Plays/Musicals » Screenplays »

Ultra Lover
Author:
Sayaka Dini PM
2PM fanfic. Matanya seolah terhipnotis dengan bibir yummy Wooyoung yang tampak semakin menggiurkan di antara eskrim putih yang mengililinganya. Pikiran Nichkhun seolah blank seketika. /Khunwoo/TaecSu/ChanHo. Last Chapter! plus Bonus NG ? RnR?
Rated: Fiction T - Indonesian - Romance/Fantasy - Chapters: 9 - Words: 39,309 - Reviews: 156 - Favs: 22 - Follows: 8 - Updated: 05-02-12 - Published: 04-02-12 - Status: Complete - id: 7980720
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

Flasback. Sebulan yang lalu.

Dering ponsel Wooyoung menghentikan kegiatan makan siang bersamanya dengan Junho dan Chansung.

Matanya langsung berbinar begitu melihat nama yang tertera di ponselnya. "Ini dari IU," ujarnya pada Junho dan ia segera berdiri, berjalan menjauh untuk mendapatkan privasinya dalam obrolannya di telepon.

Chansung menyenggol Junho di sampingnya. "Siapa IU?" tanyanya penasaran.

"Yeojachingu-nya,"

"Jijjayo? Kupikir dia tidak pernah punya pacar, aku tidak pernah melihatnya jalan berdua dengan cewek," ujar Chansung tak percaya.

"Kau baru menengal kami sejak sma, jelas saja kau tidak tahu," timpal Junho santai sambil mengambil ddbongki dengan sumpitnya dan mengunyahnya.

"Maksudmu?"

Junho harus menyelesaikan kunyahannya sebelum ia bisa menjawab kembali. "IU itu teman Wooyoung sejak kecil. Bisa dibilang tunangannya sejak lahir karena factor persahabatan kedua ortu mereka. Tapi waktu smp, IU dikirim ke jepang untuk bersekolah asrama di sana, demi mengejar cita-citanya sebagai penyanyi." Junho meraih sendoknya dan meminum sup-nya sejenak, dan kembali berkata, "Tapi kudengar dari Wooyoung, tahun ini IU akan kembali ke Korea."

"Ooh…" Chansung mendesah kecewa.

Junho menoleh sambil menyerngit. "Kau kenapa?" tanyanya heran.

"He-he-he," Chansung tertawa changgung. "Sebenarnya…. Aku sudah lama mengincar Wooyoung," akunya sedikit malu, lalu menyedot jus buahnya untuk menenangkan dirinya sendiri. "Tapi sepertinya, aku harus menyerah," bisiknya lirih sambil memandang lurus ke depan tanpa menatap Junho.

Sementara Junho yang duduk di sampingnya hanya bisa menganga, dengan sendok di tangannya yang masih tersangkut di bibir bawahnya, dengan mulut terbuka.

Untungnya keterkejutan Junho tidak berlangsung lama, karena Wooyoung kembali, tapi dengan raut wajah yang berbanding terbalik dengan sebelumnya, ia panic.

"Junho-yah," panggil Wooyoung dengan suara serak, sambil menggebrak meja dengan sedikit keras. "Temani aku ke rumah sakit."

"Mwo?" Junho masih menganga bingung. Belum 'ngeh sama sekali. Kenapa tiba-tiba mau ke rumah sakit?

"Jebal~ temani aku ke rumah sakit," rengek Wooyoung sambil menghentakkan kakinya panik, dengan mata yang mulai memerah.

EnD Flasback.


Ultra Lover

By Jang Aya

Fantasy/Romance

Disclamer: Semua anggota 2pm milik Tuhan. Dan cerita ini asli milik Ayaaaaa! Yah, buatan Aya sendiri!

Pairing: Khunwoo, ChanHo, TaecSu.

Summary: "Kau bisa saja menggunakan mulutmu untuk mengucapkan apapun yang kau mau. Tapi matamu berbeda, mereka tidak bisa menurutimu untuk membohongiku." Nichkhun tertegun.

Warning: BoyxBoy. Shounen-ai. Akan ada beberapa lyric Ultra Love sendiri dari 2pm yang akan diselipkan, moga saja tak terganggu.

AU, school life.

Junsu, Taecyeon, Jaebeom – kelas 3 sma.

Wooyoung, Junho, Chansung, and member snsd – kelas 2 sma

IU – kelas 1 sma.

Don't like, so i hope you dont read this. Oke?


Ultra_love_by_2PM

Wooyoung: Looking for love~ negal o komete
(Mencari cinta~ mengharapkannya)

Dekirusa... jibun o shijite
(Kau pasti bisa, Percayakan pada dirimu sendiri)


.

~ChanHo~

.


Junho tidak peduli dengan suara yang berteriak memanggil namanya dari belakang. Maupun derap langkah cepat yang mengejar larinya. Sampai akhirnya tangan itu meraih lengannya dan menariknya, menghentikan langkah cepat Junho.

"Kubilang berhenti!" pinta Chansung dengan nada tajam.

Junho segera menghapus air matanya, sebelum ia berbalik, menoleh pada Chansung yang terus mencengkram erat lengannya agar tak lari lagi.

"Kenapa kau lari dariku?"

"Kau mendengar semuanya?" Junho malah balik bertanya. "Kau sudah dengar semuanya 'kan? !" serunya lagi dengan nada lebih tinggi.

Mereka berdua terdiam sejenak sambil terengah-engah karena lelah dengan kejar-kejaran mereka tadi. Suasana di sekitar mereka sepi, karena keduanya berhenti di belakang gedung sekolah, tak jauh dari taman sekolah tadi, tempat Junho berbagai 'cerita' dengan Wooyoung beberapa detik yang lalu.

"Biar pun aku sudah mendengarnya. Itu tidak akan merubah apapun Junho," kata Chansung tegas sambil terus menatap lekat mata Junho.

Junho menganga, sebelum akhirnya ia mendengus remeh. "Kau!" ia menunjuk dada Chansung. "Perasaanmu sekarang itu tidak lebih dari sebuah ilusi. Jadi sebaiknya lupakan saja tentang kita. Gali akal sehatmu untuk berpikir, dan kembalilah seperti dulu." Junho mencoba untuk melepaskan cengkraman Chansung pada lengannya. Tapi jari-jari Chansung begitu keras bertautan, tanpa sedikit pun bergerak menjauh.

"Chansung! Lepaskan!" perintah Junho sedikit memberontak.

"Tidak!" suara Chansung terdengar agak serak. Junho begitu terkejut melihat mata Chansung yang mulai memerah. "AKU TIDAK AKAN PERNAH MELEPASKANMU JUNHO!" serunya kemudian.

Junho terperangah, seketika itu juga hatinya bergetar, dan ia ingin kembali menangis.

Chansung menariknya dengan cepat, ke dalam pelukannya. "Jangan pernah berpikir aku akan melepaskanmu Junho, itu tidak akan pernah terjadi. Dan aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi dariku. Tidak akan pernah," bisik Chansung sambil menggeleng.

Junho mendorong dada Chansung untuk menjauh. "C-chansung! Aku pikir–"

Tapi Chansung kembali menarik Junho ke dalam pelukannya. "Tidak ada yang perlu kau pikirkan! Tak bisakah kau hanya memikirkanku saja? Seperti Aku yang selalu memikirkanmu. Hanya kau yang ada dalam pikiranku Junho..."

"Tapi, buku itu sudah–"

"Persetan dengan buku itu!" potong Chansung dengan suara yang semakin serak. "Kumohon Junho. Jangan tinggalkan aku... jebal.. hiks..." bahunya gemetar, ia menangis. "Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan jika aku kehilangan dirimu..."

Hati Junho tidak bisa leleh melebihi dari ini lagi setelah mendengar permohonan namjachingunya. Chansung sungguh tergila-gila padanya, seperti apa yang sudah tertulis di Love note itu. Tapi kemudian Junho segera menggeleng, mengenyahkan dan membuang jauh-jauh pikiran itu, mencoba mengabulkan permintaan Chansung untuk tidak memikikan hal itu lagi.

Setelah semua yang sudah terjadi. Dia ingin mengambil keputusan yang tegas. Oke, sebaiknya lupakan masa lalu itu dan juga tentang kehadiran love note. Sekarang yang terpenting tentang perasaannya sendiri. Junho sendiri juga tidak akan mau meninggalkan Chansung, tidak akan pernah. Mengenai perasaan Chansung sendiri, tulus atau tidaknya itu, Junho akan berusaha untuk mengubahnya. Yah, mengubah perasan Chansung menjadi tulus hanya untuk dirinya, hanya dirinya. Harap Junho.

Perlahan ia membalas pelukan Chansung, mengelus punggung dan sekitar bahu namja tinggi itu yang gemetar karena tangis. "Mianhe," bisik Junho, ia pun tak bisa menahan air matanya yang menetes sedikit. "Aku tidak akan melakukan hal bodoh ini lagi, channie..." janjinya. Berhasil menenangkan hati Chansung.


Ultra_love_by_2PM

Junho: Imakara mukae ni ikunda
(Tujuanku sekarang hanya dirimu)

Uh Baby, dare nimo maketakunainda
(Uh Baby, Aku tidak akan kalah dengan siapapun)

Chansung: Don't give up! Korea ga saigo no koisa
(Jangan menyerah! Inilah kesempatan terakhirmu untuk cinta)

Furueru my heart kakeruyo Ride on now
(Aku mempertaruhkan segenap hatiku, Ride on now)


.

~KhunYoung~

.


Tubuh gadis muda itu terbaring di atas ranjang. Dengan berbagai peralatan medis yang menempel pada tubuhnya, mulai dari jarum infuse yang menancap di pergelangan tangan kirinya, sampai pada alat bantu pernapasan yang menutupi hidung dan mulutnya. Selang lain di balik baju pasien yang ia genakan, terhubung pada kotak mesin kecil, pembaca denyut nadinya, yang berjalan lemah.

Sudah lebih dari dua jam Wooyoung berada dalam ruangan itu. Duduk dengan sabar di samping ranjang. Ia sedikit membungkuk dengan kedua tangan yang bertumpu pada sisi ranjang dan mengenggam lembut tangan kanan yeoja itu yang tidak terhubung dengan infuse.

Matanya menatap sendu pada wajah yeoja itu yang terus menutup mata dalam tidur panjangnya. Ia mencium pelan permukaan tangan yeoja itu, dan menggosoknya lembut pada pipinya, terasa dingin.

"Aku akan terus menunggumu, IU," bisiknya pelan. "Aku yakin kau pasti akan sadar dan terbangun dengan senyumanmu itu." Wooyoung ikut tersenyum membayangkannya. "Kisah kita juga pasti berakhir dengan happy ending, seperti kisah-kisah cinta yang sering kau ceritakan padaku sejak kecil. Iya 'kan IU?"

Sementara itu. Nichkhun juga terus berdiri di luar ruangan. Memandang keduanya dari balik jendela kecil di pintu kamar pasien tersebut. Ia lalu mendesah, dan matanya beralih pada lantai rumah sakit. Entah apa yang dia pikirkannya saat ini.

Tak lama kemudian Wooyoung keluar dari ruangan itu. Karena jam besuk untuk siang ini sudah habis. Ia berjalan pelan sepanjang koridor menuju lift, sementara Nichkhun mengikutinya dari belakang.

Mereka berhenti sesaat di depan pintu lift, Wooyoung menekan tombolnya dan menunggu pintu itu terbuka.

"Kau sering mengunjunginya?" tanya Nichkhun kemudian memecah keheningan di antara mereka.

"Tiap minggu," jawab Wooyoung tanpa menoleh pada Nichkhun di sampingnya. "Tidak bisa tiap hari. Karena jarak rumah sakit dan rumahku tidak dekat. Belum lagi nuuna-ku lebih mengkhawatirkan aku kalau aku sering ke sini."

"Ooh..." Nichkhun mengangguk-angguk mengerti.

Pintu lift terbuka. Kebetulan isinya kosong tanpa seorang pun di dalamnya. Wooyoung melangkah masuk. Ia hendak menekan tombol lift lagi, tapi kemudian terhenti dengan nyerngitan heran di wajahnya melihat Nichkhun.

"Kau tidak masuk?" tanyanya heran pada Nichkhun yang masih berdiri di luar lift.

"Ah, ya. A-aku masuk," jawab Nichkhun canggung dan ikut melangkah masuk. Bergabung dengan Wooyoung di dalam lift. Ia sedikit tersenyum geli, menyadari ia perlu menaiki lift dalam sosok seperti ini.

"Dia itu yeojachingu-ku," ujar Wooyoung setelah pintu lift itu tertutup dan bergerak turun. "Jadi kau sebaiknya tidak usah menggoda atau pun menggangguku lagi," wanti-wanti Wooyoung dengan ketusnya.

"Ya, ya, Aku tahu." lagi-lagi Nichkhun mengangguk-ngangguk dengan kedua tangan yang tertaut di balik punggungnya. "Aku tidak mengganggumu kok. Hanya menunggu..." timpalnya lagi dengan senyuman nakal.

"Yach!" seru Wooyoung protes, dan segera mengambil langkah jauh dari sisi Nichkhun. Menempel pada dinding sudut lift tersebut, dengan kedua tangan yang juga menempel pada dinding, seperti cicak.

Nichkhun terkekeh melihat tingkah Wooyoung yang lagi-lagi tampak lucu di matanya.

"Kau..." desis Wooyoung penuh waspada. "J-jangan pernah menciumku lagi," ujarnya dan langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. Lagi-lagi wajahnya memerah jika mengingat hal itu. Bisa-bisanya ciuman pertamanya, ia lakukan dengan seorang namja. Dia yang sejak kecil sudah 'pacaran' dengan IU saja tak pernah melakukan ciuman di bibir. Palingan hanya di pipi, kening, atau pun tangan. Tidak ciuman sesama bibir sekalipun. 'Ah… betapa menyedihkannya diriku,' pikir Wooyoung.

Tapi Wooyoung tak mampu mengingkari, kalau ciuman dan lumatan lembut bibir Nichkhun saat itu begitu memabukkannya…. 'Omo!' dan Wooyoung segera menabrakkan keningnya pada dinding lift untuk menghilangkan pikiran 'kotor'(menurutnya) itu.

"Ah. Yang mengenai ciuman kemarin itu…" Nichkhun menggaruk tengkuknya, canggung. "M-maafkan aku," ujarnya kemudian sambil sedikit membungkuk.

"Anggap saja itu sebagai incident tak terduga. Aku melakukan secara tidak sadar," kata Nichkhun. 'Itu karena kau begitu mempesona,' tambahnya lagi dalam hati. Tapi kemudian Nichkhun segera menggelengkan kepalanya, membuang jauh-jauh pikiran tersebut. Tidak boleh, untuk saat ini, mempunyai perasaan seperti itu hanya menambah resiko baginya.

Lalu selama ini untuk apa Nichkhun sering menggoda Wooyoung? Itu karena berbagai ekspresi marah Wooyoung dan cara ia ngambek tampak begitu lucu di mata Nichkhun. Dan ia sangat menyukai ekspresi dan segala tingkah Wooyoung, yah, hanya itu. Pikir Nichkhun meyakinkan dirinya sendiri.

"Sebaiknya. Jangan membahas ciuman itu lagi," kata Wooyoung dingin sambil menunduk. Entah kenapa, hatinya sedikit sakit dan ia merasa marah secara tiba-tiba begitu tahu Nichkhun melakukan ciuman itu secara tidak sadar.

'Tidak sadar katanya? Hah. Sulit dipercaya,' pikir Wooyoung. Ia mendengus kesal dan segera melangkah keluar ketika pintu lift terbuka, setibanya di lantai satu.

Nichkhun menyerngit heran sepeninggalan Wooyoung. "Bukannya yang pertama kali membahas ciuman itu dia. Kenapa sekarang dia yang kelihatan marah?" gumamnya pada dirinya sendiri.

Langkah cepat Wooyoung menuju pintu keluar terhenti begitu mendengar suara namja lain memanggil namanya.

"Wooyoung-ah!"

Wooyoung menoleh, mendapati Taecyeon berdiri tak jauh darinya sedang melambai ke arahnya dengan senyuman lebarnya itu. Namja tinggi itu pun menghampiri Wooyoung.

"Habis menjenguk pacarmu?" tanyanya langsung.

"Hm," Wooyoung mengangguk. "Hyung sendiri?"

"Aku juga habis menjenguk seseorang, temanku," jawab Taecyeon. "Kau sendirian?"

"Ah," Wooyoung menolehkan kepalanya ke segala arah, mencari Nichkhun. "Tadinya sih ada teman yang menemaniku, tapi..." Wooyoung menelengkan kepalanya ke samping, tampak bingung. "Kurasa dia sudah pulang duluan," jawabnya agak ragu.

"Ooh... jadi sekarang kau mau langsung pulang?"

"Ndeh hyung."

"Bagaimana kalau sekalian denganku saja?"

Dan Wooyoung langsung tersenyum sumringah. Kapan lagi dapat tumpangan gratis?


.

~KhunYoung~

.


"Kau masih bertengkar dengan Junsu?" tanya Taecyeon, membuka percakapan di antara mereka.

Wooyoung yang duduk di samping kemudi –yang dikendarai Taecyeon sendiri– menggangguk lemah. "Hm," ia lalu mendesah. "Lebih tepatnya Junsu hyung yang sedang marah padaku."

"Sebenarnya masalah kalian itu apa? Aku tidak pernah melihat kalian tidak bicara satu sama lain lebih dari dua hari," Taecyeon menoleh ke arah Wooyoung sekilas, namun yang didapatinya malah tatapan curiga dari Wooyoung. "Mwo?" tanya Taecyeon heran lalu kembali fokus pada jalanan di depannya.

"Itu urusan kami, hyung."

Taecyeon mendesah. "Oh ayolah Wooyoung-ah, ceritakan padaku. Aku hampir mati penasaran karena Junsu sama sekali tak ingin cerita padaku."

"Oh," kata Wooyoung dengan ekspresi datarnya. "Jujur saja hyung, kau mau mengantarku pulang karena berniat ingin mengorek segala informasi penting dariku, ya 'kan?. Kenapa tidak sekalian kau culik diriku saja dan membawaku ke gudang gelap, mengikat tubuhku dan mengancamku akan membunuhku atau memutilasi tubuhku."

Taecyeon sweatdrop seketika. "Yach. Dari mana kau mendapatkan pikiran menyeramkan seperti itu?"

"Molla," jawab Wooyoung dengan polosnya. Ia kemudian memiringkan kepalanya sedikit ke kanan dengan telunjuk kanan yang menekan pipinya, dengan mata menerawang ke atas, berpikir. "Mungkin dari novel pembantaian yang baru kubaca kemarin," lanjutnya lagi, sedikit ragu.

"Jangan baca itu lagi," pinta Taecyeon ketus. "Wajah polosmu itu sangat tidak cocok dengan pemikiran sadis begitu."

"Jijjayo?" Wooyoung mengangguk-ngangguk sendiri dengan pertanyaannya sendiri. 'Mungkin kalau bacaan tentang horror cocok denganku,' pikirnya lagi. Sepertinya otak Wooyoung mulai terganggu dengan ucapan Nichkhun tempo hari yang mengatakan, 'Apa kau tidak punya buku cerita yang lebih menantang? Seperti perkelahian, pembunuhan, atau tema horror yang menakutkan?'

"Lagipula aku tidak mungkin sesadis itu denganmu. Kau masih dongsaengku yang paling cute, Wooyoung-ah~" rayu Taecyeon kemudian, sambil menaik-naikkan alis tebalnya dengan senyuman lebar. Berharap Wooyoung luluh juga untuk bercerita padanya.

Wooyoung menghela nafas, ia akhirnya menyerah juga. "Junsu hyung marah padaku, karena..." Ia memalingkan kepalanya ke jendela mobil di sampingnya, menatap pemandangan siang hari di sepanjang jalan. "Aku sudah menyebabkan orang yang Junsu hyung cintai semakin menjauh darinya."

Dan mobil itu langsung berhenti mendadak di tengah jalan karena Taecyeon menginjak rem secara tiba-tiba. Tubuh Wooyoung sedikit berayun ke depan, untungnya ia tidak terluka karena sabuk pengaman yang sudah ia pakai.

"Hyung!" protes Wooyoung.

"A-ah, mianhe," Taecyeon segera melanjutkan laju mobil seperti semula, beruntung ia tidak berhenti di tengah jalan yang ramai. Bisa gawat karena itu dapat menyebabkan kecelakaan beruntun.

Suasana dalam mobil tiba-tiba terasa canggung, karena Taecyeon sama sekali tak mengatakan sepatah kata pun setelah itu. Apalagi Wooyoung, ia bingung dan berbagai pertanyaan muncul di kepalanya begitu melihat reaksi Taecyeon tadi secara tiba-tiba.

"Hyung," panggil Wooyoung kemudian.

"Hm,"

"Kau marah?"

Taecyeon menoleh ke Wooyoung sebentar dan kembali fokus pada jalanan di depannya. "Setelah mendengar ceritamu tadi, aku jadi marah dengan Junsu. Bukan dengan dirimu,"

"Waeyo?"

Taecyeon mendesah. "Dia curang," ketusnya jengkel. "Aku bahkan tak pernah tahu kalau dia naksir seseorang. Sementara dia? Sangat tahu kalau aku mengejar Yoona. Bukannya itu artinya dia curang, karena tak pernah menceritakan sekalipun padaku. Aissh... sebagai sahabat aku merasa dikhianati." Taecyeon menepikan dan menghentikan mobilnya, ia sudah sampai di depan rumah Wooyoung.

Wooyoung tampak berpikir sambil meneliti raut wajah Taecyeon.

"Waeyo?" tanya Taecyeon curiga.

"Hyung, apa kau tidak merasa kecewa atau cemburu?"

"Cemburu?" tanya balik Taecyeon.

Wooyoung mengangguk antusias.

"Tentu saja aku cemburu,"

Wooyoung tersenyum sumringah.

"Itu karena dia lebih memilih bercerita denganmu daripada aku, teman sekelas yang lebih dekat dengannya," lanjut Taecyeon, membuat senyum Wooyoung menghilang, tergantikan dengan bibir mengerucut kesal. "Yach, Wooyoung-ah, siapa orang yang disukainya itu?" kini giliran Taecyeon yang bertanya dengan antusias.

Wooyoung yang sudah tak mood, menjawab dengan ogah-ogahan. "Dia namja, satu sekolah dengan kita."

"Mwo? Namja? Siapa dia?" Taecyeon terkejut. "Apa dia orang yang ku kenal? Mungkinkah... Jaebom?" tanya Taecyeon lagi lebih antusias menatap Wooyoung.

"Yach! Kenapa tidak hyung tanyakan sendiri pada Junsu hyung? !" seru Wooyoung kesal, membuat Taecyeon tersentak dan memundurkan kepalanya. "Aissh... Jijja," dengus Wooyoung tak habis pikir dengan hyung-nya yang menurutnya sangat pabbo.

Wooyoung segera membuka pintu mobil dengan kasar. Ia keluar dari mobil itu, tapi sebelumnya, ia kembali berbicara pada Taecyeon melalui jendela mobil yang sudah ia buka.

"Terimakasih atas tumpangannya hyung. Oh ya, hyung. Meski kau sudah jadian dengan Yoona. Kau jangan pernah melupakan Junsu hyung. Tetap selalu jaga dia baik-baik selama aku tidak ada, arraso?"

"Yach! Meski kau tidak memintanya, aku pasti akan selalu menjaganya!" balas Taecyeon tidak kalah kesal, merasa tidak dihormati karena tingkah Wooyoung seperti sedang menitipkan pacarnya. Oh, ayolah, Wooyoung itu hanya dongsaengnya.

"Baguslah," Wooyoung berdiri.

"Dia pikir dirinya siapa? Mentang-mentang dia donsaeng tersayangnya bukan berarti dia memiliki Junsu sepenuhnya," gumaman Taecyeon dalam mobil itu sempat terdengar oleh Wooyoung yang baru meninggalkan mobil itu dalam beberapa langkahnya.

Seketika itu Wooyoung berhenti melangkah, dan ia kembali mendekati mobil itu dengan sangat antusias. "Hyung!" panggilnya semangat.

"Omo!" Taecyeon yang baru mau menjalankan mobil, terkejut dengan munculnya kepala Wooyoung di kaca mobil sebelah. Ia segera menurunkan kembali jendela kaca tersebut. "Apa lagi?"

Wooyoung memasang wajah yang sangat serius. "Hyung, kalau boleh, aku mau jujur langsung padamu sekarang,"

"Hah?" Taecyeon memasang wajah cengo. "Kau mau jujur tentang apa?"

"Sebenarnya…." Wooyoung sengaja memperlambat ucapannya agar terdengar lebih mendramatisis dengan menghirup nafas yang sangat dalam. "Aku sangat mencintai Junsu hyung."

"MWO?" seru Taecyeon terkejut bukan main, dengan mata yang nyaris keluar dari tempatnya. Reaksinya yang sangat berlebihan menjawab pertanyaan Wooyoung dalam hati.

Tapi Wooyoung langsung nyengir, dan terkekeh geli. "Aku hanya bercanda," ujarnya kemudian dan pergi memasuki rumahnya, meninggalkan Taecyeon yang masih cengo di tempat karena kelakuan Wooyoung yang menurutnya sangat ganjil.


.

~TaecSu~

.


Ok Taecyeon sekali lagi melihat tampilan dirinya di dalam kaca. Dengan pakaian formal, berkemaja putih dan berjas hitam. Untuk tampilan seorang siwa sma tingkat akhir, ini terlihat lucu, pikirnya. Tapi apa boleh buat. Malam ini dia akan menghadiri pertemuan penting bersama orang tua Yoona.

Pembatalan pertunangan oleh Yoona dengan Seunggi secara mendadak tentu menimbulkan pertanyaan bagi kedua orang tuanya. Karena itu Yoona diminta untuk segera memperkenalkan namja yang diakui sangat ia cintai. Taecyeon sendiri tak habis pikir, karena Yoona langsung memintanya segera bertunangan. Kalau dipikir-pikir, perubahan Yoona terlalu cepat berpaling padanya. Tapi Taecyeon seolah acuh dengan hal itu.

"Kau terlihat sangat tampan Oppa," puji Yoona setelah Taecyeon menemuinya di ruang tamu rumah Taecyeon sendiri. Yeoja itu memang berinisiatif sendiri untuk menjemput 'Oppa' tersayangnya.

"Jijjayo?" Taecyeon tersenyum sumringah mendapatkan pujian dari yeoja cantik itu.

Yoona mengangguk semangat. "Kajja, kita pergi sekarang." ia mengandeng tangan Taecyeon.

"Chakkaman." Tapi Taecyeon terhenti, merasakan getaran di sakunya. Ia mengambil ponsel tersebut. "Yopseyo Junsunnie," suara Taecyeon sedikit lebih lembut, terlebih lagi dia tersenyum sambil mengangkat panggilan itu.

Yoona menyerngit melihatnya.

"Taecyeon-ah. Aku... a-ku..." suara Junsu terdengar bergetar di sana.

"Kenapa? Ada apa?" Taecyeon mulai khawatir.

"A-aku tak tahu lagi harus menghubungi siapa," kata Junsu dengan nada panik. "A-appa, appa-ku baru saja kecelekaan di Daegu, Taecyeon-ah…" suara Junsu terdengar serak. "Aku ingin segera ke sana, tapi…. tapi…. bis terakhir ke Daegu sudah berangkat sejam yang lalu. Aku tak tahu harus bagaiman sekarang. Ottoke?"

"Umma-mu, di mana keluarga umma-mu sekarang?" tanya balik Taecyeon.

"Mereka semua masih di Taiwan!" tanpa sepengetahuan Taecyeon, Junsu sudah menangis di sana. "Aku harus segera menemani appaku malam ini juga. Aku tidak ingin dia sendiri di sana… Jebal Taecyeon-ah… antarkan aku…"

"Ndeh. Kau di mana sekarang?" tanpa pikir panjang Taecyeon segera menyanggupinya.

Yoona tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Junsu, tapi tubuhnya langsung menegang begitu mendengar pertanyaan namjachingu-nya.

"A-aku masih di terminal antar kota," Junsu mulai merasa tenang.

"Arraso. Tetaplah di sana. Aku akan segera ke sana dan mengantarmu ke Daegu."

"Oppa!" seru Yoona protes, kesal dan tak habis pikir.

Junsu menyerngit mendengar suara Yoona yang tampak nyaring di salurannya. "K-kau bersama Yoona?" tanyanya.

Taecyeon terdiam, menatap Yoona dengan ponsel yang masih menempel di telinga. Seketika itu pikirannya terbagi dua.

Tak ada jawaban dari Taecyeon, membuat hati Junsu mencelos. "Kau tak perlu mengkhawatirkan aku, Taecyeon-ah. Aku... aku bisa pergi sendiri. Aku akan memikirkan cara yang lain." Junsu harus mempersiapkan hatinya sendiri ketika ia berkata dengan lirih, "Bersenang-senanglah dengan Yoona..."

"T-tunggu dulu! Junsunnie, Junsunnie!"

Tapi hanya suara 'tut-tut' yang membalas seruan Taecyeon. Wajah Taecyeon berubah panik. Ia hendak berjalan keluar rumah, namun lengannya yang masih dirangkul Yoona menghentikan langkahnya. Namja tinggi itu menoleh dan beradu tatap dengan pandangan Yoona yang memelas.

"Oppa!" panggil Yoona. "Kau tidak bermaksud untuk membatalkan janji kita kan?" harapnya.

"Mianhe chagiya," Taecyeon melepaskan rangkulan Yoona pada lengannya. "Junsu lebih membutuhkanku sekarang."

Yoona sempat menganga mendengarnya. "Tapi sekarang aku juga sangat membutuhkanmu Oppa!" rengeknya. "Orangtuaku sudah menunggu kita di sana."

"Tapi masalah Junsu lebih penting sekarang. Ayahnya kecelakaan, dan sendirian di–"

"Lebih penting aku atau dia? !" potong Yoona kesal.

Taecyeon tertegun. Tak bisa menjawab.


.

~KhunYoung~

.


Wooyoung dengan penampilan mencurigakan, melihat sekeliling dengan waspada sebelum ia memasuki bis antar kota tersebut. Berharap tidak ada orang yang mengenalinya sekarang ini. Namja chubby itu menggunakan jaket abu-abu dengan hoodie yang menutup sebagian kepalanya, juga untuk menutupi seragam sekolah yang ia kenakan di balik jaket itu. Kaca mata hitam -sunglasses juga ia kenakan, sehingga bagian wajahnya hanya memperlihat bibir yummy-nya yang berwana pink dan separuh hidungnya.

Setelah mengambil tempat duduk kedua dari belakang dekat jendela, Wooyoung menghela napas lega sambil menyandarkan punggungya. Untungnya bis kali ini sangat sepi. Hanya ada satu keluarga dan tiga orang penumpang yang duduk di depannya. Terang saja tak terlalu ramai, mengingat ini adalah hari senin dan masih jam delapan pagi. Siapa yang ingin berpergian ke luar kota pada jam kerja begini jika tidak ada hal yang penting.

"Membolos sekolah, eoh?"

Wooyoung tersentak kaget. Tubuhnya menegang seketika. Ia menoleh ke samping dan terkejut bukan main mendapatkan Nichkhun sudah duduk nyaman di sampingnya. Seperti biasa, dengan senyuman ramahnya sambil melambaikan tangan, "Annyeong~"

"MWO?" seru Wooyoung terkejut, tapi kemudian ia segera menutup mulutnya sendiri. Tak ingin mengundang kecurigaan penumpang lain karena suara kerasnya, ia kemudian berbisik pada Nichkhun. "Kenapa kau di sini?"

"Sudah jelas 'kan? Aku tidak mungkin diam saja ketika seseorang membawa bukuku sampai ke luar kota," sindir Nichkhun tapi masih dengan nada santai dan tersenyum.

"Daebak," Wooyoung mendesis dengan wajah terkejut. "Kau... jeongmal... stalker terhebat yang pernah kuketahui. Kau pantas mendapatkan penghargaan museum rekor Korea."

Nichkhun tersenyum bangga. "Jijjayo?"

Wooyoung mendesis sebagai jawabannya. "Aissh... aku hanya bercanda," ketusnya.

Tapi Nichkhun tetap tersenyum padanya. Menatap Wooyoung yang sekarang sudah membuka kacamata sunglasses sementara bis telah berjalan meninggalkan terminal.

"Ngomong-ngomong," Nichkhun membuka perkacapan. "Untuk apa kau pergi ke Daegu di tengah-tengah jam pelajaran sekolah? Tak ku sangka kalau kau termasuk siswa nakal yang pergi membolos," sindir Nichkhun sambil menggelengkan kepala tak habis pikir.

"Yach! Haruskah kau juga tahu hal itu?" balas Wooyoung sewot. Kesal karena namja itu selalu ikut campur urusannya.

Nichkhun memasang wajah polosnya sambil mendekati wajah Wooyoung, membuat Wooyoung memundurkan kepalanya dan terpojok antara kaca bis dengan kursi penumpang, nafasnya tertahan melihat manik mata Nichkhun menatapnya lekat. "Aku tidak boleh tahu, yah?" kata Nichkhun. "Padahal kupikir aku adalah temanmu, bukannya itu yang kau katakan pada namja tinggi itu di rumah sakit kemarin?"

Wooyoung mencerna ucapan Nichkhun dan pikirannya kembali terbang ke memori kemarin. Di mana Taecyeon menghampirinya di lantai dasar rumah sakit. "Kau sendirian?" dan Wooyoung menjawab, "Tadinya sih ada teman yang menemaniku, tapi..."

"Sudah ingat?" tanya Nichkhun memotong lamunan Wooyoung.

Wooyoung mendesah. Lagi-lagi dia selalu kalah jika berdebat dengan Nichkhun. "O-oke, aku akan beritahu padamu. Tapi mundurlah dulu." Wooyoung mendorong jauh bahu Nichkhun. Rasanya dia benar-benar tidak bisa berpikir normal kalau Nichkhun terlalu dekatnya. Merasa risih? Mungkin.

Nichkhun menurutinya, ia kembali duduk di tempatnya dengan tenang, siap mendengarkan Wooyoung.

"Aku harus cepat-cepat ke Daegu untuk menemani Junsu hyung. Aku ingin menghibur dan menguatkannya. Kudengar tadi pagi, semalam Appa Junsu hyung kecelakaan, dan baru tadi subuh, beliau telah meninggal dunia." Wooyoung menghela nafas sedih, "Junsu hyung sekarang pasti sangat terpukul dan sendirian di sana. Belum lagi keluarga umma-nya belum kembali dari taiwan sejak seminggu yang lalu."

"Keluarga ummanya?" tanya Nichkhun heran dengan kejanggalan dari cerita Wooyoung.

Wooyoung mengangguk lemah. "Ndeh. Orang tua Junsu hyung sudah berpisah sejak lima tahun yang lalu. Ummanya menikah lagi dengan orang Taiwan dan menetap di Seoul. Sementara Appanya masih menetap di Daegu tapi tidak pernah menikah lagi."

Nichkhun terdiam, tak membalas apapun. Matanya lalu tertuju ke bawah, menunduk sambil menerawang jauh.

"Bagaimana denganmu?" suara Wooyoung membuyarkan lamunan Nichkhun. Ia menoleh dan mendapati Wooyoung yang menatapnya lekat.

"Maksudmu?"

"Selama ini selalu aku yang bercerita tentang diriku dan orang terdekatku kepadamu. Tapi kau tak pernah sedikit pun bercerita mengenai dirimu," kata Wooyoung sambil menatap Nichkhun dengan pandangan meneliti yang lekat. Dari ujung kaki hingga kembali ke atas. Penampilan namja baby face itu tetap selalu sama dengan pakaian casualnya, seperti remaja biasanya. Tapi entah kenapa Wooyoung merasa kalau namja itu terlalu banyak menyimpan rahasia darinya. "Siapa kau sebenarnya?"

Nichkhun tersenyum. "Kan sudah kubilang, namaku Nic–"

"Bukan itu maksudku," potong Wooyoung. "Maksudku itu tentang dirimu, asal-usulmu, kehidupanmu. Apa kau seorang pelajar atau pengangguran? Apa kesibukanmu selama ini? Apa hanya mengikutiku saja? Sebegitu pentingnya kah love note itu untukmu? Tak adakah pekerjaan lain yang kau punya?"

Nichkhun sempat cengo dengan pertanyaan Wooyoung, tapi kemudian ia kembali tersenyum. "Itu ra–"

"Jangan menjawab pertanyaanku dengan kata 'rahasia' lagi. Itu menyebalkan, kau tahu?" potong Wooyoung dengan kesalnya. Ia mendengus sambil mencibir, "Sok misterius." Wooyoung melipat tangannya di depan dada dan mempoutkan bibirnya sambil memalingkan wajahnya. Ngambek.

Nichkhun terkekeh. Tangannya lalu terulur dan menarik hodie jaket abu-abu yang menutupi sebagian kepala Wooyoung. Menampakkan rambut hitamnya yang sedikit berantakan.

"Yach!" Wooyoung hendak protes sambil menoleh kembali pada Nichkhun. Namun tangan Nichkhun yang mendarat di atas kepalanya, mengacak rambutnya dengan lembut sambil terkekeh pelan, membuat Wooyoung terpaku.

"Kau sangat lucu, kau tahu?" Nichkhun tersenyum setelah menyelesaikan kekehannya. Berbeda dengan senyuman biasanya yang menampakkan keramahan atau pun senyuman jahilnya, itu sebuah senyuman tulus dan itu sangat terpati jelas dalam manik mata Wooyoung. "Sabar yah Uyongie~" kata Nichkhun lagi sambil memajukan wajahnya untuk lebih dekat dengan Wooyoung. "Suatu saat nanti, aku pasti akan menceritakan semuanya padamu. Aku janji, arraso?"

Wooyoung berkedip. Ia langsung menoleh dengan cepat ke kaca bis di sampingnya sambil menampik tangan Nichkhun dari atas kepalanya. Jantungnya terus berdegub kencang dan wajahnya berubah merah tanpa sepengetahuan Nichkhun. Aissh... bisa-bisanya ia sempat terpesona dengan namja tersebut dan membuatnya gugup setengah mati.

"Waeyo?" tanya Nichkhun heran melihat gelagat Wooyoung yang tak mau menatapnya. "Kau marah?"

"Ani,"jawab Wooyoung tanpa menoleh. "Tapi..."

"Tapi apa?"

"Setidaknya ceritakan masalah yang kau punya."

"Masalah?" Nichkhun semakin heran.

"Ndeh," Wooyoung mengangguk tanpa menoleh. Matanya masih terus memandang jalanan di sampinya. "Kau pasti juga punya suatu masalah. Seperti Junho dengan Chansung, Junsu hyung dengan Taecyeon hyung, dan aku dengan IU..."

"Masalah cinta maksudmu?" Nichkhun terkekeh pelan. "Aku tidak punya. Selama ini aku selalu menjalani hidup ini dengan menikmatinya. Kau tahu? Aku cukup tampan untuk memikat banyak yeoja cantik dan mengecani mereka sesuka hatiku." kembali terkekeh tapi tatapannya menghindari manik mata Wooyoung yang kini berbalik menatapnya lekat.

Wooyoung mendengus. "Bohong."

"Yach! Masa' wajah tampanku ini tidak bisa dijadikan bukti bagimu. Kau saja sempat terpikat denganku 'kan?" Nichkhun mulai dengan aksi menggoda Wooyoung. Sambil tersenyum nakal pada namja chabby itu dan memberikan wink andalannya.

Tapi Wooyoung malah menatap datar kelakuan Nichkhun. Seolah ia sudah mempan dengan godaan seperti itu tiap hari.

"M-mwo?" Nichkhun mulai merinding dengan tatapan tajam Wooyoung.

Wooyoung menghela nafas dan tatapannya mendadak berubah menjadi lembut pada Nichkhun. "Kau bisa saja menggunakan mulutmu untuk mengucapkan apapun yang kau mau. Tapi matamu berbeda, mereka tidak bisa menurutimu untuk membohongiku."

Nichkhun tertegun. Mulutnya sedikit terbuka. Ia hendak mengatakan sesuatu untuk menyangkalnya, tapi lidahnya terasa kelu karena tatapan Wooyoung yang tak lepas dari matanya. Tatapan itu begitu lembut dan sejuk, seolah mengatakan 'Gwencana, gwencanayo,' jika ia mau menceritakannya. Untuk pertama kalinya ia mendapatkan tatapan menenangkan seperti itu dari Wooyoung, membuatnya terpaku.

Selang beribu detik dengan saling menatap tanpa ada yang bicara, lebih tepatnya Nichkhun tak ingin bicara juga. Membuat Wooyoung menghela nafas dan berpaling kembali menatap jalanan di luar. "Arraso," gumamnya. "Aku tidak akan memaksamu."

"Yeojachingu-ku selingkuh dengan ayahku sendiri."

"MWO?" dengan gerakan cepat Wooyoung kembali berpaling menatap Nichkhun dengan mulut terbuka.

"Waeyo? Kau bilang kau ingin dengar ceritaku 'kan?" Nichkhun tersenyum miris.

Wooyoung tak tahu ia harus bersikap senang atau malah sedih. Karena raut wajah sedih Nichkhun dibalik senyumannya itu, juga membuat Wooyoung sedih melihatnya.

.

.

.

.

_To_be_continue_


Pengennya sih langsung dilanjutin dengan cerita Nichkhun. Tapi ternyata words-nya udah banyak, sampai halaman 17. Ommo! Kalau kepanjangan takutnya reader 'blenger' (bosan) bacanya.

KYAAAA~~~ 2PM Shipper Aya kembali menggebu-gebu. Dan Aya saaangaat excited banget setelah nonton Real 2PM yang 'Fan Meeting making film'! Banyak Scene CHANHO muncuul~

Ketika Chansung memanggil Junho: "Junho-yah! Come here. COME ON BABY~" *kyaaa#Aya bersorak gila

Terus saat Junho dan Chansung memakai kostum monkey (yang lucunya mereka tambah cute) berpose aegyo di atas panggung sambil berangkulan. "Boing-Boing," *Kyaaaa#langsung Aya buat jadi photo profil akun.

Masih banyak lagi….. yang di 'Eversense Making film' juga. Ada Junho yang ngegambar Chansung, dan Chansung mengakui, "Junho-yah, menggambarku lagi,"

Ai-ai-ai... Aya makin excited~ :D


minIRZANTI: itu mungkin karena konflik Khunwoo masih belum muncul. Makanya Wooyoung masih belum menderita. (Wooyoung: Mwo? Belum? Jadi selama ini apa? *mencekik leher Author*)

khunyoung shipper: Tenang aja… fic ini akan tetap aman di rated T. yah, sejauh ini sih…. *siul2 mencurigakan#plaaak!
Ommona~ jangan memujiku terlalu berlebihan begitu,, kalau Nichkhun sampai tau Author ff ini cantik terus berpaling dari Wooyoung kepadaku bagaimana? *reader muntah berjamaah*

khunxwoo:Okee... selama masih ada yg ngereview, author akan update secepatnya ^^

Kim 'Nyx' Eunjung: waaaaah~~ benarkaaaah? ? ? kalau begitu aku berhasil menggambarkannya... *senang/girang* Oke, problem-nya tidak akan seberat gajah Thailand kok... xD
Nichkhun lagi galau dengan statusnya sendiri, makanya ragu ngecippok.. *tawa laknat#plaak!

Kirapi:pengennya sih tadi ini dilanjutin dan dibanyakin scene khunwoo dalam bis, tapi berhubung author baru sadar klo ternyata words-nya udah kelebihan banyak.. jadi diputus sampai di sini dulu deh,, tunggu chapter depan aja yaw… ^^

Weniangangel:sejauh ini masih rada pendekatan, jadi kalau tiba-tiba hot kan, gak lucu? Tapi chap depan 'mungkin' mereka akan lebih berani untuk leeeebihhh dekat lagi… :D

Kira itu Jung Dabin Naepoppo:Ommona? Kamu pernah ngalamin yang sama dengan Junsu? Yang sabar yah chingu….

Shymi Oktizen: kalau koment yang sekarang nyampe… tapi kalau yang kemarin kayaknya tidak chingu… O,o
Amiin… moga makin banyak juga ff 2pm di sini… :D makasih chingu…^^

Balloon: Waah... saya juga suka WooU *sama2 ababil* jadi bingung mau akhirnya seperti apa *nah lho?*
Iya dunk... Wooyoungie kan cute-ah~ :D Hwaiting! *mengepalkan tangan ke udara

milkyway:Okee….^^

nn: yang kemarin update cepat soalnya target reviewnya juga cepat terpenuhi… :D Wah,, klo lemon jangan di ff ini yah, yang begituannya ada di ff laennya aja yg udah berated M… xD
Gomawo chinguuu….. *seneng banget*

Momoelfsparkyu: Aya aja yang nulis ikut senyum2 gaje plus guling2 gaje di kasur pas nulis scene-nya Khunwoo yang kemarin… :D

Ostreichweiz: ooh… apa perlu Junsu kusuruh meninju dadanya sendiri juga yah? *Buagh#dapet gratisan tendangan dari Taecyeon* (tepaar….)
Gomawoo udah di fav~ *senengnya nari hula2*


Gamsahamida udah ngereview di chap lalu…. Kalian sukses buat Aya senyum-senyum gaje membaca review kalian… :D

Chapter ini pun berakhir dengan: Manisnya pelukan ChanHo; Puncak kegalauan TaecSu; dan baru awal dari romance KhunYoung... *jiah*

Review Again Ok?

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .