
Torehan tinta takdir menciptakan sebuah balutan lagu duka/AU/Fates 12/Hiroto tidak pernah takut dengan semua konsekuensi. Untuk apa ia takut? Toh, ia sudah pensiun dan punya cukup banyak uang untuk dinikmati sepanjang sisa hidupnya. Apa pengaruhnya jika aku memukul seorang kolonel brengsek dari markas pusat?/On-going/cover by Rosselinda Dian Soentjoko (fb)
Rated: Fiction T - Indonesian - Angst/Tragedy - Hiroto K./Guran & Goenji S. - Chapters: 14 - Words: 70,263 - Reviews: 46 - Favs: 7 - Follows: 5 - Updated: 04-05-13 - Published: 09-30-12 - id: 8568643
|
|
A+ A- |
Oke, jangan tanya kenapa saya bikin update-an begini. Err.. kalo ada yang nanya ini apaan, ini sebenernya format inti cerita. Konflik inti. Kemarin saya mau publish barengan sama Fates 4, mau saya jadiin satu paket gitu. Tapi saya lupa. Orz.
Saya emang sengaja bikin Path of Destiny, buat jadi pembatas cerita gitu. Jadi... abis ini di publish, cerita ini juga akan memasuki inti. Terus, ada beberapa alasan juga. Jadi, saya mau ngangkat cerita dari beberapa tokoh yang waktunya itu di ambil sebelum kejadian 23 September, tapi bukan dalam bentuk flashback melainkan berbentuk sat chaper penuh. Makanya, kalo misalnya saya jadi bikin, saya akan misahin cerita itu dengan tittle Path of Destiny. Itu juga kalo saya ga terlalu males... #diinjek
Warning : Mirip seperti prolog, hanya saja semua dialog di bawah ini belum tentu terjadi secara berurutan.
Disclaimer : Level-5.
Requiem
Path of Destiny
Saat wujud bayangan masa lalu kembali hadir...
"Lama tidak bertemu, Someoka-kun!"
"Apa yang kau inginkan?"
"Hadapi saja. Ini bukanlah sesuatu yang praktis. Itulah kenapa terkadang demi melakukan tugas, kita harus bertindak di luar batas."
"Aku bahkan sudah bukan bagian dari militer lagi."
Dan serpihan nasib berserakan membentuk sebuah bangunan yang tidak pernah utuh...
"Orang-orang sudah keburu menilai semua prestasi yang ia dapat adalah berkat pengaruh sang Ayah, bukan karena kemampuannya. Entah aku harus merasa simpati atau bagaimana."
"...kau tidak perlu mendengarkan omongan mereka."
"...tidak masalah kalau kau membenciku. Sejujurnya, aku juga benci pada diriku sendiri."
"Borjuis."
Bangunan yang menyimpan sebuah paradoks paling brutal...
"Apa dia mati?"
"Tidak tahu. Tidak peduli."
"...Aku mencintaimu... Gouenji. Sangat! Tidakkah kau mengerti itu?"
"Sial! Mereka terus menembaki kita!"
"Bersyukurlah cuma kaca spion mobilmu yang pecah dan bukan kepalamu, Hiroto."
Saat eksistensi terlanjur dibingkai cetakan masa lalu...
"Lihat, kak! Seragam ini cocok sekali kan di badanku?"
"Mau ikut bersamaku, Fuusuke?"
"Ingatkan aku untuk membunuhnya suatu saat nanti, oke?"
"Kalian orangtua-nya Kariya?"
Tersungkur di atas kuburan masa lalu yang kering dan gelap...
"Kembalikan orangtuaku!"
"Kalau Atsuya sedang bersamaku, dia pasti selalu membicarakanmu."
"Apa kau ingin orang-orang mengasihanimu?"
"Kau bercanda, kan?"
Saat itu pula, Requiem yang menyedihkan kembali terdengar...
"Maafkan aku..."
"Kau bergerak di belakangku. Aku dan Sakuma akan berusaha mem-back up-mu."
"Akhirnya, kita bertemu lagi ... Haruya...,"
"Kauyakin tidak mau aku memberitahu Kapten Gouenji soal luka di bahumu itu, Letnan Muda Ichirouta?"
Dan bersamaan dengan itu, skenario baru siap dimainkan...
"OII! Mana Gouenji?! Kenapa dia belum menyusul?!"
"Tolong katakan padaku kalau itu bukan cahaya dari malaikat yang datang untuk mencabut nyawaku."
"Lari dan bawa Masaki bersamamu! Aku akan coba menahan Mereka..."
"Holy shit!"
Takdir pun kembali tertawa riang...
"Mereka ada banyak! Mana bantuan kita?!"
"PAPAAAA! AWAS!"
DOR!
"... Masaki ..."
Jadi, siapakah yang akan mendapat kehormatan untuk mendengar bunyi Requiem?
"Aku mohon ... jangan mati...,"
[ Because That Requiem is About to Start ]
|
||||||