
My Destiny:: Ryeowook berjalan menuju Sapphire Blue house. ketika akan sampai sebuah panggilan memintanya untuk ke rumah sakit segera/akankah takdir membuat Yesung menemukan Ryeowook?/ YeWook/GS/chapter07update/general, family, drama, romance, friendship, expectation, victimization/review ne? ...
Rated: Fiction T - Indonesian - Drama/Romance - Chapters: 7 - Words: 22,769 - Reviews: 193 - Favs: 27 - Follows: 27 - Updated: 11-07-12 - Published: 07-06-12 - Status: Complete - id: 8292089
|
|
A+ A- |
Tittle: Destiny in life
Chapter01
Author:: yongie13
( anitaMT0201)
Pair: YeWook
Desclaimer: SJ! They're MINE!
SM FAMILY! They're my family
And
This is fanfic, real have me!
Warning!: genderswitch, gaje, abal, miss typo(s), alur kek kereta listrik,
Don't Like Don't Read
And
Don't copy my fanfic please :DD
Star story!
"Dan begitulah ceritanya, diawali dengan tikus dan di akhiri dengan babi," ucap Heechul menutup buku cerita yang baru saja dibelinya pada Ryeowook kecil.
"Eonnie? Apa takdir itu bisa di ubah?"
"Berusahalah dan teruslah berjuang, Tuhan pasti mengerti apa yang Wook-ie mau. Di dunia ini, hiduplah dengan bahagia ne sayang?"
"Hmmm," Ryeowook kecil terlihat tidak puas dengan jawaban Heechul, membuatnya terlihat sedikit berfikir.
"Ada yang mau kau tanya lagi?" Heechul mengangkat Ryeowook yang beberapa tahun lebih muda darinya itu untuk duduk di atas kursi dengan benar.
"Apa bulan itu di takdirkan untuk menjadi lambang kesedihan?"
"Heoh? Kau dengar ne, tidak ada yang boleh sedih. Bulan tidak sedih, sebab ada bintang yang menemaninya di langit sana," jelas Heechul kemudian.
"Apa umma Wook-ie juga tidak apa di sana?"
"Umma Wook-ie akan baik-baik saja di atas sana selama Wook-ie tetap bahagia. Eonnie menyayangimu."
"Noona tidak menyayangi Kyu?" sebuah suara bass membuat kedua yeojya itu menoleh kearah pintu, mendapati sosok namja berambut ikal dan berkulit putih tengah berdiri dengan hoodie sebuah taduk kecil seperti setan di rambutnya. Rambut ikalnya menyelip keluar membuatnya terlihat semakin imut, tapi keimutan malaikat itu menjadi sebuah seringai setan ketika menatap senyumm jahilnya.
"Kyu belum tidur?"
"Kyu juga mau di dongeng seperti Wookie-noona," ucapnya berjalan mendekati Heechul dan juga Ryeowook.
"Tapi noona mau tidur, Kyu di peluk saja ne?"
"Anio, ceritakan padaku kisah Romeo dan Juliet!"
PLUKK
"Anak lima tahun jangan macam-macam dengan kisah orang dewasa," cibir Heechul setelah memukul kepala Kyu, Kim Kyuhyun. Membuat namja kecil itu meringis sakit.
"Kyu tidak apa? Eonnie kejam," Ryeowook kecil turun dari tempat duduknya dan megelus sayang kepala Kyuhyun sembari menatap Heechul dengan tatapannya yang terlihat begitu imut.
"Ne, Heechul-noona kejam."
"Ckckckck dongsaeng-ku mulai mengataiku kejam heoh?"
"Kyu disini? Kenapa kalian belum tidur heoh?"
"Umma? Heechul-noona memukulku," Kyu melepaskan pelukan Ryeowook kecil dan berlari menghampiri sang umma yang tersenyum bagaikan seorang malaikat tanpa sayap di depan pintu kamar Ryeowook.
"Heoh? Chulie-ah, kenapa kau memukul dongsaeng-mu? Nanti umma yang menghukum noona-mu ne? sekarang Kyu kembali ke kamar dan tidur, Arra?" ucap Leeteuk mengelus kepala Kyuhyun sayang.
"Umma? Wook-ie boleh tidur dengan umma?"
"Kyu boleh?" tidak ingin ketinggalan namja evil itu kini ikut menatap sang umma dengan tatapan mengharapnya.
"Ne, Chullie juga mau tidur dengan umma?"
Heechul kecil ikut menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah Leeteuk menuju tempat tidurnya dengan Ryeowook untuk segera bergabung dengan Kyuhyun dan umma-nya.
'Takdir yang mempertemukan mereka, keluarga yang terlihat sempurna.'
.
≠Ý≠
.
Bumi,,,
menjadi peradaban yang telah ada sejak ribuan tahun silam. Bagaiamana sang pencipta mengoreskan tinta kehidupan. Menjadikan takdir di setiap sudutnya lebih bahagia.
"Ummaaaaaaaa aku lulus," teriakan bahagia itu berasal dari pemilik suara tenor yang kini berlari dengan begitu bahagia. Membawa lembar hasil ujian negara yang telah dilakukannya beberapa bulan lalu bersama teman satu angkatannya.
"Aku berhasil mendapatkan nilai kedua terbaik di angkatanku," ucapnya masih memeluk sang umma dengan senang.
"Jijjayo? Kau terlihat bahagia, setelah ini kau akan melakukan tes masuk universitas mana chagiya?" tanya sang umma sedikit kesusahan karena yeojya bersuara tenor itu memeluknya sedikit kuat.
"Seoul university, aku siap untuk melanjutkan jurusan Sains," ucapnya mantap kemudian melepaskan pelukanya.
"Tidak ingin memeluk eonnie?" yeojya manis itu segera berbalik dan melihat seorang yeojya cantik dan seorang namja tersenyum padanya.
"Noona meninggalkan aku," ucap namja tampan berambut ikal itu sembari mem-pout bibirnya.
"Mianhae Kyu, noona terlalu bahagia dengan kelulusan ini," ucapnya memeluk Heechul dan namja bernama Kyu itu.
"Lakukan yang terbaik noona, tahun depan aku akan ikut masuk Seoul University juga," ucap Kyuhyun bangga.
"Wookie-ah, eonnie membuat pesta kecil untukmu. Setelah ini kita makan malam di luar ne?"
"Tidak perlu eonnie, itu membuang uang. Aku lebih suka makan masakan umma," Ryeowook sedikit menolak hadiah dari Heechul, membuat yeojya cantik itu sedikit mem-pout bibirnya.
"Kalau begitu, umma masak makanan special hari ini ne?"
"Ne umma, sekalian ajak anak-anak Shapire Blue ne?" pinta Ryeowook pada Leeteuk.
"Kalian merindukan mereka?"
"Ne umma," jawab mereka bersama kemudian berjalan untuk kembali kerumah. Menyiapkan pesta kecil malam hari ini.
.
≠Ý≠
.
Saphire Blue house, sebuah panti asuhan yang berada di pinggiran Seoul. Berada di antara perbukitan padang rumput. Rumah kecil yang dikelilingi perkebunan jeruk milik keluarga besar Kim, pemilik panti asuhan Saphire Blue.
Tiga dari anak-anak panti itu lebih beruntung, karena takdir menuntun mereka menuju rumah besar keluarga Kim. Keluar dari Saphire Blue house menuju rumah induk pemilik panti asuhan. Merekalah Kim Heechul, Kim Ryeowook dan tuan muda Cho yang kini berganti nama menjadi tuan muda Kim Kyuhyun. Sejak kecil mereka mulai tinggal di rumah induk bersama suami-istri Kim yang yang tidak memiliki anak.
Satu pohon yang sangat spesial tumbuh di tengah-tengah perkebunan jeruk yang dikelola panti asuhan, pohon persik yang kini telah berusia 18 tahun sama dengan umur Ryeowook. Tumbuh dengan kokohnya.
Ryeowook pov
"Hay Hayan-ssi? Bagaimana kabarmu kembaranku? Hehe," sapaku pada pohon persik ini.
Kim Ryeowook, dari kecil umma dan appa sudah tidak ada. Kangin-appa bilang appa-ku meninggal ketika kandungan umma berusia enam bulan. Setelah aku lahir, umma meninggal. Umma adalah sahabat baik Kangin-appa. Dan ketika aku di bawa ke Seoul. Pohon ini ikut tumbuh, tepat di tengah perkebunan jeruk ini.
Menurut kepercayaan turun temurun yang aku dengar dari cerita Heechul-eonnie, pohon persik digunakan untuk mengusir hantu dan juga sial. Tapi bukan itu yang ada dipikiranku, Heechul-eonnie bilang, pohon persik dianggap keramat dan merupakan tanaman dari surga. Itu berarti aku lahir tidak sendirian, ada pohon persik ini yang menemaniku turun ke bumi ini ketika umma dan appa-ku tidak bisa menemaniku.
"Noona? Umma bilang minta bantuanmu, umma kerepotan di dapur sana," kudengar suara Kyuhyun memanggilku. Segera saja aku berjalan menghampirinya.
"Kau tidak ikut membantu?" setelah mengucapkan ini, kulihat Kyuhyun menekuk wajahnya, sangat lucu.
"Noona mengejekku? Atau kau tidak bisa melihat ada tulisan 'KIM KYUHYUN DILARANG MASUK' di pintu dapur sejak tiga tahun lalu…"
"Sejak kau meracuni penghuni Saphire Blue," ledekku berjalan di depan Kyuhyun yang mengikutiku di belakang.
"Haishhh kenapa kau semakin menyebalkan seperti Heechul-noona? Aku kan tidak meracuni, mau bagaimana lagi! Salahkan saja gula yang tiba-tiba berubah menjadi lada itu," aku sudah tidak bisa menahan tawaku setelah mendengar ucapannya. Sejak kapan gula bisa berubah jadi lada, itu kan karena dia yang tidak bisa membuat susu untuk anak-anak saja. tapi aku menahan semuanya ketika melihat Heechul-eonnie melambaikan tangannya padaku.
Kuhampiri eonnie-ku yang cantik ini.
"Umma memintamu memetik beberapa tangkai bunga untuk menata ruang makan Saphire Blue malam ini," perintah Heechul-eonnie padaku.
"Tapi tidak ada bunga yang mekar di Saphire Blue selain bunga Tulip eonnie, kalau begitu Wook-ie beli di pinggir jalan saja deh," ucapku segera meraih jaket ungu yang tergantung di dekat jendela dan ranselku lalu segera berjalan keluar setelah berpamitan pada Heechul-eonnie.
"Noona, Kyu antar ne?" aku berbalik dan tersenyum pada Kyuhyun.
"Anio, kau temani saja dongsaengdeul ne?"
"Ta…"
"Turuti saja ucapan Wook-ie Kyu," melihat Kyuhyun yang ingin protes, Heechul-eonnie segera memotong ucapannya.
Ryeowook pov end
.
≠Ý≠
.
Takdir membuatmu akan bertemu dengannya, kehidupan yang sulit membuatmu mendapatkan masalah. Hanya sebagai symbol dan kau akan mengerti. Mawar ungu itu begitu cantik tapi makna-nya yang tidak secantik penampilannya.
"Ahjushi… aku butuh beberapa tangkai lavender dan… ahjushi, ini kapan sampai?" Ryeowook menatap kagum pada mawar ungu yang baru dilihatnya.
"Ini hanya sisahnya saja, kemarin ada yang meninggal. Mereka meminta ahjushi merangkai bunga duka dari mawar ungu ini," jelas namja tua itu.
"Boleh untukku?" Ryeowook tersenyum begitu manis membuat namja tua itu mengambilkan beberapa tangkai dan menyatukannya dengan lavender yang diminta Ryeowook.
"1500 won," ucap ahjushi itu memberikan buket bunga pada Ryeowook.
.
≠Ý≠
.
"Kami sudah berusaha mencoba yang terbaik Yoona-ssi, tapi Kanker ini berkembang dengan cepat. Bahkan lebih cepat dari biasanya, dan ginjalmu juga tidak mendukung keadaan."
"berapa lama lagi?"
"kalau itu…"
"Aku tanya berapa sisah waktuku uisanim?"
"Hanya tiga bulan, selanjutnya kau harus banyak berdo'a pada tuhan."
"Aku permisi."
"Yoona-ssi,,, haishhh yeojya itu pasti tertekan."
..*..
"Akhhhh…." sekali lagi yeojya cantik itu membanting stir mobilnya, air mata trus saja turun mebasahi pipi putihnya. Pikirannya terlihat kacau, membuat tangannya tanpa kendali menaikkan kecepatan laju mobilnya.
BRAKKKK
CKIIITTTTTTTTTTTT
Yeojya bermarga Im itu terdiam di dalam mobilnya ketika menyadari menabrak sesuatu, pandangannya yang sedikit kabur melihat spion mobil. Seorang yeojya yang terkapar di pinggiran jalan, bersama beberapa pecahan kaca karena menabrak lemari penjualan minuman kaleng yang ada di pinggiran jalan.
Dengan panik, Yoona segera turun dan menghampiri yeojya itu. Beberapa orang telah mendatangi yeojya manis itu dan menatap kearah Yoona.
"Bawa dia kemobilku, aku akan membawanya ke rumah sakit," ucap Yoona yang terlihat sedikit takut.
"Aku mohon bawa dia kemobilku, aku janji akan membawanya kerumah sakit!" teriak Yoona sedikit frustasi dan kemudian beberapa orang itu membawa yeojya manis itu ke mobil Yoona.
.
≠Ý≠
.
Pandangannya terlihat sedikit kabur karena air mata yang tadi selalu saja mengalir di kedua pipinya. Tatapannya begitu sendu menatap kearah lantai koridor rumah sakit yang terlihat sepi karena hari menjelang sore.
Hide and seek no Everynight
Madataku Style noseru Light
"Yeobseyo….hiks," sapa Yoona pada seorang namja yang menghubunginya.
"Kau dimana chagiya? Kenapa kau tidak datang pertunjukkanku siang ini," tanya namja itu dari sebrang.
"Mi..manhae oppa, a-aku…"
"Kau tidak apa kan? Kau menangis? Kau dimana chagi? Katakan pada oppa, oppa akan segera kesana."
"Tenanglah oppa, hikshh aku tidak apa, aku akan segera kesana. Aku tutup panggilannya ne?" Yoona menutup panggilannya dan kembali menatap koridor rumah sakit.
Yeojya cantik itu segera menghampiri seorang uisanim yang tiba-tiba keluar.
"Uisanim? Bagaimana keadaan yeojya itu?"
"Anda sudah menguhubungi keluarganya?" Yoona menggelengkan kepalanya dengan begitu lemah.
"Ini barang-barang yeojya itu uisanim," seorang perawat ikut keluar dari ruangan dan memberikan sebuket bunga mawar ungu dan tas ransel milik yeojya itu pada uisanim.
"Uisanim, tolong pasien ini sekarang," mendengar teriakan itu dengan segera perawat dan uisanim itu kembali masuk.
"Mohon kau cepat hubungi keluarganya," ucap uisanim memberikan barang milik yeojya manis itu.
Yoona segera menggeledah ransel milik yeojya itu dan menemukan ponselnya. Segera saja ia mendial nomor satu, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya menunggu jawaban dari seberang.
"Yeobseyo, chagiya? Kenapa kau belum kembali? Kau belum mandi, acara akan segera dimulai chagi," mendengar suara seperti malaikat itu, Yoona segera menahan isakannya yang akan keluar.
"Hiks…" tapi usahanya sia-sia saja.
"Chagiya? Kau kenapa? Kau tidak apa kan Wook-ie?"
"Mianhae ahjumma, putri anda di Seoul hospital sekarang, masih ditangani uisanim di UGD."
Tuttt
Segera saja Yoona menutup ponsel milik yeojya itu dan menonaktifkannya.
Yoona segera meninggalkan benda milik yeojya manis itu dan menghampiri meja resepsionis. Membayar biaya pengobatan dan penginapan yeojya itu untuk beberapa minggu. Memastikan tempat yeojya itu agar ia bisa kembali beberapa saat setelah menenangkan diri.
Yoona bukanlah yeojya manja yang dengan senang hati meninggalkan masalahnya, tanggung jawabnya lebih besar ketika ia harus kehilangan appa-nya dan tinggal bersama umma dan seorang eonnie untuknya.
.
≠Ý≠
.
"Aku mencintaimu," kepada orang yang special, takdir membuat kita bertemu, takdir menjadikan aku seperti ini. Tapi takdirku tidak membuatmu begitu saja mencintaiku, takdirnya lah yang membuatmu membenciku lalu mencintaiku.
"Chagiya? Kau tidak apakan? Kau tahu? Oppa menunggumu sejak tadi, tiga jam oppa kau abaikan di gedung ini," seorang namja tampan mem-pout bibirnya ketika Yoona datang menghampirinya.
"Mianhae oppa, aku ada urusan."
"Kau menangis? Ada yang melukaimu? Siapa?" Yoona mencoba tersenyum pada namjachigu-nya itu sembari memeluknya.
"Aku tidak apa, oppa sudah makan?"
"Oppa menunggumu."
"Yesungie-oppa, oppa tidak akan meninggalkan aku kan?" namja tampan bernama Yesung itu menatap Yoona sedikit bingung, sedetik kemudian ia tersenyum sangat tampan.
"Kau meragukan oppa heoh? Tidakkah kau lupa oppa selalu mencintaimu."
"Oppa berjanji tidak akan selingkuh selama aku masih ada? Aku akan mengawasi oppa agar oppa tidak melakukan kesalahan," ucapnya membuat Yesung sedikit bingung namun ia larut dalam tawa Yoona.
.
≠Ý≠
.
Kau lahir di kelilingi keluarga yang begitu bahagia, takdirmu begitu indah. Sekali saja tuhan ingin menguji keluargamu, tidak apakan? Tuhan menyayangimu, dia tidak akan membebanimu hal yang kau tidak sanggup.
Leeteuk menatap dinding putih yang berdiri kokoh di depannya, pikirannya sedikit kacau setelah mendapat kabar Ryeowook kecelakaan dan kini diruangan itu ia sendiri tanpa ada keluarga yang menemaninya. Pesta kecil yang mereka laksanakan terlewatkan begitu saja. Kini keluarga bahagia itu tertunduk sedih di koridor rumah sakit menunggu uisanim yang akan membawakan kabar baik untuk mereka.
"Harusnya tadi aku mengantarkan Wook-ie noona, harusnya tadi aku memaksanya untuk mengantarnya," suara serak Kyuhyun terdengar sangat lemah di telinga keluarganya.
"Tenanglah chagiya, kau tidak salah. Noona-mu akan baik-baik saja," Kangin yang sejak tadi satu-satunya orang yang masih mencoba tenang berusaha menenangkan keluarga kecilnya.
Cklek
Semua pasang mata menatap kearah pintu, seorang uisanim keluar dengan pakain lengkapnya, melepaskan maskernya dan tersenyum pada semua yang ada di sana.
"Uisanim? Wook-ie tidak apa kan?" Heechul menjadi orang yang mewakili untuk bertanya pada uisanim itu.
"Keluarga pasien?" semua orang yang disana menganggukkan kepalanya.
"Pasien sudah membaik, temanilah dia sampai ia sadar," dengan itu beberapa dokter dan perawat yang tadi menolong Ryeowook keluar dan meninggalkan keluarga bahagia itu.
.
≠Ý≠
.
Dua hari Ryeowook belum sadarkan diri, Kyuhyun masih dengan setia menemani Ryeowook bersama sang umma setelah ia pulang dari sekolahnya.
"Umma,,, tangan Wook-ie noona bergerak," teriak Kyuhyun senang ketika merasakan gerakan kecil pada tangan Ryeowook.
"Jijja? Wook-ie? Chagiya? Kau dengar umma? Ini umma bersama dongsaeng-mu chagi," bisik Leeteuk membuat Ryeowook merasakan hangatnya genggaman Leeteuk. Bola matanya bergerak gelisah di balik kelopak mata yang masih tertutup itu. Dengan perlahan mata caramel itu sedikit terlihat.
"Um-ma? Um-ma di mana?"
Degh
Sedetik itu juga Leeteuk dan Kyuhyun terdiam, menatap Ryeowook yang kini telah membuaka matanya. Pandangannya lurus, dan sedikit ketakutan.
"Umma di sini chagiya, kau merasakan umma kan?" Leeteuk menarik tangan mungil Ryeowook untuk merasakan keberadaannya. Tangan mungil itu terlihat meraba pipi Leeteuk.
"Kyu, kau panggil uisanim!" perintah Leeteuk menatap Kyuhyun.
"Um-ma?"
"Ne chagiya, umma di sini. Kau tenanglah, Kyu akan memanggil uisanim untuk memeriksamu," Leeteuk trus saja mencoba menenangkan Ryeowook.
"Tuhan, jaga Ryeowook seperti kau menjaga kedua orang tuanya. Aku tahu kau menyayanginya, jangan biarkan hal yang kutakuti menjadi kenyataan," harap Leeteuk masih mencoba menengkan Ryeowook.
Brak…
"Akhh mianhae noona, aku menabrakmu. Mianhae," dari pintu terlihat Kyuhyun menabrak seorang yeojya cantik. Namun namja berambut ikal itu segera masuk bersama uisanim dan perawat yang akan memeriksa Ryeowook.
.
≠Ý≠
.
Yoona pov
Brak
"Aww," ringisku ketika namja ini menabrakku.
"Akhh mianhae noona, aku menabrakmu. Mianhae," ucapnya kemudian masuk menyusul uisanim.
Kim Ryeowook, yeojya yang telah kutabrak dua hari lalu kini baru sadar. Tanpa sepengetahuan mereka, aku selalu mengawasi yeojya itu. Bagaimanapun, semuanya salahku.
Sungguh, aku tidak ingin yeojya sepertinya yang dikelilingi keluarga yang sempurna itu bermasalah karena kesalahanku.
"Akhhh," dadaku terasa sedikit sakit karena efek namja yang menabrakku tadi, tapi aku masih mencoba menahannya. Aku ingin mengetahui apa yang terjadi pada yeojya bernama Kim Ryeowook itu.
Kulihat uisanim menggeleng setelah memeriksa matanya.
"Ya tuhan, jangan katakan kalau dia buta."
Uisanim itu mengangkat jari-jarinya , namun yeojya manis itu menggelengkan kepalanya.
"Aku akan mencoba memeriksa lebih lanjut, aku harap ini hanya kebutaan sementara."
Degh
Jantungku terasa berhenti ketika mendengar ucapan uisanim itu.
Kebutaan? Dia buta? Ini semua salahku!
"Apa yang harus kulakukan?"
"Apakah aku harus melakukannya?"
"Tenanglah chagiya, umma dan appa akan mencarikanmu donor mata, kau pasti bisa melihat lagi," kali ini kulihat umma-nya seperti menahan tangis.
'oh tuhan, aku merusak kebahagiaan keluarga ini.'
Degh
Yeojya itu masih sempat tersenyum begitu manis pada sang umma-nya.
"Aku tidak apa umma, tidak perlu mencarikan donor mata untukku."
"Tapi noona? Kau kan ingin memasuki jurusan Sains? Kyu akan mencoba mencarikan donor untuk noona," kali ini namja yang tadi menabrakku berbicara.
"Pasti ada jurusan yang bisa di masuki oleh orang buta sepertiku."
Perlahan air mataku menetes ketika mendengar ucapannya. Bagaimana bisa aku menghancurkan dia.
"Akhhh."
"Nona? Kau tidak apa?" seseorang memegangilku yang hampir jatuh ketika sakit ini menyerang kembali.
"Uisanim, tolong! Nona muda ini kesakitan," ia berteriak memanggil uisanim yang ada di dalam ruang Ryeowook.
..*..
"Kau tidak apa? Apa karena aku menabrakmu kau jadi pingsan?"
"Eunghhh… mianhae merepotkan kalian," kuatatap dongsaeng Ryeowook yang duduk di dekatku bersama dengan appa-nya.
"Aku tidak apa, ini bukan salahmu adik kecil."
"Apa namamu Im Yoon-Ah? Ini milikmu?"
Degh
Appa Ryeowook menyerahkan berkas mengenai kesehatanku.
"Ka-kalian membacanya?"
"Bukan maksud kami membacanya, tapi…"
"Gwenchanayo ahjushi, sebenarnya ada yang ingin aku katakan pada kalian mengenai kecelakaan Ryeowook. Akulah yang membawanya ke rumah sakit ini dan menghubungi kalian," kulihat mereka terdiam.
Kutarik nafasku dalam-dalam sebelum mengakui kejahatan yang kulakukan.
"Akulah yang menyebabkan kecelakaan itu, uisanim memfonis umurku tinggal tiga bulan. Aku.. Aku…"
"Kau membuat Wookie-noona buta, dan kau kabur begitu saja."
"Kyu! Tenaglah! Dengarkan baik-baik penjelasannya, dia punya alasan. Woook-ie tidak akan suka kalau melihat dongsaeng-nya bertingkah seperti ini."
'oh tuhan, yeojya itu pasti benar-benar baik.'
"Aku mohon donorkan mataku untuknya."
"MWO?"
"Aku mohon,,,"
Yoona pov end
.
≠Ý≠
.
Takdir membuat mereka percaya, tuhan menyayangi semuanya.
Musim dingin tahun ini, Ryeowook kembali duduk di beranda kamarnya.
"Tidak baik diluar sendirian, salju akan membuatmu sakit chagiya," Leeteuk membawa Ryeowook untuk kembali kedalam kamarnya dan duduk di pinggir tempat tidur Ryeowook.
"Mianhae, umma belum mendapatkan donor mata untukmu," kembali tangis itu keluar, air mata itu kembali mengalir.
"Um-ma," Ryeowook mencoba mencari dan menangkup kedua pipi Leeteuk. Walau tidak bisa melihat sejak kecelakaan itu, Ryeowook masih mencoba tersenyum untuk keluarga kecilnya.
"Pecayalah pada Wook-ie, aku baik-baik saja umma."
"Tapi kau tidak bisa mengikuti tes masuk perguruan tinggi karena umma belum mendapatkan donor mata untukmu sayang," Ryeowook menghapus air mata Leeteuk yang mengalir begitu saja.
"Umma harus ingat, uisanim bilang suara Wook-ie bagus dan Wook-ie masih bisa bermain piano. Kyu bilang jurusan music kemungkinan akan menerimaku," sangat terlihat kalau ternyata Ryeowook masih berusaha tersenyum pada Leeteuk.
"Wook-ie, umma… aku mendapatkan kabar dari Kyu, ada yeojya yang ingin mendonorkan matanya untuk Wook-ie, segera bereskan semuanya. Kau akan mendapatkan mata sayang," Heechul yang baru saja masuk kamar Ryeowook membuat keduanya hanya diam. Diam entah bahagia atau karena ada hal lain.
.
≠Ý≠
.
Sadar atau tidak, sebuah rahasia nantinya akan membawa masalah kembali. Ingat atau tidak, sebuah perjanjian bukanlah takdir. Kau harus bisa membuatnya tetap bahagia.
Ryeowook berhasil mendapatkan donor mata dan menjalani beberapa check-up untuk matanya. Bukankah tuhan menyayanginya? Bahkan ia berhasil lulus test masuk Seoul university. Bukankah musim dingin ini tuhan menunjukkan kasih sayangnya?
.
≠Ý≠
.
Takdir membuat mereka bertemu, takdir menjadikan mereka berubah. Dan takdir akhirnya lah menjalani semua ini.
"Oppa? Berhentilah bersedih, Yoona-eonnie bilang kau harus bisa bahagia tanpanya. Mianhae meyembunyikan masalah penyakitnya selama ini, kami juga baru mengetahuinya seminggu sebelum ia meninggal. Saat Yoona-eonnie mengatakan ingin mendonorkan matanya untuk seseorang," Sungmin, sepupu Yoona berusaha memberi penjelasan pada Yesung. Namja itu kini terlihat sedikit kacau.
"Katakan padaku, siapa yang menerima mata itu Ming."
"Mianhae, Yoona-eonnie tidak memberitahukan itu padaku. Dia merahasiakannya dari kami, uisanim juga tidak akan mengatakannya. Im-ahjumma yang mengetahuinya juga tidak ingin memberitahu," jelas Sungmin membuat Yesung berusaha menahan amarahnya.
"Im-ahjumma menitipkan ini padaku."
Yesung segera membaca sebuah pesan yang diketahuinya pesan itu berasal dari tulis tangan Yoona. Dan berjalan menjauhi Sungmin.
"bahagialah pada takdir oppa, oppa di takdirkan bukan untukku. Mianhae oppa, sepertinya tuhan lebih menyayangiku, hehehe. Kau jaga diri ne? aku masih mengawasimu seperti janjiku saat itu,,,
Kalau di izinkan, dikehidupan yang akan datang aku ingin menjadi dongsaeng oppa agar aku bisa bersamamu. Jangan cari siapa yang mendapatkan mataku, biarkan dia hidup bahagia. Aku tahu oppa pasti akan marah kalau mengetahui ini dari awal, hanya saja aku ingin orang itu merasakan bahagia yang sebenarnya. Aku menyayangi oppa…
Dan…"
Brak
"Awww," Yesung berjalan tanpa melihat sekelilingnya, membuatnya menabrak seorang yeojya manis yang baru saja keluar dari lingkungan kampusnya. Yeojya manis itu kini berusaha berdiri dan membersihkan debu yang menempel di pakaiannya.
Degh
Yesung menatap yeojya itu hanya sebentar ketika dirasanya kertas yang dibawanya terbang terbawa angin karena ikut jatuh.
"Mwo? Haishhh kau! Kau membuatnya hilang," bentak Yesung kesal karena pesan terakhir Yoona yang menghilang karena kesalahan kecilnya.
"Heoh? Kau yang menabrakku, kenapa jadi aku yang disalahkan," bela yeojya itu tidak mau mengalah.
"Jelas-jelas ini salah…"
"Kau baru menangis?"
Degh
Yesung menghentikan teriakannya ketika tangan mungil itu terjulur menghapus air mata yang masih berbekas di pipi chubby-nya. Yahh namja tampan itu menangis, padahal sudah dua minggu sejak pemakaman Yoona.
"Jauhkan tanganmu dari wajahku! Dasar yeojya!" bentak namja tampan itu membuat yeojya itu menghentikan aktifitasnya.
"Wook-ie? Kenapa kau berurusan dengan namja ini?"
"Sunbae?" Yesung sedikit terkejut ketika melihat Heechul, salah satu sunbae-nya yang sangat terkenal di Seoul university.
"Jauhi dongsaeng-ku playboy ppabo!" perintah Heechul kemudian menarik tangan mungil Ryeowook.
.
≠Ý≠
.
Lihat? Takdir mempertemukan kalian.
Takdir membuat kalian bertemu setelah sebuah pengorbanan, butuh pengorbanan lagi ataukah sudah cukup?
Pesan terakhir Yoona untuk Yesung? Pesan yang penting itu menghilang begitu saja. Kalau begini, dengan cara apa Yesung mengetahui pesan terakhir Yoona?
Takdirlah yang akan menuntunnya.
TBC
Chapter pertama dari fic baru saya.
Tolong berikan saran, kritik untuk kemajuan chapter yang akan datang.
Sekarang saatnya review ne?
|
||||||