Anime/Manga » Naruto »

Penyejuk Musim
Author:
Hoshi Yamashita PM
Sekuel dari 'Sesal'. Mengisahkan kehidupan keluarga Uchiha yang dihantui oleh cerita lama dan masa lalu. Ketika Sakura mengulurkan tangannya kepada Sasuke, ada tangan lain yang menyambutnya./ #6: Masa Lalu. RnR please?
Rated: Fiction M - Indonesian - Family/Drama - Sasuke U. & Sakura H. - Chapters: 6 - Words: 33,452 - Reviews: 222 - Favs: 69 - Follows: 30 - Updated: 01-19-13 - Published: 04-10-12 - id: 8009923
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

"Kau memang kesepian, dan hanya aku yang bisa mengobati rasa kesepianmu itu…,"

"Syukurlah Naruto-kun mengerti…,"

"Aku… tetangga Sakura di Suna,"

"Dulu kupikir kau bukan ayahnya. Haruki tidak mirip dengan orang yang kukira adalah ayahnya. Ah, emm, bagaimana ya? Bingung menjelaskannya."

"Boleh Haruki minta buat sama Ayah dan Ibu?"

"Dengan kelahiran Haruki, aku malah jadi bahagia."

"Ah, bagaimana kalau kau datang saja ke pameran nanti?"

"Katakan padaku, Sakura! Apa manusia bisa berubah?"

"Seperti dirimu yang telah berubah sampai sejauh ini. Manusia pasti bisa berubah, asal ada kemauan."

"Bisakah kau merubah pandanganmu…? Untuk menoleh ke arahku… dan melupakan Naruto?"

Dan Sakura pun membeku dibuatnya.


Penyejuk Musim

Naruto © Kishimoto Masashi

'This is SasuSakuNaru fiction'

.

.

.


#5 Semi: Kebenaran

Spring: The Truth


Rasanya panas dan gerah. Tubuhnya terasa tak memiliki cukup koordinasi untuk digerakkan. Sasuke merasakan penderitaan yang begitu menyakitkan begitu membuka mata. Perlahan pria emo itu meraba lehernya. Hanya halusinasi atau ia memang merasa badannya panas?

Kepalanya berdenyut nyeri. Ia merasa ada beban dengan beribu kilo menjatuhkan diri ke atas dahinya. Oh, Tuhan, apa yang sedang terjadi?

Jam di dinding menunjukkan pukul lima. Lima sore atau pagi? Jika ini masih pukul lima sore, kenapa Sasuke merasa kalau ia tertidur lama sekali? Tunggu, bukan hanya itu. Sasuke sedikit mengingatnya. Ya, bukankah ia jatuh? Dan seharusnya sekarang ia berada di lantai.

Mata Sasuke mengarah ke jam listrik yang berdiri setia di atas meja. Ini pukul 05.03 am. Ia memang tidur, dan ada seseorang yang memindahkannya dari lantai ke ranjang.

Dalam ketidaksengajaan, Sasuke menangkap sesuatu yang ganjil, yang membuatnya menggantung alis heran. Ada sebuah nampan dan baskom di atas mejanya. Nampan itu berisi segelas air putih yang telah kosong setengah, dan sebotol wadah berisi obat. Sementara baskom itu berisi air biasa. Di sebelah nampan, ada sebuah kertas. Begitu Sasuke membaca apa yang tertulis di kertas itu, Sasuke tak bisa menahan senyumnya untuk tidak mengembang.

'Ayah sakit gara-gara tertular Haruki ya? Haruki minta maaf kalau begitu. Semoga Ayah cepat sembuh ya. Dari Haruki.'

Hihi, ini tulisan Itachi. Itachi benar-benar kurang kerjaan mau diminta menuliskan surat seperti ini.

Sasuke meraba dahinya. Di sana masih menempel sebuah kain kompresan yang baru Sasuke sadari keberadaannya. Ah, jadi ia memang sakit ya? Ada-ada saja.

Sambil menahan rasa pening menghujan, Sasuke berniat untuk turun ranjang, ia ingin ke kamar mandi. Tetapi, alangkah kagetnya. Ketika hendak turun, ia mendapati kakinya hendak menginjak seseorang yang tengah tertidur pulas. Sasuke hampir tak percaya dengan apa yang ia lihat. Sakura tidur beralaskan futon yang digelar di samping ranjangnya.

Jadi, perempuan ini yang merawatnya?

Sekali lagi Sasuke tersenyum. Entah mengapa ia merasa lega, sangat lega. Perasaan senang yang tak terkira ini… begitu membuat hati Sasuke sejuk.

Dengan perasaan senang yang menguap, Sasuke seakan tak merasakan sakit apapun lagi. Tak panas di tubuhnya, tak juga pusing di kepalanya. Sasuke memindahkan tubuh Sakura dengan hati-hati ke atas ranjang. Diselimutinya wanita itu dengan hati-hati pula.

Sakura sama sekali tak memperlihatkan tanda-tanda kalau ia akan terbangun. Kelihatannya wanita itu sangat lelah. Mungkinkah Sakura menjaga Sasuke semalaman?

Sasuke tersenyum sekali lagi dan membiarkan Sakura untuk tertidur pulas. Niatnya menuju kamar mandi pun mendadak hilang.

0o0o0

"Ups."

Itachi segera menutup kedua mata Haruki dengan tangannya. Padahal ia tahu, Haruki sudah terlanjur melihatnya. Ya… melihat pemandangan yang tak baik dilihat oleh anak kecil sepertinya.

"Kenapa, Paman?" tanya Haruki heran.

Itachi memutar pikiran. Haruki mencoba menyingkirkan tangannya dari depan mata bocah itu, namun Itachi tak menyerah. Ia tetap mempertahankan tangannya demi kebaikan Haruki di masa depan. Dalam hati, Itachi menyumpah serapahi adiknya sendiri.

"Haruki mau mbangunin Ayah. Kasihan Ibu. Ayah kan lagi sakit, nanti Ibu juga ketularan, kayak Haruki yang nularin Ayah," Haruki memprotes dengan semangat juangnya yang tinggi untuk menyingkirkan tangan pamannya dari matanya.

Itachi meringis. Agak lama ia menimbang-nimbang, akhirnya ia memutuskan untuk cepat-cepat menggendong Haruki dan melesat ke luar kamar itu. Tapi kelihatannya Haruki menjadi marah dan menjerit keras sekali mengolok pamannya yang menjengkelkan. Jeritan Haruki untuk meminta kembali ke kamar ayahnya mungkin menggema ke seisi rumah yang besar itu.

Sakura tak bisa tidur nyenyak lagi. Keributan yang dibuat Haruki dengan pamannya benar-benar membuat mimpinya tandas dalam sekejap. Terlebih, ia mulai sadar, ada angin yang berhembus dengan teratur dan bersuhu hangat menyapu tengkuk lehernya. Sesuatu yang berat menindihnya, membuatnya sulit untuk bergerak. Sakura membuka mata perlahan. Tuhan, apa yang terja—

"Astaga!" pekik Sakura kaget menyadari posisinya sendiri. Apa-apaan ini? Sejak kapan ia tidur bersama Sasuke?

"Nggh…." Sasuke melenguh, lalu berpindah posisi. Ia membelakangi Sakura.

Sakura langsung duduk. Ia memandang Sasuke curiga. Apa Sasuke yang memindahkannya? Tapi kapan? Dan kenapa ia tidak bangun saat tubuhnya dipindahkan?

Sakura gigit jari. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Jantungnya berbunyi aneh, detaknya bahkan sangat asing baginya. Ia merasakan sensasi aneh menjalar ke dadanya, lalu semakin merambat, menuju pipinya. Sakura merona.

Kejadian kemarin sore masih terekam jelas dalam ingatannya—seberapapun inginnya wanita itu untuk melupakannya. Sedikit banyak, Sakura merasa khawatir. Hal itu tidak bisa dikesampingkan. Ia tak bisa berhenti memikirkan perkataan Sasuke padanya—sebelum akhirnya pria itu ambruk.

Kalau saja ia harus memilih mempercayai kemungkinan terburuk, ia juga tidak tahu apa mesti dilakukan untuk mengantisipasinya.

Kenapa Sakura jadi takut kalau saja Sasuke yang mengetahui hubungannya dengan Naruto adalah kemungkinan terburuknya?

Kenapa? Kenapa?

Perubahan… Sasuke meminta dirinya untuk berubah… dalam ketidaksadaran pria itu berkata. Berubah melupakan… ah.

Selama beberapa menit Sakura merenungi diri. Barulah setelah itu, ia memeriksa kondisi Sasuke. Disentuhnya dahi pemuda itu. Suhu badannya masih tinggi.

"Ng?" Sasuke membuka matanya perlahan. Ia merasa ada sesuatu yang bertengger di dahinya. Secara spontan, ia pun menyingkirkannya, dan itu membuat Sakura kaget. Mendengar pekikan tertahan Sakura, membuat Sasuke membuka matanya selebar mungkin. Ia langsung menatap Sakura, dengan tatapan terkejut juga. "Ah, maaf."

"T-tidak apa-apa," jawab Sakura agak terbata.

"Aku—" Sasuke bangkit perlahan. "Maaf, memindahkanmu tanpa izin, aku hanya—"

Perkataan Sasuke sukses terhenti. Melihat reaksi Sakura yang sungguh di luar dugaan—jelas Sasuke tercengang. Seumur-umur, baru dlihatnya kali ini. Wajah memerah Sakura di pagi hari.

"Ah, aku ada rapat." Sasuke cepat-cepat bertindak untuk menetralisir keadaan—tunggu, menetralisir dari apa?

"Eh, tapi, kau kan sedang sakit." Sakura buru-buru menahan.

"Rapatnya lebih pen—"

"Jangan keras kepala!"

Bentakan Sakura agaknya membuat Sasuke menegang, membatu di tempat.

"Sakitmu bisa tambah parah kalau kau memaksakan diri…." Sakura menundukkan kepala, menyadari kelancangannya membentak. Dia sakit, jelas dia sakit. Kalau tidak, mana mungkin kejadian kemarin menimpaku?

Sasuke diam. Sakura diam. Suasana hening kemudian.

"Terima kasih sudah merawatku. Aku tahu kau yang melakukannya," ucap Sasuke sambil memalingkan wajah. Ia menggaruk dahinya karena bingung mesti berbuat apa.

Tak terdengar sahutan keluar dari bibir Sakura. Wanita itu tengah asyik memandangi Sasuke dengan pandangan yang sulit diartikan. Apa mungkin Sakura hanya belum terbiasa dengan Sasuke gemar sekali meminta maaf? Bukan, bukan seperti itu. Sakura hanya memikirkan tentang sesuatu yang sangat mengganjal di hatinya.

Apa Sasuke sama sekali tak ingat dengan apa yang dilakukannya padaku kemarin? Barang sedikit saja tidak ingat?

"Hn. Ada apa?"

Sakura tersentak. Cepat-cepat digelengkan kepalanya. Sambil tersenyum canggung, ia turun dari ranjang. Namun ketika Sasuke hendak turun juga, Sakura menahannya.

Sasuke menaikkan sebelah alisnya tanda protes.

"Jangan keras kepala. Kau hanya akan menyakiti diri sendiri kalau tetap bersikeras."

Agak lama Sasuke berpikir, lalu ia menghela napas pasrah. "Tolong telepon sekretarisku."

"Ah, tentu." Sakura tersenyum puas. Lalu ia beranjak ke depan telepon yang ada di atas meja. Setelahnya ia memencet nomor sesuai kata Sasuke. Panggilan pun tersambung beberapa detik kemudian. "Moshi-moshi.

0o0o0

Karin baru saja sampai di mejanya. Sengaja ia berangkat pagi hari ini. Ya, ia menelantarkan pekerjaannya kemarin gara-gara habis untuk berdebat dengan Suigetsu dan berujung pada mood kerjanya yang memburuk. Karin berniat menyelesaikan pekerjaannya hari ini, tanpa menunda-nunda. Tapi yang sial, ternyata Suigetsu juga sama dengan dirinya.

Mereka berdua saling melempar pandangan tak suka dengan kesal satu sama lain.

Mendadak, ponsel Karin berbunyi. Awalnya gadis itu menggeram kesal, siapa pula yang pagi-pagi begini meneleponnya? Mengganggu pekerjaan saja.

Awalnya wajah Karin memang tidak bersahabat, namun setelah melihat siapa yang meneleponnya, wajahnya menjadi sangat cerah. "Tumben Sasuke meneleponku," pipinya merona bersinar, hal itu membuat Suigetsu jadi penasaran dan meliriknya.

Karin berdeham agar suaranya terdengar jernih, lalu cepat-cepat ia menjawab panggilan. "Moshi-moshi."

"Moshi-moshi." Terdengar sahutan di seberang sana. Namun, yang membuat Karin membeku dalam sekejap adalah… yang menyahutinya suara perempuan. Astaga….

Ponsel Sasuke berada di tangan perempuan pagi-pagi begini…? batin Karin kaget. Pikirannya sudah parno. Ia memikirkan yang tidak-tidak. Apa mungkin ibunya? Adik? Atau… apa? Apa? Apa?

"Kau sekretaris Sasuke?"

Karin mengerjap. Masih dengan tanda tanya di kepala, ia menjawab ragu, "I-iya…."

"Aku ingin mengabarkan kalau dia tidak bisa masuk kerja hari ini karena sakit. Ah—Sasuke ingin bicara padamu—"

Karin mengangkat alisnya. Entah mengapa, jantungnya berdetak cepat sekali. Dalam hati, ia memohon-mohon supaya apa yang dipikirkannya tentang bosnya ini adalah salah.

"Karin?" Sasuke memanggil dari jauh di seberang sana.

"Y-ya…?"

"Katakan pada Suigetsu kalau dia yang menggantikanku rapat siang ini."

"Ya…," jawab Karin separuh kehilangan nyawa. Ia terlalu kaget, dan pikirannya terbawa arus negatif ke mana-mana.

"Baiklah—"

"Tunggu, tunggu!" cegah Karin sebelum Sasuke mematikan teleponnya. Ia menggigit bibir. Dipegangnya telepon genggam di tangannya dengan gemetar. "Maaf kalau ini pertanyaan pribadi. Ng, kau di rumah sakit?"

"Tidak. Aku di rumah."

Tubuh Karin langsung jatuh ke kursinya. Mulutnya menganga, sementara matanya melebar. Mungkinkah Sasuke memiliki dokter pribadi yang bersedia datang ke rumahnya pagi-pagi begini? Memang berapa bayaran dokter itu? Ya, kecuali… ada sesuatu yang tersembunyi di balik semua ini.

Sasuke memutus panggilan secara sepihak. Menyisakan Karin yang tersentak kaget, lalu melamun memikirkannya. Hal itu memacu rasa keingintahuan Suigetsu untuk bertanya.

"Ada apa? Sasuke meneleponmu pagi-pagi begini?"

Masih dengan ekspresi wajahnya yang seolah mengatakan aku-tidak-percaya-hal-ini-bisa-terjadi, Karin menjawab, "Sasuke tidak masuk hari ini. Dia sakit."

"Oh," sahut Suigetsu datar. Ia tahu, biasanya kalau seperti ini, pasti ia akan disuruh menggantikan Sasuke memimpin rapat nanti siang. Tapi kenapa kabar biasa ini membuat Karin seperti orang yang baru kehilangan kewarasannya begitu? "Lalu kau kenapa?"

"Aku akan biasa saja tapi kalau yang meneleponku tadi bukan perempuan!"

" He?"

Karin menatap Suigetsu cemas. Tatapannya seolah menandakan kalau gadis itu meminta pendapat.

"Mungkin dokter pribadinya?"

"Pagi-pagi begini? Sasuke di rumah. Dan setahuku, Sasuke tak memiliki dokter pribadi! Kemungkinan terbesarnya… adalah mungkin Sasuke tidak sakit, tapi, tapi…."

"Ia bermain perempuan? Jangan bercanda Karin. Kaupikir sudah berapa tahun aku mengenalnya? Dia bukan tipe orang yang seperti itu. Orang kaku sepertinya hanya terfokus pada pekerjaan, aku tak pernah menangkap adanya ketertarikan dia pada hal semacam yang kaupikirkan."

Karin menunduk. Matanya memanas. Dadanya sesak, terasa seperti dihianati. Ia merasa sakit hati.

"Jangan berpikir yang bukan-bukan."

Karin menggeleng. Air matanya mulai menetes, sedikit demi sedikit.

Suigetsu memutar bola matanya. "Kalau kau memang mencintainya, setidaknya kau percaya kalau ia takkan berbuat yang tidak-tidak. Kau dan aku juga telah mengenal Sasuke sejak lama. Kita tahu bagaimana ia."

"Tapi, aku memang merasa kalau akhir-akhir ini Sasuke berubah…." Karin menangis kecil. Ia mulai terisak, dan itu membuat Suigetsu jadi gerah.

"Kenapa kau tidak mencoba membuktikannya sendiri? Hanya sekedar untuk membuatmu yakin bahwa Sasuke tetap menjadi Sasuke yang selama ini kita kenal."

Karin menatap Suigetsu dengan tanda tanya di dahinya yang gampang sekali terbaca oleh Suigetsu.

"Datang saja ke rumahnya. Sasuke tak melarang itu, bukan?"

Karin diam, kentara sekali ia tengah menimbang-nimbang dan berpikir. Setelah itu ia tak berkata apa-apa selain berkutat dengan pekerjaannya dan berharap kalau pekerjaannya akan selesai secepat mungkin. Dan Suigetsu? Sepertinya ia tidak sadar, kalau berkat dirinya, Karin memperoleh kembali harapan baru dan juga kepercayaan dirinya yang sempat jatuh terombang-ambing.

0o0o0

Karin tak menyangka, ia berpikir bahwa dirinya seperti maling. Mengendap-ngendap begini di rumah orang : rumah bosnya. Rumah terlihat sepi. Yang Karin ingat, Itachi—kakak Sasuke—memang tengah bekerja kalau jam segini. Apalagi Fugaku, ayahnya Sasuke, sekaligus sang bos tertinggi. Eh, tapi kan Fugaku tengah berada di luar kota. Jadi… memang Sasuke berada di rumah sendirian? Ah, tidak, pasti bersama perempuan tadi pagi. Semoga saja memang benar dia adalah dokter Sasuke. Tapi tetap saja itu membuat kesal! Bagaimanapun juga, masa Sasuke berduaan saja bersama seorang wanita di rumah sebesar ini? Apalagi seingat Karin, Sasuke tidak punya pembantu.

Tapi, yang membuat Karin bingung untuk masuk atau tidak—sehingga terkesan ia tengah mengendap-ngendap—adalah… apa ia harus mengabari Sasuke kalau ia tengah berada di depan rumahnya untuk menjenguk?

"Tante lagi apa sih?"

Karin tersentak. Ia mendengar suara seseorang di belakangnya. Dengan takut-takut, Karin menoleh ke belakang. Sumpah, jantungnya seperti ingin meminta bunuh diri saat itu juga saking kagetnya. Ah, apa begini rasanya jadi penderita jantung koroner? Haha, tidak nyambung sama sekali pemikiranmu, Karin.

Namun, begitu melihat siapa yang tengah menegurnya tadi, Karin hanya bisa tersenyum kaku. Huh, anak kecil?

Eh, tapi ngomong-ngomong, siapa sih anak kecil itu? Rambutnya mirip dengan Sasuke! Wajahnya juga! Yang membuatnya berbeda hanya warna iris matanya. Kyaa! Mirip sekali! Karin seperti melihat miniatur Sasuke. Hihi, Sasuke kecil. Apa mungkin bocah ini adalah adik Sasuke? Karin ingat, dulu Sasuke pernah bilang kalau dia punya adik. Tapi Karin tidak menyangka adik Sasuke sekecil ini. Haha, mungkinkah bocah ini yang membuat Sasuke sok meninggalkan pekerjaan belakangan ini? Tapi, kenapa sosoknya baru muncul sekarang? Ah, Karin tahu! Jangan-jangan ibu Sasuke sudah kembali ke sini. Karin ingat, dulu Sasuke pernah berkata kalau adiknya sedang bersama ibunya di suatu tempat, dan suatu saat akan kembali ke Konoha. Hah, Sasuke itu. Kenapa tidak cerita-cerita sih?

"Selamat siang," tegur orang lainnya yang berada di belakang anak kecil yang tengah dipikirkan Karin itu. seorang laki-laki berwajah dewasa. Rambutnya dikuncir kuda, dan terdapat goresan horizontal di tengah hidungnya. "Anda tamu ya? Berniat masuk?" tanyanya ramah.

Karin tersenyum canggung. Ia pun mengangguk sambil nyengir.

"Ayo, guru Iruka! Ayah pasti capek nunggu!"

Karin mengerjap. Ayah? Siapa? Apakah Tuan Fugaku sudah kembali ke Konoha? Kok, ia tidak tahu?

Sang pria yang dipanggil Iruka itu tersenyum ramah sambil membungkuk sopan. "Mari, kita masuk bersama," tawarnya.

Karin membalas sambil tersenyum ramah juga. Ia pun menurut. Dalam hati, Karin terus memikirkan anak yang terlihat sangat ceria di hadapannya ini. Jika dia memang adik Sasuke… Karin harus cari perhatian nih. Habis, cari perhatian sama Itachi susah! Ia gagal terus. Apalagi sama Fugaku! Tidak perlu ditanyakan kembali.

Bel sudah ditekan. Sepanjang selang waktu menunggu pintu terbuka, Karin mempersiapkan hatinya yang sejak tadi terjadi konflik batin antara terus maju atau pulang saja.

Dan ketika pintu dibuka, Karin merasa jantungnya meminta untuk melarikan diri dari tempatnya.

Sasuke sendiri yang membuka pintu. Hal itu langsung disambut pelukan si bocah kecil adik Sasuke sambil mengucapkan 'aku pulang'. Sasuke tersenyum kecil sambil membalas 'selamat datang' dengan pelan, lalu si bocah pun melesat ke dalam rumah setelah Sasuke berbisik kecil.

Begitu Sasuke menghadap lurus ke depan, betapa terkejutnya ia melihat sosok Karin di belakang Iruka. Iruka yang tahu hal itu segera menyahut. "Kebetulan tadi kami bertemu di depan," katanya menjelaskan.

Sasuke tak berkata apa-apa. Ia masih menatap Karin dengan tatapan yang terasa ganjil. "Terima kasih sudah mengantar Haruki."

"Ya, kalau begitu saya permisi," ucap Iruka mohon diri. Ia membungkuk ke Sasuke dengan sopan, lalu ke Karin.

Barulah setelah Iruka benar-benar tidak terlihat, Sasuke mulai angkat bicara. "Apa yang kaulakukan? Bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanyanya dingin dan penuh selidik.

Karin nyengir. Ia menggaruk belakang kepalanya. "Kau tenang saja, pekerjaanku sudah selesai semua. Aku hanya khawatir. Kau kan jarang sakit, jadi aku berinisiatif untuk menjengukmu." Karin mengangkat tangannya yang memegang keranjang buah.

Sasuke hanya menatap Karin datar. "Apa maumu?"

"Aku hanya ingin menjengukmu, tak ada maksud lain."

Sasuke tetap pada ekspresi dinginnya yang terlihat semakin dingin dengan wajah pucatnya sekarang. Ia tak menyahut. Tapi bagaimanapun juga, Sasuke masih menghargai Karin. Gadis itu sudah susah payah menyempatkan diri untuk menjenguk Sasuke yang sakit—meski secara pribadi Sasuke tak suka itu, terlebih ia tak mengizinkan Karin untuk membolos kerja meski pekerjaan gadis itu sudah selesai. Nasi pun sudah menjadi bubur. Karin sudah terlanjur berada di depan rumahnya, dan Sasuke tak punya pilihan lain selain mempersilakannya masuk. Tidak mungkin ia mengusirnya, bukan?

"Masuklah," kata Sasuke pada akhirnya, dan Karin pun masuk. Di dalam, ia langsung duduk di sofa sementara Sasuke berjalan ke arah dapur untuk mengambil minuman.

Karin menoleh kesana kemari. Dan ia memang tak menemukan keganjilan berarti di rumah Sasuke. Masih sama seperti dulu. Lalu… jika memang ada perempuan di sini, bukankah seharusnya dia yang membukakan pintu? Sasuke kan sedang sakit. Apalagi sampai Sasuke yang membuatkan minuman untuk tamu segala. Ah, apa perempuan itu sudah pergi?

Sasuke datang beberapa menit kemudian sambil membawa dua cangkir teh.

"Jadi… bagaimana keadaanmu?" tanya Karin.

"Seharusnya aku sedang berada di tempat tidur sekarang."

Eh.

Sasuke itu… bicaranya tetap saja asal mengungkapkan apa yang dipikirkannya, tanpa memikirkan perasaan orang lain. Pria itu tidak berubah. "Ah, maaf kalau begitu. Bagaimana kalau kau tiduran saja? Aku tak keberatan."

"Tidak perlu," jawab Sasuke tegas. "Kau, apa maumu ke sini? Bukankah kau sudah tahu sendiri kalau tidak suka dijenguk saat sedang sakit?"

"Err," Karin menatap Sasuke khawatir. Aduh, ia harus menjawab apa? Tidak mungkin ia jujur dengan berkata kalau ia akan memata-matai Sasuke. "Aku kan hanya khawatir padamu…," jawab Karin asal. "Ah iya, aku baru tahu kalau adikmu sudah kembali. Kau tidak pernah memberitahuku sebelumnya."

"Hn?"

"Anak kecil tadi. Siapa namanya?"

Sasuke menatap Karin agak lama dengan pandangan penuh selidik. Ia tampak tengah mengawasi pergerakan Karin. "Namanya Haruki. Dan dia bukan adikku."

Karin mengerjap. Tetap mempertahankan senyumnya, ia bertanya, "Oh, jadi siapa? Adik sepupumu?"

"Anakku."

Senyum Karin tetap tersungging di bibirnya, hanya saja senyuman yang tadinya tulus berubah menjadi senyum kaku. Pandangannya menjadi tidak terarah, dan tubuhnya menegang.

'Anakku'?

Kok… agak aneh ya?

Karin menatap Sasuke kembali. Ah, ada-ada saja. Mungkinkah ia salah dengar? Lagipula, kapan Sasuke menikah? Apakah pria itu kesepian sehingga mengadopsi seorang anak? Tapi… kenapa Haruki mirip sekali dengan Sasuke?

"Aku serius bertanya nih."

"Haruki memang anakku."

"Mana bisa aku percaya!" Karin mulai lepas kendali. Napasnya terengah-engah. Ia menatap Sasuke tajam, dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Kalau dilihat-lihat pun, aku sudah tahu kira-kira berapa umurnya, dan… memangnya sejak kapan kau menikah? Kemarin? Kalau kemarin, seharusnya anakmu juga tak sebesar itu!"

Sasuke memejamkan mata. Mungkin tak apa bercerita pada Karin tentang hal yang sebenarnya. Toh, ia juga tak mungkin menyembunyikan semua kebenaran dan juga tentang dirinya di masa lalu yang begitu hina kepada sahabatnya. "Aku memang belum menikah, tapi Haruki memang anakku."

Karin menatap Sasuke dengan alis berkerut. Ia terlihat waspada dengan apa yang selanjutnya akan dikatakan Sasuke. Jangan… jangan katakan seperti apa yang kupikirkan….

"Aku telah menghamili seseorang ketika aku masih SMA. Dan sekarang orang itu telah kembali setelah sekian lama dia pergi," kata Sasuke sambil tersenyum tipis. "Kembali dengan membawa buah hatiku."

Oh, Tuhan…

Mati-matian Karin menahan tangisnya. Kejadian ini… sama sekali di luar perkiraan. Ia mana berpikir kalau Sasuke sudah punya anak? Haruskah ia menyesali keputusannya untuk datang ke sini? Awalnya ia hanya ingin tahu apa Sasuke sudah memiliki kekasih atau belum, atau apa mungkin Sasuke bermain perempuan. Ternyata? Haha. Kenyataannya lebih menyakitkan daripada semua itu. Sasuke bahkan sudah mempunyai anak.

"Perempuan yang tadi pagi meneleponku itu…?" tanya Karin lemah. Ia memang sudah tak bisa berkata dengan lantang lagi. Separuh kesadarannya telah mengambang di ujung kepala.

"Ya, dia ibu Haruki."

"Dan kau berencana akan menikah dengannya…?"

Sasuke tak menyahut, hal itu membuat Karin menatap pemuda itu dengan cemas.

Haha, Karin… kau bertanya apa sih? Bukankah sudah tentu kalau Sasuke akan menikah? Kaupikir perempuan itu datang membawa anaknya ke Sasuke untuk apa lagi kalau bukan untuk meminta pertanggungjawaban? Astaga….

"Ya, tentu saja."

"…Sasuke…. Aku… izin ke kamar mandi sebentar, boleh?"

"Hn."

Karin langsung melesat menuju kamar mandi. Di sana, sepuasnya ia menangis sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri.

Kenapa… kenapa ia tak tahu akan hal ini sejak dulu? Kenapa juga ia harus mengharap pada Sasuke? Dan kenapa pula Sasuke tak menolak kehadirannya sejak awal? Pria itu membuatnya salah paham. Sasuke hanya berteman dengan seorang perempuan yaitu dirinya, kenapa pula Sasuke membuatnya beranggapan kalau pria itu juga menyukainya?

Sasuke… tahukah kau bagaimana rasanya hati perempuan yang sakit?

Kau telah memberikan harapan semu yang tak mungkin digapai. Kepercayaan diri dan harapan abstrak yang semula melambung tinggi, tiba-tiba jatuh dengan mutlak hanya karena sebuah fakta yang tak terprediksikan.

Kenapa kenyataan selalu begitu kejam dan tidak terduga?

Anak? Menurut Karin, itu jauh lebih menyakitkan dibandingkan fakta kalau Sasuke sudah memilki kekasih atau bermain perempuan. Itu kan sama saja artinya dengan selama ini hati Sasuke memang tak sedikitpun tertuju padanya, bukan?

Selama ini Karin tak pernah melihat Sasuke dekat dengan perempuan selain dirinya. Dan sekali Karin melihatnya, ternyata perempuan itu adalah ibu dari anak Sasuke? Perempuan yang akan dinikahi Sasuke? Ya Tuhan….

Karin yang tahu diri, segera menghapus air matanya. Ia langsung mencuci muka dan segera merias wajahnya agar Sasuke tak tahu kalau ia baru menangis. Setelah itu, Karin berniat izin untuk kembali ke kantor. Mungkin di sanalah ia bisa menangis sepuasnya.

Namun, Karin tak langsung menuju tempat Sasuke berada. Di ruang tamu ia memang melihat Sasuke, namun Sasuke sedang bersama anaknya. Akhirnya Karin bersembunyi terlebih dahulu.

"Ayah kan sakit, kok jalan-jalan? Kata Ibu, Ayah disuruh tiduran saja," Haruki memegang dahi Sasuke, seolah dirinya adalah dokter profesional. "Hiiy! Panas!"

Sasuke mengacak rambut Haruki. "Ayah masih ada tamu."

"Tante tadi ya, Yah?"

Sasuke mengangguk kecil. Tangannya mengusap rambut Haruki yang tengah duduk di atas pahanya dengan tubuh saling berhadapan dengannya.

"Tante itu menjenguk Ayah ya?"

Sekali lagi Sasuke mengangguk.

Haruki tampak berpikir keras. Ia memegang dagunya seperti orang dewasa. "Ah iya, Ayah. Tadi pagi Haruki lihat Ayah tidur dekat-dekat dengan Ibu. Ayah tidur di atas Ibu. Gimana kalau Ibu ketularan Ayah?"

Karin memejamkan mata sambil menghela napas. Ternyata sudah habis… ia memang harus berhenti sampai di sini. Bahkan ia belum sempat menyatakan perasaannya terhadap Sasuke. Hah… sebelum ia datang, hati Sasuke memang sudah terisi oleh seseorang. Haha, inikah yang namanya kalah sebelum berperang?

Karin tak mendengarkan lagi pembicaraan Sasuke dengan buah hatinya. Ia sibuk memantapkan hati untuk tidak menangis di depan Sasuke—percayalah, itu sangat sulit. Sambil menahan sakit hati yang teramat sangat, Karin menghampiri Sasuke. Di sana ia berkenalan dengan Haruki sambil tersenyum setulus mungkin. Ia berbasa-basi sebentar, seperti dengan berkata kalau ia penasaran dengan ibu Haruki—dan basa-basi itu terlalu berat baginya saat itu. Setelah itu ia izin untuk kembali ke kantor.

Karin meninggalkan rumah keluarga Uchiha dengan hati yang mencoba untuk berlapang dada. Berkali-kali ia menghela napas. Memantapkan hati untuk segera melupakan Sasuke. Bagaimanapun juga, Karin memang salah mengira. Selama ini Sasuke tidak menganggapnya sebagai seorang perempuan, melainkan hanya sekedar seorang teman.

Ah, jangan sampai Suigetsu menertawai perubahan bentuk matanya besok.

0o0o0

Ketika kondisi Sasuke sudah lumayan membaik, Sakura segera mengutarakan keinginannya.

"Sasuke, apakah besok kau bisa pergi bersamaku dan Haruki sebentar?"

"Hn, kemana?"

"Besok akan ada pameran di Konoha Park. Eng, aku… sebenarnya… ingin kita pergi bersama-sama besok."

Sasuke menatap Sakura tidak yakin, dan Sakura langsung membalas dengan senyuman penuh harap. Diam-diam, hati Sasuke tersenyum. Piknik keluarga, eh? "Tentu saja."

Sakura tak bisa menyembunyikan rasa senangnya, berbeda dengan Sasuke yang menyembunyikan rasa senangnya yang membludak di dalam batin. Malam itu mereka berdua begitu akur. Entah mengapa, mereka merasakan kebahagiaan yang selama ini belum pernah mereka rasakan. Yang Sakura tak tahu adalah kalau rasa senangnya malam ini hanya sementara. Ia tak sadar akan membawa kehidupannya ke dalam posisi yang menyulitkan dan serba salah. Ia tak tahu, dan tak pernah terbayang sebelumnya di otaknya, akan hal apa yang akan terjadi besok.

0o0o0

Pagi hari ini begitu cerah. Hawanya sangat sejuk untuk orang-orang me-refresh otak mereka di hari libur ini. Matahari tak begitu terik bersinar. Aroma musim panas yang sangat dirindukan tercium. Hamparan bunga-bunga yang tumbuh berkembang terlihat memanjakan penglihatan. Semua terlihat begitu indah di Konoha Park. Ditambah lagi, berbagai tenda besar yang didirikan di sana dengan satu tenda terbesar sebagai pusatnya.

Naruto mengamati sebuah foto hasil karyanya yang dipajang di salah satu tenda. Sebagai orang baru yang berkecimpung di dunia fotografi Konoha, ia merasa begitu bangga dapat diberi kesempatan untuk memamerkan hasil pandangan seninya. Di sebelahnya, Hinata tampak terkagum-kagum dengan hasil potret Naruto.

Sebuah potret kehidupan, di mana Naruto memotret sebuah pantai yang sepi. Cahaya yang menjadi dasar adalah oranye kemerah-merahan. Di pingiran laut, berjalan seorang gadis. Yang membuat foto itu istimewa adalah pada saat pengambilan gambar, ombak laut yang mengarah ke arah pantai tepat berada hanya di kaki sang gadis. Gambar itu berkesan bahwa sang gadis dalam potret seolah menarik air dari laut di bawah kakinya.

"Naruto-kun, ini indah sekali," Hinata memuji-muji dengan pipi bersemu.

"Sungguh? Hehehe…."

Naruto memperhatikan Hinata dari samping. Dalam hati, ia mencelos. Seharusnya yang berada di sampingnya kini bukan Hinata, melainkan Sakura. Malam itu ia tak tahu apa Sakura benar-benar mendengar perkataannya atau tidak, dan Naruto berharap semoga saja tidak. Sengaja, Naruto tidak mengingatkan Sakura lagi tentang pameran ini ketika kemarin ia meneleponnya. Ia benar-benar berharap Sakura tidak ingat ketika malam hari Naruto meneleponnya itu—malam ketika Haruki sakit. Ini memang di luar dugaan. Keesokan harinya Hinata muncul, dan menempel terus padanya. Tentu saja Naruto tak bisa menyembunyikan tentang pameran ini pada Hinata, dan Hinata pasti meminta untuk ikut. Naruto belum siap mengenalkan Hinata pada Sakura. Ia tak yakin kalau Sakura akan langsung paham kalau Hinata bukanlah apa-apanya jika bertemu nanti. Padahal Naruto sungguh menganggap Hinata hanya seorang gadis yang dianggapnya sebagai adik.

Naruto berencana akan mengenalkan Hinata pada Sakura kapan-kapan saja, tapi tidak sekarang. Ya, mungkin Naruto akan bercerita tentang Sakura pada Hinata sampai gadis itu mengerti dan tidak terus menempel padanya. Barulah saat itu Naruto akan mengenalkan Hinata pada Sakura.

0o0o0

Sasuke tak bereaksi berlebihan ketika ia bertemu Ino. Jadi Sakura bermaksud memberikan kejutan untuknya, eh?

Ino memandang Sasuke dengan tatapan kesal dan masih belum bisa mempercayai pria itu. Dalam tatapannya, ia seolah ingin berkata kalau ia akan membunuh Sasuke kalau sampai pria itu menyakiti Sakura. Dan semua itu hanya dibalas oleh tatapan datar Sasuke.

Sai tak menyangka kalau ia akan bertemu dengan sosok yang selama ini diceritakan Ino padanya. Ah, ternyata tak seperti apa yang dibayangkannya. Ino selalu berkata kalau sahabatnya itu sangat cantik. Tapi Sai merasa, Ino lebih cantik dibandingkan siapapun, bahkan dibandingkan Sakura yang kata Ino lebih cantik darinya.

"Aku tidak menyangka di usia yang begitu muda, kalian sudah memiliki anak," ucap Sai sambil tersenyum. Tumben sekali ia bisa mengerti situasi. Biasanya ia sangat blak-blakan. Bisa saja Sai mengungkit tentang perbuatan Sasuke pada Sakura—seperti yang diceritakan Ino—sampai berhasil membuat anak begini.

Sakura membalas itu dengan senyuman pula. Sementara Sasuke hanya diam saja.

"Siapa namamu, jagoan?" tanya Sai sambil berjongkok di depan Haruki.

"Uchiha Haruki!" jawab Haruki lantang dan tegas. Itu membuat Sai tertawa, dan Ino pun mulai tertarik pada anak itu. Ternyata memang tak seperti apa yang dibayangkannya. Meski wajah Haruki mirip dengan Sasuke yang dibencinya, tapi Ino tak bisa tidak tersenyum saat melihat bocah itu. Haruki terlalu menggemaskan baginya.

"Kau manis sekali, juga pintar bicara," Ino menjewer pipi Haruki yang tembem dengan gemas. Dalam hati ia menambahkan, 'Tak seperti ayahmu yang pintar bicara namun tidak manis!'

"Kalau Oom sama Tante?"

"Kamu panggil dia Oom Sai, kalau Tante, kamu panggil Tante Ino ya."

"Oom Sai, Tante Ino," Haruki bergumam lirih. Ia pun memandang Sai. "Oom Sai kok mukanya pucat banget sih? Kayak Ayah kalau sakit."

Sai mengubah senyum ramahnya menjadi senyum palsu. Sesungguhnya, perkataan Haruki sangat menusuk di hatinya, tapi ia harus menjaga imej. Tidak mungkin ia marah pada anak kecil seperti Haruki, bukan? Terlebih di depan Ino dan orang tua anak itu. Sial, ternyata Haruki orangnya sangat blak-blakan. Memang kenapa kalau wajahnya pucat? Apa ia harus melawan takdir Tuhan dengan berjemur agar kulitnya gosong? Percayalah, Ino bilang sendiri kalau kulit pucat Sai memiliki daya tarik yang tidak dimiliki pria manapun di dunia ini selain dirinya.

Oh, Sai, kau tak tahu ya kalau itu adalah karma di balik bicaramu yang selalu blak-blakan dulu? Jadi, bagaimana? Rasanya menjadi orang yang dulu sering kau hina secara tidak langsung?

"Kau tidak boleh berkata seperti itu," tegur Sasuke tegas. "Minta maaf pada Oom Sai, Haruki."

Haruki memandang ayahnya bingung, tatapannya seolah mengatakan kalau 'kenapa ia harus minta maaf'? Ia kan tidak bersalah. Memang apa yang salah kalau berkata jujur? Kata Guru Iruka, jujur itu baik.

Tapi, melihat tatapan Sasuke yang seolah tak memberikan pengecualian, membuat Haruki menurut. Anak bermata hijau terang itu menatap Sai dengan rasa bersalah. "Haruki salah ngomong ya? Maaf Oom Sai."

Sai tersenyum. Ia mengacak rambut Haruki kembali. Ia tidak menyalahkan Haruki, karena sadar bahwa Haruki mirip dengannya dulu. "Haha, tidak apa. Kau bocah jujur yang baik," ucapnya.

Haruki menunduk malu, pipinya tersipu.

Ino menatap Sasuke tidak percaya. Hei? Apa-apaan tadi? Sasuke berbicara seolah ia adalah seorang ayah. Ah, tunggu, bukankah Sasuke memang seorang ayah? Dan… dan… Haruki menurut pada ayahnya? Bukankah Sasuke terlalu menyeramkan untuk anak kecil? Haruki bahkan terlihat sangat dekat dengan Sasuke.

Sakura menatap Ino, dalam tatapannya tersirat suatu makna yang dalam. Dan Ino tahu apa yang ingin dikatakan Sakura.

Bagaimana? Sasuke memang berubah kan? Dia tidak seperti apa yang kaupikirkan, Ino.

Ino menghela napas. Dalam hati ia sudah menyerah. Terserah pada Sakura saja deh. Apapun keputusan sahabatnya, Ino akan selalu mendukung. Apa yang dianggap sahabatnya baik, pasti Ino akan memandangnya sebagai hal baik pula.

"Jadi, bagaimana? Kalian mau melihat-lihat?" tawar Sai. Ia tersenyum ramah pada keluarga Uchiha di hadapannya. Terlebih pada Haruki yang terlihat antusias.

Sasuke segera menggendong Haruki. Mereka pun mulai menelusuri tiap sudut di dalam ruang itu. Sai menjelaskan tiap lukisan yang ditemuinya, sementara yang lain hanya mengangguk-angguk, terkadang paham namun terkadang tidak paham juga—dan tentu saja mereka tak mengatakan itu. Haruki menunjuk tiap lukisan yang menarik baginya dan bertanya banyak. Itu membuat Sai menjadi senang.

Sakura dan Ino mengekor dari belakang. Mereka memperhatikan Sai yang tengah menjelaskan sebuah lukisan pada Haruki yang berada di gendongan Sasuke. Namun kelihatannya, ujung-ujungnya mereka malah membicarakan masalah pribadi.

"Dia jadi lebih ramah, kurasa," komentar Ino. "Dan jadi mudah bergaul."

"Ya, begitulah dia."

"Ah, jadi, bagaimana denganmu Sakura? Aku setuju-setuju saja kau menikah dengan Sasuke," Ino menatap Sakura dengan mata berbinar. Kedua tangannya saling berkaitan penuh harap.

Sakura mengangkat sudut bibirnya sedikit. "Mungkin…."

"Oh iya, aku lupa bilang," Ino mendekatkan dirinya lebih rapat pada Sakura. Ia pun mulai berbisik kecil. "Sai berkata kalau ia akan melamarku setelah pameran ini selesai…."

Sakura tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Ia mengerling ke arah Ino. Mata emeraldnya memandang permata sapphire di hadapannya dengan penuh minat. Sakura tersenyum lebar, dan ia memegang tangan Ino. "Aku senang mendengarnya. Kuharap kalian cepat menikah, dan memberikan Haruki adik. Sepertinya anak itu cukup kesepian."

Ino tersipu, lalu tertawa kecil. "Seharusnya kau yang memberikannya adik baru."

Sakura menahan napas, entah mungkin karena itu jugalah yang menyebabkan wajahnya berubah warna. "Jangan bercanda."

"Aku tidak—"

"Ehm," Sai berdeham. Itu membuat Ino dan Sakura langsung menyadari kalau pria yang selalu tersenyum itu ternyata sudah berada di samping mereka. Sejak kapankah? Mungkinkah Sai mendengar percakapan Ino dengan Sakura tadi? "Wanita bertemu dengan wanita memang tidak pernah lepas dari kebiasaan mereka untuk bergosip," gumamnya sambil tersenyum aneh. "Kita sudah melihat semua lukisan. Apa kalian mau ke bagian foto?" tawar Sai kemudian.

Semua mengangguk pertanda setuju—kecuali Sasuke yang hanya diam saja dan menurut.

Perlahan namun pasti dan santai, rombongan itu berpindah tempat. Mereka ke bagian foto-foto. Banyak foto-foto unik yang dipamerkan di sini. Mungkin seperti foto dua belah tangan yang menengadah ke atas dan matahari tepat berada di atasnya, foto itu berkesan seperti tangan itu tengah memegang matahari. Atau ada berbagai foto bentuk-bentuk awan di sana, seperti bentuk hewan, pohon, bahkan bagian tubuh manusia seperti kepala. Di sana juga banyak foto yang menceritakan tentang potret kehidupan sehari-hari, bukan hanya pada masyarakat Jepang, namun masyarakat di luar negeri juga.

Sai mulai menjelaskan berbagai macam foto yang ditemuinya. Namun, tak butuh waktu beberapa menit, tiba-tiba ia mohon diri.

"Sebenarnya, ada yang harus kuurus. Kalian nikmati saja yang ada di sini," pamitnya.

"Mau ke mana?" tanya Ino.

Yang ditinggalkan Sai hanya seulas senyum misterius pada kekasihnya sebelum pergi. Hal itu memunculkan rasa penasaran di benak Ino. Gadis itu pun diam-diam ingin mengikuti kekasihnya. Ah, dasar Ino.

"Kurasa… aku harus pergi juga. Kalian bersenang-senanglah."

Sakura memandang kepergian sepasang kekasih itu dengan bingung. Namun, tak berapa lama kemudian, dirinya langsung asyik terhanyut dalam kegiatan mengamati foto-foto bersama Haruki dan Sasuke.

0o0o0

Ino terus membuntuti Sai dari belakang. Sai pun yang seperti sudah memperkirakan apa yang terjadi, selalu waspada untuk menoleh ke belakang. Namun, hal itu bisa diantisipasi Ino dengan baik.

"Apa sih yang mau dilakukan Sai?" pikir Ino tak sabaran.

Sai tak menengok ke belakang lagi. Kini pandangannya tengah beralih ke sekitar kiri dan kanannya, ia terlihat sedang mencari-cari sesuatu. Tiba-tiba Sai mengangkat tangannya. Ia langsung berlari menghampiri sesuatu.

Ino mengikuti dengan hati-hati. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti melihat Sai kini tengah berbicara dengan siapa.

Ino bersembunyi di balik tiang. Memperhatikan gerak gerik dari orang yang diperhatikannya dengan mata melebar. Ia pun tak sanggup untuk berkata apa-apa. Ia sungguh sulit untuk mempercayai atas apa yang dilihatnya.

Sai tersenyum pada seseorang. Mereka langsung berjabat tangan. Pertama-tama, keduanya mengobrol basa-basi dulu—dan Ino sama sekali tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan karena suasana tidak mendukung ; suara bising para pengunjung dan letaknya bersembunyi terlalu jauh dari Sai.

Ino masih membelalakkan mata. Beberapa detik dibutuhkan untuk menstabilkan kinerja otaknya. "N-Naruto… sejak kapan dia di sini…?"

Tentu saja Ino mengingat siapa pria berambut kuning jabrik itu. Terlebih, wajah cokelatnya dengan tiga goresan di kedua belah pipi. Senyum ramah pria itu tak berubah. Dan bola mata yang berwarna langit itu… astaga… Ino tak mungkin melupakan cinta pertama Sakura! Dia memang Naruto, pria yang selalu diceritakan Sakura tiap gadis itu terlihat sedang bahagia. Dan Ino masih mengingat jelas bagaimana Sakura bercerita tentang Naruto yang menembak gadis itu.

Apakah Naruto sudah bertemu dengan Sakura? Apakah mereka masih mempunyai perasaan yang dulu itu?

Tapi sepertinya tidak. Lihatlah, seorang gadis manis yang berdiri dengan sopan di sebelah Naruto. Siapa lagi kalau bukan pacarnya? Terlebih gadis itu selalu memandang Naruto dengan hangat, bahkan terkadang tersipu-sipu malu. Oh iya, apalagi Sakura juga sudah punya Haruki dan Sasuke.

"Jadi… sebenarnya aku ini menghawatirkan apa sih?" pikir Ino gemas, tak mengerti dengan jalan pikirnya. Ia merasa dirinya cemas dengan sendirinya.

"Sungguh sangat beruntung aku bisa cepat-cepat bertemu denganmu," ucap Sai.

"Kau sungguh mau memakai jasaku dalam acara pernikahanmu? Orang yang baru kautemui beberapa hari yang lalu ini?" tanya Naruto agak tidak yakin sekaligus merendah.

Sai tertawa kecil. "Jangan merendah. Percayalah, aku langsung jatuh cinta begitu melihat hasil karyamu. Kupikir, kau adalah orang yang paling tepat untuk ini."

"Aku sungguh merasa tersanjung."

"Dan aku ingin meminta bantuanmu untuk satu hal hari ini."

"Hm? Apa itu?"

"Kekasihku kedatangan seorang sahabat yang sangat berpengaruh besar terhadap hidupnya," kata Sai menjelaskan. "Kupikir, sudah saatnya bagi ia untuk mengabadikan ini. Dia pasti akan senang sekali."

Naruto mengangguk. Waw, pria di hadapannya ini ternyata romantis juga. "Aku mengerti perasaan ingin membahagiakan kekasih sendiri, meski itu adalah hal kecil."

Sai melirik Hinata. Ia memperhatikan gadis itu dengan seksama dan menilai gadis itu dengan cermat. "Pacarmu?" tanya Sai sambil tersenyum.

Tanpa aba-aba, Hinata langsung menunduk. Wajahnya sudah dipenuhi warna merah. Darahnya naik ke kepala, namun bukan berarti dia marah. Dia menahan perasaan malu, dan senang yang teramat sangat.

Naruto mengangkat sudut bibirnya sedikit. Ia menggaruk pipinya. Tak yakin juga ia harus menjawab apa. Oh, Hinata, kenapa pula kau bertingkah seolah jawaban dari pertanyaan Sai adalah 'ya'?

"Kami cuma teman," buru-buru Naruto menyanggah untuk mengindari kesalahpahaman.

"Oh, maaf. Tapi kulihat, kalian memang benar-benar terlihat sebagai sepasang kekasih," komentar Sai dengan jujur.

Naruto tak tahu harus berkomentar apa lagi. Karena itu, ia hanya tersenyum canggung. Duh, kenapa pula Sai harus berkata jujur seperti itu? Menyulitkan tahu.

"Baiklah, aku hanya ingin menyampaikan ini saja. Kebetulan suami sahabat kekasihku sedang sakit. Ia tak bisa lama-lama berada di sini."

Naruto mengangguk kecil. "Ya, tapi sebelumnya, aku ingin mengantar Hinata dulu. Boleh?"

"Tentu," Sai tersenyum. Membuat matanya menyipit dan lesung pipinya terlihat samar. "Aku akan menunggumu di sini."

Naruto meraih lengan Hinata, dengan segera ia menarik gadis itu keluar. "Hinata, kau tak apa kan pulang sendiri? Aku ada pekerjaan soalnya."

Hinata mengangguk menurut. Lalu ia memandang mobil jemputannya yang sudah menunggu. "Tidak apa-apa. Terima kasih sudah mengajakku ke sini," ucapnya tulus.

"Ya," Naruto tersenyum. "Sampaikan salamku pada Neji ya."

Hinata mengangguk sekali lagi. Ia pun buru-buru menghampiri mobilnya, sebelum ponselnya berdering lagi dan Neji menyuruhnya untuk segera pulang dengan nada yang lebih marah dari teleponnya tadi.

Sementara itu, Sai sudah mengetahui Ino menguping pembicaraannya. Karena itu, tanpa basa-basi, Sai membalikkan badan dan menatap Ino sambil tersenyum. Tentu saja itu membuat Ino kaget. Pada akhirnya Ino memutuskan untuk menghampiri Sai.

"Rencanaku gagal. Memang susah juga memberi kejutan pada orang sepertimu. Kau akan selalu mencari tahu terlebih dahulu," gurau Sai.

Ino tak menanggapinya seperti biasa. Mimik wajahnya sangat serius. "Tadi itu…."

"Ya, dia adalah fotografer untuk pernikahan kita nanti," kata Sai. "Hasil jepretannya sangat memukau."

Namun Ino tak bereaksi seperti yang Sai harapkan. Padahal, seharusnya gadis itu kaget, lalu tersipu-sipu tentang perencanaan Sai pada masa depan mereka di pelaminan. Tentu saja itu membuat Sai heran.

"Kau tak suka Naruto jadi fotografer kita?"

"Sai… aku ingin bicara padamu," kata Ino lirih. Matanya sayu, dan meredup. Sai menangkap kegundahan di mata indah itu. "Aku tak tahu, seharusnya aku tak perlu cemas. Tapi… aku tidak bisa."

Sai mengangkat alis. "Ada apa?"

"Aku kenal Naruto, sudah lama. Dan kau tahu siapa dia?"

Sai menggeleng. Tak ada waktu bagi Sai untuk terkejut karena ternyata Ino mengenal Naruto—itu hal yang tak disangkanya. Ino segera menarik lengan Sai keluar tenda. Meski berdesak-desakan dengan pengunjung, ia pun bisa juga membawa Sai ke tempat sepi. Di sana Ino bercerita. Bercerita tentang hubungan sahabat tercintanya dengan Naruto dulu.

0o0o0

Naruto bingung, ketika kembali setelah mengantar Hinata, ia tak menemukan Sai di tempat semula. Kemana perginya pria itu? Apa Naruto terlalu lama? Rasanya tak ada lima menit Naruto pergi—atau mungkin lebih sedikit karena perjalanan menerobos orang-orang.

Sambil melirik jam di tangannya, sesekali Naruto memandang sekeliling. Tiba-tiba pandangannya terhenti, dan tertuju pada sebuah objek.

Naruto memicingkan mata. Berkali-kali ia mengerjap, atau mengucek matanya. Tapi, objek itu sama sekali tidak berubah. Terlihat seperti keluarga yang hangat dan bahagia. Berdiri di depan sebuah foto yang dipamerkan. Sang anak dalam gendongan ayah menunjuk foto itu, dan sang ibu terlihat seperti sedang menjelaskan sesuatu. Sakura, Sasuke, dan Haruki.

"Itu memang Sakura," gumam Naruto. Sebenarnya, ia agak kesal melihat Sasuke. Tapi, percayalah, Naruto sudah mencoba untuk tidak membenci Sasuke sesuai dengan kata Sakura. Sasuke sudah berubah, bukan? Di malam ulang tahunnya yang ketujuh belas Sasuke sudah meminta maaf ke Sakura, bukan? Dan Naruto malah menganggap Sasuke hendak membunuh Sakura. Naruto memfitnah pria itu.

Setelah menarik napas cukup dalam dan menghembuskannya, Naruto bertekad untuk menghampiri mereka, dan meminta maaf pada Sasuke. Ia ingin berteman baik dengan pria itu. Ah, tapi jujur saja, Naruto agak kesal melihat mereka bertiga. Kenapa pula mereka terlihat seperti sebuah keluarga?

Sasuke lah yang melihat Naruto menghampirinya pertama kali. Bisa dibayangkan betapa kagetnya ia saat melihat Naruto. Ia tak bisa menyembunyikan emosinya. Jantungnya berdetak cepat.

Ternyata Naruto memang berada di Konoha.

Ada kemungkinan kalau Sakura sudah bertemu Naruto seperti yang sudah diprediksikannya jauh-jauh hari. Ia mencoba untuk tidak kaget, namun tetap saja tidak bisa. Ia tak percaya, ternyata hal yang mustahil, memang mungkin bisa terjadi.

Sasuke memandang Sakura yang tengah berceloteh panjang lebar dengan Haruki. Kalau saja ada kemugkinan Sakura belum bertemu Naruto, Sasuke harus membawa Sakura pergi secepatnya—mumpung jalan Naruto terhalang orang-orang. Sasuke tak ingin mempertemukan mereka.

Namun, belum sempat Sasuke mengeluarkan suara, Naruto susah berteriak duluan. "Sakura!"

Sakura menggantung alisnya. Hanya firasat atau ia memang mendengar suara Naruto memanggilnya? Jika memang itu hanya firasat, Sakura mencoba untuk bersikap wajar. Namun terlambat, Naruto telah berada di belakangnya, dan menepuk bahunya.

Dengan napas yang terengah-engah, Naruto tersenyum. Pertama, ia menatap Sasuke ramah. "Hai, Sasuke. Lama tidak berjumpa."

Sasuke tak berkata apa-apa. Ia hanya memperhatikan Naruto yang bersikap wajar pada Sakura—hanya menyentuh pundak wanita itu, tidak memeluk atau apa seperti orang yang lama berpisah. Lalu Sasuke memperhatikan Sakura yang tampak kebingungan dan kaget. Ah, terungkap sudah. Naruto dan Sakura memang sudah bertemu, entah sejak kapan. Dan Sasuke yakin, pada malam itu… ia memang melihat nama Naruto di ponsel Sakura.

Mereka telah bertemu, dan berhubungan diam-diam. Sakura tak bercerita padanya, dan menyembunyikan perihal pertemuannya dengan Naruto. Apa lagi maksud dari semua itu kalau bukan mereka sudah menjalin hubungan? Menjalin hubungan yang tak ingin diketahui olehnya.

Meski Sasuke tahu, kemungkinan hari ini akan datang—sekecil apapun persentase kemungkinannya—dan Sasuke juga telah menyiapkan diri. Tapi hatinya tetap saja merasa sakit. Rasanya dihianati secara nyata, sangat jauh perbandingannya dengan prediksinya jika ia memang dihianati.

Sambil menahan amarah yang meletup-letup bagaikan api merah yang menyala, Sasuke terdiam. Ia hanya menatap Naruto tajam, dan beradu dengan mata laut pria itu. Pandangan kesal yang membuat Naruto bingung.

Sebenarnya, Naruto sangat-sangat merasa bersyukur kepada Tuhan, karena ia bertemu Sakura setelah Hinata pergi. Tapi, yang membuatnya bingung, adalah reaksi Sakura yang sama sekali tidak terduga. Juga reaksi Sasuke. Mereka berdua aneh.

Haruki menoleh pada Naruto, ia mengerjap. "Oom Naruto?"

Cih. Bahkan Haruki sudah mengenal Naruto. Berarti Sakura bertemu Naruto ketika sedang membawa Haruki, bukan? Seharusnya, dengan melihat Haruki, Naruto sudah langsung tahu siapa orang tua anak itu. Tapi kenapa? Kenapa mereka tetap menjalin hubungan?

Sasuke tidak mengerti. Ingin sekali ia berteriak, tapi ini adalah tempat umum. Ingin sekali Sasuke memaki, mengamuk, dan memporak porandakan apa saja yang ada di sekitarnya. Sama, sama seperti hatinya yang porak poranda.

Naruto berpindah pandangan ke Haruki. Matanya beradu pandang dengan permata emerald kecil di hadapannya. Manik yang begitu indah, dan begitu mirip dengan milik pujaan hatinya. Naruto membelalak. "Haruki—"

Tenggorokan Naruto tercekat. Dengan ekspresi bingung dan kaget bercampur aduk, ia menatap Sasuke yang seperti orang kehilangan nyawanya, kemudian beralih menatap Sakura yang menunduk.

Setiap kebohongan, pasti takkan berumur panjang kan, Sakura?

Semua menjadi rumit. Benang yang terlanjur menjadi kusut, sangat susah untuk diuraikan kembali. Kayu yang telah berubah menjadi abu, sangat susah untuk dibakar kembali. Hati yang sudah terluka, sangat susah untuk disembuhkan kembali.

Dengan apa kau mengobati hati dua pria yang terluka sekaligus? Dengan cinta? Bukankah begitu? Hati yang terluka hanya bisa disembuhkan dengan cinta. Lalu bagaimana? Cinta yang terbagi dua? Cinta yang setengah-setengah?

Sebagai dokter, kau seharusnya langsung paham tentang semua ini, Sakura. Tentang sebuah luka yang sangat sulit diobati. Karena luka itu abstrak. Terletak di ujung sanubari, di balik hati, di bawah perasaan.

Bersambung


A/N

Konnichiwa…

Hoshi Yamashita di sini!

Chap 5: done.

Hehe, maaf lama. Gara-gara ngeliat archive SS sekarang makin menurun jumlahnya, jadinya tangan saya gatel buat cepet-cepet update. Sekalian ngerayain kesuksesan Jerman deh XD minta doanya buat kemenangan Jerman yaaa *gak nyambung*

Oh iya, gimana pembaca menanggapi chapter ini? Semakin membosankan kah? *pundung di tengah laut* FYI aja, di sini, saya nggak bakal bikin Karin jadi jahat kok. Dia hanya sebagai pemanis fic (habis saya suka Karin apalagi kalo ada Suigetsu nya) Mungkin saja dia nggak terlalu banyak ngaruh.

Oh, iya, Sasuke pada akhirnya gak inget apa-apa. Jadi 1:1 sama Sakura deh. Dulu waktu Sakura ngelindur nama Naruto, besoknya kan dia gak inget. Haha, kayak saya kalo lagi tidur maraton, bener-bener gak inget kalo saya pernah ngomong pas tidur (gak nyambung)

Yah, nggak tau deh. Saya emang bener-bener lagi konslet sekarang. Bingung mau ngomong apa buat evaluasi, hiks. Pokoknya, akhirnya Naruto tau juga mengenai hubungan SasuSaku. (masih bingung bikin reaksinya nanti gimana) T_T Jangan salahin saya kalo update ngaret lagi ya :P #kabur

Balasan review!

SS: beneran dong XD Hihi, makasih… seneng deh kalo ada yg suka kata-kata saya. Owalaaah…. =_= mungkin kalo udah 17 taun, saya bakal bikin tuh lemon #plaks Tunggu aja tanggal mainnya #doubleplaks *kidding*

Yoo: Ini sudah updateee. Thanks atas reviewnya yaa. Moga di TBC kali ini gak kaget

pryscil-chan: Iyaa! *ikut kibarin bendera juang Sasuke* Hehe, makasih atas reviewnya

Sslove: Ini jadinya nggak lama deh kayaknya, hoho :P *ditendang* Waa, makasih atas doanya yaaa (nangis terharu deh saya) Moga chap ini gak mengecewakan :D

Kikyo Fujikazu: Aa, gak papa kok :D Ini chap 5 udah update, dan gak pake lama kaaan? *digaplok*

NenSaku: Hehe, insyaallah, kalo ada ide dadakan gimana cara Sakura mergokin Sasu ma cewek lain, nanti saya bikin, tapi gak janji, hehe :D Ini sudah updatee.

uharu: Eh? Sasuke bilangnya gak sadar, jadi gak mungkin tiba-tiba dia langsung ngelamar XD Nanti ada masanya sendiri kok #dor Waduh, bikin adik? Gak mungkin secepet ituuu. Nanti kesannya malah kayak terpaksa. Hehe, maaf kalo SasuSaku nya dikit di chap ini (iya gak sih?)

laluna: Sakura belum jawab apa-apa, soalnya dia sendiri cengo kuadrat, Sasuke malah keburu ambruk XD Ini sudah update. Kilat kan? Kilat kan? *digampar*

Chiary-kun: Ini udah updateee. Hihi, moga aja update model gini dibilang kilat #plaks. Aaw, gak secepet itu Sakura bikin adik buat Haruki, nanti ada masanya sendiri, hoho XD

me: Yosh, ini udah update :D Hehe, Sasuke kasian ya? Tapi semakin ke sana semakin enggak kok *mainin jari*

GK: Yosh, saya udah keep update. Semoga gak mengecewakan

yanuar1995: Hehe, makasiiiih *pelukcium*#dor

Aoi Ciel: Iya, Sakura melongo abis. Tuh kayaknya bentar lagi dia bakal sadar, hoho. Naruto udah tau sih soal hubungannya sama Sasuke. Ini udah update :D

HikariNdychan: Ini udah update :D Haruki gak saya paksa kok *blink* Hehe, semoga chapter ini gak mengecewakan :3

WinterCherry: Hehe, gapapa kok, saya tetap senang kalau ada yg review :D *unjuk gigi* Aaa, banyak yg suka Haruki rupanya. Ini udah update… makasih ya udah suka sama fic abal ini.

Aiko Kirisawa: Sakura kan dilema… (ngebela Sakura gara2 disogok uang) Sasuke juga belum ngelamar gara-gara dia masih belum punya kemantapan hati. Dia penginnya sih waktu ngelamar Sakura, Sakura udah bener-bener ngelupain Naruto *halah* Karin gak jadi pengganggu kok. Saya juga suka dia kalo sama si-manusia-hiu-ganteng-yang-jelas-bukan-Kisame (lho emang Suigetsu hiu ya? O . o?) Ini udah update :D

Sapa aja boleh: Ini udah update kok :D Maaf kalo lama #buagh

NN: Nggak nunggu lama lagi kok, soalnya udah updateee *digiles*

staacha (4): Eh? beneran? Makasih :* *pelukcium* saya turut senang kalau pembaca senang XD Ini sudah update chapter 5 nya, semoga memuaskan deh, hehe

miyank: Semoga Tuhan mengabulkan doamu, amin #dor. Makasih atas reviewnya ya :) Ini Sakura juga udah mulai sadar kok :)

mrs. sasusaku: Salam kenal :) Aah, kurang suka ya? *pundung ke pojokan* Akhirnya... saya juga belum tahu sih, tapi lihat perkembangannya aja deh nanti :) Hehe, insyaallah ya, saya gak janji #plak

MM: Sudah update! :D

Makasih juga buat:

Uchiha Hime Is Poetry Celemoet, Sindi 'Kucing Pink, JV Bee, cherry kuchiki, Karasu Uchiha, Gracia De Mouis Lucheta, Aika Yuki-chan, YuuKina ScarJou, celubba, Soraka Menashi, tomatblossom, Yaya Pinkyblossom, chezahana-chan, Risuki Taka, Junsuina Ao Yuki, RUKI's marionette

Ps. Maaf kalau ada kesalahan pengetikan nama

Terima kasih sudah membaca,

Pesan dan kesan akan selalu saya terima

.

.

.

Love you all,

Yamashita

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .