Anime/Manga » Naruto »

ME & DAD
Author:
Aoyama Return PM
Hanya sekumpulan Drable sang anak dengan Ayahanda tercinta, yang ditulis oleh Author kurang kerjaan. Warn: GEJE ABIS. PART II UPDATE!
Rated: Fiction T - Indonesian - Family - Shikamaru N. & Shikaku N. - Chapters: 2 - Words: 1,445 - Reviews: 10 - Favs: 4 - Updated: 04-12-12 - Published: 04-08-12 - id: 8005683
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

Naruto © Masashi Kishimoto

Me and Dad © Author kurang kerjaan

Warning : geje abis Me and Dad

Sebuah intermeso yang saya tulis bedasarkan rasa rindu terhadap Ayahanda tercinta.

Catatan yang menggambarkan kedekatan seorang anak dengan sang Ayah.

Hanya fiksi belaka, namun terselip kisah nyata. Anda ingin membanyanya? Silahkan saja... ^^

-
[1. Cantik]

Pagi hari, aku tengah duduk memandangi seorang wanita dewasa―seorang janda. Namanya Tante Anko, dia adalah tetanggaku. Saat itu, tante Anko berusia 37 tahun, dan aku saat itu baru menginjak 12 tahun―kelas dua SMP.

Lagi asik mandangin tante Anko yang lagi ngejemur pakean, Papa datang sambil ikutan duduk di kursi teras sambil bawa kopi sama singkong goreng.

"Lagi ngeliatin apa, Ka? Serius banget."

"Shika lagi ngeliatin tante Anko, Pah. Tante Anko cantik, ya, Pah?"

"Hmm..." Papa bergumam sambil celingukan kiri-kanan―takut ada Mama. XD

"Mama gak ada, Pah."

"Iya, Ka. Cantik banget."

Suara yang tak asing terdengar dari belakang kami.

"Siapa yang cantik, Pa?"

Seketika Papa nelen ludah.

Shika gak ikutan aaahhh...

[ 2. Nembak Cewek ]

Saat itu, di Sekolahku ada anak baru―cewek. Aku ceritain sama Papa tentang anak baru itu. Sumpah! Aku suka banget sama tuh cewek.

"Pah, tadi di Sekolah, ada anak baru lho."

"Dari mana?"

"Bandung katanya. Orangnya manis banget, Pah. Cantik..."

"Cewek?"

"Yaiyalah, Pah, Cewek. Massa cowok cantik."

"Terus?"

"Aku pengen dia jadi cewek aku, Pah. Tapi, aku gak tau cara nembak cewek. Kata temenku, aku disuruh pedekate dulu."

"Temenmu payah, Ka. Gak usah PDKT, ntar kalo ada yang nyalip, gimana? Nyesel lho."

"Terus, gimana dong?"

"Langsung tembak aja. Bilang kalo kamu suka sama... Siapa namanya?"

"Temari."

"Nah, itu. Bilang kalo kamu suka Temari."

"Wah, terang-terangan banget, Pah?"

"Papa juga dulu gitu. Papa bilang sama Mama. Aku suka sama kamu."

"Gitu doang?"

"Gak juga sih. Ah, kamu mah kayak bukan cowok aja. Udah, langsung aja tembak."

"Kalo dia bilang gini, 'Siapa lo, berani nembak gue?' gimana?"

"Bilang aja kalo kamu itu hacker."

"Nah lho, apa hubungannya?"

"Gini, kalo dia nanya gitu. Kamu jawab, 'Karena aku mampu membobol canggihnya pertahanan hatimu'"

"Waah, keren. Ok. Shika coba besok."

Esoknya aku mencoba apa yang disarankan papah. Alih-alih diterima, malah pipiku kena gampar. (T^T)

Entah kenapa kena gampar, aku bilang 'Karena aku mampu membobol canggihnya pertahananmu'.

[ 3. Sama ]

Ini ceritanya aku udah punya cewek. Taulaaa siapa ceweknya.

"Pah, Papa pengen punya isteri lagi, gak?"

"Hmm," seperti biasa, kalo nyangkut masalah ginian, Papa pasti celingukan kiri-kanan. Tau 'kan kenapa?

"Mama lagi ke warung, Pah. Gimana?"

"Kok kamu nanya gitu, Ka?"

"Gini, Pah, Shika 'kan udah punya cewek, tapi Shika pengen punya lagi." ==a

"Jawab jujur apa boong nih?"

"Jujur lha, mumpung Mama lagi gak ada."

"Pengen banget, Ka, serius deh. Kita bener-bener sama, Ka."

Aura membunuh dari belakang kami terasa begitu mencekam.

"Apanya yang sama, Pah?"

Shika kabur aaahhh... Gak tau deh nasib Papa setelah itu...

[ 4. Gantian ]

Hari minggu. Kebetulan hari tersebut tepat semua keluarga―aku, Papa, sama Mama, berkumpul di rumah.

Aku lagi baca Novel lama yang baru ketemu lagi, setelah beribu tahun lupa simpan.

"Novel baru, Ka?"

"Udah lama, Pah."

"Kok Papa baru liat?"

"Baru ketemu, ini 'kan Novel dapet dari Papa."

Papa ngambil Novel lain yang tersedia di rak buku di kamarku. Papa pun ikutan baca.

Dari dapur terdengar seruan Mama manggil kami.

Kalo lagi gini, boro-boro dengerin orang yang manggil. Ya, beginilah kami berdua. Kami tak akan menggubris apapun, meski pun itu kebakaran sekali pun.

Kayaknya, Mama benerah kehabisan kesabarannya. Mamah buka pintu kamarku dengan keras.

"Papa sama Anak, sama aja! Mama capek-capek bikin buat makan sama beresin rumah. Kalian malah asik gini!"

"Ma...maaf, Ma," kata Papa dengan wajah semanis mungkin.

"Enak banget bilang maaf! Mama bakar juga semua bukunya!"

"Jangan, Mah. Papa aja yang dibakar! Jangan Novel aku!"

"Enak aja kamu, Ka, numbalin Papa kamu sendiri."

Akhirnya, setelah negosiasi panjang dan memakan waktu lama. Akhirnya...

Aku sama Papa beresin rumah sama masak buat makan siang. Mamah gantian yang baca Novel di kamarku dengan ditemani teh manis buatan Papa dan pijatanku di kakinya yang ditumpangin di bantal. Sungguh hari libur yang merepotkan. T~T

[ 5. Keren ]

Nah, yang ini cerita ketika aku sama Papa beresin kamar. Kebetulan kita nemu album foto keluarga.

"Siapa nih, Pah, norak banget gayanya?" aku nunjukin potret seorang pria remama dengan kemeja bermotif bunga, dengan kancingnya di buka dari atas sampe dada. Terus kemejanya dimasukin ke celana. Pake sabuk mini, celananya ketat banget pas bagean paha, kebawahnya longgar. Sepatunya agak bulat di ujungnya.

Kalo fisiknya, gini; rambut panjang sebahu, kurus kerempeng, matanya ketutup kacamata item, jambangnya kayak Roma Irama. Bibirnya bergelayut rokok.

"Enak aja norak. Ini yang nyetak kamu, Ka."

"Jadi, ini Papa? Oh, sungguh mengecewakan dandanan Papaku dulu."

"Mengecewakan gimana? Ini-nih lagi tren waktu itu, keren tahu."

"Keren darimananya? Kaya artis dangdut taun 70-an."

"Emang ini taun 70-an, Shika."

"Nih, yang cewek siapa, Pah?"

Seketika tawa Papa meledak-ledak melihat siapa yang aku tunjuk. Tau 'kan siapa?

a/n: saya sudah jelaskan dari awal kalau ini adalah fiksi Geje, lanjut gak ya?

Saya gak tahu, niat bikin case, malah yang jadi beginan (_ _'')a

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .