli dengan kembali melangkahkan kakinya menuju dapur tapi tiba-tiba kedua kakinya terhenti ketika mendengar sesuatu lagi.
"Sasuke-kun." Hinata sedang mengigau dengan memanggil nama pemuda itu hingga membuat sang pemilik nama mengalihkan langkahnya mendekati Hinata.
"Sasuke-kun." Hinata mengigau lagi.
"Apa? Apa kau masih marah padaku hingga kau mengigau dan memanggil namaku?"
"Ngng…" Perubahan raut muka Hinata tertangkap oleh mata kelam itu. Kedua alis gadis manis itu saling bertautan.
"Hahh… Kau harus tidur di kamar." Gumam Sasuke seraya mencoba menggendong Hinata. Namun, ketika kedua tangannya berhasil meraih tubuh Hinata, gerakan Sasuke tiba-tiba terhenti. Sepasang tangan mungil sedang mencengkeram erat kerak kemejanya.
"Tenanglah." Bisik Sasuke dan entah bagaimana membuat eratan itu terlepas membuat kedua tangan itu terkulai lemas.
Sasuke menggendong Hinata menuju kamar gadis itu. Mereka memang tidur terpisah sesuai dengan kesepakatan bersama. Dengan Hinata di gendongannya, Sasuke mencoba merebahkan tubuh gadis itu di ranjang yang terbalut seprai warna ungu muda. Dari sana Sasuke bisa menghirup wewangian khas Hinata yang menguar dari setiap sudut ruangan.
Gerakan Sasuke kembali harus terhenti saat ia sudah merebahkan tubuh gadis itu di ranjang dan tinggal menarik kedua tangannya tetapi kedua bola mata unik yang tertutup itu sontak terbuka. Keduanya terdiam dengan posisi tersebut dan masih mencerna apa yang sedang terjadi. Perlahan bola mata milik Hinata bergerak melirik setiap sudut dari sosok yang ia lihat, lebih tepatnya wajah suaminya yang jaraknya sangat dekat. Begitu pula dengan Sasuke yang menatap Hinata dengan intens .
.
.
.
To Be Continue
.
.
Kembali dengan fic baru lagi…
Mohon maaf jika ada kesamaan alur cerita, jujur ini adalah hasil tulisanku sendiri...
Entah kenapa aku selalu suka fic yang berbau kehidupan rumah tangga tentunya dengan pair Sasu Hina. Apa mungkin sudah ingin menikah ya… #hiraukan saja…
Semoga fic ini berkenan bagi pada teman-teman sekalian…
Apakah fic ini pantas dilanjutkan atau berhenti sampai disini saja bisa dibilang di hapus saja?
Well, mohon kritik dan saran dari teman-teman… ^_^ v
|
||||||