
Luce? Ya, Luce.. Eh? Reborn menatap Fon / Kalau kalian mendapat nilai dibawah 99 maka aku akan memenggal kepala kalian satu per satu, mengerti, Sampah! / Hibari! Wajahmu itu seperti habis disodomi tulang ikan! / Hibird? / Tolong kembalikan Enma
Rated: Fiction T - Indonesian - Mystery - Chapters: 6 - Words: 10,188 - Reviews: 17 - Favs: 10 - Follows: 7 - Updated: 10-23-12 - Published: 07-19-12 - id: 8336611
|
|
A+ A- |
Short Message
Oh ya makasih sebelumnya untuk Ileyra-san, sekarang saia tau cara meng-editnya XD *bow*
Dan halo juga yang dari fandom Korea sebelah kufufufu~! X3 *kibar bendera Varia (?)*
Author : AKI si kufufu no fu~ adeknya Colonello-nii
Disclaimer : KHR adalah milik Amano Akira-sensei dan hak milik Hibari bersama Tonfa2nya jatuh ke tangan saia /dipecut Dino-san/
Genre : Horror
Rate : T
Warning : Gaje, ga serem, typo(s), author horror amatir *jlebb*
P.S : Karena udah masuk ke inti cerita, biar Minna –san ngga bingung, mohon setiap kata, dan kalimat percakapan serta tingkah laku maupun… /plakk/para tokoh diperhatikan. Ini mungkin bisa jadi hint buat kalian untuk menemukan pelakunya :D Oh ya jangan lupa chapter2 sebelumnya juga diingat agar bisa jadi "jembatan keledai" agar bisa dimengerti.. Ciao ciao…!
Dua
"Eh.." Tsuna terbelalak kaget saat menjajarkan suratnya dengan surat Dino. Secarik kertas beramplop merah yang mirip dengan yang dipegang oleh Dino sekarang didapatkan oleh Tsuna. Hanya saja surat itu tidak berisi apapun kecuali satu kata, yaitu Dua.
"Warna amplopnya sama!" gumam Dino.
"Ta-tapi kenapa dia mengirimkan surat ke rumahku?" tanya Tsuna ketakutan.
"!" Semua tersadar akan sesuatu.
"Jangan –jangan.." Ryohei melihat yang lainnya.
"Diantara kita..?" sambung Gokudera.
'AKAN ADA YANG MATI!' lirih mereka dalam hati bersamaan.
"HIII –!" Tsuna semakin takut. Dia tidak membayangkan jika sesuatu terjadi padanya –atau lebih mengerikan lagi jika besok dia sudah bernasib sama dengan Mukuro.
BRAKK
Gokudera tiba –tiba menghentak meja, "Tidak bisa dibiarkan! Si brengsek itu harus mati duluan!"
Ryohei mengangguk. "Kita akan menangkapnya to the extrem!"
"Ya tapi sebelum itu, kita tak punya bukti apapun. Bahkan kita tak ada saat kejadian. Satu –satu menemukan petunjuk adalah menunggu Chrome sampai dia benar –benar bisa menerima kematian Mukuro, baru kita meminta petunjuk darinya." Kata Dino.
Tsuna mengangguk, "Ya aku mengerti. Tapi aku tak bisa berbuat banyak. Reborn menyuruhku agar tidak menggunakan Dying Will."
Yang lainnya melihat ke arah Tsuna, "APA?" ucap semuanya bersamaan.
"Eh.." Tsuna menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kenapa Tsuna?" tanya Yamamoto.
Tsuna menggeleng, "Reborn tidak memberitahuku , tapi firasatku mengatakan bahwa Reborn sudah menduga akan ada kejadian seperti ini."
Dino berpikir sejenak, "Hmm.. begitu. Jika Reborn sudah menduganya, ada baiknya jika memang kau tidak menggunakan Dying Will –mu itu Tsuna. Karena Reborn tau apa yang harus kita perbuat." Ujar Dino.
"Lalu, bagaimana dengan surat dan juga pembunuhan ini? Bahkan Basil yang mempunyai Dying Will sudah…" Tsuna berhenti.
Semua menunduk.
"Anak itu pasti sedang lengah!"
"Kita akan pikirkan ini nanti. Surat itu sebaiknya tidak kita apa –apakan dulu. Mari kita pulang ke rumah dan berfikir dengan tenang." Ajak Dino.
"Baiklah, aku juga tidak boleh membiarkan Kyoko tau akan hal ini." Kata Ryohei.
"Dino –san." Panggil Tsuna. Dino melihat Tsuna.
"Ya, kau boleh menginap sementara waktu disini Dino –san." Kata Tsuna sambil tersenyum.
"Terima kasih Tsuna." Dino membalas senyum anak bermata coklat caramel itu.
"Mukuro –sama sudah pergi,byon…" ujar Ken kesal sekaligus menahan air mata.
"Semua berlalu begitu saja, ini tidak bisa dibiarkan! Pelakunya, akan aku bunuh! Hiks.." M.M menangis.
"Maafkan kami, Mukuro –sama.." Chikusa menunduk terdiam.
Sore ini, Ken, Chikusa, M.M, dan tentunya Chrome –berdiri didepan makam seseorang yang bertuliskan Mukuro Rokudo yang baru saja meninggal. Anggota Kokuyo Gang berkumpul disana dan menangisi kepergian sang Master yang amat mereka cintai. Mukuro yang telah menolong mereka, mau menerima anak buah tak berguna seperti mereka. Yang saat itu sendirian dipenjara Vindice. Namun, akhirnya….
Semua rasanya sia- sia.
M.M kemudian berjalan cepat menghampiri Chrome yang terdiam.
PLAKKK
M.M menampar Chrome dengan keras. Terlihat sedikit darah keluar dari mulut Chrome. Chikusa dan Ken melihat ke arah suara itu.
"Dasar gadis jelek! Kau bodoh membiarkan orang yang berbaik hati membuatkanmu organ dalam mati! Kenapa kau tidak mati juga hah!" M.M mengguncang bahu Chrome. Sementara yang dimarahi diam saja, tak bereaksi.
"M.M sudahlah.." Chikusa berusaha menenangkan M.M.
"Diam kau! Kalian semua juga bodoh! Kenapa kalian tidak bisa menjaga Mukuro-chan dengan baik? Kenapa bisa dia mati? Ini salah kalian… SALAH KALIAN!" M.M berteriak seperti orang gila.
"Terutama kau Chrome! Seharusnya kau bertindak lebih cepat! Kalian ini memang lemah!" bentaknya lagi. Kali ini Chikusa dan Ken sudah muak melihat gadis berambut merah itu terus menyalahkan mereka sejak kemarin.
Ken melihat sinis M.M, "Kau sendiri, dimana saat Mukuro –sama sedang dalam bahaya?" sindirnya dengan melihat M.M.
Chikusa juga menatap M.M dengan sinis, "Ya, setidaknya Chrome berusaha membantu kami."
M.M terdiam, "Jadi kalian lebih percaya gadis baru ini daripada aku? Teman lama kalian?"
"Ya.." ucap Ken. Suatu kata yang jarang dia ucapkan untuk seorang Chrome Dokuro.
"Brengsek kau!"
"Teman –teman, jangan bertengkar..Mukuro –sama…pasti..sedih.." kata Chrome yang masih menunduk seperti mayat hidup.
"Siapa yang kau panggil teman? Dari dulu aku tak sudi menerimamu di Kokuyo! Dasar gadis pembawa sial!" teriak M.M.
"Chrome benar, sebaiknya kau diam." Kata Chikusa.
"Maaf.." Chrome mengangkat kepalanya.
Semua memandang Chrome. Chrome kemudian membungkuk dalam –dalam. "Ini semua…salahku.." ucapnya sambil menahan tangis. Bibirnya bergetar dan matanya sudah mulai lembab.
M.M mendorong Chrome hingga jatuh, "KEMBALIKAN MUKURO –CHAN!" bentaknya.
"M.M HENTIKAN!" Chikusa menarik M.M menjauh dari Chrome. Lengan M.M ditarik dengan paksa oleh Chikusa yang sudah merasa sangat muak melihat gadis berambut pendek ini.
"Kenapa kalian membela gadis bodoh ini? Karena dia lengah Mukuro mati!"
"Ini sudah terjadi! Kita tidak bisa memutar waktu!" ujar Chikusa.
M.M melotot ke arah Chrome. Kaki Chrome bergetar, "Maaf, gara –gara aku kalian…" Chrome kemudian berdiri dan membungkuk sekali lagi. Dia kemudian berlari pergi menjauh.
"Aku pasti akan…" Chrome tidak sanggup melanjutkan perkataannya, masuk kedalam hutan sambil berlari sekeras mungkin.
"HEI KAU! MAU LARI KEMANA?" M.M ingin mengejar Chrome, namun ditahan oleh Chikusa.
"Ck! Lepaskan!" bentaknya. M.M kemudian terdiam dan menunduk. Terdengar samar –samar suara tangisan keluar dari bibir gadis itu. Tangannya yang semula kuat menampar Chrome sampai terluka kita bergetar memegangi lututnya.
"Kau harus tau satu hal M.M… disini, bukan hanya kau yang berduka. Jadi, janganlah kau merasa menjadi orang yang paling kehilangan." Ucapan Chikusa terhenti melihat Chrome yang sudah menghilang dari sana.
"Gadis itu, juga sudah terlalu lama memendam banyak hal.." lanjutnya.
Chrome berjalan memasuki hutan menjauhi makam dan anggota Kokuyo Gang. Dia berlari dengan tergesa –gesa sambil menahan air matanya. Kemudian dia berhenti ditengah hutan itu. Dia menyeka air matanya sesaat. Karena dirasanya sudah jauh dari tempat peristirahatan terakhir masternya itu, dia berjalan perlahan menelusuri hutan tersebut.
"Aku pasti akan membunuhnya.." lirih Chrome sambil memegang Trident –nya dengan kuat.
"Para Arcobaleno tidak ada yang bisa dihubungi, mereka sedang berada disuatu tempat yang tidak bisa diakses dan dihubungi." Ujar Dino yang baru saja mendapat laporan dari CEDEF. Tsuna lupa memberitahukan satu hal pada Dino.
"Ah, etto.. Reborn juga berkata bahwa selama seminggu dia tidak akan pulang kerumah. Dia dan para Arcobaleno lain sedang berlibur." Tsuna memberitahu Dino.
"Libur?" Dino mengkerutkan dahinya. Tsuna hanya bisa tersenyum simpul dan diam melihat Dino yang kesal mendengar kalimat itu saat sedang kritis.
"Mungkin para bayi itu menginginkan kita untuk menghadapi sesuatu dengan kemampuan kita sendiri." Tsuna mencoba meredakan kekesalan si Haneuma itu.
"Ya, tapi kalau kasus pembunuhan.. aku tak yakin. Ini lebih rumit bagiku." Dino menarik nafas.
"…dan lagi pelakunya belum diketahui. Mungkin saja ada musuh baru yang menyerang kita." Ucapnya lagi.
"Musuh? Ng.. Reborn berkata bahwa tidak akan ada musuh baru yang datang. Itulah yang dia ucapkan sebelum pergi, makanya aku sama sekali tak boleh menggunakan Dying Will –ku." Kata Tsuna.
"? Tidak ada? Berarti orang yang sudah kita kenal?" tanya Dino.
"Siapa?"
"Yah mungkin saja Byakuran, keluarga Simon, Varia.."
"Itu tak mungkin!" Tsuna berbicara agak keras, sehingga mengagetkan Dino. Tersadar akan ucapannya, kemudian Tsuna menatap Dino.
"Eh..maaf.." Tsuna menunduk.
"Siapa yang tau akan hal itu Tsuna. Semua orang punya dendam yang tersembunyi, sebaik apapun dia.."
Tsuna menatap Dino lekat –lekat, "Dino –san..jangan-jangan kau juga.."
"?" Dino menatap balik Tsuna, kemudian tersenyum, "Yah, kalau aku sih hanya punya dendam sementara saat melawan Byakuran dulu, tapi dulu loh." Dia menekan kata dulu pada Tsuna.
Tsuna menghela nafasnya, "Ha~ syukurlah." Kata Tsuna sembari tersenyum.
"Eh, ini sudah malam. Besok kau ke sekolah bukan? Mari kita tidur dan melupakan sejenak tentang kejadian tadi pagi."
"Eh? Nee.. Mari kita…"
"Tsu –kun! Ada temanmu!" kata ibunya yang berada dilantai bawah.
Dino dan Tsuna saling menatap.
"Ah, siapa?" tanyanya penasaran.
"Mungkin itu Gokudera dan yang lainnya." Ujar Dino. Tsuna mengangguk, "Aku akan segera kembali Dino -san!" kata Tsuna.
Tsuna berlalu dari kamarnya dan berjalan menuju tangga untuk melihat siapa yang datang. Sementara itu Dino menelepon seseorang dan kemudian dia mengeluarkan surat yang bertuliskan darah itu. Wajahnya terlihat sangat serius. Beberapa menit dia menelepon orang itu, kemudian dia mengakhirnya pembicaraannya..
"Ya, kuserahkan padamu.." kata Dino menutup telepon. Dia kemudian menyimpan kembali kedua surat itu.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara langkah dari anak tangga, dan sejenak kemudian Dino mendengar suara Tsuna dan seseorang yang suaranya serak. Seperti…tangisan?
'Perempuan?' batinnya dalam hati.
Kemudian Dino melihat Tsuna yang muncul berhenti di depan pintu kamarnya, "Di-Dino –san.." kata Tsuna agak cemas. Seseorang berdiri dibelakang Tsuna, terlihat sama –samar karena tertutup badan Tsuna.
"Ada apa?" tanyanya bingung.
"Ada tamu yang sangat mengejutkan.." Tsuna yang sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu minggir kesamping. Dibelakangnya, ada seorang anak perempuan yang menunduk.
"Kau.." kata Dino.
"Chrome –chan, dia ingin mengatakan sesuatu pada kita." Kata Tsuna. Kemudian, Tsuna mengajak Chrome masuk ke kamarnya dan mempersilahkan Chrome duduk.
"Kau baik –baik saja?" tanya Dino cemas. Tsuna juga memandang Chrome dengan khawatir, mengingat baru tadi pagi Chrome masih syok dengan kematian Mukuro.
"Ya." Katanya datar. Suara sedikit berbeda. Suaranya serak, sepertinya dia habis menangis. Entah sampai kapan dia akan menangisi kesalahannya dan kematian Mukuro sampai air matanya kering setiap saat.
"Jadi kau kesini…"
"Aku ingin kalian membantuku." Potong Chrome.
"?"
Tsuna dan Dino mengerti maksud Chrome dengan kata membantuku. Pastilah Chrome ingin menemukan sang pelaku pembunuhan.
"Aku mengerti." Kata Dino.
"?" Chrome kaget melihat Dino. "Kami akan membantumu." Kata Dino lagi.
"Ya, kami pasti akan menemukan pelakunya, Chrome!" kata Tsuna.
Chrome melihat Tsuna dan Dino, "Terima kasih." Ujarnya.
"Tapi, apa kau tidak apa –apa? Masalahnya baru saja tadi pagi Mukuro.." Dino menghentikan kata –katanya. Dia takut melihat gadis itu menangis lagi, karena dengan melihatnya saja, gadis itu sangat rapuh.
"Mukuro –sama.. telah pergi kemarin..jadi air mataku sepertinya sudah kering sekarang.." ujar Chrome serak.
"Chrome –chan.." Tsuna khawatir.
"Lagipula, jika aku menangis, pasti Mukuro –sama akan sedih. Sesekali aku harus menjadi kuat.."
"…" Dino dan Tsuna melihat satu sama lain. Mereka kemudian mengangguk ke arah Chrome.
"Jadi..bisakah kau mengatakan pada kami serangkai peristiwa sebelum Mukuro meninggal?" tanya Dino berhati –hati. Dia tidak ingin kondisi Chrome down saat dia mengungkit kembali kejadian kemarin.
Chrome mengangguk. "Ya.."
Chrome diam sejenak, berfikir akan sesuatu. Dino dan Tsuna mengerti bahwa Chrome masih agak ketakutan untuk menceritakan kejadian itu.
"Kemarin lusa, hari masih berjalan dengan biasa. Tiba –tiba ada sebuah amplop merah yang tersangkut didepan pintu markas kami. Saat aku memungutnya, aku tiba –tiba merasakan aura tidak enak dari dalam surat. Karena tulisannya untuk Mukuro –sama, kami semua tidak berani membuka surat itu. Dan ketika Mukuro –sama membaca surat itu dia tersenyum, dia bilang dia mendapat surat tantangan. Tapi, aku merasa bahwa surat itu tidak biasa..Maka aku terus bertanya pada Mukuro –sama.."
"Tunggu." Dino menghentikan cerita Chrome. "Kau bilang, itu adalah surat tantangan dari Hibari?" tanyanya bingung.
"Ya, sepertinya Mukuro –sama kesal karena aku terus bertanya padanya, lalu dia berkata bahwa itu surat dari Hibari –san. Dia sudah lama tidak bertarung dengan Mukuro –sama, maka aku memakluminya, walaupun.."
"Walalupun auranya berbeda dengan Hibari?"
Chrome mengangguk.
"Tapi ternyata firasatku tidak salah. Aku melihat Mukuro –sama meremas surat itu dan membuangnya ke dalam tempat sampah dengan wajah sedikit kesal. Aku ingin saja memungutnya, tapi jika Chikusa dan Ken melihat, mereka akan memarahiku, jadi aku diam –diam mengambilnya dan tak kusangka surat itu bertuliskan memakai darah."
"Apa kau tau ini darah apa Chrome?" tanya Tsuna.
"Ya, jelas sekali itu darah manusia.." ucapnya agak takut.
"!"
"Darimana kau tau?" tanya Tsuna.
"Aku sudah lama berada dirumah sakit. Berkali –kali operasi dan mencium bau darahku sendiri maupun darah pendonor. Setidaknya bau itu mirip sekali dengan bau darah manusia."
"Ya, Chrome benar. Jika darah hewan, baunya lebih busuk daripada ini." Dino memberi keterangan pada Tsuna. Tsuna mengangguk tanda mengerti.
"Ah, lanjutkan Chrome.."
"Etto.." Chrome berhenti.
"?"
"…Ah, ya.. Siang itu aku sangat cemas dan menyusul Mukuro –sama, apakah dia benar –benar menemui Hibari –san atau orang lain. Namun Mukuro –sama tau bahwa aku mengikutinya, jadi dia menggunakan ilusi sehingga aku kehilangan jejaknya. Saat tersesat aku melihat Hibari –san sedang berjalan bersama Reborn –san."
"Reborn bukannya…" Dino melihat ke arah Tsuna.
"Etto.. kemarin Reborn ke rumah untuk mengingatkanku soal Dying Will.."
Dino mengangguk mengerti.
"Siang itu juga aku langsung berusaha meng-contactnya, aku sempat menemukannya.. Dia sepertinya menggunakan banyak ilusi untuk berpindah tempat sehingga menyulitkanku. Dan akhirnya kami menemukannya pada sore hari.. Saat murid Namimori pulang…"
"Jadi dia membunuh Mukuro saat…"
"Eh, kau bilang kalian menemukannya ditoilet?" tanya Tsuna. Chrome mengangguk.
"Etto.. Saat pulang, aku juga merasakan aura aneh saat melewati toilet sekolah."
"Eh.." kata Dino dan Chrome bersamaan.
"Yamamoto –kun juga merasakannya. Saat itu tubuhku gemetar dan sama sekali tidak bisa bergerak. Aku sama sekali kalau itu adalah aura si pembunuh. Maafkan aku Chrome.." Tsuna menunduk dalam –dalam.
"Tsuna.."
"Bo-boss.."
Chrome menunduk, kemudian tersenyum-dipaksakan sambil melihat Tsuna.
"Aku bersyukur boss.."
Tsuna kaget mendengar kata –kata itu kemudian mengangkat kepalanya. "Apa?"
"Ya, syukurlah boss tidak kenapa –kenapa.. Karena, kejadian yang menimpa Mukuro –sama bagiku bukanlah main –main mengingat dia adalah ilusionist hebat."
"I-iya tapi…"
"Lagipula, boss tidak boleh menggunakan Dying Will kan?"
"Ya.." Tsuna menunduk kembali. Sementara itu Dino melihat ke arah Chrome dengan wajah bingung.
'Kenapa dia…'
"?" Chrome melihat Dino yang sedaritadi memperhatikannya. "Ada yang salah?" tanyanya.
Dino diam, dia berpikir akan sesuatu."Sebaiknya kau tidak usah memaksakan dirimu Chrome. Walaupun kau bersyukur karena Tsuna dan lainnya tidak menjadi korban, tapi kau masih berharap Tsuna menyelamatkan Mukuro kan?"
"!" Chrome kaget dengan ucapan Dino.
"Di-Dino –san!"
"Ya.." jawab Chrome sambil tersenyum –yang masih dipaksakan. "Tapi semua sudah terjadi."
"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Tsuna.
"Kita pikirkan saja besok. Sekarang kita beristirahatlah dulu. Aku tidak ingin kondisi kita menjadi drop. Chrome, sekarang kau akan bagaimana?" tanya Dino.
"Aku akan kembali ke Kokuyo. Aku hanya ingin menyampaikan apa yang aku ketahui.."
"Ya, terima kasih Chrome, kau sangat membantu." Kata Tsuna sambil tersenyum.
"Baiklah aku permisi dulu." Pamit Chrome. Sebelum meninggalkan ruangan, Chrome melihat ke arah Tsuna.
"B-boss.."
"Ya?"
"Besok, sepertinya aku tidak akan pergi ke sekolah."
"Ke –kenapa?" tanya Tsuna bingung.
"Aku ingin menjadi makam Mukuro –sama agar tidak hilang lagi.." ucapnya sambil pergi meninggalkan ruangan.
"Eh? Tu –tunggu Chrome!" teriak Tsuna. Dino mencengkram tangan Tsuna, mengisyaratkan agar dia tidak menyusul Chrome.
"Dino –san!"
"Biarkan dia Tsuna."
"….Tapi…"
"Tsuna, aku ingin berbicara sesuatu denganmu."
"Eh?"
"Ini hanya firasatku tapi…" Dino langsung membisikkan sesuatu pada Tsuna. Sesaat kemudian mata Tsuna terbelalak kaget.
"APA?"
"Juudaime, apa kau sudah menemukan pelakunya?" tanya Gokudera pada Tsuna. Siang itu Tsuna, Yamamoto dan Gokudera berada di atap sekolah. Makan siang sekaligus membicarakan kasus pembunuhan kemarin.
"Eh, etto.. belum, bagiku semuanya terlalu cepat, aku jadi tidak mengerti." Jawab Tsuna sambil meminum jusnya.
"Ahaha, tenanglah, pasti nanti akan terungkap cepat atau lambat." Kata Yamoto sambil tertawa. Gokudera memandang sinis si maniak baseball itu.
"Saat seperti ini kau masih bisa tertawa?" bentaknya. Tsuna tersenyum kecil, "Tak apa Gokudera –kun, sesekali kita harus rileks dan melupakan sejenak pembunuhan itu." Ujarnya.
Tap
Tap
Tap
Seseorang menaiki atap sekolah dan datang menghampiri ketiga remaja itu. Ah tidak, bukan menghampiri, hanya melewati Tsuna dan kawan -kawan.
"Hi-Hibari –san!" Tsuna gemetar. Biasanya jam segini Hibari tidur di atap sekolah, dan jika ada yang datang dia akan –mengkamikorosu siapapun yang datang. Namun tidak kali ini, dia melewati Tsuna dan yang lainnya. Dia melihat ke arah langit mencari sesuatu. Setelah beberapa lama yang dicari tidak ada, dia kembali turun dari atap. Tapi sebelum itu…
"Herbivore.."
"Y-ya?" Tsuna terbelalak kaget.
"Jika ada mayat lagi di sekolah ini, aku akan…"
"KYAAAAAAAA" teriak seseorang dari bawah.
"?" semuanya kaget, kemudian Tsuna, Gokudera dan Yamamoto saling berpandangan sejenak.
"Jangan-jangan.." mereka akhirnya turun untuk memeriksa asal suara. Sementara Hibari hanya terdiam disitu. Setelah beberapa lama, seekor burung kenari mungil menghampirinya.
"Hibari! Hibari!" gumamnya. Hibari menoleh, burung itu hinggap dibahu lelaki berambut hitam itu.
"Kenapa kau lama sekali, kupikir kau sudah mati ditangan orang itu." Hibari tersenyum kecil.
"Ayo kita kesana." Ajak Hibari.
"?" Hibird, sang burung kemudian memiringkan kepalanya, "Kemana?" tanyanya.
"Tentu saja ketempat pembunuh bajingan itu." Seringainya.
Sementara itu Tsuna dan yang lainnya menghampiri ke sebuah ruangan kelas IX, dan…
"Ada apa?" tanya Gokudera.
"Sasagawa –san!" teriak seorang siswa. Seorang siswa lagi hanya gemetar, bersembunyi dibalik pintu.
"Aku hanya berusaha membuka pintu karena mendengar jeritan seseorang, tapi.." omongannya dipotong oleh Gokudera yang menyerobotnya.
"Eh, Onii….."
"!"
Sasagawa Ryohei diam tak bergerak di sebuah ruangan kosong kelas IX yang sudah lama tak terpakai.
_t0 bE c0unTinuE_
Jadi, ada yang sudah menemukan hint yang saia sebutkan diatas?
Belum?
Ah masa sih,, udah jelas kok hohoho..
Maaf kalau ada typo -,- karena typo saia tingkat akut. Jangan lupa review nya Minna-san , kalau ngga saia doain bernasib sama kayak si nanas loh ! XD /plakk/
|
||||||