Anime/Manga » Naruto »

Love Me Love You
Author:
Aori Yuu PM
"A-aku selalu menyukai Naruto-kun meski Naruto-kun menyukai Sakura-chan -bisakah kau melihatku?"/"Aku pindah ke Jepang juga ke sekolah ini untuk menemui tunanganku- benarkan Hime?"/"Kau tidak tahu apapun mengenai Hinata, Naruto."/Special for NHL/RnR?
Rated: Fiction T - Indonesian - Romance/Hurt/Comfort - Hinata H. & Naruto U. - Chapters: 2 - Words: 11,860 - Reviews: 53 - Favs: 33 - Follows: 12 - Updated: 05-19-12 - Published: 05-03-12 - Status: Complete - id: 8082015
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

Hey, aku tahu kau tidak akan pernah melihatku…

Aku pun sadar bahwa sebesar apapun usahaku untuk mendapatkan perhatianmu, semuanya akan berakhir dengan percuma…

Aku tahu bahwa posisinya di hatimu tak mungkin tergantikan, terlebih olehku…

Aku tahu, sangat tahu…

Hanya saja…

Aku tidak tahu kenapa perasaanku tetap saja besar padamu…

Aku juga tidak tahu kenapa cinta ini tetap saja untukmu…

Hey, bisa kah kau menolongku?

Aku tidak bisa melihatmu bersama wanita lain, tapi kau pun tak mungkin berpaling padaku…

Jika memang aku harus menyerah…

Bisakah kau memberitahuku saat ini juga…

Bagaimana cara untuk menghapus perasaan ini?

.

.

.

Warning : GAJE, OOC, [miss]TYPO, AU, dll.

DLDR, Flame gak jelas tidak diterima n.n

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Rated : T

Pairing : NaruHina, slight SasoHina, NaruSaku

Genre : Romance & Hurt/Comfort & Friendship

Apology fic for NaruHina Lovers^^

.

.

Love Me Love You

"Sakura-chan, tunggu aku!"

"Berisik! Kau pulang sendiri sana!"

"Kau jahat sekali, Sakura-chan. Padahal aku ingin mengantarmu dengan motor baruku!"

"Kau tidak mungkin mengantarku dan meninggalkan Hinata kan? Hinata, ayo kita pulang!"

"Ehh?"

Entah sejak kapan Hinata melamun sehingga sama sekali tidak menyadari perseteruan kedua sahabatnya yang saat ini berada tepat di hadapannya, amethyst indahnya baru menampakkan sebuah kesadaran saat salah satu dari sahabatnya tersebut menyapanya.

"A-ano, kalian pulang duluan saja. A-aku ada urusan, la-lagipula Naruto-kun ingin mengajak Sakura-chan jalan-jalan dengan motor barunya kan?" Meski melamun, rupanya Hinata tetap dapat menangkap bahan perseteruan kedua orang berbeda jenis kelamin itu.

"Tuh kan! Hinata saja mengerti! Ayolah, Sakura-chan. Aku janji tidak akan ngebut deh~" Pemuda berambut pirang dengan bola mata safir itu kembali melancarkan aksi rayunya, pemuda yang diketahui bernama Namikaze Naruto itu tampaknya begitu gigih sehingga pantang menyerah meski sudah ditolak.

"Hhh, kau beneran punya urusan, Hinata? Kami bisa menunggumu kok, lagipula aku tidak begitu ingin jalan-jalan dengan si bodoh ini tanpamu." Gadis berambut pink dengan mata emerald tersebut tampaknya kurang yakin untuk meninggalkan sahabatnya itu, pandangan matanya seolah mengatakan bahwa Hinata harus ikut pulang bersamanya.

"Ti-tidak perlu, Sakura-chan. I-ini akan memakan waktu yang sedikit lama, se-sebaiknya kalian pulang duluan saja." Tolak Hinata lagi, gadis berambut indigo itu tidak mengerti mengapa ia membenci pandangan Sakura yang seolah mengasihaninya.

"Aaa, kau dengar itu, Sakura-chan? Sekarang tidak ada lagi alasan untuk menolak, hehehehe! Oh ya, Hinata-chan, aku juga akan mengajakmu kok, tenang saja. Tapi lain kali ya!" Naruto menampakkan cengiran khasnya, tidak tahu atau berpura-pura tidak tahu bahwa gadis yang diajaknya bicara merasa sakit karena kata-katanya.

"I-iya, akan kutunggu," ujar Hinata seadanya, gadis itu berusaha memperlihatkan senyum terbaiknya meski agak sulit mengingat hatinya begitu terasa nyeri.

Sakura mendengus pendek, ia kini tidak punya alasan untuk menolak Naruto. Sakura tidak mood untuk melakukan aktivitas apapun selain pulang ke rumah dan tidur sore ini, tetapi rengekan Naruto membuatnya jengah sehingga mau tidak mau ia menyetujuinya.

"Baiklah, jaga dirimu, Hinata. Telpon kami kalau kau sudah tiba di rumah." Ujar Sakura seraya melangkah pergi diikuti Naruto di belakangnya yang hanya melambai singkat pada Hinata. Hinata hanya tersenyum simpul, membalas lambaian Naruto dan kembali murung saat sosok keduanya menghilang dari pandangannya.

Sakura dan Naruto, Hinata merasa beruntung memiliki mereka sebagai sahabat yang sangat perhatian padanya. Di sisi lain, Hinata juga merasakan sakit karena keduanya. Menghela nafas, Hinata lantas merapikan barang-barangnya dan mulai beranjak keluar kelas yang sudah mulai sepi. Mungkin terlihat menyedihkan, tapi Hinata merasa sudah terbiasa pulang sendiri tanpa Sakura dan Naruto. Mungkin, dirinya malah merasa lebih baik jika tetap seperti ini dibanding harus pulang bersama mereka dan menyaksikan bagaimana Naruto bertingkah demi mencari perhatian Sakura.

\=0=/\=0=/\=0=/

'Aku sangat, sangat, sangat suka, Sakura-chan~! Hehehehe…'

'Berisik! Aku suka Sasuke-kun tahu!'

'Cih, padahal kan lebih tampan aku!'

'Apa? Ngaca dulu dong! Sasuke-kun itu jauh, jauh, jauh lebih tampan, weee!'

'Tch, kalau sudah besar aku pasti lebih tampan darinya. Saat itu Sakura-chan pasti akan suka padaku!'

'Narutooo! Jangan ngomong yang tidak-tidak deh, aku mana mungkin suka padamu!'

'Lihat saja nanti, aku pasti akan membuat Sakura-chan suka padaku!'

'Hhh, terseah kau saja lah. Ngomong-ngomong, kalau Hinata suka siapa?'

'Eh?'

Hinata tersentak saat lagi-lagi memorinya membawanya kepada kenangan beberapa tahun silam, kenangan saat ia masih berusia sepuluh tahun dan masih duduk di bangku sekolah dasar. Sejak kecil, ia, Naruto dan Sakura telah bersahabat, Hinata lupa bagaimana mereka bisa bertemu pertama kali, yang ia tahu mereka sudah bersahabat begitu akrab sejak masih kanak-kanak.

Saat duduk di bangku kelas lima, Hinata kecil sudah mulai berkenalan dengan kata suka dan perasaan suka, meski tidak dapat mengungkapkan dengan kata-kata, secara harfiah Hinata mengerti maksudnya. Hinata sadar kalau ia menyukai sahabatnya, Naruto. Ia sadar karena wajahnya akan lebih memerah saat berdekatan dengan Naruto dibanding saat berdekatan dengan pria lain.

Saat para teman kelasnya mulai heboh dengan acara pacar-pacaran juga tembak-tembakan, Hinata mendengar langsung dari mulut Naruto bahwa bocah cilik itu menyukai Sakura. Sakit memang, tetapi itu tidak lebih dari cinta monyet semata, setidaknya untuk saat itu.

Saat mereka duduk di bangku junior high school, Hinata sadar bahwa rasa sukanya pada Naruto semakin besar, disaat bersamaan ia juga sadar bahwa rasa suka Naruto pada Sakura semakin besar. Hal menyakitkan karena Sasuke, pemuda yang disukai Sakura pindah ke luar negeri, dan itu berarti Naruto tidak punya saingan untuk sementara waktu.

Saat Hinata ditanya oleh teman-temannya tentang pria yang disukainya, Hinata tidak pernah bisa menjawabnya, ia akan sebisa mungkin mengelak dari pertanyaan itu. Hinata sungguh ingin mengatakan bahwa ia menyukai Naruto, ia sangat iri dengan teman-temannya yang bisa dengan bebasnya mengatakan siapa yang mereka sukai. Ia tidak bisa mengatakan bahwa ia menyukai Naruto sedang disaat yang sama Naruto terus mengoceh tentang rasa sukanya pada Sakura dan janjinya untuk membuat gadis berambut pink itu jatuh cinta padanya, rasanya sulit dan berat.

Sampai akhirnya waktu berlalu begitu cepat, kini ketiganya telah duduk di bangku kelas dua senior high school. Tidak banyak yang berubah, kecuali pembawaan masing-masing dari mereka yang terlihat semakin dewasa. Hinata tetap pada perasaan terpendamnya pada Naruto, tidak, mungkin sudah bukan terpendam lagi, karena Hinata sudah pernah mengungkapkannya beberapa kali. Dan Naruto, pemuda itu masih dengan gigihnya berusaha mendapatkan perhatian dari Sakura, meski Sakura selalu terlihat enggan meladeninya.

\=0=/\=0=/\=0=/

"Sakura-chan, bekalmu sepertinya enak. Boleh kucicipi?" Naruto mendekat ke arah Sakura yang tampak menikmati bekal makan siangnya.

"Aku hanya membawa sedikit, Naruto. Lagipula bekalmu kan banyak." Tolak Sakura, kesal. Ia telat bangun hari ini sehingga hanya dapat menyiapkan bekal seadanya. Sedang Naruto? Dia adalah anak tunggal keluarga Namikaze, sangat tidak mungkin pemuda itu membawa bekal sederhana atau dalam jumlah sedikit.

Seperti biasa, baik Hinata, Sakura maupun Naruto menghabiskan bekal makan siang mereka di taman belakang sekolah. Mereka merasa jauh lebih nyaman di tempat itu yang dipenuhi banyak pohon rindang dibanding dengan atap sekolah yang terasa begitu terik.

"Tapi aku ingin mencicipi bekalmu, Sakura-chan. Sedikit saja bolehkan? Aku sudah bosan dengan masakan Kaa-san, hehehe…" Ujar Naruto lagi kali ini menampakkan cengiran khas miliknya.

"Lebih baik kau minta punya Hinata saja, dia membawa bekal banyak seperti biasa, pasti tidak habis." Ujar Sakura seraya melihat Hinata yang sedang makan dengan tenangnya.

"A-ano, Sa-Sakura-chan, ja-jangan mengatakannya terlalu keras. Ka-kalau Neji-nii tahu a-aku bisa kena marah," ujar Hinata was-was, bagaimanapun juga ini tempat umum, bagaimana kalau Neji tidak sengaja lewat dan mendengar ucapan Sakura?

Hinata memang membawa bekal berlebih, dan itu terjadi setiap hari. Hyuuga Neji, kakak lelakinya yang begitu protektif selalu saja khawatir jika Hinata makan makanan yang tidak diketahui asal-usulnya, oleh karenanya ia selalu menyuruh koki untuk menyiapkan Hinata bekal berukuran jumbo yang seolah tidak memberi celah bagi gadis itu untuk merasa lapar sehingga membeli makanan di luar.

Kebiasaan itu tidak dapat dirubah lagi, kadangkala Hinata sengaja membawa tempat bekal lain yang kosong untuk menampung setengah isi bentonya yang kemudian diberikan ke orang lain, dan jika Hinata lupa membawa kotak bekal yang lain, maka gadis itu dengan sembunyi-sembunyi akan membuang sisa bekalnya setelah dengan susah payah berusaha menghabiskannya -walau hasilnya nihil.

"Cih, ya sudah. Hinata-chan, boleh kucicipi bekalmu?" Ujar Naruto seraya berpaling ke arah Hinata, gadis yang menjadi objek pun hanya menunduk dengan wajah memerah seraya menyodorkan kotak bekal miliknya.

"Y-ya, silahkan."

Meski pada akhirnya Naruto mencicipi bekalnya –dan merasa ketagihan karenanya, Hinata sama sekali tidak merasa senang. Alasan pertama, karena bekal itu bukan buatannya, Hinata selalu berusaha meyakinkan para koki untuk memasak bekalnya sendiri, tetapi sikap protektif dari ayah dan kakak lelakinya membuat para koki takut dan bersikeras menolak permintaan Hinata. Hinata tidak mungkin memaksa mereka bukan? Hinata bukanlah gadis yang mementingkan keegoisannya sendiri tanpa mempedulikan akibatnya pada orang lain.

Alasan keduanya, Naruto jelas mau mencicipi bekal miliknya setelah ditolak oleh Sakura. Jika saja Sakura mengizinkan pemuda berkulit tan itu mencicipi bekalnya, apakah Naruto masih akan melihatnya? Tidak, tentu saja tidak. Naruto hanya akan melihatnya jika Sakura yang menyuruhnya. Hinata selalu menjadi bayang-bayang Sakura di mata Naruto, Hinata selalu menjadi yang kedua, Hinata selalu akan menjadi pihak yang terabaikan di antara ketiganya, dan hal itu sudah tidak dapat dirubah lagi.

Terkadang Hinata berpikir, betapa bodohnya dirinya yang terus terpikat pada sosok pemuda yang bahkan tidak pernah melihatnya. Hinata ingin menyerah, tetapi hatinya tidak sanggup melakukannya. Hinata bahkan langsung menolak pemuda-pemuda yang pernah memintanya menjadi pacar mereka, hanya karena seorang pemuda yang tidak pernah melihatnya.

Hinata ingat, saat pertama kali ia mengutarakan perasaannya adalah saat mereka duduk di bangku kelas satu junior. Saat itu Naruto sama sekali tidak menanggapinya dan langsung menyapa teman lelakinya yang kebetulan melewati mereka. Hinata tidak curiga saat itu, gadis itu berpikir bahwa Naruto pasti tidak mendengar suaranya karena ia begitu gugup saat itu. Meski kecewa, Hinata tetap memantapkan hati untuk mengutarakan perasaannya pada kesempatan selanjutnya.

Sikap Naruto yang semakin gencar mencari perhatian Sakura lantas menjadi hambatan baginya, meski begitu Hinata tetap nekat mengatakan perasaannya saat mereka tidak sengaja berada di kelas, hanya berdua. Saat itu lagi-lagi Naruto tidak menanggapinya, pemuda itu dengan santainya melenggang keluar kelas dan mengajaknya pulang karena Sakura telah menunggu mereka.

Hinata tentu berpikir bahwa lagi-lagi suaranya yang begitu kecil sehingga Naruto tidak mendengar apa yang dikatakannya, tapi kesadarannya menolak hal itu. Hinata yakin ia cukup keras mengatakannya, di samping itu, suasana kelas yang sepi tentu mampu meningkatkan pendengaran Naruto meski suara Hinata memang kecil, kecuali jika pemuda itu sedikit bermasalah dengan indera pendengarannya –dan Hinata yakin hal itu seratus persen tidak mungkin.

Sejak saat itu, Hinata menjadi trauma sendiri untuk menyatakan perasaannya, bahkan hingga mereka menduduki bangku kelas dua senior. Hinata takut, tetapi ia ingin mencoba. Sayangnya ia tetap tidak bisa memanfaatkan berbagai kesempatan yang didapatkannya selama ini. Hinata tahu, ia akan lebih menderita lagi jika membiarkan semua ini berjalan begitu saja tanpa ada tindakan berarti darinya, maka dari itu ia menetapkan hati untuk menyatakan kembali perasaannya pada Naruto pada kesempatan selanjutnya. Hinata tidak peduli apakah nantinya Naruto akan menolaknya atau sebaliknya, yang terpenting baginya adalah agar pemuda itu tahu bagaimana perasaannya selama ini.

Selain itu, Hinata juga telah menetapkan hati, jika memang Naruto tidak bisa melihatnya, maka ia akan melupakan perasaannya pada pemuda itu. Meski harus secara perlahan, Hinata pasti akan berusaha melupakannya, pasti.

\=0=/\=0=/\=0=/

"Hinata, kau pulang saja dengan Naruto, aku ada urusan." Ujar Sakura seraya tersenyum lebar.

"Eh? Me-memang Sakura-chan ada urusan apa?" Tanya Hinata, ia tidak menyangka kesempatan akan begitu cepat datang.

"Hehehe, seseorang mengajakku pergi gokon, kupikir sudah saatnya mencari pengganti Sasuke-kun," jawab Sakura seraya mengeluarkan sebuah cengiran layaknya Naruto.

"Aku antar."

DEG.

Hinata terkejut saat mendengar nada suara Naruto, begitu datar dan dingin. Hinata sama sekali tidak pernah melihat pemuda itu berbicara dengan nada yang begitu dingin sebelumnya, Hinata bahkan tidak bisa mendapati imej ceria yang selalu melekat di sosok pemuda itu.

"Tidak usah, Naruto. Lagipula aku akan pergi bersama Ino, kan tidak asik kalau tidak bersama-sama." Elak Sakura, gadis berambut pink itu lantas merapikan barang-barangnya dan segera mengambil langkah keluar kelas.

"Tidak boleh, aku akan mengantarmu!" Hinata tersenyum miris melihat bagaimana pemuda yang dicintainya bersikeras mengantar Sakura.

"Aku tidak mau, Naruto. Lagipula jika kau mengantarku, kau akan meninggalkan Hinata sendirian!"

Naruto terdiam seolah mencerna ucapan Sakura, sedang Hinata kini merasa tidak nyaman mendengar kalimat Sakura tersebut karena seolah menyatakan bahwa dirinya merupakan dinding penghalang bagi mereka berdua.

"A-aku tidak apa-apa pulang sendiri, kok." Ujar Hinata memecah kesunyian.

"Tidak boleh, aku akan pergi dengan Ino, jadi si bodoh ini tidak punya alasan untuk mengantarku. Akhir-akhir ini kau selalu pulang sendiri, aku sedikit khawatir padamu. Jadi untuk kali ini Naruto harus mengantarmu pulang." Ujar Sakura tegas, gadis itu lantas segera berlari keluar kelas tanpa membiarkan Hinata maupun Naruto berbicara sekali lagi.

"Na-Naruto-kun?" Panggil Hinata pelan.

"…"

"Na-

"Hhh, kenapa dia tidak pernah mengerti perasaanku? Padahal semua orang tahu bahwa aku menyukainya." Ujar Naruto tiba-tiba seraya tersenyum hambar, pemuda itu lantas mendudukkan tubuhnya di atas sebuah meja.

"Sakura-chan hanya belum sadar bahwa kaulah yang terbaik untuknya," ujar Hinata pelan, hatinya begitu sakit saat mengucapkan kalimat tadi meski ia bisa melihat senyum Naruto setelahnya.

"Mungkin."

"Ba-bagaimana kalau kita pergi karaoke?" Usul Hinata tiba-tiba.

"Eh?"

"Ku-kupikir Naruto-kun butuh hiburan sekarang, ba-bagaimana kalau kita pergi karaoke saja?"

"Benar juga. Baiklah, mari kita berangkat!"

Hinata tersenyum senang saat Naruto menerima ajakannya, ini kesempatan langka baginya mengingat pemuda itu selalu berada di sisi Sakura. Mungkin terkesan mengambil kesempatan dalam kesempitan, tapi siapa yang bisa menjamin kesempatan akan datang dua kali? Dan Hinata sama sekali tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.

. . .

"Arigatou ne, Hinata-chan. Rasanya aku sudah lebih baik dari tadi." Naruto tersenyum lebar menandakan bahwa ia benar-benar sudah sembuh dari patah hatinya karena Sakura.

Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore, baik Hinata maupun Naruto kini telah berada di depan gerbang kediaman Hyuuga. Tidak lama, mereka hanya menghabiskan waktu sekitar sejam di tempat karaoke, dan setelahnya Naruto mengantar Hinata pulang setelah sebelumnya mereka mampir untuk membeli es krim dan takoyaki di salah satu kedai yang terletak di pinggir jalan.

"Ti-tidak masalah, a-aku juga merasa senang jika Naruto-kun sudah baikan," jawab Hinata tulus.

"Hhh, Sakura-chan itu, selalu saja membuatku patah hati! Kapan dia akan mengerti perasaanku sih?" Ujar Naruto mulai mengeluh.

"Errr…" Kali ini Hinata memilih untuk tidak merespon.

"Arigatou ne, Hinata-chan. Hehehe," ujar Naruto sekali lagi.

"Ka-kau sudah mengucapkannya tadi."

"Tidak, ini berbeda dengan yang tadi."

"Eh?"

"Kali ini aku berterimakasih padamu yang selalu berada di sampingku saat aku sedang patah hati seperti ini. Kalau diingat-ingat, kau memang selalu ada menghiburku saat Sakura-chan lagi-lagi membuatku patah hati. Arigatou ne, hehehehe." Naruto tersenyum lebar yang kemudian dilanjutkan dengan cengiran lebarnya.

"I-itu karena aku menyukai Naruto-kun."

"Eh?" Cengiran Naruto terhenti tergantikan oleh raut wajah kebingungan. Safir miliknya lantas memandang intens pada sosok gadis berambut indigo yang kini tengah menunduk dalam menyembunyikan wajah cantiknya.

"A-aku selalu menyukai Naruto-kun meski Naruto-kun menyukai Sakura-chan. A-aku akan selalu berada di sisi Naruto-kun kapanpun Naruto-kun butuhkan, ka-karena itu, bisakah Naruto-kun melihatku?"

Naruto tertegun melihat amethyst indah yang penuh kelembutan itu kini menatapnya penuh pengharapan, terlebih saat menyadari ekspresi Hinata yang penuh akan keyakinan akan kalimatnya barusan.

Hinata mengigit bibir bawahnya saat Naruto tak kunjung mengeluarkan suaranya hingga beberapa menit berlalu, Hinata memang takut mendengar jawaban pemuda itu –yang sudah ia perkirakan sebelumnya, tetapi bagaimanapun juga ia sudah menyiapkan mental untuk itu.

"Aaaa! Aku lupa! Besok hari selasa bukan?"

Eh?

Hinata tampak kebingungan dengan jawaban Naruto yang tidak nyambung, bukan jawaban memang, tetapi sebuah pertanyaan yang tidak ada sangkut pautnya dengan situasi mereka saat ini. Meski demikian, Hinata tetap mengangguk ringan sebagai jawaban.

"Tch! Aku lupa mengerjakan tugas fisika dari Anko-sensei dari dua minggu lalu! Aku harus mengerjakannya secepat mungkin, kalau tidak tugasku tidak akan selesai. Baiklah, aku pulang dulu, Hinata-chan. Aku harus mencari seseorang untuk membantuku mengerjakan tugas fisika ini. Jaa na!"

Hinata ingat, Anko-sensei memang memberikan mereka tugas Fisika sekitar lima puluh nomor karena guru muda itu tidak bisa hadir untuk minggu depan, dan besok tugas itu harus dikumpulkan. Hal yang tidak Hinata mengerti adalah kenapa Naruto harus menyinggung hal itu disaat ia baru saja mengutarakan perasaannya? Selain itu, bukankah mereka sekelas? Mengapa Naruto tidak memintanya untuk membantunya saja?

Satu hal yang Hinata sadari, Naruto menghindar dari pernyataan cintanya…

Hinata menangis, sikap Naruto bahkan lebih menyakitinya dibanding sebuah penolakan. Hinata akan lebih merasa lebih baik jika pemuda itu secara langsung menolaknya, tidak menggantungnya seperti ini. Pemuda itu bersikap seolah tidak terjadi apapun, seolah Hinata sama sekali tidak pernah mengatakan perasaannya. Segitu tidak berartikah dirinya? Bahkan hanya untuk merespon pernyatannya pun Naruto tidak mau.

Mungkin memang sudah saatnya Hinata melupakan perasaannya pada Naruto, dan meski Naruto akan tetap berbicara seperti biasa padanya besok, Hinata tidak yakin apakah ia masih bisa melakukan hal yang sama pada pria itu.

\=0=/\=0=/\=0=/

Seperti dugaan Hinata sebelumnya, Naruto memang tetap bersikap seperti biasa seolah kejadian kemarin sama sekali tidak pernah terjadi. Meski demikian, kecanggungan tetap dapat dirasakan oleh gadis itu. Meski samar, Hinata tahu bahwa Naruto kini menghindarinya, pemuda itu hanya akan berbicara seadanya saja padanya, selain itu pemuda itu juga baru berada di dekatnya jika ia sedang bersama Sakura.

Sedih tentu saja, tapi Hinata sedikit bersyukur karena dengan sikap Naruto yang demikian akan lebih mempermudah Hinata dalam melupakan perasaannya pada pemuda itu. Ini akan lebih sulit jika hanya Hinata saja yang berusaha menjauhi Naruto sedang pria itu terus berada di sekitarnya dengan tampang yang seolah tidak mengetahui apapun.

Beberapa hari berlalu, dan sikap keduanya yang terbilang aneh tentu sudah terbaca oleh Sakura. Gadis berambut pink itu beberapa kali memaksa Hinata mengatakan yang sebenarnya, namun hanya dibalas dengan sebuah gelengan lemah dari gadis itu. Hinata tidak ingin mengingat semuanya lagi, maka ia menyuruh gadis bermata emerald itu untuk menanyakannya pada Naruto saja. Hinata tidak tahu apakah Naruto bercerita pada Sakura atau tidak, Hinata tidak tahu dan tidak mau tahu.

Sreekk.

Suara pintu yang bergeser kontan membuat suasana kelas yang tadinya begitu ramai tiba-tiba saja sepi, para siswa segera berlarian menuju bangku masing-masing saat melihat guru yang akan mengajar mereka pagi ini telah memasuki kelas. Hinata menghela nafas saat lagi-lagi menyadari dia tidak memiliki teman sebangku selama dua bulan ini. Teman sebangkunya pindah ke luar kota dua bulan lalu, dan Hinata tidak bisa dengan bebas meminta seseorang untuk duduk di sebelahnya. Pandangan matanya lantas beralih pada sosok Sakura yang kini tengah berbisik-bisik ria pada Ino, di belakangnya tampak Naruto yang tengah menyalin tugas Shino. Hhh, tampaknya cuma Hinata yang merasa kesepian karena tidak memiliki teman sebangku.

"Anak-anak, hari ini kalian akan kedatangan murid baru." Suara Kakashi-sensei lantas mengalihkan perhatian para murid, terutama Hinata. Anak baru? Mudah-mudahan saja perempuan, harap Hinata. Gadis itu tentu senang, karena siapapun murid baru itu pasti akan duduk di sebelahnya mengingat bangku kosong hanya terdapat di sebelahnya.

"Baiklah, Akasuna-san. Silahkan masuk dan perkenalkan dirimu."

DEG.

Tap… Tap… Tap…

Semua mata kini tertuju pada sosok pemuda berambut merah dengan wajah baby face yang tengah melangkah bosan memasuki ruang kelas. Para siswi di kelas itu pun lantas berbisik keras seraya cekikikan saat melihat bola mata kecoklatan milik pemuda itu, bola mata yang memancarkan keramahan meski sedikit berbeda dengan yang ditunjukkan oleh wajah sang pria.

"Onamae wa Akasuna Sasori desu, yoroshiku."

"Itu saja?" Tanya Kakashi memastikan.

"Ya."

"Baiklah anak-anak, Akasuna baru saja pindah dari luar negeri beberapa hari yang lalu, tetapi dia sering berkunjung ke Jepang sehingga bisa menggunakan bahasa Jepang dengan cukup baik. Baik-baiklah dengannya," ujar kakashi tegas.

"Akasuna-san, silahkan duduk di sebelah Hyuuga Hinata." Lanjut Kakashi lagi, guru pria itu merasa tidak perlu menyuruh Hinata mengangkat tangannya karena satu-satunya bangku kosong yang ada di ruangan itu adalah di samping Hinata.

Braakk!

Semua mata lantas menoleh ke arah Hinata yang tiba-tiba saja berdiri sehingga membuat bangkunya berdecit nyaring.

"Ada apa, Hyuuga?" Tanya Kakashi-sensei yang cukup kebingungan dengan sikap Hinata, sejak awal gadis itu sudah tampak sangat terkejut sewaktu siswa baru tersebut memasuki kelas.

"Aaa, sepertinya aku lupa mengatakannya, Sensei." Bola mata yang tadinya tertuju pada sosok Hinata kini beralih pada sosok murid baru yang kini tampak tersenyum ke arah Hinata.

"Aku pindah ke Jepang juga ke sekolah ini untuk menemui tunanganku. Suatu kebetulan aku bisa sekelas dengannya, bahkan duduk di sebelahnya."

Tap tap tap tap

Siswa bernama Sasori itu lantas berjalan mendekat ke arah Hinata yang masih tampak terkejut.

"Benar kan, Hime?"

CUP

"EHHHH?"

Seluruh penghuni kelas XI A tentu saja terkejut mendengar pengakuan siswa yang bernama Sasori tersebut, lebih terkejut lagi karena pemuda itu tiba-tiba saja mengecup bibir Hinata singkat tepat di hadapan mereka.

"Tadaima, Hime."

Hal yang lebih mengherankan adalah saat mereka semua melihat ekspresi Hinata. Gadis yang disangka akan pingsan di tempat atau setidaknya menunduk malu dengan wajah yang memerah total itu justru tersenyum hangat menyambut sikap Sasori, dan meski sekilas, mereka semua yakin bahwa Hinata sempat membalas kecupan singkat tersebut.

"Okaeri, Sasori-kun."

Sakura tersenyum sekilas menyadari bahwa lagi-lagi kelas mereka dilanda kehebohan, dan kali ini disebabkan oleh sahabat dekatnya, Hinata. Sakura cukup tahu mengenai Sasori, gadis berambut pink itu beberapa kali menjadi pendengar yang baik bagi Hinata saat gadis itu tanpa sengaja membicarakan Sasori.

Mata emerald Sakura lantas beralih pada sosok pemuda berkulit tan yang duduk tepat di belakangnya, bibir mungil miliknya mengukir senyum penuh arti saat melihat bagaimana sosok pemuda berambut pirang itu tengah menatap Hinata dengan intens sekarang. Sakura yakin, sebentar lagi akan tiba saatnya dimana ia tidak harus direpotkan dengan sikap Naruto yang selalu mencari perhatian dengannya.

.

.

.

To be Continue

.

.

Aaaa, sepertinya alurnya kecepetan ya? Fic ini aku persembahkan buat para NaruHina Lovers sebagai permintaan maaf karena salah genre di fic Saya sebelumnya yang berjudul Regret^^'a.

Saat itu Saya gk sadar kalau genrenya kurang cocok, Saya baru sadar saat seorang NHL mereview dan mengatakan merasa tertipu karena genrenya, gomen ne u.u

Saya agak jarang menulis fic tentang school life, jadi agak sedikit kaku dalam fic ini. Terlebih lagi ini NaruHina pertama saya –Saya gak hitung yang pertama karena itu berakhir SasuHina. Maaf kalau feelnya kurang, Saya baru menapaki NaruHina dan belum tahu betul mengenai karakter2 kedua chara jika di pasangkan, dan Saya juga masih berusaha dalam mencari chemistry kedua chara tersebut (Saya lebih mendalami SasuHina sih^^')

Saya suka Hinata, tapi bukan Hinata-centric. Saya gak benci Naruto, tapi dibilang suka juga enggak. Saya mencoba menapaki NaruHina demi mencari suasana baru, rasanya tidak menantang kalau hanya berada di zona nyaman terus.

Saya sudah terbiasa nulis SH, jadi sedikit percaya diri dengannya. Untuk NH, ini merupakan tantangan baru untuk Saya. Jadi, dalam hal ini Saya tetap junior =D

Silahkan konkrit, tapi Saya harap menggunakan bahasa yang sopan. Oh ya, Fic ini sebenarnya akan dibuat oneshot, tetapi karena kepanjangan maka Saya bagi dua u.u (Chap ini aja pure 3k word). Cuma sampai Chap 2 kok^^, entar chap selanjutnya menyusul ya…

Lalu, Saya juga berterimakasih pada para reviewer yang sudah RnR di fic Regret milik Saya. Saya ingin membalas dua di antaranya, maaf karena gak bisa bales semua^^'a

Semuttt : Maaf ya, itu murni kesalahan Saya. Fic ini Saya persembahkan sebagai permintaan maaf.

Lady Lollipop: Well, Saya sudah membalas review kamudi kotak review sih (Saya ini paling males buka akun), tapi untuk memastikan bahwa kamu membacanya, Saya ulangi di sini lagi ya? ^^.
Pertama, apa yg d rasain Naruto ke Sakura juga d rasain oleh Saku, Hinata dan Sasuke. Dalam fic itu Naru suka Saku, Saku suka Sasu, Sasu suka Hina, Hina suka Naru. Mereka smua sama2 merasakan sakit yang sama..

Kedua, Knapa Sasu gak kena Karma? Sasu gak pernah nyakitin Saku dengan sengaja, dy nolak Saku agar tidak menyakiti Saku lebih jauh, karena meskipun dy nerima Saku kalo hatiny tetep ke Hina, Saku pasti lebih sakit lagi..

Ketiga, apa yang di rasakan Hina berbeda dengan yang di rasakan Naru ke Saku, seperti pada poin 1, sakit yang di rasakan Naru ke Saku juga di rasakan semuanya...

Lalu, Hina juga trluka 2x, lebih parah karena dy sudah mnjalin hubungan dengan Naru tapi Narunya malah ngajak Saku pacaran padahal mreka belum putus..

Klo boleh di bilang semuanya juga terluka 2x, Naru dan Hina sudah jelas, sedang Saku kembali terluka karena Naru, dan Sasu, dy terluka selama harus menerima kenyataan bahwa Hina masih terus di baying-bayangi oleh Naru..

Saya pikir itu aja, semoga kamu puas^^

Yak, sekian dulu bacot saya. Saya sangat mengharapkan review Anda semua^^

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .