Plays/Musicals » Screenplays »

BOCAH MISTERIUS TMK
Author:
Ciezie PM
Bocah misterius yang berhasil menjungkir balikkan dunia Eunhyukkie. Bagian LIMA BELAS ENDING dari The Mysterious Kid. BL. Bisa dibaca di FB kalau ini diremov again. RnR please.
Rated: Fiction T - Indonesian - Mystery/Romance - Chapters: 7 - Words: 25,854 - Reviews: 114 - Favs: 18 - Follows: 7 - Updated: 06-26-12 - Published: 06-12-12 - id: 8211109
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

The Mysterious Kid

By Cie Maknae AdmrHyukkie

...

It's Just fiction.

(play B2ST FICTION)

So, jadikan ini hiburan saja. Ambil yang baiknya, buang yang buruknya.. Dalam kehidupan nyata, saya berharap mereka bisa hidup bahagia. Tidak penuh konflik seperti ini.

Semua Chara milik dirinya masing-masing and their family. Tapi dalam cerita ini mereka kerja buat akting karakter tokoh-tokoh naskah saya.. hehe *sok sutradara

.

.

.

.

.

Selamat membaca, Semoga suka ^^

.

.

.

.

.

Ini akan jadi chapter terpanjang (mungkin), so baca dengan sabar dan pelan ya.. ^^

selamat membaca semoga anda suka ^^

.

.

.

.

.

Kyu POV

"Kyunie... "

Aku menoleh, dan kudapati wajah murung Umma. Aku segera memberikan senyum termanisku padanya. Umma mendekatiku yang sedang duduk di pinggiran jendela kamar kemudian mengelus-ngelus rambutku. Aku memejamkan mata, menikmati belaiannya.

Lalu tanganku terasa dijatuhi sesuatu. Basah...

Aku membuka mata dan menatap Umma. Dia sedang menangis. Tangan yang tidak dipakai membelai menutupi mulutnya, menahan agar isakkannya tak terdengar olehku.

Aku segera berdiri, menghapus air matanya.

Umma memelukku erat. "Maafkan Umma dan Appa..."

Kuusap punggung Umma pelan, "Tak apa Umma, kalian tidak salah apapun. Bukan salah Umma dan Appa mereka mempunyai dendam seperti itu. Semoga kali ini mereka tak bisa lepas lagi dan membuat kekacauan. Lebih dari itu semoga mereka diberi kesadaran."

Ya, aku tulus mengatakan itu. Aku tak dipenuhi dendam lagi sekarang. Menyimpan dendam hanya menambah permusuhan yang takkan ada habisnya. Tak ada yang salah, kami punya alasan masing-masing yang pasti punya pembenaran masing-masing pula. Semoga mereka juga seperi itu.

Umma terasa mengangguk di dadaku. "Lalu kau.. Hyukkie..." bisiknya.

Aku menggeleng. "Sudah Umma, aku tak ingin membahas ini lagi. Ini sudah tiga bulan dan aku sudah mulai bisa terbiasa."

Umma melepaskan pelukan dan menatapku, "Tapi kau tak bisa tanpanya kan?"

"Mungkin nanti lama-lama bisa Umma. Aku sudah senang bisa mendengar kabarnya. Kata Hae Hyung dia baik-baik saja. Jun juga selalu melaporkan perkembangannya. Aku cukup senang meski hanya bisa menjadi pengagum diam-diamnya lagi."

"Kyunnie... kita bisa..." kata Umma perlahan.

Aku tahu Umma pasti ingin menawarkanku hubungan dengan Hyukkie lagi. Tapi tidak! Tekadku sudah bulat.

"Stop Umma. Aku tak mau lagi membawanya ke dalam bahaya apapun. Sebelum aku datang hidupnya baik-baik saja. Jadi biarkan dia begitu. Dia tak ingat tentangku, sebelum aku berusaha menjauh, menjadi tanda kalau mungkin itu juga yang Tuhan inginkan, dia menghapus kenangannya tentangku."

"Kyunnie.." desis Umma dan kembali memelukku. Aku pun kembali mengelus punggungnya, menyabarkannya atau ... menyabarkan diriku sendiri.

Lamunanku melayang pada hari tergila dalam hidupku itu... andai bisa, aku juga ingin menghapus ingatan ini... tapi otakku rupanya terlalu bagus, hingga tak ada memori yang terhapus, aku mengingat semua detailnya seakurat pertama kali aku menerima kenangan itu.

.

.

.

.

.

Aku dan Kibum hyung segera berlari menuju mobil, begitu mendapa pesan dari Tuan Park kalau Hyukkie Hyung diculik. Kami tak berfikir apapun selain menyelamatkannya. Aku melarikan mobil gila-gilaan. Umma dan Appa tak kami beritahu, toh mungkin Tuan Park sudah menghubungi mereka juga. Yang pasti sekarang keselamatan Hyukkie yang paling utama.

Tapi kenapa perasaanku tak enak. Rasanya tindakan ini salah, tapi bayangan Hyukkie dilukai membuat kepanikan menyerang seluruh bagian otakku.

"Hyung..." panggilku sambil tetap konsentrasi pada setir.

Kibum Hyung menoleh, aku tahu dia sama ketakutannya sepertiku, tapi kemarahan kami juga lebih mendominasi.

"Bisakah kau beri pesan pada Jun. Entah kenapa perasaanku tak enak.. dan Jun harus tahu apa yang terjadi."

Kibum Hyung mengangguk dan menerima ponsel yang kuberikan.

Sampailah kami. Katanya Tuan Park langsung mengejar tadi, dan dia terus memberitahukan posisinya pada Kibum Hyung.

Tempatnya seperti kuduga terpencil. Kibum Hyung juga langsung mengirimkan setiap pesan dari Tuan Park pada Jun, atas saranku. Dadaku berdebaran. Aku terus berdoa dalam hati, semoga semua baik-baik saja. Ayo Jun secepat mungkin kembali, bawa bantuan juga.

Aku menarik nafas dalam-dalam, mempersiapkan diri.

Kami keluar dan langsung dihadang oleh beberapa orang. Dengan mudah kami bereskan. Begitupun pengawal yang ada di dalam gedung, sampai kemudian dari pintu dua orang membawa Hyukkie yang diikat di kursi.

Dia tampak ketakutan, entah kenapa pikiranku langsung pada hal yang tidak-tidak, apa saja yang mereka lakukan pada Hyukkie? Dan siapa mereka ini, kenapa mereka menculik Hyukkie? Apa motifnya? Hyukkie kukira takkan punya musuh seekstrim ini.

"Lepaskan dia sekarang juga!"

Hyukkie menatapku dengan pandangan yang membuat jantungku rasanya berhenti berdetak, dia ketakutan. Tanpa sadar aku melangkahkan kaki, mendekatinya.

"Tentu saja tidak semudah itu bocah. Apa untungnya buat kami. Dan jangan berani mendekat, atau aku akan meamatahkan lehernya dengan tangan kosong." Jawabnya sambil membelai leher Hyukkie, yang langsung berjengit.

Aku menghentikan langkah. "Apa mau kalian?" desisku dengan nada setajam mungkin.

"Mau kami, yang pertama. Jangan melawan..." dia kembali membelai-belai leher Hyukkie.

Dua orang mendekati kami membawa tali. Sial! Aku hanya diam, ketika mereka mulai mengikat kami.

"Bagus! Anak baik." Bos menyeringai. "Kedua... keinginan kami adalah... kalian hancur."

Aku terbelalak, kulirik Kibum Hyung yang sama terbelalaknya. Sial! Jadi ini tipuan! Ini yang dia inginkan. Jadi memang kami yang diincar sebenarnya.

"Karena kehancuran kalian adalah kehancuran Appa kalian yang brengsek itu."

Benar saja. Jadi ini musuh Appa. Ternyata ketakutan Appa menjadi kenyataan. Ada lagi yang dendam pada Appa dan melampiaskannya pada kami. Tapi kenapa mereka tahu soal Hyukkie?

Lalu dua orang keluar keluar dari sebuah ruangan. Tuan Park? Dia menyeringai. Sial! Sial! Pasti ini yang menyebabkan Hyukkie dengan mudah diculik. Tapi kenapa dia? Apa jangan-jangan Tuan Kang juga?

"Tu.. tuan.. Park.. ke kenapa?"

Terdengar suara pelan Kibum Hyung, dia pasti sangat terkejut. Aku juga akan begitu kalau ada di posisinya dan melihat Tuan Kang misalnya.

Tuan Park mendekat, dia menyeringai. "Maaf Kibummie, aku sayang padamu, tapi aku lebih sayang pada orang tuaku. Dan tahukah Kau? Mereka mati gara-gara orang tuamu. Hmmm dan orang tuamu bukannya memberi tunjangan seumur hidup pada kami, tapi mereka malah mempekerjakan kami menjaga orang-orang setengah gila seperti kalian."

Mata Kibum Hyung terbelalak, hatinya pasti sangat sakit.

Lalu dia menoleh padaku. "Tapi tenang saja Tuan Kang atau kakakku yang bodoh itu, terlalu baik sehingga sama sekali tak dendam pada kalian."

Entah aku harus senang atau tidak. Kibum Hyung terlihat menunduk. Apa ini yang menyebabkan Kibum Hyung susah sembuh? Jangan-jangan dia juga mengganggu proses pengobatannya. Kenapa aku tak peka?

Lalu orang kedua mendekati Kibum Hyung. Dia membelai pipi Kibum Hyung yang langsung tersentak dan berusaha melepaskan belaian tangan itu dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Masih ingat aku. Ahhh kau belum tahu namaku kan? Panggil saja Buddy, heheh. Kau tahu aku tak pernah bisa melupakanmu, aku menyesal tak membawamu dari gudang itu. Apalagi akhirnya mereka bisa menangkapku dan memenjarakanku. Untung Boss hebatku ini bisa mengeluarkanku dan akhirnya aku bisa balas dendam. Hahaha."

Tangannya kini berada di leher Kibum Hyung, memaksanya untuk menghadap ke arahnya, lalu dia mendekat dan mencium Kibum Hyung yang tentu saja kembali berusaha memeberontak. Dan, SHIT aku juga masih tak bisa melakukan apa-apa, dua orang yang paling kusayangi sama-sama mendapat pelecehan di depan mataku. Tuhan kalau mereka sampai kenapa-kenapa, lebih baik aku mati saja.

Bagian-bagian selanjutnya adalah hal yang ingin sekali kulupakan. Bagaimana orang yang dipanggil Boss itu melecehkan Hyukkieku. Aku berteriak-teriak agar dia dilepaskan, tapi si Bos itu dengan senyum menjijikannya tetap saja melakukan itu, membuat hatiku rasanya diiris-iris.

Bahkan akhirnya Kibum Hyung juga mengorbankan dirinya, menurut untuk melayani si Buddy yang sama brengseknya itu. Memenuhi syarat si Bos.

Tapi setelah Kibum Hyung di bawa, Bos brengsek itu dengan gilanya tetap bilang ingin merape Hyukkie.

Aku takkan pernah bisa memaafkan diriku sendiri. kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi pada Hyukkie.

Ayo kekuatan datanglah. Kalau ada yang harus menderita di sini, biar aku saja yang menanggungnya. Hyukkie tak ada salah sama sekali. Dia jadi begini gara-gara aku.

Kemarahanku tersulut lagi ketika melihat dia membawa Hyukkieku ke dalam ruangan. Bayangan apa yang akan dilakukannya di dalam itu membuat kemarahanku sampai puncak.

Aku menggeliat-geliatkan badan, menarik-narik tubuhku agar keluar dari jeratan tali sialan ini, meski sakitnya bukan main. Akhirnya aku berhasil, lama-lama talinya aus tergesek-gesek ujung tiang yang runcing hingga terlepas.

Aku langsung dihadang pengawal-pengawal bodoh itu. Aku membereskan mereka secepat yang kubisa.

Buru-buru aku masuk ke dalam.

Shittt! Dia sedang ada di atas tubuh Hyukkie yang polos.. Mataku membulat kemarahanku semakin menggebu.

Aku menendang si Bos sialan itu, meninju, memukul, segala hal kulakukan.

Sampai aku dibawa lagi oleh beberapa pengawal, Sial kenapa mereka tak kubuat mati saja tadi. Dua orang memegangiku, giliran bos itu yang menyiksaku. Dari ujung mata kulihat Hyukkieku yang tampak menyedihkan.

Tuhan tak apa-apa aku mati, asal selamatkan dia, jangan biarkan dia hancur seperti Kibum Hyung.. dan mengingat Kibum Hyung aku semakin merasa terpuruk, ahhh aku juga tak bisa menyelamatkannya. Apa gunaku sebenarnya?

"Heh beraninya kau bocah melukaiku... pegangi dia dan buat dia melihat ini..."

Tidak! Jangan! Jangan!

Aku harus bagaimana? Badanku rasanya sakit semua. Aku tak bisa bergerak. Tapi si BOS brengsek itu mulai merayapi Hyukkie yang memejamkan mata dengan airmata meleleh di pipinya. Dia pasti sangat merasa terhina, apalagi aku melihatnya.

Aku dapat kekuatan lagi. Meski mungkin ini batasnya, ku sentakan pegangan mereka. Kupukuli lalu kembali kutendang si BOS sialan itu.

Aku memeluk Hyukkie ku, menghalangi badannya yang polos agar tak terlihat siapapun. Dia membuka matanya, dan terlihat kaget melihatku. Aku berusaha memberikan senyum meski rasanya seluruh badanku sudah mati rasa saking sakitnya.

Dia menangis, membuatku ikut menangis. Kami bertatap-tatapan dan saling menangis. Berusaha saling menguatkan lewat tatapan mata. Tapi sama-sama tahu juga, kami mungkin akan berakhir di sini, Jun pasti kesulitan kembali cepat kemari. Umma dan Appa pasti tak tahu ini. Tak ada yang bisa kami harapkan.

Tapi dalam hati aku tetap berteriak-teriak, Tuan Kang, Umma, Appa, Jun, Hae, Seobie, siapapun temukan kami. Tak apa aku tak selamat, tapi selamatkan Hyukkieku juga Kibum Hyung. Kurasa para penjahat mendekat lagi. Mereka juga pasti akan mengamuk. Aku tak peduli. Aku harus melindungi Hyukkie. Kueratkan pelukanku, akan kulindungi sampai aku tak mampu lagi.

Pukulan bertubitubi mengenai punggungku. Sakit? Tentu saja. Tapi hanya ini yang bisa kulakukan. Aku berusaha tetap tersenyum..

"Stop..." bisiknya.

Aku menggeleng, mengirimkan pandangan kalau aku baik-baik saja. Dia menangis lagi. Lalu tiba-tiba matanya membulat, ada apa? Tanpa kuduga dia membalikan badanku. Dan aku tahu apa alasannya, tapi terlambat, Kayu itu melayang dan menghantam kepala Hyukkie, matanya membeliak, itu pasti sangat sakit. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya dan terkulai.

"Kyu..." seseorang terdengar memanggilku.

Aku memandang pintu, Jun? Benarkah? Hae Hyung juga.

Mereka mendekat dan menghajar para begundal itu.

Aku bangkit, kuusap kepala Hyukkie, darahnya banyak. Badanku bergetar. Aku membuka jaketku, kututupi badannya yang polos. Kupeluk erat sambil menangis.

Aku selalu saja membahayakanmu. Andai aku tak pernah memaksakan diri untuk bisa berkenalan denganmu... kau takkan begini. Kau takkan bertemu Kibum Hyung lagi, kau takkan menjadi sasaran luka fisik dan psikis kegilaan kami. Kau takkan menjadi sasaran musuh Umma dan Appa. Seandainya waktu bisa diulang, aku akan memilih untuk hanya menjadi pengagummu diam-diam saja selamanya.

"Kyu..." Jun mendekat, dia sudah menyelesaikan para begundal itu.

Aku tak tahu bagaimana dia bisa ada di sini lagi, bukankah dia di desa neneneknya HyukSeob, tapi mulutku terlalu kering untuk bertanya. Aku memeluk erat Hyukkie.

"Ayo biar aku bawa." Jun berusaha mengambil Hyukkie ku. Aku menggeleng. Aku tak mau melepaskannya, aku takut tak bisa memilikinya lagi. Aku takut sesuatu yang buruk menimpanya lagi.

"Kyu... lihat! Ini aku, Jun. Ayo, Hyukkie harus diobati.." Jun melepaskan jaketnya juga menutupi bagian bawah Hyukkie. "Kau juga harus diobati, ayo biar aku yang angkat dia."

Akhirnya kulepaskan. Jun mengangkat hyukiie, Hae Hyung mendekat dan memapahku. Begitu keluar kulihat, Kibum yang dipapah Tuan Kang. Sepertinya si brengsek Buddy itu belum sempat mengapa-apakan, karena Kibum Hyung terlihat tenang. Meski badannnya babak belur. Bersama-sama kami keluar gedung itu.

Di sana sudah menunggu ambulance dan kami memasukinya.

.

.

.

.

.

Hyukkie koma selama hampir satu minggu. Selama itu aku selalu di sampingnya berdoa. Meski dokter menyuruhku untuk berbaring di kamarku sendiri. Lukaku juga parah, tapi aku memaksa, kadang kalau mulai terasa sakit, aku akan ikut berbaring di ranjangnya. Memeluknya erat.

Umma dan Appanya sudah mengetahui hubungan kami, dan mereka terlihat tak marah. Aku bersyukur. Aku meminta maaf berulang-ulang, tapi Umma hanya memelukku dan Appa menepuk-nepuk pundakku. Umma bilang mungkin ini sudah menjadi takdir yang harus dijalani Hyukkie. Ada yang sakit di hatiku mendengarnya, jadi takdirnya selalu ditimpa masalah, tapi ini gara-gara aku? Haruskah aku menjauh saja?

Kemudian satu hari sebelum dia sadar, Dokter memberi tahukan hasil diagnosisnya pada kami. Dia bilang kemungkinan besar Hyukkie akan kehilangan sebagian ingatannya, baik itu karena pukulan yang mengenai otaknya atau bisa juga karena traumatiknya. Jadi kalau nanti dia sadar, dan tidak ingat apa-apa, kita jangan kaget lagi. Bersikap biasa saja.

Deg!

Ini kah jawabannya? Sepertinya aku harus membulatkan keputusanku. Menjauhinya. Entah kenapa perasaanku terus berbisik, setelah semua yang terjadi, pasti kenangan tentangku lah yang akan dilupakannya.

Baiklah kalau begitu, inilah yang akan kulakukan. Menjauhinya!

Aku menyampaikan keputusanku, setelah sebelumnya aku berdiskusi dengan Kibum Hyung, dia juga setuju. Mari kita menjauh dari Hyukkie, membuatnya tak terlibat masalah apapun lagi. Kibum Hyung tampak benar-benar tenang sekarang, jadi benar Tuan Park dulu mengacaukan pengobatannya.

Awalnya semua bereaksi keras, tapi aku juga tetap dengen tekadku, akhirnya mereka luluh. Umma dan Appa memelukku. Mereka berbisik, kenapa aku bisa sedewasa itu? Kenapa aku harus menerima ujian seberat ini di usiaku yang masih bocah.

Tapi aku tetap meminta mereka tidak memberitahukan semua yang terjadi pada Hyukkieku. Mereka mengangguk. Sekarang tinggal membuat semua yang pernah mengetahuiku dan Kibum Hyung juga melupakan kami. Itu urusan mudah. Tinggal diancam atau diiming-imingi uang.

Hah iya aku ingat juga IU. Aku akan membuatnya kembali pada Hyukkie -aku jadi terbiasa memanggilnya tanpa Hyung—IU gadis yang baik. Atau kalau Hyukkie ternyata lebih ingin dengan Donghae Hyung aku juga akan setuju. Dia juga orang yang baik dan pasti takkan menyebabkan masalah sepertiku.

Saatnya menghilang dari kehidupannya. Dan ternyata benar dugaanku, dia melupakanku dan semua kejadian buruk itu.

Aku hanya bisa menggigit bibir dan menangis diam-diam ketika dia sadar dan tidak ingat kejadian itu. Aku ada saat itu, aku selalu ada. Aku hanya berdiri di depan pintu, menahan sekuat tenaga, kakiku yang ingin melangkah ke dalam dan memeluknya erat.

.

.

.

.

.

Enam bulan, aku semakin terbiasa tanpanya, meski rasanya hidupku jadi sangat datar. Aku menyelesaikan ujianku dan rencanku untuk berhenti dulu sekolah kuurungkan. Aku akan lanjutkan sekolahku jauh dari sini. Lama-lama kurasa aku takkan kuat, dan di luar kesadaran aku pasti akan menemuinya.

Awalnya Umma dan Appa menolak. Mereka ingin aku tetap di sini. Tapi ketika kubilang aku akan melanjutkan sekolahku bersama Kibum Hyung, mereka akhirnya mengerti. Tuan Kang juga ikut, dia terus meminta maaf soal adiknya, dia bahkan sempat akan mengundurkan diri. Tapi aku segera mencegahnya, dia sudah seperti sosok seorang paman bagiku. Dia juga tak ada salah apa-apa.

Tapi sejujurnya aku ingin sekali memeluknya, Hyukkieku, untuk terakhir kali. Aku ingin mendapatkan senyumnya. Aku ingin ahhhh... keinginanku terlalu banyak. Atau cukup melihatnya saja. Ya ini untuk terakhir kalinya, tak apa kan?

Aku segera memberitahu Jun dan Donghae Hyung. Hyukkie sudah membaik sekarang, dia kembali pada kehidupan lamanya. Sepertinya dia lebih memilih Donghae Hyung daripada IU. Tak apa aku rela.

Aku segera ke taman yang ada di kompleks perumahan Hyukkie Hyung. Biasanya begitu jika aku ingin melihatnya, mereka akan membawanya kemari, bermain di sini, dan aku hanya bisa melihatnya saja. Aku takkan mendekatinya. Hanya melihat senyum cerianya di kejauhan.

Mereka datang, aku segera memakai kerudung jaketku. Membenamkannya dalam. Dia sedang memegang lengan Donghae Hyung erat. Senyumannya terlihat lepas dan bahagia. Aku ikut tersenyum, meski entah kenapa sialnya mataku malah menangis.

"Hyukkie tunggu sebentar ya di sini. Aku dan Jun akan pergi menjemput Seobie dulu. Tak lama kok." Terdengar suara Donghae Hyung.

Hah? Apa-apaan mereka?

Hyukkie mengangguk imut. Mereka pun keluar dari taman bermain ini. Mereka tak bermaksud meninggalkanku berdua dengannya kan? Mereka tak bermaksud membiarkan dia menemukanku kan? Tidak! Mereka sudah gila! Bagaimana kalau traumanya kambuh, apa yang akan dia lakukan kalau ingat semua kejadian itu.

Aku semakin membenamkan kerudung jaketku ketika dia mendekat dan duduk di ayunan sebelahku. Sial! Angin berdesir, membuat harum tubuhnya masuk ke penciumanku. Aku mati-matian menahan diri untuk tidak memeluknya. Sial!

"Emmm... hai... kau orang baru."

Aku tersentak. Bagaimana ini? Bolehkah Tuhan, bolehkah untuk terakhir kalinya aku menampakkan diri. Tapi kumohon jangan buat dia ingat semua kenangan buruk itu. Kumohon!

Pelan aku mengangkat wajahku, aku mengangguk.

"Wah benar rupanya, ayo kenalan. Aku Eunhyuk, kau?"

"Emmm Kyuhyun..." bisikku.

Lalu tanpa kuduga dia tiba-tiba sudah berlutut di depanku. "Kenapa kau memakai jaket begitu di udara panas, sedang sakit ya?"

Aku memundurkan badan membuatku terjatuh, dan tudung jaketku terlepas. Dia terpana menatapku. Tidak! Jangan, jangan sampai dia ingat Tuhan.

Dia mendekat dengan masih memasang ekpresi kaget. Tangannya terulur dan ... mengusap pipiku? Dia ingatkah?

"Aku bermimpi kah? Bukankah kau orang yang selalu ada dalam mimpiku, Kyu..." matanya berkaca-kaca.

Tanpa bisa kutahan aku mendekat dan memeluknya erat. "Iya kau sedang bermimpi Hyukkie, aku datang untuk berpamitan aku mungkin tak bisa menemuimu lagi dalam mimpi." Bisikku. Biar kuikuti saja alur ceritanya.

Dia mengeratkan pelukannya, "Jangan pergi Kyu... ketika bangun dan tahu aku hanya bermimpi tentangmu, hatiku rasanya kosong. Jangan pergi. Aku cukup senang meski hanya melihatmu dalam mimpi. Aku pasti bodoh karena menyukai orang yang hanya ada dalam mimpiku."

Aku segera melepaskan pelukanku, menatap matanya. Jadi dia juga merasakan kekosongan itu. Haruskah aku kembali padanya?

Tidak! Tidak Kyu pabbo. Kau hanya akan membuatnya kembali dalam masalah saja. Tapi pandangan matanya... aku tak bisa meninggalkannya. Aku ingin selalu ada di sampingnya. Aku... ahhhhhh

Aku mendekat dan tanpa bisa kutahan, mencium bibirnya. Untuk terakhir kali saja. Aku melepaskan ciuman dan menatapnya lagi, dia sedang terkaget-kaget menatapku.

"Maaf aku tak bisa! Kau pasti akan bahagia tanpaku. Kau punya keluarga yang baik, sahabat yang setia, dan juga Hae Hyung. Dia akan menjaga dan membahagiakanmu." Ucapku sambil berdiri.

Dia ikut berdiri dan memegang lenganku erat. "Tidak! Jangan tinggalkan aku Kyu. Jangan! Tak apa hanya dalam mimpii juga. jangan! Kumohon..." dia terisak.

Bagaimana ini?

"Kau hanya akan mendapatkan kesedihan bila bersamaku, Hyukkie Hyung..." bisikku.

Tangannya bergetar, matanya terbelalak menatapku. Jangan bilang dia ingat? Jangan!

"Kyu.. Kyu... ini.. ini bukan mimpi kan? Kau..."

Dia terduduk dan memegang kepalanya. Jangan bilang dia ingat semuanya sekarang! Tidak! Aku segera mendudukkan diri dan memeluknya erat. "Hyukkie..."

Badannya semakin bergetar. "Kyu... kyu... kau... kau bukan tokoh dalam mimpi kan hiks... hiks.. ayo bilang kalau kau nyata, apa semua mimpiku nyata..." tapi wajahnya meringis kesakitan dan ketakutan. Semua bayangan itu pasti sedang tergambar kembali.

"Hyukkie lupakan semuanya... lupakan! Anggap ini hanya mimpi." Aku mengelus-ngelus kepalanya.

"Jadi ini bukan mimpi?"

Dia melepaskan pelukan, mengelus wajahku dan tanpa kuduga mendekatkan wajah dan menciumku. Terus... ciuman yang basah dan menuntut. Dia ingin tahu aku hanya hayalan atau benar-benar nyata. Dia terus menciumku... hingga aku yang tak kuat, dan mendorong badannya pelan.

"Dengarkan aku... jangan pergi! Kumohon. Aku tak ingat semua memori tentangmu, tapi aku tahu kau bagian penting dalam hidupku. Mungkin ada kenangan buruk antara kita, tapi aku yakin sekali kau bukan bagian buruknya. Bertemu denganmu meski mengakibatkan keburukan, tapi tetap adalah bagian yang paling membahagiakan untukku. Jangan pergi!" bisiknya.

Bagaimana ini? bagaimana?

Lalu terdengar langkah mendekat. Semuanya datang, Seobie yang paling pertama sampai dia memelukku dari samping. "Iya, aku akan membantu menjaga Hyukkie Hyung! Jangan pergi Kyu!"

"Jadi ini bukan mimpi? Benar-benar bukan mimpi?"

Seobie hanya tersenyum pada Hyukkie. Aku tahu keputusan ada di tanganku, kalau aku setuju mereka akan membantu menjelaskan. Tapi kalau aku menolak, mereka akan bilang ini hanya mimpi lagi pada Hyukkie.

Aku memandang berkeliling, mereka tersenyum dan mengangguk. Beberapa berkaca-kaca. Bolehkah Tuhan? Aku janji akan jadi anak yang baik selama sisa hidupku kalau ini benar-benar terjadi. Aku bisa kembali pada Hyukkie.

Iya! Akan kucoba, kalaupun ternyata dia trauma akan kusembuhkan.

Aku mendekat dan memeluknya erat. Aku berbisik di telinganya, "Ini bukan mimpi, aku dan cintaku nyata."

Tuhan! Terimakasih!

.

.

.

.

END

*dilempar sandal

No, ayo tarik nafas dulu. Jangan sampai bosan karena membaca FF ini. Oke kalau sudah mari kita lanjut!

.

.

.

.

.

EUNHYUK POV

Aku masih memandangnya tak berkedip. Dia nyata? Dia nyata? Dia bukan The Misterious Kid, bukan Cuma bocah misterius kan? Dia nyata? Ya dia nyata! Hyukkie pabbo. Aku menepuk kepalaku. Bukankah semua orang bilang begitu.

Aku terus menatapnya. Kami sedang berdua di kamar. Ini sudah hari kedua sejak dia mengaku. Dia tak jadi pergi. Tapi aku masih dihinggapi rasa tak percaya.

"Aku tahu aku tampan Hyung, tapi tak usah serakus itu memandangku. Aku takkan habis meski Hyung menjilatiku seumur hidup Hyung."

Dasar! Aku mendekat dan memukulnya dengan bantal Monkeyku. Dia nyengir.

"Aku hanya masih tak percaya..." ujarku sambil memandang wajahnya yang errr kenapa semakin terlihat gagah daripada di mimpi-mimpiku.

Dia tersenyum dan memelukku, aku meletakkan daguku di pundaknya dan ikut melingkarkan tangan di punggungnya. "Mungkin nanti Hyung akan ingat lagi, bahkan.. emmm ingatan buruknya.. saat itu terjadi aku berjanji akan tetap di samping Hyung dan aku akan menyembuhkan Hyung..."

"Aku sudah ingat kok soal itu. Maksudku dalam mimpi, aku memimpikan banyak hal, kalau maksudmu kejadian yang kau memelukku kemudian aku dipukul dengan kayu aku sering melihat gambaran itu dan aku sudah terbiasa. Malah karena itu aku begitu merindukanmu, kau penyelamatku."

Dia mengeratkan pelukannya, "Benarkah! Kalau begitu aku tenang, aku selalu ketakutan kau akan ingat semua kejadian buruk dan memintaku untuk meninggalkanmu."

Kami terus begitu, berpelukan dalam keheningan.

Sampai tiba-tiba kurasakan sebuah tangan menyusuri punggungku. Terus kebawah dan mencengkram bagian belakangku. Aku melepaskan pelukan dan segera menggeplak kepalanya masih dengan bantal Monkey yang dari tadi memang kupegang.

"Pervert!" bentakku.

Dia terkekeh tapi tetap mendekat, membuatku terus mundur dan akhirnya terduduk di kasur.

"Aku Cuma mau tahu, ternyata Hyung tak trauma dengan sentuhanku heheheh. Lagipula aku sudah tinggi Hyung bahkan lebih tinggi daripada Hyung... jadi bolehkan?"

Mataku membulat, ketika dia menyentuh pundakku, mendorong tubuhku pelan hingga terbaring di tempat tidur. Dia merayap di atasku. Ketika kepalanya sejajar denganku, dia tersenyum dan menatapku lembut. Ahhh rasanya hatiku meleleh.

Kepalanya mendekat, dia memiringkan kepalanya, meraup bibirku dan mengecupnya lembut. Aku memejamkan mata tanpa sadar. Aku rindu ini! Entah berapa lama, rasanya waktu ingin kuhentikan. Dia lalu mulai membelai leherku, turun ke bawah. Tangannya menelusup ke ballik kaus dan mulai membelai-belai perutku maju ke atas, hingga kausku tersingkap.

Rasanya? Jangan ditanya, kalau aku sedang berdiri aku pasti sudah ambruk.

Lalu tiba-tiba bayangan itu menerpa lagi, gudang, UKS, gedung... aku mengeleng-gelengkan kepalaku. Ayolah Hyukkie ini Kyu! Dan Kyu menyayangimu sebesar rasa sayangmu padanya. Tapi bayangan itu tak mau berhenti menerroku.

"Hyukkie..." kudengar bisikan berulang hingga akhirnya aku membuka mata dan yang pertama kulihat adalah wajah tampannya dan mata tajam tapi lembut itu. Dia menyunggingkan senyum,

"Ini aku... jangan takut!" bisiknya.

Aku mengangguk. Dan terus membuka mata agar tak mendapat bayangan itu lagi. Dia kembali menciumiku lagi. Aku melingkarkan tanganku di lehernya.

Perlahan dia membuka kausku. Ketakutan itu kembali datang, tapi dia dengan senyuman dan pandangan matanya kembali menenangkanku. Dia juga membuka kemejanya membuat wajahku memanas.

Dia tersenyum evil, "Tak apa! Jangan malu-malu begitu! ayo pandang sepuasmu!"

Aku hanya mempoutkan bibir. Dia kembali bergerak ke atasku. Menciumiku lagi. Ciumannya kemudian turun ke semua bagian tubuhku. Belum lagi tangannya. Ahhh aku bisa gila, perasaan ini tak bisa kujabarkan. Kalau bayangan itu mulai menerpa aku kembali menatap wajah dan matanya. Aku harus bisa menghapus trauma itu. Aku pasti bisa.

Tangannya sampai di ban celanaku, dia memandangku seakan minta izin, ahhhh bagaimana ini, aku ingin.. tapi aku malu.. tapi aku ingin.. akhirnya aku mengangguk dengan wajah yang pasti sudah memerah.

Tapi sebelum dia berhasil melepaskan celanaku terdengar gedoran keras di pintu.

"Kyu ada Umma dan Appamu... mereka mau bicara katanya!"

Suara Jun! Aku hanya tersenyum mendengar Kyu yang mengumpat pelan. Aku juga sebenarnya tak tahan, tapi... mau bagaimana lagi?

Dengan masih mengumpat, dia memakai kembali kemejanya, mendekat padaku menciumku kasar membuatku menggeplak kepalanya lagi. Dia kembali mengumpat sambil mengusap-usap kepalanya. "Apa kita benar-benar baru boleh melakukannya setelah menikah? SHITTTTTT!"

Aku tersenyum, bangun, menggapai kausku dan kembali memakainya. "Mungkin iya..."

Tapi dia masih cemberut sambil mengancingkan kemejanya, aku mendekat dan mencium pipinya. "Aku juga ingin kok Kyu. Tapi mungkin kita memang harus bersabar sedikit lagi." Aku memeluknya erat.

Dia akhirnya tersenyum dan membelai kepalaku.

"Baiklah, itu akan terasa lebih indah ya. Aku akan bersabar kalau begitu." dia mengecup bibirku kilat. Menangkap tanganku mengeratkan pegangan dan mengajakku ke luar.

.

.

.

.

.

.

SEOBIE POV

Aku bahagia, melihat mereka kembali bersama. Aku tak tahan melihat mereka sama-sama menderita.

"Kenapa Seobie?" seseorang meletakkan dagunya di pundakku.

Jun pastinya, dan akhirnya aku benar-benar yakin Jun juga mencintaiku sebesar aku mencintainya.

"Annie... hanya ikut bahagia untuk Hyukkie Hyung..." jawabku pandanganku mengarah pada KYUHYUK yang sedang asyik mengobrol dengan Umma dan Appa Kyu.

Tangannya kini melingkari tubuhku, "Aku juga senang untuk mereka. Maafkan aku... karena sempat meragukan perasaanku padamu.. aku..."

"Sudah jangan bahas itu lagi! Yang penting sekarang aku sudah mendapatkanmu! Aku hebat kan?" aku memberikan cengiran padanya.

"Iya tapi jangan pernah berani pergi begitu saja lagi! Hah! Untunglah waktu itu kita langsung ingin pulang ya... jadi bisa menyelamatkan mereka tepat waktu." Dia melepaskan pelukannya.

Aku mengangguk, memandang wajahnya dari samping... ahhhh Jun kenapa kau sesempurna ini. giliranku yang melingkarkan tanganku di pelukannya, meski susah karena tanganku masih terlalu kecil. Menyebalkan! Kenapa aku tidak tumbuh sepesat Kyu, dia jadi tinggi dan tegap. Tapi kenapa aku masih kecil sih. Tanpa sadar aku mengerucutkan bibir.

"Kenapa lagi?" rupanya dia sudah memandangku lagi.

"Anni hanya kesal karena aku tak bisa seperti Kyu, pertumbuhanku macet. Sekarang Kyu lebih terlihat seperti Hyungku daripada sahabatku..."

Dia terkekeh dan membalas pelukanku, "Aku malah suka kok kau yang seperti ini. Jadi imut-imut, kalau kau seperti Kyu aku malah kurang suka mungkin..."

"Hah jadi kalau aku nanti jadi tinggi kau takkan suka lagi?" rajukku dan melepaskan pelukan. Menyilangkan lengan dan mempoutkan bibir. Bagaimana kalau nanti aku juga jadi tinggi? Dia akan meninggalkanku?

Kembali dia memelukku dari belakang, "Bukan begitu Seobie, aku hanya berusaha bilang kalau aku suka kau apa adanya, kalau pun nanti kau jadi seperti Kyu aku akan tetap suka. Tapi saat ini aku suka kau yang seperti ini.. ahhhh maksudku aku akan suka apa dan bagaimanapun kau... ayolah Seobie pokoknya begitu... jangan marah lagi ya..."

Aku tersenyum, hmmm jadi begitu. aku berbalik memandang matanya. Aku memberikan senyumku, "Baiklah aku percaya,"

Dia ikutan tersenyum, dan kemudian mendekat, hatiku berdebar-debar, mataku mau tidak mau tertuju pada bibirnya, ... semakin dekat dan..

PLUKK

Aku mengerjap-ngerjapkan mata.

"Awwww..." rupanya sebuah bantal Monkey dilempar oleh Hyukkie Hyung pada Jun yang langsung berbalik memandang marah Hyukkie Hyung.

"Apa? Jangan berani-berani berbuat yang iya-iya pada adikku Jun Hyung!" teriaknya, Kyu dan orangtuanya hanya terkekeh.

Aku ikutan terkekeh membuat Junnie terlihat kesal, aku segera memeluknya dan berbisik, "Nanti kalau tak ada hyukkie hyung kau boleh melakukannya sepuasmu."

Dia menatapku, "Benarkah? Melakukan yang lain juga boleh kan?" dia tersenyum mesum. Dasar!

Aku segera berdiri dan memukul kepalanya dengan bantal Monkey yang tergeletak di lantai, "Kyaaa mesum!"

Aku segera berlari ke arah Hyukkie Hyung dan memeluknya erat.

Junnie terlihat semakin kesal dan kami malah semakin senang. Menertawakannya bersama-sama.

.

.

.

.

.

DONGHAE POV

Aku menatap kebahagiaan mereka dari sini, dari sudut dapur. Ada bagian hatiku yang sakit, tapi bagian hatiku yang lain juga ikut bahagia. Melihat senyum Eunhyukkie adalah kebahagianku juga.

Lalu terdengar suara langkah mendekat.

Kibum? Matanya merah, perasaannya pasti sama denganku. Kami menyukai orang yang sama kan? Dan kami juga sama-sama berkorban untuk kebahagiannya.

"Minggir! Kau menghalangi jalanku!" bisiknya begitu dekat denganku. Huh masih saja sifat datarnya itu!

"Tak bisa kah kau sedikit lebih ramah!" ucapku sambil sedikit meminggirkan badan.

"Tak ada untungnya bagiku beramah tamah padamu." Katanya sambil masuk dan mengambil gelas kemudian mengisinya dengan air.

Ciihh kenapa dia sedatar itu pada orang lain, hanya pada Hyukkie dan Kyu tentunya dia sedikit berekspresi.

"Terimakasih!"

Hah? Aku segera menatapnya. Dia berterima kasih padaku? Apa aku tak salah dengar?

"Terimakasih sudah menyelamatkanku lagi."

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum, ternyata dia tak seburuk itu, setidaknya dia masih ingat kalau aku yang menyelamatkannya dari orang-orang yang dendam pada Appanya itu. Aku segera memberikannya pada Tuan Kang dan kemudian dengan Jun mencari Hyukkie waktu itu.

"Dan terimakasih sudah merelakan Eunhyukkie untuk adikku." Dia sedikit menyunggingkan senyum yang membuatku kembali terpana.

Aku hanya bisa mengangguk. "Kita senasib." Desisku.

Dia menatapku dan mengangguk. Lalu mendekat, sama-sama menatap Eunhyukkie yang sedang tersenyum karena pertengkarannya dengan Jun Hyung. Aku ikut tersenyum, ketika menoleh, Kibum juga sedang memandang mereka dan juga tersenyum. Senyum yang cantik.

.

.

.

.

.

.

.

Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi ke depan kan? Yang pasti berusaha menjadi terbaik dan menjalani hidup dengan baik saat ini adalah keharusan. Mungkin akan kembali bertemu dengan jalan berliku dan penuh dengan bebatuan besar atau hanya kecil dalam perjalanan hidup itu. Tapi semuanya pasti berlalu. Dan yang mampu bertahan hingga akhir, meskipun tubuh penuh luka-luka DIA lah yang terbaik

.

.

.

END

.

.

.

.

.

Bagaimana? Cukup puaskah?

Akhirnya saya bisa menamatkan TMK. Dan ternyata saya sedih harus berpisah dengan TMK hiks hiks. T_T *ngelapin airmata di kemeja Seobie. Seobie : Uljima Chagiya.. *Tepar

Semoga kalian semua suka dengan endingnya.

Terimakasih tak terhingga yang sudah mengikuti FF yang saya yakin masih sangat banyak kekurangannya, dari awal sampai akhir. *peluk cium untuk kalian satu-satu. Maaf saya tidak bisa menyebut semua namanya, karena seperti biasa memori saya error. \(-_-)7

Mianhae... m(_ _)m

Tapi yang pasti komentar kalian adalah semangat untuk saya terus menulis. Saya selalu mendapatkan semangat baru setiap membaca komentar kalian baik yang di FFN atau pun di FB.

Buat Arit chan terutama... yang sering dapat teror plus amukan gara-gara FF saya ini. Maaf ya chagi :'( .. mungkin nanti Unn pindah ke FFN lagi saja agar tak merepotkanmu. Sepertinya FFN sudah aman lagi.

The last, THANK YOU SO MUCH yang udah baca sampai sini. Dan maukan memberi ripu kalian dan kesan-kesan kalian selama membaca FF ini, untuk terakhir kalinya.. *Eunhyuk eyes attack

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .