Anime/Manga » Naruto »

Hidden
Author:
Kau-Tahu-Siapa PM
CHAP 4 UPDATE/ Dedicated for SHDL/ Mungkin kesialan atau takdir Tuhan, seorang Hyuuga Hinata bertemu dengan ninja buronan dan pelarian yang disangka sudah tewas oleh kebanyakan orang. Dan pertemuan dua insan berbeda jenis di pagi yang hujan itu mengubah hidup keduanya/ "Sudah kuduga. Ternyata kau benar-benar belum mati, Sasuke Uchiha."/ Semi Canon. RnR please!
Rated: Fiction T - Indonesian - Romance/Hurt/Comfort - Sasuke U. & Hinata H. - Chapters: 4 - Words: 7,240 - Reviews: 129 - Favs: 34 - Follows: 30 - Updated: 09-26-12 - Published: 09-09-12 - id: 8510934
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

"T-tidak mungkin!"

Kaki Hyuuga Hinata bergerak mundur perlahan beberapa langkah. Kedua tangannya digerakkan ke depan wajah, kemudian membekap mulutnya sendiri yang terbuka saking kagetnya. Pupil matanya menegang kembali. Dengan refleks dirinya mengaktifkan byakugan untuk berjaga-jaga sekaligus sebagai pertahanan pertama.

"U-uchiha S-sasuke–"

Bisikan pelan akibat getaran kecil dari pita suara keluar dari tenggorokannya. Suaranya bergetar, menyiratkan ketakutan yang amat sangat. Mungkin hanya telinganya sendiri yang dapat mendengar bisikan itu.

"–masih hidup..."

Hinata menarik napas, kemudian menghembuskannya dengan cepat. Dadanya kembang kempis tidak karuan. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Sungguh, tidak ada yang lebih menyeramkan dari bertemu seorang ninja pelarian sekaligus kriminal kelas S –walaupun ninja itu dalam keadaan sekarat.

Mungkin benar bahwa Tuhan memang tidak akan pernah menghilangkan kesialan seorang Hyuuga Hinata.

Dan hari ini benar-benar hari paling sial di dalam hidupnya.

.

Hidden

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : Standard warning applied. OOC untuk karakter Shizune. Dedicated for SHDL

.

Tidak ada yang akan menyangka bahwa mencari tanaman obat-obatan bisa berakhir dengan bertemu seorang ninja pelarian. Tapi hal itu benar-benar terjadi pada Hinata. Dan parahnya lagi, ninja itu dalam keadaan meregang nyawa alias sekarat. Darah yang mengucur dari sebuah lubang di dada kirinya membanjiri hampir seluruh pakaiannya.

Hyuuga Heiress itu semakin takut.

Uchiha Sasuke masih bernapas. Itu artinya Uchiha Sasuke belum mati. Itu artinya Naruto gagal membunuhnya. Dan itu artinya seluruh dunia shinobi kembali berada dalam masalah besar. Mungkin saja dia kembali hidup dan merencanakan balas dendam kepada orang yang hampir membunuhnya.

Tidak. Hinata tidak ingin Sasuke kembali hidup dan mengincar Naruto. Sudah cukup dirinya kehilangan banyak orang yang disayanginya akibat perang yang dipicu rasio gila Uchiha Madara. Cukup itu saja. Jangan si bocah kyuubi itu. Jangan orang yang paling disayanginya. Jangan Naruto.

Oh, apakah rasengan yang digunakan oleh Naruto belum cukup untuk membunuh si Uchiha bungsu ini?

Tapi itu artinya Hinata harus membiarkan Sasuke mati disini. Dan gadis berhati lembut itu betul-betul tidak tega untuk melakukannya. Membiarkan seseorang yang sedang sekarat terbaring di atas bukit dengan air hujan yang mengguyur deras serta luka menganga di dada itu sungguh tidak berperikemanusiaan. Abaikan faktor bahwa orang itu adalah pembunuh kelas kakap dengan nama yang termashyur di seantero dunia ninja.

Namun jika Hinata memilih mengobati Sasuke, mungkin saja Uchiha itu akan membunuhnya di tempat setelah dia sadar. Lalu membebaskan teman-temannya, Juugo dan Suigetsu yang berada di penjara Kumogakure. Lalu kembali menyerang desa. Lalu membunuh Naruto. Dan sekali lagi, hal itu adalah hal yang paling tidak diinginkan Hinata.

Jadi, jika Hinata memilih membiarkan Sasuke mati, maka tidak akan ada lagi perang dunia shinobi. Yang ada hanyalah Hinata menanggung rasa bersalah selama bertahun-tahun karena dirinya membiarkan orang yang sekarat tanpa melakukan apa-apa –salahkan Tuhan karena telah menganugerahinya hati selembut sutra namun serapuh kaca. Terkadang faktor inilah yang membuat Hinata sering mengalami kegagalan dalam beberapa misi yang dijalaninya bersama Kurenai-sensei, Shino, dan Kiba.

Jika Hinata memilih mengobati Sasuke, dirinya tidak akan menanggung rasa bersalah karena membiarkan seseorang sekarat. Hanya saja, kemungkinan besar Sasuke akan menyerang Konoha lagi.

Dan di desa tempat tinggalnya itu, ada orang yang kematiannya paling tidak diinginkan Hinata di dunia.

.

"Apakah Hyuuga Hinata sudah kembali?" teriak seorang wanita berpakaian putih. Kaki jenjangnya sedari tadi sibuk berlalu lalang dengan gelisah di sebuah ruangan yang dipenuhi oleh ratusan ninja medis serta ribuan ninja yang terluka sehabis pertempuran.

Seketika, hampir seluruh orang berpakaian serupa menengok ke arah wanita tersebut. Yang lainnya masih tetap berkonsentrasi pada ninja yang terluka di depan mereka.

"Belum, Shizune-san," jawab Haruno Sakura yang baru keluar dari ruang operasi. Raut wajahnya tidak kalah gelisah dari wajah Shizune. Kemudian pintu ruang operasi di belakang Sakura terbuka lagi. Kali ini yang keluar adalah lima orang ninja medis dan seorang ninja yang terbaring tak bernyawa.

"Saya kehabisan daun Torigabuto. Pendarahan tidak bisa dihentikan dengan maksimal. Jika Hinata belum kembali dan membawa tanaman itu, akan semakin banyak ninja yang tidak bisa bertahan akibat pendarahan akut..." Sakura menghela napas sejenak, kemudian kembali melanjutkan. "...Guy-sensei meninggal dunia. Pendarahannya cukup parah dan terlalu sulit dihentikan. Ditambah lagi, cakra para ninja medis yang sudah terkuras habis sejak tadi malam semakin mengecilkan peluang berhasilnya pengobatan."

Wanita bernama Shizune itu mengerutkan kening. Suaranya meninggi beberapa oktaf. "Sudah tiga jam lebih dan dia belum kembali?"

Seluruh orang di ruangan itu tersentak. Baru kali ini mereka mendengar suara Shizune yang biasanya lembut menjadi meninggi. Wajar saja, keadaannya benar-benar sangat darurat.

Dan tanpa Hinata serta tanaman obat yang dibawanya, dunia ninja bisa kehilangan lebih dari setengah ninja berkemampuan di atas rata-rata.

"Apa yang sedang dilakukan anak itu?" jerit Shizune frustasi. Jemarinya mencengkeram rambut gelapnya. Di dalam hatinya, dia bersumpah untuk tidak kedua kalinya membiarkan nona Tsunade memberi tugas seberat ini pada Hinata.

Sakura bergegas maju dan menghampiri seniornya itu. Dengan perlahan, tangan Sakura mengelus punggung Shizune. "Tenang, Shizune-san. Hinata akan segera kembali."

Shizune mendelik tidak suka. Pikirannya kalut.

Namun pikiran Shizune tidak sekalut pikiran Hinata saat ini.

.

Stuck. Otak Hinata tidak mampu lagi berpikir. Kedua pilihan itu sama-sama beresiko, dan gadis bersurai Indigo itu tidak mau menanggung salah satu di antara dua resiko itu. Dua-duanya buruk. Amat sangat buruk.

Hujan semakin deras. Pikiran Hyuuga Hinata pun semakin kacau. Jika dia semakin lama berada di sini dan belum membawa tanaman obat itu ke Konoha, tentu saja akan semakin banyak ninja yang tidak tertolong. Ia tahu bahwa dirinya harus segera mengambil keputusan yang tepat.

Tolong. Tidak. Tolong. Tidak. Suara iblis dan malaikat bergema dalam otaknya.

Hinata memejamkan mata. Dan sebuah suara yang berasal entah dari mana melintas di benaknya. "Mungkin saja setelah kau menolongnya, Uchiha Sasuke akan berubah menjadi ninja yang baik."

Ragu-ragu, dirinya membuka mata, menampakkan manik berwarna lavender itu kembali. Matanya memandang tepat ke arah Sasuke yang napasnya semakin perlahan.

'Ya, mungkin saja.'

Dan entah darimana asalnya, keberanian mulai merasuki hati gadis pewaris Hyuuga itu.

Dirinya maju beberapa langkah dan kembali berlutut di sebelah kiri Sasuke. Tangan kanannya bergerak menuju pergelangan tangan missing-nin itu, meraba denyut pembuluh nadinya yang lemah. Mungkin hanya sekitar empatbelas atau limabelas denyut per menit.

Lagi-lagi gadis bersurai Indigo itu memantapkan hatinya, berusaha meyakinkan dirinya bahwa pilihan yang sedang diambilnya sekarang bukanlah pilihan yang salah. Dia akan menolong dan mengobati Sasuke.

Hinata memang bukan ninja medis hebat seperti nona Tsunade, Shizune, atau Sakura. Kemampuannya bahkan jelas di bawah Ino yang sudah pernah diajari oleh Sakura dalam hal pengendalian cakra untuk pengobatan. Tapi apa salahnya mencoba?

Hyuuga pemalu itu membulatkan tekad. Kedua tangannya bergerak membuka pakaian Sasuke agar tidak menyulitkan pengobatan. Kini missing-nin itu bertelanjang dada.

Konsentrasi. Gadis itu memejamkan mata, kemudian mencoba mengingat-ingat perbandingan cakra untuk menghentikan pendarahan yang pernah diajarkan oleh salah satu ninja wanita di Akademi Ninja saat usianya masih sebelas tahun. Setelah merasa yakin, dirinya mulai mengeluarkan cakra pada telapak tangan kanannya, membentuk sebuah cahaya hijau kebiruan. Namun bentuknya belum bulat sempurna.

Hinata menggeleng. Rupanya perbandingan cakra yang dia hasilkan belum tepat.

Konsentrasi sekali lagi. Hinata terus memejamkan mata, berusaha mengukur perbandingan cakra dengan tepat.

Dan kali ini dirinya berhasil. Sebuah cahaya hijau dengan bentuk bulat sempurna terlihat jelas di telapak tangan kanannya.

Dengan mantap, telapak tangan kanannya bergerak menuju lubang besar di dada kiri Uchiha Sasuke –yang menurutnya adalah lubang yang dihasilkan oleh rasengan milik Naruto.

Perlahan-lahan darah yang mengucur deras sedari tadi berubah menjadi tetes-tetes kecil, sebelum berhenti mengucur sama sekali setengah menit kemudian. Hinata mendesah lega. Dirinya tidak menyangka bisa melakukan pengendalian cakra serumit tadi.

Namun kelihatannya, hari ini masalah datang silih berganti. Hyuuga Hinata kembali dilanda kebingungan saat dirinya berniat meninggalkan Sasuke setelah selesai menghentikan pendarahan ninja pelarian itu.

Hujan sepertinya bertambah deras setiap sekian menit. Mengobati Sasuke kemudian membiarkannya masih tak sadarkan diri di tengah guyuran hujan sederas ini sama saja dengan tidak berbuat apa-apa. Mungkin tidak lama kemudian, Uchiha bungsu itu akan mati akibat kedinginan. Dan usaha yang dilakukan Hinata tadi sia-sia belaka.

Hati Hinata menjadi iba.

Dan kembali, entah malaikat atau iblis apa yang merasuki dirinya, gadis bermanik lavender itu memutuskan untuk membawa Sasuke ke desa Konoha. Tentu saja tanpa diketahui oleh siapapun, kecuali dirinya dan Tuhan.

.

Jarak menuju gerbang desa Konoha hanya tersisa satu kilometer. Tapi pewaris Hyuuga itu sudah merasakan keletihan sejak tadi. Bagaimana tidak, sedari tadi Hinata melompat dari satu dahan pohon ke dahan pohon lainnya dengan membopong seorang pemuda yang mungkin dua kali lebih berat daripada berat badannya. Tangan kirinya menggenggam erat keranjang bambu berisi berbagai macam tanaman obat yang dibawanya sedari tadi.

Tapi Hinata tidak menyerah. Kembali, dirinya memusatkan cakra pada telapak kakinya untuk menambah kecepatan.

Gerbang desa Konoha sudah di depan mata. Namun gadis itu memilih memutari desa dan masuk lewat bagian belakang. Tentu saja hal itu harus dilakukan, mengingat yang dibopongnya adalah seorang ninja buronan yang disangka sudah tewas oleh semua orang.

Hinata melompat lagi, melewati gerbang belakang yang tidak pernah dijaga sama sekali sambil sesekali mengeratkan tangan Sasuke yang melingkar di sekeliling lehernya. Bau anyir khas darah masih bisa tercium dari sekitar tubuh Sasuke.

Gadis itu berlari memasuki lorong kecil yang jarang dilewati orang. Lorong itu berakhir tepat di depan pintu belakang apartemen yang dihuninya belum lama ini.

Dengan perlahan-lahan, Hinata mengendap-endap masuk ke dalam apartemen sederhana itu. Beruntung, tidak ada satupun orang yang berlalu lalang di lantai bawah. Dirinya bergegas menaiki tangga melingkar menuju lantai tiga, tempat kamarnya berada.

Hinata memutar kenop pintu dengan cepat. Pintu terbuka ke arah dalam, menampakkan sebuah ruangan dengan furnitur sederhana namun ditata apik sehingga tampak cantik. Setelah masuk, dirinya membanting pintu dan menguncinya dengan tergesa-gesa.

Dia bisa sedikit bernapas lega sekarang. Hinata kembali membopong Sasuke menuju satu-satunya kamar di apartemen miliknya. Kemudian gadis dengan rambut Indigo itu merebahkan Sasuke ke ranjang dengan bed cover berwarna kelabu di tengah kamarnya dengan hati-hati.

Uchiha bungsu itu masih tak sadarkan diri. Tapi Hinata yakin, tidak lama lagi kesadaran Sasuke akan pulih seperti sedia kala.

"I-istirahatlah. A-aku masih harus m-memberikan ini p-pada nona Tsunade," ucapnya sambil mengangkat keranjang bambu tadi, sebelum bergegas keluar dari apartemen dan tidak lupa menguncinya kembali.

.

TBC

.

a/n : saya minta maaf jika fic ini updatenya lama dan setiap chapter hanya berisi kurang lebih 1000 words. Saya udah kelas 9 dan bentar lagi mau UN :'( Tugas sekolah menumpuk, guru Bahasa Arab di kelas saya garang pula *hiksu* *burned*.

Doakan saja semoga saya bisa menyelesaikan fic ini hingga selesai :D

Sebenarnya Torigabuto itu emang tanaman yang beracun dan saya gak tahu kegunaannya untuk apa. Mungkin fic ini agak sedikit melenceng dari tema SHDL tahun ini. Dan lagi alur yang kecepetan membuat saya semakin gak pede untuk melanjutkan fic ini. Yasudahlah. Terimakasih buat yang sudah mereview fic saya Gomen gak bisa dibalas satu persatu.

Mind to REVIEW? Kritik dan flame dihalalkan.

Jangan jadi silent readers un XD

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .