Games » Megami Tensei »

Yasogami: Requiem of Legacy and Lies
Author:
Genji Tamasine PM
Re-made dari Yasogami: The Daily Life di fandom Persona Series. Back from HIATUS! Tanpa cinta, derajat kita pun semakin rendah. Mind to RnR?
Rated: Fiction T - Indonesian - Suspense/Drama - Soji S. - Chapters: 2 - Words: 1,501 - Updated: 10-03-12 - Published: 09-30-12 - id: 8568627
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

Yasogami: Requiem of Legacy and Lies

Chapter 2

Persona 4 © ATLUS


Kami melihat daftar kelas kami masing-masing di papan mading di lantai satu. Aku, Yosuke, Chie, dan Yukiko satu kelas lagi. Tepatnya di kelas 2-2. Ah, bagus lah. Saat beberapa murid lain termasuk kami sudah ingin ke kelas masing-masing kami tiba-tiba ditahan oleh beberapa guru dan digiring, eh, maksudku diarahkan ke Gym. Sepertinya karena ukurannya gedung Gym juga digunakan untuk berbagai pengunguman penting.

Sang kepala sekolah lalu memberikan sebuah pidato panjang lebar. Bahkan beberapa anak lain beberapa kali hampir ketiduran, Yosuke yang duduk di samping ku sendiri terang-terangan tertidur sehingga aku harus membangunkannya beberapa kali jika saja salah satu guru dengan gigi berantakan yang dijuluki King Moron lewat disekitar.

"Eh, kau dengar tidak?" aku sendiri yang tidak ingin tertidur dan tidak tertarik mendengar pidato kepala sekolah lalu menguping pembicaraan dua murid yang duduk didepanku. "Dengar soal apa? Toilet?" tanya murid yang lainnya. Murid yang duluan berbicara mengayun-ngayunkan tangannya. "Bukan, bukan soal itu! Haduh! Maksudku soal kejadian tadi pagi.". "Tadi pagi? Memangnya ada apa tadi pagi?"

"Jadi kau memang tidak dengar? Katanya ada murid dari sekolah lain ditemukan babak belur di salah satu jalan kesini." Hm? Kelihatannya pembicaraan mereka menarik, aku melirik ke sekitar sebentar kalau-kalau saja ada guru dekat sini. Aman. "Palingan jatuh dari sepeda.". "Dianya nggak bawa sepeda. Tadi aku sempat lihat pas dia dibawa ke rumah sakit. Lukanya itu sepertinya berasal dari orang lain."

"Wah, maksudmu kau bilang ada kemungkinan di daerah sini ada gangster?". "Ya seperti itulah, aku jadi takut untuk pulang sendirian. Bisa-bisa aku digantung di antenna TV lagi…". "Apa hubungannya coba? Makanya cari pacar sana.". "Elu sendiri apa hubungannya!?".

Tiba-tiba sebuah kerikil kecil mengenai tepat kepala salah satu murid didepanku. Dia berdigik.

"Hei, kalian berdua! Berhentilah ngobrol dan dengarkan pidato kepala sekolah!" seorang guru wanita (kalau tidak salah namanya Sofue-sensei, benar tidak ya?) yang ternyata tak jauh dari tempat aku duduk berbicara dengan lantang sehingga beberapa orang melirik ke arah mereka, aku segera membangunkan Yosuke takut-takut kalau dia nanti juga ketahuan.

Beberapa menit kemudian, pidato kepala sekolah pun selesai dan kami disuruh ke kelas kami masing-masing. Kami berebut tempat duduk dengan murid yang lainnya. Kelihatannya hari ini kami beruntung, kami berempat berhasil mendapat tempat duduk yang berdekatan di baris yang sama. Kami berbincang-bincang dengan teman kelas kami yang lama dan berkenalan dengan murid lainnya yang belum pernah kita temui.

Beberapa menit kemudian, King Moron lalu masuk ke dalam kelas. Tunggu, King Moron? Dia? Dia yang akan menjadi wali kelas kami selama setahun? TIDAK! Seluruh kelas kelihatannya terkejut, bahkan tidak segan-segan ada yang mengutarakan kekecewaannya secara langsung, "Sial! Kenapa harus dia sih? Mimpi apa aku tadi malam!?".

King Moron lalu membentak seluruh kelas dan mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan, menegur beberapa murid yang dulu dia kenal, dan lain-lain. Walau mungkin dia guru yang sedikit, seru, aku yakin dia sebenarnya ingin yang terbaik dari murid-muridnya. Tunggu, itu bukan sarkasme loh! Setelah beberapa saat, kami pun dipulangkan.

Ketika aku, Yosuke, Chie, dan Yukiko turun dari tangga menuju lantai satu, kami melihat beberapa anak murid berdesak-desakan di depan. Sepertinya terjadi sesuatu…

Kami berjalan ke depan gerbang, seorang guru sepertinya memberi instruksi. Eh? Dia memberitahu kami untuk berjalan pulang bersama atau menelpon seseorang untuk menjemput? Guru tersebut menolak untuk memberi alasannya, seperti pembicaraan yang kudengar tadi benar. Yosuke pun menyarankan agar kami berempat berjalan pulang bersama seperti biasa.

"Adachi! Apa yang kau lakukan?" Hm? Apa yang terjadi? Salah seorang murid yang sedari tadi berdiri jauh dari kelompok yang berkerumun tiba-tiba mendorong kasar beberapa murid didepannya dan melompati gerbang dengan mudahnya. Sang guru berteriak teriak memanggil nama murid itu tapi dia tak mengindahkannya, tidak, dia tiba-tiba berbalik, dan melirik tepat ke arahku.

Pandangan mata itu. Sebuah pandangan yang tidak asing. Pandangan itu…

-"Pandangan mata itu sama denganku."

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .