Games » Inazuma Eleven »

Requiem
Author:
Lunlun Caldia PM
Torehan tinta takdir menciptakan sebuah balutan lagu duka/AU/Fates 12/Hiroto tidak pernah takut dengan semua konsekuensi. Untuk apa ia takut? Toh, ia sudah pensiun dan punya cukup banyak uang untuk dinikmati sepanjang sisa hidupnya. Apa pengaruhnya jika aku memukul seorang kolonel brengsek dari markas pusat?/On-going/cover by Rosselinda Dian Soentjoko (fb)
Rated: Fiction T - Indonesian - Angst/Tragedy - Hiroto K./Guran & Goenji S. - Chapters: 14 - Words: 70,263 - Reviews: 46 - Favs: 7 - Follows: 5 - Updated: 04-05-13 - Published: 09-30-12 - id: 8568643
A+  A-   Full 3/4 1/2 Expand Tighten

Ooookey.. Saya sendiri ga ngerti dengan apa yang ada di dalem pikiran saya hingga nekat submit cerita beginian, dan bukannya nulis chapter buat fic multichap saya yang terbengkalai. Ehem, saya memang author yang tidak bertanggung jawab. Yah, saya akui itu. Tapi beneran deh, saya udah ga tahan buat publish fic ini! Ide ceritanya udah lama banget ada di dalem kepala saya, dan saya udah terlalu ngebet buat menulis cerita ini! Hyuuuu~

enjoy~!


Disclaimer : Inazuma Eleven adalah milik Level-5. Saya tidak mendapat keuntungan apapun dalam pembuatan fanfiksi ini.

Warning : OOC, AU, possibly typo(s), plotless story, blood, chara's death, Etc. Kesamaan ide harap dimaklumi


Requiem
by lunlun caldia
Prolog


.

.

.


Capital City of Centaurus, 23th September

Siang itu adalah siang yang berbeda di Negara dengan nama Centaurus itu. Langit biru cerah yang biasanya hanya dihiasi oleh burung-burung yang terbang bebas, siang itu digantikan oleh pesawat-pesawat tempur yang melayang dan saling menembakkan missil satu sama lain. Membentuk sebuah pertunjukkan kembang api yang mencekam.

Teriakan panik dan ketakutan dari para penduduk sipil terdengar membahana dari seluruh penjuru kota. Tangis bayi dan anak kecil yang terdengar begitu menyayat hati juga ikut meramaikan suasana kacau itu.
Siang itu, jalanan di ibu kota Centaurus yang biasanya selalu tertib mendadak dipenuhi oleh ribuan orang yang berlarian dengan sorot mata ketakutan dan putus asa.

Mereka berlari tanpa tahu mana arah yang mereka tuju.

Kemana saja, asalkan bisa selamat. Kemana saja, asalkan tidak ada rudal, missil, peluru, ataupun tentara di antara mereka. Kemana saja!

"Warga sipil harap mengikuti instruksi dari pihak keamanan!"

"Ke sebelah Barat! Kapal yang akan mengangkut para pengungsi ada di Barat!"

"Jangan panik! Sekali lagi, warga sipil diharap jangan panik!"

"Seluruh warga Centaurus akan terangkut di dalam kapal! Jadi, jangan khawatir!"

Suara teriakan dari para tentara Centaurus yang bertugas mengevakuasi penduduk dari zona berbahaya terdengar begitu ramai. Mereka menghimbau agar para penduduk tidak panik, dan tetap tenang.

Himbauan yang terdengar bodoh sebenarnya. Memangnya siapa yang masih bisa tenang, kalau tiba-tiba negara tempat mereka tinggal dihujani oleh tembakan dan puluhan missil oleh negara lain? Tidak ada.

.

.

.

"Mayor Kidou!"

Seorang pemuda dengan google terpasang di matanya menoleh. "Ada apa, Letnan muda Ichirouta?" gumamnya dingin pada seorang pemuda dengan rambut panjang ponytail yang menutupi sebagian wajahnya.

"Saya baru saja mendapat kabar ... Letnan muda Hiroto...,"

Kidou mengeryit saat Ichirouta memutus kalimatnya. "Apa yang dia lakukan?" tagihnya. Wajahnya mengilatkan ketidaksabaran.

"... dia pergi ke pantai sebelah Utara Centaurus—tempat para prajurit Delphinus menginjakkan kaki di Centaurus!"

Kidou terkesiap mendengar laporan Letnan muda itu. Ia terdiam sejenak sementara balas menatap Ichirouta dengan gusar. Rahangnya mengeras.

"APA?!" Kidou menggeram kesal. "Kenapa dia pergi sendirian? Kita bahkan belum menerima perintah dari pusat untuk mengurus wilayah sebelah utara! Dan kenapa tidak ada yang melarangnya pergi?"

"I-itu karena—"

"Karena sepertinya Kapten Saginuma dan pasukannya sudah gagal menahan tentara Delphinus untuk masuk ke wilayah kita, Mayor Kidou."

Seorang pemuda dengan rambut abu-abu nyaris putih menghampiri mereka berdua. Di punggungnya terlihat seorang anak laki-laki dengan rambut biru gelap yang tak sadarkan diri.

"Le-Letnan muda Fubuki...,"

"Ini bukan saatnya untuk berdebat, Mayor Kidou. Tentara Delphinus sudah semakin banyak yang mencapai ibu kota. Selain itu...," mata kelabu Fubuki menatap pesawat tempur yang terus bersliweran di atas kepalanya. Kadang terlihat asap merah yang membumbung tinggi akibat missil yang saling bertabrakkan atau karena salah satu missil itu mengenai sasaran—salah satu dari pesawat tempur itu.

Rahang Fubuki sedikit mengeras saat melihat sebuah pesawat tempur milik Centaurus meledak. Hancur bersama pilot yang ada di dalamnya.

Ada sesuatu yang dingin menggelayut di dada Fubuki saat melihat pesawat itu hancur. Namun, pemuda itu langsung buru-buru menggelengkan kepalanya. Mengusir semua resah dan perasaan negatif yang tiba-tiba datang. "... selain itu sepertinya masalah Letnan muda Hiroto tidak perlu dibesar-besarkan. Dia adalah prajurit yang hebat, apa kau lupa? Lagipula, dia tidak akan begitu saja pergi tanpa alasan. Di tambah lagi, aku dengar Kapten Gouenji dan pasukannya sedang mengejar mereka." lanjut Fubuki tegas.

"Gouenji? Menyusul Hiroto?" Kidou mengulang pernyataan Fubuki. Masih ada keraguan yang jelas terdengar dalam nada kalimatnya.

"Ya. Tapi seperti yang kubilang, itu tidak perlu dipermasalahkan. Intinya, saat ini kita harus segera membawa penduduk Centaurus keluar dari zona bahaya."

.

.

.

Fubuki pun melangkah meninggalkan Kidou dan Ichirouta. Kali ini, ia mencari paramedis yang bertugas di tengah kekacauan ini dan menitipkan anak laki-laki yang ada dalam gendongannya itu pada mereka. Anak laki-laki yang ia temukan terbaring tak sadarkan diri di tengah kekacauan ini.

Fubuki sendiri tidak mengerti bagaimana anak itu bisa tak sadarkan diri. Mungkin ia terpisah dari orangtua-nya, lalu terhimpit di antara para penduduk yang berusaha untuk menyelamatkan diri mereka dan—mungkin—terinjak-injak. Beruntung anak ini masih hidup.

DUARR!

Rahang pemuda dengan helaian abu-abu itu kembali mengeras saat bunyi ledakan besar kembali terdengar bersahut-sahutan, disusul oleh suara bangunan yang runtuh.

Pasti ada satu pesawat tempur lagi yang hancur dan menabrak sebuah gedung, walau entah milik siapa.

Ah, hari ini dia sudah banyak melihat banyak pesawat tempur yang meledak, lalu hancur tanpa meninggalkan bekas apapun kecuali api dan asap hitam pekat. Dan entah kenapa, tiap melihat pesawat-pesawat itu hancur, hati Fubuki terasa mencelos. Takut.

Apa salah satu pesawat yang hancur itu adalah milik 'Orang itu'?

Fubuki menggeleng lemah.

Tidak, semoga saja bukan milik 'Dia'. Yah, semoga.

"Aku akan jadi pilot pesawat tempur terbaik di angkatan udara! Jadi, kakak jangan mati dulu sebelum melihat aku dilantik sebagai pilot terbaik! Mengerti, kak?"

Sebuah ucapan yang dilontarkan oleh seseorang beberapa saat sebelum para tentara Delphinus melancarkan serangan ke wilayah Centaurus kembali terngiang di telinga Fubuki.

Ya, tentu saja. Dia sudah bilang suatu saat nanti akan jadi pilot terbaik di angkatan udara Centaurus. Jadi, dia tidak mungkin gugur.

Karena orang itu sudah bilang akan menjadi pilot terbaik—adik kembarnya.

Karena dia yang menyuruh Fubuki untuk terus bertahan hidup—Atsuya.

Pasti. Ya, pasti dia masih bertahan. Dia pasti masih ada di atas langit Centaurus. Dengan pesawat tempur miliknya. Masih berjuang melawan serangan dari angkatan udara Delphinus. Pasti. Fubuki yakin. Karena—

DUAARR!

—Atsuya adalah pilot yang tangguh, yang suatu saat akan menjadi pilot pesawat tempur terbaik.

Ya.

Sekali lagi, terdengar suara ledakan dari udara. Teriakan dari para penduduk yang sibuk berlarian menyelamatkan diri juga masih setia terdengar mengiringi suara ledakan dan bunyi mesin pesawat tempur. Suara-suara itu ... entah kenapa terdengar seperti musik yang ada dalam sebuah orkestra simfoni. Hanya saja, suara musik dalam orkestra simfoni tidak akan terasa semencekam ini iya, kan?

Hati Fubuki pun berdenyut nyeri. Tanpa sadar, pemuda dengan kulit pucat itu menggigit bibir bawahnya, lalu mempercepat larinya. Terlihat beberapa tetes kristal bening berkedok air mata berkilat di ujung buliran kelabu itu. Dada Fubuki terasa bergemuruh saat beberapa pesawat tempur dengan kecepatan tinggi lewat di atas kepalanya. Menggerakkan beberapa helai rambutnya.

'Ya, Atsuya ... aku akan terus bertahan hidup. Aku janji! Permohonan yang sama juga berlaku untukmu ... tetaplah hidup, wahai adikku!'

Saat itu juga, sebuah pesawat milik angkatan udara Centaurus tertembak rudal dari pesawat tempur Delphine dan hancur seketika.

.

.

.

Empat orang pemuda dengan seragam militer lengkap terlihat berlarian di bukit yang menjadi pembatas antara wilayah pantai sebelah Utara Centaurus—yang juga menjadi titik terluar sebelah utara Centaurus—dengan wilayah ibu kota.

Pemuda yang berlari paling depan memiliki rambut sewarna darah dengan iris emerald yang tajam. Di belakangnya, tiga orang tentara muda namun terlatih mengikuti langkahnya. Masing-masing berambut merah dengan aksen tulip, keperakan, dan yang paling belakang warna rambutnya hijau buram.

Mereka masih terus berlari dalam sunyi yang tak menyenangkan, hingga kemudian si kepala hijau memecah keheningan.

"Letnan muda Hiroto!" serunya.

"Ya, Midorikawa?" orang yang dipanggil Letnan muda pun menyahut, namun tidak menghentikan larinya.

Kaki jenjang itu masih terus mengambil langkah yang lebar. Iris emerald itu masih menatap tajam jalanan yang kadang di selingi oleh beberapa pohon besar yang membentang di depannya. Pikirannya masih terfokus pada tujuan awalnya—tujuan semua tentara Centaurus—menjaga Centaurus dari serangan musuh—atau apapun itu—yang bisa mengusik kedamaian dan kedaulatan negara ini, Centaurus.

"Aku baru saja dapat laporan dari markas pusat!"

Hiroto langsung menghentikan langkahnya, lalu menatap pemuda dengan rambut sewarna daun teh itu dengan serius.

Laporan dari markas pusat? Pasti itu adalah laporan yang penting.

Dua orang yang lain juga tampak mengikuti apa yang dilakukan oleh Hiroto.

"Markas pusat?"

Midorikawa tidak langsung menjawab. Ia hanya meletakkan ujung telunjuk kanannya ke telinga. Membuat sambungan dari alat komunikasi yang terpasang di telinganya menjadi lebih jelas.

"Ya. Dan ... juga dari Kapten Gouenji."

Hiroto memicingkan matanya saat mendengar itu.

Gouenji? Apa mungkin Kapten muda yang dikenal banyak akal itu mengejarnya? Untuk apa? Mengirim bantuan? Oh, semoga saja itu semua benar. Karena saat ini Hiroto memang benar-benar membutuhkan bantuan—dan mungkin juga beberapa pasukan tambahan.

Percayalah, saat ini dia sedang menuju ke pantai sebelah Utara Centaurus, tempat pasukan Delphinus mendarat, hanya dengan 4 orang. Ya, 4 orang! Gila bukan?

Hiroto—sangat—tahu kalau dia mau menuju ke tempat itu, setidaknya harus membawa beberapa pleton pasukan bersamanya. Karena pasti, pasukan musuh juga akan ada banyak. Tapi, Hiroto menganggap ini adalah situasi genting.

Kapten Saginuma dan pasukannya sudah tidak mengirimkan kabar sejak tiga puluh menit yang lalu. Pasukan Delphinus juga sudah semakin banyak yang memasuki wilayah ibu kota. Entah apa yang terjadi dengan Saginuma dan pasukannya hingga tak mampu memperlambat pergerakan musuh. Armada angkatan udara juga sepertinya sudah habis-habisan menahan serangan Delphinus.

Karena itulah, Hiroto memutuskan untuk menyusul Saginuma. Menengok apa yang terjadi pada kapten muda itu, dan memberi bantuan. Walau saat ini hanya ada tiga orang yang bersamanya—Fuusuke, Haruya, dan Midorikawa—tapi itu tidak apa-apa. Yang penting, mereka tetap pergi ke tempat Saginuma. Yah, walau Hiroto sendiri mengakui resiko dari pergerakannya ini sangat besar.

"Apa yang mereka katakan?" tanya Hiroto.

Jeda sejenak. Midorikawa balas menatap Hiroto dengan pandangan menilai.

"Anda yakin mau mendengarnya?"

Hiroto mendengus tak sabar.

Midorikawa menghela nafas. Demi Tuhan, menghela nafas! Bahkan di saat perang sedang berkecamuk seperti ini dia masih sempat menghela nafas.

"Kapten Gouenji dan pasukannya sepertinya sedang menyusul kita—"

"Berapa banyak prajurit yang ia bawa?" Hiroto memotong laporan Midorikawa.

"Cukup banyak untuk membantu kita." Midorikawa menjawab singkat tanpa ada niat memberi jawaban lain yang lebih rinci. Dasar.

"Bagus! Dengan begitu, kita jadi punya kekuatan lebih untuk membantu Kapten Saginuma!" seru Haruya bersemangat.

"Aku bahkan ragu kalau Kapten Saginuma masih butuh bantuan kita...," Midorikawa menyahut lemah.

Hiroto mengeryit tak mengerti. "Kenapa?"

"Ada berita buruk dari pusat, Letnan muda. Mereka sudah kehilangan kontak dengan Kapten Saginuma dan pasukannya sejak sepuluh menit yang lalu."

Hiroto terhenyak.

Mata Fuusuke membulat.

Bibir Haruya mengatup.

"Ka-kalau begitu ... artinya...,"

"Ya, Letnan muda. Sepertinya Kapten Saginuma dan pasukannya sudah tamat. Kita terlambat." Midorikawa menjawab dengan nada dingin. Mata onyx-nya menyiratkan kesedihan dan penyesalan.

"Bo-bohong...," suara Haruya terdengar begitu berat dan bergetar. Terlalu kaget dengan kenyataan yang baru saja dilontarkan oleh Midorikawa. "Orang-orang itu pasti salah! Kapten Saginuma adalah orang yang tangguh! Aku pernah menjadi bawahannya! Tidak mungkin dia berakhir dengan mudah di tangan para tentara Delphinus keparat itu!" tangan Haruya mengepal. Emosi menyeruak begitu saja dari tubuh pemuda itu.

Midorikawa menunduk. "Tapi ... itu yang dikatakan oleh orang-orang dari markas pusat...,"

"KALAU KAU PERCAYA DENGAN OMONGAN ORANG-ORANG ITU, ITU ARTINYA KAU BODOH!" Haruya memekik emosi. Ada cairan bening yang tertahan di matanya.

"Markas pusat tidak pernah memberi laporan yang salah, Haruya." setelah sekian lama menjadi pendengar setia, akhirnya Fuusuke ikut membuka mulutnya.

Perhatian pemuda tulip itu kini teralih pada sosok pemuda dengan rambut kelabu—Fuusuke—yang tengah berdiri sambil menatap kosong ke arah bawah bukit.

Haruya menggeram rendah. "JADI, KAU JUGA MAU PERCAYA PADA ORANG-ORANG ITU? BEGITU MAKSUDMU, FUUSUKE?!"

"Aku sebenarnya juga tidak ingin percaya, Haruya!"

"LALU KENAPA?!"

Fuusuke tidak menjawab. Ia hanya menghentakkan dagunya ke arah bawah bukit. Memberi sinyal kalau di bawah sana sedang terjadi sesuatu.

Semua mata pun tertuju pada arah yang dimaksud Fuusuke. Ketiga pasang mata itu juga membulat bersamaan saat melihat apa yang terjadi di bawah sana.

Di sana, di bibir pantai, ada tiga kapal armada angkatan laut Delphinus. Ketiga kapal itu mungkin adalah kapal yang mengangkut semua tentara-tentara sial itu.

Beberapa meter di dekat bibir pantai, terlihat mayat-mayat tentara dengan seragam militer Centaurus dan Delphinus bergelimpangan dengan darah di sekujur tubuh mereka. Bisa ditebak, sempat ada pertarungan sengit di sana dan—sialnya—dimenangkan oleh pasukan Delphinus.

Midorikawa langsung menahan nafasnya saat melihat pemandangan itu. Perutnya sedikit terasa mual saat melihat ada begitu banyak darah yang mengalir di sana.

Tangan kurus pemuda itu bergerak menutupi mulut dan hidungnya.

Midorikawa memang sudah tahu kalau dalam perang, yang hanya bisa dilihat hanyalah sederetan mayat yang bersimbah darah dan kadang kau juga bisa menjumpai mayat dalam kondisi yang tidak utuh. Tapi, Midorikawa belum pernah melihat langsung pemandangan itu dengan matanya sendiri.

Ya, ini adalah kali pertama ia turun ke garis depan setelah sebelumnya hanya bertugas di markas pusat. Berkutat dengan layar monitor dan memantau musuh dari radar. Semua pemandangan ini sangat mengerikan. Tidak, ini bahkan terlalu mengerikan dan lebih dari apa yang selama ini ada dalam bayangannya.

"... Armada delapan milik angkatan laut juga sepertinya tidak berdaya menghadapi serangan dari Delphinus yang begitu tiba-tiba." komentar Fuusuke saat matanya menatap nanar ke arah laut.

Di sana, terlihat badan kapal perang milik Centaurus yang terbakar dan hampir tenggelam ke dasar laut. Dia bahkan bisa melihat beberapa mayat tentara mengambang di permukaan laut. Sekoci penyelamat juga terlihat hancur. Tidak ada yang selamat.

Mengerikan. Ya, inilah pemandangan yang hanya bisa kau lihat saat perang terjadi.

Haruya terdiam. Matanya membulat dan pupilnya mengecil. Tubuhnya bergetar, mulutnya mengatup. "Ti-tidak mungkin...," Haruya menggumam tak jelas.

Sedetik kemudian, Haruya berteriak murka dan berlari menuruni bukit itu. Pemuda dengan rambut merah itu berlari, menerjang para tentara Delphinus yang masih terlihat mondar-mandir di sekitar pantai.

"HARUYAA!" terdengar suara teriakan Hiroto. Disusul oleh teriakan dari Midorikawa dan Fuusuke yang juga meneriakkan namanya. Memaki perbuatan bodohnya. Tapi, Haruya sama sekali tidak mempedulikan itu semua.

Dia malah mencabut Heckler & Koch Mark 23[1] yang terselip di sela pinggulnya, membuka pemicunya, lalu menembak para tentara Delphinus itu dengan membabi buta.

Ya, Haruya menembaki mereka. Sendirian. Tak ada yang membantunya. Bahkan tiga orang yang tadi ada bersamanya juga tidak menyusulnya. Mereka hanya berdiri, dan meneriaki nama Haruya. Berharap ia kembali dan mengurungkan niatnya.

Cih, sudah terlanjur. Haruya membatin kesal. Lagipula dia tidak bisa membiarkan pasukan Delphinus itu masuk lebih banyak lagi.

DOR! DOR! DOR!

Suara teriakan yang memerintah waspada, lalu desingan peluru tiba-tiba saja merajai tempat itu.

Haruya berhasil menembak tiga tentara Delphinus keparat itu. Tapi sayangnya, tentara Delphinus terlalu banyak. Haruya kalah jumlah. Tapi dia tetap tidak mau menyerah. Dia tetap berlari dan menembaki tentara-tentara itu.

Gerakan Haruya tidak bertahan lama, sebab pada detik selanjutnya, seorang tentara Delphinus menghujaninya dengan tembakan bertubi-tubi.

Peluru-peluru itu melesak masuk ke dalam tubuh Haruya.

Pundak, kaki, tangan, dada ... Seluruh tubuh Haruya kini penuh dengan rasa sakit yang amat sangat.

Ah, dia bahkan sudah tidak bisa lagi melokalisir darimana rasa sakit itu berasal.

Yang terasa hanya darah yang perlahan merembes keluar dari tubuhnya. Mengotori seragamnya—seragam militer yang selalu menjadi kebanggaannya.

Langkah Haruya terhenti saat sebuah peluru berhasil menembus kepalanya. Heckler & Koch Mark 23 yang daritadi ia genggam terjatuh, lalu disusul oleh tubuh Haruya sendiri.

Hening.

Hiroto dan Midorikawa hanya bisa menatap nanar tubuh rekannya yang baru saja ambruk. Fuusuke apalagi. Matanya benar-benar membulat saat melihat sahabatnya itu jatuh. Mati.

"HARUYAAAAA!" teriakan putus asa Fuusuke yang memanggil nama seorang prajurit yang baru saja gugur dalam medan perang pun terdengar mengisi kesunyian yang menyayat hati.

.

.

.

"Cepat! Kita harus lari lebih cepat, Masaki!" seorang ibu tampak berlari sambil menggandeng tangan anak laki-lakinya. Dia berusaha menyamai langkah sang suami yang berlari di depannya.

Sorot mata wanita itu tampak panik dan ketakutan. Buliran keringat dingin yang sedaritadi mengucur di pelipis kedua pasangan itu makin bertambah jumlahnya saat beberapa pesawat tempur lewat di atas kepala mereka.

Masaki, putra pasangan itu terus berlari. Nafasnya terengah-engah—lelah. Tentu saja, anak itu sudah berlari lebih dari satu setengah kilometer dan sepertinya kaki kecilnya itu sudah sampai dalam tahap ketahanan maksimum.

Ada sorot ketakutan yang terpancar dari buliran cokelat miliknya saat deru mesin pesawat tempur yang lewat kembali terdengar.

Anak itu tidak mengerti, kenapa tiba-tiba ada banyak pesawat di langit?

Suara ledakan yang mengerikan tiba-tiba juga terdengar dari segala penjuru, lalu ditambah lagi dengan tatapan ketakutan ayah dan ibunya. Kenapa ayah dan ibunya tampak begitu panik?

Oh, astaga. Apa yang sebenarnya terjadi! Kenapa tempat ini mendadak jadi begitu ramai?

Masaki masih terus berlari dalam bingung, saat tiba-tiba genggamannya pada tangan sang ibunda terlepas dan membuat tubuh kecilnya terhempas ke atas tanah.

"Ukh!" Masaki meringis saat tubuhnya jatuh di atas tanah.

Ayah dan Ibu Masaki yang saat itu masih berlari, langsung menghentikan langkah mereka saat menyadari Masaki yang terjatuh.

"Bangun! Ayo, bangun Masaki!" ayah dan ibu Masaki berteriak pada anak berambut pirus itu. Meminta sang buah hati supaya segera bangkit. Segera! Sebelum para tentara datang dan menghujani mereka dengan tembakan.

Masaki yang mendengar teriakan ayah dan ibunya pun mencoba untuk bangkit berdiri. Ada rasa perih di siku kanan dan lututnya. Tapi, anak itu mencoba menghiraukannya. Dia ... harus segera menghampiri ayah dan ibunya.

Masaki baru saja akan mendapatkan kembali keseimbangannya saat tiba-tiba sebuah ledakan keras—yang entah darimana asalnya—terjadi.

DUAARR!

Tubuh kecil Masaki terlempar beberapa meter sebagai akibat dari ledakan besar itu, dan baru berhenti saat ia menabrak sebongkah batu—sisa dari bangunan yang telah runtuh lebih dahulu.

Masaki meringis saat merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Tapi, anak itu masih bisa menggerakan tubuhnya. Mata cokelat anak itu pun akhirnya terbuka.

Dilihatnya, tanah tempat ia terbaring terdapat sedikit bercak darah. Masaki mengeryit.

Ini ... darah?

Darah siapa?

Tes!

Lihat, bercak itu bertambah! Tunggu dulu.

Tangan kecil anak itu pun memegang pelipisnya. Perih. Ia lalu melepaskan pegangannya pada pelipisnya dan menatap telapak tangan yang tadi ia gunakan untuk menyentuh bagian yang ada di sekitar wajahnya itu.

Merah. Darah.

Tubuh anak itu tiba-tiba saja bergetar. Takut.

Bagaimana ini? Dia berdarah.

Kepalanya ... berdarah.

Ayah ... Ibu—

—kemana Ayah dan Ibunya?

Anak itu sontak mendongak. Mencari keberadaan Ayah dan Ibunya.

Namun nihil, ia sama sekali tidak bisa menemukan sosok kedua orangtuanya itu di mana pun. Yang ia lihat hanyalah, bangunan yang tadi ada di dekat orangtuanya berdiri kini sudah rata dengan tanah. Ada kobaran api yang membakar puing-puing bangunan itu.

Dengan susah payah, Masaki bangkit dari tempatnya. Anak kecil itu melangkah perlahan menuju gedung yang sudah hancur itu tanpa ada perasaan curiga sedikit pun. Yang ingin ia lakukan adalah, mencari Ayah dan Ibunya. Hanya itu.

Langkah Masaki terhenti saat mata cokelatnya menatap potongan telapak tangan—yang sepertinya—milik seorang wanita tergeletak di dekat gedung yang baru saja hancur itu. Ada sedikit luka bakar dan percikan darah di atas telapak tangan itu.

Mata Masaki sontak membulat melihatnya. Bulu kuduknya berdiri, dan air matanya tiba-tiba saja menggenangi pelupuk mata anak itu.

Masaki mengalihkan pandangannya tepat ke arah depan gedung itu.

Nafas Masaki langsung tercekat saat melihat dua sosok mayat sudah terbaring dalam kondisi mengenaskan.

Yang satu seorang pria, dan satunya lagi wanita. Salah satu telapak tangan milik wanita itu hilang. Masaki benar-benar yakin kalau telapak tangan yang tadi ia lihat adalah milik wanita itu.

Dua orang itu—

—Ayah dan ibunya.

Bocah itu terpekur. Air matanya menetes begitu saja. Bibirnya mengatup. Tubuhnya bergetar, dan kakinya lemas.

Dia terluka. Ayahnya mati. Ibunya juga. Pertama dia terluka, lalu Ayah dan ibunya mati. Orangtuanya mati.

—sebenarnya apa yang terjadi?

Kenapa harus Ayah dan Ibunya?

Kenapa harus mereka yang mati?

Memangnya mereka salah apa?

Memangnya Masaki salah apa?

Memangnya apa yang terjadi?

Ada begitu banyak pertanyaan di benak Masaki. Namun sepertinya, logika dan hati anak dengan rambut pirus itu belum juga dapat mencapai titik temu.

Masaki lalu menundukkan pandangannya. Membiarkan bulir-bulir kristal bening keluar dari pelupuk matanya—anak itu menangis.

Selanjutnya, tangan anak itu menggenggam tanah. Membuat beberapa kerikil tajam masuk ke dalam genggaman erat tangannya yang suci. Anak itu menangis, membiarkan emosinya mengalir sesukanya dalam penyaluran rasa frustasi yang begitu membingungkan.

.

.

.

Hiroto masih berlari menghindari kejaran tentara Delphinus.

Beberapa menit yang lalu, ia baru saja berpisah dengan Midorikawa dan Fuusuke. Ia memerintahkan mereka berdua untuk segera bergabung dengan Gouenji dan pasukannya. Sedangkan Hiroto mengalihkan perhatian pasukan Delphinus dan membawanya ke arah yang berbeda agar mereka tidak mengejar Fuusuke dan Midorikawa.

Midorikawa sempat melarang Hiroto melakukan tindakan nekat ini, tapi Hiroto tetap berpegang pada pendiriannya. Karena bagaimana pun juga, mereka adalah tanggung jawab Hiroto.

Hiroto yang telah membawa mereka ke tempat itu. Kematian Haruya juga termasuk dalam tanggung jawabnya. Pemuda dengan iris sewarna jade itu tidak akan lagi membiarkan rekannya tewas. Tidak akan.

Jadi, di sinilah Hiroto. Terus berlari ke arah perumahan yang sudah kosong di balik bukit. Dengan lima orang tentara Delphinus yang mengejarnya dan terus-menerus menembakinya. Oh, yeah, tentara sial itu.

Hiroto baru saja memasuki jalanan perumahan itu saat tiba-tiba saja salah seorang tentara Delphinus mengeluarkan sebuah tabung warna hijau, menarik ujungnya, lalu melemparkannya ke arah Hiroto.

Hiroto sedikit tercekat saat melihat tentara itu melemparkan benda hijau itu ke arahnya.

"Brengsek, granat!" geramnya kesal.

Hiroto lantas langsung loncat ke belakang sebuah gedung besar yang ada tak jauh darinya. Beruntung bagi Hiroto karena lemparan granat itu ternyata mengenai bangunan yang jaraknya beberapa meter di depan gedung yang menjadi tempatnya berlindung.

DUAARR!

Dan granat itu pun meledak. Menghancurkan sebuah bangunan yang letaknya beberapa meter di depan tempat persembunyian Hiroto. Bunyi bebatuan dan puing yang jatuh ke tanah tiba-tiba saja melingkupi daerah itu.

"Cih, melempar granat saja tidak becus!" Hiroto sedikit menertawakan kebodohan para tentara Delphinus itu.

Tangan pucat Hiroto lalu mengambil Five-seven[2] yang selalu ada di sela pinggulnya, lalu keluar dari tempat persembunyiannya dan menembaki tentara-tentara bodoh itu.

Tiga dari lima tentara langsung jatuh. Bagus.

Hiroto menyeringai puas. Ternyata kemampuan menembaknya tidak kalah dari Gouenji. Ha!

Pemuda itu lalu kembali berlari. Membuat jarak yang cukup jauh dengan dua prajurit musuh yang masih tersisa.

Hiroto berniat menahan kesenangannya menembaki seluruh musuhnya, karena ia harus secepatnya mencari pasukan Centaurus. Bergerak seorang diri dalam situasi genting seperti ini sama sekali bukan hal yang bagus. Ia harus segera bergabung dengan pasukan Centaurus.

Hiroto masih tetap berlari, saat tiba-tiba mata emerald-nya menangkap imej seorang anak laki-laki sedang meringkuk dan menangis di depan sebuah bangunan yang hancur.

Ah, bangunan itu ... bukankah itu bangunan yang terkena lemparan granat dari para tentara bodoh itu? Tapi, kenapa masih ada anak-anak di daerah sini? Bukankah seharusnya semua warga di sini sudah di evakuasi? Oh, jangan bilang kalau pengevakuasian pengungsi tidak berjalan dengan merata.

Hiroto langsung menghentikan langkah kakinya, dan dengan segera menghampiri bocah itu.

Pemuda krimson itu baru saja akan memerintahkan anak itu supaya segera pergi dari tempat itu, sebelum akhirnya mata hijaunya menangkap dua buah jasad mengenaskan yang terbaring beberapa meter di depan anak itu. Saat itu juga, Hiroto langsung bisa menangkap bahwa kedua jasad itu besar kemungkinan adalah orangtuanya.

Mungkin saja anak itu tadinya sedang berusaha menyelamatkan diri bersama orangtuanya, namun lemparan granat tadi menghentikan semuanya.

Hening.

Hiroto kini mengalihkan pandangannya pada anak dengan rambut pirus itu. Sedikit rasa simpati mengalir di dada pemuda berambut merah menyala itu.

Anak itu ... masih terlalu kecil.

Hiroto lalu berjongkok di depan anak itu. Membuat tingginya sejajar dengan si anak yang tengah meringkuk itu.

Tangan Hiroto baru saja akan menyentuh puncak kepala si anak, saat tiba-tiba ia merasakan ada bayangan dua orang mengendap-endap di balik bangunan-bangunan kosong yang masih sanggup berdiri kokoh.

Hiroto mendecih kesal.

Ia pun langsung menarik anak itu dalam dekapannya(anak itu sedikit tersentak dan berteriak saat menyadari ada tangan besar yang menarik tubuhnya), melindunginya, lalu menembak dua orang tentara musuh yang tersisa.

DOR!

"Uwaaakh!"

Satu orang sudah jatuh

DOR!

Terdengar suara tubuh seseorang yang jatuh di atas tanah.

Hiroto membiarkan seringai tipis muncul di wajah tampannya saat ia menyadari sudah tidak ada lagi musuh yang tersisa di tempat itu.

Ada sedikit rasa bangga yang terentang dalam senyuman itu.

Ya, Hiroto tidak akan membiarkan tentara Delphinus itu masuk lebih jauh ke wilayahnya. Dia juga tak akan membiarkan teman dan rekan-rekannya mati karena mereka. Lalu—

takkan kubiarkan mereka melukai anak ini lebih dalam lagi[3].


To be continued


Foot Notes :

1. Heckler & koch mark 23 : senjata semi-otomatis berkaliber 45 ACP. Weight : 2.29 kg (5.0 lb), loaded, with suppressor and LAM. Length : 421 mm (16.5 in), with suppressor. Barrel length : 150 mm (5.9 in), Muzzle velocity : 260 m/s (850 ft/s), Effective range : 25 m. Saya mikir, kayaknya keren kalo Haruya megang pistol ini hihi =p

2. Five-seven : senjata semi-otomatis berkaliber 5.7x28mm (makanya namanya Five-seven). This gun is really really nice! Itulah kenapa saya mbikin Hiroto bisa megang pistol ini =)))

3. Yang dimaksud Hiroto 'takkan melukai' disini bukan dalam artian fisik yah. Well, yeah, Masaki saat itu emang terluka fisiknya. Tapi yang lebih Hiroto maksud, lebih ke batin dan mental. Hiroto kan udah ngeliat kalo kedua orangtuanya Masaki tewas gara-gara lemparan granat nyasar itu. Yah, anggaplah Hiroto masih sedikit 'terguncang' karena ngeliat Haruya tewas di depan mata kepalanya =)))

Yaaa, akhirnya saya nekat juga publish cerita macem begini. Well, saya minta maaf sebelumnya kalau cerita saya mirip dengan fic-nya Kuroi-Neko-Cii yang judulnya Cry Cry. H-hei, saya bukannya niru cerita dia loh. Plot ini udah saya pikirin dari jauh-jauh hari(well, walaupun saya juga sedikit ngambil scene dari beberapa anime yang pernah saya tonton dulu) X(

Pokoknya, pokoknya... Kesamaan ide harap dimaklumi deh #jeder

Dan yah, maaf kalau prolognya abal banget. Saya nulisnya agak keburu-buru karena saya takut ga bisa ke-publish hari ini (tugas presentasi dari dosen Speaking membunuhku! Orz). Setidaknya, kalau tidak ada TIGA orang yang mau berbaikhati meriview cerita ini, well, mungkin saya akan menghapus cerita ini. #sob

Yah, saya mungkin memang author yang mementingkan review. Karena jujur, tanpa review, ga akan ada yang membakar semangat dalam diri saya untuk melanjutkan fic-fic saya.

So, yes, your review is really something for me =')

Oh, iya. Centaurus dan Delphinus, itu saya ambil dari nama rasi bintang. trus, ada yg bisa nebak siapa anak yang digendong sama Fubuki itu? cookies for you who correctly guess *wink*

kritik, saran dan flame YANG MEMBANGUN akan saya terima dengan senang hati :'D

Much love,
LC

Favorite : Story Author   Follow : Story Author

  .    .